📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 20 dokumen

PEMBANGUNAN DASHBOARD RISIKO OPERASI INFRASTRUKTUR PESISIR

Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan tsunami yang tinggi akibat aktivitas tektonik pada zona subduksi. Infrastruktur pesisir strategis, seperti pelabuhan dan fasilitas industri pesisir, memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan distribusi logistik nasional sehingga kerusakan akibat tsunami dapat menimbulkan dampak operasional, ekonomi, dan sosial yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara terintegrasi untuk mendukung proses mitigasi dan pengambilan keputusan. Proyek capstone ini bertujuan untuk mengembangkan Dashboard Indonesia Tsunami Risk Monitoring for Coastal Infrastructure (INAMI) sebagai platform visualisasi dan informasi risiko tsunami pada infrastruktur pesisir. Dashboard dikembangkan dengan mengintegrasikan hasil pemodelan bahaya tsunami, analisis kerentanan, dan analisis keterpaparan infrastruktur. Data bahaya tsunami diperoleh dari hasil simulasi menggunakan perangkat lunak COMCOT dengan pendekatan skenario terburuk (worst-case scenario), sedangkan analisis risiko dilakukan melalui integrasi komponen bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability) menggunakan pendekatan fragility curve, dan keterpaparan (exposure). Hasil analisis kemudian diolah menjadi dataset spasial yang disajikan melalui dashboard berbasis web. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa Dashboard INAMI mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara interaktif, terstruktur, dan mudah diakses oleh pengguna. Sistem yang dikembangkan diharapkan dapat mendukung kegiatan mitigasi bencana, evaluasi risiko, serta pengambilan keputusan pada pengelolaan infrastruktur yang berisiko terdampak tsunami.

2026
👤 Penulis: Mitzu Lintang Saputra
🏷️ Infrastruktur Pesisir 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Kecerdasan Buatan

PEMBANGUNAN DASHBOARD RISIKO OPERASI INFRASTRUKTUR PESISIR

Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan tsunami yang tinggi akibat aktivitas tektonik pada zona subduksi. Infrastruktur pesisir strategis, seperti pelabuhan dan fasilitas industri pesisir, memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan distribusi logistik nasional sehingga kerusakan akibat tsunami dapat menimbulkan dampak operasional, ekonomi, dan sosial yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara terintegrasi untuk mendukung proses mitigasi dan pengambilan keputusan. Proyek capstone ini bertujuan untuk mengembangkan Dashboard Indonesia Tsunami Risk Monitoring for Coastal Infrastructure (INAMI) sebagai platform visualisasi dan informasi risiko tsunami pada infrastruktur pesisir. Dashboard dikembangkan dengan mengintegrasikan hasil pemodelan bahaya tsunami, analisis kerentanan, dan analisis keterpaparan infrastruktur. Data bahaya tsunami diperoleh dari hasil simulasi menggunakan perangkat lunak COMCOT dengan pendekatan skenario terburuk (worst-case scenario), sedangkan analisis risiko dilakukan melalui integrasi komponen bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability) menggunakan pendekatan fragility curve, dan keterpaparan (exposure). Hasil analisis kemudian diolah menjadi dataset spasial yang disajikan melalui dashboard berbasis web. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa Dashboard INAMI mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara interaktif, terstruktur, dan mudah diakses oleh pengguna. Sistem yang dikembangkan diharapkan dapat mendukung kegiatan mitigasi bencana, evaluasi risiko, serta pengambilan keputusan pada pengelolaan infrastruktur yang berisiko terdampak tsunami.

