📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 19 dokumen

STUDI KOMPARASI KINERJA SISTEM RANGKA BAJA PEMIKUL MOMEN KHUSUS DENGAN VARIASI SAMBUNGAN REPLACEABLE FUSE

Sistem rangka pemikul momen khusus (RMK) dengan sambungan replaceable fuse menawarkan solusi reparasi pasca gempa yang lebih ekonomis, namun kajian komparatif kinerja seismik antar jenis sambungan fuse masih terbatas, khususnya dalam kerangka SNI 1726-2019. Penelitian ini bertujuan membandingkan kinerja seismik struktur baja RMK 10 lantai yang dirancang dengan tiga variasi sambungan replaceable fuse—Kuncian Tarik, Top Shear Tabs Bottom Metallic Fuse, dan T-stub—terhadap struktur benchmark dengan sambungan konvensional. Karakteristik sambungan fuse dinormalisasi dari data hasil eksperimen. Pemodelan dan evaluasi dilakukan menggunakan perangkat lunak ETABS dengan analisis nonlinear static pushover. Parameter yang dievaluasi meliputi overstrength, daktilitas, disipasi energi, kekakuan elastik, dan pencapaian target kinerja. Hasil menunjukkan bahwa ketiga sambungan replaceable fuse secara konsisten menurunkan overstrength terhadap struktur dengan sambungan konvensional. Sambungan jenis Kuncian Tarik dan Top Shear Tabs Bottom Metallic Fuse meningkatkan daktilitas serta memenuhi target minimal kinerja struktur, sedangkan sambungan jenis T-stub mengalami penurunan daktilitas dan tidak memenuhi target kinerja minimal. Penggunaan sambungan replaceable fuse melindungi balok dari kelelehan. Kontribusi disipasi energi elemen fuse pada struktur sambungan konvensional tercatat sekitar 80% dengan total energi disipasi 27,550 kNm sementara pada sambungan Kuncian Tarik, Top Shear Tabs Bottom Metallic Fuse, dan T-Stub berturut-turut mencapai 84%, 99%, dan 100% dengan total energi disipasi masing-masing sebesar 28,228 kNm; 10,629 kNm; dan 4,113 kNm. Optimasi profil berdasarkan syarat simpangan meningkatkan kekakuan elastik dan total disipasi energi. Kinerja terbaik dicapai oleh sambungan replaceable fuse jenis Kuncian Tarik. Studi ini mengonfirmasi kelayakan sambungan Kuncian Tarik dan Top Shear Tabs Bottom Metallic Fuse sebagai alternatif sambungan replaceable fuse pada sistem struktur RMK 10 lantai.

2026
👤 Penulis: Dinan Azka Hanifan
🏷️ Struktur Baja 🏷️ Sistem Rantai Pasok 🏷️ Analisis Seismik

PENGEMBANGAN METODOLOGI EVALUASI NONLINEAR STRUKTUR DINDING BATA TERKEKANG (CONFINED MASONRY) DAN DINDING BATA PENGISI (INFILL WALL)

Struktur dinding bata terkekang (Confined Masonry - CM) dan dinding bata pengisi (RC-Infill Wall - RC-IW) merupakan sistem konstruksi yang populer di Indonesia untuk bangunan bertingkat rendah hingga menengah. Meskipun penggunaannya masif, bangunan ini sering diklasifikasikan sebagai non-engineered building dan mengabaikan kontribusi kekakuan serta kekuatan dinding bata dalam perhitungan struktur padahal dinding bata dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap kekuatan dan kekakuan bangunan. Kondisi ini akan meimbulkan risiko tinggi dikarenakan wilayah Indonesia yang berada di kawasan ring of fire sehingga memiliki bahaya seismik yang tinggi. Evaluasi kinerja seismik pada struktur eksisting menghadapi tantangan karena belum adanya standar yang mengatur secara detail tentang metode evaluasinya, sehingga sering menimbulkan kesulitan dalam membedakan pemodelan sistem CM dengan RC-IW. Tesis ini menyajikan pengembangan metodologi evaluasi nonlinear terintegrasi yang praktis namun komprehensif untuk merepresentasikan degradasi kekakuan, disipasi energi, dan mekanisme kegagalan aktual dari kedua sistem struktur tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan metode pemodelan dan analisis nonlinear terintegrasi yang paling mewakili perilaku CM maupun RC-IW, serta untuk mengidentifikasi mekanisme pendistribusian gaya antar elemen penyusunnya. Analisis dilakukan secara numerik menggunakan perangkat lunak ETABS melalui prosedur Pushover Analysis. Panel dinding dimodelkan menggunakan metode Diagonal Strut Model berdasarkan perbandingan tiga metode pendekatan empiris: FEMA, NCREE, dan Mostafaei. Perilaku elemen beton bertulang dievaluasi untuk mendapatkan backbone curve menggunakan perangkat lunak XTRACT dan pendekatan empiris, guna mendefinisikan sendi plastis (moment, shear, dan axial hinge). Hasil kurva pushover kemudian akan divalidasi dengan membandingkannya terhadap envelope curve dari database pengujian eksperimental terdahulu. Hasil perbandingan rasio keakuratan menunjukkan bahwa metode FEMA merupakan pendekatan pemodelan yang paling realistis, stabil, dan konsisten dalam memprediksi respons nonlinear pada CM dan sebagian besar RC-IW. Pada sistem CM, metode FEMA memprediksi kekakuan awal dengan sangat baik dan memprediksi kekuatan maksimum secara sedikit konservatif, serta mampu mengikuti perilaku pasca-puncak dengan akurat. Sebaliknya, pendekatan NCREE cenderung underestimate pada kekakuan awal namun overestimate secara ekstrem pada prediksi gaya maksimum dan daktilitas, sementara pendekatan Mostafaei menghasilkan nilai yang overestimate secara konsisten pada semua fase. Namun, khusus pada struktur dinding pengisi (RC-IW) yang memiliki rasio tinggi-terhadapbentang (????????/????????) kecil dan bentang memanjang, model NCREE memberikan keakuratan yang lebih baik dibandingkan FEMA dan Mostafaei karena adanya pembatasan rasio bentuk struktur dalam metodologinya. Analisis mekanisme pendistribusian gaya pada saat kondisi geser dasar (base shear) maksimum menunjukkan perbedaan keruntuhan yang nyata antara kedua sistem. Pada CM, dinding bata menyerap porsi gaya geser dominan sebesar 45% hingga 72%, sedangkan elemen kolom pengekang hanya memikul sekitar 2% hingga 15% gaya, membuktikan dinding bekerja sebagai penahan geser utama (berperilaku seperti shear wall). Pada sistem RC-IW, distribusi berbalik dengan portal beton menyerap porsi gaya geser terbesar (30% hingga di atas 60%), menegaskan dinding bata hanya berperan sebagai penopang diagonal (diagonal compression strut). Pola pendistribusian gaya ini terbukti memiliki korelasi langsung dengan rasio lebar kolom terhadap tebal dinding (???????? /????????). Kesimpulannya, integrasi metode pemodelan nonlinear untuk evaluasi CM dan RCIW dapat diimplementasikan dengan sangat efektif melalui pendekatan diagonal strut FEMA yang dipadukan dengan pengecekan kelayakan detailing (panjang penyaluran dan spasi tulangan) elemen pembatas. Model terintegrasi ini terbukti andal dalam menangkap perbedaan perilaku distribusi gaya antar-sistem, sehingga memberikan sumbangsih prosedur asesmen yang akurat untuk evaluasi keamanan bangunan bata eksisting di daerah rawan gempa.

