📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 11 dokumen

DELINEASI STRUKTUR KECEPATAN GELOMBANG GESER (VS) BAWAH PERMUKAAN SESAR LEMBANG BAGIAN BARAT MENGGUNAKAN AMBIENT NOISE TOMOGRAPHY

Sesar Lembang merupakan salah satu sesar aktif di Jawa Barat sehingga informasi mengenai kondisi bawah permukaannya diperlukan untuk mendukung kajian struktur geologi dan bahaya seismik. Penelitian ini bertujuan mendelineasi distribusi kecepatan gelombang geser (Vs) bawah permukaan pada bagian barat Sesar Lembang menggunakan metode Ambient Noise Tomography (ANT). Data yang digunakan berupa rekaman ambient seismic noise selama 20 hari dari 10 stasiun seismometer broadband tiga komponen. Empirical Green's Function (EGF) diperoleh melalui proses cross-correlation komponen vertikal antar pasangan stasiun, kemudian dilakukan ekstraksi kurva dispersi kecepatan grup gelombang Rayleigh menggunakan metode Continuous Wavelet Transform (CWT). Kurva dispersi yang memenuhi kriteria kualitas selanjutnya diinversi menggunakan perangkat lunak DSurfTomo untuk memperoleh model tiga dimensi distribusi Vs bawah permukaan. Hasil inversi menunjukkan adanya heterogenitas kecepatan gelombang geser yang ditandai oleh berkembangnya zona anomali ?Vs negatif dan ?Vs positif. Zona ?Vs negatif berkembang relatif menerus pada bagian tengah daerah penelitian dan berasosiasi dengan jalur Sesar Lembang, sedangkan zona ?Vs positif umumnya berkembang di bagian utara dan selatan daerah penelitian. Hasil checkerboard test menunjukkan bahwa model memiliki resolusi yang memadai sehingga layak digunakan untuk interpretasi. Berdasarkan pola distribusi anomali tersebut, zona ?Vs negatif diinterpretasikan sebagai zona batuan yang mengalami deformasi di sekitar Sesar Lembang. Model distribusi Vs yang dihasilkan memberikan gambaran karakteristik bawah permukaan yang dapat dimanfaatkan sebagai informasi pendukung dalam kajian struktur geologi, karakterisasi zona sesar, serta evaluasi bahaya seismik di wilayah Bandung dan sekitarnya.

2026
👤 Penulis: Ahmad Fauzan
🏷️ Geofisis 🏷️ Tomografi Suara Ambien 🏷️ Analisis Struktur Geologi