2026
👤 Penulis: Muhammad Rayhan Syahrir
🏷️ Infrastruktur Pesisir 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA BERKETELITIAN TINGGI DI BANDUNG

Kota Bandung memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi, seperti banjir, gempabumi, dan tanah longsor. Namun, informasi risiko bencana yang tersedia umumnya masih disajikan pada skala administratif sehingga belum mampu menggambarkan variasi risiko secara rinci hingga tingkat persil. Proyek ini bertujuan menyusun peta risiko bencana berketelitian tinggi di Kota Bandung dengan mengintegrasikan komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas sesuai pedoman BNPB. Analisis dilakukan untuk bencana banjir, gempabumi, tanah longsor, serta multibahaya pada skala 1:5.000 menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis disajikan dalam bentuk peta digital per kelurahan dan platform WebGIS yang memungkinkan eksplorasi informasi risiko secara interaktif hingga tingkat persil. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi risiko bencana yang lebih detail dan mudah dipahami.

2026
👤 Penulis: Luthfi Aulia Hakim
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Sistem Informasi Geografis

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA BERKETELITIAN TINGGI DI BANDUNG

Kota Bandung memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi, seperti banjir, gempabumi, dan tanah longsor. Namun, informasi risiko bencana yang tersedia umumnya masih disajikan pada skala administratif sehingga belum mampu menggambarkan variasi risiko secara rinci hingga tingkat persil. Proyek ini bertujuan menyusun peta risiko bencana berketelitian tinggi di Kota Bandung dengan mengintegrasikan komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas sesuai pedoman BNPB. Analisis dilakukan untuk bencana banjir, gempabumi, tanah longsor, serta multibahaya pada skala 1:5.000 menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis disajikan dalam bentuk peta digital per kelurahan dan platform WebGIS yang memungkinkan eksplorasi informasi risiko secara interaktif hingga tingkat persil. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi risiko bencana yang lebih detail dan mudah dipahami.

2026
👤 Penulis: Aura Nisa Arianti
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Sistem Informasi Geografis

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA BERKETELITIAN TINGGI DI KOTA BANDUNG

Kota Bandung memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi, seperti banjir, gempabumi, dan tanah longsor. Namun, informasi risiko bencana yang tersedia umumnya masih disajikan pada skala administratif sehingga belum mampu menggambarkan variasi risiko secara rinci hingga tingkat persil. Proyek ini bertujuan menyusun peta risiko bencana berketelitian tinggi di Kota Bandung dengan mengintegrasikan komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas sesuai pedoman BNPB. Analisis dilakukan untuk bencana banjir, gempabumi, tanah longsor, serta multibahaya pada skala 1:5.000 menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis disajikan dalam bentuk peta digital per kelurahan dan platform WebGIS yang memungkinkan eksplorasi informasi risiko secara interaktif hingga tingkat persil. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi risiko bencana yang lebih detail dan mudah dipahami.

2026
👤 Penulis: Varina Erawati Martina
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Sistem Informasi Geografis

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA BERKETELITIAN TINGGI DI BANDUNG

Kota Bandung memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi, seperti banjir, gempabumi, dan tanah longsor. Namun, informasi risiko bencana yang tersedia umumnya masih disajikan pada skala administratif sehingga belum mampu menggambarkan variasi risiko secara rinci hingga tingkat persil. Proyek ini bertujuan menyusun peta risiko bencana berketelitian tinggi di Kota Bandung dengan mengintegrasikan komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas sesuai pedoman BNPB. Analisis dilakukan untuk bencana banjir, gempabumi, tanah longsor, serta multibahaya pada skala 1:5.000 menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis disajikan dalam bentuk peta digital per kelurahan dan platform WebGIS yang memungkinkan eksplorasi informasi risiko secara interaktif hingga tingkat persil. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi risiko bencana yang lebih detail dan mudah dipahami.

2026
👤 Penulis: Syalala Loovy
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Sistem Informasi Geografis

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA BERKETELITIAN TINGGI DI KOTA BANDUNG

Kota Bandung memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi, seperti banjir, gempabumi, dan tanah longsor. Namun, informasi risiko bencana yang tersedia umumnya masih disajikan pada skala administratif sehingga belum mampu menggambarkan variasi risiko secara rinci hingga tingkat persil. Proyek ini bertujuan menyusun peta risiko bencana berketelitian tinggi di Kota Bandung dengan mengintegrasikan komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas sesuai pedoman BNPB. Analisis dilakukan untuk bencana banjir, gempabumi, tanah longsor, serta multibahaya pada skala 1:5.000 menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis disajikan dalam bentuk peta digital per kelurahan dan platform WebGIS yang memungkinkan eksplorasi informasi risiko secara interaktif hingga tingkat persil. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi risiko bencana yang lebih detail dan mudah dipahami.

