📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 28 dokumen

DINAMIKA PERGERAKAN BENDA SILINDER AKIBAT PERGESERAN TITIK BERAT

Penelitian Tugas Akhir ini bertujuan menentukan pengaruh parameter fisik pendulum terhadap karakteristik gerak menggelinding sasis silinder berongga melalui pendekatan mekanika klasik dan simulasi komputasi. Pemodelan matematika ruang keadaan dibangun menggunakan fungsi Lagrangian untuk mengekstrak persamaan diferensial gerakan non-linear orde dua, yang diselesaikan dengan solver implisit Radau IIA di Python untuk mengatasi kekakuan numerik (stiffness) akibat torsi hambat gelinding. Validasi empiris dilakukan melalui pengujian prototipe mandiri pada lintasan 5 meter di Gedung Oktagon. Hasil analisis spasial dengan metode Kernel Density Estimation (KDE) menunjukkan pemisahan kluster performa secara kontras. Massa pendulum ringan (97,73 gram) mengalami undershoot pada rentang 3,5–4,8 meter akibat keterbatasan torsi pemulih, sedangkan massa berat (126,23 gram) memicu overshoot pada rentang 5,2–7,5 meter. Kurva KDE juga menyingkap distribusi multimodal akibat variasi fase sudut transien pendulum saat aktuasi dinonaktifkan. Hasil komparasi membuktikan konfigurasi optimal dengan rasio momen tertinggi 1,249 (m = 126,23 gram, l = 5,0 cm) mampu mempercepat durasi gerak hingga konvergen pada 10,2 detik, selaras dengan proyeksi simulasi. Reliabilitas model diperkuat nilai galat Mean Absolute Percentage Error (MAPE) sebesar 3,29% dengan sebaran rentang interkuartil serapat 3,76%.

2026
👤 Penulis: Muhammad Fathin Abdul Aziz
🏷️ Mekanika Klasik 🏷️ Simulasi Komputasi 🏷️ Analisis Statistik

ANALISIS DEFORMASI GUNUNGAPI TALANG BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS TAHUN 2005 - 2009

Gunungapi Talang adalah salah satu gunungapi yang terletak di Sumatera Barat. Letusan magmatik terakhir terjadi pada tahun 1883. Letusan terakhir berupa letusan abu terjadi pada tahun 2005. Letusan pada tahun 2005 tersebut terjadi beberapa hari setelah gempa tektonik di Mentawai. Sejak saat itu aktivitas vulkanik gunungapi Talang terus meningkat, meskipun tidak terjadi erupsi.Untuk meneliti deformasi yang terjadi pada gunungapi Talang pada tahun 2005-2009 digunakan data pengamatan Global Positioning System (GPS) yang diamati pada bulan Desember 2005, Maret 2006, Februari 2007, Februari 2008, Juli 2009, Agustus 2009, dan Oktober 2009. Data GPS kemudian diproses sehingga didapatkan koordinat geodetik dan geosentrik beserta standar deviasinya. Koordinat geosentrik yang dihasilkan ditransformasikan ke dalam koordinat toposentrik. Setelah dilakukan uji statistik dengan distribusi-t dan nilai resultan kecepatan vektor pergeseran yang dihasilkan dinyatakan telah lolos, kecepatan vektor pergeseran per tahun diplot. Perhitungan lokasi pusat magma menggunakan model Mogi dan pemilihan hasil terbaik melalui metode optimasi.

2026
👤 Penulis: MUTIARA YUNAZWARDI (NIM. 15106036); Pembimbing: DR. Irwan Meilano, S.T., M.Sc. dan Estu Kriswati, S.
🏷️ Deformasi Gunungapi 🏷️ Global Positioning System (Gps) 🏷️ Analisis Statistik

