📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 32 dokumenEVALUASI POTENSI ANTI-FATIGUE KOMBINASI EKSTRAK KUNYIT (CURCUMA LONGA L.) DAN KAYUMANIS (CINNAMOMUM BURMANNI (NEES DAN T.NEES) BLUME) MENGGUNAKAN METODE FORCED SWIMMING TEST
Kelelahan merupakan kondisi yang ditandai dengan menurunnya kemampuan otot dalam mempertahankan aktivitas fisik akibat berkurangnya kapasitas menghasilkan gaya atau kontraksi. Kunyit (Curcuma longa L.) dan kayu manis (Cinnamomum burmanii (Nees & T.Nees) Blume) mengandung senyawa bioaktif, seperti kurkumin dan sinamaldehid, yang memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi serta berpotensi sebagai agen anti-fatigue. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis tunggal optimum ekstrak etanol rimpang kunyit dan ekstrak etanol kulit batang kayu manis serta mengevaluasi aktivitas anti-fatigue kombinasi kedua ekstrak menggunakan metode forced swimming test. Ekstrak diperoleh melalui maserasi menggunakan etanol 96% dan dikarakterisasi menggunakan kromatografi lapis tipis dan KLT densitometri. Aktivitas anti-fatigue diuji pada mencit jantan galur ddY, disertai analisis histologi otot gastrocnemius menggunakan pewarnaan hematoksilin dan eosin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol rimpang kunyit mengandung golongan fenol, flavonoid, kuinon, triterpenoid, dan kumarin dengan kadar kurkumin 23,923 ± 4,25%, sedangkan ekstrak etanol kulit batang kayu manis mengandung fenol, flavonoid, tanin, kuinon, saponin, triterpenoid, dan kumarin dengan kadar sinamaldehid 1,29 ± 0,39%. Pada forced swimming test, durasi berenang pada mencit yang diberi ekstrak etanol rimpang kunyit dosis 65 dan 130 mg/kg bobot badan (BB) tidak berbeda bermakna (p>0,05) dibandingkan kontrol negatif. Kunyit dengan dosis 260 mg/kg BB meningkatkan durasi renang secara signifikan (p < 0,05). Ekstrak etanol kulit batang kayu manis pada dosis 65, 130, dan 260 mg/kg BB meningkatkan durasi renang secara bermakna (p<0,05) dibandingkan kontrol negatif. Pemberian kombinasi kunyit dosis 130 mg/kg BB dan kayu manis 65 mg/kg BB menunjukkan peningkatan durasi berenang yang signifikan (p<0,05) dibandingkan kontrol negatif dan kelompok yang diberikan kunyit atau kayu manis tunggal. Dari keseluruhan hasil yang diperoleh, dosis optimum ekstrak etanol rimpang kunyit dan ekstrak etanol kulit batang kayu manis sebagai anti-fatigue adalah, berturut-turut, 260 dan 130 mg/kg BB. Efek anti-fatigue pada model mencit yang diinduksi renang paksa dari kombinasi ekstrak kunyit dan kulit batang kayu manis lebih baik dibandingkan efek ekstrak tunggalnya.
KAJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK GREEN BEAN DAN ROASTED BEAN KOPI ARABIKA DAN ROBUSTA
Latar belakang dan tujuan: Radikal bebas merupakan salah satu faktor peningkat risiko penyakit degeneratif dalam tubuh manusia. Paparan radikal bebas yang terlalu tinggi menyebabkan terjadinya stres oksidatif sehingga tubuh memerlukan antioksidan eksogen yang bisa didapatkan melalui makanan atau minuman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas antioksidan ekstrak kopi Arabika dan Robusta dalam bentuk green bean dan roasted bean, kandungan fenol total (TPC), flavonoid total (TFC), korelasi TPC dan TFC terhadap aktivitas antioksidan, identifikasi dan penentuan kadar senyawa flavonoid dan asam fenolat dalam ekstrak terpilih. Metode: Sampel diekstraksi secara refluks dengan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol. TPC dan TFC ditentukan secara kolorimetri. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode DPPH, Cupric Ion Reducing Antioxidant Capacity (CUPRAC), dan Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP). Korelasi antara TPC dan TFC terhadap aktivitas antioksidan dianalisis menggunakan metode Pearson. Identifikasi dan penentuan kadar senyawa flavonoid dalam ekstrak terpilih dilakukan dengan high performance liquid chromatography (HPLC). Hasil: TPC tertinggi pada ekstrak etanol Robusta roasted (89,28 ± 0,01 mg GAE/g) dan TFC tertinggi pada ekstrak etil asetat biji kopi Arabica roasted (31,40 ± 3,37 mg QE/g). Ekstrak etanol biji kopi Robusta roasted menunjukkan aktivitas antioksidan tertinggi pada ketiga metode DPPH (171.869 ± 5.767), CUPRAC (227.995 ± 6.961) dan FRAP (204.046 ± 11.742) mg AEAC/g. TPC dan TFC mempunyai korelasi kuat sampai sangat kuat dengan aktivitas antioksidan. Kesimpulan: Secara umum, ekstrak etanol kopi Robusta roasted menunjukkan aktivitas antioksidan lebih tinggi daripada Arabika, pada green bean dan roasted bean. Senyawa golongan fenol dan flavonoid berkontribusi signifikan terhadap aktivitas antioksidan pada kedua jenis kopi, dalam bentuk green bean maupun roasted bean. Kandungan senyawa rutin dan asam klorogenat pada ekstrak etanol kopi Robusta roasted, berturut-turut 6,048 ± 0,304, dan 61,435 ± 0,533 mg/g.
KAJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAUN, AKAR DAN RANTING TUMBUHAN TEH (CAMELLIA SINENSIS (L.) KUNTZE) SUDAH TUA MENGGUNAKAN METODE DPPH DAN CUPRAC
Radikal bebas adalah suatu molekul reaktif yang dapat menyebabkan efek negatif pada tubuh seperti penuaan dini dan kanker. Antioksidan alami pada tumbuhan dapat berperan dalam menetralkan radikal bebas. Tumbuhan teh (Camellia sinensis (L.) Kuntze) adalah salah satu sumber antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas antioksidan ekstrak daun, ranting dan akar tumbuhan teh sudah tua dengan metode DPPH dan CUPRAC, penentuan fenol dan flavonoid total, korelasi fenol dan flavonoid total terhadap aktivitas antioksidan, korelasi antara kedua metode, serta identifikasi dan penentuan kadar senyawa flavonoid dalam ekstrak terpilih. Penentuan aktivitas antioksidan dengan metode DPPH dan CUPRAC serta kadar fenol dan flavonoid total ditetapkan menggunakan spektrofotometri UV-sinar tampak. Identifikasi dan penetapan kadar senyawa flavonoid ditetapkan dengan kromatografi cair kinerja tinggi. Aktivitas antioksidan ekstrak daun, akar dan ranting tumbuhan teh sudah tua dengan metode DPPH memiliki rentang nilai 8,945 – 405,758 mg AEAC/g, sedangkan aktivitas antioksidan dengan metode CUPRAC memiliki rentang nilai 18,197 – 244, 713 mg AEAC/g. Kadar fenol total tertinggi diberikan oleh ekstrak etanol daun teh sebesar 171,910 ± 1,876 mg GAE/g. Kadar flavonoid total tertinggi diberikan oleh ekstrak etil asetat daun teh sebesar 49,694 ± 1,031 mg QE/g. Kadar fenol dan flavonoid total pada ekstrak memberikan korelasi kuat sampai sangat kuat terhadap nilai aktivitas antioksidan dengan metode DPPH dan CUPRAC. Senyawa gologan fenol dan flavonoid berkontribusi besar terhadap aktivitas antioksidan ekstrak daun, akar, dan ranting teh sudah tua dengan metode DPPH dan CUPRAC. Nilai aktivitas antioksidan ekstrak dari kedua metode memberikan hasil yang linier dengan korelasi kuat sampai sangat kuat. Senyawa rutin, kuersetin, dan apigenin terdapat pada ekstrak etanol daun tumbuhan teh sudah tua adalah dengan kadar berturut-turut sebesar 9,90 ± 0,14 mg/g; 0,88 ± 0,21 mg/g; dan 0,39 ± 0,02 mg/g. Daun, akar dan ranting tumbuhan teh sudah tua berpotensi untuk dikembangkan sebagai agen antioksidan alami.