2026
👤 Penulis: Fernando Noverio
🏷️ Kekuatan Struktur 🏷️ Analisis Seismik 🏷️ Pengembangan Metode Evaluasi

MODEL REGENERASI PENGETAHUAN TEKTONIKA LOKAL PADA MASJID TRADISIONAL ACEH UNTUK KETANGGUHAN SEISMIK

Aceh merupakan salah satu wilayah di Indonesia dengan tingkat risiko seismik yang tinggi. Berbagai peristiwa gempa besar telah menyebabkan kerusakan signifikan pada bangunan publik, terutama yang dibangun dengan praktik konstruksi swadaya masyarakat. Di sisi lain, sejumlah Masjid Tradisional Aceh yang menggunakan sistem konstruksi kayu justru mampu bertahan terhadap beban gempa dengan tingkat kerusakan yang relatif rendah. Fenomena ini menunjukkan adanya pengetahuan tektonika lokal yang berkembang melalui pengalaman adaptif masyarakat dalam merespons risiko seismik. Namun, pengetahuan tersebut masih berada dalam bentuk implisit, belum sepenuhnya diformalkan sebagai sistem pengetahuan konstruksi, dan belum dioperasionalkan sebagai dasar pengembangan desain arsitektur masa kini yang tangguh terhadap gempa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik pengetahuan tektonika lokal Masjid Tradisional Aceh dalam membentuk respons dan ketangguhan seismik bangunan, merumuskan Unit Pengetahuan Tektonika Lokal (UPTL) yang berkontribusi terhadap mekanisme ketangguhan seismik, serta menyusun model regenerasi pengetahuan tektonika lokal sebagai kerangka konseptual dan operasional bagi pengembangan desain arsitektur masa kini. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran dengan desain sekuensial melalui tiga tahap. Tahap pertama berfokus pada identifikasi data empiris melalui observasi lapangan, wawancara semi-terstruktur, catatan lapangan, dokumentasi, serta pengukuran dengan Terrestrial Laser Scanning pada lima objek studi Masjid Tradisional Aceh. Tahap kedua melakukan evaluasi performa seismik melalui analisis numerik multiskala, yaitu analisis pushover dan time history pada skala bangunan serta finite element analysis (FEA) pada skala sambungan balok-kolom. Tahap ketiga melakukan sintesis dan translasi pengetahuan melalui perumusan unit pengetahuan, kriteria desain, parameter desain, serta penyusunan model konseptual-parametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketangguhan seismik Masjid Tradisional Aceh terbentuk melalui kerja terpadu antara keteraturan geometri, sistem struktur inti-perimeter, sistem rangka kayu, sambungan mortise–tenon, sistem tumpuan, dan strategi material ringan. Karakteristik tersebut tidak bekerja sebagai elemen tunggal, melainkan sebagai sistem tektonika yang saling terkait dalam mengendalikan respons bangunan terhadap beban gempa. Penelitian ini merumuskan 21 UPTL yang dikelompokkan ke dalam empat kategori, yaitu geometri bangunan, sistem struktur, sistem konstruksi, dan material bangunan. Unit-unit tersebut kemudian diturunkan menjadi 39 kriteria desain dan 80 parameter desain. Model regenerasi dikembangkan melalui pendekatan konseptual-parametrik dengan lima alternatif konfigurasi modul. Selanjutnya, dua model dengan konfigurasi 16 modul dan 25 modul dipilih sebagai model konseptual siap uji. Hasil uji model menunjukkan bahwa kedua model memenuhi kategori Immediate Occupancy pada analisis pushover dan time history. Pada skala sambungan, hasil finite element analysis menunjukkan bahwa logika sambungan mortise–tenon masih dapat dipertahankan ketika material ditranslasikan ke kayu rekayasa, meskipun respons deformasi dan tegangan lokal bervariasi pada setiap sambungan. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan tektonika lokal Masjid Tradisional Aceh dapat menjadi dasar pengembangan desain bangunan tangguh gempa yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap keterbatasan praktik konstruksi masyarakat. Temuan ini juga menegaskan bahwa pelestarian arsitektur tradisional perlu diarahkan tidak hanya pada bentuk fisik, tetapi juga pada pemahaman logika konstruksi, sistem sambungan, strategi material, dan mekanisme performa yang terkandung di dalamnya. Kebaruan penelitian terletak pada tiga aspek. Pertama, penelitian ini memformalkan pengetahuan tektonika lokal Masjid Tradisional Aceh menjadi UPTL yang dapat ditranslasikan ke dalam kriteria desain dan parameter desain. Kedua, penelitian ini merumuskan model regenerasi pengetahuan tektonika lokal sebagai pendekatan alternatif dalam pengembangan arsitektur tangguh gempa yang berakar pada kearifan lokal, dengan menempatkan pengetahuan konstruktif tradisional sebagai sistem pengetahuan yang dapat diregenerasi dan dioperasionalkan, bukan sekadar dilestarikan. Ketiga, penelitian ini mengintegrasikan dokumentasi empiris, pengetahuan implisit, analisis numerik multiskala, dan pemodelan konseptual–parametrik untuk mengungkap mekanisme performa seismik pada sistem struktur dan sambungan tradisional secara terukur. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Masjid Tradisional Aceh tidak hanya dapat dipahami sebagai objek warisan arsitektur, tetapi sebagai sistem pengetahuan konstruksi yang memiliki logika performatif terhadap risiko gempa. Ketangguhan seismiknya terbentuk melalui relasi antarelemen tektonika yang bekerja secara terpadu, sedangkan model regenerasi yang dirumuskan menunjukkan bahwa pengetahuan lokal tersebut dapat diformalkan menjadi perangkat desain dan diuji secara numerik tanpa mereproduksi bentuk tradisional secara literal. Kesimpulan ini menempatkan model regenerasi pengetahuan tektonika lokal sebagai pendekatan alternatif bagi pengembangan desain masjid masa kini yang tangguh, adaptif, dan kontekstual terhadap kondisi praktik konstruksi masyarakat.

