📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 28 dokumen

PENERAPAN TEKNIK SAINS DATA DALAM PROSES IDENTIFIKASI KAWASAN TERDUGA KUMUH DI KOTA BANDUNG

Pendataan kawasan kumuh memerlukan data spasial yang akurat dan mutakhir dalam mendukung perencanaan serta penanganan yang tepat sasaran. Namun, proses identifikasi kawasan kumuh masih menghadapi tantangan berupa ketepatan data, konsistensi definisi, dan keterbatasan pemantauan perubahan kondisi kawasan secara berkala. Keterbatasan ini berdampak pada efektivitas perencanaan dan penentuan priortas penanganan. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model deteksi kawasan terduga kumuh berbasis Convolutional Neural Network (CNN), mengidentifikasi karakteristik morfologi kawasan kumuh, serta menganalisis distribusi spasialnya di Kota Bandung. Model dikembangkan menggunakan pendekatan transfer learning ResNet50V2 dengan data citra satelit resolusi tinggi yang diproses melalui teknik tiling. Selain itu, penelitian ini merupakan bagian dari memperkuat framework konsep U-DEVELOP yang berfungsi sebagai tahap awal dalam mendukung peningkatan kualitas permukiman kumuh dengan bantuan AI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model memiliki performa yang baik dengan nilai akurasi 88,18%, F1-score 87,79%, dan AUC 0,9512. Analisis Grad-CAM menunjukkan bahwa model mampu mengenali karakteristik morfologi kawasan kumuh berupa kepadatan bangunan tinggi, ketidakteraturan pola permukiman, heterogenitas tekstur, variasi atap bangunan, dan minimnya ruang terbuka. Secara spasial, kawasan terdeteksi cenderung terkonsentrasi pada sempadan sungai, rel kereta api, dan sekitar pusat kota. Hasil validasi lapangan menunjukkan kesesuaian yang baik antara hasil deteksi dan kondisi eksisting. Temuan ini menunjukkan bahwa CNN berpotensi digunakan sebagai alat deteksi awal kawasan terduga kumuh secara cepat, sistematis, dan berbasis karakteristik spasial lokal.

2026
👤 Penulis: Fadjar Iman Nugroho
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Spasial 🏷️ Manajemen Ruang

ANALISIS SPASIAL PENENTUAN KECAMATAN POTENSIAL UNTUK PENGEMBANGAN 15-MINUTE NEIGHBOURHOOD DI DKI JAKARTA

Perubahan iklim yang disebabkan tingginya emisi gas rumah kaca telah menjadi permasalahan dunia yang mendorong penerapan konsep pembangunan perkotaan yang lebih berkelanjutan. Salah satu pendekatan untuk mengatasi masalah tersebut adalah 15-Minute City, yaitu konsep tata kota yang memungkinkan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka dengan berjalan kaki sekitar 15 menit sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan bermotor. Sejalan dengan target DKI Jakarta untuk menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 50% pada tahun 2030 dan mencapai nol emisi pada tahun 2050, penelitian ini bertujuan menganalisis kecamatan yang memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan sebagai 15-Minute Neighbourhood. Pada penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan menggunakan pendekatan spasial. Pembobotan kriteria dan subkriteria 15-Minute Neighbourhood dilakukan menggunakan metode AHP, kemudian kondisi eksisting wilayah diidentifikasi berdasarkan dimensi 15-Minute Neighbourhood diantaranya adalah density, proximity, diversity, dan digitalization. Berdasarkan hasil AHP, proximity memiliki bobot global tertinggi, disusul oleh kepadatan penduduk dan keragaman fasilitas dasar. Bobot tersebut diintegrasikan ke dalam formula indeks komposit 15-Minute Neighbourhood untuk menentukan indeks pada setiap kecamatan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa Kecamatan Cempaka Putih dan Kecamatan Tambora memperoleh nilai indeks tertinggi, sehingga menjadi kecamatan yang paling berpotensi untuk dikembangkan sebagai 15-Minute Neighbourhood di DKI Jakarta. Sebaliknya, sebagian besar kecamatan yang berada di wilayah pinggiran Jakarta cenderung memiliki nilai indeks yang lebih rendah yang disebabkan oleh tingkat aksesibilitas layanan, kepadatan, dan keragaman fasilitas yang relatif lebih rendah dibandingkan wilayah perkotaan yang lebih terpusat. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa kecamatan yang memiliki nilai tinggi pada satu indikator tertentu tidak selalu memperoleh nilai indeks yang tinggi. Beberapa kecamatan seperti Gambir, Tanah Abang, Kebayoran Baru, Menteng, dan Setiabudi menunjukkan performa yang baik pada dimensi tertentu, seperti keragaman guna lahan maupun keragaman fasilitas dasar, namun tidak termasuk ke dalam kelompok kecamatan dengan nilai indeks tertinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa pencapaian karakteristik 15-Minute Neighbourhood bergantung pada sinergi antar seluruh dimensi penilaian, sehingga performa yang5 tinggi pada satu dimensi saja belum cukup untuk menghasilkan tingkat kesiapan wilayah yang optimal. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan terkait pengembangan kajian 15-Minute Neighbourhood serta menjadi dasar perencanaan kebijakan untuk pembangunan perkotaan berkelanjutan di DKI Jakarta. Hasil penelitian juga memperkaya studi empiris mengenai pengukuran 15- Minute Neighbourhood melalui integrasi pembobotan AHP dan analisis spasial.