THE EFFECTS OF DIMPLES AND SEAMS ON THE DRAG COEFFICIENT OF SPORTS BALLS USING VOLUMETRIC RATIO OF SURFACE ROUGHNESS

Parameter koefisien drag, yang dipengaruhi oleh kekasaran permukaan, merupakan parameter penentu jarak dan stabilitas terbang bola olahraga. Nilai koefisien drag yang rendah dapat menghasilkan jarak terbang yang jauh, namun nilai yang terlalu kecil juga dapat menghasilkan ketidakstabilan terbang bola. Sebaliknya, nilai koefisien drag yang sedikit lebih tinggi dapat menghasilkan stabilitas terbang yang lebih baik, dengan konsekuensi jarak terbang bola yang lebih pendek. Studi ini mengusulkan parameter kekasaran permukaan berbasis rasio volumetrik untuk memprediksi koefisien drag dari suatu bola olahraga yang kasar namun belum diuji. Parameter tersebut terdiri dari dua variabel independen berupa kekasaran dimple (Hd) dan kekasaran seam (Hs), yang dikorelasikan dengan bilangan Reynolds kritik (Rec) melalui model regresi linier multivariabel. Berdasarkan sampel 32 bola sepak dan bola golf, model regresi menghasilkan persamaan Rec = 278730/exp (117,1Hd + 118,0Hs) dengan R2 = 0,7285. Koefisien regresi menunjukkan bahwa dimple dan seam memberikan pengaruh yang setara terhadap bilangan Reynolds kritik. Nilai Rec dari persamaan korelasi berperan sebagai basis interpolasi nilai CD dari suatu bola kasar (yang belum diuji) pada grafik CD vs Re. Grafik tersebut memuat beberapa kurva bola kasar yang telah diuji sebelumnya. Dengan demikian, koefisien drag dapat diestimasi pada suatu nilai bilangan Reynolds (di luar Rec), khususnya di rezim aliran kritikal, superkritikal, dan transkritikal.

2025
👤 Penulis: Muhammad Fauzan Khairul Iman
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Statistik 🏷️ Hidrologi

STUDI PENGARUH FRAKSI UKURAN DAN PERSEN PADATAN PADA HYDROTHERMAL DEWATERING TERHADAP KARAKTERISTIK COAL-WATER SLURRY DENGAN SURFAKTAN METIL ESTER SULFONAT DARI BIJI KARET

Indonesia telah mencanangkan program hilirisasi batubara untuk meningkatkan nilai jualnya. Gasifikasi menjadi salah satu opsi hilirisasi, dengan mengubah batubara menjadi syngas. Dari berbagai pilihan umpan gasifikasi, coal-water slurry (CWS) memiliki keunggulan dalam proses handling dan menghasilkan syngas yang ramah lingkungan. Hydrothermal dewatering (HTD) dan penambahan surfaktan dapat meningkatkan flowability dan slurryability CWS. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada optimalisasi HTD untuk meningkatkan flowability CWS dengan menggunakan metil ester sulfonat (MES) dari biji karet sebagai surfaktan. Pemilihan biji karet didasari atas ketersediaannya di Indonesia yang melimpah. Sintesis MES diawali dengan sulfonasi fatty acid methyl ester (FAME) pada 55 °C dan 300 rpm selama 5 jam, dilanjutkan purifikasi dan netralisasi masing-masing 30 menit. Produk MES kemudian dianalisis menggunakan FTIR. Secara paralel, batubara dipreparasi dengan variasi fraksi ukuran -8#+60#, -60#+140#, - 140#+200#, dan -200# yang diberi kode FU8-60, FU60-140, FU140-200, dan FU200, serta variasi persen padatan 30%, 40%, dan 50% yang diberi kode PS30, PS40, dan PS50. HTD dilakukan pada 250 °C, 40 bar selama 40 menit. Batubara hasil HTD dikeringkan, lalu dianalisis proksimat, FTIR, serta digunakan untuk pembuatan CWS 45% padatan dengan penambahan MES 2,5 g/L sebelum pengukuran viskositas. FAME biji karet didominasi metil ester tidak jenuh (81,03%) dengan stabilitas dan kelarutan baik. HTD menurunkan kadar moisture batubara hingga 62,18% secara ireversibel melalui pengurangan gugus hidrofilik. Perubahan ini memperbaiki slurryability dan flowability CWS. Efektivitas HTD dipengaruhi fraksi ukuran; - FU60-140 memberikan viskositas optimal 26,3 mPa·s (shear rate 102,24 s?¹), sedangkan persen padatan rendah (PS30) menghasilkan viskositas terbaik 18,2 mPa·s. Penambahan MES meningkatkan flowability CWS melalui pembentukan lapisan misel, menurunkan viskositas dari 24,5; 32,8; dan 43,4 mPa·s menjadi 18,2; 24,4; dan 28,8 mPa·s pada PS30, PS40, dan PS50 berurutan.

2025
👤 Penulis: Ahmad Ghazi Alghifari Adi N.
🏷️ Hydrothermal Dewatering 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Statistik

INTEGRASI DINAMIKA MOLEKULER DAN ANOVA DALAM ANALISIS PENGARUHKOMPOSISI TI, UKURAN BUTIR, LAJU REGANGAN, DAN TEMPERATURTERHADAP SIFAT MEKANIS PADUAN FENICRCOTI