2026
👤 Penulis: Riza Aulia Putra
🏷️ Teknologi Informasi Dalam Desain Arsitektur 🏷️ Analisis Seismik 🏷️ Kecerdasan Buatan

PERANCANGAN JEMBATAN SEMI-INTEGRAL PRESTRESSED CONCRETE I GIRDER DAN EVALUASI KINERJA DENGAN PUSHOVER ANALYSIS

Konektivitas antarwilayah melalui infrastruktur jalan tol memerlukan elemen jembatan yang andal terhadap beban layan maupun beban seismik, mengingat Indonesia merupakan wilayah dengan aktivitas kegempaan tinggi. Penelitian ini membahas perancangan struktur jembatan semi-integral dengan PCI Girder setinggi 1,7 m sebagai struktur elevated pada ruas Jalan Tol Yogyakarta–Bawen Seksi 1, STA 74+750, serta evaluasi kinerjanya menggunakan Pushover Analysis. Struktur yang dirancang merupakan jembatan multi bentang tiga bentang dengan delapan PCI Girder per bentang sepanjang 30 m, dimodelkan menggunakan MIDAS Civil dengan pembebanan mengacu pada SNI 1725:2016 dan perencanaan tahan gempa sesuai SNI 2833:2016. Desain mencakup seluruh elemen struktur mulai dari abutment, pier, pierhead, PCI Girder beserta tendon prategang, diafragma, slab UHPC, pilecap, hingga pondasi tiang bor. Evaluasi seismik melalui Pushover Analysis menghasilkan performance point pada arah longitudinal dengan base shear 10.770 kN dan displacement kepala pier 251,3 mm, serta arah transversal dengan base shear 20.860 kN dan displacement 60,5 mm. Berdasarkan batasan drift mengacu pada ATC-40, level kinerja struktur pada gempa dengan probabilitas terlampaui 7% dalam 75 tahun adalah Life Safety (LS). Tinjauan mekanisme plastis menunjukkan bahwa first yield terjadi pada pangkal dan ujung atas pilar, sesuai prinsip hierarki plastifikasi yang mensyaratkan plastic hinge terbentuk pada elemen yang mudah diinspeksi dan diperbaiki, sehingga konektivitas dan keandalan struktur jembatan tetap terjaga pascagempa.

