📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 10 dokumen

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS TEMATIK KENYAMANAN HIDUP DISABILITAS DAN LANSIA DI TINGKAT KECAMATAN

Pembangunan inklusif menuntut ketersediaan data yang menghubungkan kondisi penyandang disabilitas dan lansia dengan ruang tempat mereka beraktivitas, namun data tersebut di Indonesia masih terfragmentasi dan minim dimensi keruangan. Penelitian ini mengembangkan sistem informasi geografis tematik kenyamanan hidup penyandang disabilitas dan lansia di tingkat kecamatan pada tiga wilayah percontohan, yaitu Kecamatan Sumur Bandung, Kecamatan Semarang Tengah, dan Kecamatan Jetis. Tingkat kenyamanan hidup dimodelkan dari tiga dimensi, yaitu aksesibilitas, kondisi lingkungan, dan bahaya banjir. Kualitas jalur pejalan kaki dinilai melalui interpretasi Google Street View (GSV) serta ekstraksi parameter roughness, slope, dan obstacle dari LiDAR genggam. Tingkat pemenuhan hak aksesibilitas terhadap fasilitas umum dihitung menggunakan algoritma Dijkstra pada jaringan jalur pejalan kaki dan diinterpolasi dengan Empirical Bayesian Kriging. Dimensi lingkungan disusun dari intensitas Urban Heat Island (UHI) berbasis Land Surface Temperature, tingkat polusi udara NO? dari Sentinel-5P TROPOMI, dan aksesibilitas ruang terbuka hijau, sedangkan bahaya banjir dimodelkan melalui Weighted Sum lima parameter yang diterapkan secara seragam pada ketiga wilayah studi. Ketiga dimensi diintegrasikan menggunakan pembobotan hasil perhitungan Pairwise Comparison yang penilaiannya diisi langsung oleh penyandang disabilitas dan lansia, menghasilkan bobot aksesibilitas sebesar 0,682, bahaya banjir 0,199, dan kondisi lingkungan 0,119. Hasil pengujian menunjukkan peta kualitas trotoar berbasis LiDAR memperoleh Overall Accuracy 61,13% dan Cohen's Kappa 0,514, peta intensitas UHI dan polusi udara terbukti konsisten secara fisik dan statistik, serta produk WebGIS interaktif yang dikembangkan, mencakup Geodashboard GeoInklusif, GeoStory, dan AccessRoute, memperoleh tingkat keberhasilan fungsional sebesar 94,44%. Seluruh peta tematik dan indeks kenyamanan hidup disajikan dalam WebGIS interaktif sebagai dasar visual dan analitis bagi perencanaan pembangunan inklusif berbasis bukti di tingkat kecamatan.

2026
👤 Penulis: Helmaliya Prameswari Putri
🏷️ Geografi 🏷️ Kepemilikan Aksesibilitas 🏷️ Analisis Risiko Banjir

INTEGRASI MODEL HEC-HMS DAN HEC-RAS UNTUK MENGESTIMASI KERUGIAN EKONOMI BANJIR BERBASIS EXPECTED ANNUAL DAMAGE (EAD) DI KAWASAN BANJIR BALEENDAH, KABUPATEN BANDUNG

Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung merupakan wilayah yang sering mengalami banjir akibat posisinya di dataran banjir DAS Citarum Hulu dan karakteristik topografi yang berbentuk cekungan. Pekerjaan ini bertujuan mengintegrasikan model HEC-HMS dan HEC-RAS untuk mengestimasi kerugian ekonomi banjir menggunakan pendekatan Expected Annual Damage (EAD). Pemodelan hidrologi dilakukan menggunakan HEC-HMS dengan pendekatan continuous simulation pada periode 2001 – 2023 untuk menghasilkan debit jangka panjang. Model kemudian dikalibrasi dan divalidasi menggunakan data debit observasi sehingga mampu merepresentasikan respons hidrologi DAS Citarum Hulu. Selanjutnya, analisis debit ekstrem dilakukan menggunakan metode Peak Over Threshold (POT) dengan distribusi Generalized Pareto Distribution (GPD) untuk memperoleh debit rancangan pada periode ulang 1, 2, 5, 10, 20, 50, dan 100 tahun. Debit rancangan tersebut digunakan sebagai masukan model hidrolika HEC RAS 2D untuk mensimulasikan kedalaman dan luasan genangan banjir. Hasil simulasi genangan kemudian diintegrasikan dengan data keterpaparan bangunan, nilai aset, dan kurva kerentanan (damage factor) untuk menghitung kerugian ekonomi pada setiap periode ulang, yang selanjutnya digunakan dalam perhitungan Expected Annual Damage (EAD). Hasil pekerjaan menunjukkan bahwa debit rancangan meningkat dari 372,38 m³/s pada periode ulang 1 tahun menjadi 444,12 m³/s pada periode ulang 100 tahun. Luas genangan banjir meningkat dari 1.120,30 ha menjadi 1.286,83 ha, sedangkan jumlah bangunan residensial terdampak meningkat dari 27.881 unit menjadi 31.499 unit. Integrasi komponen risiko menghasilkan nilai EAD sebesar 466,69 miliar rupiah per tahun. Hasil ini menunjukkan bahwa kawasan banjir Baleendah memiliki tingkat risiko ekonomi banjir yang sangat tinggi dan memerlukan upaya mitigasi yang berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Aisyah Ashma' Widyanto
🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Risiko Banjir 🏷️ Model Simulasi Geografis

KAJIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI CISANGGARUNG HULU DI KABUPATEN KUNINGAN

Curah hujan yang tinggi, penurunan kapasitas sungai, kondisi topografi, serta perubahan tata guna lahan merupakan faktor utama penyebab banjir. Banjir yang terjadi pada periode 2019–2024 di Sungai Cisanggarung Hulu, Kabupaten Kuningan, telah mengakibatkan gangguan aktivitas masyarakat serta berdampak pada aspek sosial, ekonomi, dan pembangunan wilayah. Pengukuran debit observasi dilakukan untuk menentukan nilai awal koefisien kekasaran Manning sebagai masukan dalam proses kalibrasi debit banjir, dengan menggunakan debit bankfull Sungai Cisanggarung pada kala ulang 2 tahun (Q?). Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat ancaman banjir pada seluruh dusun di Desa Andamui pada kondisi eksisting berada pada kelas sedang. Tingkat kerentanan yang ditinjau dari aspek sosial, ekonomi, fisik, dan lingkungan juga berada pada klasifikasi sedang, demikian pula dengan tingkat kapasitas masyarakat. Berdasarkan kombinasi parameter tersebut, tingkat risiko banjir di Desa Andamui termasuk dalam kategori risiko sedang. Sebagai upaya pengendalian banjir, dilakukan penanganan struktural berupa pengerukan dasar sungai dan pembangunan tanggul di Sungai Cisanggarung untuk meningkatkan kapasitas alur sungai. Penanganan ini mampu mereduksi banjir sebesar 43,39%, dengan penurunan luas genangan dari 0,51 km² menjadi 0,293 km². Namun demikian, kelas risiko banjir masih berada pada kategori sedang. Penanganan lanjutan dilakukan dengan pembangunan kolam retensi di Sungai Cijurey dengan kapasitas tampung sebesar 76.000 m³, yang mampu mereduksi banjir hingga 59,8%. Untuk memperoleh hasil pengendalian yang lebih optimal, dilakukan tambahan pengerukan sedimen di Sungai Cijurey. Kombinasi penanganan tersebut menghasilkan kondisi tanpa genangan banjir di Desa Andamui, sehingga kelas risiko banjir menurun menjadi kategori rendah.

2026
👤 Penulis: Tri Wahyudin Ahmad
🏷️ Banjir 🏷️ Analisis Risiko Banjir 🏷️ Pengendalian Banjir

PEMODELAN 3 DIMENSI POTENSI BANJIR GENANGAN AIR LAUT (ROB) STUDI KASUS : DAERAH PANTAI MUTIARA, KECAMATAN PENJARINGAN, JAKARTA UTARA.