PENGARUH PENAMBAHAN PROPILEN GLIKOL TERHADAP KARAKTERISTIK KRIM KRISTAL CAIR EKSTRAK TEMU PUTIH (CURCUMA ZEDOARIA)
Akumulasi spesi reaktif oksigen (ROS) dapat menyebabkan stres oksidatif sehingga terjadi kerusakan kulit sebagai tanda penuaan kulit. Curcuma zedoaria (temu putih) memiliki sifat antioksidan diformulasikan menjadi krim kristal cair dengan formula yang terdiri dari minyak kelapa murni (VCO), ekstrak temu putih, desil glukosida, propilen glikol, setostearil alkohol, fenoksietanol, dan akuades. Propilen glikol dipilih sebagai polyol pada sediaan krim kristal cair ekstrak temu putih. Karakteristik berupa penapisan fitokimia, aktivitas antioksidan, penentuan kadar fenol total, dan penentuan kadar flavonoid total dilakukan terhadap ekstrak dan karakterisasi terhadap sediaan meliputi organoleptik, analisis mikroskopik, penentuan viskositas, penentuan pH, dan penentuan stabilita freeze – thaw selama 2 siklus, serta penentuan aktivitas antioksidan. Hasil karakterisasi aktivitas antioksidan ekstrak temu putih sebesar 102,402±0,04 mg AAE/g, kadar total flavonoid 219,692±0,07 mg GAE/g, kadar fenol total 183,792±0,15 mg QE/g, propilen glikol sebagai polyol untuk sediaan krim kristal cair ekstrak temu putih, sediaan memiliki pola birefriengence, stabil setelah disentrifuga pada kecepatan 3600 RPM, viskositas berbanding lurus dengan konsentrasi propilen glikol, pH sediaan 6,885 ± 0,02, aktivitas antioksidan berbanding lurus dengan konsentrasi propilen glikol, diperoleh aktivitas antioksidan sediaan krim kristal cair yang paling tinggi sebesar 143,96 ± 0,19 dengan onsentrasi propilen glikol 15%.
PRODUKSI LEMAK NABATI DARI SPENT COFFEE GROUNDS (SCG) HASIL FERMENTASI MENGGUNAKAN FUSARIUM SUBGLUTINANS DENGAN METODE NATURAL DEEP EUTECTIC SOLVENTS – ULTRASOUND ASSISTED EXTRACTION (NADES-UAE)
Indonesia merupakan salah satu negara dengan produksi kopi terbesar di dunia, dengan jumlah produksi mencapai 789.609 ton/tahun dan laju konsumsi sebesar 372.600 ton/tahun. Besarnya angka konsumsi kopi mengakibatkan besarnya angka limbah yang dihasilkan. Salah satu limbah yang banyak dihasilkan adalah spent coffee grounds (SCG) yang jumlahnya mencapai 650 kg setiap 1000 kg produksi kopi. Spent coffee grounds (SCG) memiliki senyawa potensi yang dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai tinggi, salah satunya adalah lemak nabati yang dapat digunakan sebagai bahan baku alternatif pengganti minyak konvensial dengan kadar antioksidan yang cukup tinggi. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan produksi lemak nabati dari SCG yang telah difermentasi menggunakan jamur Fusarium subglutinans untuk meningkatkan kadar lemak yang masih terperangkap dalam matriks selulosa dan hemiselulosa melalui proses degradasi yang dilakukan oleh mikroorganisme. Selain itu, untuk memaksimalkan proses ekstraksi lemak, dilakukan ekstraksi dengan metode ultrasound assisted extraction (UAE) menggunakan pelarut natural deep eutectic solvent (NADES) untuk memperoleh lemak nabati secara cepat dengan kualitas tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan rendemen SCG setelah dilakukan fermentasi, menentukan pengaruh daya sonikasi, waktu ekstraksi, dan perbandingan sampel dan pelarut terhadap perolehan lemak nabati, juga menentukan pengaruh fermentasi dan variasi ekstraksi terhadap persentase inhibisi antioksidan dan nilai high heating value. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, proses fermentasi menggunakan Fusarium subglutinans dengan laju pertumbuhan 0,474 h?¹ dan generation time 1,46 jam dapat meningkatkan kadar lemak secara signifikan hingga 23,35% (w/w). Berdasarkan variasi metode ekstraksi, didapatkan daya sonikasi berpengaruh signifikan terhadap ekstraksi lemak dengan perolehan sebesar 9,55 -13,08% (w/w). Variasi waktu ektraksi dan perbandingan sampel dan pelarut tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perolehan lemak, dengan perolehan secara beturut-turut berada pada rentang 13,12 – 13,76% (w/w) dan 10,82 – 12,70% (w/w). Kemudian didapatkan kualitas minyak dari SCG terfermentasi dengan perolehan nilai HHV sebesar 9,43 ± 0.56 MJ/kg dan nilai persentase inhibisi antioksidan berada pada rentang 49,45 – 59,78% dengan tidak adanya pengaruh signifikan dari variasi kondisi ekstraksi yang diberikan.