High Entropy Alloys (HEAs) adalah paduan logam dengan lima atau lebih unsur utama dalam komposisi seimbang dan dikenal memiliki kekuatan tinggi, keuletan, dan ketahanan korosi. Sistem FeNiCrCo merupakan salah satu HEAs yang banyak diteliti, dan penambahan titanium (Ti) menghasilkan paduan FeNiCrCoTi dengan ketahanan aus dan korosi yang lebih baik. Penelitian ini menganalisis pengaruh komposisi Ti, ukuran butir, laju regangan, dan temperatur terhadap sifat mekanis paduan melalui simulasi dinamika molekuler, serta menggunakan ANOVA untuk menilai kontribusi masing-masing faktor. Pendekatan ini memberikan gambaran komprehensif terhadap sifat mekanis paduan dalam berbagai kondisi. Simulasi diawali dengan mengkonstruksi struktur polikristalin FCC FeNiCrCoTi menggunakan seed FCC Co dengan metode Voronoi dalam sel berukuran 105 × 105 × 105 Å, dengan jumlah butir acak sebanyak 5, 7, dan 10. Sebagian atom Co kemudian digantikan secara acak oleh Fe, Ni, Cr, dan Ti untuk membentuk paduan FeNiCrCoTi. Uniaxial tensile test disimulasikan di LAMMPS dengan variasi komposisi Ti (0, 5, dan 20 at%), ukuran butir (7,6; 6,8; dan 6,0 nm), laju regangan (0,01 - 0,08 ps-1), dan temperatur (100 - 500 K). Data hasil simulasi digunakan untuk menghasilkan kurva stress-strain serta menentukan nilai UTS, modulus elastisitas (E), dan tegangan luluh (YS). OVITO digunakan untuk menganalisis perubahan struktur mikro dan evolusi dislokasi, sementara ANOVA diterapkan pada 32 sampel untuk menilai kontribusi dan signifikansi setiap faktor terhadap sifat mekanis paduan. Hasil simulasi uniaxial tensile test menunjukkan bahwa peningkatan komposisi Ti dari 0 at% hingga 20 at% menyebabkan penurunan nilai UTS paduan FeNiCrCoTi, dari 6,49 GPa menjadi 3,33 GPa. Penurunan ukuran butir dari 7,6 nm ke 6,0 nm juga berdampak menurunkan UTS, dari 5,17 GPa menjadi 3,27 GPa. Demikian pula, peningkatan temperatur dari 100 K hingga 500 K mengakibatkan penurunan UTS dari 5,33 GPa menjadi 4,95 GPa, meskipun pengaruhnya relatif kecil. Sebaliknya, peningkatan laju regangan dari 0,01 ps-1 hingga 0,08 ps-1 menghasilkan peningkatan signifikan pada UTS, dari 5,17 GPa menjadi 8,68 GPa. Berdasarkan hasil CNA keseluruhan, fasa HCP dan other cenderung meningkat seiring bertambahnya regangan, sementara fasa FCC justru menurun. Dari analisis DXA, dislokasi Shockley tampak mendominasi dengan panjang yang lebih besar dibandingkan jenis dislokasi lainnya. Terakhir, hasil metode statistik ANOVA menunjukkan bahwa komposisi Ti dan laju regangan merupakan dua faktor yang paling signifikan dan dominan dalam memengaruhi sifat mekanis, yaitu UTS, E, dan YS.

2025
👤 Penulis: Reza Maulana Faisal
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Statistik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

EVALUASI STABILITAS TEROWONGAN BAWAH TANAH BERDASARKAN HUBUNGAN ANTARA ROCK LOAD (PV) DAN TEKANAN PENYANGGA MAKSIMUM (PSMAX) : KAJIAN EMPIRIS MULTINEGARA

Fenomena squeezing merupakan salah satu tantangan dalam pembangunan terowongan bawah tanah, khususnya pada kondisi geologi yang kompleks, massa batuan yang lemah dan kedalaman yang signifikan. Squeezing terjadi ketika deformasi plastis massa batuan melebihi kapasitas dukung penyangga, sehingga dapat mengancam kestabilan dari terowongan. Menurut Hoek dan Marinos (2009) bahwa batuan memiliki kemampuan terbatas dalam menahan shear stress yang diakibatkan terjadinya pergeseran akibat adanya deformasi tektonik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara rock load (Pv) dan kapasitas maksimum penyangga (Psmax) pada terowongan, agar menghasilkan rekomendasi teknis sebagai acuan perencanaan sistem penyangga. Data yang digunakan berupa 202 data sekunder yang bersumber pada literatur internasional. Analisis dilakukan dengan menghitung rasio Psmax terhadap Pv serta mengklasifikasikan data berdasarkan tingkat squeezing. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi No Squeezing umumnya memiliki rasio Psmax dan Pv ? 4, sedangkan kasus dengan kondisi Squeezing memiliki rasio < 4. Nilai ambang 4 x Pv diidentifikasi sebagai batas bawah kapasitas penyangga yang memadai untuk meminimalkan risiko deformasi berlebih.

