📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6 dokumen

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DAN SKRINING KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK DAN FRAKSI BIOAKTIF DARK SEPTATE ENDOPHYTE (DSE) KNUFIA SP. CPPS-9

Penggunaan antimikroba dalam mengatasi infeksi secara global telah banyak disalahgunakan akibat penggunaan yang tidak tepat sehingga telah banyak memicu fenomena Antimicrobial Resistance (AMR) yang berbahaya. Eksplorasi sumber potensial antimikroba alternatif menjadi solusi dalam menghadapi permasalahan ini. Jamur endofit mampu menghasilkan beragam metabolit sekunder melalui simbiosis mutualisme dengan sel inang sehingga dapat menjadi sumber potensial antimikroba alami. Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas antimikroba pada ekstrak dan fraksi DSE Knufia sp. CPPS-9 terhadap E. coli, S. aureus, dan C. albicans serta mengidentifikasi kandungan kimia dalam ekstrak, fraksi bioaktif, dan subfraksi terpilih. Hasil fermentasi DSE Knufia sp. CPPS-9 dipisahkan melalui sentrifugasi menjadi fase biomassa dan supernatan. Ekstraksi fase biomassa dilakukan dengan Ultrasonic-Assisted Extraction (UAE) menggunakan metanol, sedangkan fase supernatan dilakukan dengan Ekstraksi Cair-Cair (ECC) menggunakan etil asetat. Ekstraksi dilakukan sebanyak tiga siklus untuk optimasi yield. Fraksinasi dilakukan menggunakan kromatografi radial dengan fase gerak sistem gradien dari nonpolar ke polar. Pemisahan fraksi didasarkan pada pita yang muncul di bawah UV 366 nm. Diperoleh 8 fraksi gabungan biomassa dan 5 fraksi gabungan supernatan. Subfraksinasi fraksi terpilih dilakukan menggunakan KLT preparatif. Setiap ekstrak, fraksi, dan subfraksi dipantau menggunakan KLT dengan reagen spesifik. Pengujian aktivitas antimikroba ditentukan melalui KHM dan KBM pada ekstrak dan fraksi melalui metode broth microdilution dan drop test. Ekstrak dan fraksi biomassa serta supernatan menunjukkan aktivitas antimikroba lemah hingga moderat terhadap S. aureus, sementara terhadap C. albicans aktivitas lemah hanya teramati pada fraksi supernatan. Tidak ada aktivitas yang teramati terhadap E. coli pada seluruh ekstrak dan fraksi. Hasil identifikasi golongan senyawa pada ekstrak, fraksi, dan subfraksi BM1 diduga mengandung senyawa golongan steroid/triterpenoid, terpenoid, dan kumarin. Hasil penelitian ini menunjukkan DSE Knufia sp. CPPS-9 berpotensi sebagai sumber senyawa bioaktif antimikroba sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi senyawa aktifnya.

2026
👤 Penulis: Alya Kamila Fauziyah
🏷️ Antimikroba 🏷️ Dark Septate Endophyte (Dse) 🏷️ Kromatografi Radial

ANALISIS POTENSI KOMBINASI BIOSURFAKTAN LIPOPEPTIDA BACILLUS SP. AR3 DENGAN DMDM HYDANTOIN SEBAGAI PRESERVATIF PADA PRODUK KOSMETIK BERBENTUK KRIM