KARAKTERISASI ANTIOKSIDAN DAN POLIFENOL PADA POME SERTA POTENSI PEMANFAATANNYA
Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi kandungan antioksidan dan polifenol dalam limbah cair kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) serta mengevaluasi potensi pemanfaatannya. Analisis dilakukan dengan metode DPPH untuk menentukan aktivitas antioksidan dan metode Folin-Ciocalteau untuk mengukur total polifenol. Hasil menunjukkan bahwa POME memiliki aktivitas antioksidan sedang dengan nilai IC50 sebesar 115,91 ppm dan konsentrasi polifenol tertinggi sebesar 737,25 mg GAE/L yang ditemukan pada outlet fat pit. Selama proses pengolahan limbah, terjadi penurunan signifikan pada kadar polifenol dan aktivitas antioksidan, terutama pada tahap anaerobik, namun terdapat peningkatan kembali pada tahap aerobik. Selain itu, melalui anaerobic digester POME pada lokasi studi dapat menghasilkan biogas metana sebesar 8.544 ton CO2-eq/tahun dapat menghemat nilai ekonomis sebesar Rp4.375.776 dan sebagai pupuk organik dari lumpur hasil pengolahan sebesar 3.160,36 kg/hari. Temuan ini memberikan dasar ilmiah untuk pengembangan teknologi pemanfaatan limbah kelapa sawit secara berkelanjutan dan ramah lingkungan.
PENGARUH SUHU PENYIMPANAN TERHADAP STABILITAS MINYAK NILAM (POGOSTEMON CABLIN BENTH.)
Nilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan komoditas minyak atsiri bernilai ekonomi tinggi, dengan Indonesia sebagai penghasil utama pasokan global. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh suhu penyimpanan terhadap stabilitas kimia dan fisik minyak nilam serta menentukan suhu penyimpanan yang paling efektif dalam mempertahankan mutunya. Minyak nilam disimpan pada suhu ?16°C, 4°C, 25°C, 40°C, dan 65°C selama 16 hari. Parameter yang diamati meliputi kadar senyawa dominan hasil analisis GC-MS (patchouli alcohol, ?-guaiene, seychellene, azulene, aciphyllene, caryophyllene, 1H,3a,7-methanoazulene, 4,7-methanoazulene, 1,2,4-metheno-1H-indene, dan germacrene D), aktivitas antioksidan (IC50), penampakan, dan bobot jenis. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian besar senyawa kimia mengalami fluktuasi kadar yang relatif kecil selama penyimpanan pada berbagai suhu. Nilai IC50 yang berada pada kisaran 1,4–2,6 mg/mL, menunjukkan aktivitas antioksidan yang lemah, tidak mengalami perubahan signifikan. Bobot jenis pada seluruh suhu penyimpanan tetap berada dalam rentang standar mutu SNI 06-2385-2006 (0,950–0,975 g/mL) dan tidak berbeda signifikan secara statistik (P > 0,05). Penampakan minyak nilam juga tidak mengalami perubahan nyata selama periode penyimpanan. Berdasarkan hasil tersebut, variasi suhu penyimpanan selama 16 hari tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap mutu minyak nilam.
EKSPLORASI DAN EVALUASI POTENSI ANTI-STROKE ISKEMIK DARI EKSTRAK KUNYIT (CURCUMA LONGA), LADA HITAM (PIPER NIGRUM), DAN KOMBINASI KEDUANYA PADA MODEL LARVA ZEBRAFISH (DANIO RERIO)
Stroke iskemik merupakan kondisi medis yang disebabkan oleh penyumbatan aliran darah ke otak akibat trombosis. Tantangan utama dalam penanganannya adalah mengembalikan aliran darah ke otak sebelum terjadi kerusakan permanen. Terapi stroke saat ini, seperti trombolisis sistemik dengan tissue plasminogen activator (tPA) dan trombektomi mekanis, memiliki keterbatasan waktu terapi serta risiko pendarahan intrakranial. Pendekatan alternatif yang menjanjikan adalah strategi neuroproteksi, yang bertujuan menjaga fungsi otak, mencegah