PEMANFAATAN DATA GEOSPASIAL MULTI-SENSOR MULTI-RESOLUSI UNTUK INSPEKSI KERUSAKAN STUKTUR CAGAR BUDAYA DI INDONESIA

Cagar budaya (CB) merupakan warisan kebendaan bersejarah yang perlu dilestarikan karena fisiknya rentan rusak akibat berbagai faktor ancaman alam, terutama seismisitas. Kerusakan fisik berupa deformasi signifikan bagi keamanan struktur CB. Di Indonesia, pemantauan deformasi (aspek geometrik) yang terkait perubahan posisi, dimensi, dan orientasi CB telah dilakukan secara geospasial memakai berbagai sensor perekaman dan pengindraan. Namun, umumnya masih menganggap struktur CB hanya diwakili oleh beberapa titik pantau, sehingga tidak seluruh struktur CB terwakili. Sementara itu, CB itu morfologinya kompleks terus berpotensi rusak, maka perlu model struktur lengkap dan detail yang bisa dipakai berulang untuk mitigasi deformasinya secara kontinu. Finite Element Method (FEM) yang umum dipakai menyimulasikan respons deformasi kontinu suatu objek akibat gangguan eksternal diajukan menjadi basis solusi masalah ini. Adapun morfologi CB kompleks yang tidak bisa hanya ditangani satu sensor pengindraan, didekati dengan perekaman secara multi-sensor dan multi-resolusi agar lengkap dan detail. Penelitian ini membangun suatu model FEM re-usable yang geometri masukannya berasal dari perekaman CB secara multi-sensor multi-resolusi (MSMR) untuk menyimulasikan deformasi kontinu CB akibat ancaman seismisitas. Penelitian ini memakai gugusan candi Prambanan yang kompleks sebagai studi kasus. Pada tahap awal, Suatu skema perekaman MS-MR, yang direfleksikan dari atribut desain arsitekturnya, diterapkan untuk memperoleh morfologi candi yang lengkap dan detail. Proses tersebut melibatkan penyiaman dengan sensor fotogrametri dan LiDAR multi-moda multi-platform dipakai. Lalu, hasil berupa point-clouds dikonversikan langsung, tanpa representasi permukaan perantara, menjadi model FE yang siap pakai dengan algoritma Cloud2FEM termodifikasi. Kemudian, suatu simulasi FEM secara statik dan dinamik dilakukan untuk mengetahui efek ancaman seismisitas sesaat dan seimsisitas runut waktu terhadap candi. Seismisitas runut waktu (time-history) yang disimulasikan adalah gempa Yogyakarta 2006 yang sangat destruktif terhadap candi. Akibat ketiadaan rekaman seismik di dekat episentrum, maka diterapkan empat skenario input berdasarkan gempa termirip, sintetik #1, artifisial, dan sintetik #2. Hasil respons deformasi iii dinyatakan dengan nilai displacement, strain, dan stress pada seluruh struktur. Keseluruhan proses dari penyiaman hingga ke simulasi FEM ini disebut scan-to-FEM. Terakhir, dilakukan identifikasi titik rentan rusak, analisis dan validasi hasil. Hasil menunjukkan bahwa perekaman MS-MR menghasilkan geometrik candi yang lengkap, akurat, dan presisi. Skema MS-MR refleksi atribut desain candi memberikan pendekatan perekaman data yang terstruktur, sehingga penggabungan data point-clouds menjadi lebih rasional dan terstruktur pula urutannya. Sementara itu, hasil konversi point-clouds ke model FE (volumetric mesh) sukses dilakukan. Efektivitas konversinya berhubungan dengan kelengkapan, jumlah, dan distribusi dari point-clouds di tiap subset potongan horizontal planimetrik yang dibentuk. Cloud2FEM ini tidak sepenuhnya otomatis, karena intervensi operator tetap dibutuhkan. Kemudian, hasil simulasi seismisitas statik sesaat dari FEM menunjukkan bahwa respons deformasi dari candi menunjukkan respons yang sesuai dengan perilaku deformasi hipotetiknya. Titik dengan potensi kerusakan yang tinggi letaknya sesuai dengan sampel kerusakan aktualnya, yaitu di bagian puncak candi dan pertemuan batu Ratna atap dengan atapnya. Factor-of-safety (FoS) dari respons stress candi menunjukkan nilai > 1, atau level aman. Selain itu, hasil simulasi seismisitas dinamis dari FEM, diketahui bahwa tiga titik rawan rusak konsisten terdeteksi rusak pada pertemuan batu Ratna dengan bagian atap candi, dan di door jamb sisi kanan candi. Tiga dari empat skenario input seismisitas menunjukkan bahwa dua titik rawan (node 1298620 dan 1230199) terindikasi fraktur. Dua skenario terkonfirmasi sejalan dengan penelitian sebelumnya yang memakai input seismisitas sama. Letak titik-titik rawan secara umum sejalan dengan laporan kerusakan aktual akibat gempa Yogyakarta 2006. Dengan demikian, model FE yang dibangun dapat disimpulkan mampu memberikan respons deformasi yang seharusnya. Hal ini akan bermanfaat dalam memberikan masukan dalam intervensi pelestarian cagar budaya, khususnya pada Candi Prambanan.