2026
👤 Penulis: Aisa Kansha Amany
🏷️ Geografi Urban 🏷️ Analisis Spasial 🏷️ Pengembangan Perkotaan Berkelanjutan

ANALISIS SPASIAL LOKASI SUMUR BOR DI WILAYAH PESISIR ( STUDI KASUS : LOKASI PEMBORAN RANCA JAWA RCJ-B )

Sebaran cadangan minyak bumi dan gas di Indonesia pada umumnya berada di wilayah pesisir. Kebutuhan akan energi terus bertambah seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Sebagai sumber daya alam yang tidak dapat pulih (non-renewable resources) dan suatu saat akan habis, maka dalam pencarian dan pemanfaatan cadangan minyak bumi harus dilakukan secara efektif dan efisien. Untuk mengetahui lokasi titik bor dan jalan akses menuju sumur bor, dilakukan identifikasi titik bor. Peta teknis lokasi diperoleh dengan cara melakukan pemetaan topografi. Untuk mengetahui objek-objek geografi dilakukan analisis spasial. Objek-objek geografi tersebut antara lain sungai, empang, rumah. Desain lokasi sumur bor dibuat tiga alternatif yaitu: alternatif 1 mempertimbangkan jarak terpendek; alternatif 2 mempertimbangkan luas pembebasan lahan; alternatif 3 menghindari pembangunan jembatan, mempertimbangkan jarak terpendek dan mempertimbangkan luas pembebasan lahan, sehingga terjadi pergeseran titik bor. Analisis penelitian dilakukan dengan membandingkan ketiga model desain alternatif dalam hal pekerjaan tanah dan luas pembebasan. Hasil penelitian ini diperoleh pekerjaan tanah untuk alternatif 1 adalah 59733 m3 (fill), alternatif 2 adalah 65793 m3 (fill) dan alternatif 3 adalah 65250 m3 (fill) serta luas pembebasan lahan alternatif 1 adalah 32040 m2, alternatif 2 adalah 23454 m2 dan alternatif 3 adalah 15467 m2. Desain lokasi sumur bor dan jalan akses yang paling optimum adalah alternatif 3.

2026
👤 Penulis: RONALD FERNANDO HUTAHAYAN
🏷️ Geografi Energi 🏷️ Analisis Spasial 🏷️ Desain Sistem Penambangan

