📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 91 dokumen

METODE PENILAIAN CEPAT UNTUK EVALUASI KONSTRUKSI CONFINED MASONRY

Dinding bata terkekang merupakan elemen yang banyak digunakan pada rumah sederhana di Indonesia. Meskipun elemen mampu memikul beban lateral akibat gempa, kenyataannya di lapangan dinding kerap menunjukkan tingkat kerusakan yang cukup tinggi setiap kali terjadi gempa, karena seringkali dianggap sebagai elemen non-struktural, dan tidak didesain sesuai standar. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memeriksa kapasitas adalah dengan membuat model rumah dengan dinding yang akan dibangun. Namun, keterbatasan waktu di lapangan membuat analisis model rumah kurang efektif. Hal ini membuat diperlukannya metode penilaian cepat yang dapat digunakan di lapangan, umumnya perhitungan dengan excel. Akan tetapi, metode ini juga mengalami masalah dimana perhitungan yang dilakukan di excel mengasumsikan bahwa dinding mencapai kapasitas maksimumnya bersamaan. Hal ini sangat jarang terjadi pada kondisi nyata, sehingga diperlukan suatu nilai pengali agar hasil analisis excel memperhitungkan kondisi nyata. Studi eksperimental pada penelitian ini meliputi 5 denah untuk rumah lantai 1 untuk merepresentasikan diafragma fleksibel dan rumah lantai 2 untuk merepresentasikan diafragma kaku dengan mutu bahan yang sama. Model dimodelkan dalam ETABS dengan dinding bata terkekang sebagai strut 1 arah dengan basis pemodelan yaitu equivalent truss model (ETM). Model backbone curve digunakan untuk analisis non-linear dalam bentuk pushover. Model backbone curve berupa kurva trilinear dengan tiga titik: crack, maksimum, dan ultimate. Hasil yang didapat dari pushover setiap spesimen dibandingkan dengan hasil perhitungan kapasitas ETABS, kemudian dilakukan distribusi normal. Hasil analisis menghasilkan nilai faktor efektivitas gabungan panel dinding untuk diafragma fleksibel adalah 0.9, dan 0.8 untuk diafragma kaku.

2026
👤 Penulis: Deven Christian Santoso
🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Kecerdasan Buatan Dalam Penelitian Teknik 🏷️ Hidrologi Struktural

ANALISIS KINERJA SEISMIK DAN INTEGRITAS LINING STACKED TWIN TUNNEL MRT JAKARTA DENGAN METODE PSEUDO-STATIS SNI 9366:2025

Terowongan ganda bertumpuk vertikal (stacked twin tunnel) pada Proyek MRT Jakarta Fase 2 (CP202) melintasi lapisan tanah lempung lunak berlapis yang rentan terhadap deformasi seismik, sehingga penelitian ini mengevaluasi kinerja seismik dan integritas struktural lining segmental terowongan menggunakan metode pseudo-statis berdasarkan SNI 9366:2025. Analisis dilakukan melalui pemodelan elemen hingga dua dimensi menggunakan PLAXIS 2D dengan model konstitutif Hardening Soil. Profil deformasi geser bebas ditentukan dari percepatan puncak batuan dasar yang diamplifikasi untuk kelas situs SE, dikonversi menjadi regangan geser maksimum per lapisan, dan diaplikasikan sebagai prescribed displacement pada batas lateral model untuk kondisi FEE dan SEE. Hasil menunjukkan Tunnel 2 pada lapisan lempung sangat lunak (AC1), dengan rasio fleksibilitas lebih kecil dari satu, jauh lebih sensitif terhadap beban seismik dibandingkan Tunnel 1 pada lapisan pasir padat, momen lentur Tunnel 2 meningkat hingga 400,8% pada SEE, sedangkan Tunnel 1 relatif stabil. Studi parametrik variasi tebal lining (250, 300, 350 mm) menunjukkan penambahan tebal lebih efektif mereduksi ovaling pada tanah lunak dibandingkan tanah kaku. Evaluasi integritas lining sesuai SNI 2847:2019, dengan ?=0,65 untuk statis dan FEE serta ?=1,0 untuk SEE, menunjukkan seluruh titik evaluasi berada dalam envelope kapasitas. Ratio tertinggi 0,95 (Tunnel 1, statis, springline) dan 0,82 (Tunnel 2, SEE, invert), mengkonfirmasi konfigurasi lining eksisting CP202 memadai memikul beban statis, surcharge, dan seismik pada segmen tinjauan.

