📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 7 dokumen

POTENSI PLANT DERIVED EXOSOME-LIKE NANOPARTICLES (PDEN) DARI BUAH JAMBLANG (SYZYGIUM CUMINI) SEBAGAI ANTIINFLAMASI DAN ANTIHIPERPIGMENTASI : UJI IN VITRO PADA SEL RAW 264.7 DAN SEL B16

Jerawat (acne vulgaris) merupakan salah satu permasalahan kulit yang paling umum dan bersifat inflamasi kronis, ditandai oleh peningkatan produksi sebum, kolonisasi bakteri, serta aktivasi respon imun bawaan dan adaptif. Proses inflamasi yang terjadi pada jerawat memicu pelepasan berbagai mediator proinflamasi dan stres oksidatif yang tidak hanya memperparah kerusakan jaringan kulit, tetapi juga berperan penting dalam aktivasi melanosit. Kondisi ini menyebabkan peningkatan sintesis dan distribusi melanin yang berujung pada Post-Inflammatory Hyperpigmentation (PIH), yang sering muncul sebagai bekas gelap jerawat. Pendekatan kosmetik konvensional umumnya menargetkan penghambatan enzim tirosinase atau produksi melanin semata, tanpa mengatasi inflamasi sebagai penyebab utama PIH, serta sering menggunakan bahan sintetis yang berpotensi menimbulkan iritasi dan efek samping jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan strategi alternatif yang lebih aman dan efektif dengan menekan inflamasi sekaligus menurunkan hiperpigmentasi. Salah satu kandidat yang menjanjikan adalah Plant-Derived Exosome-Like Nanoparticles (PDEN), yaitu nanopartikel vesikular bermembran lipid yang berasal dari tumbuhan dan mengandung muatan bioaktif alami. Dibandingkan eksosom mamalia, PDEN memiliki keunggulan dari sisi keamanan, biokompatibilitas, kemudahan produksi, serta risiko imunogenisitas yang lebih rendah. Buah jamblang (Syzygium cumini) dikenal kaya akan antosianin, flavonoid, dan senyawa fenolik dengan aktivitas antioksidan dan antiinflamasi yang tinggi, namun pemanfaatannya sebagai sumber PDEN belum pernah dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi PDEN dari buah jamblang sebagai agen antiinflamasi dan anti-hiperpigmentasi secara in vitro pada sel makrofag mencit RAW 264.7 dan sel melanoma mencit B16. PDEN jamblang diisolasi menggunakan dua pendekatan, yaitu metode presipitasi PEG dan metode filtrasi vakum. Karakterisasi dilakukan melalui analisis ukuran partikel dan indeks polidispersitas menggunakan particle size analyzer (PSA) dan nanoparticle tracking analysis (NTA), serta pengamatan morfologi menggunakan transmission electron microscopy (TEM). Selain itu dilakukan analisis stabilitas penyimpanan dan pengujian kandungan protein menggunakan Liquid Chromatography–High-Resolution Mass Spectrometry (LC-HRMS). Aktivitas antibakteri terhadap bakteri jerawat dilakukan menggunakan metode microdillution dan aktivitas antioksidan dianalisis menggunakan DPPH assay. Uji sitotoksisitas menggunakan MTT assay dan internalisasasi PDEN dilakukan terhadap sel makrofag RAW 264.7 dan sel melanoma B16. Sel RAW 264.7 adalah lini sel makrofag mencit yang digunakan sebagai model inflamasi karena responsif terhadap stimulasi LPS dan menghasilkan mediator proinflamasi. Sel B16 adalah lini sel melanoma mencit yang digunakan sebagai model melanogenesis karena mampu memproduksi melanin dan responsif terhadap induksi pigmentasi. Aktivitas antiinflamasi pada sel RAW 264.7 yang diinduksi LPS dianalisis melalui pengukuran produksi Nitric Oxide (NO) dan IL-6 ELISA Assay. Aktivitas antihiperpigmentasi dievaluasi pada sel B16 melalui pengukuran kadar melanin dan aktivitas enzim tirosinase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PDEN jamblang berhasi diisolasi menggunakan metode PEG6000 memiliki ukuran partikel berkisar antara 130–185 nm sedangkan PDEN jamblang yang diisolasi menggunakan metode vakum filter menghasilkan ukuran partikel antara 200-300 nm. Morfologi PDEN jamblang berbentuk sferis dengan struktur lipid bilayer yang jelas. PDEN jamblang menunjukkan stabilitas yang baik selama satu bulan penyimpanan pada suhu -20°C dan dalam kondisi serbuk setelah proses lioflisasi atau freeze drying. Uji antioksidan menunjukkan aktivitas penangkapan radikal bebas yang kuat dengan nilai IC?? sebesar 16,23 ?g/mL pada PDEN segar dan 15,62 ?g/mL pada PDEN freeze dried. PDEN jamblang juga menunjukkan aktivitas antibakteri yang kuat terhadap bakteri penyebab jerawat, dengan nilai minimum inhibitory concentration (MIC) sebesar 10 ?g/mL terhadap Staphylococcus epidermidis dengan inhibisi 68,8%, serta 320 ?g/mL terhadap Staphylococcus aureus dan Cutibacterium acnes dengan masing-masing inhibisi 33,2% dan 25,2%. PDEN jamblang bersifat tidak toksik terhadap sel RAW 264.7 dan B16 yang ditunjukkan dengan nilai vibilitas selnya di atas 70% pada seluruh konsentrasi uji (5-100 ?g/mL). Pengamatan menggunakan mikroskop confocal menunjukkan bahwa PDEN jamblang terinternalisasi secara efektif oleh sel RAW 264.7 dan sel B16 sejak 3 jam inkubasi. Pada sel RAW 264.7 yang distimulasi LPS, PDEN jamblang secara signifikan mampu menurunkan produksi NO hingga 47,0% (p < 0.001) serta menekan sekresi IL-6 sebesar 63,35% (p < 0.0001) pada konsentrasi 5 ?g/mL. Pada sel melanoma B16, PDEN jamblang secara signifikan menghambat melanogenesis yang diinduksi forskolin dengan menurunkan kadar melanin sebesar 35% (p < 0.05)dan aktivitas tirosinase masing-masing sebesar 34.34% (p < 0.0001) pada konsentrasi 5 ?g/mL. Dengan demikian, berdasarkan hasil penelitian ini, PDEN dari buah jamblang memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, antihiperpigmentasi, dan antibakteri. Penelitian ini berpotensi memberikan kontribusi terhadap pengembangan bahan aktif nanokosmetik yang lebih aman dan efektif untuk penanganan jerawat dan hiperpigmentasi pascainflamasi. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemanfaatan buah jamblang sebagai sumber PDEN serta pendekatan integratif yang menargetkan inflamasi dan hiperpigmentasi secara simultan.