2025
👤 Penulis: Krispian Fathan Hidayatullah
🏷️ Geoteknik 🏷️ Analisis Statistik 🏷️ Manajemen Risiko Terowongan

DAMPAK ENSO TERHADAP DEBIT WADUK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR (PLTA) SAGULING UNTUK KEBERLANGSUNGAN OPERASI

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terhadap debit air Waduk Saguling dan implikasinya terhadap keberlangsungan operasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Waduk Saguling merupakan bagian penting dari sistem kelistrikan di wilayah Jawa Barat, sehingga ketersediaan air yang stabil menjadi faktor kunci dalam mendukung kapasitas pembangkitan. Dalam studi ini, digunakan pendekatan kuantitatif melalui analisis statistik korelasi Pearson dan Spearman, klasifikasi fase ENSO, serta transformasi wavelet kontinu (Continuous Wavelet Transform/CWT) untuk mengeksplorasi keterkaitan antara indeks ENSO (ONI), curah hujan, dan debit inflow selama periode 1986–2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa ENSO memiliki pengaruh terhadap variabilitas debit inflow, meskipun hubungan linier secara bulanan tidak selalu konsisten. Transformasi wavelet mengungkap adanya periodisitas kuat dalam rentang 2–4 tahun yang menunjukkan keterkaitan ENSO dengan pola jangka panjang curah hujan dan debit. Uji korelasi musiman memperlihatkan bahwa pengaruh ENSO paling jelas terjadi pada puncak musim hujan (DJF) dan awal musim transisi (MAM), peningkatan atau penurunan indeks ONI berkaitan erat dengan fluktuasi debit inflow. Sebaliknya, musim kemarau dan transisi akhir (JJA–SON) menunjukkan pola korelasi negatif yang merefleksikan kekeringan akibat El Niño. Studi kasus El Niño 2015 dan La Niña 2022 memperkuat temuan bahwa fluktuasi curah hujan dan debit inflow akibat ENSO berdampak langsung terhadap kondisi operasional waduk. Oleh karena itu, integrasi informasi iklim global, terutama indeks ONI, dalam sistem pemantauan dan perencanaan operasional PLTA menjadi sangat penting. Penelitian ini merekomendasikan penggunaan pendekatan berbasis musim dan prediksi ENSO sebagai dasar pengambilan keputusan untuk menjaga keberlanjutan dan efisiensi pembangkitan energi di masa depan.

2025
👤 Penulis: Andit Zelly Gunawan
🏷️ El Niño–Southern Oscillation (Enso) 🏷️ Analisis Statistik 🏷️ Hidrologi

EVALUASI KINERJA DAN OPTIMISASI DESAIN PAHAT PADA PENGEBORAN GEOTERMAL DI INDONESIA.

Potensi tinggi pemanfaatan geothermal diikuti dengan berbagai tantangan dalam proses pengeboran untuk mencapai reservoir, salah satunya berkaitan dengan reliability (keandalan) alat-alat pengeboran, termasuk drill bit (pahat). Kerusakan dini pada pahat dapat meningkatkan biaya operasional, Non-Productive Time (waktu henti), serta kegagalan pengeboran. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pola kerusakan pahat melalui analisis statistik data penggunaan pahat dari berbagai proyek pengeboran geotermal di seluruh dunia, serta mengembangkan optimisasi desain pahat untuk meningkatkan performa pahat dalam pengeboran geotermal di Indonesia. Metode yang digunakan meliputi pengumpulan dan evaluasi statistik terhadap data operasional dan kegagalan pahat dari seribu sumur geotermal untuk mengidentifikasi pola kerusakan dominan dan faktor-faktor yang paling berpengaruh. Selanjutnya, simulasi numerik menggunakan metode Finite Element Analysis (FEA) dilakukan untuk meniru kondisi kerja pahat pada beberapa contoh kasus di Indonesia dan mempelajari penyebab kerusakan pada berbagai jenis pahat dalam beberapa skenario pengeboran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keausan abrasif dan kerusakan termal merupakan mode kerusakan paling sering terjadi pada jenis roller cone, sedangkan pahat Polycrystalline diamond compact (PDC) mengalami banyak pola kerusakan yang disebabkan oleh benturan dari batuan. Berdasarkan hasil simulasi pada tiga model yang telah terkalibrasi dengan data aktual, dilakukan optimisasi desain pahat melalui modifikasi cutting action yang dilakukan oleh pahat. Validasi simulasi menunjukkan bahwa desain optimal tersebut mampu menghasilkan laju penetrasi dan keandalan yang lebih tinggi dibandingkan dengan desain awal. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi penting dalam peningkatan keandalan dan efisiensi proses pengeboran geotermal.