2026
👤 Penulis: Muhammad Afiliandi Ulyansyah
🏷️ Teknologi Jembatan 🏷️ Analisis Seismik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

EVALUASI KINERJA SEISMIK BERDASARKAN ASCE 41-17 GEDUNG RUMAH SAKIT EKSISTING DENGAN KETIDAKBERATURAN TORSI DAN SUDUT DALAM YANG DIRANCANG MENGGUNAKAN SNI 1726:2002

Gedung rumah sakit merupakan bangunan dengan risiko tinggi jika mengalami kegagalan. Oleh karena itu perlu adanya regulasi terkait bangunan tahan gempa mengingat Indonesia termasuk wilayah yang rawan terjadi gempa sebagaimana diatur dalam SNI 1726. Akan tetapi, SNI gempa mengalami beberapa kali pembaruan sehingga menuntut evaluasi kinerja struktur yang didesain dengan peraturan lama agar tetap memenuhi target kinerja sesuai peraturan yang terbaru. Evaluasi kinerja seismik bangunan eksisting di Indonesia semakin penting mengingat kerentanan struktur lama terhadap gempa, terutama yang memiliki ketidakberaturan sehingga memperketat batasan untuk evaluasi kinerja struktur eksisting. Penelitian ini menganalisis kinerja seismik gedung rumah sakit (kategori risiko IV) lima lantai dengan basement, yang didesain berdasarkan SNI 1726:2002 dan memiliki ketidakberaturan torsi (horizontal 1b) serta sudut dalam, dengan evaluasi kinerja mengacu pada ASCE 41-17. Hasil evaluasi bangunan eksisting adalah kurangnya kekakuan yang dimiliki oleh struktur sehingga simpangan antar tingkat melampaui batasan sedangkan untuk level elemen memenuhi secara keseluruhan. Retrofit dilakukan dengan penambahan dinding geser sehingga kekakuan lantai meningkat signifikan, kapasitas story shear naik sebesar 12–40%, periode fundamental struktur memendek, dan base shear meningkat cukup signifikan pada kedua arah, sementara massa bangunan hanya bertambah 5,27%. Analisis respons struktur dilakukan menggunakan ETABS dengan metode Non-Linear Time History Analysis (NLTHA) terhadap 11 pasang gempa yang telah diskalakan menggunakan spectral matching bidirectional RotD100. Kriteria global dievaluasi berdasarkan interstory drift, sedangkan kriteria lokal menggunakan sendi plastis dan Demand Capacity Ratio (DCR). Hasil menunjukkan struktur eksisting memenuhi persyaratan kekuatan (DCR ? 1,0) dan sendi plastis masih berada di bawah batas izin, namun simpangan antar tingkat melampaui batas yang diizinkan sehingga mengindikasikan kekakuan lateral yang tidak memadai. Setelah retrofit, interstory drift menurun secara signifikan dan memenuhi acceptance criteria untuk BSE-1E (Immediate Occupancy) dan BSE-2E (Life Safety), dengan DCR dan sendi plastis pasca retrofit tetap berada dalam batas aman.

2025
👤 Penulis: Gilang Mahardhika
🏷️ Gedung Rumah Sakit 🏷️ Analisis Seismik 🏷️ Retrofit Struktur

ANALISIS SEKATAN SESAR PADA FORMASI GUMAI DAN AIR BENAKAT, LAPANGAN TEMBAK, CEKUNGAN SUMATRA SELATAN, JAMBI

Lapangan Tembak yang berlokasi di Cekungan Sumatra Selatan merupakan salah satu lapangan yang memiliki potensi hidrokarbon pada Formasi Gumai dan Air Benakat. Keberadaan struktur sesar di lapangan ini mengontrol akumulasi hidrokarbon, sehingga analisis sifat penyekatnya menjadi krusial untuk mitigasi risiko eksplorasi dan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sifat sekatan sesar menggunakan metode Shale Gouge Ratio (SGR) untuk menentukan area yang berpotensi menyekat (seal) atau bocor (leak). Analisis dilakukan berdasarkan data seismik 3D dan data log tali kawat dari empat sumur (AK-45, AK-46, AK-47, dan AK-48). Metode penelitian meliputi pembuatan diagram kesehadapan litologi (juxtaposition), pemodelan properti volume serpih (vshale), peta loncatan vertikal (throw), dan peta SGR pada bidang sesar. Hasil analisis menunjukkan nilai throw sesar berkisar antara 2-60 m, dengan nilai rata-rata 25 m. Berdasarkan kalibrasi dengan data kontak fluida antar sumur, nilai batas pancung SGR sebesar 15% ditetapkan sebagai penentu sifat sekatan. Hasil perhitungan SGR di sepanjang bidang sesar menghasilkan nilai antara 11-92%. Analisis pada sesar F-22 dan F-23 menunjukkan potensi kebocoran pada interval Formasi Air Benakat, sementara pada Formasi Gumai cenderung bersifat menyekat. Faktor dominan yang menyebabkan kebocoran ini adalah kesehadapan antar lapisan batupasir (sand-to-sand juxtaposition) dan rendahnya nilai Vshale di zona sesar.

2025
👤 Penulis: Yudiansyah Arya Dinanta
🏷️ Sekatan Sesar 🏷️ Hidrokarbon 🏷️ Analisis Seismik

