πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 4 dokumen

KAJIAN ASPEK TEKNIS DALAM KAITANNYA DENGAN INTEGRASI DARAT DAN LAUT PADA PEKERJAAN PEMASANGAN PIPA BAWAH LAUT

Pipa bawah laut yang merupakan sebuah infrastruktur yang dibangun dengan teknologi yang membutuhkan pemahaman keilmuan yang mendalam serta biaya yang relatif besar memerlukan suatu perlakuan khusus, yaitu dalam hal proses perencanaan pemasangan pipa bawah laut sampai proses perawatan pipa tersebut. Dalam proses pemasangan pipa di daerah pesisir harus dilihat aspek-aspek teknis yang ada, tidak hanya aspek yang ada di lautan saja namun juga kita harus melihat aspek daerah pesisir (daratan).Adapun aspek-aspek teknis yang terkait diantaranya datum vertikal, datum horisontal, sistem proyeksi, skala dan satuan jarak. Metode yang digunakan adalan analisis kajian aspek-aspek teknis yang digunakan serta kelemahan dan kelebihannya. Dalam hal ini terutama yang dibahas adalah permasalahan perbedaan datum vertikal antar pulau (Pulau Jawa dan Sumatera).Setelah dilakukan anilisis maka didapat kan solusi dari masalah-masalah yang terjadi. Selain itu juga permasalahan perbedaan datum vertikal dapat diselesaikan dengan visualisasi dan perumusan, sehingga dapat mempermudah dalam penentuan aspek-aspek teknis yang sesuai dalam proses pemasangan jalur pipa bawah laut (Jawa-Sumatera).

2026
πŸ‘€ Penulis: ADE TEAWARMAN (NIM 15105023); Pembimbing: Dr. Ir. Eka Djunarsjah, MT., dan Ir. Eri Busoeri, MM.
🏷️ Geodesi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Teknis