Produk kosmetik telah menjadi kebutuhan utama yang tidak bisa lepas dari rutinitas sehari-hari. Dalam formulasinya, produk kosmetik umumnya mengandung pengawet untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan memperpanjang masa simpan produk. Salah satu pengawet kimia yang umum digunakan adalah DMDM Hydantoin. Namun, penggunaan DMDM Hydantoin dalam jangka panjang memiliki dampak negatif terhadap kesehatan, seperti reaksi alergi, iritasi, dan kanker kulit. Untuk mengurangi efek toksisitasnya, DMDM Hydantoin dapat dikombinasikan dengan pengawet alami, seperti biosurfaktan. Biosurfaktan memiliki sifat toksisitas yang lebih rendah, biodegradibilitas yang lebih tinggi, kompatibilitas lingkungan yang lebih baik, pembusaan yang lebih tinggi, selektivitas yang lebih tinggi, serta aktivitas yang spesifik, seperti antimikroba. Salah satu bakteri yang dapat menghasilkan biosurfaktan adalah Bacillus sp. AR3, yang diisolasi dari pasir pantai di Pantai Sebalang, Lampung, Indonesia. Bakteri ini mampu menghasilkan biosurfaktan lipopeptida. Oleh karena itu, diperlukan analisis potensi kombinasi antara DMDM hydantoin dan biosurfaktan Bacillus sp. AR3 sebagai pengawet dalam formulasi produk kosmetik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan interaksi kedua antimikroba melalui penentuan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan Fractional Inhibitory Concentration Index (FICI) dengan uji checkerboard, menentukan efektivitas pengawet DMDM Hydantoin dan biosurfaktan secara individu dan kombinasi dengan uji kebocoran kalium, serta menentukan status keberterimaan formulasi sediaan krim dengan penambahan kombinasi DMDM Hydantoin dan biosurfaktan sesuai dengan Farmakope Indonesia melalui uji tantang pada hari ke-2, 4, 7, 14, 21 dan 28. Seluruh uji dilakukan terhadap 5 mikroorganisme uji, yaitu Escherichia coli ATCC 8739, Staphylococcus aureus ATCC 6538, Pseudomonas aeruginosa ATCC 9027, Candida albicans ATCC 10231, dan Aspergillus brasiliensis ATCC 16404. Berdasarkan nilai FICI, interaksi antara DMDM Hydantoin dan biosurfaktan terhadap lima mikroorganisme uji adalah aditif. Pada uji kebocoran kalium, perlakuan kombinasi DMDM Hydantoin dan biosurfaktan menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kontrol dan perlakuan masing-masing kedua senyawa. Hasil uji tantang terhadap bakteri menunjukkan bahwa perlakuan penambahan kombinasi antimikroba pada formulasi sediaan krim menunjukkan penurunan >2 log CFU/ mL pada hari ke-2 tanpa peningkatan hingga hari ke-28. Pada ragi dan fungi, menunjukkan adanya penurunan >2 log CFU/mL pada hari ke-2 dan 4 serta tidak ada peningkatan hingga hari ke-28. Hasil ini menunjukkan bahwa formulasi sediaan krim dengan penambahan kombinasi DMDM Hydantoin dan biosurfaktan lolos uji tantang. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kombinasi DMDM Hydantoin dan biosurfaktan bekerja secara aditif dan dapat menurunkan konsentrasi pengawet yang digunakan dalam produk kosmetik.

2026
👤 Penulis: Janice Eugenia Santoso
🏷️ Kosmetika 🏷️ Antimikroba 🏷️ Biosurfaktan

EFEK FERMENTASI KACANG HIJAU DAN KACANG MERAH MENGGUNAKAN LACTOBACILLUS ACIDOPHILUS DAN STREPTOCOCCUS THERMOPHILUS TERHADAP KANDUNGAN NUTRISI DAN AKTIVITAS ANTIMIKROBA

Kacang-kacangan merupakan bahan makanan bergizi tinggi. Fermentasi kacang-kacangan diharapkan dapat menghasilkan produk yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh fermentasi terhadap kandungan nutrisi dan aktivitas antimikroba produk fermentasi. Pada penelitian ini, kacang merah dan kacang hijau difermentasi menggunakan Lactobacillus acidophilus dan Streptococcus thermophilus kemudian ditentukan kandungan nutrisi sebelum dan setelah fermentasi, serta diuji aktivitas antimikroba produk fermentasi. Kandungan protein produk fermentasi meningkat secara bermakna (p<0,05) berturut-turut sebesar 10,7% dan 13,1% untuk kacang hijau dan kacang merah, sedangkan kandungan karbohidrat dan lemak menurun secara bermakna (p<0,05) 51,5% dan 47,4% untuk karbohidrat dan 54,0% dan 15,1% untuk lemak. Produk fermentasi kacang hijau dan kacang merah yang setara dengan 1,1 mg kacang mentah, menghambat pertumbuhan Escherichia coli dengan diameter hambat berturut-turut 22,8±0,7 mm dan 16,0±1,8 mm, terhadap Salmonella typhimurium 30,5±0,8 mm dan 19,0±0,3 mm yang lebih kecil dibandingkan diameter hambat siprofloksasin hidroklorida 50 µg/mL. Produk fermentasi tidak berkhasiat terhadap Candida albicans.

