📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4 dokumenKAJIAN ANALITIK SEDIMENTASI MUARA PAMAKARAN, DELTA MAHAKAM, KALIMANTAN TIMUR
Penelitian ini membahas masalah sedimentasi dengan pendekatan sediment budget. Analisis sedimen metode ini fokus pada evaluasi proses sedimen (erosi, transpor sedimen, dan pengendapan partikel sedimen), serta menunjukkan hubungan korelasi antar faktor seperti kecepatan arus, pasut, ukuran butiran sedimen, dan konsentrasi kekeruhan air. Faktor-faktor tersebut yang mengakibatkan sedimentasi akan dibuktikan melalui eksperimen lapangan dengan melakukan pengukuran kecepatan arus, pengukuran tinggi muka air (pasang surut), pengambilan sampel air, dan pengambilan sedimen dasar perairan. Dengan adanya informasi mengenai kecepatan arus dan konsentrasi sampel air, maka pengukuran mengenai besaran laju transpor sedimen yang terjadi pada daerah studi ini dapat dilakukan. Proses sedimen (erosi, transportasi, dan deposisi) dapat diketahui dengan melihat hubungan kecepatan arus dan besaran ukuran butiran sedimen dasar perairan.
PENGARUH POLA ANGKUTAN SEDIMEN TERHADAP PERUBAHAN MORFOLOGI SUNGAI CITARUM–MAJALAYA PASCANORMALISASI
Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum mengalami degradasi lingkungan yang signifikan akibat perubahan tata guna lahan yang masif untuk pertanian dan urbanisasi. Kondisi ini memicu erosi lahan di daerah hulu, yang menyebabkan sedimentasi tidak terkendali di daerah Majalaya. Akibatnya, kapasitas tampung Sungai Citarum terus berkurang, sehingga meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir. Studi ini bertujuan untuk menganalisis perubahan morfologi Sungai Citarum–Majalaya dan implikasinya terhadap peningkatan risiko banjir pascanormalisasi yang dilakukan pada tahun 2020. Pemodelan numerik menggunakan perangkat lunak HEC-RAS 6.4.1 2D dilakukan dalam dua tahap: tahap validasi (Mei 2020–Januari 2022) menggunakan data batimetri, MERIT DEM, debit SWAT+, data sedimen berupa grain size dan sediment rating curve; serta tahap proyeksi (hingga tahun 2032) menggunakan debit rata-rata harian historis. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara estimasi sediment yield tahunan berbasis lahan (USLE: 210.949,76 ton/tahun; MUSLE: 218.784,54 ton/tahun) dengan metode berbasis pengukuran sungai (Batimetri: 12.688,80 ton/tahun; SRC: 27.036,90 ton/tahun). Perbedaan ini mengindikasikan bahwa sekitar 87,64% dari total erosi lahan terperangkap di hulu oleh faktor geomorfologi dan infrastruktur seperti check dam dan bendung sebelum mencapai outlet. Ditemukan pula bahwa laju sedimentasi pascanormalisasi terjadi lebih cepat (kapasitas 50% terisi dalam 7 tahun proyeksi) dibandingkan kondisi pranormalisasi (11 tahun), karena alur yang baru dikeruk berfungsi sebagai perangkap sedimen yang efisien. Selain itu, laju sedimentasi yang teramati di lapangan lebih cepat dari hasil proyeksi model akibat terjadinya kondisi 'tahun basah' (2020-2022) dengan debit puncak yang lebih tinggi dari rata-rata historis. Model sedimentasi HEC-RAS 2D berhasil divalidasi dengan akurasi sangat tinggi (selisih volume deposisi 3,2%) menggunakan kombinasi fungsi transpor "Yang" dan kecepatan jatuh "van Rijn". Dalam dua tahun pascanormalisasi, proses sedimentasi terbukti telah mengurangi kapasitas tampung sungai sebesar 23%, dengan laju rata-rata sedimentasi sebesar 1,9 cm/bulan, sehingga didapatkan ketebalan sedimen maksimum 2,84 meter dengan rata-rata 40 cm. Simulasi proyeksi 10 tahun menunjukkan bahwa manfaat normalisasi bersifat sementara. ii Terjadi peningkatan laju rata-rata sedimentasi sebesar 11 cm/tahun, sehingga didapatkan ketebalan sedimen maksimum 4,54 meter dengan rata-rata 1,42 meter, dan sisa kapasitas tampung sungai diproyeksikan hanya 46,30% pada akhir tahun 2032. Peningkatan risiko banjir terbukti signifikan; debit kala ulang 2 tahun (Q2), yang sebelumnya aman pada tahun 2020, telah menyebabkan genangan seluas 0,91 hektar pada tahun 2022. Studi ini menyimpulkan bahwa normalisasi hanya memberikan solusi jangka pendek terhadap laju sedimentasi yang masif. Oleh karena itu, direkomendasikan sebuah strategi pengelolaan berkelanjutan yang mengintegrasikan penanganan gejala di hilir dengan akar permasalahan di hulu. Ini meliputi pembangunan check dam dan sediment trap, rehabilitasi hutan dan lahan, penerapan teknik konservasi tanah dan air, serta pengerukan sungai secara terjadwal dengan siklus setiap 2–3 tahun untuk menjaga tingkat layanan pengendalian banjir secara efektif.