ANALISIS SPASIAL DAERAH RAWAN BANJIR KOTA BANDUNG MELALUI PENGGUNAAN MODEL BINARY LOGISTIC REGRESSION

Banjir merupakan salah satu bencana hidrometeorologi yang paling sering terjadi di wilayah perkotaan dan menimbulkan dampak sosial, ekonomi, serta lingkungan yang signifikan. Kota Bandung merupakan salah satu wilayah perkotaan di Indonesia yang memiliki kerentanan tinggi terhadap kejadian banjir akibat kombinasi faktor topografi cekungan, kepadatan pembangunan, serta meningkatnya limpasan permukaan akibat urbanisasi. Kondisi tersebut menuntut adanya pendekatan analisis spasial yang mampu mengidentifikasi wilayah dengan probabilitas bahaya banjir secara lebih objektif dan kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor pengkondisi terhadap kejadian banjir serta memetakan klasifikasi probabilitas bahaya banjir di Kota Bandung menggunakan pendekatan statistik berbasis model Binary Logistic Regression (BLR) dalam lingkungan Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan utama yang meliputi pengumpulan dan pra-pemrosesan data, normalisasi variabel, pemodelan statistik, serta validasi model. Variabel dependen berupa inventarisasi kejadian banjir historis yang diperoleh dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan portal berita pada tahun 2020 dan 2024. Variabel independen terdiri dari tujuh faktor pengkondisi, yaitu Topographic Wetness Index (TWI), elevasi, kemiringan lereng, curah hujan, NDVI, jarak dari sungai, dan jarak dari jalan. Seluruh variabel dianalisis dalam format raster dan dinormalisasi menggunakan metode min–max untuk menyamakan skala data. Model BLR kemudian digunakan untuk mengestimasi hubungan antara faktor-faktor tersebut dengan probabilitas kejadian banjir pada setiap piksel wilayah studi. Sebelum pemodelan dilakukan uji multikolinearitas untuk memastikan independensi variabel. Hasil model selanjutnya divalidasi menggunakan Receiver Operating Characteristic (ROC) dan Area Under the Curve (AUC) serta matriks akurasi untuk menilai kemampuan prediktif model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor topografi dan hidrologi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap distribusi bahaya banjir di Kota Bandung. Variabel seperti TWI, elevasi rendah, kemiringan lereng landai, serta kedekatan dengan sungai menunjukkan kontribusi yang kuat terhadap peningkatan probabilitas kejadian banjir. Sementara itu, faktor lingkungan seperti NDVI dan jarak dari jalan juga berperan dalam memodifikasi pola limpasan permukaan akibat perubahan penggunaan lahan perkotaan. Model BLR berhasil menghasilkan peta probabilitas bahaya banjir yang menunjukkan variasi tingkat kerentanan secara spasial di seluruh wilayah Kota Bandung. Hasil validasi model melalui analisis ROC menunjukkan bahwa model memiliki kemampuan diskriminatif yang baik hingga sangat baik dalam memprediksi lokasi kejadian banjir yang dibuktikan dengan selisih nilai AUC pada model tahun 2020 dan 2024 sebesar 0.068 dan selisih akurasi sebesar 0.057, sehingga hasil selisih tersebut dapat dianggap memiliki kinerja prediktif yang andal untuk analisis bahaya banjir serta mampu memprediksi bahaya banjir. Berdasarkan hasil analisis, penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan BLR berbasis SIG mampu memberikan pemetaan bahaya banjir yang lebih objektif dan berbasis probabilitas dibandingkan pendekatan skoring atau overlay konvensional. Model yang dihasilkan tidak hanya mengidentifikasi lokasi rawan banjir, tetapi juga memberikan informasi mengenai tingkat kemungkinan terjadinya banjir pada setiap unit spasial. Peta probabilitas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai dasar ilmiah dalam perencanaan tata ruang, mitigasi bencana, serta pengambilan keputusan kebijakan pengelolaan lingkungan di Kota Bandung. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi metodologis dalam penerapan model statistik multivariat untuk analisis bahaya banjir di lingkungan perkotaan.

2026
👤 Penulis: Riki Purnama Putra
🏷️ Banjir 🏷️ Analisis Spasial 🏷️ Model Binary Logistic Regression

PEMBANGUNAN APLIKASI MOBILE DAN BASE-STATION GIS UNTUK KEPERLUAN MONITORING PIPA GAS (STUDI KASUS : CIREBON, JAWA BARAT)

Industri migas merupakan salah satu bidang industri yang membutuhkan dukungan analisis spasial dalam operasionalnya. Pipa distribusi gas seringkali melintas di atas atau di bawah tanah kawasan penduduk. Hal ini dapat membahayakan lingkungan jika terjadi kerusakan pada pipa tersebut. GIS (Geography Information System) merupakan salah satu perangkat analisis spasial yang cukup efektif dalam menanggulangi masalah ini. Penelitian ini ditujukan untuk membangun aplikasi mobile dan base-station GIS jalur pipa gas yang saling terintegrasi satu sama lain agar efektivitas dalam kegiatan monitoring jalur pipa gas dapat ditingkatkan. Metode pengolahan data pada penelitian ini meliputi desain basisdata dan desain website dengan data berupa foto udara kawasan penelitian beserta peta garis dan shapefilenya. Perangkat lunak yang digunakan adalah PostgreSQL, GeoServer, dan OpenLayers. Hasil dari penelitian ini yaitu telah dibangunnya aplikasi mobile dan base-station GIS jalur pipa gas yang saling terintegrasi satu sama lain.