kerusakan jaringan, dan mendukung pemulihan pascastroke. Kurkumin dari kunyit (Curcuma longa) dan piperin dari lada hitam (Piper nigrum) diketahui memiliki aktivitas antioksidatif dan antiinflamasi, serta berpotensi sebagai agen neuroprotektif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efek anti-stroke iskemik dari ekstrak kunyit, lada hitam, dan kombinasinya pada larva zebrafish yang diinduksi ponatinib. Kandungan fitokimia dianalisis dengan LC-MS/MS, menunjukkan keberadaan senyawa fenolik dan terpenoid pada ekstrak kunyit, serta fenolik dan alkaloid pada ekstrak lada hitam. Konsentrasi aman ekstrak ditentukan melalui uji toksisitas akut (OECD No. 236), dengan nilai LC?? sebesar 275 ?g/mL (kunyit) dan 105 ?g/mL (lada hitam). Pengujian dilakukan pada larva zebrafish berusia 4 hari pasca fertilisasi (dpf). Perlakuan ekstrak kunyit dengan konsentrasi 275 ?g/mL (LC??) menunjukkan penurunan luas area trombosis dibandingkan model ponatinib. Di samping itu, ekstrak lada hitam pada konsentrasi 26,25 ?g/mL (¼ LC??) dan 105 ?g/mL (LC??) menunjukkan perbaikan fungsi lokomosi dibandingkan model ponatinib. Kombinasi kedua ekstrak dengan konsentrasi masing-masing sebesar ½ LC?? menunjukkan adanya penurunan luas area trombosis sekaligus perbaikan fungsi lokomosi dibandingkan dengan model ponatinib. Oleh karena itu, temuan ini mengindikasikan potensi pengembangan agen neuroprotektif berbasis bahan alami dalam terapi stroke iskemik.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAUN SIRIH (PIPER BETLE L.) DARI TIGA WILAYAH TUMBUH BERBEDA DENGAN METODE 2,2-DIFENIL-1-PIKRILHIDRAZIL (DPPH) DAN METODE FERRIC REDUCING ANTIOXIDANT POWER (FRAP)
Stres oksidatif yang disebabkan oleh reactive oxygen species (ROS) dapat memicu kerusakan sel dan berperan dalam berbagai penyakit degeneratif. Sirih (Piper betle L). diketahui kaya akan senyawa fenolik dan flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi total kandungan fenolik (TPC), total kandungan flavonoid (TFC), dan aktivitas antioksidan dari daun Piper betle L. asal Ciwidey, Cianjur, dan Lembang. Ekstraksi dilakukan secara bertingkat menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol. Penentuan TPC dilakukan menggunakan metode Folin– Ciocalteu dan TFC menggunakan metode aluminium klorida. Aktivitas antioksidan dianalisis dengan dua metode, yaitu DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) dan FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power), sementara kandungan senyawa flavonoid pada ekstrak terpilih dianalisis menggunakan instrumen High-Performance Liquid Chromatography (HPLC). Ekstrak etanol Cianjur menunjukkan TFC tertinggi sebesar 41,899 ± 3,525 mg QE/g. Ekstrak etil asetat daun sirih Cianjur menunjukkan TPC tertinggi sebesar 537,641 ± 16,436 mg GAE/g, aktivitas antioksidan tertinggi melalui metode DPPH (2,231 ± 0,072 mg AEAC/g) dan FRAP (611,603 ± 26,565 mg AEAC/g). Korelasi yang kuat antara TPC, TFC, dan aktivitas antioksidan dengan metode FRAP menunjukkan kontribusi besar senyawa fenolik dan flavonoid dalam mekanisme antioksidan melalui transfer elektron. Hasil analisis HPLC ekstrak etil asetat daun sirih Cianjur menunjukkan keberadaan apigenin dan rutin dalam sampel, masing-masing dengan kadar 9,3146 ± 0,2885 mg/g dan 0,5919 ± 0,0581 mg/g. Piper betle dari Cianjur memberikan aktivitas antioksidan lebih tinggi daripada Ciwidey dan Lembang, berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber antioksidan alami.