2025
👤 Penulis: Fenny Pujiastuti
🏷️ Kacang-Kacangan 🏷️ Fermentasi Nutrisi 🏷️ Antimikroba

EKSPLORASI POTENSI SENYAWA ANTIMIKROBA BARU DARI ISOLAT BAKTERI DANAU GILI MENO DI MUSIM HUJAN MELALUI ANLISIS GENOME MINING

Eksplorasi produk alami dari mikroba menjadi salah satu pendekatan penting dalam penemuan antibiotik baru untuk mengatasi masalah resistensi antimikroba (AMR) yang kian mengancam kesehatan global. AMR terjadi ketika mikroorganisme berevolusi dan menjadi resistan terhadap obat-obatan yang biasa digunakan, seperti antibiotik, yang mengakibatkan penyebaran penyakit yang luas dan peningkatan angka kematian. Tingkat AMR yang terus meningkat serta minimnya penemuan kelas antibiotik baru sejak tahun 1987 telah menciptakan urgensi untuk mencari agen antimikroba baru. Salah satu sumber potensial adalah mikroorganisme yang hidup di lingkungan ekstrem, seperti danau air asin Gili Meno (Lombok) dengan salinitas 54.00 ± 0.82 ppt, karena adanya produksi metabolit sekunder unik sebagai respons adaptasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi mikroba dari Danau air asin Gili Meno yang menjadi habitat mikroorganisme halofilik, dan mengeksplorasi potensi kemampuan produksi antimikroba mereka melalui analisis klaster gen biosintetik (BGC). Sampel air dan sedimen danau diambil, kemudian mikroba yang terkandung diisolasi dan kemampuan aktivitas antimikrobanya diuji terhadap patogen model Gram negatif Escherichia coli dan positif Bacillus subtilis menggunakan uji tantang double layer agar. Spesies dari isolat aktif diidentifikasi melalui sekuensing DNA pengkode 16S rRNA. Kemudian, genome mining dilakukan menggunakan perangkat lunak AntiSMASH dari data whole genome yang tersedia dari spesies yang teridentifikasi di pusat data publik untuk mengidentifikasi BGC yang berpotensi menghasilkan antibiotik baru. Visualisasi struktur 2D dari produk akhir yang diprediksi juga dilakukan. Berdasarkan hasil penelitian, 40 isolat mikroba berhasil diisolasi dengan 11 di antaranya menunjukkan aktivitas antimikroba. Dari 11 isolat tersebut, dua spesies berhasil diidentifikasi berdasarkan hasil sekuensing DNA pengkode 16S rRNA, yaitu Bacillus paralicheniformis dan Priestia megaterium. Analisis genome mining pada isolat-isolat tersebut menunjukkan adanya dua BGC yang potensial, yaitu klaster yang mirip Paeninodin dan Amyloliquecidin GF610. Prediksi struktur 2D dari produk akhir BGC tersebut mengidentifikasi senyawa Paeninodin B, PamA1, dan PamA2, yang menjadi titik awal untuk penelitian lanjut dalam pengembangan senyawa antimikroba baru.

2025
👤 Penulis: Nashita Saaliha
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Antimikroba

SINTESIS DAN KARAKTERISASI CARBON DOTS BERBASIS EKSTRAK DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA LAM.) SEBAGAI KANDIDAT ANALISIS BIOIMAGING DAN ANTIMIKROBA

Carbon dots (CDs) merupakan nanomaterial karbon berukuran sangat kecil dengan sifat larut air, biokompatibel, fotostabil, serta memiliki toksisitas rendah. Sifat tersebut berpotensi dimanfaatkan dalam aplikasi bioimaging dan antimikroba. Dalam bidang diagnosis kanker, keterbatasan metode pencitraan konvensional dalam membedakan jaringan tumor dan jaringan sehat menjadikan pencitraan fluoresen sebagai pendekatan alternatif yang menjanjikan karena sensitivitas tinggi dan kemampuan pemantauan secara real-time. CDs memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan pewarna fluoresen konvensional, termasuk fotostabilitas tinggi, kelarutan baik dalam air, serta kemudahannya dalam modifikasi permukaan. Selain itu, sifat multifungsional CDs, khususnya kemampuannya menghasilkan reactive oxygen species (ROS), mendukung aplikasinya dalam bidang antimikroba. Daun kelor kaya akan senyawa bioaktif yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbon berbasis bahan alami (Moringa oleifera Lam.). CDs disintesis melalui metode hidrotermal dan solvotermal dengan variasi penambahan gugus fungsional, suhu sintesis, dan pelarut. Hasil karakterisasi menunjukkan CDs memiliki sifat optik dengan emisi yang bergantung pada panjang gelombang eksitasi. Ukuran partikel berkisar antara 1?11 nm dan cenderung mengecil seiring peningkatan suhu. Analisis FTIR menunjukkan terbentuknya inti karbon sp² grafit (C=C) dan gugus fungsional (hidroksil, karboksil, amino), dengan zeta potensial sebesar ?15,5 mV. Uji sitotoksisitas terhadap sel melanoma B16F10 menunjukkan CDs tidak toksik hingga konsentrasi 1 mg/mL. Uji bioimaging in vitro menunjukkan CDs terinternalisasi ke dalam sel dan terdistribusi di sitoplasma, tanpa adanya perbedaan yang signifikan dengan waktu inkubasi (p>0,05). CDs juga menunjukkan aktivitas antimikroba yang lebih baik dibandingkan ekstrak murninya. Secara keseluruhan, CDs berbasis daun kelor berpotensi dalam bioimaging sekaligus antimikroba.

