📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4 dokumenPEMODELAN BASEMENT MAGNETIK MENGGUNAKAN PROGRAM MAGB_INV PADA WILAYAH TELUK BONE, SULAWESI SELATAN
Teluk Bone merupakan wilayah cekungan sedimen yang berkembang akibat interaksi tektonik regional yang kompleks dan memiliki peran penting dalam tatanan geologi Sulawesi. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan konfigurasi basement magnetik serta mengestimasi ketebalan sedimen di wilayah Teluk Bone menggunakan metode inversi magnetik berbasis program MagB_Inv. Data magnetik yang digunakan terlebih dahulu dilakukan koreksi dan transformasi Reduce to the Pole (RTP) dengan menggunakan nilai Inklinasi dan Deklanasi pada wilayah penelitian sehingga menghasilkan peta anomali magnetik yang sesuai. Analisis Radially Averaged Power Spectrum (RAPS) diterapkan untuk menentukan parameter kedalaman awal dan batas filter yang digunakan dalam proses inversi. Proses inversi dilakukan dengan mempertimbangkan parameter magnetisasi ratarata, kedalaman awal, serta kriteria konvergensi berbasis nilai RMS error. Hasil inversi basement magnetik menunjukkan variasi kedalaman basement yang signifikan, dengan kedalaman berkisar antara 4,5 km hingga lebih dari 13 km. Model basement magnetik tiga dimensi memperlihatkan adanya zona basement dalam yang berkembang di bagian tengah hingga selatan Teluk Bone, yang diinterpretasikan sebagai cekungan utama, serta tinggian basement di bagian barat dan timur wilayah penelitian. Analisis profil lintasan basement magnetik menunjukkan konsistensi terhadap model tiga dimensi tersebut. Estimasi ketebalan sedimen yang diperoleh dari selisih antara kedalaman basement magnetik dan data batimetri menunjukkan variasi ketebalan sedimen yang signifikan, dengan ketebalan maksimum berkembang pada zona basement terdalam dengan ketebalan mencapai 8,5 km. Hasil ini mengindikasikan bahwa konfigurasi basement berperan sebagai kontrol utama dalam perkembangan cekungan dan akumulasi sedimen di wilayah Teluk Bone. Penelitian ini menunjukkan bahwa metode inversi magnetik menggunakan program MagB_Inv mampu memberikan gambaran awal konfigurasi basement dan distribusi sedimen secara regional, yang dapat digunakan sebagai dasar untuk studi geologi dan eksplorasi lanjutan.
KAJIAN SEDIMENTASI AKIBAT PEMBANGUNAN RIGPAD TERHADAP MORFOLOGI PANTAI LANGKAT DI KABUPATEN LANGKAT, PROVINSI SUMATERA UTARA
Wilayah pesisir Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, merupakan kawasan strategis yang memiliki potensi sumber daya alam berupa minyak dan gas bumi (migas). Dalam rangka mendukung kegiatan eksplorasi dan produksi migas, telah direncanakan pembangunan rigpad melalui metode reklamasi di wilayah perairan dangkal pesisir Langkat. Namun, pembangunan infrastruktur pesisir seperti rigpad di wilayah pesisir yang dinamis ini dikhawatirkan dapat mengganggu keseimbangan sistem pesisir, khususnya terhadap proses sedimentasi dan kondisi morfologisnya. Oleh karena itu, dilakukan studi yang bertujuan untuk mengevaluasi dampak dari pembangunan dengan metode reklamasi terhadap kondisi sedimentasi dan morfologi pesisir. Studi ini dilakukan dengan pendekatan numerik berbasis pemodelan hidrodinamika dan transpor sedimen. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Delft3D yang mampu mensimulasikan kondisi pasang surut, arus, gelombang, serta distribusi dan akumulasi sedimen dalam jangka panjang. Dilakukan dua skenario pemodelan, yakni skenario eksisting (2019 – 2023 dan 2023 – 2033) dan reklamasi (2023 – 2033), untuk mengetahui perbandingan antara kondisi setelah dilakukan pembangunan dan kondisi natural wilayah studi. Data input yang digunakan berupa data pasang surut, angin, gelombang, batimetri, debit sungai, dan data sedimen yang diolah dengan metode pendekatan tertentu sebelum akhirnya dilakukan pemodelan. Kalibrasi model dilakukan dengan perbandingan data model skenario eksisting dalam periode tertentu dengan perubahan batimetri yang terjadi dari pengamatan satelit General Bathymetric Chart of the Oceans (GEBCO) untuk tahun 2019 dan 2023. Analisis dilakukan terhadap beberapa komponen utama. Pertama, analisis hidrodinamika terkait pasang surut, gelombang, dan pola arus yang