2025
👤 Penulis: M. Ramadhan Yoan Mardiana
🏷️ Geotermi 🏷️ Desain Pahat Geotermal 🏷️ Analisis Statistik

ANALISIS KORELASI L/D SAMPEL TERHADAP KEKUATAN BATUAN BERDASARKAN KRITERIA HOEK-BROWN MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA

Penelitian ini menganalisis pengaruh variasi dimensi panjang terhadap diameter (L/D) sampel batuan terhadap kekuatan batuan, menggunakan kriteria Hoek-Brown dan metode elemen hingga dengan perangkat lunak RS2. Data sekunder dari literatur digunakan sebagai input. Sampel dimodelkan dengan rasio L/D bervariasi (2.5, 2, 1.5, 1, dan 0.5). Hasil pemodelan menunjukkan bahwa nilai tegangan utama major (?1) dan minor (?3) cenderung menurun seiring dengan peningkatan dimensi L/D sampel. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi triaksial akan semakin menjauh dan mendekati kondisi uniaksial, di mana (?3) mendekati nol. Sebaliknya, pada sampel dengan L/D kecil (misalnya 0.5), terjadi kondisi triaksial akibat friction constraint pada ujung sampel, yang menghasilkan distribusi tegangan tidak merata dan nilai tegangan utama yang lebih besar. Analisis Factor of Safety (FoS) menunjukkan bahwa semakin kecil nilai L/D sampel (semakin kekar), nilai FoS semakin meningkat, yang membuktikan bahwa kekuatan batuan akan semakin besar pada sampel kekar. Korelasi antara rasio L/D dan FoS adalah -0.771, menunjukkan hubungan negatif yang kuat, di mana peningkatan rasio L/D berbanding terbalik dengan nilai FoS. Koefisien determinasi yang didapatkan pada persamaan power adalah 0.8234 menunjukkan bahwa variasi pada variabel FoS dapat dijelaskan oleh variabel L/D.

2025
👤 Penulis: Diva Faizah Hanuun
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Statistik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ASAL-USUL SOLAR PROTON EVENT (SPE) PADA SIKLUS MATAHARI KE-24 (2009-2019)

Solar Proton Event (SPE) merupakan peristiwa melonjaknya fluks atau intensitas pro ton dari partikel energetik Matahari (Solar Energetic Particle / SEP). Partikel energe tik Matahari berasal dari partikel yang dihasilkan dari mekanisme percepatan. Pada studi-studi yang sudah dilakukan, mekanisme percepatan partikel energetik Matahari diyakini berkaitan dengan fenomena eruptif di Matahari yaitu ledakan Matahari (flare) dan lontaran massa korona (CME). SPE memiliki dampak besar pada cuaca antariksa, yang dapat mengakibatkan gangguan pada magnetosfer Bumi atau terjadinya badai ge omagnetik. Oleh karena itu, diperlukan studi mengenai parameter-parameter dari flare dan CME yang dapat memengaruhi SPE. Hal ini dapat digunakan untuk mengetahui asal-usul partikel energetik, mekanisme percepatan partikel, dan propagasinya di ruang antarplanet menuju ke Bumi. Pada tugas akhir ini, digunakan dataset SPE pada siklus Matahari ke-24 (2009 2019) yang berjumlah 99 SPE dengan fluks maksimum proton lebih dari 1 pfu. Dataset ini terdiri dari data parameter SPE dan juga fenomena eruptif yang terkait dengan SPE (flare dan CME). Dari dataset tersebut, dilakukan distribusi pada data untuk melihat karakteristik SPE pada siklus ke-24, dilakukan juga analisis statistik yaitu regresi linear, korelasi pearson, dan principal component analysis (PCA) untuk mengetahui korelasi antar parameter. Setelah itu, dilakukan analisis beberapa SPE yang merupakan outlier dari hasil analisis statistik untuk dianalisis parameter lain yang terlibat. SPEpada siklus ke-24 didominasi oleh gradual SPE dengan fluks proton yang cen derung rendah. Dari hasil analisis statistik, diperoleh bahwa kecepatan CME menjadi parameter yang paling berkorelasi dengan parameter SPE, terutama fluks maksimum proton. Hasil analisis kasus SPE juga menemukan pengaruh yang kuat dari gelombang kejut yang dihasilkan dari CME terhadap SPE.