2026
👤 Penulis: Farel Muhammad Afghani
🏷️ Seismologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Struktur

ANALISIS STRUKTUR \TEXTIT{WASH TANK} DENGAN KAPASITAS 80.574 BBL BERDASARKAN API 650 MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA

Tangki timbun merupakan komponen penting pada fasilitas produksi migas yang harus memiliki integritas struktur memadai agar dapat beroperasi secara aman dan andal. Wash tank berkapasitas 80.574 bbl yang menjadi objek penelitian ini telah beroperasi sejak tahun 2000 dan direncanakan untuk digunakan kembali. Seiring umur operasi yang telah melebihi 25 tahun, hasil inspeksi menunjukkan adanya kerusakan pada atap tangki. Selain itu, perubahan parameter pembebanan angin dan seismik yang mengacu pada standar dan data terkini perlu dipertimbangkan dalam evaluasi struktur. Oleh karena itu, diperlukan analisis kondisi aktual wash tank untuk memastikan strukturnya masih memenuhi persyaratan API 650. Penelitian dilakukan menggunakan Metode Elemen Hingga (MEH) melalui perangkat lunak Abaqus. Model struktur dibangun berdasarkan data geometri, material, dan kondisi aktual tangki, kemudian diberikan berbagai kombinasi pembebanan sesuai API 650 yang meliputi beban mati, tekanan internal dan eksternal, tekanan hidrostatis, beban fluida tersimpan, beban uji hidrostatis, beban hidup atap, beban angin, serta beban seismik. Beban angin dihitung berdasarkan kecepatan angin rata-rata di Provinsi Riau sebesar 24,33 m/s, sedangkan beban seismik dihitung menggunakan metode Jacobsen-Veletsos berdasarkan spektrum respons desain pada lokasi tangki. Hasil simulasi dianalisis berdasarkan distribusi tegangan Von Mises, lokasi tegangan maksimum, dan faktor keamanan, kemudian dibandingkan antara kondisi ideal dan kondisi aktual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerusakan berupa bukaan pada atap tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap respons struktur secara global. Tegangan Von Mises maksimum sebesar 159,6 MPa terjadi pada kombinasi pembebanan seismik dengan faktor keamanan minimum sebesar 1,002, sehingga seluruh tegangan masih berada di bawah tegangan izin 160 MPa menurut API 650. Dengan demikian, struktur wash tank dinyatakan masih layak dan aman dioperasikan dari aspek kekuatan struktur. Meskipun demikian, perbaikan pada bukaan atap tetap diperlukan untuk mencegah kontaminasi fluida dan perkembangan korosi yang dapat menurunkan integritas struktur dalam jangka panjang.

2026
👤 Penulis: Nadhifa Tsaniyah Adira
🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Wash Tank Migas 🏷️ Metode Elemen Hingga

ANALISIS DAN PERANCANGAN FONDASI MUDMAT LINGKARAN TAHAP PRE-SERVICE PADA STRUKTUR JACKET TIGA KAKI MENGGUNAKAN PENDEKATAN FAILURE ENVELOPE

abstrak bisa dilihat di filenya:

2026
👤 Penulis: Wahyu Rezi Febrian
🏷️ Geoteknik 🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Mudmat Lingkaran

ANALISIS IN-PLACE DAN FATIGUE PADA ANJUNGAN LEPAS PANTAI TETAP 4 KAKI DI REPUBLIK ANGOLA, AFRIKA SELATAN

Terdapat beberapa hal yang memengaruhi perancangan struktur anjungan lepas pantai tetap, di antaranya: kondisi beban lingkungan, batimetri, target kapasitas produksi, dan aspek geoteknik setempat. Beban lingkungan, dalam hal ini adalah gelombang, secara fundamental bersifat dinamik, yang jika diinteraksikan dengan struktur anjungan lepas pantai di laut dangkal akan memicu fenomena fatik. Studi ini hendak merancang struktur anjungan lepas pantai tetap di Republik Angola dan membandingkan karakteristik fatik strukturnya terhadap beban lingkungan yang ada di Indonesia. Analisis in-place akan dilakukan terhadap suatu model numerik struktur anjungan lepas pantai tetap tipe jacket 4 kaki menggunakan perangkat lunak Bentley SACS v.12. Konfigurasi bracing yang digunakan adalah tipe diagonal bracing. Elevasi dasar laut dangkal tipikal yang digunakan adalah 48.77 m dari mean low water (MLW). Elevasi dek terendah, sub-cellar deck, sebesar 7.89 m dari MLW. Struktur didesain menggunakan metode working stress design (WSD), mengacu kepada API RP2A-WSD 22nd Edition untuk umur rencana 30 tahun pada kondisi operating dan storm. Material baja yang digunakan adalah ASTM A572 Gr. 60 untuk penampang wide flange dan API 5L X52 untuk penampang tubular. Pemeriksaan analisis in-place dilakukan terhadap beberapa kriteria perancangan, yaitu: unity check (UC) ratio elemen struktural, faktor keamanan daya dukung aksial tanah, serta defleksi tiang pancang di dasar laut dan defleksi relatif dek. Hasil perancangan terhadap beban lingkungan di Republik Angola menunjukkan bahwa seluruh elemen struktural telah memadai. UC ratio terbesar untuk penampang wide flange, jacket tubular, bracing tubular, dan tiang pancang tubular secara berturut-turut adalah 0.99, 0.16, 0.79, dan 0.39. Defleksi dek untuk kondisi storm adalah 5.13 cm, memenuhi batas yang dipersyaratkan oleh basis perancangan, yaitu: 39.18 cm. Komparasi fenomena fatik di kedua negara menunjukkan bahwa secara umum, umur rencana fatik sambungan tubular di Republik Angola lebih kecil. Untuk sambungan JA12 (sambungan jacket-bracing di bawah splash zone), umur rencana fatik untuk Republik Angola dan Indonesia secara berturut-turut adalah 72.7 ribu tahun dan 1.10 juta tahun. Tren ini ditemui pada 10 dari 15 sambungan jacket-bracing lainnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa karakteristik beban gelombang Republik Angola dengan periode panjang lebih memicu fluktuasi lonjakan tegangan pada sambungan tubular sehingga menghasilkan umur rencana fatik yang lebih buruk.

