📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 2 dokumenPERANCANGAN SERI ANIMASI PENDEK UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN BAHAYA DOOMSCROLLING PADA GEN Z
Fenomena doomscrolling pada Generasi Z Indonesia telah menunjukkan dampak signifikan terhadap kesehatan mental digital, diperparah oleh gejala brain rot dan penurunan attention span akibat konsumsi konten pendek yang masif, sementara intervensi digital konvensional yang informatif dan menggurui cenderung kurang efektif serta memicu resistensi psikologis. Penelitian ini bertujuan merancang seri animasi pendek vertikal (9:16) berdurasi 45–60 detik yang didistribusikan melalui TikTok dan Instagram Reels, menggunakan metode Double Diamond yang meliputi studi literatur, analisis tren konten digital, wawancara dengan psikolog dan praktisi animasi, serta kuesioner terhadap responden Generasi Z. Strategi utamanya adalah trap-bait hook, yaitu pembukaan cerita yang meniru pola clickbait media sosial secara ironis, yang dipadukan dengan pattern interrupt visual dan struktur naratif loop sebagai kerangka dasar storytelling empatik tanpa dialog verbal. Pesan disampaikan melalui sistem enam karakter: empat ikan mas koki yang merepresentasikan posisi psikologis berbeda terhadap doomscrolling (Oran, Favy, Domy, Dedy), serta dua entitas simbolis yang merepresentasikan algoritma dan sinyal harapan yang kerap terabaikan. Kerangka ini diterapkan secara bervariasi dalam tiga video pendek dengan pendekatan penyajian berbeda, yaitu storytelling empatik, umpan klik eksplisit, dan format tutorial semu, yang masing-masing menyisipkan elemen dekonstruksi keempat dinding (fourth-wall break) dengan cara berbeda. Kontribusi penelitian ini terletak pada pendekatan perancangan naratif yang menyamarkan pesan digital wellbeing di dalam konvensi konten media sosial itu sendiri, sekaligus memperkaya kajian desain komunikasi visual untuk promosi kesehatan mental remaja di era media sosial.
PERANCANGAN ANIMASI TEH TUBRUK UNTUK MEMPOPULERKAN KEMBALI BUDAYA MINUM TEH DI KALANGAN USIA 16-25 TAHUN
Penelitian ini membahas perancangan animasi sebagai media untuk mempopulerkan kembali budaya minum Teh Tubruk kepada generasi muda usia 16–25 tahun. Teh Tubruk merupakan salah satu bentuk penyajian teh tradisional yang memiliki nilai budaya dan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, di tengah dominasi media digital dan maraknya representasi minuman modern, Teh Tubruk cenderung dipersepsikan sebagai minuman tradisional yang kurang relevan bagi generasi muda. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, wawancara, observasi, dan penyebaran kuesioner untuk menganalisis karakteristik target audiens serta merumuskan konsep perancangan yang sesuai. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa target audiens lebih menyukai animasi bergaya ilustratif dengan cerita slice of life berdurasi 30–60 detik yang didistribusikan melalui media sosial seperti TikTok dan Instagram Reels. Temuan tersebut selaras dengan Cultivation Theory yang menjelaskan bahwa paparan media secara berulang dapat membentuk persepsi audiens terhadap suatu budaya. Berdasarkan hasil tersebut, dirancang animasi digital bergaya ilustratif yang mengangkat nilai ritual, kebersamaan, dan kedekatan emosional dalam budaya minum Teh Tubruk. Perancangan ini diharapkan mampu membangun persepsi yang lebih positif terhadap Teh Tubruk sebagai bagian dari budaya Indonesia yang tetap relevan bagi generasi muda.