2026
👤 Penulis: Anindya Sricandra Prasidya
🏷️ Geospasial 🏷️ Analisis Struktur Geologi 🏷️ Metode Finite Element

INTEGRASI DATA WGM DAN MEKANISME FOKUS UNTUK IDENTIFIKASI SESAR AKTIF ZONA TEKTONIK TELUK TOMINI

Teluk Tomini merupakan bagian dari sistem tektonik kompleks di Indonesia Timur yang dipengaruhi oleh interaksi blok mikro Sulawesi dan sistem subduksi ganda Laut Maluku. Studi terkini menunjukkan bahwa wilayah ini dikontrol oleh deformasi kerak dangkal dan proses penunjaman slab dalam, namun integrasi antara data gravitasi dan parameter kinematik gempa untuk delineasi struktur aktif masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mengkarakterisasi struktur sesar aktif di Teluk Tomini melalui integrasi analisis anomali gravitasi dan inversi moment tensor, serta mengestimasi potensi magnitudo maksimum berdasarkan segmentasi sesar. Metode yang digunakan meliputi pemisahan anomali regional dan residual menggunakan analisis spektral radial, ekstraksi lineament melalui Total Horizontal Gradient (THG) dan Fast Sigmoid Edge Detection (FSED), analisis statistik orientasi menggunakan diagram rose, serta interpretasi parameter strike, dip, dan rake dari data inversi moment tensor. Estimasi magnitudo maksimum dilakukan menggunakan persamaan empiris berbasis panjang rupture bawah permukaan (RLD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode gravitasi efektif dalam mengidentifikasi batas struktur dan orientasi sesar pada zona kerak dangkal (Poso, Tinombo, Gorontalo, dan Luwuk), sedangkan pada zona timur (Una-una, Sangihe I, dan Sangihe II) pola residual kurang merepresentasikan struktur akibat dominasi gempa kedalaman menengah hingga dalam. Pada zona tersebut, tren anomali regional lebih konsisten dengan arah strike moment tensor, mengindikasikan kontrol kuat sistem Subduksi Sangihe yang menunjam dari timur ke barat. Estimasi magnitudo maksimum menunjukkan potensi kegempaan berkisar Mw 6,3–7,2. Secara keseluruhan, integrasi data gravitasi dan moment tensor mampu mengidentifikasi struktur aktif secara komprehensif dan mengonfirmasi Teluk Tomini sebagai zona tektonik aktif dan kompleks dengan sumber gempa multipel, baik dari sesar kerak dangkal maupun sistem subduksi regional.

2026
👤 Penulis: Afriansyah
🏷️ Tektonika 🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Struktur Geologi

PENGEMBANGAN DAN PENERAPAN METODE GRAVITY GRADIENT TENSOR UNTUK IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN: STUDI KASUS SESAR LEMBANG

Metode Gravity Gradient Tensor (GGT) merupakan pengembangan dari metode gayaberat yang memiliki resolusi lebih tinggi dalam mendeteksi variasi densitas bawah permukaan serta delineasi batas struktur geologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kemampuan komponen GGT dalam mendelineasi batas struktur serta mengembangkan metode deteksi tepi berbasis komponen horizontal GGT untuk meningkatkan ketelitian interpretasi struktur bawah permukaan. Metode yang dikembangkan dalam penelitian ini meliputi Modified Horizontal Curvature (MHC), Tilt Modified Horizontal Curvature (TMHC), dan Total Gradient of TMHC (TG-TMHC). Pengujian metode dilakukan menggunakan model sintetis untuk mengevaluasi sensitivitas dan ketelitian masing-masing atribut dalam mendeteksi batas kontras densitas. Hasil pengujian menunjukkan bahwa MHC mampu menonjolkan tren batas struktur secara umum, sementara TMHC memberikan respon yang lebih stabil dan kontinu melalui proses normalisasi berbasis sudut. Metode TG-TMHC menghasilkan respon tepi yang paling terlokalisasi dan tajam dengan mampu menekan efek latar belakang serta artefak di luar batas struktur. Analisis profil horizontal menunjukkan bahwa TG-TMHC memiliki ketelitian spasial paling tinggi dengan posisi puncak respon yang berada sekitar 0,3-0,5 km dari batas struktur sebenarnya serta lebar respon yang lebih sempit dibandingkan atribut lainnya. Metode yang dikembangkan kemudian diaplikasikan pada data anomali gayaberat di wilayah Sesar Lembang, Jawa Barat. Hasil analisis menunjukkan adanya struktur yang berkembang sejajar dengan arah Sesar Lembang di bagian utara jalur utama sesar yang diduga berkaitan dengan kontras densitas bawah permukaan serta aktivitas vulkanik kompleks Gunung Sunda- Tangkubanperahu. Namun demikian, jalur utama Sesar Lembang tidak teridentifikasi secara jelas pada hasil analisis, yang kemungkinan dipengaruhi oleh ketebalan endapan piroklastik serta keterbatasan resolusi data gayaberat yang digunakan.