2026
👤 Penulis: Melvina Dwi Tamara
🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Geoteknik Setempat 🏷️ Hidrologi

EVALUASI KINERJA SEISMIK SPECIAL TRUSS MOMENT FRAME (STMF) PADA SUMBU KUAT KOLOM DENGAN VARIASI JUMLAH INTERMEDIATE VERTICAL MEMBER (IVM)

Special Truss Moment Frame (STMF) merupakan sistem rangka baja tahan gempa yang memanfaatkan pelelehan elemen fuse pada special segment sebagai mekanisme disipasi energi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penambahan Intermediate Vertical Member (IVM) terhadap kinerja seismik sistem STMF. Objek penelitian berupa bangunan baja tiga lantai yang dimodelkan menggunakan ETABS dengan empat variasi jumlah IVM, yaitu 0, 1, 2, dan 3 buah pada setiap special segment. Perencanaan struktur mengacu pada SNI 1729:2020, SNI 1726:2019, SNI 7860:2020, dan AISC 341-16. Evaluasi kinerja dilakukan melalui analisis pushover dengan metode displacement control. Perilaku nonlinier dimodelkan menggunakan plastic hinge yang didefinisikan secara manual berdasarkan kurva backbone mengacu pada ASCE 41-17. Parameter yang dievaluasi meliputi kekakuan awal, kapasitas geser dasar, daktilitas, distribusi sendi plastis, dan mekanisme keruntuhan struktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan IVM meningkatkan kekakuan awal dan kapasitas lateral struktur hingga mencapai konfigurasi optimum. Variasi dengan dua IVM memberikan kinerja terbaik karena menghasilkan kapasitas dan daktilitas tertinggi serta mekanisme redistribusi gaya yang lebih efektif. Sebaliknya, penambahan tiga IVM menyebabkan penurunan daktilitas akibat meningkatnya kekakuan special segment sehingga kemampuan rotasi plastis elemen fuse berkurang. Analisis pushover juga menunjukkan bahwa distribusi kekakuan struktur menyebabkan sendi plastis pada beberapa kasus terbentuk lebih dahulu pada elemen chord luar lantai dasar sebelum mekanisme pelelehan pada elemen fuse berkembang secara optimal. Dengan demikian, diperlukan jumlah IVM yang optimum untuk memperoleh keseimbangan antara kekakuan, kapasitas, dan daktilitas sistem STMF.

2026
👤 Penulis: Para Wahyu Sovana
🏷️ Seismika Baja 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Struktur