2026
👤 Penulis: Raihan Hady Permana
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Sistem Informasi Geografis

IDENTIFIKASI VARIABEL INDEKS KERENTANAN WILAYAH PESISIR TERHADAP TUMPAHAN MINYAK DI LAUT PADA ASPEK EKOSISTEM DAN SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT PESISIR (WILAYAH STUDI: KABUPATEN INDRAMAYU, KABUPATEN CIREBON, DAN KOTA CIREBON)

Republik Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.466 pulau.Wilayah perairan Indonesia mencapai 63% dari wilayah territorial Indonesia. Fenomena bencana seperti tumpahan minyak di laut pernah terjadi di wilayah pesisir utara Pulau Jawa. Fenomena tersebut mempengaruhi kondisi ekosistem di wilayah pesisir dan memiliki dampak pada aspek sosial ekonomi masyarakat pesisir. Identifikasi variabel-variabel fisik dan non fisikmerupakan tahap awal dari pembuatan indeks kerentanan pesisir yang pada akhirnya akan dilakukan pemetaan indeks kerentanan wilayah pesisir terhadap tumpahan minyak. Tujuan dari pemetaan indeks kerentanan pesisir terhadap tumpahan minyak adalah untuk menjadi dasar acuan dan bahan pertimbangan dalam melakukan perencanaan penanggulangan bencana tumpahan minyak. Selain itu peta indeks kerentaan tersebut juga menjadi salah satu upaya untuk meminimalkan risiko yang ditimbulkan dari tumpahan minyak tersebut. Variabel fisik yang dimaksud adalah faktor-faktor alam yang mendukung penyebaran tumpahan minyak di laut dan mempengaruhi kerentanan suatu pesisir akibat tumpahan minyak. Variabel-variabel fisik tersebut meliputi kecepatan angin, batimetri laut, tunggang pasut laut, kecepatan arus laut, tinggi gelombang laut, dan ukuran butiran sedimen. Variabel non fisik yang dimaksud adalah subyek dari suatu wilayah yang terkena dampak dari fenomena tumpahan minyak di laut. Variabel-variabel non fisik tersebut meliputi kepadatan penduduk, nilai produktivitas lahan pesisir, nilai ekonomi lahan (harga tanah), varietas flora dan fauna, jumlah mata pencaharian, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), dan laju pertumbuhan penduduk.

2026
👤 Penulis: CATHARINA ERVIANTI PUTRI (NIM: 15109061);
🏷️ Eksplorasi Eksosistem Pesisir 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Laut 🏷️ Analisis Risiko Bencana