2026
👤 Penulis: Raden Artha Alam Pribadi
🏷️ Geography Information System (Gis) 🏷️ Analisis Spasial 🏷️ Kepemilikan Sistem Informasi Geografis

STUDI TINGKAT KEBAHAGIAAN SUBJEKTIF DAN LIVABILITY KOTA SURAKARTA

Kualitas hidup perkotaan menjadi isu penting dalam perencanaan kota, seiring meningkatnya kompleksitas permasalahan perkotaan dan tuntutan masyarakat terhadap lingkungan hidup yang layak dan berkelanjutan. Kualitas hidup tidak hanya ditentukan oleh indikator objektif perkotaan (livability), tetapi juga oleh kesejahteraan subjektif masyarakat yang tercermin melalui tingkat kebahagiaan. Kota Surakarta dikenal memiliki capaian kualitas perkotaan yang relatif baik, namun kajian yang mengintegrasikan livability dan kebahagiaan masyarakat pada skala intra-kota masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengkaji kualitas hidup perkotaan di Kota Surakarta melalui pengukuran tingkat kebahagiaan subjektif masyarakat serta penelaahan keterkaitannya dengan kondisi livability kota. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan dukungan analisis spasial. Pengukuran kebahagiaan dilakukan menggunakan kerangka Indeks Kebahagiaan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencakup dimensi kepuasan hidup, perasaan (affective), dan makna hidup (eudaimonia), berdasarkan data survei kuesioner masyarakat. Sementara itu, livability dianalisis menggunakan kerangka Most Livable City Index (MLCI) sebagai representasi kondisi objektif perkotaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebahagiaan masyarakat Kota Surakarta berada pada kategori tinggi dan melampaui rata-rata nasional, meskipun terdapat variasi spasial antar kecamatan. Kota Surakarta juga diklasifikasikan sebagai kota dengan livability dan kebahagiaan tinggi. Temuan ini menunjukkan adanya keterkaitan antara kualitas lingkungan perkotaan dan kesejahteraan subjektif masyarakat, serta menegaskan pentingnya pemerataan kualitas hidup dalam perencanaan kota.

2026
👤 Penulis: Revasari Puspita Basrum
🏷️ Kepuasan Hidup 🏷️ Perkotaan 🏷️ Analisis Spasial

PENINGKATAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DENGAN MENGGUNAKAN PETA 3D HASIL TEKNIK FOTOGRAMETRI DAN LIDAR (Wilayah Studi Kelurahan Helvetia Tengah, Kota Medan)

Kegiatan pembangunan yang semakin meningkat, mendorong penggalian potensi sumber keuangan untuk dapat membiayainya. Salah satu sumber keuangan potensial yang dapat ditingkatkan adalah dari sektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Untuk menunjang proses identifikasi objek pajak, diperlukan suatu sumber data geospasial yang terbarukan dan akurat karena seiring dengan berjalannya waktu sangat mungkin terjadi perubahan pada objek pajak yang berpotensi menambah penerimaan PBB. Dengan menggunakan teknik fotogrameri dan LIDAR (Light Detection and Ranging), dapat dihasilkan Peta 3 Dimensi yang nantinya dapat dijadikan sebagai salah satu sumber data untuk mengidentifikasi adanya potensi penambahan pada komponen perhitungan pajak, seperti luas bangunan dan luas tanah, serta perubahan fungsi pada tanah dan atau bangunan. Kualitas data spasial dari sumber data yang digunakan dapat dilihat dari beberapa elemen seperti lineage, akurasi posisi, akurasi atribut, konsistensi logikal, dan kelengkapan dengan residual koordinat Peta Foto dengan Peta Garis sebesar 0,436695 meter dan residual koordinat Peta Persil BPN hasil transformasi dengan Peta Garis sebesar 1,49816 meter. Selanjutnya dilakukan analisis spasial dan ekstraksi informasi tematik dengan menggunakan sumber data tersebut. Hasilnya menunjukan adanya indikasi penambahan luas pada objek pajak bangunan sebesar 1,75 % yang dapat meningkatkan pendapatan dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar 0,406 %.

