📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 9 dokumenANALISIS JEMBATAN PCI GIRDER DENGAN SISTEM ISOLASI DASAR FRICTION PENDULUM BEARING
Indonesia merupakan wilayah dengan tingkat kegempaan yang tinggi akibat posisinya di pertemuan lempeng tektonik aktif, sehingga menuntut keandalan infrastruktur jembatan tahan gempa. Maka dari itu, diperlukan peningkatan performa struktur terhadap gaya gempa yang didukung dengan suatu inovasi sistem isolasi dasar, yakni Friction Pendulum Bearing (FPB). Analisis ini mencakup perbandingan rasio redaman, respons struktur pilar jembatan saat menerima beban gempa, dan perbandingan biaya total struktur. Pemodelan struktur dilakukan menggunakan perangkat lunak MIDAS Civil, dengan mengacu pada standar pembebanan SNI 1725:2016 dan perencanaan jembatan tahan gempa SNI 2833:2016. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa pengaplikasian Friction Pendulum Bearing menghasilkan periode alami struktur yang lebih panjang dan mampu mereduksi gaya geser dasar hingga 65%. Meskipun membutuhkan biaya awal yang lebih tinggi dibandingkan bantalan elastomer konvensional, desain jembatan dengan sistem isolasi dasar FPB terbukti secara signifikan lebih ekonomis dalam tinjauan jangka panjang akibat adanya pengurangan beban gempa pada struktur bawah.
EVALUASI KINERJA DAN PERKUATAN JEMBATAN TOL SURABAYA-MALANG PADA KOLOM SEGI ENAM
Meningkatnya frekuensi kejadian gempa bumi di Indonesia menuntut dilakukannya evaluasi ulang terhadap kinerja struktur jembatan eksisting yang memiliki peran vital dalam sistem transporta.si. Salah satu jembatan dengan usia layanan panjang adalah Jembatan Centre Bridge Kilometer 758 pada ruas tol Surabaya-Malang, yang dibangun pada tahun 1987 dan masih beroperasi hlngga saat ini. Hasil inspeksi tahun 2022 menggunakan Bridge Management System (BMS) menunjukkan adanya kerusakan berupa retak, spalling pada abutment, pierhead, gelagar, dan pilar, serta deformasi bantalan elastomer, sehlngga diperlukan evaluasi kapasit.a.s struktur. Penelitian ini mengevaluasi kapasitas dan kinerja struktur jembatan berdasarkan SNI 1725:2016 dan SNI 2833:2016 dengan pendekatan Performance-Based Design melalui analisis statis nonlinier (pushover analysis). Kurva hubungan base shear-roof displacement digunakan untuk menentukan performance point dan tingkat kinerja struktur. Pemodelan dan analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak Midas Civil. Hasil analisis menunjukkan bahwa berdasarkan Peraturan Muatan Jembatan Jalan Raya Tahun 1970, kapasitas penampang kolom eksisting masih memenuhi persyaratan desain awal. Namun, berdasarkan peraturan terbaru, beberapa kolom pada arah longitudinal dan transversal melampaui kurva interaksi P-M dengan nilai capacity ratio lebih besar dari 1.