IDENTIFIKASI DISTRIBUSI SANDPRONE FORMASI GUMAI CEKUNGAN SUMATERA SELATAN

Daerah penelitian terletak pada Lapangan X yang merupakan bagian dari sub Cekungan Jambi di bagian utara Cekungan Sumatera Selatan. Objek penelitian berupa Interval Formasi Gumai yang lebih dikenal sebagai batuan tudung (seal) di sub Cekungan ini. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pola distribusi sandprone yang diharapkan dapat menjadi target potensi hidrokarbon pada daerah penelitian dengan mengintegrasikan hasil dari beberapa analisis berdasarkan data log talikawat, data biostratigrafi serta nilai amplitudo seismik dengan menggunakan seismik atribut. Agar dapat meminimalisir dampak ketidakpastian dalam kegiatan strategi dan pengembangan suatu lapangan, diperlukan pemetaan bawah permukaan yang lebih representatif terhadap kondisi geologi yang sebenarnya, sehingga penentuan kemenerusan reservoir pada interval target dapat terpetakan dengan maksimal. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka digunakan beberapa metode yaitu analisis elektrofasies analisis korelasi sikuen stratigrafi berdasarkan data log talikawat, analisis geofisika menggunakan beberapa seismik atribut yakni Root Mean Square (RMS) atribut dan Sweetness atribut. Dalam kaitannya terhadap potensi hidrokarbon, seismik atribut RMS akan menghitung rata-rata kuadrat dari nilai amplitudo. Perubahan nilai impedansi akustik yang signifikan, dapat mengidentifikasikan keberadaan reservoir. Sementara itu, sweetness adalah rasio dari amplitudo RMS terhadap nilai Instantaneous Frequency. Kedua atribut ini akan dianalisis secara bersamaan dalam rentang jendela nilai tertentu. Hasil dari analisis atribut RMS amplitude dan Sweetness atribut yang dilakukan pada jendela nilai 60/ms menunjukkan adanya potensi hidrokarbon pada Sumur X3 yang direpresentasikan dengan nilai amplitudo dan sweetness yang relatif tinggi, Instaneous Frequency yang rendah, dan reflektivitas RMS sedang hingga tinggi ditunjukkan oleh area yang berwarna cerah (bright-spot) pada peta amplitude. Pola pengendapan diindikasikan berupa endapan tempestite yang dipengaruhi oleh badai (storm deposits).

2025
👤 Penulis: Ulya Wardah
🏷️ Geologi 🏷️ Hidrokarbon 🏷️ Analisis Seismik

ANALISIS KOMPARATIF ANTARA ATRIBUT SEISMIK, AMPLITUDE VARIATION WITH OFFSET, DAN INVERSI EXTENDED ELASTIC IMPEDANCE UNTUK KARAKTERISASI RESERVOAR BATUPASIR MIOSEN INTERVAL 920-990, PADA LAPANGAN “BIRUMERA”, CEKUNGAN KUTAI BAWAH, KALIMANTAN TIMUR

Lapangan ”Birumera” adalah lapangan salah satu lapangan yang terletak di lepas pantai timur laut delta Mahakam, Cekungan Kutai Bawah, Kalimantan Timur. Target reservoar dari Lapangan “Birumera” adalah batupasir kasar yang terendapkan selama Miosen, dengan lingkungan pengendapan kanal di bagian atas lereng. Akumulasi hidrokarbon dalam perangkap stratigrafi menjadi tantangan dalam karakterisasi reservoar di lapangan ini. Oleh karena itu diperlukan metode karakterisasi yang tepat untuk mengatasi tantangan tersebut. Proses karakterisasi reservoar dilakukan dengan bekal berupa data seismik pre-stack dan data sumur, yang diolah dari mulai tahap rekondisi, well to seismic tie, hingga interpretasi horizon. Metode karakterisasi reservoar yang kemudian dilakukan adalah atribut seismik amplitudo dan kompleks, amplitude variation with offset (AVO), dan inversi extended elastic impedance (EEI) dengan input parameter elastik sensitif terhadap keberadaan hidrokarbon yakni lambda-rho. Analisis komparatif kemudian dilakukan pada input, proses dan output dari atribut seismik, AVO, dan inversi EEI, untuk menyimpulkan metode karakterisasi yang paling tepat untuk diterapkan di Lapangan “Birumera”, dan memberikan gambaran mengenai kebutuhan data serta kompleksitas penerapannya. Analisis komparatif output dilakukan dengan uji korelasi antara output masing-masing metode karakterisasi dengan properti reservoar, dan analisis komparatif input dan proses dilakukan dengan dilakukan dengan membandingkan jumlah tahapan dan jenis input yang diperlukan oleh masing-masing metode karakterisasi untuk menghasilkan output. Berdasarkan hasil analisis komparatif tersebut, disimpulkan bahwa metode karakterisasi reservoar yang paling tepat untuk diterapkan di Lapangan “Birumera” adalah inversi EEI. Volume lambda-rho dari inversi EEI yang didapatkan dengan input yang variatif dan tahapan yang panjang, menghasilkan nilai korelasi tertinggi dengan properti reservoar, dengan nilai cut-off hidrokarbon di bawah 23 GPa.g/cc.

2025
👤 Penulis: Mohamad Hilman Hakim A
🏷️ Karakterisasi Reservoar Batupasir Miosen 🏷️ Analisis Seismik 🏷️ Inversi Impedansi Eksandri