2026
👤 Penulis: Izzuki Hamida
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Struktur Geologi 🏷️ Metode Gravity Gradient Tensor

PEMBUATAN SWELLING HAZARD POTENTIAL (SHP) RATING UNTUK TEROWONGAN BERDASARKAN ASPEK GEOLOGI DAN MINERALOGI

Deformasi akibat fenomena swelling pada penggalian terowongan di formasi batuan kaya lempung dan sulfat masih menjadi tantangan geoteknik yang krusial, khususnya pada massa batuan yang lemah dan telah mengalami pelapukan atau alterasi. Penelitian ini menyajikan kajian terpadu berbasis aspek geologi dan mineralogi untuk mengevaluasi perilaku swelling pada sejumlah studi kasus terowongan. Fokus utama diarahkan pada pengaruh setting geologi, lingkungan pembentukan batuan, komposisi mineralogi, struktur batuan, tingkat pelapukan dan alterasi, kondisi air tanah, dan kekuatan massa batuan. Sebuah basis data mengenai terowongan yang mengalami swelling telah disusun dan diklasifikasikan secara sistematis berdasarkan kategori regangannya (strain). Sebagai pendekatan kuantitatif untuk menilai pengaruh aspek geologi dan mineralogi terhadap tingkat deformasi, dikembangkan suatu sistem penilaian yang disebut Swelling Hazard Potential (SHP). Hasil studi menunjukkan bahwa tingkat regangan tinggi umumnya ditemukan pada formasi argillaceous (lempungan) dan pada batuan yang mengandung sulfat, yang terbentuk di lingkungan laut dalam (mélange) serta lingkungan evaporit. Kondisi ini diperparah oleh karakteristik massa batuan yang tergerus (sheared), terfoliasi, dan mengalami pelapukan atau alterasi kuat dengan kondisi air tanah yang basah hingga mengalir. Validasi terhadap data regangan aktual di lapangan membuktikan bahwa SHP rating mampu memetakan potensi swelling secara efektif. Selain itu, analisis komparatif antara rasio kekuatan massa batuan terhadap tegangan overburden dan rasio tekanan penyangga maksimum terhadap tekanan swelling memberikan gambaran mengenai keseimbangan mekanis kekuatan batuan-penyangga terhadap tekanan yang berkembang akibat swelling. Temuan ini menegaskan bahwa perilaku swelling tidak hanya dipengaruhi oleh kandungan mineral lempung ekspansif, tetapi juga oleh interaksi hidromekanis serta struktur geologi batuan. Penelitian ini menyajikan pendekatan sistematis untuk identifikasi awal kondisi tanah/batuan yang berpotensi swelling, sekaligus menjadi landasan dalam pengembangan desain terowongan berbasis risiko pada lingkungan geologi yang kompleks.