ANALISIS METABOLIT DAN POTENSI ANTIOKSIDAN DENGAN METODE PEREDAMAN DPPH EKSTRAK KULIT BATANG CEMPAKA (MICHELIA CHAMPACA L.) MENGGUNAKAN VARIASI PELARUT PENGEKSTRAKSI
Radikal bebas merupakan senyawa reaktif yang dapat menyebabkan kerusakan oksidatif pada sel dan jaringan tubuh, serta berkontribusi terhadap berbagai penyakit degeneratif. Antioksidan berperan dalam menetralisir radikal bebas melalui mekanisme transfer elektron atau hidrogen sehingga radikal menjadi stabil. Cempaka (Michelia champaca L.) merupakan tanaman dari famili Magnoliaceae yang berpotensi sebagai antioksidan. Ekstraksi dilakukan melalui metode maserasi dengan variasi pelarut pengekstraksi yaitu etanol 50%, 70%, dan 96%. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode peredaman DPPH menggunakan spektrofotometer UV-sinar tampak pada panjang gelombang 517 nm dengan kontrol positif berupa asam askorbat. Hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan nilai IC50 dari ekstrak etanol 50%, 70%, dan 96% berturut-turut sebesar 192,189 ± 1,727 ?g/mL; 125,179 ± 1,776 ?g/mL; 110,642 ± 0,765 ?g/mL, asam askorbat sebagai kontrol positif menunjukkan nilai IC50 pada 17,224 ± 0,026 ?g/mL. Penapisan fitokimia menunjukan simplisia mengandung senyawa flavonoid, fenol, tanin, saponin, kuinon, steroid/triterpenoid, alkaloid, dan kumarin. Pemantauan ekstrak dengan KLT menggunakan penampak bercak spesifik menunjukan semua ekstrak mengandung senyawa flavonoid, fenol, steroid/triterpenoid, dan alkaloid. Hasil analisis metabolomik menunjukan gugus fungsi yang relatif sama pada ketiga ekstrak dan terdapat perbedaan gugus fungsi pada ekstrak etanol 96% yaitu gugus C=O karbonil. Analisis kemometrika yang terdiri dari Principal Component Analysis (PCA) dan Cluster Analysis (CA) menunjukkan perbedaan pola pengelompokkan ekstrak etanol 96% dibandingkan dengan kedua ekstrak lainnya. Ekstrak etanol 96% kulit batang cempaka (Michelia champaca L.) memiliki aktivitas antioksidan paling kuat dibandingkan dengan kedua ekstrak lainnya yang didukung oleh perbedaan gugus fungsi pada analisis metabolomik dan pola pengelompokan dengan analisis kemometrika.
EFEKTIVITAS ENKAPSULASI EKSTRAK AIR BIJI HIJAU KOPI ROBUSTA (COFFEA CANEPHORA) OLEH INULIN DAN MALTODEXTRIN DENGAN METODE FREEZE-DRYING UNTUK MENINGKATKAN STABILITAS KANDUNGAN ANTIOKSIDAN
Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat atau menghentikan proses oksidasi. Antioksidan banyak terkandung dalam bahan alam, salah satunya biji kopi robusta (Coffea canephora ). Stabilitas antioksidan dalam bahan pangan sering menjadi masalah. Salah satu cara untuk melindungi senyawa antioksidan adalah dengan mengenkapsulasinya dengan matriks pelindung, seperti inulin dan maltodextrin. Penelitian ini bertujuan untuk membuat ekstrak kering dengan matriks dan mengevaluasi efektivitas enkapsulasi ekstrak air dari biji hijau kopi robusta dalam mempertahankan stabilitas antioksidan. Penelitian dilakukan dengan memilih variasi matriks terbaik untuk enkapsulasi ekstrak, diikuti dengan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH pada berbagai waktu. Ekstrak air biji hijau kopi robusta diperoleh melalui proses maserasi, kemudian ditambahkan matriks dan dikeringkan dengan metode freeze-dry. Evaluasi efektivitas matriks terhadap stabilitas antioksidan dilakukan dengan menyimpan ekstrak kering dalam 2 kondisi: 1) wadah kedap udara pada 25°C dan terpapar cahaya, dan 2) wadah tidak kedap udara pada -20°C dan terlindung dari cahaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan matriks tidak berpengaruh signifikan, namun penyimpanan kedap udara lebih efektif dalam mempertahankan stabilitas antioksidan.
OPTIMASI FORMULASI DAN KARAKTERISASI EMULGEL EKSTRAK DAUN TEH (CAMELLIA SINENSIS (L.) KUNTZE) DAN EKSTRAK DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA LAM.)