ANALISIS PERILAKU SAMBUNGAN BAJA DENGAN SISTEM MERO PADA STRUKTUR SPACE FRAME MELALUI PENDEKATAN ELEMEN HINGGA

Sambungan MERO biasanya digunakan pada konstruksi baja dengan bentuk space frames, hanya saja efek sambungan pada saat proses analisis struktur masih sering diabaikan. Untuk mencari hasil yang lebih realistis, efek sambungan harus dipertimbangkan pada saat melakukan desain analisa struktur. Perilaku sambungan MERO tergolong kompleks, hal ini dikarenakan sambungan ini terdiri dari beberapa bagian dengan properti material yang berbeda. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perilaku sambungan MERO yang kompleks tersebut dengan metode elemen hingga. Analisis awal adalah dengan melakukan validasi desain dan perilaku sambungan terhadap studi eksperimental terdahulu. Dari studi terdahulu didapatkan bahwasanya saat sambungan dikenakan pembebanan tarik, bagian bolt yang berperan aktif, sedangkan saat sambungan dikenakan pembebanan tekan, bagian sleeve yang berperan aktif. Hal ini berkaitan dengan pola distribusi beban sambungan dan mode keruntuhan yang dihasilkan. Pada saat pembebanan tekan, mode keruntuhan yang cenderung muncul adalah deformasi pada bagian sleeve. Sedangkan pada saat pembebanan tarik, mode keruntuhan yang muncul adalah necking pada bagian bolt. Namun pada salah satu spesimen, terdapat mode keruntuhan yang tidak diinginkan, yaitu retak pada bagian ball node pada saat kondisi pembebanan tekan. Pada penelitian ini dibuat variasi diameter bolt dan sleeve pada sambungan MERO untuk meninjau perilaku sambungan yang didasarkan pada hasil kurva load displacement beserta mode keruntuhannya. Hasil analisis menunjukkan bahwasanya variasi diameter sleeve dan bolt berpengaruh signifikan terhadap perilaku sambungan saat ditinjau dari kurva load displacement dan mode keruntuhan yang dihasilkan. Diameter sleeve dan bolt yang lebih besar pada sambungan memberikan peningkatan pada nilai kekakuan awal dan beban maksimum sambungan yang dihasilkan seiring bertambahnya luas penampang pada bagian tersebut. Untuk mengatasi mode keruntuhan yang tidak diinginkan maka dilakukan modifikasi properti material, dengan mengubah material ball node menjadi sama dengan properti material sleeve, dan modifikasi geometri, dengan mengurangi jumlah lubang pada ball node. Hasil analisis menunjukkan bahwasanya kedua modifikasi ini dapat mengubah mode keruntuhan yang semula berupa deformasi pada ball node menjadi deformasi pada sleeve. Modifikasi geometri yang dilakukan bahkan dapat meningkatkan nilai kekakuan awal sambungan sebanyak 49,16% dan nilai beban maksimum sebanyak 45,43%.

2026
👤 Penulis: Asananda Insan Hakim
🏷️ Struktur Space Frame 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Struktur

STUDI LAPANGAN DAN NUMERIK RESPON LATERAL FONDASI TIANG BOR PADA ABUTMEN JEMBATAN AKIBAT PEMBEBANAN TIMBUNAN BERTAHAP DI SEKITARNYA

Konstruksi abutmen jembatan di atas tanah lunak menghadirkan tantangan geoteknik yang signifikan, terutama ketika pekerjaan fondasi dan penimbunan dilakukan secara bersamaan. Umumnya penyelesaian soil improvement dan peningkatan stabilitas oprit terlebih dahulu lebih disukai. Namun dalam kenyataannya pekerjaan konstruksi timbunan & struktur abutment seringkali beriringan. Keberiringan pekerjaan penimbunan dan fondasi dapat menyebabkan akumulasi tegangan lateral yang signifikan, yang mengubah fungsi utama tiang dari penyalur beban aksial menjadi elemen penahan gaya lateral yang tidak direncanakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons lateral fondasi tiang bor yang mengalami penimbunan bertahap disertai pengaruh Pre-fabricated Vertical Drain (PVD) di sekitar tiang serta adanya kontribusi dari lapisan penyangga (buffer layer) yang dipadatkan. Instrumentasi lapangan seperti inklinometer dan settlement plate, digunakan untuk mengamati perilaku tanah dan tiang yang telah terpasang di lapangan. Setelah dilakukan analisis back-calculation terhadap kondisi lapangan aktual menggunakan data monitoring instrumentasi lapangan, dilakukan studi parametrik dengan memvariasikan jarak timbunan, ketebalan lapisan penyangga, dan spasi antar-PVD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memperluas pemasangan PVD hingga dekat dengan tiang bor memberikan pengurangan yang signifikan terhadap deformasi lateral dan gaya dalam fondasi, yang efektivitasnya semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jarak timbunan, menebalnya lapisan penyangga, dan semakin rapatnya jarak antar-PVD. Temuan ini berkontribusi pada peningkatan pemahaman interaksi tanah–struktur pada kondisi pembebanan bertahap, serta memberikan gambaran efektivitas pemanfaatan PVD dan peranan lapisan penyangga dalam kasus penimbunan bertahap di sekitar tiang fondasi eksisting.

