📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6 dokumenGEOLOGI DAN POTENSI SUMBERDAYA BATUBARA DAERAH MUARA WAHAU DAN SEKITARNYA, KECAMATAN MUARA WAHAU, KABUPATEN KUTAI TIMUR, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR.
Daerah penelitian terletak di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur, pada koordinat 453636,67 – 457514,53 mT dan 130000 – 133672,36 mT (UTM) dengan luas 13,22 km2. Penelitian mencakup pemetaan geologi skala 12.500, perhitungan sumberdaya batubara, dan analisis proksimat batubara yang bertujuan untuk mengetahui tatanan geologi, hubungan kondisi geologi dengan karakteristik batubara, dan potensi sumberdaya batubara baik secara kualitas maupun kuantitas. Daerah penelitian merupakan perbukitan yang disertai rawa pada lembahnya. Sungai Embung merupakan sungai utama yang berada di bagian barat dengan arah aliran relatif utara -selatan. Bagian timur daerah penelitian tersusun atas batulempung gampingan disertai sisipan batugamping bioklastik, dengan pola kedudukan singkapan yang menunjukan kehadiran antiklin sedangkan bagian baratnya tersusun atas batupasir disertai sisipan batulempung dan batubara, dengan pola kedudukan singkapan yang menunjukan kehadiran sinklin. Selain itu, tatanan geologi daerah penelitian dipengaruhi juga oleh kehadiran sesar mendatar dan breksi laharik yang memperlihatkan kontak erosional dengan batupasir dan batulempung gampingan. Secara umum, batubara di daerah penelitian berwarna hitam, kilap minyak – kusam, gores hitam kecoklatan, pecahan choncoidal – irregular, dan tergolong dalam Sub – Bituminous B (ASTM , 1993) dengan tebal 0,21 m – 4,43 m. Batubara hadir sebagai sisipan pada batupasir dengan lapisan atap dan alasnya berupa batulempung. Berdasarkan perbedaan karakter fisik (warna, kilap, gores, & pecahan) dan kemenerusannya, perlapisan batubara terbagi atas tiga perlapisan batubara/seam yang persebarannya dikontrol oleh lipatan/sinklin, sesar mendatar dan faktor stratigrafi. Dengan menggunakan Metode Circular USGS (United States Geological Survey), didapatkan jumlah sumberdaya batubara terukur sebesar 2.276.820,784 ton dan tertunjuk sebesar 10.245.644,83 ton.
STUDI KANDUNGAN SULFUR DALAM BATUBARA FORMASI BALIKPAPAN DAERAH KUTAI BARAT CEKUNGAN KUTAI BAWAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Batubara memainkan peran penting sebagai sumber energi di Indonesia, namun kualitasnya sangat dipengaruhi oleh kandungan sulfur, yang memengaruhi efisiensi pembakaran dan emisi yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan sulfur batubara dari Formasi Balikpapan, Daerah Kutai Barat, Cekungan Kutai Bawah, Provinsi Kalimantan Timur. Metode penelitian yang digunakan mencakup analisis proksimat, sulfur total, kandungan kalori, dan densitas relatif pada 13 sampel batubara yang diperoleh melalui pengeboran touch coring yang kemudian dilakukan regresi linear dan analisis deskriptif. Hasil analisis menunjukkan kadar sulfur bervariasi antara 1,17% hingga 5,16%, dengan penurunan kadar sulfur pada lapisan yang lebih dalam. Korelasi positif yang sangat kuat ditemukan antara sulfur dan abu, densitas relatif dengan abu dan sulfur, serta korelasi negatif yang sangat kuat antara nilai kalori dan abu. Dominasi batulanau dan batupasir, dengan sisipan batulempung serta ditemukannya pirit pada Seam P4, P5, dan P6 pada kedalaman 212,62–253,24 meter mengindikasikan sulfur dominan berjenis piritik, yang terbentuk di lingkungan pengendapan kaya besi. Kandungan sulfur piritik mempengaruhi kualitas dan sifat fisik batubara, seperti peningkatan abu, sulfur total, densitas relatif, serta penurunan nilai kalori, yang penting untuk memahami karakteristik batubara dalam konteks pemanfaatan energi.