Banjir merupakan bencana alam yang perlu diperhatikan terutama di kota besar seperti Jakarta. Banjir pada umumnya disebabkan oleh tingginya tingkat curah hujan, sistem drainase yang tidak mencukupi, alih fungsi lahan, kenaikan muka air laut, dan sebagainya. Banjir memilki berbagai macam jenis, salah satunya adalah banjir rob. Banjir rob disebabkan oleh pasang air laut yang menggenangi daratan. Pantai Mutiara, Jakarta Utara merupakan daerah reklamasi yang memiliki potensi banjir genangan air laut (rob) lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lainnya. Hal ini disebabkan oleh besarnya tingkat penurunan tanah pada daerah tersebut. Dengan adanya teknologi Terrestrial Laser Scanner (TLS) diharapkan dapat memberikan solusi terhadap permasalahan rob dengan menciptakan model 3D terhadap potensi rob pada daerah tersebut.TLS digunakan untuk membuat model 3D potensi banjir genangan air laut (rob) pada kawasan Pantai Mutiara, Kecamatan Panjaringan, Jakarta Utara. Pengambilan data terbagi menjadi dua bagian, meliputi pengukuran titik kontrol yang terdiri dari pengukuran GPS serta pengukuran TLS untuk mendapatkan pointclouds dari area yang akan dimodelkan. Pada tahapan pengolahan data dilakukan proses registrasi, filtering, georeferensi, meshing, dan pengeditan model 3D. Hasil yang diharapkan berupa model 3D potensi banjir genangan air laut (rob) dalam skenario beberapa tahun kedepan. Skenario difokuskan pada kemungkinan yang terjadi dalam jangka waktu 1 tahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 25 tahun, dan 40 tahun dengan ketinggian banjir maksimal mencapai 0.29 m, 0.34 m, 0.58 m, 0.92 m, 2.32 m, dan 4.04 m.

2026
👤 Penulis: GIARDY DANISWARA (NIM: 15109047); Pembimbing: Dr. Heri Andreas, ST., MT.; Dr. Irwan Gumilar, ST.,
🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Risiko Banjir 🏷️ Geoteknologi Dalam Pengelolaan Air

PERANCANGAN SISTEM DRAINASE SEBAGAI UPAYA PENGENDALIAN BANJIR DI SUBSISTEM BANGER HULU, KOTA PEKALONGAN, PROVINSI JAWA TENGAH

Banjir merupakan masalah yang sering terjadi di Subsistem Banger Hulu, Kota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, akibat intensitas hujan tinggi, kapasitas drainase yang tidak memadai, pengaruh debit sungai, serta pengaruh pasang surut air laut. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem drainase yang efektif sebagai upaya pengendalian banjir di wilayah tersebut. Pengendalian banjir didasarkan pada curah hujan periode ulang 5 tahun untuk drainase, debit periode ulang 20 tahun untuk sungai, serta pasang surut untuk sungai bagian hilir. Pemodelan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemodelan hidraulika menggunakan perangkat lunak Personal Computer Storm Water Management Model (PCSWMM). Pemodelan banjir eksisting dilakukan terhadap tiga skenario untuk mengecek asal penyebab banjir, yaitu skenario debit dan pasang surut pada sungai, skenario hujan pada drainase, serta skenario gabungan debit, pasang surut, dan hujan. Alternatif solusi yang akan diterapkan dalam penelitian ini adalah pembuatan tanggul sheet pile, perbaikan saluran sekunder eksisting, penambahan saluran sekunder, penambahan pintu air, serta pengadaan pompa dan rumah pompa. Alternatif solusi yang terpilih adalah solusi gabungan dari setiap alternatif yang menunjukkan presentase reduksi luas genangan di permukiman sebesar 100% dengan mengabaikan kedalaman genangan yang lebih kecil dari 10 cm.