EVALUASI STRUKTUR DAN PERENCANAAN RETROFIT JEMBATAN AKIBAT KOROSI DAN KEBAKARAN
Deteriorasi pada komponen struktur beton bertulang jembatan bisa terjadi akibat berbagai macam penyebab, diantaranya adalah akibat korosi baja tulangan dan paparan suhu tinggi akibat kebakaran. Berdasarkan penelitian terbaru, baik deteriorasi akibat korosi baja tulangan maupun paparan suhu tinggi dapat mengurangi kuat lekatan (Bond Strength) antara baja tulangan dengan beton. Hal ini menyebabkan penurunan kapasitas lentur dari penampang komponen beton bertulang struktur jembatan akibat kuat lekatan beton yang tidak mampu menyalurkan seluruh gaya ke tulangan. Sehingga kegagalan pada penampang beton bertulang bukan lagi karena kelelehan baja tulangan tarik tetapi karena kegagalan pengangkuran baja tulangan oleh beton. Pada penelitian ini, evaluasi kapasitas lentur struktur beton bertulang jembatan akan memperhitungkan pengaruh degradasi bond strength antara baja tulangan dan beton akibat korosi baja tulangan dan paparan suhu tinggi kebakaran. Dimana hasil analisis menunjukan jumlah elemen struktur beton bertulang jembatan yang mengalami kegagalan meningkat akibat adanya pengaruh degradasi bond strength. Jembatan yang menjadi objek penelitian ini adalah jembatan imajiner yang diasumsikan selesai dibangun pada tahun 1984. Setelah 40 tahun operasional, tingkat kerusakan yang telah terjadi akibat korosi baja tulangannya diasumsikan cukup signifikan dimana laju korosi (icorr) dimodelkan pada tingkat sedang sebesar 1 ?A/cm2 yang menurunkan bond strength sebesar 26% menjadi 4,05 Mpa dari batas bond strength normal sebesar 5,48 MPa menurut CEB FIP-1990. Kerusakan ini diperparah dengan terjadinya kebakaran dimana skenario komponen struktur jembatan yang terpapar suhu tinggi adalah kolom pilar dan kepala pilar. Akibat kebakaran, kuat tarik beton turun drastis dan mengakibatkan bond strength juga menurun sebesar 53% menjadi 2,58 MPa. Terdapat 2 pemodelan struktur jembatan, yaitu segmen P36-P46 yang terpapar suhu rendah, dan segmen PA-P10 yang terpapar suhu tinggi akibat kebakaran. Dari hasil analisis linear statik dan analisis dinamik metode spektra multimoda berdasarkan kombinasi pembebanan SNI 1725:2016, menunjukan bahwa kegagalan terjadi pada nilai DCR lebih besar dari 1, yaitu 1) Kegagalan lentur pada elemen gelagar bagian tumpuan dan bagian lapangan, 2) Kegagalan aksial-momen pada elemen kolom pilar baik segmen P36-P46 terpapar suhu rendah maupun segmen PA-P10 yang terpapar suhu tinggi, 3) Kegagalan geser pada elemen kolom pilar segmen P36-P46 yang terpapar suhu rendah maupun segmen PA-P10 yang terpapar suhu tinggi, dan 4) Kegagalan aksial-momen pada elemen kepala pilar segmen PA-P10 bagian tumpuan dan lapangan yang terpapar suhu tinggi kebakaran. Selain itu, dari hasil pemeriksaan detailing penulangan pada jembatan eksisting berdasarkan as built drawing memperlihatkan bahwa terdapat defisiensi pada detailing tulangan yaitu spasi tulangan confinement pada zona sendi plastis tidak memenuhi persyaratan perencanaan jembatan terhadap beban gempa. Pada penelitian ini, perkuatan untuk elemen yang mengalami defisiensi hanya direncanakan untuk segmen yang paling kritis. Untuk memperbaiki defisiensi kapasitas lentur pada elemen gelagar, direncanakan perkuatan menggunakan Near Surface Mounted (NSM) CFRP Rod yang dipasang memanjang elemen gelagar sebanyak 10 batang pada sisi atas untuk bagian tumpuan dan 10 batang pada sisi bawah untuk bagian lapangan. Dari hasil perhitungan, perkuatan CFRP Rod pada elemen gelagar bagian lapangan dapat mereduksi DCR sebesar 44%. Sedangkan untuk elemen gelagar bagian tumpuan dengan perkuatan 10 batang CFRP Rod di sisi atas berhasil menurunkan DCR sebesar 74%. Pada elemen kolom pilar, direncanakan perkuatan aksial-momen untuk segmen PA-P10 yang terpapar suhu tinggi kebakaran dalam 2 metoda perkuatan, yaitu concrete jacketing setebal 125 mm dengan 20 baja tulangan D19 dan perkuatan lentur dengan kombinasi 12 CFRP Rod longitudinal dan 2 lapis CFRP Wrap. Hasil komparasi menunjukan bahwa untuk reduksi DCR lentur sebesar 59% dan reduksi DCR Geser sebesar 95% biaya metode perkuatan dengan CFRP 40% lebih mahal sehingga perkuatan yang lebih efektif adalah concrete jacketing. Perkuatan aksial-lentur juga direncanakan pada kepala pilar lapangan segmen PAP10 yang terpapar suhu tinggi kebakaran. CFRP Rod sebanyak 10 batang dipasang arah memanjang elemen kepala pilar pada bagian lapangan. Hasilnya menunjukan perkuatan CFRP Rod pada elemen kepala pilar mereduksi DCR sebesar 54%. Dari analisis yang sudah dilakukan dalam penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa efek dari bond strength baja tulangan yang menurun sangat berpengaruh dalam perhitungan kapasitas dan keamanan struktur beton. Kemudian, direkomendasi juga metode perkuatan yang efektif secara ekonomis guna mengembalikan fungsi jembatan seperti awal.