STUDI KORELASI PARAMETER PERINGKAT BATUBARA LIGNIT-SUB BITUMINUS DARI FORMASI MUARA ENIM, CEKUNGAN SUMATERA SELATAN, SUMATERA SELATAN
Batubara merupakan sumber energi utama yang berperan penting dalam sektor energi Indonesia. Penelitian ini membahas hubungan antar parameter pembatubaraan pada batubara dari Formasi Muara Enim, Cekungan Sumatera Selatan, Sumatera Selatan, dengan rentang peringkat lignit hingga sub-bituminus, dalam kaitannya dengan genesa batubara. Analisis dilakukan terhadap 30 sampel menggunakan data proksimat, total sulfur, dan nilai kalor pada basis air dried. Hasil menunjukkan hubungan negatif antara kadar air dengan karbon tertambat dan abu, serta hubungan positif terhadap zat terbang. Karbon tertambat berkorelasi positif terhadap nilai kalor, sementara kadar air dan abu berkorelasi negatif. Kandungan sulfur tidak menunjukkan korelasi signifikan terhadap parameter lainnya, yang mengindikasikan bahwa sulfur lebih mencerminkan kondisi lingkungan pengendapan daripada proses pembatubaraan itu sendiri. Tidak ditemukan korelasi yang sangat kuat antar parameter, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut terhadap variabel lain di luar batasan studi ini
KARAKTERISTIK MASERAL LIPTINIT HASIL PEMISAHAN DENGAN METODE SINK-FLOAT FORMASI PULUBALANG, CEKUNGAN KUTAI BAWAH
Batubara merupakan salah satu sumber energi fosil yang memegang peranan krusial dalam memenuhi kebutuhan energi global, terutama sebagai bahan bakar utama untuk pembangkit listrik dan berbagai industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik maseral liptinit dari batubara Formasi Pulubalang, Cekungan Kutai Bawah, serta implikasinya terhadap kualitas batubara berdasarkan hasil pemisahan dengan metode sink-float. Sampel batubara diambil dari Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, dan diproses menggunakan tiga larutan ZnCl? dengan densitas 1,33 g/cm³, 1,36 g/cm³, dan 1,39 g/cm³. Setiap fraksi hasil pemisahan kemudian dianalisis menggunakan analisis proksimat, nilai kalori, dan petrografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa maseral liptinit paling dominan berada pada rentang densitas 1,33–1,36 g/cm³. Kandungan liptinit berhubungan positif terhadap nilai kalori dan zat terbang, serta berhubungan negatif terhadap kandungan air inheren. Hubungan ini menunjukkan bahwa maseral liptinit memiliki kontribusi penting dalam menentukan kualitas energi batubara.
STUDI KORELASI KANDUNGAN ABU DENGAN TOTAL SULFUR DAN NILAI GROSS CALORIFIC VALUE DARI FORMASI BATU AYAU, CEKUNGAN KUTAI ATAS, KALIMANTAN TENGAH DAN FORMASI MUARA ENIM, CEKUNGAN SUMATERA SELATAN, SUMATERA SELATAN
Batubara merupakan sumber energi utama di Indonesia dengan cadangan yang sangat besar. Penelitian ini menganalisis karakteristik batubara dari Formasi Batu Ayau, Cekungan Kutai Atas, Kalimantan Tengah, dan Formasi Muara Enim, Cekungan Sumatera Selatan, Sumatera Selatan. Penelitian ini juga mengkaji hubungan antara kandungan abu dengan total sulfur dan GCV. Hasil analisis proksimat menunjukkan variasi kandungan abu yang signifikan 1.5-20.1% (adb).. Nilai GCV (adb) untuk Formasi Batu Ayau berkisar antara 4522-7928 kcal/kg, dan untuk Formasi Muara Enim berkisar antara 5772-7440 kcal/kg. Total sulfur pada Formasi Batu Ayau berkisar 0.25-1.17% (adb), sedangkan pada Formasi Muara Enim berkisar 0.22-0.39% (adb). Analisis regresi menunjukkan bahwa kandungan abu dan total sulfur di kedua formasi memiliki hubungan negatif yang sangat rendah hingga rendah R = -0.097 di Murung Raya dan R = -0.329 di Muara Enim, mengindikasikan ketiadaan mineral sulfur seperti pirit dalam abu batubara. Sebaliknya, kandungan abu berkorelasi negatif kuat dengan GCV di Murung Raya R = -0.665 dan Muara Enim R = -0.582, konsisten dengan prinsip bahwa abu sebagai material inert menurunkan nilai kalori batubara.
STUDI PEMISAHAN MASERAL BATUBARA BERDASARKAN DENSITAS DAN IMPLIKASINYA TERHADAP HASIL ANALISIS PROKSIMAT, KALORI DAN PETROGRAFI BATUBARA : STUDI KASUS BATUBARA CEKUNGAN MEULABOH
Indonesia menjadi salah satu negara produsen batubara yang besar dalam skala global. Akan tetapi, penggunaan batubara di masa kini dihadapkan dengan tantangan yang lebih besar mengenai masalah keberlanjutan. Oleh karena itu, peningkatan efisiensi pemanfaatan batubara menjadi salah satu strategi penting untuk menjawab tantangan lingkungan dan energi saat ini. Pemisahan maseral secara efisien dan akurat merupakan langkah awal yang esensial untuk mendukung studi karakteristik serta pemanfaatan batubara secara optimal. Salah satu metode fisik yang dapat digunakan untuk pemisahan maseral adalah metode sink-float dengan media berat jenis yang memanfaatkan perbedaan densitas antar maseral. Sampel yang digunakan adalah sampel dari Cekungan Meulaboh (BB-M-01). Pemisahan maseral dengan metode sink-float ini dibuat dalam tiga fraksi densitas yaitu 1,33 g/cm³, 1,36 g/cm³, dan 1,39 g/cm³. Karakteristik maseral batubara menunjukkan bahwa grup maseral vitrinit akan terkonsentrasi pada fraksi densitas <1,33 g/cm³ sedangkan pada fraksi densitas >1,39 g/cm³ akan terkonsentrasi grup maseral inertinit dan mineral. Perbedaan fraksi densitas menyebabkan adanya perbedaan komposisi maseral dan mineral pada tiap fraksi densitas yang berimplikasi pada hasil analisis proksimat dan kalori. Dimana seiring kenaikan densitas terjadi penurunan kandungan air inheren, kenaikan kandungan abu, penurunan kandungan zat terbang, penurunan kandungan karbon tertambat, serta penurunan nilai kalori.