2025
👤 Penulis: Tesa Anggraeni
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Analisis Risiko Banjir

PERENCANAAN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI CIWARU, KABUPATEN PANDEGLANG, PROVINSI BANTEN

Sungai Ciwaru sudah dikenal dengan fenomena banjir yang terus terjadi setiap tahunnya. Pada Sungai Ciwaru, banjir yang terjadi bukan hanya disebabkan oleh adanya input pasang surut melainkan disebabkan oleh meluapnya Sungai Ciwaru sebagai akibat dari berkurangnya kapasitas penampang Sungai Ciwaru akibat sedimentasi. Penanganan banjir secara menyeluruh dari hulu ke hilir sungai diperlukan untuk meminimalisir limpasan banjir di wilayah Sungai Ciwaru. Tujuan dari kajian ini adalah menganalisis dan merencanakan desain struktur penanggulangan banjir pada Sungai Ciwaru, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Debit desain yang digunakan diestimasikan dengan hidrograf satuan sistesis metode SCS-Snyder yang diverifikasi terhadap kondisi pengukuran debit di lapangan. Adapun debit desain yang digunakan adalah debit hulu Sungai Ciwaru periode ulang 20 tahun sebesar 25.19 m3/s. Struktur yang direncanakan adalah tanggul atau sheet piles pada tepi sungai. Pemodelan hidraulika dilakukan dengan menggunakan perangkat HEC-HMS dan HEC-RAS. Fitur yang digunakan dalam pemodelan menggunakan perangkat lunak HEC-RAS adalah 1D (satu dimensi) yang meninjau perbandingan antara tinggi muka air banjir dengan elevasi tepi sungai. Kondisi eksisting kapasitas aliran Sungai Ciwaru mampu mengalirkan debit bankfull dengan periode ulang 1.1 tahun. Sehingga, setiap tahunnya kemungkinan besar (90.9%) akan ada setidaknya satu ruas atau lebih Sungai Ciwaru yang melimpas. Metode pengendalian banjir pada Sungai Ciwaru dilakukan secara bertahap. Mulai dari skenario normalisasi. Untuk alternatif 1 panjang sungai yang dinormalisasi sebesar 2,922.3 m dengan lebar 8 m, sedangkan alternatif 2 panjang sungai yang dinormalisasi sebesar 2,922.3 m dengan lebar 10 m. Karena masih terdapat ruas yang melimpas/overflow (32.26%) maka dilakukan penanganan berupa pemasangan sheet piles pada ruas Sungai Ciwaru yang masih melimpas, dimana persentase overflow yang didapatkan tidak ada yang melimpas (0.00%). Alternatif 1 memerlukan tinggi elevasi sheet piles +3.58 m dan panjang 972 m, sedangkan alternatif 2 memerlukan tinggi elevasi sheet piles +4.25 m dengan panjang 3,671 m. Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang diperlukan untuk alternatif 1 sebesar Rp.9,492,778,000 dan untuk alternatif 2 sebesar Rp. 10,207,918,000.

2025
👤 Penulis: Abdul Ghany
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Analisis Risiko Banjir

PERENCANAAN PENGENDALIAN BANJIR SUBSISTEM LOJI, KOTA PEKALONGAN, PROVINSI JAWA TENGAH

Kota Pekalongan, Jawa Tengah, merupakan salah satu wilayah yang terletak di dataran rendah pantai utara Pulau Jawa, dengan ketinggian kurang lebih 1 meter di atas permukan laut. Kota Pekalongan masih menjadi daerah yang rawan terhadap banjir, terutama di kawasan Subsistem Loji. Banjir yang terjadi disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain topografi yang rendah dan cenderung datar, tutupan lahan yang didominasi pemukiman, dan penurunan muka tanah. Kondisi tersebut memicu terjadinya permasalahan banjir yang menimbulkan kerugian serta menghambat berbagai aktivitas manusia. Dalam upaya menangani permasalahan banjir yang terjadi, perencanaan pengendalian banjir dilakukan dengan menganalisis data hidrologi, berupa curah hujan dengan periode ulang 5 tahun untuk sistem drainase, debit sungai dengan periode ulang 20 tahun untuk aliran masuk (inflow) sungai, serta memperhitungkan pengaruh pasang surut kondisi High High Water Level (HHWL) di wilayah pesisir bagian hilir lokasi studi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem pengendalian banjir yang sesuai untuk mereduksi genangan yang terjadi di wilayah Subsistem Loji, Kota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah. Sistem pengendalian banjir yang direncanakan dalam penelitian ini adalah pelebaran saluran drainase untuk saluran yang melimpas, penambahan kapasitas pompa dengan kapasitas 2x250 liter/detik, Pembangunan dua kolam retensi, yaitu Kolam Retensi Kusuma Bangsa dan Kolam Retensi Lapas. Pemodelan dalam penelitian ini dilakukan menggunakan pemodelan hidraulika dengan bantuan perangkat lunak PCSWMM, yang mencakup analisis satu dimensi (1D) dan dua dimensi (2D). Pemodelan dua dimensi digunakan untuk mengevaluasi sebaran genangan serta muka air saat terjadi banjir. Solusi yang direncanakan menunjukkan persentase reduksi luas genangan sebesar 41.27% dari luas genangan eksisting. Berdasarkan analisis rencana anggaran biaya (RAB), total RAB yang diperlukan untuk pembangunan sistem pengendalian banjir adalah Rp69,736,387,803.41.