ANALISIS PETA RISIKO DAN MITIGASI BENCANA BANJIR SUB-DAS CITEPUS PADA TINGKAT KELURAHAN/DESA

Sub-DAS Citepus sebagai bagian DAS Citarum Hulu, yang melintas dari Kota Bandung hingga Kabupaten Bandung adalah salah satu sungai dengan kondisi padat pemukiman dan sering terjadi banjir pada wilayah bantaran sungainya. Wilayah bantaran sungai yang telah dipadati pemukiman mengakibatkan kesulitan dalam pembangunan fisik sungai karena perlu pembebasan lahan, sehingga salah satu upaya dalam penurunan risiko bencana banjir adalah upaya mitigasi bencana. Penelitian ini bermaksud memodelkan dan menganalisis kondisi hidrologi dan hidraulika Sungai Citepus untuk mengetahui tingkat bahaya yang ditimbulkan, menganalisis kerentanan, memetakan risiko dan rekomendasi mitigasi sebagai dasar peningkatan kesiap-siagaan bencana banjir. Metode hidrologi yang digunakan meliputi analisis frekuensi Hydrognomon, pemodelan debit banjir HEC-HMS HSS SCS-CN dan Nakayasu, analisis hidraulika HEC-RAS 1D dan 2D, serta pemetaan QGIS. Validasi model dilakukan menggunakan NSE dan RMSE untuk pemodelan 1D dan IoU untuk pemodelan 2D. Hasil perhitungan debit banjir menunjukkan bahwa metode SCS-CN dipilih sebagai model terbaik dengan nilai NSE 80% dan RMSE 0.071 m. Pada pemodelan banjir 2D, kondisi 1 (muka air Sungai Citarum normal) menghasilkan kesesuaian sebesar 82,84%, sementara kondisi 2 (muka air Sungai Citarum Q20th) memberikan kesesuaian sebesar 81,08%. Kondisi 2 menunjukkan bahwa peningkatan muka air Sungai Citarum memberikan pengaruh terhadap muka air Sungai Citepus hingga ±1.700 meter ke arah hulu pada wilayah Kabupaten Bandung (RW 8 Cangkuang Wetan dan RW 11 Pasawahan). Analisis risiko menunjukkan bahwa pada kondisi 1 luas area berisiko sedang mencapai 141,1 ha dan risiko tinggi 122,71 ha, sedangkan pada kondisi 2 risiko sedang meningkat menjadi 147,27 ha dan risiko tinggi menjadi 122,78 ha. Rekomendasi mitigasi menunjukkan bahwa wilayah terdampak backwater dari Sungai Citarum perlu diarahkan ke lokasi aman seperti Kantor Kelurahan Cangkuang Wetan, sedangkan wilayah lain dapat dievakuasi sesuai elevasi rumah dan potensi kerusakan. Penelitian ini merekomendasikan penertiban bangunan di bantaran sungai, peningkatan kapasitas masyarakat terhadap kesiapsiagaan banjir, serta pemeliharaan rutin Sungai Citepus dan Sungai Citarum.

2025
👤 Penulis: Icha Efrita Arisiwe
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Analisis Risiko Bencana

PEMODELAN RISIKO BENCANA BERBASIS TEKNOLOGI GEOSPASIAL DALAM PERSPEKTIF PEMBIAYAAN RISIKO BENCANA DI INDONESIA (STUDI KASUS BENCANA GEMPA)

