📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenSTUDI PARAMETRIK STABILITAS LERENG DENGAN VARIASI MUKA AIR TANAH DAN PERKUATAN LERENG MENGGUNAKAN PENDEKATAN PROBABILISTIK
Stabilitas lereng merupakan aspek penting dalam rekayasa geoteknik karena dipengaruhi oleh kondisi hidrologi, khususnya perubahan muka air tanah yang dapat meningkatkan tekanan air pori sehingga menurunkan kuat geser tanah dan kestabilan lereng. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi muka air tanah dan konfigurasi perkuatan terhadap stabilitas lereng menggunakan analisis transien dan pendekatan probabilistik. Studi kasus dilakukan pada Lereng No. 6 di kawasan Cisokan. Analisis rembesan transien dilakukan menggunakan SEEP/W untuk memperoleh distribusi tekanan air pori, yang kemudian digunakan sebagai masukan dalam analisis stabilitas lereng transien menggunakan SLOPE/W. Selanjutnya, analisis probabilistik dilakukan menggunakan SLIDE2 untuk mengevaluasi pengaruh ketidakpastian parameter tanah terhadap stabilitas lereng. Variasi yang dianalisis meliputi tiga kondisi muka air tanah, yaitu 7.6 m, 5.0 m, dan 1.2 m, serta tiga konfigurasi perkuatan, yaitu tanpa perkuatan, perkuatan satu baris, dan perkuatan dua baris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan muka air tanah menurunkan nilai Factor of Safety (FS) dan meningkatkan Probability of Failure (PoF), sedangkan penerapan perkuatan meningkatkan FS, menurunkan PoF, dan meningkatkan Reliability Index (RI). Konfigurasi perkuatan dua baris memberikan peningkatan stabilitas yang lebih baik dibandingkan perkuatan satu baris. Penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi analisis transien dan pendekatan probabilistik dapat memberikan evaluasi stabilitas lereng yang lebih komprehensif.
STUDI PARAMETRIK STABILITAS LERENG VARIASI GEOMETRI DAN PELAPISAN TANAH MENGGUNAKAN PENDEKATAN PROBABILISTIK
Analisis stabilitas lereng pada umumnya dilakukan secara deterministik menggunakan nilai parameter tanah tunggal, tanpa memperhitungkan variabilitas parameter tanah di lapangan, serta dilakukan pada kondisi jenuh statis tanpa memperhitungkan pengaruh infiltrasi hujan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi sudut kemiringan lereng dan ketebalan lapisan tanah atas terhadap stabilitas lereng menggunakan pendekatan probabilistik, serta membandingkan hasil analisis melalui pendekatan konvensional (kondisi jenuh) dan pendekatan transien (pengaruh hujan). Lereng yang ditinjau merupakan lereng no. 2 pada penelitian Krisnanto et al. (2021) di wilayah Cisokan, Jawa Barat. Studi parametrik probabilistik dilakukan pada 9 kombinasi model dari 3 variasi sudut kemiringan (17°, 22°, dan 27°) dan 3 variasi tebal lapisan tanah atas (eksisting, +2 m, dan ?2 m), menggunakan metode Monte Carlo dengan 10000 sampel pada kondisi jenuh. Analisis transien kondisi jenuh-takjenuh juga dilakukan pada lereng eksisting untuk mengevaluasi pengaruh infiltrasi hujan selama 720 jam menggunakan software Slide2 dan GeoStudio. Hasil studi parametrik menunjukkan bahwa sudut kemiringan lereng merupakan parameter yang lebih dominan dibandingkan ketebalan lapisan tanah atas, dengan penurunan tingkat keandalan yang terkonsentrasi pada rentang sudut 22°–27°. Variasi ketebalan lapisan tanah atas dalam rentang ±2 m tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap probability of failure (PoF) maupun reliability index (RI). Hasil analisis transien menunjukkan bahwa infiltrasi hujan menyebabkan penurunan faktor keamanan (FS) dan peningkatan PoF seiring waktu, dan analisis transien probabilistik kondisi jenuh-tidak jenuh terbukti lebih andal dalam mengevaluasi stabilitas lereng pada wilayah dengan curah hujan tinggi dibandingkan pendekatan konvensional. Kata kunci: stabilitas lereng, probabilistik, Monte Carlo, studi parametrik, analisis transien, kondisi jenuh-tidak jenuh
KAJIAN PROBABILISTIK BAHAYA TSUNAMI DI KEPULAUAN SUNDA KECIL
Kepulauan Sunda Kecil (Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur) merupakan wilayah yang berada di antara tiga sumber seismik, yaitu zona subduksi, fold thrust back (FTB), dan sistem patahan naik back-arc di utara. Kombinasi aktivitas dari ketiga sumber ini membuat wilayah tersebut sangat rentan terhadap bencana tsunami. Tingginya populasi di wilayah pesisir serta keberadaan infrastruktur penting di kawasan ini menambah urgensi dalam melakukan kajian bahaya tsunami. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis Probabilistic Tsunami Hazard Assessment (PTHA) menggunakan pendekatan fungsi Green berbasis data simulasi dari Shallow Water Equation (SWE). Sebanyak 10.120 skenario tsunami dikembangkan dari 9 sumber patahan dengan distribusi slip stokastik dengan metode Von Karman. Seluruh patahan dibagi menjadi 108 subfault, untuk memperkirakan respons gelombang tsunami di 255 titik lokasi tinjau. Tinggi tsunami maksimum dari seluruh skenario mencapai hingga 64 m, dengan rerata tertinggi di titik tinjau ialah 1,31 m. Lokasi dengan frekuensi kejadian per tahun tertinggi untuk gelombang ?1 m di antaranya adalah Jembrana, Buleleng (Bali), Sumbawa bagian utara dan selatan (Nusa Tenggara Barat), serta Sikka dan Manggarai Barat (Nusa Tenggara Timur). Peta bahaya tsunami (hazard maps) menunjukkan bahwa pada periode ulang 2475 tahun terdapat lebih dari 57% lokasi yang mengalami gelombang tsunami >3 m, dengan nilai maksimum mencapai >11 m. Sumber gempa dari zona subduksi Bali, Sumbawa Thrust, Flores Thrust dan Timor FTB menjadi kontributor dominan terhadap kejadian tsunami signifikan untuk 20 lokasi strategis.