2026
👤 Penulis: Safira Salsabila
🏷️ Geoteknik 🏷️ Hidromekanika 🏷️ Analisis Struktur Geologi

INTEGRASI METODE GRAVITASI DAN MAGNETIK UNTUK IDENTIFIKASI STRUKTUR GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN DI AREA “CARLOS”, BANGKA SELATAN

Pulau Bangka merupakan bagian dari Paparan Sunda yang memiliki kondisi geologi kompleks akibat aktivitas tektonik dan magmatisme sejak Mesozoikum. Proses geologi tersebut menghasilkan berbagai satuan batuan sedimen, metamorf, serta intrusi granit yang berkaitan dengan perkembangan sistem struktur geologi regional seperti sesar geser dan sesar normal. Namun, kondisi geomorfologi tropis dengan tingkat pelapukan tinggi serta keterbatasan singkapan batuan menyebabkan identifikasi struktur geologi berdasarkan data permukaan menjadi kurang optimal. Oleh karena itu, metode geofisika digunakan untuk memperoleh informasi kondisi bawah permukaan secara lebih komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menginterpretasi struktur geologi bawah permukaan di area “Carlos”, Bangka Selatan melalui integrasi metode gravitasi dan magnetik. Data yang digunakan berupa data gravitasi dan magnetik hasil akuisisi PT Timah Tbk. Tahapan pengolahan meliputi perhitungan anomali gravitasi dan magnetik, analisis spektral menggunakan metode Radially Averaged Power Spectrum (RAPS) untuk estimasi kedalaman sumber anomali, pemisahan anomali regional dan residual menggunakan filter Moving Average dan Butterworth, serta analisis derivative untuk menegaskan batas dan kelurusan anomali. Selanjutnya dilakukan pemodelan ke depan (forward modelling) 2,5D pada penampang terpilih untuk memperoleh geometri dan distribusi sifat fisik batuan bawah permukaan. Hasil penelitian menunjukkan adanya pola anomali residual gravitasi dan magnetik yang berkorelasi dengan keberadaan struktur geologi berupa sesar dan zona rekahan yang berkembang di area penelitian. Integrasi kedua metode ini menghasilkan model bawah permukaan yang menggambarkan distribusi kontras densitas dan kemagnetan batuan, sehingga dapat digunakan untuk menginterpretasi pola struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian secara lebih komprehensif.

2026
👤 Penulis: Bilalos Tenggoro Angin
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Struktur Geologi 🏷️ Metode Gravitasi Dan Magnetik

IDENTIFIKASI KONTROL GEOLOGI PADA SISTEM GEOTERMAL GUNUNG UNGARAN, JAWA TENGAH BERDASARKAN ANALISIS VULKANOSTRATIGRAFI DAN GAYA BERAT

Gunung Ungaran yang terletak di Jawa Tengah merupakan salah satu gunung api strato di Pulau Jawa dan wilayah kerja panas bumi (WKP) yang sedang berada pada tahap eksplorasi. Pada tahap ini, diperlukan pemahaman yang menyeluruh dan tepat mengenai sistem geotermal di lokasi ini. Hasil laporan eksplorasi menunjukkan bahwa terdapat multikaldera yang mengelilingi Gunung Ungaran. Keberadaan multikaldera tersebut juga diperkirakan sebagai kondisi geologi yang mengontrol sistem geotermal di WKP ini. Akan tetapi, penelitian-penelitian lainnya serta persebaran manifestasi termal tidak menunjukkan keberadaan multikaldera yang dimaksud. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi geologi yang tepat yang mengontrol sistem geotermal di WKP ini. Metode analisis vulkanostratigrafi dan analisis gaya berat digunakan untuk mengidentifikasi kondisi geologi yang mengontrol sistem geotermal di WKP ini. Persebaran manifestasi di WKP ini sebagian besar berada pada Khuluk Ungaran. Kemunculan manifestasi-manifestasi tersebut diperkirakan berasosiasi dengan keberadaan struktur geologi berupa sesar yang memotong tubuh Khuluk Ungaran. Beberapa struktur geologi tersebut teridentifikasi juga pada hasil analisis first horizontal derivative (FHD) dan euler deconvolution. Hasil analisis vulkanostratigrafi dan gaya berat juga menunjukkan bahwa hanya ada satu kaldera yang mengelilingi Khuluk Ungaran, yaitu Kaldera Kaligetas. Dengan demikian, sistem geotermal pada WKP ini cenderung dikontrol oleh keberadaan zona permeabel pada tubuh Gunung Ungaran.