PERANCANGAN STRUKTUR ATAS GEDUNG 14 LANTAI DI JAKARTA DENGAN PENAMBAHAN SISTEM ISOLASI DASAR

Pada studi ini, dirancang dua buah struktur reinforced concrete open frame untuk dianalisis dan dibandingkan performa seismiknya. Struktur pertama didesain sebagai struktur fixed base, sedangkan struktur kedua dirancang dengan penambahan sistem isolasi dasar. Pada studi ini, akan digunakan isolator tipe lead rubber bearing, dengan fokus utama untuk menentukan kinerja struktur keduanya, serta melakukan analisis komparasi untuk melihat efektivitas dari penggunaan sistem isolasi dasar. Pemodelan dari kedua struktur mengacu pada SNI 1726:2019 untuk Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dengan analisis linier pada tahap perancangan serta analisis statik non-linier (pushover) untuk tahap evaluasi kinerja struktur. Proses desain elemen struktural mengacu pada SNI 2847:2019 dengan target mekanisme kegagalan adalah kegagalan lentur. Khusus pada struktur fixed base, dilakukan optimasi tambahan dengan membedakan dimensi kolom interior dan eksterior guna meningkatkan nilai faktor modifikasi respons (R) aktual agar semakin mendekati nilai R desain. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, didapatkan bahwa sistem isolasi dasar mampu memperpanjang periode fundamental struktur dari 2.329 s menjadi 5.82 s, serta memperbesar redaman menjadi 20.06%. Dengan meningkatnya periode struktur dan redaman, gaya geser dasar tereduksi hingga 62.7%, simpangan antar lantai yang awalnya 0.82% pada struktur fixed base berkurang menjadi 0.35% pada struktur dengan isolasi dasar, serta dapat digunakan dimensi elemen struktural yang lebih kecil akibat dari berkurangnya gaya gempa yang diterima oleh struktur atas. Analisis pushover juga menunjukkan nilai R aktual struktur fixed base untuk arah X dan Y sebesar 6.13 dan 6.00 dari target R desain sebesar 8. Sementara itu, struktur isolasi dasar memiliki nilai R aktual untuk arah X dan Y sebesar 2.79 dan 2.70, yang telah melampaui R desain sebesar 2. Kinerja struktur terjadi peningkatan akibat penggunaan sistem isolasi dasar yaitu menjadi Operational (1-A), dari sebelumnya pada struktur fixed base adalah Immediate Occupancy (IO). Dari hasil analisis yang telah dilakukan, didapatkan bahwa mekanisme kegagalan yang dialami struktur sudah sesuai yang direncanakan dan bersifat terkontrol. Maka dari studi ini, didapatkan bahwa dengan penambahan isolasi dasar pada struktur tidak hanya melindungi penghuninya tetapi juga melindungi elemen struktural dan non-struktural guna menjaga kemampuan operasional struktur pasca gempa.

2025
👤 Penulis: Mahira Atika Basri
🏷️ Struktur Atap 🏷️ Analisis Seismik 🏷️ Isolasi Dasar

KARAKTERISASI RESERVOIR TIGHT SAND DI LAPANGAN “ZAHARA”, FORMASI ROABIBA, CEKUNGAN BINTUNI, MELALUI PENDEKATAN TRIGONOMETRI TERHADAP ATRIBUT PSEUDO ELASTIC IMPEDANCE LITHOLOGY (PEIL) DAN ATRIBUT FLUID RHO (FR)

Lapangan “Zahara” di Cekungan Bintuni, Papua Barat, memiliki reservoir tight sand pada interval Formasi Roabiba yang bercirikan porositas dan permeabilitas rendah, sehingga penyebaran zona prospektif sulit diidentifikasi. Kompleksitas geologi dan keterbatasan resolusi data seismik menjadi tantangan utama yang memerlukan pendekatan analisis terintegrasi untuk meminimalkan ketidakpastian interpretasi. Penelitian ini menggabungkan analisis sensitivitas parameter elastis dan inversi seismik metode Linear Programming Sparse Spike (LPSS) untuk membentuk model elastis bawah permukaan yang lebih representatif terhadap kondisi sebenarnya. Sebelum inversi, dilakukan analisis Amplitude Versus Offset (AVO) menggunakan pendekatan Ursenbach–Stewart untuk memisahkan reflektivitas gelombang kompresi (Rp) dan geser (Rs). Hasil AVO digunakan sebagai input utama dalam inversi LPSS, sehingga volume parameter elastis yang dihasilkan memiliki resolusi dan akurasi lebih baik dibanding metode konvensional. Analisis log menunjukkan parameter paling sensitif untuk memisahkan batupasir dan batulempung adalah P-Impedance (< 42.500 (????????/???? × ????/????????)), sedangkan untuk membedakan batupasir tersaturasi hidrokarbon dan air adalah rasio Vp/Vs (< 1,7 di sumur FZ-2 dan < 1,58 di sumur FZ-1 dan FZ-3). Beberapa zona tetap sulit dibedakan, sehingga digunakan kombinasi P-Impedance dan Vp/Vs untuk menghasilkan atribut Pseudo Elastic Impedance Lithology (PEIL) dan Fluid Rho (FR) yang mampu merepresentasikan variasi litologi dan saturasi fluida secara nonlinier. Slicing volume pseudo porosity > 0,07 v/v, serta FR < 48 (????????/???? × ????/????????)2 di sumur FZ-2 dan < 28 (????????/???? × ????/????????)2 di sumur FZ-1 dan FZ-3), yang konsisten dengan area dekat sumur terbukti hidrokarbon. Hasil ini memberikan dasar kuat untuk pemodelan reservoir dan perencanaan pengembangan lapangan yang lebih efisien.