2026
👤 Penulis: Naufal Akhthariyan
🏷️ Geoteknik 🏷️ Penyelenggaraan Jalan Raya 🏷️ Analisis Struktur

PENGEMBANGAN KURVA FRAGILITAS ANALITIK BANGUNAN HUNIAN TERHADAP BAHAYA LAHAR DAN JATUHAN TEFRA

Bahaya sekunder vulkanik berupa aliran lahar dan jatuhan tefra tercatat sebagai salah satu penyebab utama kerusakan bangunan hunian non-engineered di Indonesia. Sayangnya, fungsi kerentanan (fragility function) yang secara spesifik memodelkan respons struktur terhadap beban tersebut masih sangat terbatas. Penelitian ini mengembangkan kurva fragilitas analitik untuk lima tipologi dinding dan atap nonengineered (Unconfined Masonry, Confined Masonry, RC Infill Wall, rangka kayu, dan rangka baja ringan) menggunakan formulasi mekanika struktur yang diintegrasikan dengan Simulasi Monte Carlo (N=10.000). Hasil analisis menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas akibat pemendekan bentang mengikuti orde yang berbeda-beda tiap tipologi—mendekati kuadratik pada elemen kayu, lebih tajam pada RC Infill Wall (?1/L^2,5), namun mendekati linear pada Confined Masonry dan sambungan baja ringan—sehingga manfaat reduksi geometri tidak dapat digeneralisasi. Berdasarkan probabilitas keruntuhan 50%, Unconfined Masonry merupakan tipologi paling rentan terhadap lahar (0,66 m/s), diikuti dinding kayu (0,73 m/s), Confined Masonry (1,32 m/s), dan RC Infill Wall (1,66 m/s); sementara rangka atap kayu dan baja ringan memiliki ambang ketebalan tefra basah masing-masing 8,45 cm dan 9,5 cm. Evaluasi dispersi kurva turut menunjukkan bahwa Unconfined Masonry memiliki kurva paling curam (konsisten dengan sifat getas tanpa elemen pengekang), sedangkan Confined Masonry dan RC Infill Wall menghasilkan kurva lebih landai yang mencerminkan cadangan kapasitas dari mekanisme lentur dua arah dan efek busur. Temuan ini menegaskan bahwa evaluasi kerentanan bangunan non-engineered perlu mempertimbangkan lebar dispersi, tidak hanya kapasitas median, dalam penetapan strategi mitigasi bencana vulkanik.

2026
👤 Penulis: Adrian Kevin Seloaji
🏷️ Vulkanologi 🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Manajemen Risiko Bencana

PERANCANGAN STRUKTUR PEMECAH GELOMBANG PADA PENGEMBANGAN KOLAM D PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA CILACAP

Pengembangan Kolam D Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap membutuhkan kondisi perairan yang terlindungi untuk mendukung aktivitas operasional pelabuhan. Pengaruh gelombang yang masuk ke area kolam dapat mengganggu keamanan kapal serta kegiatan tambat dan bongkar muat, sehingga diperlukan struktur pemecah gelombang sebagai bangunan pelindung. Studi ini bertujuan untuk menganalisis kondisi hidrodinamika kawasan PPS Cilacap sebagai dasar dalam mengevaluasi efektivitas layout breakwater yang direncanakan oleh PT. Haskoning Indonesia dalam mereduksi pengaruh gelombang pada area Kolam D. Analisis distribusi gelombang dilakukan melalui pemodelan hidrodinamika menggunakan Delft3D pada kondisi eksisting dan setelah adanya penambahan struktur breakwater. Hasil pemodelan digunakan sebagai dasar perencanaan struktur pemecah gelombang tipe rubble mound serta analisis stabilitas daya dukung tanah terhadap struktur yang direncakan. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa tinggi gelombang maksimum pada kondisi eksisting sebesar 2.638 m dari arah timur. Setelah penambahan breakwater, tinggi gelombang pada area terlindungi berkurang menjadi 0.049–0.456 m. Struktur yang direncanakan memiliki panjang 1.450 m, elevasi puncak +5.5 m, lebar puncak 3.48 m, tinggi 11.5 m, dan kemiringan 1:2. Analisis stabilitas daya dukung tanah menghasilkan nilai faktor keamanan sebesar 4.65 sehingga struktur memenuhi kriteria keamanan perencanaan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa layout breakwater efektif dalam mereduksi gelombang dan memberikan perlindungan terhadap area Kolam D PPS Cilacap.