2026
👤 Penulis: LEGINA NUR WIDYA (NIM: 15109015); Tim Pembimbing: Dr. Ir. Agus Suparman, M.Sc.; Dr. Akhmad Riqqi, M
🏷️ Geospasial 🏷️ Analisis Spasial 🏷️ Manajemen Sumber Daya

INTEGRASI ANALISIS SPASIAL DAN GEOMORFOLOGI UNTUK MENGIDENTIFIKASI PERUBAHAN FISIS SUNGAI CITARUM DI SEKITAR CANDI BATUJAYA

Citarum merupakan sungai terbesar di Jawa Barat yang mempunyai pengaruh kuat bagi masyarakat pada pemerintahan Tarumanagara, baik dalam aspek sosiopolitik maupun ekonomi. Para sejarawan meyakini bahwa candi Batujaya, salah satu peninggalan Tarumanagara, dibangun tepat di muara sungai Citarum. Namun, perubahan fisis yang terjadi selama ratusan tahun telah menyebabkan lokasi candi bergeser sekitar 500 meter di utara Citarum. Penelitian mengenai evolusi Citarum masih sangat minim dan hanya mempertimbangkan perspektif arkeologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan fisis Citarum dari aspek spasial dan geomorfologi. Terdapat 3 jenis peta yang digunakan yaitu: peta US Army, peta RBI, dan peta geologi antara tahun 1962 sampai 2001. Ketiga peta tersebut mempunyai cakupan wilayah, format, dan datum yang berbeda, sehingga perlu dilakukan beberapa proses seperti clipping peta, dijitasi peta, dan transformasi datum, agar ketiga peta mengacu pada kerangka kerja yang sama. Berdasarkan analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat perubahan tutupan lahan di daerah Batujaya dimana daerah persawahan dan pertambakan ikan masih mendominasi. Namun, populasi pohon pelindung seperti mangrove dan palem nipa mengalami penurunan yang sangat drastis dan terkonversi menjadi lahan usaha serta pemukiman. Selain itu, terjadi pula perubahan garis pantai utara akibat tingkat sedimentasi yang cukup tinggi. Hal ini terutama disebabkan oleh aktifitas manusia seperti konversi lahan serta pembuangan limbah ke dalam sungai. Berdasarkan analisis geomorfologi, diketahui bahwa Batujaya didirikan pada daerah point bar endapan banjir sungai Citarum. Dengan adanya sedimentasi yang membuat garis pantai semakin menjorok ke laut dan sungai Citarum yang semakin meander, lokasi geografis Batujaya semakin menjauh dari muara sungai Citarum.

2026
👤 Penulis: DEBBY NURSASTRADININGRUM (NIM : 151090740); Pembimbing : Dr. Ir. Agung Budi Harto, M.Eng.; Dr.
🏷️ Geomorfologi 🏷️ Analisis Spasial 🏷️ Sungai Citarum

STRATEGI ADAPTIVE SOCIAL PROTECTION (ASP) DALAM MENINGKATKAN KETAHANAN TERHADAP RISIKO MULTIHAZARD DI KOTA AMBON STUDI KASUS : KECAMATAN TELUK AMBON DAN BAGUALA, KOTA AMBON

Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi Adaptive Social Protection (ASP) untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap risiko gempa bumi dan tsunami di Kecamatan Teluk Ambon dan Baguala. Analisis dilakukan melalui pemetaan risiko bencana, kajian dampak terhadap dimensi perlindungan sosial (pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan mobilitas), serta evaluasi efektivitas distribusi bantuan sosial. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis analisis spasial dan indeks. Data diperoleh melalui studi literatur, telaah dokumen resmi, serta pengolahan data sekunder dari instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 68% wilayah terbangun di lokasi studi berada dalam zona bahaya, estimasi populasi terpapar mencapai 71.960 jiwa dimana 32% di antaranya merupakan masyarakat miskin yang tercatat dalam DTKS. Dampak signifikan teridentifikasi pada dimensi sosial-ekonomi, meliputi penurunan pendapatan, kerusakan fasilitas kesehatan (86% berada di zona bahaya tsunami), ancaman terhadap 19.945 anak usia sekolah, serta gangguan mobilitas akibat keterpaparan 65% jaringan jalan, terutama pada jalan arteri dan kolektor yang berperan penting dalam konektivitas dan distribusi logistik. Selain itu, distribusi bantuan sosial terbukti masih rendah dan belum responsif terhadap risiko bencana karena lebih dari 90% penduduk miskin tidak terjangkau program bantuan sosial. Strategi ASP yang diusulkan dirancang adaptif sesuai tingkat risiko dan dampak sosial, mulai dari penguatan kapasitas komunitas di wilayah berisiko rendah, integrasi perlindungan sosial dengan infrastruktur kesiapsiagaan di wilayah berisiko menengah, hingga intervensi komprehensif lintas desa pada wilayah dengan risiko sangat tinggi. Dengan demikian, ASP berperan penting dalam mengurangi dampak bencana sekaligus menjaga keberlanjutan ketahanan sosialekonomi masyarakat pascabencana.