STUDI KOMPARASI RESPON SEISMIK JEMBATAN BENTANG KONTINU MONOLIT DAN JEMBATAN TERISOLASI DENGAN LEAD RUBBER BEARING (LRB) STUDI KASUS: JEMBATAN BETON BOX GIRDER LRT VELODROME – KELAPA GADING P62 – P66
Desain jembatan konvensional dengan sambungan monolit girder-pier di zona seismik tinggi rentan mentransfer gaya inersia gempa secara penuh ke pier dan pondasi, berisiko menyebabkan kerusakan parah dan membutuhkan dimensi serta penulangan yang sangat besar untuk menjaga elastisitas pier. Untuk mengatasi ini, teknologi isolasi seismik, khususnya penggunaan Lead Rubber Bearing (LRB), hadir sebagai solusi efektif dalam melindungi jembatan. LRB bekerja dengan memperpanjang periode alami struktur dan mendisipasi energi gempa, secara signifikan mengurangi gaya geser yang diteruskan ke pier dan pondasi. Penelitian ini mengevaluasi kinerja jembatan LRT Velodrome – Kelapa Gading Jakarta (P63-P65), yang awalnya didesain sebagai struktur bentang kontinu monolit girder-pier dengan kategori pier pendek dan desain seismik D sesuai SNI 2833- 2016. Struktur ini kemudian dimodifikasi menjadi terisolasi seismik menggunakan LRB dari merk OVM dengan variasi nilai kekakuan k1 dan k2. Kinerja kedua konfigurasi jembatan dievaluasi melalui analisis riwayat waktu non-linear (NLTHA) dengan tujuh gerak tanah yang dipilih melalui deagregasi dan penskalaan amplitudo berdasarkan NZS 1170.5:2004. Analisis ini dilakukan untuk mempelajari penurunan demand pada pier dan fondasi, respons histeresis LRB, serta respons deformasi dan gaya geser pada pier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peralihan struktur dari konvensional monolit menjadi terisolasi seismik dengan LRB mampu menurunkan demand pada pier dan pondasi dengan rentang nilai reduksi sebesar 36% - 47% dan 68% - 74%. Untuk reduksi respons perpindahan, semua kombinasi menunjukkan rata-rata nilai reduksi sebesar 64.48% untuk arah longitudinal dan 85.19% untuk arah transversal. Sedangkan reduksi gaya geser untuk setiap pier menunjukkan trend yang sama seperti reduksi respons perpindahan, dimana rata-rata nilai reduksi sebesar 66.67% untuk arah longitudinal dan 80.91% untuk arah transversal. Kemudian didapatkan kombinasi yang paling efisien yaitu kombinasi 4 dengan persentase sisa kapasitas yang paling kecil dalam rentang nilai 16.86% hingga 28.99%, namun mampu memberikan performa dalam mereduksi perpindahan dengan dengan selisih maksimum nilai perpindahan antar kombinasi sebesar 6.26%, sedangkan untuk reduksi gaya geser, didapatkan nilai reduksi maksimum dengan selisih 12.6 % dibandingkan antar kombinasi dan reduksi gaya geser dengan nilai terbesar berada pada arah transversal yang mengindikasikan bahwa pemasangan LRB mampu mereduksi potensi terjadinya kegagalan gaya geser pada pier pendek. Serta dengan perubahan struktur monolit menjadi terisolasi seismik mampu menghasilkan level performa operasional penuh.