2025
👤 Penulis: Firshanda Alvyanita
🏷️ Hidrologi Surya 🏷️ Analisis Statistik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Antariksa

DISTRIBUSI KOMPOSISI ION PADA PM2,5 DAN IDENTIFIKASI SUMBER POTENSIAL DI KOTA JAKARTA BARAT

Kota Jakarta Barat merupakan salah satu wilayah di DKI Jakarta dengan aktivitas transportasi dan industri yang signifikan. Studi ini membahas terkait distribusi ion pada PM2,5 dan identifikasi sumber potensial di Kota Jakarta Barat. Pengambilan sampel dilakukan pada musim penghujan pada periode 21 Februari 2025 – 31 Mei 2025 sebanyak 34 sampel. Pada studi ini, digunakan SuperSASS Speciation Sampler dan filter teflon untuk menangkap PM2,5 di udara ambien. Sampel selanjutnya diekstraksi dan dianalisis menggunakan Ion Chromatography (IC) untuk mengidentifikasi konsentrasi dari 9 jenis ion dalam PM2,5. Potensi pembentukan aerosol sekunder anorganik (Secondary Inorganic Aerosol/SIA) berupa garam amonium dilakukan dengan analisis ion balance. Selain itu, dilakukan identifikasi sumber potensial dari ion di Kota Jakarta Barat dengan analisis statistik Principal Component Analysis (PCA). Konsentrasi rata-rata PM2,5 di Kota Jakarta Barat adalah 34,245±12,762 µg/m3 . Distribusi komposisi ion pada PM2,5 terdiri dari ion sulfat (SO4 2- ), nitrat (NO3 - ), fluorida (F- ), klorida (Cl- ), amonium (NH4 + ), kalium (K+ ), natrium (Na+ ), magnesium (Mg2+), dan kalsium (Ca2+) dengan kontribusi total terhadap konsentrasi PM2,5 sebesar 19,46% yang didominasi oleh ion SO4 2- , Ca2 + , dan K+ . Ion balance ratio (AE/CE) sebesar 0,426 mengindikasikan dominasi kation dalam PM2,5 yang mendorong pembentukan aerosol sekunder anorganik, terutama amonium bisulfat (NH4HSO4). Dengan menggunakan metode PCA, didapatkan sumber potensial dari pencemaran ion di Kota Jakarta Barat berasal dari resuspensi debu atau material tanah, pembentukan aerosol sekunder dari transportasi, pembakaran batubara dan pembakaran biomassa, serta aktivitas domestik.

2025
👤 Penulis: Mario Farrel Wibowo
🏷️ Pm2,5 🏷️ Hidrologi Udara 🏷️ Analisis Statistik

PERANCANGAN PRODUKSI IKAN SAMU NILA (OREOCHROMIS NILOTICUS) FERMENTASI PADA SKALA UMKM

Produksi ikan nila (Oreochromis niloticus) di Indonesia terus meningkat dan menduduki peringkat penting dalam sektor budidaya perikanan air tawar. Kelimpahan produksi ini perlu diimbangi dengan pengelolaan pascapanen yang memadai, agar nilai produksinya tidak menjadi loss. Fermentasi merupakan salah satu teknik pengawetan yang telah lama digunakan secara tradisional, termasuk dalam pembuatan ikan samu yaitu produk khas Kalimantan Selatan yang dibuat dari ikan segar yang dilumuri garam dan beras sangrai, kemudian difermentasi secara spontan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi beras sangrai dan garam optimal serta menstandarisasi mutu ikan samu dari ikan nila hasil fermentasi spontan. Metode yang digunakan adalah Response Surface Method (RSM) Box-Behnken Design (BBD) dengan tiga faktor yaitu berat ikan (konstan), berat samu, dan berat garam. Tiga respon utama dipilih berdasarkan analisis signifikansi varians, yaitu kadar protein (%), kekerasan (Kgf), dan pH. Model kuadratik penuh yang diperoleh menunjukkan signifikansi tinggi (p < 0,05) pada ketiga respon dengan nilai berturut R² sebesar 91,02%; 86,78%; dan 95,73%. Hasil tahap optimasi dengan berat ikan konstan 240 gram menunjukkan berat beras sangrai optimal 93,69 gram dan berat garam optimal 42,12 gram. Dengan komposisi tersebut, hasil validasi fermentasi 60 jam menunjukkan pH 6,03; kekerasan 3,87 kgf; dan konsentrasi protein 24,99% dengan galat dari model relatif rendah yaitu berturut-turut 0,3%; 1,53%; dan 6,3%. Tren data pengujian menunjukkan terjadinya fermentasi oleh Bakteri Asam Laktat (BAL), mengindikasikan bahwa formulasi optimal tidak hanya meningkatkan mutu sensorik dan gizi, tetapi juga memenuhi standar keamanan pangan. Uji mutu tambahan yang dilakukan yaitu kadar air (49,8%), total asam (0,69%), dan nilai organoleptik (6,65 dari 9), serta analisis mikrobiologis Total Plate Count (TPC) BAL sebesar Log 8,37 CFU/g dan total Koliform tidak terdeteksi.