2025
👤 Penulis: Chintya Chaterina Hattu
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Spasial

IDENTIFIKASI POTENSI LOKASI PENERAPAN BLUEGREEN INFRASTRUCTURE DENGAN MULTI-CRITERIA DECISION MAKING (MCDM) DAN ANALISIS SPASIAL DI KABUPATEN KUNINGAN

Kabupaten Kuningan tengah menghadapi tantangan lingkungan yang signifikan akibat alih fungsi lahan, pertumbuhan kawasan terbangun, dan dominasi infrastruktur abu-abu yang belum mampu beradaptasi terhadap risiko bencana, seperti banjir dan kenaikan suhu permukaan. Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi lokasi penerapan Blue-Green Infrastructure (BGI) melalui pendekatan Multi-Criteria Decision Making (MCDM) dan analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Penelitian menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan bobot preferensi dari 5 kriteria utama dan 17 sub-kriteria, meliputi aspek fisik, lingkungan, sosial, ekonomi-finansial, dan spasial. Hasil pembobotan menunjukkan bahwa peningkatan kualitas air, efektivitas penanganan banjir, dan keterlibatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam perencanaan BGI. Analisis spasial dilakukan terhadap tujuh variabel biofisik dan tata ruang seperti daerah rawan banjir, curah hujan, kedalaman muka air tanah, kemiringan, jenis tanah, dan jaringan perairan. Integrasi AHP dan spasial menghasilkan peta zonasi kesesuaian tiga tipe BGI: constructed wetlands (55,08 km²), detention pond (193,86 km²), dan retention pond (135,48 km²). Penelitian ini membuktikan bahwa pendekatan MCDM-SIG efektif untuk mendukung perencanaan BGI yang adaptif dan berkelanjutan di Kabupaten Kuningan.

2025
👤 Penulis: Nafi Akbar
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Spasial

PEMODELAN REGRESI LINEAR BERGANDA—SEMIVARIOGRAM ISOTROPIK DAN INTERPOLASIUNIVERSAL KRIGING (STUDI KASUS: DATA TINGKAT PREVALENSI STUNTING DI JAWA BARAT)

Salah satu masalah kesehatan di Provinsi Jawa Barat yang genting adalah stunting, yaitu kegagalan pertumbuhan pada 1000 hari pertama kehidupan balita. Faktor-faktor penyebabnya adalah: 1) kekurangan air bersih, 2) minimnya fasilitas kesehatan, 3) kurangnya akses sanitasi, dan lain sebagainya. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada 2022 tingkat prevalensi stunting dikategorikan tinggi jika lebih dari 30 persen. Faktor-faktor yang memengaruhi tingkat prevalensi stunting di kabupaten atau kota di Jawa Barat dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Faktor yang berpengaruh signifikan dimodelkan secara spasial menggunakan semivariogram isotropik. Penaksiran parameter semivariogram yaitu efek acak (????0), nilai batas (????+????0), dan jarak kritis (????) menggunakan metode Maksimum Likelihood (ML). Model teoritis semivariogram yang digunakan yakni Eksponensial, Gauss, dan Spherikal. Berdasarkan penaksiran parameter ML model terbaik adalah spherikal. Model spherikal digunakan untuk menginterpolasi lokasi yang tersampel menggunakan interpolasi Universal Kriging. Fungsi tren yang digunakan dalam interpolasi UK adalah fungsi tren orde satu dan orde dua. Hasil studi menunjukkan bahwa model spherikal menggunakan fungsi tren orde satu menghasilkan nilai estimasi yang paling baik untuk tingkat prevalensi stunting dan variabel bebas yang berpengaruh signifikan.

2025
👤 Penulis: Safitri Nuria Mawadah
🏷️ Regresi Linear Berganda 🏷️ Analisis Spasial 🏷️ Interpolasi Universal Kriging