EVALUASI KINERJA STRUKTUR DAN PERENCANAAN RETROFIT JEMBATAN DESAIN PRA SNI 03-1725-1989
Seiring dengan berkembangnya standar perencanaan jembatan, evaluasi terhadap struktur yang telah dibangun berdasarkan regulasi terdahulu menjadi semakin penting untuk memastikan keamanan serta kelaikan fungsionalnya. Salah satu struktur yang menghadapi tantangan ini adalah Jembatan Km 4 Ruas Tol Surabaya- Gempol, yang dibangun pada periode 1980-1984 dan mulai beroperasi penuh sejak Tahun 1986. Setelah lebih dari tiga dekade beroperasi, jembatan ini mengalami berbagai kerusakan pada elemen struktur atas maupun bawah. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi untuk menentukan apakah seluruh elemen struktur jembatan masih memenuhi persyaratan kekuatan, batas layan, dan kondisi ekstrem sesuai dengan standar yang berlaku saat ini. Jembatan ini terdiri atas tiga segmen berdasarkan sistem strukturnya, yaitu Segmen Jembatan Tengah berupa jembatan gelagar beton prategang serta Segmen Jembatan Utara dan Selatan berupa jembatan gelagar beton bertulang menerus. Pomedalan numerik jembatan dilakukan menggunakan perangkat lunak Midas Civil 2023 Academic Version dengan data properti penampang dan material merujuk pada dokumen as built drawing. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan respons struktur terhadap dua kategori pembebanan. Pertama, pembebanan berdasarkan Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya (PPJJR:1987) dengan pengaruh gempa mengacu pada Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Jembatan Jalan Raya (SNI 03-2833-1992), untuk merepresentasikan kapasitas struktur jembatan terhadap beban luar berdasarkan regulasi pembebanan yang berlaku pada saat jembatan dibangun. Kedua, pembebanan berdasarkan Pembebanan untuk Jembatan (SNI 1725:2016) dengan pengaruh gempa mengacu pada Perencanaan Jembatan terhadap Beban Gempa (SNI 2833:2016), untuk mengevaluasi kapasitas struktur jembatan terhadap beban luar berdasarkan standar peraturan yang berlaku saat ini. Dari hasil analisis statik linear dan dinamik metode spektra multimoda dengan kombinasi pembebanan berdasarkan PPJJR:1987 dan SNI 03-2833-1992, bahwa nilai demand/capacity (D/C) ratio yang terjadi, baik momen lentur, geser, dan torsi pada struktur atas, maupun interaksi gaya aksial-momen lentur serta geser pada struktur pilar, semuanya lebih kecil dari satu. Hal ini menunjukkan bahwa elemen struktur jembatan telah didesain secara optimal berdasarkan standar yang berlaku pada masanya. Namun, dari hasil analisis struktur dengan menggunakan kombinasi pembebanan terkini, yaitu SNI 1725:2016 dan SNI 2833:2016, teridentifikasi adanya kegagalan struktur yang terjadi, yang ditunjukkan dari nilai D/C lebih besar dari satu, antara lain: ? Kegagalan lentur pada elemen gelagar posisi lapangan Segmen Jembatan Utara dan Selatan; ? Kegagalan geser pada elemen gelagar posisi tumpuan Segmen Jembatan Utara; ? Kegagalan interaksi gaya aksial-momen lentur pada elemen Pilar PA dan PD Segmen Jembatan Tengah, elemen pilar Segmen Jembatan Utara, serta elemen pilar Segmen Jembatan Selatan; ? Kegagalan geser pada elemen pilar Segmen Jembatan Utara dan Selatan. Dari hasil Nonlinear Static Pushover Analysis (NSPA) berdasarkan Improvement of Nonlinear Static Seismic Analysis Procedures (FEMA 440), dengan mengacu pada kriteria penerimaan nilai persentase drift sesuai ketentuan dalam dokumen Performance-Based Seismic Bridge Design (NCHRP SYNTHESIS 440), bahwa tingkat kinerja seismik masing-masing segmen jembatan adalah Fully Operational untuk Jembatan Tengah dan Operational-Life Safety untuk Jembatan Utara dan Jembatan Selatan. Perkuatan kapasitas lentur dan geser pada elemen gelagar yang mengalami kegagalan, direkomendasikan menggunakan material Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP). Untuk perkuatan lentur, CFRP dipasang pada penampang bawah gelagar Segmen Jembatan Utara dan Selatan dengan skema pemasangan tiga lapisan selebar 900 mm dan sepanjang bentang longitudinal gelagar. Dari hasil perhitungan teoritis, skema ini dapat mereduksi D/C momen lentur yang terjadi sebesar 42% (dari nilai D/C awal 1,09 turun menjadi 0,64 setelah perkuatan). Kemudian, untuk perkuatan geser, skema pemasangan CFRP discrete strips sebanyak dua lapisan dengan lebar stirrups 100 mm dan spasi antar stirrups 100 mm pada elemen gelagar Segmen Jembatan Utara, dapat mereduksi D/C gaya geser yang terjadi sebesar 7% (dari nilai D/C awal 1,02 turun menjadi 0,95 setelah perkuatan). Perkuatan kapasitas aksial-lentur dan geser pada elemen pilar yang mengalami kegagalan, direkomendasikan menggunakan metode concrete jacketing. Hasil analisis menunjukkan bahwa metode ini dapat mereduksi D/C interaksi gaya aksialmomen lentur yang terjadi sebesar 52% pada Pilar PA dan PD Segmen Jembatan Tengah, 31% pada pilar Segmen Jembatan Utara, dan 46% pada pilar Segmen Jembatan Selatan. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya penerapan evaluasi struktural berbasis regulasi terbaru serta implementasi strategi retrofit yang efektif. Dengan langkah mitigasi yang tepat, jembatan yang telah beroperasi selama beberapa dekade tetap dapat berfungsi secara aman dan andal dalam menghadapi tantangan beban lalu lintas serta risiko kegempaan di masa mendatang.