2025
👤 Penulis: Ayesha Lativa Mafaza
🏷️ Budidaya Perikanan Air Tawar 🏷️ Fermentasi Ikan 🏷️ Analisis Statistik

ANALISIS KORELASI L/D SAMPEL TERHADAP KEKUATAN BATUAN BERDASARKAN KRITERIA MOHR-COULOMB MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA

Uji Kuat Tekan Uniaksial (UCS Test) merupakan suatu uji sifat mekanik batuan di laboratorium yang bertujuan untuk mengukur kuat tekan uniaksial sebuah sampel batuan. Sampel batuan yang digunakan dalam uji ini harus memenuhi kriteria tertentu. Salah satunya adalah rasio panjang terhadap diameter (L/D) yang telah ditentukan secara standar oleh ISRM (1981). Persyaratan tersebut menjadi penting karena akan memengaruhi hasil uji kuat tekan. Penelitian ini menganalisis hubungan antara dimensi L/D sampel terhadap kekuatan batuan mengacu pada nilai faktor keamanan (yang selanjutnya disingkat menjadi FoS) berdasarkan tegangan utama (?1 dan ?3) hasil pemodelan numerik dengan metode elemen hingga menggunakan bantuan perangkat lunak RS2. Berdasarkan pengujian, sampel dengan rasio L/D kecil akan semakin kuat berdasarkan nilai FoS yang semakin besar. Hal ini terjadi karena nilai tegangan utama makin membesar seiring mengecilnya rasio L/D akibat munculnya efek pengungkungan semu (confining effect) karena adanya restrain fisik. Semakin kecil rasio L/D juga memungkinkan sampel mengalami kondisi triaksial. Pengujian ini juga membuktikan bahwa efek bentuk pada kuat tekan uniaksial benar adanya. Secara statistik, nilai korelasi keduanya yaitu -0,70 yang artinya rasio dimensi L/D memiliki hubungan kuat berbanding terbalik dengan nilai FoS mengikuti persamaan regresi power yaitu ???? = 1,1877???? ?0,401 .

2025
👤 Penulis: Ahmad Wildan Hafidh
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Statistik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

KARAKTERISTIK FORAMINIFERA PADA PERMUKAAN DASAR LAUT DI PERAIRAN INDO-PASIFIK

Kawasan Indo-Pasifik merupakan wilayah yang membentang dari Samudra Hindia bagian timur hingga Samudra Pasifik bagian barat, mencakup perairan Indonesia yang dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut global. Namun, pemahaman mengenai distribusi foraminifera di kawasan Indo-Pasifik masih terbatas dan model lingkungan pengendapan yang ada saat ini belum merepresentasikan karakteristik kawasan Indo-Pasifik. Sementara perairan Indonesia memiliki variasi lingkungan tinggi yang masing-masing lingkungan mendukung komunitas foraminifera yang berbeda. Dalam penelitian ini identifikasi foraminifera baik foraminifera planktonik maupun bentonik dilakukan untuk membuat model lingkungan pengendapan berdasarkan karakteristik foraminifera. Sebanyak 35 sampel Resen diambil dari 9 lokasi berbeda dengan kedalaman mulai dari 0 hingga 4327 m. Berdasarkan kedalamannya, sampel dikelompokkan menjadi 6 lingkungan berdasarkan lingkungan pengendapan dari Rauwenda dkk. (1984), yaitu transisi, neritik dalam, neritik tengah, neritik luar batial atas, dan batial bawah. Kandungan foraminifera pada setiap lingkungan diuji dengan analisis statistik untuk menentukan karakteristik pada setiap lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis sedimen dan analisis foraminifera yang dilakukan secara kuantitatif untuk selanjutnya dilakukan analisis lanjutan seperti penentuan kelimpahan dan keanekaragaman foraminifera, analisis P/B ratio dan analisis statistik berupa analisis klaster, Indicator Value (IndVal), Detrended Correspondence Analysis (DCA) dan Principal Component Analysis (PCA) yang digunakan untuk mengidentifikasi spesies penciri dan faktor ekologi dominan pada masing-masing lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik asosiasi foraminifera di kawasan Indo-Pasifik berbeda dan mempunyai spesies penciri tertentu pada setiap zona batimetri. Lingkungan transisi dicirikan oleh substrat pasir kasar dengan dihadiri kumpulan foraminifera primer, yaitu Amphistegina dan Sphaerogypsina yang dipengaruhi oleh arus dan energi gelombang tinggi. Lingkungan neritik dalam dengan substrat pasir halus memiliki kumpulan primer foraminifera yang hadir antara lain Ammonia sp., Asterorotalia trispinosa, Elphidium hispidulum, Ammonia tepida, dan Ammonia beccarii, sedangkan pada substrat lanau kumpulan primer foraminifera yang hadir adalah Haplophragmoides dan Elphidium. Berdasarkan dari distribusi foraminifera baik pada substrat pasir halus maupun lanau, lingkungan neritik dalam dipengaruhi oleh kedalaman dan tipe substrat. Lingkungan neritik tengah dicirikan oleh substrat lanau dengan kumpulan foraminifera primer, yaitu Quinqueloculina dan Pseudorotalia yang dipengaruhi oleh substrat dan salinitas. Lingkungan neritik luar dicirikan oleh substrat lanau dengan kumpulan foraminifera primer yaitu Brizalina aenariensis, Gyroidina broeckhiana, dan Cibicides sp. yang dipengaruhi oleh kadar oksigen dan turbidity. Lingkungan batial atas dicirikan oleh substrat lanau dengan kumpulan foraminifera primer, yaitu Bulimina marginata, Uvigerina asperula, Rectobolivina bifrons, Eponides sp., Hyalinea bhaltica, Bolivinita quadrilatera, Dentalina sp., Brizalina robusta, Lenticulina calcar, Cassidulina sp., dan Heterolepa praecincta yang dipengaruhi oleh kadar oksigen dan kedalaman. Sementara lingkungan batial bawah dicirikan oleh substrat lanau dengan kumpulan foraminifera primer antara lain Lenticulina orbicularis, Uvigerina peregrina, Anomalina colligera, Globobulimina pacifica, Uvigerina sp. yang dipengaruhi oleh kedalaman dan kadar oksigen. Berdasarkan analisis P/B ratio, persentase foraminifera planktonik semakin meningkat seiring bertambahnya kedalaman dari nilai 0% pada lingkungan transisi hingga nilai tertingginya 96,63% pada lingkungan batial bawah. Diversitas foraminifera bentonik juga meningkat dari lingkungan transisi (10-16 spesies) hingga neritik tengah (27-46 spesies), tetapi kemudian menurun di lingkungan yang lebih dalam (6-40 spesies), sementara diversitas foraminifera planktonik terus meningkat seiring bertambahnya kedalaman, dari hanya 1 spesies pada lingkungan transisi hingga mencapai 23 spesies pada lingkungan batial bawah. Berdasarkan hal tersebut, terdapat faktor lingkungan mempengaruhi distribusi foraminifera, seperti kedalaman, tipe substrat, salinitas, turbidity dan kadar oksigen.