2026
👤 Penulis: Fina Rahmawati Fadhilla
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Struktur

ANALISIS PERKUATAN MINIPILE SEBAGAI RIGID INCLUSION UNTUK TIMBUNAN AREA HOPPER DI ATAS TANAH LUNAK PADA PROYEK PERTAMBANGAN BATUBARA DI KALIMANTAN

Area Hopper pada proyek pertambangan batubara berfungsi sebagai titik transfer material batubara menuju struktur hopper, yang mensyaratkan jalan akses dengan elevasi lebih tinggi agar muatan dapat dituang secara gravitasi. Konstruksi timbunan tersebut perlu dibangun di atas lapisan tanah lunak setebal 5 meter yang berpotensi mengalami masalah stabilitas dan penurunan berlebih. Penelitian ini menganalisis sistem perkuatan berupa minipile sebagai rigid inclusion yang dikombinasikan dengan LTP dan MSE Wall untuk mengatasi permasalahan tersebut. Analisis dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu perhitungan analitik menggunakan metode Adapted Terzaghi dan Hewlett & Randolph, serta pemodelan numerik menggunakan PLAXIS 2D dengan model konstitutif Hardening Soil dan Soft Soil, yang dikalibrasi melalui pendekatan aksisimetri sebelum diterapkan pada model plane strain aktual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkuatan minipile–LTP meningkatkan faktor keamanan stabilitas global timbunan dari kondisi tidak aman (SF<1) menjadi SF=1,201 pada fase operasional dan SF=1,843 pasca konsolidasi jangka panjang, disertai reduksi penurunan diferensial secara signifikan dibandingkan zona tanpa perkuatan. Fenomena soil arching effect pada LTP berhasil dibuktikan melalui nilai SRR yang berada di bawah 1 pada ketiga pendekatan (PLAXIS2D dan Hewlett & Randolph = 0,20; Adapted Terzaghi = 0,17), didukung visualisasi trajektori tegangan utama yang melengkung menuju kepala tiang. Distribusi gaya aksial pada minipile juga mengonfirmasi mekanisme transfer beban tersebut, ditandai oleh peralihan negative skin friction menjadi positive skin friction pada neutral point yang letaknya bervariasi mengikuti kekakuan lapisan tanah di sekitar tiang. Penelitian ini juga membuktikan bahwa peningkatan ?' LTP dan pengurangan spasi minipile akan menurunkan tegangan yang dialami tanah di antara tiang, serta membuktikan bahwa keberadaan lapisan stiff clay alami di atas soft clay dapat mereduksi kebutuhan tebal & ?' LTP yang disyaratkan. Selain itu, penggunaan geotekstil spesifikasi standar dapat diterapkan tanpa perlu menggunakan spesifikasi tinggi.

2026
👤 Penulis: Daffa Airiel Ahnaf
🏷️ Konsolidasi Tanah 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Struktur

PERANCANGAN PONDASI DALAM PADA REDESAIN PASAR KIARACONDONG

Pasar yang sukses adalah pasar yang ramai oleh aktivitas sosial dan ekonomi. Hal tersebut dapat ditandai dengan tersedianya ruang ruang yang nyaman, akses yang mudah, dan menjadi wadah aktivitas kegiatan sosiokultural. Redesain Pasar Kiaracondong merupakan pasar tiga lantai dengan elevasi maksimum 11m yang difungsikan sebagai pasar dan juga ruang terbuka publik. Desain pembangunan redesain Pasar Kiaracondong terdiri dari struktur gedung pasar utama. Tugas akhir ini memiliki tujuan untuk merancang sistem pondasi yang dapat memikul beban struktur atas. Perencanaan desain pondasi bertujuan untuk menentukan struktur yang dapat mengalirkan beban dari struktur atas ke tanah. Pondasi yang digunakan untuk gedung pasar adalah spun pile dengan tujuan untuk mengantisipasi gangguan suara, vibrasi, dan kerusakan struktural di area sekitar lokasi proyek. Spun pile dengan diameter 600mm dan panjang 22m meter dianalisis dari segi kekuatan menahan beban struktur atas serta penurunan yang terjadi. Analisis dilakukan dengan perhitungan manual dengan bantuan software ETABS, LPILE, dan Ensoft GROUP. Perancangan tulangan struktur bawah bertujuan untuk memastikan elemen struktur bawah mampu menahan beban dari struktur atas agar dapat mengalirkan beban ke tanah. tulangan yang dirancang diantaranya penulangan pile cap dan pile head treatment. Pile head treatment merupakan proses penyatuan antara spun pile dan pile cap agar menjadi satu komponen struktural yang homogen.