2025
👤 Penulis: Fina Zahara
🏷️ Geologi Lingkungan 🏷️ Analisis Seismik 🏷️ Modeling Reservoir

STUDI PARAMETRIK PERILAKU STRUKTUR BAJA DENGAN SAMBUNGAN SEMI-RIGID PADA SUMBU LEMAH

Studi parametrik ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh variasi kekakuan rotasi sambungan dan jumlah lantai terhadap perilaku dan kinerja struktur baja SRPMK dengan sambungan semi-rigid yang disambungkan pada sumbu lemah profil kolom. Parameter yang divariasikan meliputi kekakuan rotasi sambungan sebesar 90%, 50%, dan 20%, serta jumlah lantai 1, 3, dan 6. Pemodelan struktur semi-rigid dilakukan dengan menggunakan parameter rotational spring stiffness (????????????) melalui momen release pada aplikasi ETABS. Analisis dilakukan terhadap fleksibilitas struktur, simpangan antar lantai, parameter kinerja seismik (????,????????,?0), kekakuan elastis, dan daktilitas struktur melalui pengecekan persyaratan struktur tahan gempa dan pushover analysis melalui aplikasi ETABS. Hasil menunjukkan bahwa semakin rendah kekakuan rotasi sambungan, struktur menjadi lebih fleksibel dan simpangan yang terjadi semakin besar, terutama pada struktur dengan jumlah lantai yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil pushover analysis, penurunan kekakuan rotasi sambungan menyebabkan performa struktur semakin menurun dan efektivitas disipasi energi gempa semakin rendah. Hal ini ditandai dengan faktor kinerja seismik, kekakuan elastis, dan daktilitas yang semakin rendah. Meskipun demikian, struktur yang ditinjau desainnya dibatasi oleh persyaratan simpangan dan proses analisis hasil pushover dibatasi oleh kemampuan ETABS dalam melakukan proses iterasi, sehingga hasil yang representatif dapat dilakukan dengan memasukkan parameter-parameter seperti backbone curve struktur semi-rigid berdasarkan kondisi aktual seperti pengujian. Dari keseluruhan hasil analisis tersebut, perilaku struktur semi-rigid pada sumbu lemah perlu dipertimbangkan dalam proses desain karena memberikan hasil yang berbeda dibandingkan dengan struktur fully rigid terutama pada struktur dengan jumlah lantai banyak dan kekakuan rotasi rendah.

2025
👤 Penulis: Nicholas Bayu Mahendra
🏷️ Struktur Baja 🏷️ Analisis Seismik 🏷️ Kecerdasan Buatan

DAMPAK GEMPA BUMI TERHADAP MODEL GEOID REGIONAL DALAM STUDI KASUS DI WILAYAH PULAU JAWA

Pulau Jawa, sebagai wilayah aktif secara tektonik, kerap mengalami gempa bumi besar akibat pertemuan Lempeng Eurasia dan Indo-Australia. Aktivitas seismik ini berpotensi memengaruhi kestabilan medan gravitasi dan model geoid regional yang menjadi fondasi penting dalam berbagai aplikasi geospasial, seperti pemetaan presisi, perencanaan infrastruktur, dan mitigasi bencana. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak gempa bumi terhadap perubahan geoid dengan studi kasus gempa Pangandaran (Mw 7.7) yang terjadi di lepas pantai selatan Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak gemppa terhadap pemodelan geoid regional pulau jawa yang dihitung dengan metode Kongens Tekniska Högskola (KTH). Data yang digunakan yaitu data gayaberat kombinasi airborne, terestris, data DTU17, data model medan gravitasi global (GGM), data tinggi GNSS-leveling, serta data elevasi dari DEM (SRTM15 dan SRTM3). Pemodelan geoid metode KTH dilakukan menggunakan software LSMSSOFT dan MatLab. Pemodelan perubahan gayaberat dan perubahan geoid akibat gempa menggunakan data 4 model gempa di pulau jawa yang diambil dari equake.rc.info. Uji ketelitian model geoid terhadap 186 titik GNSS-Sipat datar wilayah Jawa. Setelah itu dilakukan uji statistik untuk mengetahui signifikansi gempa terhadap model geoid. Dampak gempa dianalisis melalui perubahan gayaberat akibat redistribusi massa menggunakan pendekatan elastostatika Okubo, kemudian dikaji efeknya terhadap perubahan geoid. Hasil uji statistik menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan pada medan gravitasi dan permukaan geoid pascagempa, hal ini menunjukan bahwa geoid merupakan bidang referensi vertikal yang stabil. Pembaruan geoid dilakukan jika akurasi model geoid telah mencapai 1 cm, peningkatan akurasi model geoid dapat dilakukan salah satunya dengan menambah pengukuran gayaberat.

2025
👤 Penulis: Muhammad Ilman F A
🏷️ Geofisika 🏷️ Model Geoid 🏷️ Analisis Seismik

PERANCANGAN GEDUNG 10 LANTAI MENGGUNAKAN SISTEM BASE ISOLATOR DI JAKARTA

Perancangan struktur tahan gempa di wilayah dengan risiko seismik tinggi memerlukan inovasi untuk meningkatkan keamanan dan kinerja bangunan. Salah satu solusinya adalah penggunaan sistem isolasi dasar (base isolation) yang secara fundamental mengubah respons dinamik struktur. Tujuan studi ini adalah melakukan perbandingan kinerja antara desain konvensional (fixed base) dengan desain yang menggunakan base isolator untuk memberikan gambaran kuantitatif mengenai manfaatnya. Studi ini mengevaluasi dan membandingkan secara detail parameter kinerja seismik dari gedung fasilitas kesiapan darurat 10 lantai di Jakarta. Dua model struktur dianalisis, yaitu struktur fixed base dengan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dan struktur dengan base isolator. Analisis dilakukan menggunakan metode spektrum respons ragam berdasarkan SNI 1726:2019 dan analisis statik non-linear (pushover) untuk mendapatkan parameter-parameter penting, seperti periode natural, gaya geser dasar, simpangan antar lantai (interstory drift), dan level kinerja struktur. Studi ini menyajikan evaluasi yang berfokus pada perbedaan fundamental dalam perilaku, keamanan, dan efisiensi antara kedua desain. Desain untuk kedua model mengutamakan mekanisme kegagalan daktail dan telah memenuhi persyaratan sesuai standar yang berlaku. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan base isolator berhasil memperpanjang periode natural fundamental dari 1,968 s menjadi 5,121 s sehingga mereduksi gaya geser dasar hingga 41%. Simpangan antar lantai pada struktur terisolasi juga terbukti jauh lebih kecil dan seragam, dengan nilai maksimum 0,51% dibandingkan 0,85% pada struktur fixed base. Tingkat kinerja struktur dengan base isolator berhasil ditingkatkan menjadi Operational (1-A), sementara struktur fixed base berada pada level Immediate Occupancy (IO), dengan mekanisme keruntuhan yang terkontrol pada elemen-elemen rangka pemikul momen. Studi ini membuktikan bahwa sistem isolasi dasar sangat efektif dalam meningkatkan kinerja seismik gedung, tidak hanya melindungi keselamatan jiwa tetapi juga meminimalkan kerusakan aset dan menjaga fungsionalitas bangunan pasca-gempa.