2026
👤 Penulis: Amanah Muthmainnah Idris
🏷️ Antiinflamasi 🏷️ Antihiperpigmentasi 🏷️ Hidrologi Nanokosmetik

POTENSI ANTIINFLAMASI  MINYAK LARVA BLACK SOLDIER FLY (HERMETIA ILLUCENS L.)

Inflamasi merupakan respon sistem imun terhadap patogen, cedera jaringan, serta infeksi dalam sel tubuh yang dapat menyebabkan gejala kemerahan (rubor/eritema), bengkak (tumor/edema), panas (calor), nyeri (dolor), serta kehilangan fungsi organ/jaringan. Obat bahan alam menjadi salah satu alternatif terapi yang dinilai memiliki efek samping yang rendah dan lebih aman dikonsumsi bila digunakan dengan tepat. Salah satu bahan alam yang berpotensi untuk mengatasi inflamasi adalah larva Black Soldier Fly / BSF (Hermetia illucens L.). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan potensi aktivitas antiinflamasi dari minyak larva Black Soldier Fly / BSF (Hermetia illucens L.) secara in vitro. Minyak larva BSF yang didapatkan dari proses ekstraksi menggunakan metode refluks dengan pelarut n-heksana diuji aktivitas antiinflamasinya dengan metode inhibisi denaturasi protein dan stabilisasi membran darah menggunakan natrium diklofenak sebagai standar. Ekstrak dengan aktivitas antiinflamasi terbaik ditunjukkan oleh ekstrak larva BSF D15 dengan nilai IC50 sebesar 303,100 ± 44,481 µg/mL pada uji denaturasi protein dan sebesar 6720,137 ± 83,700 µg/mL pada uji stabilisasi membran darah. Karakterisasi dan identifikasi lebih lanjut diperlukan dalam pengembangan sediaan antiinflamasi berbasis ekstrak larva BSF.