ANALISIS REKUALIFIKASI DAN LIFTING STRUKTUR ANJUNGAN LEPAS PANTAI TIPE JACKET PLATFORM DI LAUT JAWA

Kebutuhan energi nasional Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk, sementara produksi minyak domestik hanya mampu memenuhi sekitar separuh dari total konsumsi harian yang melebihi 1,2 juta barel. Ketimpangan ini memaksa Indonesia untuk mengandalkan impor minyak, sehingga ketahanan energi nasional menjadi rentan. Salah satu strategi untuk mengatasi permasalahan ini adalah memperpanjang masa operasi infrastruktur migas yang sudah ada, termasuk anjungan lepas pantai. Penelitian ini melakukan analisis requalification terhadap struktur fixed wellhead platform berkaki empat di perairan dangkal kedalaman 100 kaki, dengan tujuan memastikan kelayakan teknis apabila masa operasional diperpanjang selama 20 tahun. Analisis mencakup empat aspek utama: in-place, seismic, fatigue, dan lifting. Pemodelan struktur dan pembebanan dilakukan menggunakan perangkat lunak Structural Analysis Computer System (SACS) berdasarkan data survei lapangan, laporan Asset Integrity Management, serta acuan desain dari API RP 2A WSD, AISC, dan DNV. Data metocean terkini digunakan untuk mendukung evaluasi. Hasil analisis in-place menunjukkan satu member dan satu joint mengalami overstress, sedangkan defleksi vertikal maupun horizontal memenuhi kriteria. Analisis seismic menghasilkan faktor beban gempa 0.443–0,448 untuk kondisi SLE dan 0,939–0,923 untuk DLE, dengan total 27 joint kritis; kapasitas aksial pile memenuhi kriteria. Analisis fatigue menunjukkan beberapa joint utama memiliki umur lelah kurang dari 63 tahun. Sebagai tindak lanjut terhadap overstressed joint pada kondisi in-place dan seismic SLE, dilakukan pembaharuan beban workover rig. Berdasarkan data terbaru, beban rig berkurang signifikan dari 213,87 kips menjadi 116,94 kips akibat menurunnya kapasitas produksi sumur. Setelah update beban, analisis in-place, seismic, dan fatigue kembali dilakukan, dengan hasil menunjukkan nilai UC memnuhi standar, serta peningkatan umur lelah pada beberapa joint sehingga kondisi struktur menjadi lebih aman. Pada analisis lifting, pengangkatan topside dilakukan dengan metode single hook point pada elevasi 28 m sehingga sudut sling terhadap bidang horizontal lebih dari 60Β°. Empat sling baja terhubung ke pilar deck utama, dengan hasil menunjukkan gaya maksimum pada sling sebesar 95.16 kips, member unity check maksimum 0,71, joint punching shear maksimum 0,22, dan seluruh nilai memenuhi kriteria API RP 2A. Pemilihan peralatan rigging meliputi sling 6Γ—36 IWRC (diameter 60 mm, MBL 3040 kN), shackle Crosby G-2160 WLL 55 ton, serta padeye yang didesain khusus dengan material ASTM A36 dan las E-70, semuanya sesuai faktor keamanan yang disyaratkan. Rekomendasi perkuatan meliputi penambahan stiffener box pada member overstress, inspeksi rutin area rawan fatigue, serta perawatan marine growth. Kesimpulan akhir menyatakan bahwa struktur memenuhi kriteria kelayakan untuk perpanjangan umur layan 20 tahun dengan implementasi perkuatan dan inspeksi berkala, serta desain lifting dinyatakan aman tanpa memerlukan modifikasi tambahan. Kata Kunci: Requalification struktur, anjungan lepas pantai, wellhead platform, in-place analysis, seismic analysis, fatigue analysis, lifting, umur layan struktur, ketahanan energi. Indonesia’s national energy demand continues to increase in line with economic growth and population expansion, while domestic oil production is only able to meet approximately half of the total daily consumption exceeding 1.2 million barrels. This imbalance compels Indonesia to rely on oil imports, thereby rendering national energy security vulnerable. One strategy to address this challenge is to extend the service life of existing oil and gas infrastructure, including offshore platforms. This study conducts a requalification analysis of a fixed four-legged wellhead platform in shallow water at a depth of 100 feet, with the objective of assessing its technical feasibility for a 20-year service life extension. The analysis encompasses four main aspects: in-place, seismic, fatigue, and lifting. Structural modeling and load application were carried out using the Structural Analysis Computer System (SACS) software, based on field survey data, Asset Integrity Management reports, and design standards from API RP 2A WSD, AISC, and DNV. Updated metocean data were employed to support the evaluation. The in-place analysis revealed one overstressed member and one overstressed joint, although vertical and horizontal deflections satisfied the criteria. The seismic analysis yielded seismic load factors of 0.443–0.448 for the SLE condition and 0.939–0.923 for the DLE condition, with a total of 27 critical joints, while axial pile capacity remained adequate. The fatigue analysis indicated that several critical joints had fatigue lives of less than 63 years. As a follow-up to the overstressed joints under in-place and SLE seismic conditions, an update was applied to the workover rig loads. Based on the latest data, the rig load was significantly reduced from 213.87 kips to 116.94 kips due to declining well production capacity. After this adjustment, in-place, seismic, and fatigue analyses were repeated, yielding unity check values that met the standards and improved fatigue lives for several joints, thus enhancing the overall structural safety. In the lifting analysis, the topside was lifted using a single hook point method at an elevation of 28 m, resulting in sling angles greater than 60Β° relative to the horizontal plane. Four steel wire rope slings were connected to the main deck columns, with results showing a maximum sling force of 95.16 kips, a maximum member unity check of 0.71, and a maximum joint punching shear of 0.22β€”all satisfying API RP 2A criteria. Rigging equipment selection included 6Γ—36 IWRC slings (60 mm diameter, MBL 3040 kN), Crosby G-2160 shackles (WLL 55 tons), and specially designed padeyes using ASTM A36 steel and E-70 welds, all of which complied with the required safety factors. Recommended strengthening measures include the addition of stiffener boxes on overstressed members, routine inspection of fatigue-prone areas, and marine growth maintenance. The overall conclusion is that the structure satisfies the technical requirements for a 20-year service life extension with the implementation of strengthening and periodic inspection, while the lifting design is deemed safe without requiring further modification.