2025
👤 Penulis: Muhammad Akbarul Rabbani
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Air 🏷️ Analisis Risiko Banjir

KAJIAN PARAMETER MODIFIKASI KERENTANAN DAN KAPASITAS TERHADAP ANALISIS RISIKO BANJIR, STUDI KASUS KAWASAN GEDEBAGE

Kawasan Gedebage Kota Bandung, merupakan wilayah yang secara topografi terletak di dataran rendah dan memiliki riwayat kejadian banjir yang tinggi. Upaya struktural seperti pembangunan kolam retensi telah dilakukan, namun banjir tetap terjadi dan menimbulkan kerugian fisik, ekonomi, lingkungan, dan sosial. Analisis risiko banjir yang umum digunakan di Indonesia mengacu pada Peraturan BNPB No. 02 Tahun 2012, yang menghitung risiko berdasarkan komponen ancaman (hazard), kerentanan (vulnerability), dan kapasitas (capacity). Namun, parameter kerentanan dan kapasitas dalam peraturan tersebut berpotensi belum optimal jika dibandingkan dengan parameter yang dikembangkan dalam studi literatur internasional. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis tingkat risiko banjir di Kawasan Gedebage menggunakan metode BNPB No. 02 Tahun 2012; (2) memodifikasi parameter kerentanan berdasarkan sintesis berbagai studi literatur untuk memperoleh indeks kerentanan yang lebih representatif terhadap kondisi lokal; (3) memodifikasi parameter kapasitas masyarakat dengan pendekatan Theory of Planned Behavior (TPB) berbasis survei lapangan; (4) membandingkan peta risiko banjir antara metode BNPB dan metode hasil modifikasi; serta (5) mengidentifikasi implikasi perbedaan hasil terhadap strategi pengurangan risiko banjir. Metode penelitian meliputi pengumpulan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui kuesioner yang disebarkan kepada 100 responden yang tinggal atau memiliki usaha di wilayah terdampak banjir di Gedebage. Parameter kerentanan dimodifikasi dengan mengacu pada indeks kerentanan banjir (Flood Vulnerability Index, FVI) dari berbagai penelitian internasional yang mempertimbangkan indikator sosial, ekonomi, fisik, dan lingkungan secara lebih detail. Parameter kapasitas dimodifikasi dengan mengintegrasikan hasil analisis TPB untuk mengukur tingkat resiliensi masyarakat terhadap banjir melalui dimensi sikap (attitude toward behavior), norma subjektif (subjective norm), dan persepsi kontrol perilaku (perceived behavioral control). Hasil analisis risiko banjir menggunakan metode BNPB menunjukkan bahwa Kelurahan Cipadung Kulon, Pakemitan, Mekar Mulya, dan Cisaranten Wetan memiliki tingkat risiko banjir sedang. Hasil analisis risiko banjir dengan parameter kerentanan dan kapasitas tambahan menunjukan hasil yang serupa dengan hasil analisis risiko banjir dengan metode BNPB. Walaupun demikian ada beberapa perbedaan antara hasil analisis dengan menggunakan metode BNPB dan parameter modifikasi tambahan tertuama dalam hasil analisis kerentanan sosial, kerentanan lingkungan, dan kapasitas banjir. Kebaruan (novelty) penelitian ini terletak pada integrasi parameter kerentanan hasil sintesis literatur internasional dengan parameter kapasitas berbasis TPB dalam analisis risiko banjir di konteks lokal Indonesia. Kontribusi utama penelitian ini adalah memberikan pendekatan analisis risiko yang lebih adaptif terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat, sehingga hasilnya dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah, BNPB, maupun pihak terkait dalam merumuskan strategi mitigasi yang berbasis pada peningkatan kapasitas masyarakat sekaligus pengelolaan faktor kerentanan.