Kulit merupakan organ yang mengalami kontak langsung dengan lingkungan luar sehingga rentan mengalami stres oksidatif akibat pembentukan spesi oksigen reaktif (SOR). Produksi SOR berlebih dapat memicu stres oksidatif yang menyebabkan gangguan kulit seperti kanker, penuaan, dan inflamasi. Sediaan kosmetik dengan kandungan antioksidan dapat mencegah kerusakan kulit melalui reaksi netralisasi terhadap SOR. Penelitian ini menentukan hubungan antara faktor dari formulasi dengan respon karakteristik emulgel yang mengandung kombinasi ekstrak daun Camellia sinensis (L.) Kuntze dan Moringa oleifera Lam. dengan aktivitas antioksidan menggunakan metode statistik one-factor-ata-time dan Desain Faktorial Fraksional, serta mengkarakterisasi sediaan. Ekstrak diperoleh dengan metode maserasi pada etanol 60% yang menghasilkan rendemen 28,55% untuk C. sinensis dan 22,61% untuk M. oleifera. Kedua ekstrak mengandung flavonoid, kuinon, tanin, saponin, alkaloid, dan steroid ditemukan hanya pada ekstrak M. oleifera. Kadar fenol total dan flavonoid total dari ekstrak C. sinensis dan M. oleifera secara berurutan adalah 276,44±11,4 mg GAE/g dan 16,52±0,35 mg GAE/g untuk kadar fenol total, 20,13±0,59 mg QE/g dan 18,83±1,74 mg QE/g untuk kadar flavonoid total. Aktivitas antioksidan ekstrak diperoleh sebesar 501,32±7,15 mg AAE/g ekstrak untuk C. sinensis dan 25,83±0,75 mg AAE/g untuk M. oleifera. Formula terpilih kemudian dikarakterisasi sehingga diperoleh emulgel dengan pH 4,97±0,02, viskositas 1767±106 cPs, daya sebar 21,37±0,40 g.cm/s, aktivitas antioksidan 14,92±0,15 mg AAE/g emulgel, dan faktor oklusi 15,53±5,94%. Pelepasan antioksidan mengikuti model kinetika Korsmeyer-Peppas. Parameter pH, viskositas, dan daya sebar menunjukkan hasil yang stabil dari uji stabilitas. Dengan demikian, emulgel dengan potensi antioksidan dapat diformulasikan, tetapi diperlukan pengembangan lebih lanjut untuk memperoleh desain optimasi yang lebih sesuai.
STUDI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAN FRAKSI ALGA MERAH (GRACILARIA CORONOPIFOLIA) DENGAN METODE 2,2-DIFENIL-1-PIKRILHIDRAZIL (DPPH)
Radikal bebas merupakan molekul atau atom yang memiliki satu elektron tidak berpasangan dalam orbitalnya yang menyebabkan sifatnya sangat reaktif dan tidak stabil. Ketidakstabilan ini memicu interaksi dengan molekul lain dalam tubuh, sehingga dapat menyebabkan stres oksidatif yang berdampak pada kerusakan sel, gangguan homeostasis, dan berbagai penyakit degeneratif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas antioksidan dari ekstrak dan fraksi alga merah Gracilaria coronopifolia. Penentuan aktivitas antioksidan dilakukan melalui uji DPPH untuk memperoleh nilai IC?? dari masing-masing ekstrak dan fraksi. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi bertingkat menggunakan tiga jenis pelarut yaitu n-heksana, etil asetat, dan etanol 70%. Ekstrak dengan nilai IC?? terbaik kemudian difraksinasi lebih lanjut menggunakan kromatografi cair vakum untuk mengidentifikasi fraksi dengan aktivitas antioksidan tertinggi. Nilai IC50 untuk ekstrak n-heksana, etil asetat, etanol 70%, berturut-turut sebesar 6.560,29 ± 299,68; 2.518,11 ± 154,82; 11.659,94 ± 458,85 ?g/mL. Ekstrak etil asetat alga merah terpilih menjadi ekstrak yang difraksinasi karena aktivitas antioksidannya yang paling baik. Melalui karakterisasi ekstrak menggunakan kromatografi lapis tipis dengan beberapa penampak bercak, diketahui ekstrak etil asetat alga merah mengandung senyawa golongan flavonoid, fenol, steroid/terpenoid, dan alkaloid. Fraksi dengan aktivitas antioksidan terbaik yaitu fraksi 5-8 dengan perolehan nilai sebesar 1.417,32 ± 26,78 ?g/mL. Fraksi 5-8 dikarakterisasi menggunakan kromatografi lapis tipis dengan beberapa penampak bercak dan senyawa pembanding dan terdapat dugaan bahwa senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan berasal dari senyawa steroid/terpenoid. Hasil analisis ANOVA satu arah menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai IC50 ekstrak dan fraksi (p<0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan aktivitas antioksidan dari ekstrak ke fraksi alga merah Gracilaria coronopifolia.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAUN, AKAR, DAN RANTING SALAM (SYZYGIUM POLYANTHUM (WIGHT) WALP.) DENGAN METODE DPPH DAN CUPRAC