2025
👤 Penulis: Febrianto Mangopo
🏷️ Vulkanologi 🏷️ Geotermal 🏷️ Analisis Struktur Geologi

PENGOLAHAN DATA SEISMIK 2D BERBASIS RADON TRANSFORM UNTUK PENEKANAN MULTIPLE DI DAERAH VIKING GRABEN

Industri minyak dan gas bumi merupakan salah satu sektor strategis yang menjadi tulang punggung perekonomian global. Dalam upaya eksplorasi dan produksi hidrokarbon secara efektif dan berkelanjutan, teknologi pemrosesan data seismik memegang peran penting dalam memberikan gambaran struktur geologi bawah permukaan. Namun, keberadaan multiples sering kali mengganggu kualitas data dan menyulitkan interpretasi geologi yang akurat. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menekan gangguan tersebut adalah penerapan Radon Transform dalam domain transformasi kinematik. Penelitian ini melakukan pemrosesan data 2D di Viking Graben serta menekan refleksi ganda (multiple) menggunakan metode Radon Transform. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi struktur geologi dan lapisan batuan di bawah permukaan daerah studi. Seismic Data Sequence meliputi deconvolution, supresi multiple dengan Radon Transform, analisis kecepatan, koreksi NMO (Normal Moveout), stacking, dan migration. Hasil menunjukkan bahwa alur kerja pemrosesan yang diterapkan berhasil meningkatkan kualitas data seismik. Selain itu, keenam lapisan batuan utama (L1-L6) berhasil diidentifikasi dengan jelas. Penerapan Radon Transform terbukti efektif dalam menekan refleksi berganda tanpa merusak informasi amplitudo primer.

2025
👤 Penulis: Agrilia Gracia
🏷️ Seismologi 🏷️ Teknologi Pemrosesan Data Seismik 🏷️ Analisis Struktur Geologi

GEOKIMIA FLUIDA LAPANGAN GEOTERMALBAGIAN UTARA RANTAU DEDAP, SUMATRA SELATAN

Lapangan Geotermal Rantau Dedap telah diproduksi oleh PT Supreme Energy sejak tahun 2014. Area produksi saat ini berada di bagian tengah Kaldera Semendo, yaitu di sekitar G. Bukit Besar. Pengembangan area produksi diarahkan ke utara dan timur laut, yaitu ke arah keluaran manifestasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi prospek geotermal di Rantau Dedap bagian utara, serta menganalisis keterkaitannya dengan area produksi saat ini. Data penelitian menggunakan empat sampel kimia air sumur (i.e. sumur B1, B2, C1 dan C2) dan enam sampel kimia air manifestasi (i.e. Batu Balai [BB], Cawang Tengah [CT], Cawang Tengah Atas [CTA], Air Indikat Tengah [AIT], Air Kelat [AK], dan Indikat Kanan Hilir [IKH]). Sistem Geotermal Rantau Dedap didominasi oleh batuan volkanik berkomposisi andesit-riolitik berumur Kuarter dan dikontrol oleh struktur sesar berarah timur laut-barat daya (NE-SW), utara barat laut-selatan tenggara (NNW-SSE), dan struktur kaldera. Sumber panas lapangan ini berasal dari G. Bukit Besar, Cawang, Batu Balai, dan Anak Gunung. Lapangan Geotermal Rantau Dedap diduga memiliki empat reservoir dengan pola aliran yang berbeda-beda. Reservoir pertama adalah Reservoir Bukit Besar-Batu Balai, reservoir ini memiliki temperatur 230 10°C, berada di kedalaman 800-1000 m, dan mempunyai sumber panas G. Bukit Besar dan Batu Balai. Fluida reservoir berasal dari air meteorik yang terpanaskan dan mendidih pada temperatur <220°C di G. Bukit Besar (area produksi saat ini). Fluida reservoir kemudian mengalir ke utara dan timur laut, serta muncul sebagai upflow di manifestasi BB dan CTA. Fluida reservoir juga terus mengalir ke utara hingga batas kaldera dan bercampur dengan air meteorik, dan muncul di permukaan sebagai manifestasi CT di zona outflow. Reservoir kedua, ketiga dan keempat, secara berurutan adalah Reservoir Air Indikat Tengah (temperatur 220 10°C, kedalaman 800 m), Reservoir Air Kelat (temperatur 220 10°C, kedalaman 650 m), dan Reservoir Indikat Kanan Hilir (temperatur 200 10°C, kedalaman 530 m). Ketiga reservoir ini mempunyai sumber panas, secara berurutan, adalah G. Cawang, G. Anak Gunung, dan G. Batu Balai. Ketiga reservoir ini mempunyai keluaran manifestasi, secara berurutan, adalah fumarola AIT (upflow) dan mata air panas AK (upflow) dan IKH (outflow).