PENGEMBANGAN SISTEM PENGOLAHAN DATA INSAR UNTUK PEMANTAUAN DEFORMASI REGIONAL DI INDONESIA

Teknologi Synthetic Aperture Radar (SAR) berkembang pesat selama sepuluh tahun terakhir. Saat ini, ketersediaan data SAR untuk publik sangat besar, didorong oleh program dari European Satellite Agency (ESA) yang meluncurkan satelit Sentinel-1 sejak tahun 2014. Data satelit lampau juga banyak yang mulai dibuka untuk publik sehingga ketersediaan datanya sangat besar baik secara spasial maupun temporal. Ketersediaan data ini dapat dimanfaatkan untuk pemantauan deformasi bumi diseluruh wilayah Indonesia seperti aktifitas tektonik, penurunan muka tanah, dinamika gunungapi, dan Gerakan tanah. Penelitian disertasi ini fokus pada pengembangan algoritma untuk pengolahan data SAR dalam jumlah besar. Algoritma tersebut melibatkan kecerdasan buatan, dalam hal ini metoda Multilevel Wavelet Convolutional Neural Network (MWCNN) untuk analisis spasialnya, serta metoda hitung perataan sekuensial untuk analisis deret waktu. Penggunaan kedua metoda ini diharapkan dapat mempersingkat waktu pengolahan data dengan hasil informasi deformasi spasio-temporal yang baik.

2025
👤 Penulis: Teguh Purnama Sidiq
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Spasial 🏷️ Deret Waktu

EVALUASI AKSESIBILITAS TRANSIT PEJALAN KAKI PADA STASIUN PEMBERHENTIAN COMMUTER LINE BANDUNG RAYA (STUDI KASUS: STASIUN BANDUNG, CIMAHI, DAN KIARACONDONG)

Aksesibilitas merupakan faktor penting dalam mendukung sistem transportasi umum yang efisien dan berkelanjutan, terutama pada jaringan commuter line. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat aksesibilitas spasial dan waktu dari tiga stasiun utama pada jaringan Commuter Line Bandung Raya, yaitu Stasiun Bandung, Cimahi, dan Kiaracondong, serta dua stasiun tambahan populer sebagai tujuan perjalanan, yakni Stasiun Padalarang dan Rancaekek. Evaluasi dilakukan berdasarkan pergerakan akses dan egress pengguna, yang diperoleh melalui survei wawancara langsung terhadap pengguna commuter line. Analisis spasial dilakukan dengan membandingkan luas area aktual berdasarkan kontur jarak berjalan kaki menuju/dari stasiun dengan radius teoretis, serta didukung pemetaan visual menggunakan QGIS dan plugin QNEAT3. Aksesibilitas waktu dihitung dari rasio waktu akses dan egress terhadap total waktu perjalanan untuk mengetahui efisiensi perjalanan first-mile dan last-mile. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebagian besar aksesibilitas spasial pada radius 400 meter tergolong “Kurang” (rasio 0.25–0.50) dan sebagian kecil “Buruk” (rasio < 0.25), sedangkan radius 800 meter seluruhnya berada pada kategori “Kurang”. Evaluasi waktu menunjukkan sebagian besar stasiun memiliki aksesibilitas waktu “Sangat Baik” (rasio < 0.25), artinya waktu akses dan egress relatif singkat dibanding waktu dalam kereta. Penelitian ini memberikan gambaran aktual aksesibilitas stasiun dan menjadi dasar rekomendasi peningkatan fasilitas pejalan kaki serta integrasi moda.

2025
👤 Penulis: Gusto Apriza Bakti
🏷️ Aksesibilitas Transporat 🏷️ Analisis Spasial 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Transportasi

POLA SPASIAL TINGKAT PEMBANGUNAN PERDESAAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI (STUDI KASUS : PROVINSI JAWA BARAT)

