📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6 dokumen

PEMANFAATAN ULVAN HASIL ISOLASI DARI RUMPUT LAUT ULVA LACTUCA UNTUK SINTESIS HIDROGEL ULVAN-ION LOGAM SEBAGAI MATERIAL ANTIBAKTERI

Ulvan adalah polisakarida sulfat yang ditemukan dalam dinding sel rumput laut hijau, terutama pada spesies Ulva. Komponen ini telah menarik perhatian besar dalam bidang biomedis dan bioteknologi karena memiliki berbagai aktivitas biologis, termasuk aktivitas antibakteri. Namun demikian, aktivitas antibakteri ulvan relatif rendah dan memerlukan konsentrasi cukup tinggi (sekitar 5% (b/v)) untuk menunjukkan efek yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan modifikasi struktural pada ulvan guna meningkatkan efektivitas antibakterinya. Salah satu pendekatan yang berpotensi meningkatkan sifat antibakterinya adalah sintesis hidrogel ulvan yang dikombinasikan dengan ion logam. Beberapa ion logam diketahui mampu berinteraksi dengan membran sel bakteri, meningkatkan permeabilitas, dan menyebabkan lisis sel. Dalam penelitian ini, ulvan diekstraksi dari Ulva lactuca menggunakan metode ekstraksi air panas, diikuti presipitasi untuk memisahkan ulvan dari komponen biomassa lainnya. Ion logam Cu2+, Co2+, Fe3+, dan Zn2+ dipilih karena memiliki potensi antibakteri serta kemampuan membentuk kompleks stabil dengan gugus sulfat atau karboksilat pada ulvan. Hidrogel ulvan–ion logam disintesis menggunakan asam borat sebagai agen pengikat silang dan gliserol sebagai pemlastis. Uji antibakteri dilakukan untuk mengevaluasi potensi antibakterinya, termasuk penentuan konsentrasi hambat minimum (KHM) dan konsentrasi bunuh minimum (KBM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen ulvan yang diperoleh adalah 21,99% dengan kadar sulfat 25,33%. Karakterisasi FTIR memperlihatkan adanya regangan S=O (1260 cm?¹) dan tekukan C–O–S (789 cm?¹), yang merupakan ciri khas polisakarida sulfat. Spektrum H- NMR mengindikasikan bahwa ulvan yang diisolasi kemungkinan merupakan ulvanobiuronat, ditunjukkan dengan keberadaan sinyal asam uronat. Skrining antibakteri menunjukkan bahwa hidrogel ulvan–Zn (UZn) memiliki potensi antibakteri terhadap bakteri Gram positif maupun Gram negatif. Hasil MIC memperlihatkan bahwa Ulvan–Zn mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus epidermidis (10 mg/mL), Staphylococcus aureus (40 mg/mL), dan Escherichia coli (40 mg/mL). Vibrasi Zn–O pada 595 cm?¹ terkonfirmasi melalui FTIR, menandakan interaksi Zn2+ dengan matriks ulvan. Analisis XRD menunjukkan peningkatan kecil kristalinitas pada Ulvan–Zn dibandingkan ulvan murni, yang berkorelasi dengan penurunan kelarutannya dalam air.

2026
👤 Penulis: Muhammad Fauzan Azima
🏷️ Ulva 🏷️ Sintesis Hidrogel 🏷️ Antibakteri

TELAAH FITOKIMIA DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK, FRAKSI, DAN SUBFRAKSI DAUN HARENDONG BULU [CLIDEMIA HIRTA (L.) D. DON]