PENILAIAN KAPASITAS DAN KINERJA JEMBATAN BERDASARKAN EVALUASI SEISMIK PADA JEMBATAN TAYAN
Indonesia terletak di kawasan Cincin Api Pasifik, yang dikenal sebagai salah satu wilayah paling rawan gempa di dunia. Dengan banyaknya lempeng tektonik yang bertemu di sekitar Nusantara, gempa bumi adalah ancaman yang terus-menerus mengintai, baik di daratan maupun di bawah laut. Kondisi ini membuat pembangunan infrastruktur, terutama jembatan, memerlukan perhatian khusus terhadap analisis dan desain yang tahan gempa. Jembatan harus dirancang dengan mempertimbangkan potensi pergeseran lempeng, dan intensitas gempa untuk memastikan keselamatan pengguna dan keberlanjutan struktur. Penelitian ini hadir untuk melihat, mempelajari dan mengevaluasi terkait perilaku jembatan eksisting terhadap kondisi regulasi terbaru dan kondisi gempa terbaru yang berlokasi di Indonesia terutama di Kalimantan Barat. Studi kasus penelitian ini akan dilakukan pada Jembatan Tayan. Jembatan Tayan merupakan jembatan struktur rangka baja menerus yang berlokasi di Kabupaten Sangau, Provinsi Kalimantan Barat. Evaluasi jembatan Tayan dilakukan secara numerik menggunakan software Midas Civil dengan menggunakan 3 metode evaluasi seismik yaitu Respon Spektra Analisis, Non Linear Static Pushover, dan Non Linear Time History Analysis. Hasil dari ketiga metode akan dibandingkan untuk mendapat komparasi level kinerja. Hasil evaluasi modal analisis akan dibandingkan dengan modal hasil loading test yang telah dilakukan pada Jembatan Tayan paska dibangun. Hal ini dilakukan untuk memvalidasi model numerik, sesuai dengan kondisi struktur asli. Jembatan Tayan dievaluasi dengan peraturan-peraturan terbaru, antara lain SNI 1725:2016 terkait peraturan perencanaan jembatan terhadap gempa, SNI 2833:2016 terkait peraturan perencanaan jembatan terhadap gempa, dan Peta Sumber dan Bahaya Gempa tahun 2017. Selain peraturan tersebut, penelitian ini akan menilai struktur jembatan berdasarkan FHWA Seismic Retrofitting Manual for Highway Structures : Part 1 – Bridges tahun 2006. Evaluasi terhadap kapasitas, serviceability dan juga kinerja Jembatan Tayan terhadap beban rencana. Hasil validasi modal analisis menunjukkan model numerik memiliki mode dominan yang sama dengan hasil uji beban dan model rencana, yaitu pada mode pertama. Periode natural model rencana 0.437 detik, model numerik 0.431 detik, dan hasil uji beban 0.400 detik dengan deviasi periode model numerik terhadap model rencana sebesar 1.23%. Modal mass participation (MMPR) model rencana sebesar 29.65% dan Model numerik 25.62% memiliki deviasi sebesar 4.03%. Dari perbandingan tersebut didapatkan perbedaan nilai <10%, sehingga dapat dikatakan model sudah menyerupai kondisi eksisting Jembatan Tayan. Respon spektrum analisis berdasarkan data Peta Gempa 2017, nilai Sds pada lokasi Jembatan Tayan, Kalimantan Barat mengalami peningkatan signifikan dari 0.019 g (Peta Gempa 2010) menjadi 0.324 g. Hasil analisis spektrum respons menunjukkan bahwa demand capacity ratio maksimum mencapai 1.110 yang mengindikasikan beberapa elemen terutama pada elemen bracing diagonal belum memenuhi batasan yang disyaratkan SNI 2833:2016 sehingga perlu evaluasi lebih lanjut untuk mengetahui kapasitas struktur dengan analisis non-linear. Analisis pushover dilakukan dengan dua metode pembebanan sesuai dengan FEMA 440, yaitu beban terbagi rata dan beban modal. Nilai drift ratio didapatkan hasil 0.116% untuk beban terbagi rata dan 0.508% untuk beban modal. Nilai tersebut lebih