2025
👤 Penulis: Nadya Ilmi Hannifa
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Bioimaging 🏷️ Antimikroba

KARAKTERISASI BIOSURFAKTAN DARI ISOLAT SUMUR MINYAK SERTA POTENSINYA SEBAGAI SUBSTITUSI SURFAKTAN DALAM FORMULASI KOSMETIK

Adanya peningkatan kebutuhan individu untuk memperbaiki penampilan menyebabkan kosmetik menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Namun, banyak produsen produk skin care menggunakan surfaktan kimia sebagai bahan formulasinya, terutama sebagai pengemulsi dan foaming agent. Beberapa produk ini dilaporkan dapat mengubah flora kulit, serta menyebabkan reaksi alergi dan iritasi kulit. Biosurfaktan merupakan senyawa alami yang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan surfaktan sintetik, seperti berasal dari sumber daya terbarukan, toksisitas rendah, kompatibiltas dengan kulit manusia, fungsinya sebagai pengemulsi, mampu menurunkan tegangan permukaan, dan foaming yang penting dalam formulasi kosmetik. Aktivitas anti-mikroba, anti-adhesive, anti-fungal, dan anti-virus dari biosurfaktan juga menjadikan penggunaannya sangat menarik untuk aplikasi kosmetik dan personal care. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandidat isolat penghasil biosurfaktan yang berpotensi menjadi pengganti surfaktan kimia beserta kemampuan antimikrobanya. Penelitian diawali dengan mengkarakterisasi isolat bakteri sumur minyak secara makroskopis, mikroskopis, dan sekuensing 16s rRNA. Kemudian, dilakukan screening kemampuan isolat untuk menghasilkan biosurfaktan dengan uji oil spreading dan emulsifikasi. Biosurfaktan terpilih diuji kemampuan antimikrobanya terhadap mikroba representasi spesies penyebab infeksi kulit, yaitu S. aureus, P. aeruginosa, E. coli, C. albicans, dan A. brasiliensis dengan microdilution, kemudian dipilih satu biosurfaktan berdasarkan nilai persentase penghambatan pertumbuhan terbaik. Selanjutnya, dilakukan uji muatan ionik biosurfaktan, pembuatan kurva produksi dan critical micelle concentration (CMC) biosurfaktan, serta analisis sudut kontak biosurfaktan. Setelah itu, biosurfaktan dikarakterisasi dengan analisis FTIR dan LC-MS untuk mengetahui jenis dan penyusunnya. Berdasarkan screening dengan uji oil spreading menggunakan kultur bakteri diperoleh 7 isolat yang menunjukkan terbentuknya zona bening sebagai indikasi dihasilkannya biosurfaktan. Dari ketujuh isolat tersebut, kemudian dipilih 3 isolat yang menghasilkan emlusifikasi tertinggi, yaitu III2-1 (70,9%); I7K1 (63,92%); dan III0-3 (63,29%) untuk dilihat aktivitas antimikrobanya. Berdasarkan uji kemampuan antimikrobanya, hanya terpilih biosurfaktan I7K1 yang menujukkan aktivitas penghambatan pertumbuhan terhadap S. aureus (17,75%) dan A. brasiliensis (8,40%) pada MIC 1000 ppm, P. aeruginosa (14,93%) pada MIC 500 ppm, serta E. coli (13,32%) dan C. albicans (51,57%) pada MIC 125 ppm. Pada kurva produksi dan CMC biosurfaktan, dihasilkan berat kering biosurfaktan tertinggi pada jam ke-18 sebesar 0,1086 g/L dan nilai CMC sebesar 0,1 g/L. Pada analisis sudut kontak, terjadi peningkatan hidrofobisitas substrat (kaca objek) setelah perlakuan dengan biosurfaktan I7K1, ditandai dengan sudut kontak perlakuan biosurfaktan >15,55o (sudut kontak kontrol negatif tanpa perlakuan). Dengan demikian, isolat I7K1 dapat menghasilkan biosurfaktan yang berpotensi sebagai antimikroba terhadap spesies representasi penyebab infeksi kulit.

2024
👤 Penulis: Khoirunnisa Aprilia S
🏷️ Biosurfaktan 🏷️ Formulasi Kosmetik 🏷️ Anti-Mikroba
💬