akan menjadi dasar penggerak sedimen. Kedua, analisis transpor sedimen yang dilakukan untuk mengidentifikasi zona akumulasi sedimentasi dan erosi di sekirat muara, sepanjang garis pantai, dan wilayah struktur. Ketiga, analisis perubahan batimetri secara spasial dan temporal untuk melihat dampak reklamasi terhadap elevasi dasar laut. Keempat, analisis terhadap zona wilayah lokasi studi, meliputi zona pasang surut dan pergeseran garis pantai. Analisis garis pantai eksisting, menunjukkan bahwa terdapat akumulasi sedimen di sepanjang 3.4 km area sisi kanan muara (bagian timur), sementara di sisi kanan ii (bagian barat) sedimentasi terjadi sejauh 1.4 km. Secara longitudinal garis pantai, pantai barat mengalami sedimentasi sepanjang ±1,4 km dengan akumulasi sedimen yang cukup besar, sekitar 1.4 m. Sementara bagian timur menunjukkan akresi yang lebih jauh sepanjang ±2,5 km, dengan rata-rata sedimentasi sebesar 0.4 m. Hal ini menunjukkan ketidak simetrisan kondisi sedimentasi di bagian pantai barat dan timur. Berdasarkan analisis spasial pasang surut, garis HHWL (Highest High Water Level) dan LLWL (Lowest Low Water Level) menunjukkan pergeseran ke arah laut setelah reklamasi. Perubahan ini menunjukkan bahwa akresi pantai mengakibatkan pergeseran zona pasang surut. Indikasi pergeseran pasang surut ini sejalan dengan zona sedimentasi dan erosi yang terjadi yang lebih dominan di pantai barat dibandingkan dengan timur. Hasil pemodelan setelah reklamasi menunjukkan bahwa reklamasi rigpad memberikan dampak signifikan terhadap pola arus dan distribusi sedimen di sekitar lokasi pembangunan. Struktur reklamasi menyebabkan perubahan arah dan kecepatan arus laut, menghasilkan zona-zona deposisi baru di sisi hulu (updrift) dan potensi erosi di sisi hilir (downdrift) rigpad. Pada kedua bagian pantai, terjadi sedimentasi untuk wilayah yang dekat dengan muara. Di sisi kiri, terjadi akumulasi sedimen namun dengan skala yang lebih terbatas. Di sisi kanan, terjadi penumpukan sedimen yang cukup besar karena pengaruh struktur. Sementara itu, muara sungai tetap terbuka dan tidak mengalami penutupan, yang menunjukkan bahwa proses flushing dari debit sungai masih berlangsung. Berdasarkan hasil kajian, terlihat bahwa pengaruh dari kondisi musiman sangat berperan terhadap kondisi morfologi pantai. Hal ini terlihat dengan perbedaan kumulatif dimensi sedimentasi yang terjadi pada wilayah pantai timur lebih besar dibandingkan dengan wilayah pantai barat. Struktur juga berpengaruh terhadap kondisi sedimentasi dan erosi pada wilayah studi yang perlu dipertimbangkan.
EVALUASI ALUR BARU KALI KEBO DI LAHAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SAMPAH (PLTSA) PUTRI CEMPO DENGAN KONSTRUKSI L-GUTTER (NON-ERODIBLE) SERTA PERUBAHAN MORFOLOGINYA
Persoalan pengelolaan sampah menjadi bahan yang terus dikaji oleh banyak peneliti untuk menemukan model pengelolaan yang paling efektif mengentaskan berbagai masalah dalam pengelolaan persampahan. Memanfaatkan sampah baik organik maupun anorganik untuk menjadi energi dapat dilakukan dengan Pembangkit listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Tak hanya itu mengolah sampah sebagai bahan bakar PLTSa, dapat mengurangi volume sampah domestik yang menumpuk di Tempat Pembuangan Sampah (TPA). Pengembangan proyek PLTSa Putri Cempo, Kota Surakarta tahun 2021 mengalami kekurangan lahan, dimana total kebutuhan lahan PLTSa 3,5 Ha untuk deposit sampah (pengeringan), sehingga sejak 2021 Pemerintah Kota Surakarta dengan koordinasi BBWS Bengawan Solo melakukan perluasan lahan untuk keperluan fasilitas pendukung PLTSa. Untuk menyatukan lahan deposit sampah, maka alur lama Kali Kebo dipindahkan dan dibangun alur baru Kali Kebo sebagai peralihan alur sungai baru untuk pemanfaatan lahan PLTSa. Konstruksi alur baru menggunakan beton L-gutter (non-erodible) untuk mencegah limbah sampah masuk ke dalam sungai. Area penelitian ini berada di Sub-DAS Watu Burik, bagian dari DAS Bengawan Solo, yang terletak di Kota Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Sungai Kebo, salah satu cabang Sungai Bengawan Solo di daerah hulu, dengan titik pengukuran pada 110º45'15'' dan 110º45'35'' Bujur Timur serta antara 7º36' dan 7º56' Lintang