2025
👤 Penulis: Cut Thias Enfila
🏷️ Analisis Risiko Banjir 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENENTUAN PRIORITAS INTERVENSI NATURE-BASED SOLUTIONS UNTUK MITIGASI BANJIR PERKOTAAN BERBASIS ANALISIS RISIKO DAN BLUE-GREEN INFRASTRUCTURE DI KOTA PAREPARE

Urbanisasi yang pesat dan perubahan iklim telah meningkatkan risiko banjir perkotaan, terutama di kota-kota pesisir berukuran sedang di negara berkembang. Kota Parepare, Indonesia, menghadapi tantangan kompleks terkait banjir yang dipengaruhi oleh tingginya tingkat bahaya, kerentanan multidimensi (meliputi aspek fisik, sosial, dan ekonomi), serta kapasitas adaptasi yang terbatas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi wilayah prioritas intervensi nature-based solutions (NbS) dengan mengintegrasikan penilaian risiko banjir dan analisis spasial ruang perkotaan yang ada. Risiko banjir dipetakan menggunakan metode spatial multicriteria analysis (SMCA) berdasarkan indikator bahaya, kerentanan, dan kapasitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zona dengan tingkat risiko tinggi umumnya terkonsentrasi di koridor sungai dan area dataran rendah yang memiliki potensi debit banjir besar serta kerentanan fisik dan sosial-ekonomi yang signifikan. Untuk mendukung perencanaan NbS, penelitian ini juga menganalisis distribusi dan aksesibilitas ruang biru-hijau terhadap ruang abu-abu dan jumlah penduduk. Wilayah prioritas dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan tingkat risiko banjir dan ketersediaan infrastruktur biru-hijau. Rekomendasi intervensi disesuaikan dengan karakteristik lokal, seperti rainwater harvesting, permeable pavement, hutan kota, dan kolam retensi. Temuan penelitian menegaskan bahwa penentuan prioritas NbS yang efektif memerlukan integrasi penilaian risiko banjir secara detail dengan analisis spasial infrastruktur biru-hijau perkotaan, sehingga dapat menjadi acuan praktis dalam meningkatkan ketahanan banjir di kota pesisir berukuran sedang

2025
👤 Penulis: Syazwi Quthbi Al Azizi
🏷️ Banjir Perkotaan 🏷️ Analisis Risiko Banjir 🏷️ Infrastruktur Hijau

PERENCANAAN PENGENDALIAN BANJIR KALI PREMULUNG DI KECAMATAN LAWEYAN, KOTA SURAKARTA, JAWA TENGAH

Kali Premulung merupakan salah satu sungai yang melewati Kota Surakarta, Jawa Tengah. Sungai ini sering kali menyebabkan banjir di Kota Surakarta. Pada tahun 2023 tercatat banjir dengan ketinggian 1 hingga 1,5 meter yang berdampak pada 10.000 jiwa di beberapa daerah seperti Laweyan, Jebres, Jagalan, Pucangsawit, Gandekan, Sudiroprajan, Sewu, dll. Hujan rencana dibuat dengan metode Gumbel dengan periode ulang 25 tahun sebesar 159,53 mm. Debit banjir rencana Q25 dibuat dengan metode HSS Nakayasu yang memiliki debit puncak sebesar 170,65 m3/s, namun kapasitas eksisting Kali Premulung hanya sebesar 69,8 m3/s sehingga dapat menimbulkan banjir dibeberapa sungai. Upaya yang dilakukan untuk menanggulangi banjir adalah dengan menormalisasi sungai sepanjang 1,9 km dan membuat parapet sungai sepanjang 1 km di sisi kiri dan 600 m di sisi kanan sungai dengan tinggi 1 m hingga 2 m.

2025
👤 Penulis: Rasyid Syafiq Affyanto
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko Banjir
💬