Indonesia berada dipertemuan empat lempeng besar bumi. Lokasi gempa sering terjadi. Tahun 2004, Aceh dilanda gempa yang disusul tsunami. Hal ini mengakibatkan korban jiwa dan kerugian sangat tinggi. Kerugian yang setara 12% APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) akan sangat berat untuk ditanggung pemerintah sendiri. Pembiayaan Risiko Bencana (PARB) menjadi strategi nasional untuk memberikan solusi inovatif dana penanggulangan bencana, khususnya tahap pascabencana yang sulit dianggarkan. PARB akan merumuskan kebijakan risiko yang akan ditahan sendiri, dibagi atau ditransfer berdasarkan frekuensi dan kerugiannya. Pembangunan model risiko bencana skala nasional sangat penting dilakukan agar menghasilkan kebijakan yang optimal dan dapat dipertanggungjawabkan. IRBI (Indeks Risiko Bencana Indonesia) tahun 2013 adalah kajian risiko bencana skala nasional pertama yang digunakan sebagai rujukan kebijakan nasional PRB (Pengurangan Risiko Bencana). Kajian tersebut belum memperhitungkan keterpaparan, sehingga potensi kerugian yang dilengkapi frekuensi belum disajikan. Tahun 2019, GEM (Global Earthquake Model Foundation) membangun global seismic risk model yang menghasilkan potensi kerugian untuk bangunan, namun kebutuhan pendanaan pascabencana untuk stimulan rumah rusak belum diperhitungkan. Model global juga belum memperhitungkan kerugian akibat gempa magnitudo di bawah 5,5 yang dampaknya signifikan di Indonesia. Oleh karena itu, pembangunan model risiko bencana di Indonesia sangat penting untuk mempertimbangkan keterbaruan terkait nilai stimulan rumah terpapar, indeks kemahalan wilayah, resolusi spasial keterpaparan, GMPE (Ground Motion Prediction Equation) logic tree dan SM (Source Model) logic tree, sehingga model menghasilkan exceedance probability curve dan average annual loss map pada level nasional, provinsi dan kabupaten/kota yang valid untuk kebijakan PARB terkait kebutuhan dana stimulan rumah rusak akibat gempa di Indonesia. Kajian ini dimulai dengan analisis keterpaparan menggunakan metode downscaling exposure model. Tahap ini menghasilkan model keterpaparan stimulan rumah rusak terdampak gempa di Indonesia pada unit spasial level desa/kelurahan dengan total nilai 5,66 kuadriliun rupiah. Tahap berikutnya melakukan analisis risiko gempa menggunakan metode event-based seismic risk model, sehingga menghasilkan peta bahaya, exceedance probability curve dan average annual loss map. Average annual loss level nasional adalah 5,86 triliun IDR (409 juta USD) dengan rasio sebesar 0,1035% terhadap total nilai keterpaparan. Tahap ketiga melakukan peninjauan hasil model terhadap model bahaya dari Pusgen (2017) yang menunjukkan kesesuaian dan terhadap model risiko dari GEM (2019) yang relatif lebih tinggi. Tahap terakhir melakukan validasi model dengan metode historical event loss validation terhadap kejadian Gempa Cianjur. Hasilnya diperoleh MAPE (Mean Absolute Percentage Error) sebesar 3,0%. Hal tersebut menunjukkan bahwa model valid untuk digunakan melakukan estimasi kebutuhan dana stimulan dengan resolusi spasial level kabupaten/kota. Model risiko bencana ini memiliki akurasi yang baik untuk melakukan estimasi risiko dana stimulan akibat gempa hingga level kabupaten/kota. Kajian ini diharapkan menjadi acuan pengembangan untuk keterpaparan dan bahaya lainnya sehingga kebijakan PARB di Indonesia dapat lebih optimal dan komprehensif.

2025
👤 Penulis: Fiza Wira Atmaja
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Kecerdasan Buatan

PEMODELAN DETERMINISTIK DAN PROBABILISTIK SEBARAN TEFRA GUNUNG KELUD SEBAGAI MITIGASI POTENSI KERUSAKAN INFRASTRUKTUR BANDARA INTERNASIONAL DHOHO, KABUPATEN KEDIRI, PROVINSI JAWA TIMUR

Gunung Kelud merupakan salah satu gunung api paling aktif di pulau Jawa. Dalam erupsi terakhir yang tercatat pada 13-14 Februari 2014, Gunung Kelud menyebabkan kegagalan 40 penerbangan maskapai di bandara dalam area terjangkit. Menurut CVGHM, gumpalan abu erupsi menyebabkan hujan abu yang mencapai Pacitan, Kulon Progo, Temanggung, dan Banyuwangi. Ketika abu mulai menyelimuti sebagian wilayah, 40 penerbangan maskapai penerbangan dibatalkan; bandara yang terkena dampak termasuk Juanda (81 km NE), Adi Sucipto Yogya (208 km W), dan Adi Sumarmo Solo (175 km WNW). Penelitian ini dilakukan untuk memetakan sebaran dan ketebalan produk piroklastik tersebut dalam rangka mitigasi bencana, kerusakan, dan potensi pengembangan bandara dalam kemungkinan letusan di masa mendatang. Bandara Internasional Dhoho yang dibangun di kaki Gunung Wilis (45 km WNW), digunakan sebagai titik sampel sebagai bandara yang dibangun dalam jangkauan hujan abu tersebut. Hasil pemodelan deterministik menunjukkan posisi geografis Bandara Internasional Dhoho pada wkatu terjadinya letusan 2014 berada pada isomass 20-25 kg/m3. Mengikuti nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) rata-rata Gunung Kelud dan rata-rata arah dan magnitudo angin bagian Timur pulau Jawa pada kedua musim tropis, pemodelan probabilistik menunjukkan lokasi Bandara berada pada kemungkinan isomass pumice 10-20 kg/m2 dan isomass 27-54 kg/m2 litik pada musim kemarau. Sedangkan nilai probabilitas menunjukkan peningkatan hingga 100-125 kg/m2 pumice dan 54-135 kg/m2 litik. Berdasarkan pemodelan probabilistik, angka beban maksimal yang mungkin diterima infrastruktur Bandara Internasional Dhoho adalah ~135 kg/m2.