Melastomataceae merupakan salah satu suku tumbuhan yang diketahui mengandung senyawa antibakteri. Harendong bulu [Clidemia hirta (L.) D. Don] merupakan salah satu jenis tumbuhan dari suku Melastomataceae yang belum banyak diteliti. Harendong bulu ini banyak tumbuh liar di daerah hutan, dan dianggap sebagai tumbuhan invasif yang dapat mengganggu pertumbuhan tumbuhan lain. Secara tradisional, daun harendong bulu digunakan untuk mengobati luka termasuk luka infeksi. Beberapa studi penelitian menunjukkan bagian tumbuhan harendong bulu ini memiliki aktivitas antibakteri, yaitu akar, batang, dan daun. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah secara fitokimia golongan senyawa yang terdapat dalam daun harendong bulu, menentukan aktivitas antibakteri dari ekstrak, fraksi, serta subfraksi dari daun harendong bulu, dan menentukan golongan senyawa yang berperan dalam aktivitas antibakteri. Penelitian dimulai dengan pembuatan simplisia, karakterisasi simplisia, dan penapisan fitokimia. Daun harendong bulu segar dikumpulkan, dikeringkan, dan digiling menjadi serbuk simplisia. Simplisia dikarakterisasi meliputi pemeriksaan makroskopik dan mikroskopik, penetapan kadar air, penetapan kadar abu total, penetapan kadar abu larut air, penetapan kadar abu tidak larut asam, penetapan kadar sari larut air, penetapan kadar sari larut etanol, serta penetapan susut pengeringan. Penapisan fitokimia menunjukkan hasil positif pada flavonoid, fenol, tanin katekat, tanin galat, saponin, dan steroid/triterpenoid. Simplisia diekstraksi secara bertahap dengan metode refluks menggunakan tiga pelarut dengan kepolaran bertingkat, yaitu n-heksana, etil asetat, dan etanol. Ekstrak etil asetat difraksinasi dengan metode kromatografi cair vakum secara elusi gradien menggunakan kombinasi tiga pelarut dengan kepolaran bertingkat. Fraksi terpilih disubfraksinasi menggunakan metode kromatografi kolom klasik secara elusi gradien menggunakan kombinasi tiga pelarut dengan kepolaran bertingkat. Subfraksi terpilih disubfraksinasi lebih lanjut menggunakan kromatografi lapis tipis preparatif. Senyawa antibakteri dikarakterisasi menggunakan penampak bercak spesifik untuk menentukan golongan senyawanya. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Uji aktivitas antibakteri secara kualitatif dilakukan dengan uji biootografi, dan secara kuantitatif dengan uji mikrodilusi. Uji biootografi dilakukan untuk menentukan senyawa antibakteri berdasarkan profil kromatogramnya. Uji mikrodilusi dilakukan untuk menentukan nilai konsentrasi hambat minimum sampel uji terhadap bakteri uji. Hasil uji mikrodilusi menunjukkan nilai konsentrasi hambat minimum yang sama pada ekstrak etil asetat, fraksi, dan subfraksi, yaitu 1024 µg/mL terhadap Enterococcus faecalis dan Staphylococcus aureus, dan 2048 µg/mL terhadap Propionibacterium acnes. Hasil uji biootografi menunjukkan senyawa pada Rf 0,74 memberikan daerah hambat terhadap ketiga bakteri uji. Berdasarkan hasil karakterisasi menggunakan penampak bercak spesifik, senyawa pada Rf 0,74 diduga sebagai suatu senyawa golongan flavonoid.

2025
👤 Penulis: Ulfa Pramita Intani
🏷️ Fitokimia 🏷️ Antibakteri 🏷️ Kromatografi

SINTESIS HIJAU NANOPARTIKEL AG/AGCL DENGAN EKSTRAK KULIT BAWANG MERAH (ALLIUM CEPA L. VAR AGGREGATUM) SEBAGAI AGEN PEREDUKSI LARUTAN AGNO3, DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERINYA TERHADAP E. COLI DAN B. CEREUS DALAM GEL ULTRASONOGRAFI