2026
👤 Penulis: Raissa Devi Amadea
🏷️ Antiinflamasi 🏷️ Kecerdasan Buatan

STUDI AKTIVITAS ANTIINFLAMASI EKSTRAK SERTA FRAKSI HERBA DAN BUAH STROBERI  (FRAGARIA X ANANASSA (DUCHESNE EX WESTON) DUCHESNE EX ROZIER)

Inflamasi merupakan respons pertahanan tubuh terhadap kerusakan atau infeksi jaringan. Stroberi (Fragaria × ananassa (Duchesne ex Weston) Duchesne ex Rozier) diketahui mengandung berbagai senyawa fitokimia yang sebagian besar direpresentasikan oleh senyawa golongan polifenol dan diduga berperan dalam aktivitas antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antiinflamasi ekstrak serta fraksi dari herba dan buah stroberi serta melakukan karakterisasi untuk mengetahui golongan senyawa yang diduga berperan dalam aktivitas antiinflamasi. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi bertingkat dengan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol 70%. Fraksinasi dilakukan dengan metode kromatografi cair vakum menggunakan pelarut etil asetat, metanol, dan air. Uji aktivitas antiinflamasi pada ekstrak dan fraksi dilakukan dengan penentuan nilai IC50 menggunakan metode denaturasi protein dan stabilisasi membran. Nilai IC50 untuk ekstrak n-heksana herba, etil asetat herba, etanol 70% herba, n-heksana buah, etil asetat buah, dan etanol 70% buah menggunakan metode denaturasi protein berturut-turut sebesar 753,59 ± 2,84; 1758,87 ± 6,17; 119,95 ± 0,13; 1528,37 ± 9,73; 607,42 ± 0,28; dan 184,93 ± 0,44 ?g/mL. Nilai IC50 untuk ekstrak n-heksana herba, etil asetat herba, etanol 70% herba, n-heksana buah, etil asetat buah, dan etanol 70% buah menggunakan metode stabilisasi membran berturut-turut sebesar 12183,66 ± 100,90; 8308,58 ± 121,27; 813,33 ± 24,40; 12115,45 ± 285,55; 1723,20 ± 210,53; dan 5433,68 ± 179,60 ?g/mL. Ekstrak etanol 70% herba terpilih menjadi ekstrak yang akan difraksinasi karena aktivitas antiinflamasinya yang paling baik. Melalui karakterisasi ekstrak, diketahui ekstrak etanol 70% herba mengandung senyawa golongan flavonoid, fenol, tanin, kuinon, dan saponin. Nilai IC50 untuk fraksi 1—3, 4—6, 7—8, 9—13, dan 14—21 menggunakan metode denaturasi protein berturut-turut sebesar 2154,83 ± 16,75; 1251,83 ± 15,01; 2812,15 ± 7,52; 1034,59 ± 14,42; dan 471,76 ± 16,12 ?g/mL. Fraksi 14—21 dengan aktivitas antiinflamasi yang paling baik dipilih untuk dikarakterisasi dan diketahui bahwa fraksi mengandung senyawa golongan flavonoid dan fenol. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% dari herba stroberi memiliki nilai IC50 yang paling rendah dibandingkan ekstrak dan fraksi lain yang diujikan sehingga berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai agen antiinflamasi.

2026
👤 Penulis: Priscilla Serena Boru S
🏷️ Antiinflamasi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

STUDI AKTIVITAS ANTIINFLAMASI EKSTRAK DAN FRAKSI DAUN SEREH DAPUR (CYMBOPOGON CITRATUS (DC.) STAPF) DENGAN METODE PENGHAMBATAN DENATURASI PROTEIN

Inflamasi merupakan respons alami sistem imun terhadap cedera jaringan atau rangsangan merugikan seperti infeksi, zat asing, atau reaksi hipersensitivitas. Kondisi ini ditandai dengan adanya kemerahan, nyeri, panas, dan pembengkaan di area yang terkena. Pengobatan inflamasi saat ini umumnya menggunakan obat antiinflamasi steroid dan nonsteroid (NSAID). Namun, penggunaan jangka panjang NSAID dapat menimbulkan efek samping seperti gangguan ginjal, hipertensi, edema, serta perdarahan saluran cerna. Kondisi ini mendorong pencarian senyawa aktif dengan aktivitas antiinflamasi dari bahan alam, salah satunya berasal dari daun sereh dapur (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antiinflamasi ekstrak dan fraksi daun sereh dapur, serta mengkarakterisasi senyawa aktif yang terkandung di dalam fraksi terpilih. Pengujian aktivitas antiinflamasi dilakukan secara in vitro menggunakan metode penghambatan denaturasi protein. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat memiliki aktivitas antiinflamasi paling baik dengan nilai IC?? sebesar 883,73 ± 11,57 µg/mL. Ekstrak tersebut kemudian difraksinasi menggunakan kromatografi cair vakum (KCV) dengan elusi gradien pelarut n-heksana, kloroform, dan metanol. Fraksi terbaik ditunjukkan oleh fraksi 9 yang merupakan gabungan dari fraksi ke-16, 17, dan 18, dengan nilai IC?? sebesar 672,73 ± 5,78 µg/mL. Karakterisasi fraksi 9 menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT)-spektrofotodensitometri menunjukkan adanya senyawa dengan nilai Rf yang identik dengan luteolin pada panjang gelombang maksimum 348 nm. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etil asetat dan fraksi 9 daun sereh dapur diduga mengandung luteolin yang berperan dalam aktivitas antiinflamasi tersebut. Karakterisasi senyawa lebih lanjut diperlukan untuk memastikan senyawa yang terkandung dan berperan dalam aktivitas antiinflamasi.