2025
👤 Penulis: Irfando Mubdi Harrison
🏷️ Geologi Vulkanologi 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Optimisasi Desain Infrastruktur

ANALISIS KERUGIAN EKONOMI BERBASISKAN METODE PROBABILISTIC TSUNAMI HAZARD ANALYSIS (PTHA) DI DESA BATUKARAS

Desa Batukaras yang terletak di Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Selatan Pulau Jawa, Indonesia, merupakan salah satu wilayah yang sangat rentan terhadap gempa bumi dan tsunami akibat lokasi geografisnya yang dekat dengan lempeng megathrust. Kondisi ini mengakibatkan Desa Batukaras menjadi sangat berpotensi untuk terkena gempa bumi yang besar dan dapat memicu terjadinya tsunami yang sangat berbahaya. Hal ini menjadi makin lebih berbahaya mengingat Desa Batukaras yang merupakan desa wisata yang kerap dikunjungi oleh wisatawan lokal dan mancanegara. Secara historis, kejadian tsunami sudah pernah terjadi di Kabupaten Pangandaran pada 17 Juli 2006 dengan gempa berkekuatan 7,6 Mw. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemodelan tsunami untuk mengidentifikasi dan menilai risiko bencana tsunami di desa. Penelitian ini menggunakan hasil pemodelan yang dilakukan dengan metode Probabilistic Tsunami Hazard Analysis (PTHA). Metode PTHA adalah sebuah pendekatan yang digunakan untuk menilai kemungkinan dan potensi dampak tsunami di suatu wilayah berdasarkan pemodelan yang dilakukan. Pendekatan ini dapat mengukur probabilitas dari berbagai skenario tsunami yang mungkin dapat terjadi di Desa Batukaras. Hasil PTHA ini berupa titik-titik ketinggian tsunami di sekitar pesisir pantai. Oleh karena itu, penelitian ini membahas secara rinci pemodelan yang dapat dilakukan untuk menjalarkan gelombang tsunami tersebut ke wilayah daratan dari hasil PTHA menggunakan perhitungan numeris Berryman dan Smart. Berdasarkan hasil pemodelan ini, dapat dilakukan perhitungan potensi kerugian ekonomi yang dirasakan masyarakat baik secara langsung maupun kerugian tidak langsung yang berpotensi dapat timbul akibat bencana tsunami tersebut. Proses perhitungan ini didasarkan pada nilai valuasi ekonomi dari sektor lahan terbangun dan lahan produktif di Desa Batukaras yang diperoleh secara langusung melalui survei lapangan yang dilakukan pad 24-25 April 2024. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa potensi kerugian ekonomi yang dirasakan Masyarakat di Desa Batukaras berkisar dari 11 miliar hingga 637 miliar rupiah berdasarkan metode Berryman dan berkisar dari 138 miliar rupiah hingga 465 miliar rupiah berdasarkan metode Smart yang nilai ini bervariasi tergantung dari periode ulang suatu gempa. Sedangkan, untuk nilai rata-rata total kerugian dari kedua metode ini didapatkan Rp75.065.123.293 untuk periode ulang 250 tahun, Rp128.511.774.971 untuk 500 tahun, Rp231.224.915.196 untuk 1000 tahun, dan Rp551.678.261.963 untuk 2500 tahun. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang luas dengan adanya analisis PTHA. Hal ini dapat menunjukkan bahwasanya bencana tsunami tersebut memiliki tingkat probabilitas yang dapat terjadi kapan saja dan tidak harus disebabkan oleh magnitudo gempa yang sangat tinggi.