2025
👤 Penulis: Ria Fitriany
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Statistik

ANALISIS INTEGRITAS SISTEM PERPIPAAN FASILITAS HULU DENGAN METODE STATISTIK API 574 DAN MACHINE LEARNING

Industri minyak dan gas memiliki peran strategis dalam menjamin keberlanjutan pasokan energi global. Untuk menjaga keandalan dan kinerja produksi, seluruh peralatan, termasuk sistem perpipaan pada fasilitas hulu, harus dipelihara secara optimal. Salah satu tantangan utama dalam pemeliharaan peralatan tersebut adalah banyaknya sistem yang telah berumur, dengan keterbatasan data hasil inspeksi, bahkan beberapa di antaranya belum pernah diinspeksi sama sekali. Untuk mengatasi permasalahan ini, digunakan pendekatan berbasis data melalui metode statistika dan machine learning guna memperkirakan kondisi peralatan secara lebih menyeluruh dan representatif. Tugas sarjana ini berfokus pada analisis integritas sistem perpipaan berumur yang memiliki keterbatasan data hasil inspeksi. Analisis integritas mencakup evaluasi statistik berdasarkan API 574 untuk mengestimasi kondisi keseluruhan sistem perpipaan, estimasi umur sisa sesuai API 570, dan penilaian kekuatan sisa menggunakan metode ASME B31.G, dengan dasar data pengukuran ketebalan pipa. Pengembangan model machine learning dilakukan untuk mengelompokkan sirkuit korosi serta memprediksi laju korosi, menggunakan data ketebalan, karakteristik fluida, dan spesifikasi sistem perpipaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat tujuh sistem perpipaan yang tidak memenuhi batas ketebalan minimum dan memerlukan tindakan perbaikan atau penggantian. Umur sisa sistem perpipaan yang masih memenuhi syarat berkisar antara 0,14 hingga 1161 tahun. Analisis statistik menunjukan sebanyak 25 sistem perpipaan teridentifikasi berpotensi mengalami korosi lokal. Model pengelompokan korosi menghasilkan nilai silhouette score sebesar 0,87, sementara model prediksi laju korosi menunjukkan performa dengan nilai root mean squared error sebesar 0,249, mean absolute error sebesar 0,179, dan R-squared sebesar 0,03.

2025
👤 Penulis: Daffa Fatih Rafi Andwiqi
🏷️ Analisis Statistik 🏷️ Machine Learning 🏷️ Perpipaan Fasilitas Hulu
Halaman 1 dari 2
💬