2025
👤 Penulis: Cerry Putri Williyanti
🏷️ Struktur Tahan Gempa 🏷️ Analisis Seismik 🏷️ Sistem Isolasi Dasar

KARAKTERISASI RESERVOIR KARBONAT PADA FORMASI BATU RAJA, LAPANGAN “RIZKY-TATIYANA”, CEKUNGAN SUMATERA SELATAN, SUMATERA SELATAN MENGGUNAKAN ATRIBUT PSEUDO ELASTIC IMPEDANCE FOR LITHOLOGY (PEIL).

Lapangan “Rizky-Tatiyana” merupakan lapangan hidrokarbon yang terletak di Cekungan Sumatra Selatan, Provinsi Sumatera Selatan. Cekungan ini memiliki beberapa batuan reservoir, salah satunya adalah batuan karbonat pada Formasi Batu Raja, yang menjadi fokus utama dalam penelitian ini. Formasi ini terdiri dari batu gamping yang berfungsi sebagai reservoir. Di atasnya, terdapat Formasi Telisa yang terdiri dari batuan shale, yang berperan sebagai seal yang menjebak hidrokarbon di dalam Formasi Batu Raja. Untuk memahami karakteristik reservoir di Lapangan “Rizky-Tatiyana,” penelitian ini memanfaatkan data seismik 3D Partial Angle Stack, yang mencakup tiga rentang sudut berbeda: 0°–15°, 15°–30°, dan 30°–45°. Data seismik ini memungkinkan pembentukan volume reflektivitas gelombang P (Rp) dan reflektivitas gelombang S (Rs). Selain itu, penelitian ini didukung oleh data dari tiga sumur yang telah dibor di area ini, yang menyediakan informasi log sumur yang krusial untuk karakterisasi lebih lanjut. Analisis data log sumur menunjukkan bahwa Acoustic Impedance (AI) dan rasio Vp/Vs merupakan parameter elastis yang sangat sensitif dalam menentukan sifat fisik batuan porositas. Oleh karena itu, metode seismik inversi Linear Programming Sparse Spike digunakan untuk menginversi Acoustic Impedance, Shear Impedance, dan volume Vp/Vs. Atribut Pseudo Elastic Impedance for Lithology (PEIL) digunakan sebagai jembatan antara parameter elastik dan parameter porositas, dengan nilai korelasi sebesar -0.9164, yang memungkinkan pemetaan persebaran porositas di lapangan ini. Informasi mengenai Gas-Oil Contact (GOC) serta persebaran porositas dari PEIL menunjukkan keberadaan bagian atas dari reef buildup di Formasi Batu Raja dengan nilai porositas tinggi, yang berpotensi menjadi zona target eksplorasi maupun eksploitasi

2025
👤 Penulis: Giriandra Ghifari
🏷️ Hidrokarbon 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Seismik

EVALUASI DAN ANALISIS RESPON SEISMIK TERHADAP SATURASI CO2 DENGAN METODA AMPLITUDE VERSUS OFFSET (AVO) PADA INTERVAL LTAF DI LAPANGAN NEB, BLOK JABUNG, CEKUNGAN SUMATERA SELATAN

Lapangan NEB berada pada blok Jabung, Cekungan Sumatera Selatan, yang merupakan lapangan minyak dan gas. Permasalahan utama dari Lapangan NEB adalah banyaknya hidrokarbon yang mengandung impuritas berdasarkan data DST (drill stem test) berupa gas CO? dimana hal ini menyebabkan pembengkakan biaya produksi dan biaya eksplorasi serta tidak ramah pada lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara respons seismik dan saturasi CO? menggunakan metode Amplitude Versus Offset (AVO) dan atribut seismik untuk mengidentifikasi distribusi zona CO? di lapangan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi saturasi CO? pada reservoir, terjadi penurunan nilai intercept (A) dan peningkatan nilai gradient (B) pada Meandering Facies dan Alluvial Fan Facies, sementara Braided Facies kurang sensitif terhadap variasi saturasi CO?. Analisis atribut Minimum Product memberikan korelasi yang tinggi, sebesar 0.7342 untuk Meandering Facies dan 0.9167 untuk Alluvial Fan Facies. Sebaliknya, atribut amplitudo menunjukkan korelasi yang rendah, dengan nilai 0.4124 untuk Meandering Facies dan 0.2269 untuk Alluvial Fan Facies.

2024
👤 Penulis: Dicky Kurniawan
🏷️ Hidrokarbon 🏷️ Analisis Seismik 🏷️ Manajemen Eksplorasi Minyak Gas
Halaman 1 dari 2
💬