2024
👤 Penulis: Muhammad Wahyu Al Ghifari
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Hidrologi

ESTIMASI KERUGIAN LANGSUNG AKIBAT BENCANA DI PULAU JAWA

Letak geografis serta jumlah penduduk yang besar menjadikan Pulau Jawa sebagai wilayah yang rawan bencana dengan berbagai ancaman, termasuk gempa bumi, longsor, banjir, dan letusan gunung api. Berdasarkan data historis, keempat jenis bencana ini menimbulkan kerugian ekonomi sebesar Rp395.050.291.044.408,00 dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Oleh karena itu, perhitungan potensi kerugian akibat keempat bencana tersebut menjadi hal yang penting untuk dilakukan agar terhindar dari kerugian ekonomi yang berkelanjutan di masa depan. Adapun jenis kerugian yang akan dibahas secara spesifik dalam project ini adalah jenis kerugian langsung (direct loss). Proses perhitungan kerugian diawali dengan mengumpulkan peta ancaman bencana untuk mengetahui parameter indeks ancaman. Kemudian, proses dilanjutkan dengan melakukan identifikasi sruktur taksonomi bangunan melalui metode GED4ALL Building Taxonomy yang telah disimplifikasi untuk parameter pengamatannya. Data indeks ancaman dan struktur taksonomi bangunan yang diperoleh akan digunakan sebagai variabel dalam persamaan perhitungan risiko kerugian langsung akibat bencana dengan metode Damage and Loss Assessment (DaLA). Pada tahapan akhir, data dan informasi yang diperoleh dari ketiga proses sebelumnya akan disajikan dalam suatu dashboard berbasis WebGIS. Hasil perhitungan risiko kerugian menunjukkan bahwa bencana gempa bumi memiliki potensi kerugian tertinggi dengan nilai total kerugian sebesar Rp195.322.940.153.487,00 disusul dengan bencana longsor dan banjir dengan nilai total kerugian sebesar Rp117.043.904.494.640,00 dan Rp12.329.442.055.227,00. Potensi kerugian terendah ditunjukkan oleh jenis bencana letusan gunung api dengan nilai total kerugian Rp68.006.471.074,00. Secara keseluruhan, luaran utama yang dihasilkan pada project ini dapat digunakan untuk proses lanjutan dalam sistem manajemen risiko bencana, khususnya pada tahap analisis dan evaluasi risiko.

2024
👤 Penulis: Nazhel Diva Lendra
🏷️ Geologi 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PEMANFAATAN WEBGIS SEBAGAI MEDIA VISUALISASI MITIGASI BENCANA ERUPSI GUNUNG SEMERU DENGAN JALUR ALTERNATIF EVAKUASI DAN SIMULASI PERGERAKAN PENDUDUK (STUDI KASUS: DESA SUPITURANG, KECAMATAN PRONOJIWO, KABUPATEN LUMAJANG)