PERENCANAAN CHECK DAM PADA DAERAH TANGKAPAN AIR (DTA) PRIORITAS INFLOW WADUK CIRATA BERDASARKAN ANALISIS LAJU EROSI
Waduk Cirata merupakan salah satu waduk terbesar di Indonesia yang memiliki fungsi vital dalam penyediaan energi listrik, pengendalian banjir, dan irigasi. Namun, tingginya laju sedimentasi dari Daerah Tangkapan Air (DTA) hulu menjadi ancaman serius terhadap kapasitas tampung dan umur layanan waduk. Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan bangunan check dam pada DTA prioritas inflow Waduk Cirata berdasarkan analisis laju erosi dan estimasi beban sedimen menggunakan metode Universal Soil Loss Equation (USLE) dan Sediment Delivery Ratio (SDR). Berdasarkan hasil analisis, DTA Cisokan teridentifikasi memiliki potensi sedimentasi tertinggi, sehingga dipilih sebagai lokasi studi. Debit rencana dihitung menggunakan HSS ITB-1 dengan kala ulang 50 tahun, menghasilkan debit puncak sebesar 1110,61 m³/s. Berdasarkan debit tersebut, direncanakan satu unit check dam dengan tinggi total 3,86 m, mencakup tinggi efektif 2,35 m dan kedalaman pondasi 1,51 m. Analisis stabilitas terhadap gaya guling, geser, dan gempa menunjukkan bahwa desain berada dalam kondisi aman. Kapasitas tampung total satu unit check dam sebesar 133.680,8 m³. Simulasi transportasi sedimen selama lima tahun menggunakan HEC-RAS menunjukkan bahwa total volume sedimen yang mencapai outlet sebesar 2,15 juta m³. Untuk mencapai target reduksi 70%, diperlukan 11unit check dam. Hasil simulasi menunjukkan bahwa konfigurasi tersebut mampu mereduksi sedimen sebesar 70,94%, sehingga perencanaan dinilai efektif dalam mendukung pengendalian sedimen secara terukur dan berkelanjutan.
PERENCANAAN ALUR PELAYARAN DAN KOLAM DI PELABUHAN PATIMBAN, SUBANG, JAWA BARAT
Keberadaan pelabuhan sangat penting guna menunjang kepentingan sebuah wilayah. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan sebuah wilayah adalah dengan melakukan pembangunan pelabuhan baru atau pengembangan pelabuhan yang telah ada. Pembangunan Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat ini memang disiapkan untuk dapat menjadi pelabuhan pertama di Indonesia yang mengintegrasikan seluruh mata rantai pasok yang sekaligus menjadi pelabuhan baru berskala internasional untuk melengkapi pelabuhan lainnya yang saat ini beroperasi. Salah satu fasilitas perairan yang dibutuhkan yaitu alur pelayaran dan kolam, sehingga perlu dilakukan perencanaan alur dan kolam untuk kapal rencana dengan spesifikasi kapal Peti Kemas 107526 DWT dengan standar desain terpilih OCDI 2020. Analisis dilakukan pada alur pelayaran dan kolam eksisting berdasarkan hasil pemodelan gelombang, pemodelan arus serta sedimentasi menggunakan modul STWAVE, RMA2, dan SED2D. Hasil perhitungan didapatkan bahwa lebar alur rencana sebesar 525 m dengan kedalaman alur sebesar 17 m dan kolam dengan diameter 700 m serta kedalaman kolam 17 m. Hasil analisis alur pelayaran terhadap gelombang diketahui bahwa alur tersebut dinyatakan layak digunakan karena arah alur tidak tegak lurus terhadap arah datang gelombang. Selain itu hasil analisis sedimentasi selama satu tahun menunjukkan bahwa pada alur pelayaran dan kolam terjadi pendangkalan pada titik SED 1 yaitu 122.63 mm/tahun, diikuti titik SED 2 yaitu 122.83 mm/tahun, titik SED 3 yaitu 123.20 mm/tahun, dan yang tertinggi pada titik SED 4 yaitu 123.29 mm/tahun. Untuk mendapatkan alur pelayaran yang mampu melayani kapal rencana, dibutuhkan volume capital dredging sebesar 1,529,797.02 m3. Akibat faktor pendangkalan yang terjadi pada alur pelayaran dan kolam maka perlu dilakukan maintenance dredging dengan volume sebesar 619,600.6019 m3/tahun.