Penambahan agen antimikrobial pada gel ultrasonografi (USG) dapat mengurangi resiko penularan infeksi antar pasien. Nanopartikel logam mulia, khususnya perak (AgNP), dapat menjadi alternatif agen antibakteri sekaligus antiviral yang lebih menjanjikan dibanding antibiotik yang hanya bekerja terhadap bakteri serta cenderung menimbulkan bakteri yang lebih tahan antibiotik seiring waktu. Sayangnya, kebanyakan metode pembuatan AgNP melibatkan zat berbahaya, kondisi ekstrim, energi tinggi, serta pemisahan yang rumit. Reduksi larutan AgNO3 dengan ekstrak tanaman dapat menjadi jalur sintesis yang lebih ‘hijau’, terutama jika memanfaatkan limbah pengolahan pangan atau bahan hayati lainnya. Zat pereduksi yang umum ditemukan dalam ekstrak tanaman, misalnya flavonoid, banyak terkandung dalam bawang merah yang umum digunakan sebagai bahan makanan di Indonesia, akan tetapi limbah pengolahannya masih belum banyak dimanfaatkan. Pada tesis ini dipaparkan penelitian sintesis hijau nanopartikel perak/perak klorida (Ag/AgCl NPs) dengan metode reduksi larutan AgNO3, menggunakan ekstrak limbah kulit bawang merah sebagai agen pereduksi (SPE-AgNP). Kebaruan yang dimiliki penelitian ini adalah kombinasi penggunaan ekstrak kulit bawang merah (Allium cepa L. var aggregatum) sebagai sumber agen pereduksi untuk sintesis nanopartikel Ag, dengan penerapannya pada gel USG, yang sebelumnya baru dilakukan dengan AgNP yang direduksi dengan ekstrak Chrysanthemum morifolium Ramat., sehingga dapat membuka opsi baru sintesis hijau AgNP dengan agen pereduksi organik yang tidak berkompetisi dengan kebutuhan pangan, dan justru memanfaatkan limbah. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki Ag/AgCl NPs yang dihasilkan, serta perbandingan kemampuannya dengan AgNP hasil reduksi oleh NaBH4. AgNP yang dihasilkan dikarakterisasi dengan TEM, XRD, FTIR, dan UV-vis. Kemampuan antibakteri diuji dengan uji Kirby-Bauer setelah nanopartikel terdispersi dalam gel ultrasonografi. Kata kunci: agen pereduksi, ekstrak kulit bawang merah, flavonoid, nanopartikel perak, sintesis hijau.

2024
👤 Penulis: Revi Muharam Fadli
🏷️ Nanopartikel Perak 🏷️ Sintesis Hijau 🏷️ Antibakteri

PENGARUH PEMBERIAN KERATIN TERHADAP SINTESIS KARBON POLIMER DOTS BERBASIS NANOSELULOSA DAN POLYETHYLEMINIME

Infeksi akibat bakteri menyebabkan penyembuhan luka menjadi lambat atau tertunda. Pentingnya merancang dan mengembangkan material bertekstur lembut untuk menjaga lingkungan luka serta memiliki kemampuan antibakteri untuk mengatasi infeksi bakteri. Pada penelitian ini dirancang hidrogel dengan kandungan karbon dot yang terjebak dan disintesis dari selulosa nanokristalin/polietilenimin/keratin dengan metode one-pot hydrothermal yang mudah, menunjukkan kemampuan antibakteri yang baik dan evaluasi toksisitas in vitro. Hidrogel NCC/PEI/K menunjukkan terbentuknya karbon dot yang terjebak di dalam susunan serat dengan kemampuan swelling yang baik dan kandungan karbon dot dapat rilis bertahap. Evaluasi kinerja antibakteri terbukti unggul terhadap S.aureus bahkan setelah dilakukan pencucian 24 jam dengan kinerja antibakteri tertinggi pada hidrogel NCC/PEI/K10%. Selain itu, viabilitas sel menunjukkan hidrogel dengan keratin 10% memiliki peningkatan pada viabilitas sel sebesar 70,87%.

2024
👤 Penulis: Fifin Tresna Juwita
🏷️ Karbon Dot 🏷️ Hidrogel Nanokristal 🏷️ Antibakteri

KAJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIBAKTERI EKSTRAK, FRAKSI, SUBFRAKSI DAN SENYAWA AKTIF TUMBUHAN MOBE (ARTOCARPUS LACUCHA BUCH. -HAM)