Gunung Semeru, sebagai gunung berapi aktif tertinggi di Pulau Jawa, memiliki potensi erupsi yang dapat membahayakan keselamatan penduduk di sekitarnya. Salah satu desa yang paling terdampak adalah Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Pengembangan sistem informasi berbasis web untuk jalur evakuasi sangat penting untuk meminimalkan risiko dan memfasilitasi proses evakuasi yang lebih terorganisir. Tujuan dari proyek ini adalah untuk merancang dan mengimplementasikan sebuah WebGIS yang memberikan informasi jalur evakuasi efektif dan simulasi pergerakan penduduk bagi masyarakat Desa Supiturang. Metodologi yang digunakan dalam proyek ini mencakup pengumpulan data primer melalui survei dan wawancara dengan pihak terkait seperti Pemerintah Desa Supiturang, serta akuisisi data lain dari laman resmi lembaga. Desain website dibuat sesuai dengan spesifikasi pedoman Badan Standar Nasional untuk memastikan kenyamanan dan kemudahan penggunaan bagi pengguna. Pengembangan website dilakukan menggunakan teknologi HTML dengan format data geografis GeoJSON sesuai dengan standar internasional. Hasil dari proyek ini adalah sebuah website yang informatif dan interaktif yang dapat diakses publik melalui berbagai perangkat. WebGIS menyediakan peta jalur evakuasi lengkap dengan informasi navigasi menuju titik evakuasi utama, serta simulasi pergerakan penduduk yang menampilkan skenario mitigasi bencana yang efektif dan efisien berdasarkan keadaan yang sebenarnya. Uji coba sistem dilakukan dengan metode pengujian kegunaan, dengan masyarakat Desa Supiturang mencoba langsung produk, menilai, serta memberikan umpan balik sebagai acuan pengembangan produk. Diharapkan produk WebGIS dengan menu utama peta digital jalur evakuasi dan simulasi pergerakan penduduk saat melakukan evakuasi ini mampu menjadi alat bantu yang efektif dalam upaya mitigasi bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

2024
👤 Penulis: Amanindita Salma Amira
🏷️ Geografi Digital 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko Bencana

PEMANFAATAN WEBGIS SEBAGAI MEDIA VISUALISASI MITIGASI BENCANA ERUPSI GUNUNG SEMERU DENGAN JALUR ALTERNATIF EVAKUASI DAN SIMULASI PERGERAKAN PENDUDUK (STUDI KASUS: DESA SUPITURANG, KECAMATAN PRONOJIWO, KABUPATEN LUMAJANG)

Gunung Semeru, sebagai gunung berapi aktif tertinggi di Pulau Jawa, memiliki potensi erupsi yang dapat membahayakan keselamatan penduduk di sekitarnya. Salah satu desa yang paling terdampak adalah Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Pengembangan sistem informasi berbasis web untuk jalur evakuasi sangat penting untuk meminimalkan risiko dan memfasilitasi proses evakuasi yang lebih terorganisir. Tujuan dari proyek ini adalah untuk merancang dan mengimplementasikan sebuah WebGIS yang memberikan informasi jalur evakuasi efektif dan simulasi pergerakan penduduk bagi masyarakat Desa Supiturang. Metodologi yang digunakan dalam proyek ini mencakup pengumpulan data primer melalui survei dan wawancara dengan pihak terkait seperti Pemerintah Desa Supiturang, serta akuisisi data lain dari laman resmi lembaga. Desain website dibuat sesuai dengan spesifikasi pedoman Badan Standar Nasional untuk memastikan kenyamanan dan kemudahan penggunaan bagi pengguna. Pengembangan website dilakukan menggunakan teknologi HTML dengan format data geografis GeoJSON sesuai dengan standar internasional. Hasil dari proyek ini adalah sebuah website yang informatif dan interaktif yang dapat diakses publik melalui berbagai perangkat. WebGIS menyediakan peta jalur evakuasi lengkap dengan informasi navigasi menuju titik evakuasi utama, serta simulasi pergerakan penduduk yang menampilkan skenario mitigasi bencana yang efektif dan efisien berdasarkan keadaan yang sebenarnya. Uji coba sistem dilakukan dengan metode pengujian kegunaan, dengan masyarakat Desa Supiturang mencoba langsung produk, menilai, serta memberikan umpan balik sebagai acuan pengembangan produk. Diharapkan produk WebGIS dengan menu utama peta digital jalur evakuasi dan simulasi pergerakan penduduk saat melakukan evakuasi ini mampu menjadi alat bantu yang efektif dalam upaya mitigasi bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

2024
👤 Penulis: Fitrotur Rofiqoh
🏷️ Geografi Digital 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko Bencana
Halaman 1 dari 2
💬