2025
👤 Penulis: Iqbal Maulana
🏷️ Geotermal 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Struktur Geologi

PARAGENESIS MINERALISASI ENDAPAN PORFIRI-ISE AREA DOUP, KECAMATAN KOTABUNAN, KABUPATEN BOOLANG MONGONDOW TIMUR, SULAWESI UTARA

Indonesia merupakan negara dengan potensi sumber daya dan cadangan emas yang besar, salah satunya berada pada Pulau Sulawesi. Daerah penelitian berada pada Daerah Doup, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mondondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara yang memiliki prospek mineralisasi emas. Penelitian ini memiliki tujuan yaitu mengetahui kondisi geologi, geomorfologi, stratigrafi, dan struktur geologi area penelitian; mengetahui tipe dan karakteristik alterasi dan mineralisasi area penelitian, dan mengetahui paragenesis mineralisasi pada area penelitian. Sebanyak 72 sampel permukaan, 2 data lubang bor primer, 4 data lubang bor sekunder digunakan untuk analisis pada penelitian ini. Metode yang digunakan antara lain petrografi sayatan tipis, sayatan poles, analisis spektroskopi, dan analisis x-ray flourescene (XRF). Berdasarkan hasil penelitian, daerah penelitian terdiri atas sebelas satuan litologi, yaitu satuan batugamping, satuan tuf, satuan intrusi andesit, satuan intrusi kuarsa diorit, satuan tonalit, satuan batupasir-konglomerat, satuan lava dasit, satuan intrusi andesit 2, satuan breksi epiklastik, satuan konglomerat vulkanik, satuan aluvium-kolovium. Struktur geologi yang berkembang pada area penelitian cenderung berarah timurlaut-baratdaya dan baratlaut-tenggara. Adapun zona alterasi yang ditemukan adalah zona magnetit + biotit ± K-felspar, zona magnetit + klorit ± epidot, dan zona klorit sebagai penciri sistem porfiri, serta zona serisit + klorit + illit ± kaolinit dan kuarsa + serisit + illit + pirit sebagai zona penciri sistem epitermal sulfidasi menengah yang memotong keberadaan dari sistem porfiri. Paragenesis mineral diawali dengan pembentukan dari magnetit yang berada pada urat porfiri, diikuti oleh pembentukan pirit dan juga kalkopirit. Urat-urat yang berada pada sistem porfiri tersebut dipotong oleh urat-urat basemetal yang menunjukkan mineral pirit mengawali pembentukan urat-urat ini, diikuti oleh galena, sfalerit, kalkopirit, emas, kovelit, dan hematit.

2024
👤 Penulis: Affan Aji Wiwatama
🏷️ Geologi Mineral 🏷️ Hidrologi Sulfida 🏷️ Analisis Struktur Geologi

ANALISIS FAKTOR PENGONTROL PEMBENTUKAN PROPERTI RESERVOIR FORMASI TOMORI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KUALITAS BATUAN RESERVOIR, LAPANGAN TIAKA, SULAWESI TENGAH