2026
👤 Penulis: Fauzan Rajal Azzami
🏷️ Konstruksi 🏷️ Pondasi 🏷️ Analisis Struktur

ANALISIS GAYA UJUNG DAN DEFLEKSI STRUKTUR PADA CONTOH KASUS STRUKTUR DOLPHIN TUBULAR MENGGUNAKAN METODE KEKAKUAN LANGSUNG BERBASIS MATLAB

Struktur dolphin tubular merupakan salah satu struktur lepas pantai yang berfungsi sebagai fasilitas tambat dan sandar kapal serta menerima beban lingkungan secara langsung, seperti beban gelombang dan arus. Beban tersebut dapat menyebabkan timbulnya gaya dalam dan defleksi yang harus diperhitungkan secara akurat agar struktur tetap memenuhi persyaratan keamanan. Analisis menggunakan metode kekakuan langsung banyak diterapkan dalam analisis struktur karena mampu merepresentasikan perilaku struktur melalui pendekatan matriks, namun perhitungan secara manual menjadi tidak efisien untuk struktur dengan jumlah elemen yang besar. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengembangkan program berbasis MATLAB yang mampu menghitung gaya ujung elemen dan defleksi struktur dolphin tubular menggunakan metode kekakuan langsung. Metode yang digunakan meliputi penyusunan matriks kekakuan elemen, matriks transformasi, matriks insiden, pembentukan matriks kekakuan global, perhitungan beban lingkungan akibat gelombang dan arus menggunakan Persamaan Morison, serta penyelesaian perpindahan nodal untuk memperoleh gaya ujung elemen dan defleksi struktur. Program yang dikembangkan divalidasi melalui beberapa kasus pembebanan dan dibandingkan dengan hasil analisis menggunakan perangkat lunak SACS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program MATLAB mampu memodelkan struktur ruang tiga dimensi, menghitung gaya ujung elemen akibat beban lingkungan, serta menentukan defleksi pada setiap joint yang memiliki derajat kebebasan. Perbandingan hasil dengan SACS menunjukkan adanya perbedaan nilai gaya ujung elemen akibat perbedaan pendekatan perhitungan beban gelombang, di mana SACS menggunakan integrasi sepanjang elemen dengan distribusi hiperbolik, sedangkan program MATLAB menggunakan penyederhanaan distribusi beban berbentuk trapesium. Meskipun demikian, pola distribusi gaya dan besaran hasil yang diperoleh masih berada dalam batas yang dapat diterima sehingga program MATLAB yang dikembangkan dapat dinyatakan tervalidasi secara numerik dan layak digunakan sebagai alat analisis struktur dolphin tubular berbasis metode kekakuan langsung.

2026
👤 Penulis: Harry Maulana Hafidz
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Hidrologi

STUDI PERILAKU DAMPAK TIMBUNAN DI ATAS TANAH LUNAK TERHADAP MOMEN DAN DEFORMASI GRUP TIANG FONDASI DI DEKATNYA: STUDI KASUS PROYEK JALAN TOL DI PESISIR UTARA JAWA

Pembangunan timbunan pada tanah lunak di dekat fondasi tiang dapat menyebabkan pergerakan lateral tanah yang menghasilkan tambahan momen lentur dan deformasi pada tiang. Keterbatasan lahan sering menyebabkan konstruksi baru dilakukan berdekatan dengan struktur yang telah ada. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh timbunan terhadap perilaku grup tiang fondasi, khususnya terhadap momen lentur dan deformasi lateral, dengan meninjau pengaruh jarak timbunan terhadap grup tiang, jenis sambungan kepala tiang, serta jenis elemen pemodelan tiang. Penelitian dilakukan menggunakan metode elemen hingga dengan perangkat lunak PLAXIS 2D berdasarkan studi kasus proyek jalan tol di pesisir utara Jawa yang dibangun di atas tanah lempung lunak jenuh. Pemodelan tanah menggunakan kombinasi model konstitutif Soft Soil Creep, Hardening Soil, dan Mohr-Coulomb. Variasi yang ditinjau meliputi jarak timbunan terhadap grup tiang sebesar 20 m, 40 m, 60 m, dan 100 m, jenis sambungan kepala tiang berupa rigid, hinged, dan free, serta pemodelan tiang menggunakan elemen embedded beam dan plate. Hasil analisis menunjukkan bahwa timbunan pada tanah lunak menghasilkan tekanan lateral yang menyebabkan peningkatan momen lentur dan deformasi lateral pada grup tiang. Semakin jauh jarak timbunan terhadap tiang, semakin kecil momen lentur dan deformasi lateral yang terjadi, dengan kecenderungan hubungan yang mendekati linier. Jenis sambungan kepala tiang memberikan pengaruh yang signifikan terhadap distribusi momen lentur, di mana sambungan rigid menghasilkan momen terbesar dibandingkan hinged dan free. Pemodelan tiang menggunakan elemen plate menghasilkan nilai momen lentur dan deformasi lateral yang lebih besar dibandingkan elemen embedded beam akibat perbedaan elemen kontinu dan diskontinu.