Infeksi menyebabkan banyak masalah kesehatan. Salah satu penyebab infeksi adalah bakteri patogen yang dapat diobati dengan antibiotik. Namun, penggunaan antibiotik yang tidak tepat menyebabkan resistensi antibiotik yang berdampak pada gagalnya terapi untuk infeksi. Dewasa ini, penelitian mengenai antibakteri dan antioksidan pada tanaman sering dilakukan, karena adanya kandungan senyawa fenol dan flavonoid yang mampu bertindak sebagai antibakteri dan antioksidan. Reactive oxygen species (ROS) yang merupakan radikal bebas, dapat menyebabkan berbagai penyakit degeneratif seperti aterosklerosis, diabetes, jantung dan pembuluh darah serta penuaan dini. Karena berbagai masalah tersebut, maka perlu dilakukan pencarian kandidat obat baru dari tumbuhan. Mobe (Artocarpus lacucha) adalah salah satu tumbuhan dari marga Artocarpus yang secara tradisional digunakan masyarakat sebagai bumbu masakan dan untuk mengobati penyakit seperti sakit perut, penyembuh luka serta obat cacing. Melalui berbagai hasil penelitian diperoleh informasi bahwa tumbuhan ini memiliki aktivitas antioksidan, antimikroba, antiinflamasi dan antiglikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas antioksidan dan antibakteri dari tumbuhan mobe. Bagian tumbuhan yang digunakan adalah daun, kulit batang, ranting dan buah. Kulit batang dipilih untuk diuji lebih lanjut karena memiliki aktivitas antioksidan terbaik (kapasitas antioksidan dengan metode DPPH 7,19 ± 0,10 mg AEAC/g ekstrak dan dengan metode CUPRAC 91,32 ± 3,77 mg AEAC/g ekstrak) dan antibakteri terbaik terhadap 6 dari 9 bakteri uji (diameter hambat pada konsentrasi 750 µg/disk terhadap bakteri Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA), S.aureus, C.acnes, S.mutans, S.epidermidis dan B.subtillis berturut-turut 10,20 ± 0,001; 10,40 ± 0,69; 9,80 ± 0,34; 8,85 ± 0,26; 8,20 ± 0,17; 7,27 ± 0,37 mm, konsentrasi hambat minimum (KHM) keenam bakteri berturut-turut pada konsentrasi 1,56; 12,5; 25; 12,5; 25 dan 12,5 mg/mL). Pada tahap ekstraksi bertingkat kulit batang digunakan berturut-turut pelarut n-heksana, etil asetat dan etanol. Ekstrak etil asetat dipilih untuk dilanjutkan pada tahap fraksinasi karena memiliki ativitas antioksidan terbaik (kapasitas antioksidan dengan metode DPPH 70,91 ± 2,60 mg AEAC/g ekstrak dan CUPRAC 179,74 ± 2,52 mg AEAC/g ekstrak) dan antibakteri terbaik terhadap 6 dari 9 bakteri uji (diameter hambat pada konsentrasi 750 µg/disk terhadap bakteri MRSA, S.aureus, C.acnes, S.mutans, S.epidermidis dan B.subtillis berturut-turut 9,13 ± 0,03; 9,88 ± 0,02; 9,63 ± 0,03; 8,03 ± 0,03; 8,53 ± 0,02; 6,83 ± 0,03 mm, KHM keenam bakteri berturut-turut pada konsentrasi 3,125; 3,125; 1,56; 1,56; 6,25 dan 3,125 mg/mL. Pada tahap fraksinasi, diperoleh 8 fraksi gabungan. Berdasarkan rendemen, pola kromatogram, aktivitas antioksidan dan aktivitas antibakteri dengan bioautografi, fraksi F6 dipilih untuk dilanjutkan ke tahap subfraksinasi. Aktivitas antioksidan fraksi F6 memberikan kapasitas antioksidan dengan metode DPPH 57, 63 ± 0,98 mg AEAC/g ekstrak dan CUPRAC 70,55 ± 0,32 mg AEAC/g ekstrak. Hasil KLT-bioautografi menyimpulkan bahwa fraksi F6 dengan konsentrasi 50 µg memberikan zona bening pada S. aureus, MRSA, C. acnes dan S. epidermidis. Pada tahap subfraksinasi, diperoleh 9 subfraksi gabungan. Subfraksi SF5 memberikan aktivitas antioksidan terbaik (kapasitas antioksidan dengan metode DPPH 69,72 ± 0,09 mg AEAC/g ekstrak dan CUPRAC 209,65 ± 0,18 mg AEAC/g ekstrak). Hasil KLT-bioautografi menyimpulkan subfraksi SF5 dengan konsentrasi 50 µg memberikan zona bening pada S. aureus, MRSA, C. acnes dan S. epidermidis. KHM yang dihasilkan oleh subfraksi SF5 terhadap S. aureus, MRSA, C. acnes pada konsentrasi 625 µg/mL dan terhadap S. epidermidis pada konsentrasi 1250 µg/mL. Selanjutnya subfraksi SF5 dianalisis dengan LC-HRMS-MS, SEM dan TEM. Hasil LC-HRMSMS berupa enam senyawa mayor dengan similarity ?90% yaitu kemferol, piseatanol, isorhamnetin, 4-metilumbeliferon, oleamide dan (2R,3R)-2-(2,6-dihidroksifenil)-3,5,7- trihidroksi-2,3-dihidro-4H-chromen-4-one. Hasil analisis SEM dan TEM menunjukkan bahwa subfraksi SF5 pada KHM menyebabkan kerusakan dinding sel pada keempat bakteri uji. Tiga senyawa terpilih yaitu kemferol, piseatanol dan isoramnetin dilakukan uji in silico dan disimpulkan bahwa ketiga senyawa tersebut berpotensi sebagai antibakteri terhadap bakteri S. aureus, MRSA, C. acnes dan S. epidermidis. Pada penelitian ini juga dilakukan penetapan kadar kemferol pada ekstrak etil asetat kulit batang, fraksi F6, subfraksi SF5 dan diperoleh kadar kemferol berturutturut 0,18 ± 0,05; 0,07 ± 0,01 dan 0,04 ± 0,02 %. Dari penelitian ini disimpulkan, ekstrak kulit batang mobe berpotensi untuk dikembangkan sebagai antioksidan dan antibakteri, terutama untuk bakteri Gram positif.