Pembangunan perdesaan merupakan bagian integral pembangunan nasional. Komitmen ini ditunjukkan pemerintah melalui lahirnya berbagai regulasi dan kebijakan. Dalam satu dekade terakhir, upaya-upaya pembangunan yang dilakukan telah memberikan perubahan, di antaranya mengentaskan desa-desa tertinggal, mendorong pertumbuhan desa-desa mandiri, dan mendorong kesejahteraan masyarakat perdesaan. Provinsi Jawa Barat, sebagai salah satu provinsi dengan perdesaan terbanyak di Indonesia, turut mengalami progres tersebut. Namun, sejauh mana capaian tingkat pembangunan perdesaan jika ditinjau dari perspektif spasial dan faktor-faktor yang turut terlibat didalamnya masih belum tereksplorasi lebih jauh. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan mengeksplorasi capaian pembangunan perdesaan berdasarkan perspektif spasial serta mengukur keterlibatan faktor-faktor apa saja dalam mendorong pembangunan perdesaan di Provinsi Jawa Barat. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif spasial. Teknik analisis yang digunakan adalah statistik deskriptif, pengukuran autokorelasi spasial, baik indeks moran global maupun lokal, serta uji OLS (Ordinary Least Square). Hasil analisis menunjukkan 3 (tiga) temuan. Pertama, distribusi spasial perdesaan dengan tingkat pembangunan tertinggi dominan berada di wilayah tengah dan tenggara Provinsi Jawa Barat. Kedua, dilihat dari pola spasialnya, teridentifikasi adanya klasterisasi tingkat pembangunan perdesaan di Provinsi Jawa Barat secara lokal. Klaster-klaster tingkat pembangunan perdesaan tertinggi (High-high Cluster) cenderung terkonsentrasi di wilayah tengah dan tenggara, sementara klaster perdesaan dengan tingkat pembangunan berkembang (Low-low Cluster) dominan berada di wilayah selatan Provinsi Jawa Barat. Ketiga, faktor-faktor yang memengaruhi kondisi spasial tersebut adalah dukungan jaringan transportasi, kapasitas pembangunan perdesaan, program pembangunan perdesaan dan keberadaan kawasan strategis. Diharapkan temuan-temuan ini selain mendorong pentingnya pertimbangan spasial dalam pembangunan perdesaan, terutama dalam mendorong pemerataan pembangunan, juga dapat semakin memperkuat kolaborasi multi-pihak dalam mendorong pembangunan perdesaan yang lebih baik di Indonesia.

2025
👤 Penulis: Aditya Muhammad Mudzakir
🏷️ Geografi Perdesaan 🏷️ Analisis Spasial 🏷️ Manajemen Pembangunan Perdesaan

PENGARUH DINAMIKA PERKEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI TERHADAP DAYA DUKUNG AIR PERKOTAAN BERBASIS JASA LINGKUNGAN HIDUP PENYEDIA AIR DI KOTA CILEGON

Pertumbuhan Kawasan Industri di Kota Cilegon yang berlangsung secara masif memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi regional, namun juga menimbulkan tekanan serius terhadap sistem lingkungan hidup, khususnya terhadap ketersediaan dan kualitas sumber daya air. Transformasi tutupan lahan akibat ekspansi Kawasan Industri (KPI) telah menyebabkan penurunan fungsi ekologis yang berdampak pada indeks jasa lingkungan hidup penyedia air. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara perkembangan KPI Tahun 2020–2040 dengan perubahan jasa lingkungan hidup, mengevaluasi neraca ketersediaan dan kebutuhan air, serta menilai status daya dukung air perkotaan secara keseluruhan. Pendekatan penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan teknik analisis spasial dan evaluasi neraca air. Data sekunder diperoleh melalui dokumen perencanaan tata ruang, citra satelit, dan data hidrologi. Teknik analisis meliputi interpretasi perubahan tutupan lahan berbasis sistem informasi geografis (SIG), pemodelan indeks jasa lingkungan menggunakan perangkat lunak berbasis grid, dan analisis status daya dukung air dengan pendekatan supply-demand. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam dua dekade terakhir, terjadi konversi lahan hijau menjadi kawasan industri secara intensif, terutama di wilayah utara dan timur Kota Cilegon. Hal ini menyebabkan penurunan indeks jasa lingkungan penyedia air hingga 17%, disertai dengan peningkatan kebutuhan air untuk industri sebesar 38% hingga tahun 2040. Evaluasi neraca air mengindikasikan risiko defisit air yang semakin besar, dengan proyeksi bahwa Kota Cilegon dapat mengalami ketidakseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air dalam satu dekade mendatang. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tanpa intervensi kebijakan yang tepat, daya dukung air perkotaan akan terus menurun. Kontribusi utama dari penelitian ini adalah penggabungan model spasial dan neraca air dalam satu kerangka analisis untuk menilai pengaruh perkembangan kawasan industri terhadap keberlanjutan lingkungan. Temuan ini menjadi acuan penting dalam pengelolaan kawasan industri berbasis jasa lingkungan, serta sebagai pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pengelolaan sumber daya air berkelanjutan di Kota Cilegon sebagai kota industri. Secara akademik, penelitian ini memperkaya literatur dalam kajian hubungan spasial antara pertumbuhan industri dan daya dukung lingkungan, khususnya daya dukung air, serta membuka peluang pengembangan metode analisis daya dukung air berbasis sistem informasi geospasial dalam konteks perencanaan wilayah.

2025
👤 Penulis: Andrea Kartika Putri
🏷️ Pertumbuhan Industri 🏷️ Daya Dukung Air Perkotaan 🏷️ Analisis Spasial
Halaman 1 dari 2
💬