Antioksidan dapat melawan radikal bebas yang dapat menyebabkan penyakit degeneratif. Agen antioksidan alami dapat ditemukan dalam tumbuhan salam (Syzygium polyanthum). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar fenol total, flavonoid total, dan aktivitas antioksidan dari ekstrak daun, akar, dan ranting salam. Penelitian ini juga bertujuan untuk menentukan korelasi fenol dan flavonoid total terhadap aktivitas antioksidan, korelasi aktivitas antioksidan kedua metode, serta mengidentifikasi dan menentukan kadar senyawa flavonoid pada ekstrak yang terpilih. Penentuan kadar fenol dan flavonoid total serta aktivitas antioksidan ditetapkan menggunakan spektrofotometri UV-sinar tampak. Aktivitas antioksidan diuji dengan metode DPPH dan CUPRAC. Penentuan korelasi fenol dan flavonoid total terhadap aktivitas antioksidan secara kualitatif diuji menggunakan KLT dengan berbagai penampak bercak. Sementara korelasi kuantitatif menggunakan analisis statistik korelasi Pearson. Identifikasi dan penentuan kadar senyawa flavonoid dalam ekstrak terpilih dilakukan dengan HPLC. Kadar fenol total ekstrak salam berada pada rentang 14,963 - 292,284 mg GAE/g, sedangkan kadar flavonoid total 5,593 - 84,467 mg QE/g. Aktivitas antioksidan ekstrak salam dengan DPPH pada rentang 4,559 - 502,989 mg AEAC/g, sedangkan dengan CUPRAC 27,417 - 108,069 mg AEAC/g. Secara umum, senyawa fenol dan flavonoid pada ekstrak salam memiliki kontribusi terhadap aktivitas antioksidan ekstrak dengan korelasi kuat hingga sangat kuat. Kedua metode uji menghasilkan aktivitas antioksidan yang linier dengan korelasi kuat hingga sangat kuat. Ekstrak etanol akar salam mengandung senyawa rutin (4,861 ± 1,241 mg/g); apigenin (2,368 ± 0,160 mg/g); dan apigenin-7-O-glukosida (0,529 ± 0,023 mg/g). Akar tumbuhan salam memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber agen antioksidan alami.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KULIT BATANG KAYU MANIS (CINNAMOMUM BURMANNI (NEES & T.NEES) BLUME) DARI TIGA DAERAH BERBEDA MENGGUNAKAN METODE 2,2-DIFENIL-1-PIKRILHIDRAZIL (DPPH) DAN FERRIC REDUCING ANTIOXIDANT POWER (FRAP).
Stres oksidatif terakumulasi dalam tubuh akibat paparan radikal bebas. Radikal bebas dihambat oleh senyawa antioksidan, yang dapat bersumber secara alami dari kayu manis (Cinnamomum burmanni (Nees & T.Nees) Blume). Cinnamomum burmanni merupakan spesies yang umum ditemukan di Indonesia, terutama di Sumatera dan Kalimantan Selatan, tetapi kayu manis tidak populer di Jawa Barat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi studi aktivitas antioksidan untuk ekstrak kulit batang kayu manis dari tiga daerah berbeda di Jawa Barat menggunakan metode 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH) dan Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP), serta mengidentifikasi dan menentukan kadar senyawa flavonoid dalam ekstrak terpilih. Kulit batang kayu manis dikumpulkan dari Rancabali, Lembang dan Subang, Jawa Barat, Indonesia. Sampel diekstraksi secara refluks menggunakan pelarut dengan polaritas meningkat, n-heksana, etil asetat, dan etanol. Analisis dilakukan untuk mengkaji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH dan FRAP menggunakan spektrofotometri UV-sinar tampak. Selain itu, juga dilakukan penentuan total kandungan fenol dan total kandungan flavonoid menggunakan spektrofotometri UV-sinar tampak. Identifikasi dan penentuan kadar senyawa flavonoid dalam ekstrak terpilih menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi. Kisaran nilai total fenol dan total flavonoid secara berturut-turut (4,791 ± 0,129) - (182,527 ± 0,635) mg ekuivalen asam galat/g dan (5,265 ± 0,071) - (41,665 ± 0,227) mg ekuivalen kuersetin/g. Aktivitas antioksidan dengan DPPH memiliki nilai 1,334 ± 0,036 - 8,179 ± 0,133 mg kapasitas antioksidan ekuivalen asam askorbat/g dan dengan FRAP memiliki nilai 8,974 ± 2,876 - 30,530 ± 9,881 mg kapasitas antioksidan ekuivalen asam askorbat/g. Secara umum, kandungan fenol dan flavonoid dalam ekstrak kulit batang kayu manis berkontribusi terhadap aktivitas antioksidan metode DPPH dan FRAP. Ekstrak kulit batang kayu manis terpilih mengandung senyawa rutin 0,877 ± 0,00036 mg/g dan senyawa apigenin 7-O-glikosida 1,588 ± 0,00026 mg/g. Ekstrak kulit batang kayu manis Subang mempunyai aktivitas antioksidan dengan metode DPPH dan FRAP lebih besar daripada ekstrak dari Rancabali dan Lembang.