2024
👤 Penulis: Dewi Pertiwi
🏷️ Antioksidan 🏷️ Antibakteri 🏷️ Mobe (Artocarpus Lacucha)

METODE PENGAYAAN XANTORIZOL DAN KURKUMINOID PADA TEMULAWAK (CURCUMA XANTHORRHIZA ROXB.) SEBAGAI ANTIBAKTERI

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) digunakan secara masif di Indonesia untuk kebutuhan obat, makanan, dan pewarna alami. Khasiat temulawak yang paling dikenal adalah sebagai an@mikroba, an@bakteri, an@oksidan dan an@inflamasi. Senyawa utama dari metabolit sekunder temulawak yang berperan sebagai an@bakteri adalah xantorizol dan kurkumin. Peneli@an ini bertujuan untuk mengetahui metode pengayaan isolasi xantorizol dan kurkuminoid (kurkumin, demetoksikurkumin, bisdemetoksikurkumin) serta menguji ak@vitas an@bakteri dari isolat temulawak terhadap daya hambat pertumbuhan Propionibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa. Digunakan perbandingan metode ekstraksi maserasi dengan perkolasi. Hasil ekstrak dilanjutkan dengan fraksinasi dan isolasi menggunakan metode kromatografi cair vakum (KCV) dan kromatografi radial (KR). Metode maserasi efek@f dalam pengayaan demetoksikurkumin, bisdemetoksikurkumin, xantorizol, sedangkan metode perkolasi efek@f dalam pengayaan senyawa kurkumin. Penentuan nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) bakteri dilakukan menggunakan metode mikrodilusi dengan konsentrasi sampel 4–1024 µg/mL dengan kontrol posi@f tetrasiklin HCl. Adapun senyawa an@mikroba yang paling efek@f terhadap bakteri P. acnes adalah xantorizol (KHM 8; KBM 16 µg/mL) dan yang paling efek@f terhadap bakteri P. aeruginosa adalah kurkumin (KHM 16; KBM 128 µg/mL).

2024
👤 Penulis: Claudia Audrey Kurniawan
🏷️ Antibakteri 🏷️ Metode Pengayaan Senyawa Metabolit Sekunder 🏷️ Kecerdasan Buatan
💬