Selatan di Zona 49 S dari sistem UTM. Perubahan alur Kali Kebo menyebabkan perubahan pada bahan dasar saluran, panjang dan kemiringan sungai yang berpotensi pada perubahan kecepatan, kapasitas penampang dan laju angkutan sedimen (agradasi dan degradasi). Pembangunan Alur Baru Kali Kebo dalam kajian Tesis ini sudah selesai proses konstruksi pada bulan Mei tahun 2023. Penulis melakukan reviu desain dengan sumber data hujan Pos Curah Hujan Pabelan tahun 2001 – 2022, selanjutnya dilakukan kajian analisis hidrologi, analisis hidraulika dan analisis laju angkutan sedimen. Nilai debit bankfull saluran alami Q = 29.01 m3/dtk dengan kalibrasi perhitungan Hidrograf Satuan Sintetis SCS merupakan debit kala ulang 1,5 tahun (Q1,5). Berdasarkan peraturan Menteri PUPR Nomor 12/PRT/M/2014, maka untuk luas DAS Watu Burik 479 Ha perencanaan menggunakan Q10 = 47,07 m3/dtk dan menghasilkan perhitungan dimensi L-gutter H = 2.8 m dan B = 4.2 m. Hasil analisis menunjukkan terjadi peningkatan kapasitas setelah dilakukan perubahan alur baru Kali Kebo adalah 63,63% untuk metode faktual dan 63,52% dengan metode n-Kutter’s. Kecepatan ijin maksimum saluran agar tidak terjadi erosi v = 0,506 m/dtk sesuai dengan analisis perhitungan tegangan dasar dan tegangan kritis di lokasi studi. Pemodelan 1D unsteady flow HEC-RAS untuk nilai debit bankfull (Q1,5) menunjukkan terjadi perubahan kecepatan aliran Kali Kebo alur lama 1.78 m/det, sementara alur baru menjadi 1.05 m/det, karena penambahan panjang sungai ±68 m. Tendensi terjadi sedimentasi bagian hulu (Sta. 0+80) dengan tinggi 0,5-0,6 m / tahun, tendensi erosi pada inlet alur sungai baru (Sta10+90) dengan kedalaman 0,2-0,3 m/tahun, sementara pada pada bagian outlet alur baru/bagian hilir (Sta. 29+108) ada tendensi erosi dengan kedalaman 0,6-0,8 m/ tahun. Hasil pemodelan angkutan sedimen menunjukkan bahwa Persamaan Sedimen Ackers-White dengan nilai 1,216 ton/hari mendekati hasil kalibrasi di lapangan. Kondisi Kali Kebo yang sudah terkontaminasi limbah sampah mempengatruhi laju angkutan sedimen, setelah dilakukan analisis Qt = 35,431.7 ppm > 10,000 dapat diartikan bahwa sungai tersebut mengalami sedimentasi kategori berat.
STUDI PENGARUH PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN DI DAERAH TANGKAPAN AIR (DTA) WADUK DARMA TERHADAP INFLOW SEDIMEN WADUK DARMA
Salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam pengelolaan waduk adalah perubahan tata guna lahan yang terjadi di Daerah Tangkapan Air (DTA) waduk tersebut. Perubahan tata guna lahan merupakan salah satu dampak dari aktivitas manusia. Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan kebutuhan pemukiman baru juga bertambah. Perubahan area lahan dari hutan ke non hutan dan pertanian ke non pertanian tentunya akan berpengaruh besar terhadap erosi lahan di suatu Daerah Tangkapan Air (DTA) sehingga memicu peningkatkan volume sedimen yang masuk ke waduk. Maksud dan tujuan dari penelitian adalah mengkaji pengaruh perubahan tata guna lahan terhadap sedimentasi di DTA Waduk Darma sehingga diketahui usia guna waduk Darma berdasarkan inflow sedimen penggunaan lahan. Pemodelan sedimentasi pada studi dilakukan dilakukan dengan menggunakan software SSIIM-2 (Sediment Simulation in Intakes with Multiblock Option). Debit yang menjadi input pada pemodelan SSIIM pada studi ini adalah debit aliran pada masing-masing sungai yang menjadi inflow Waduk Darma yang dianalisis dengan metode NRECA dan dibagi pada masing-masing sub DAS berdasarkan luas area tangkapan air/sub DAS masing-masing. Dari hasil simulasi aliran dan sedimentasi dengan menggunakan debit bulanan selama 7 tahun dari tahun 2012 sampai dengan 2018, didapatkan penambahan volume sedimen rata-rata sebesar 356,358.420 m3/tahun. Dari hasil analisis distribusi sedimentasi terhadap posisi tampungan mati di waduk yaitu pada elevasi +693,540, didapatkan bahwa dari total sedimen yang masuk ke Waduk Darma, hanya sebesar 3,667% yang sampai pada elevasi tampungan mati yang berada di area hilir waduk. Hasil tersebut nantinya dapat digunakan untuk menentukan pola penanganan sedimentasi yang tepat serta dapat digunakan untuk analisis laju sedimentasi waduk terhadap kapasitas tampungan mati pada studi selanjutnya.