2025
👤 Penulis: Reva Shofiana
🏷️ Antiinflamasi 🏷️ Kromatografi Lapis Tipis 🏷️ Luteolin

UJI AKTIVITAS ANTIINFLAMASI SEDIAAN EMULGEL KOMBINASI FRAKSI HIDROLISAT MEMBRAN CANGKANG TELUR DENGAN EKSTRAK KUNYIT PADA TIKUS MODEL INFLAMASI AKUT DAN KRONIS

Inflamasi merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh terhadap adanya serangan zat asing. Membran cangkang telur (MCT) diketahui memiliki aktivitas antiinflamasi karena kandungan komponen protein dan glikosaminoglikan. Sementara itu, ekstrak kunyit diketahui mengandung senyawa kurkumin yang memiliki efek antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efek antiinflamasi sediaan emulsi gel (emulgel) kombinasi MCT dengan ekstrak kunyit menggunakan parameter udem kaki tikus. MCT dihidrolisis secara enzimatik menggunakan enzim papain dan natrium sulfit. Hidrolisat MCT (HMCT) difraksinasi menggunakan ultrafiltrasi membran. Fraksi HMCT <10 kDa dan ekstrak kunyit diformulasikan menjadi sediaan emulgel. Evaluasi emulgel terdiri dari organoleptik, pH, viskositas, dan homogenitas. Uji aktivitas antiinflamasi dilakukan pada dua model hewan uji, yaitu inflamasi akut dan kronis. Pada masing-masing model hewan uji, terdapat lima kelompok uji yang terdiri dari kontrol negatif (tanpa perlakuan), kontrol positif (krim glukosamin-kondroitin), kelompok uji I (emulgel I, fraksi HMCT <10 kDa 0,3%), kelompok uji II (emulgel II, fraksi HMCT <10 kDa 0,6%), dan kelompok uji III (emulgel III, fraksi HMCT <10 kDa 0,6% + ekstrak kunyit 0,3%). Uji antiinflamasi akut dilakukan menggunakan suspensi karagenan 1% sebanyak 0,05 mL yang disuntikkan pada kaki kiri belakang tikus secara intraplantar. Pengamatan dilakukan setiap 30 menit sekali selama 5 jam. Uji antiinflamasi kronis dilakukan menggunakan emulsi Freund’s Complete Adjuvant (FCA) 1:1 sebanyak 0,2 mL yang disuntikkan pada area yang sama. Pengamatan udem dilakukan hingga hari ke-28. Pada uji antiinflamasi akut, emulgel II (fraksi HMCT <10 kDa 0,6%) dan emulgel III (fraksi HMCT <10 kDa 0,6% + ekstrak kunyit 0,3%) memberikan nilai %udem yang berbeda bermakna terhadap kelompok kontrol negatif (P<0,05) menggunakan parameter AUC dimulai dari waktu ke-0 hingga ke-240. Pada uji antiinflamasi kronis, seluruh sediaan emulgel tidak memberikan perubahan %udem yang signifikan terhadap kelompok kontrol negatif (P>0,05).

2024
👤 Penulis: Andina Kayla Prasanti
🏷️ Antiinflamasi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

STUDI AKTIVITAS ANTIINFLAMASI EKSTRAK DAN FRAKSI DAUN KARAMUNTING (RHODOMYRTUS TOMENTOSA (AITON) HASSK.) DENGAN METODE DENATURASI PROTEIN DAN STABILISASI MEMBRAN DARAH