2026
👤 Penulis: Jonathan Christian Hartono
🏷️ Geotermal 🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Modeling Tekanan Tanah

EVALUASI DAN REHABILITASI SEISMIK BANGUNAN RUMAH SAKIT EKSISTING DENGAN FLUID VISCOUS DAMPER (FVD)

Sebuah struktur eksisting dengan fungsi struktur berupa rumah sakit dibangun berdasarkan SNI 1726:2002. Dalam kurun hampir 2 dekade setelah standar ini ditetapkan, semakin banyak sumber gempa baru yang ditemukan dan berdampak kepada perubahan pendekatan dalam mendesain struktur tahan gempa sehingga diperkenalkan standar terbaru yaitu SNI 1726:2019. Standar ini lebih mengedepankan keseragaman dalam tingkat risiko kegagalan struktur yang ketika menghadapi gempa maksimum yang mungkin terjadi. Struktur yang dibangun dengan peraturan lama perlu dilakukan suatu evaluasi dengan menggunakan standar terbaru untuk memastikan bahwa struktur masih memenuhi persyaratan keselamatan atau justru memerlukan rehabilitasi seismik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja dari struktur eksisting dengan fungsi rumah sakit yang terletak di Jakarta berdasarkan SNI 9273:2025 yang mengadopsi ASCE 41-17. Penelitian ini juga merancang strategi rehabilitasi seismik yang tepat dengan menggunakan SNI 9273:2012 untuk meningkatkan ketahanan gedung terhadap gempa. Analisis awal adalah dengan melakukan verifikasi desain dengan menggunakan metode prosedur statik linier dengan menggunakan beban gempa SNI 1726:2002. Hasil analisis menunjukkan bahwa struktur eksisting yang didesain dengan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) justru tidak memenuhi kaidah strong column weak beam (SCWB) dan sebanyak 80 joint balok kolom mengalami kegagalan gaya geser joint. Struktur ini kemudian dilakukan analisis lebih lanjut dengan menggunakan metode prosedur dinamik nonlinier dengan beban gempa dengan periode ulang 225 tahun (BSE-1E) dan periode ulang 975 tahun (BSE-2E). Hasil analisis ini, walaupun secara simpangan antartingkat sudah memenuhi persyaratan dimana batas maksimum yang diizinkan adalah 2%, akan tetapi terdapat sendi plastis yang terbentuk mengalami level kinerja yang melebihi level yang diizinkan. Level kinerja sendi plastis yang diizinkan pada struktur dengan fungsi rumah sakit ketika dibebani beban gempa BSE-1E adalah Immediate Occupancy sedangkan untuk beban gempa BSE-2E adalah Life Safety. Struktur eksisting yang dibebani beban gempa BSE-1E masih terdapat elemen sendi plastis yang berada pada level Damage Control, sedangkan struktur eksisting yang dibebani beban gempa BSE-2E masih terdapat elemen sendi plastis yang berada pada level Collapse Prevention. Sendi plastis tidak hanya terbentuk pada elemen balok, namun juga terjadi pada elemen kolom. Sendi plastis yang terbentuk pada elemen kolom terjadi tak hanya pada dasar kolom lantai 1, melainkan juga terjadi pada ujung kolom atas lantai 1, dan kolom di lantai 2 dan 3. Hal ini mengindikasikan terjadinya column sway mechanism yang seharusnya dihindari dalam mekanisme kegagalan struktur. Untuk mengatasi defisiensi struktur yang ditemukan, dilakukan strategi rehabilitasi seismik menggunakan Fluid Viscous Damper (FVD). Metode ini dipilih karena perangkat damper pada umumnya mampu berfungsi sebagai pendisipasi energi tambahan pada struktur sehingga dapat mengurangi gaya dan deformasi yang terjadi pada struktur ketika mengalami gempa. Hasil analisis prosedur dinamik nonlinier menunjukkan bahwa penambahan FVD pada struktur eksisting sangat efektif dalam mendisipasi energi dalam mengalami beban gempa. Level kinerja sendi plastis baik pada struktur dengan beban gempa BSE-1E maupun BSE-2E berada pada level kinerja yang diizinkan. Pembentukan sendi plastis yang terjadi pada kolom hanya terjadi pada kolom lantai 1. FVD yang dipasang pada struktur mampu mendisipasi energi sebanyak 68.89% pada beban gempa BSE-1E dan 63.81% pada gempa BSE-2E. Hasil ini memastikan bahwa struktur eksisting yang telah dipasang FVD telah memenuhi kriteria penerimaan yang ditetapkan berdasarkan SNI 9273:2025 sehingga lebih aman dalam menghadapi gempa yang akan datang.

2026
👤 Penulis: Muhammad Thirafi
🏷️ Seismik 🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Rehabilitasi Seismik
Halaman 1 dari 7
💬