📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 2 dokumen

EVALUASI PENERAPAN BIM 4D PADA PROYEK GEDUNG DAN POTENSI AUTOMASI TERHADAP PENJADWALAN BERDASARKAN PERSEPSI PRAKTISI KONTRAKTOR

Keterlambatan proyek konstruksi masih menjadi masalah kronis di Indonesia, salah satunya disebabkan oleh keterbatasan metode penjadwalan konvensional yang tidak mampu mendeteksi konflik ruang dan waktu antar elemen pekerjaan secara visual. Di sisi lain, kajian mengenai penerapan BIM 4D sebagai instrumen penjadwalan konstruksi di Indonesia, beserta potensi automasinya, masih terbatas, padahal pemerintah telah mewajibkan penggunaan BIM pada proyek gedung berisiko tinggi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas penerapan BIM 4D pada proyek gedung serta mengidentifikasi tingkat potensi penerapan automasi penjadwalan konstruksi berdasarkan persepsi praktisi kontraktor. Simulasi BIM 4D dibangun menggunakan Autodesk Revit dan Navisworks Manage pada sebuah proyek gedung sebagai objek simulasi, kemudian dievaluasi oleh praktisi kontraktor berpengalaman melalui kuesioner dan wawancara. Efektivitas simulasi dinilai menggunakan metode Simple Multi-Attribute Rating Technique (SMART), sedangkan potensi automasi penjadwalan pada beberapa skenario teknologi dianalisis menggunakan metode Relative Importance Index (RII). Hasil penelitian menunjukkan bahwa BIM 4D dinilai efektif oleh para praktisi, terutama sebagai media komunikasi lintas disiplin dan alat deteksi dini konflik pekerjaan, meskipun kemampuannya mendeteksi keterlambatan secara real-time masih terbatas karena pembaruan model yang belum dilakukan secara rutin. Penelitian ini juga menemukan bahwa persepsi praktisi yang berpengalaman dan yang minim pengalaman menggunakan software BIM 4D menunjukkan kecenderungan berbeda, di mana kelompok berpengalaman lebih menuntut akurasi teknis sementara kelompok minim pengalaman lebih menitikberatkan pada kemudahan visualisasi. Pada aspek automasi, skenario Multi-Objective Visualization diidentifikasi sebagai yang paling berpotensi diterapkan karena kemudahan penerapannya, meski dengan hambatan utama berupa keterbatasan data historis, biaya implementasi, dan kesiapan budaya industri konstruksi, bukan pada kesiapan teknologinya.

2026
👤 Penulis: Zahwa Binta Fitria
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Proyek Konstruksi 🏷️ Analisis Teknologi

PENGEMBANGAN PENDEKATAN AUDIT TEKNOLOGI UNTUK OPTIMALISASI PENGELOLAAN IPLT DENGAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN SEMI-MEKANIS (STUDI KASUS: IPLT KALIMULYA DEPOK DAN IPLT CIBINONG KABUPATEN BOGOR)

Target SDGs di tahun 2030 yang merupakan kesepakatan pembangunan berkelanjutan dengan berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan, memicu negara berkembang, termasuk Indonesia untuk melakukan percepatan pembangunan, termasuk di bidang sanitasi. Selaras dengan target SDGs, Indonesia memiliki Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 berupa target 90% akses sanitasi layak dengan diantaranya 15% sanitasi aman dan 0% BABS. Target sanitasi aman mendorong pengembangan Instalasi Pengelolaan Lumpur Tinja di berbagai Kota/Kabupaten di Indonesia. Saat ini IPLT di Indonesia secara umum melakukan peralihan dari konvensional menjadi semi-mekanis atau mekanis total. IPLT Kalimulya dan IPLT Cibinong saat ini mengadopsi pengolahan dengan sistem semi-mekanis dan kapasitas di atas 100 lps. IPLT Kalimulya menerapkan sistem konvensional dalam pengolahan cairan dan sistem mekanis dalam pengolahan lumpur tinja, sedangkan IPLT Cibinong menerapkan sistem mekanis dalam pengolahan cairan dan sistem konvensional dalam pengolahan lumpur tinja. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan asesmen terhadap IPLT Kalimulya dengan pengembangan pendekatan audit teknologi berdasarkan langkah yang disusun oleh UNESCAP (1989) untuk menentukan faktor yang berpengaruh dalam optimalisasi manajemen pengelolaan IPLT. Bobot komponen teknologi IPLT yang mempengaruhi kinerja IPLT adalah variabel technoware, dengan bobot 36,50% disusul berturut-turut dengan variabel humanware (34,90%), infoware (16,40%), dan orgaware (12,20%). Kesesuaian sistem terbangun di Kalimulya mencapai 50,19% untuk technoware, 43,70% untuk humanware, 85,93% untuk infoware, dan 63,33% untuk orgaware, dengan kinerja total sebesar 53,05%, masuk kategori baik. Sementara itu, IPLT Cibinong mencapai 46,30% untuk technoware, 100% untuk humanware, 85,93% untuk infoware, dan 90,22% untuk orgaware, dengan kinerja total 72,87%, dikategorikan sangat baik. Strategi untuk meningkatkan kinerja IPLT Kalimulya menekankan pentingnya pengembangan humanware melalui pelatihan pegawai, serta optimalisasi fungsi instalasi dan kerja sama dengan pihak swasta. Sedangkan di IPLT Cibinong, strategi difokuskan pada peningkatan technoware untuk mengatasi idle capacity dan optimalisasi pemanfaatan IPLT, serta penguatan aspek orgaware melalui kerja sama dengan swasta dan masyarakat, serta peningkatan dukungan hukum dan pembiayaan.

2024
👤 Penulis: Anggita Laksmi Prameswari
🏷️ Analisis Teknologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok
💬