rendah dari 1% sehingga berdasarkan kriteria desain NCHRP 440 menunjukkan bahwa Jembatan Tayan berada dalam kondisi “Fully Operational”. Demand capacity ratio dengan beban modal didapatkan nilai 0.84, lebih tinggi dibandingkan dengan beban terbagi rata sebesar 0,65. Nilai DCR dari hasil non linear pushover analysis lebih rendah dibandingkan dengan DCR dari hasil analisis respon spectra. Untuk metode beban modal, elemen yang memiliki demand capacity ratio tertinggi berada pada elemen bracing diagonal, seperti pada analisa respon spektra. Akan tetapi, untuk metode beban modal elemen yang memiliki demand capacity ratio tertinggi berada pada elemen cross girder. Elemen bracing diagonal memiliki demand capacity ratio yang sedikit dibawahnya. Non Linear Time History Analysis yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan 7 rekaman percepatan sesuai dengan SNI 2833-2016 dan AASHTO LRFD 2020. Nilai dari ke-7 ground motion yang sudah dilakukan spectral matching di aplikasikan untuk mendapat hasil respon struktur yang kemudian di rata – rata. Nilai Drift ratio rata – rata dari 7 ground motion didapatkan nilai 0.248% sehingga masih lebih rendah dari 1% dan berada dibawah hasil respon spektra. Nilai drift ratio non linear time history analysis berada diantara nilai pushover beban modal dan beban terbagi rata. Berdasarkan kriteria desain NCHRP 440, nilai drift ratio tersebut menunjukan bahwa Jembatan Tayan masih berada dalam kondisi “Fully Operational”. Demand capacity ratio rata – rata berdasarkan Non Linear Time History Analysis didapatkan nilai 0.65. Nilai tersebut lebih rendah dari metode respon spectra dan pushover. Elemen yang memiliki demand capacity ratio tertinggi berada pada elemen bracing diagonal, seperti pada analisa respon spectra dan nonlinear push over dengan metode beban modal. Dari serangkaian evaluasi yang dilakukan, nilai drift ratio dan demand capacity ratio yang diperoleh dari analisis pushover dan non-linear time history lebih rendah dibandingkan dengan respon spektrum analisis. Hal ini terjadi karena evaluasi pushover dan non linear time history merupakan analisis non linear. Evaluasi level kinerja dari analisis pushover dan non linear time history menunjukkan bahwa peningkatan beban gempa di lokasi Jembatan Tayan, Kalimantan Barat masih dalam kategori “Fully Operational”, sehingga tidak diperlukan upaya retrofit untuk Jembatan Tayan.
STUDI PENERAPAN 2D-CONVOLUTIONAL NEURAL NETWORK DENGAN INDEKS KERUSAKAN PERUBAHAN MUTLAK KURVATUR RAGAM GETAR DALAM MENDETEKSI DAN MENGKUANTIFIKASI KERUSAKAN PADA JEMBATAN
Sistem deteksi kerusakan memiliki peran yang penting dalam memastikan keamanan dan fungsionalitas infrastruktur sipil seperti jembatan. Penelitian ini menginvestigasi efektivitas dari metode CNN yang dikombinasikan dengan indeks kerusakan perubahan mutlak kurvatur ragam getar dalam mendeteksi dan mengkuantifikasi kerusakan pada struktur jembatan. Struktur jembatan dimodelkan terlebih dahulu menggunakan metode elemen hingga di perangkat lunak MIDAS Civil. Mode yang cocok kemudian dianalisis dan dipilih sebagai indikator kerusakan. Program automasi Python dirancang untuk mendefinisikan kasus kerusakan dan mengumpulkan data ragam getar dalam jumlah yang sangat banyak. Setelah data yang dikumpulkan sudah cukup, CNN akan dibangun menggunakan data tersebut dan performansinya akan diuji secara numerik dan experimental. Hasil penelitian menunjukkan CNN dapat melakukan tugas klasifikasi kerusakan dengan akurasi yang memadai.