Inflamasi atau radang dapat diartikan sebagai sistem kekebalan tubuh untuk melawan suatu penyakit dengan pelepasan berbagai mediator kimia yang menghancurkan, mengurangi, serta melokalisasi agen pencedera maupun jaringan yang cedera, umumnya ditandai dengan adanya kemerahan, panas, dan nyeri. Daun karamunting (Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk.) menjadi salah satu tanaman yang digunakan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai kondisi kesehatan, termasuk peradangan atau inflamasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan potensi antiinflamasi ekstrak dan fraksi daun karamunting serta mengkarakterisasi kandungan senyawa aktif fraksi yang terkandung. Sampel dilakukan pengujian aktivitas antiinflamasi secara in vitro dengan menggunakan denaturasi protein BSA dan stabilisasi membran darah. Fraksi terpilih dilakukan karakterisasi dengan pemantauan KLT dan KLT densitometri. Didapatkan bahwa aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol daun karamunting (Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk.) memiliki aktivitas penghambatan denaturasi protein BSA dan penghambatan hemolisis pada sel darah merah dengan nilai IC50 berturut-turut sebesar 149,238 ± 5,832 dan 243,775 ± 5,617 mg/mL. Nilai IC50 fraksi 1, fraksi 2, fraksi 3, fraksi 4, dan fraksi 5 secara berturut-turut adalah 1000,970 ± 25,941; 604,615 ± 82,045; 497,797 ± 5,102; 162,992 ± 0,594; 105,203 ± 10,862 mg/mL. Fraksi 5 merupakan fraksi yang memiliki nilai aktivitas penghambatan denaturasi yang paling baik ditandai dengan nilai IC50 yang paling kecil. Golongan senyawa yang terkandung pada fraksi 5 adalah flavonoid, fenol, tanin, dan saponin. Senyawa yang berhasil teridentifikasi menggunakan metode KLT densitometri adalah senyawa eugenol.

2024
👤 Penulis: Mirna Arya Asy-syifaawati
🏷️ Antiinflamasi 🏷️ Rhodomyrtus Tomentosa (Aiton) Hassk. 🏷️ Kecerdasan Buatan

STUDI AKTIVITAS ANTIINFLAMASI EKSTRAK DAN FRAKSI DAUN SUJI (DRACAENA ANGUSTIFOLIA (MEDIK.) ROXB.) DENGAN METODE DENATURASI PROTEIN DAN STABILISASI MEMBRAN DARAH

Inflamasi merupakan sistem pertahanan tubuh dalam merespon suatu zat asing yang masuk ke dalam tubuh hingga dapat menyebabkan rasa ketidaknyamanan hingga penyakit kronis seperti rheumatoid arthritis. Secara umum, inflamasi sudah dapat diatasi menggunakan obat sintetik NSAID. Namun, konsumsi obat NSAID berkepanjangan memberikan efek samping pada saluran pencernaan dan efek kardiovaskular. Hal ini menjadi dasar masih diperlukannya pencarian bahan aktif untuk mengatasi inflamasi, salah satunya berasal dari bahan alam yakni daun suji (Dracaena angustifolia (Medik.) Roxb.). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antiinflamasi esktrak dan fraksi daun suji. Penentuan aktivitas antiinflamasi dilakukan dengan metode denaturasi protein dan stabilisasi membran darah. Selain itu, bertujuan untuk mengkarakterisasi senyawa yang terkandung pada fraksi aktif antiinflamasi menggunakan KLTspektrofotodensitometri. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi bertingkat menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol 70%. Aktivitas antiinflamasi diuji dengan metode denaturasi protein dan stabilisasi membran darah. Ekstrak dengan aktivitas antiinflamasi terbaik ditunjukkan oleh ekstrak etil asetat dengan nilai IC50 sebesar 64,47 ± 1,357 µg/mL pada uji denaturasi protein dan nilai IC50 sebesar 2651,64 ± 33,037 µg/mL pada uji stabilisasi membrane darah. Ekstrak etil asetat kemudian difraksinasi dengan metode kromatografi cair vakum menggunakan elusi gradien campuran pelarut nheksana, etil asetat, dan etanol. Fraksi dengan aktivitas antiinflamasi terbaik ditunjukkan oleh fraksi 6 dengan nilai IC50 sebesar 27,079 ± 0,233 µg/mL pada uji denaturasi protein dan nilai IC50 sebesar 1910,50 ± 29,1 µg/mL pada uji stabilisasi membran darah. Hasil karakterisasi fraksi 6 menggunakan KLTspektrofotodensitometri menunjukkan adanya senyawa yang memiliki nilai Rf dan bentuk spektrum yang identik dengan senyawa apigenin. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa aktivitas antiinflamasi paling baik ditunjukkan oleh ekstrak etil asetat dan fraksi 6 daun suji berdasarkan metode denaturasi protein dan metode stabilisasi membran darah. Hasil analisis spektrofotodensitrometri menunjukkan bahwa fraksi 6 mengandung senyawa apigenin. Karakterisasi dan identifikasi lebih lanjut diperlukan dalam pengembangan sediaan antiinflamasi berbasis fraksi aktif tanaman daun suji.

2024
👤 Penulis: Averina Natalia Nugroho
🏷️ Antiinflamasi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi
💬