2025
πŸ‘€ Penulis: Agham Amarhaq Hutabarat
🏷️ Requalification Struktur 🏷️ Anjungan Lepas Pantai 🏷️ Analisis Teknis

PERANCANGAN FONDASI TIANG BOR DAN TIMBUNAN OPRIT JEMBATAN PINOKALAN DI JALAN TOL MANADO BITUNG SEKSI 2B

Proyek Jembatan Pinokalan merupakan salah satu dari tiga proyek jembatan yang berada di Jalan Tol Manado Bitung Seksi 2B sebagai penghubung ruas Danowudu – Bitung sepanjang 13,4 km. Jembatan Pinokalan memiliki panjang bentang total sepanjang 261 meter yang terdiri dari 2 bentang ujung sepanjang 42,5 meter dan 4 bentang tengah sepanjang 44 meter. Jembatan ini tergolong ke dalam jembatan khusus karena memiliki pilar yang setinggi 41,4 meter. Lokasi jembatan ini berada di Kabupaten Bitung dengan nilai percepatan tanah puncak yang besar sehingga perancangan perlu mempertimbangkan faktor kegempaan. Data tanah yang digunakan dalam proses desain diambil dari lokasi lain karena adanya keterbatasan data yang dimiliki. Dalam proses desain, akan ditemui beberapa tantangan akibat permasalahan tanah terutama akibat ketebalan tanah lunak yang sangat dalam. Fondasi yang digunakan adalah diperlukan fondasi yang cukup panjang hingga mencapai tanah keras untuk mencapai daya dukung yang dibutuhkan. Daya dukung fondasi diperoleh menggunakan persamaan dari korelasi nilai N-SPT. Selanjutnya, digunakan aplikasi LPILE untuk menentukan kapasitas aksial, lateral, dan momen tiang tunggal. Kemudian, dilakukan pemeriksaan menggunakan aplikasi GROUP untuk memastikan gaya dalam dan deformasi lateral yang terjadi masih berada di dalam syarat batas. Adanya perbedaan elevasi rencana dan elevasi eksisting tanah menyebabkan diperlukannya perancangan timbunan untuk oprit jembatan. Karena daya dukung tanah yang kecil akibat tanah dasar didominasi oleh tanah lunak, timbunan konvensional tidak memungkinkan untuk dilakukan. Oleh karena itu, timbunan oprit dirancang menggunakan Geosynthetically Reinforced and Pile Supported atau GRPS Embankment dengan menggunakan tiang pancang dan perkuatan geosintetik berupa geotekstil pada dasar timbunan untuk memperoleh stabilitas lereng yang baik. Preliminary design dilakukan secara manual kemudian analisis numerik dilakukan menggunakan aplikasi PLAXIS 2D dan PLAXIS 3D.

2024
πŸ‘€ Penulis: Kelsen Fernandi
🏷️ Konstruksi Jembatan 🏷️ Desain Geotekstil 🏷️ Analisis Teknis

REKOMENDASI PRAKTIS DESAIN DARI KOLOM GROUT MODULAR DI BAWAH TIMBUNAN DAN PELAT BETON.

Kolom Grout Modular (KGM) sebagai solusi perkuatan tanah mulai populer diterapkan, dan beberapa penilitian tentang KGM juga sudah dikembangkan di Indonesia. Dalam dunia praktisi, kesulitan ditemui dalam tahap perencanaan dan pemeriksaan, karena beberapa konsep dalam perencanaan KGM masih belum dijelaskan dalam sebuah panduan. Penelitian tentang kerangka kerja desain KGM secara menyeluruh penting dilakukan supaya setiap aspek perencanaan dan verifikasi terpenuhi. Tulisan ini adalah rekomendasi desain KGM yang memaparkan pedoman kerja terkait desain, verifikasi, hingga kontrol lapangan menggunakan loading test KGM. Semua aspek penulisan mengacu kepada referensi utama ASIRI Nastional Project 2012. Karakteristik dari sistem KGM ketika di bawah struktur timbunan dan struktur pelat beton akan dikaji dan dibedakan. Dari pemahaman ini, metode perencanaan dan pemeriksaan dibentuk dan didefinisikan prosedur desainnya. Lalu, aspek verifikasi desain yang diadopsi dari ASIRI (2012) dikaji ulang supaya kompatibel dengan kriteria desain di Indonesia. Aspek pelaksanaan di lapangan serta loading test juga dijelaskan dalam tulisan ini. Hasilnya adalah diagram alir proses mendesain hingga memverifikasi desain, beserta penjelasan dan penerapan dalam contoh kasus.

2024
πŸ‘€ Penulis: Johanes Deninov
🏷️ Desain Struktur 🏷️ Kolom Grout Modular 🏷️ Analisis Teknis
πŸ’¬