ANALISIS STRUKTUR DAN SAMBUNGAN SERTA METODE INSTALASI JEMBATAN RANGKA UNTUK PIPA AIR DN 1000 DI TANGERANG
Distribusi air bersih menjadi peranan penting dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat dan pihak swasta, penggunaan pipa distribusi air bersih menjadi pilih yang digunakan kebanyakan perusahaan penyediaan air bersih, tidak terkecuali Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PERUMDAM). Dalam proses distribusi air terdapat beberapa kasus yang perlu diperhatikan, seperti dalam kasus ini adalah distribusi air lintas sungai melalui jembatan pipa. Dengan mempertimbangkan bentang sungai dan struktur rangka dari jembatan pipa air bersih DN 1000 ini, perlu dilakukan analisis struktur rangka jembatan maupun konstruksi pipa distribusi yang digunakan dalam kasus ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur, sambungan, dan metode instalasi jembatan rangka yang dirancang untuk menopang pipa air DN 1000 di Tangerang. Jembatan ini memiliki panjang 132 meter dengan empat tumpuan yang akan menopang pipa berdiameter 1 meter, melintasi sungai untuk mendistribusikan air bersih dari sumbernya ke daerah yang membutuhkan. Penelitian ini dilakukan mengingat pentingnya infrastruktur yang andal untuk memastikan pasokan air bersih yang efisien dan berkelanjutan. Dengan hasil analisis yang dilakukan didapat rasio keamanan struktur jembatan sebesar 0,3468 nilai ini masih dibawah 1 sehinggamenunjukan bahwa pemodelan struktur aman. Selanjutnya untuk sambungan yang digunakan adalah sambungan las sudut dan baut, serta metode instalasi yang ditentukan adalah sistem incremental launching.
ANALISIS PERBAIKAN TANAH UNTUK TIMBUNAN PADA ABUTMENT DENGAN MENGGUNAKAN GEOGRID DAN GEOCELL DENGAN METODE ELEMEN HINGGA
Pada konstruksi jembatan, pembangunan timbunan di belakang abutmen perlu diperhatikan, termasuk penurunan, stabilitas, dan pengaruhnya terhadap struktur abutmen dan pondasi tiang. Kondisi tanah dasar dan tanah timbunan yang kurang baik menjadi tantangan yang perlu diselesaikan. Geogrid dan geocell adalah material yang umum digunakan sebagai perkuatan timbunan untuk mengatasi masalah tersebut. Meskipun demikian, masih diperlukan pemahaman yang lebih dalam tentang dampak penggunaan kombinasi geogrid dan geocell terhadap stabilitas timbunan di belakang abutmen, terutama ketika dianalisis menggunakan metode elemen hingga. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh material pengisi geocell, material timbunan, dan konfigurasi perkuatan geogrid dan geocell untuk timbunan di belakang abutmen jembatan, dengan fokus pada stabilitas timbunan, penurunan timbunan, dan gaya dalam fondasi tiang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa geocell dapat meningkatkan daya dukung tanah pasir sebesar 2.56 dan lempung sebesar 1.88, sementara geogrid meningkatkan daya dukung pasir sebesar 2.00 dan lempung sebesar 1.33. Jenis perkuatan yang disarankan untuk timbunan di belakang abutmen guna meningkatkan angka keamanan adalah geocell dengan pengisi lempung. Perkuatan tersebut disarankan diletakkan di dasar timbunan untuk perkuatan tunggal atau sebanyak empat lapis dengan spasi 2 meter untuk perkuatan berlapis. Perkuatan ini efektif mengurangi momen lentur, gaya geser, dan deformasi fondasi tiang serta abutmen, tetapi tidak signifikan terhadap penurunan tanah.