Lapangan Tiaka,merupakan lapangan dengan reservoir batugamping klastik, dioperasikan oleh JOB Pertamina-Medco Tomori Sulawesi. Dengan nilai recovery factor kurang dari 10%, performa reservoir pada Lapangan Tiaka menunjukkan produksi minyak yang rendah dibandingkan dengan jumlah minyak yang tersimpan (Initial Hydrocarbon In-Place). Properti reservoir yang kurang baik dan heterogenitas tinggi pada batugamping diduga menjadi penyebabnya. Porositas rata-rata per sumur adalah 9,5%, sementara permeabilitas berkisar antara 0.001 – 300 mD. Adanya rentang perbedaan nilai permeabilitas yang cukup tinggi mengindikasikan faktor pembentuk properti reservoir pada Lapangan Tiaka yang beragam. Lokasi lapangan ini berada di zona tumbukan antara Australia dan Sulawesi, menghasilkan foreland basin dan seri imbrikasi struktur sesar naik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor geologi yang mempengaruhi pembentukan dan perkembangan properti reservoir batugamping, menganalisis pengaruhnya, dan menganalisis hubungan antara faktor-faktor pengontrol yang ada. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis struktur geologi, analisis batuan inti dan analisis data sumur. Analisis struktur geologi dilakukan dengan metode rekonstruksi palinspatik untuk mengetahui geometri struktur Lapangan Tiaka, kemudian dilanjutkan dengan pemodelan rekahan untuk mengetahui jumlah populasi rekahan di area Lapangan Tiaka. Metode selanjutnya adalah analisis batuan inti. Pada metode ini dilakukan analisis megaskopis pada batuan inti untuk mengetahui fitur-fitur sedimentasi pada batuan dan litofasiesnya, dilanjutkan dengan deskripsi mikroskopis untuk mengetahui mikrofasies dan dilakukan analisis diagenesis terhadap sampel petrografi. Metode terakhir adalah analisis data sumur. Analisis ini dilakukan untuk mengkorelasikan hasil analisis batuan inti ke sumur yang tidak memiliki data sampel batuan inti, yang nantinya dapat dibuat model lingkungan pengendapan di seluruh Lapangan Tiaka. Hasil dari penelitian ini adalah, berdasarkan rekonstruksi palinspatik, Lapangan Tiaka memiliki geometri struktur fault propagation-fold dengan hasil total shortening sebesar 26% dari kondisi normal, dan berdasarkan rekonstruksi balancing section ini didapatkan hasil yang seimbang atau balanced section dengan nilai korelasi depth to detachment sebesar 0,9847. Analisis batuan inti juga menghasilkan 12 litofasies yaitu Foraminifera Packstone, Coral Packstone- Wackestone, Coral Framestone, Coral Wackestone, Skeletal Packstone, Dolomitic Skeletal Wackestone, Coral Floatstone, Skeletal Wackestone, Organic Shale, Skeletal Wackestone-Mudstone, Dolomitic Packstone dan Batubara. Dari keduabelas litofasies ini kemudian dikelompokkan menjadi tiga asosiasi fasies atau lingkungan pengendapan, yaitu platform interior, endapan estuarin, dan platform margin. Proses diagenesis berperan dalam menambah atau mengurangi porositas. Proses diagenesis yang dapat diidentifikasi melalui analisis sayatan tipis adalah mikritisasi, pelarutan, rekristalisasi, sementasi, kompaksi, dan dolomitisasi. Prosesproses diagenesis ini terjadi pada lingkungan diagenesis marine, meteoric, dan burial. Faktor-faktor pembentuk properti di Lapangan Tiaka terbukti saling berhubungan, mulai dari pengendapan hingga tektonik. Pengendapan batuan karbonat Formasi Tomori menghasilkan litofasies yang berfungsi sebagai storage pada reservoir. Proses diagenesis mempengaruhi kualitas reservoir, baik dalam meningkatkan porositas melalui pelarutan dan dolomitisasi, maupun menurunkan porositas melalui pembebanan dan pengisian rekahan. Proses tektonik berperan dalam pembentukan struktur fault-propagation fold yang menjadi jebakan hidrokarbon dan menyebabkan berkembangnya rekahan terbuka.

2024
👤 Penulis: Darojatun Fakhrul Dzakirin
🏷️ Geologi Karbonat 🏷️ Teknik Penambangan Minyak Bumi 🏷️ Analisis Struktur Geologi
💬