📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenPENGEMBANGAN STANDAR UKURAN BLUS WANITA DEWASA MELALUI PENDEKATAN ANTROPOMETRI DENGAN PERTIMBANGAN BENTUK TUBUH
Pertumbuhan industri pakaian jadi di Indonesia dihadapkan pada tingginya frekuensi keluhan konsumen terkait ketidaksesuaian ukuran pakaian. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa standar ukuran pakaian yang tersedia, termasuk Standar Nasional Indonesia (SNI), belum sepenuhnya merepresentasikan keberagaman karakteristik antropometri maupun mempertimbangkan variasi bentuk tubuh wanita dewasa di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengembangkan standar ukuran blus wanita dewasa berdasarkan karakteristik antropometri dengan pertimbangan bentuk tubuh. Penelitian ini menggunakan 1.740 data antropometri wanita dewasa yang diperoleh dari arsip pengukuran pelanggan sebuah studio jahit pakaian wanita. Data terdiri atas sembilan dimensi antropometri, yaitu panjang punggung, lebar punggung, lingkar dada, lebar dada, bahu, lingkar lengan atas, lingkar pinggang, lingkar pinggul atas, dan lingkar pinggul. Bentuk tubuh diidentifikasi menggunakan metode Female Figure Identification Technique (FFIT), kemudian dipilih tiga bentuk tubuh dominan, yaitu rectangle, bottom hourglass, dan triangle, untuk dikembangkan menjadi standar ukuran awal menggunakan algoritma K-Means Clustering. Selanjutnya dilakukan uji Kruskal-Wallis dan uji lanjut Dunn untuk mengevaluasi perbedaan dimensi antropometri antar bentuk tubuh dominan. Hasil pengujian statistik tersebut kemudian digunakan bersama distribusi bentuk tubuh sebagai dasar penyusunan satu standar ukuran akhir. Hasil penelitian menghasilkan standar ukuran blus wanita dewasa yang terdiri atas tiga ukuran, yaitu S, M, dan L, dengan lingkar dada sebagai dimensi utama. Standar ukuran yang dihasilkan mempertimbangkan distribusi bentuk tubuh pada sampel, dengan sebagian besar dimensi mengacu pada karakteristik bentuk tubuh rectangle (46% sampel penelitian), sedangkan dimensi lingkar pinggul mengacu pada karakteristik bentuk tubuh bottom hourglass (32% sampel penelitian) untuk mengakomodasi variasi proporsi pinggul. Dengan demikian, standar ukuran yang dihasilkan tidak hanya mempertimbangkan karakteristik antropometri, tetapi juga variasi bentuk tubuh wanita dewasa sehingga diharapkan mampu meningkatkan kesesuaian ukuran blus.
OPTIMASI PERANGKAT LUNAK PHOTOMODELLER SCANNER UNTUK REKONSTRUKSI TIGA DIMENSI (STUDI KASUS: WAJAH MANUSIA)
Fotogrametri rentang dapat digunakan untuk membentuk model tiga dimensi dari permukaan tubuh bagian luar manusia. Pada umumya metode pencitraan tubuh yang ada dikedokteran adalah untuk mendapatkan pencitraan organ internal manusia. Keunggulan lain dari metode fotogrametri rentang dekat adalah kemampuannya untuk melakukan pengukuran tanpa harus menyentuh objek pengukuran secara langsung. Terkait dengan Antropometri yang merupakan disiplin mengukur tubuh manusia pada bagian-bagian tertentu untuk identifikasi satu individu dengan individu yang lain. Salah satunya adalah wajah manusia. Pada bagian-bagian tertentu dari wajah manusia memiliki suatu ukuran yang tetap ketika sudah memasuki usia dewasa. Hal ini akan berguna untuk kepentingan monitoring, rehabilitasi, rekonstruksi, dan forensik. Pada penelitian ini dilakukan uji coba untuk melakukan rekonstrusi wajah dengan menggunakan metode fotogrametri rentang dekat dan dengan menggunakan satu buah kamera. Foto yang didapat kemudian diolah dengan perangkat lunak Photomodeller Scanner.
SISTEM DIGITALISASI ANTROPOMETRI KIT UNTUK ANALISIS TUMBUH KEMBANG ANAK DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING
Stunting, sebuah masalah gizi yang masih merajalela di Indonesia, menimbulkan dampak serius terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Dengan prevalensi yang tinggi, Indonesia menduduki peringkat ke-27 secara global. Stunting tidak hanya membatasi pertumbuhan fisik, tetapi juga menghambat perkembangan mental, intelektual, dan kognitif. Dampak jangka panjangnya yang merugikan, seperti meningkatnya risiko penyakit dan kematian, serta produktivitas ekonomi yang terganggu, menekankan pentingnya investasi dalam nutrisi yang optimal, terutama selama periode kritis 1000 hari pertama kehidupan anak. Pencegahan Stunting melalui asupan gizi yang memadai selama periode ini menjadi krusial untuk menjamin kesehatan dan kualitas hidup anak-anak Indonesia di masa dewasa dan mendukung pencapaian target pembangunan nasional serta internasional. Salah satu cara memantau asupan gizi anak dapat dilakukan dengan melakukan pengukuran fisik seperti Berat Badan, Panjang Badan, Lingkar Lengan dan Lingkap Kepala. Oleh sebab itu penelitian ini berfokus pada pembuatan Antropometri yang terintegrasi dengan sistem agar dapat melakukan analisis tumbuh kembang anak dalam pencegahan Stunting. Selain pemerintah yang berupaya melakukan penurunan prevalensi Stunting, peneliti juga ikut berperan melalui penelitian Antropometri dan software analisis. Beberapa penelitian sebelumnya telah dilakukan, seperti pengembangan Infantometer dengan penggunaan sensor HCSR-04 dan Loadcell, pembuatan aplikasi berbasis web untuk memonitor pertumbuhan anak, serta pengembangan alat ukur tinggi badan dan stadiometer digital. Namun, dari kelima penelitian tersebut, yang membuat seluruh alat ukur untuk mengukur pertumbuhan fisik anak, yaitu Timbangan, Infantometer, dan Pita LiLa (Pita Lingkar Lengan dan Lingkar Kepala) yang membuatnya menjadi satu Kit dan mengintegrasikannya dengan Mobile Application, serta belum ada yang mengumpulkan data hasil pengukuran dari Antropometri Kit ke dalam satu database untuk kemudian dianalisis. Oleh karena itu, penelitian ini memperkenalkan sistem digitalisasi Antropometri Kit Digital yang terintegrasi dengan Mobile Application dan Dashboard Monitoring, yang menghasilkan kebaharuan dalam pendekatan pemantauan dan analisis tumbuh ii kembang anak dengan memberikan solusi lengkap dari pengukuran hingga analisis data dalam satu platform terpadu. Antropometri Kit Digital yang terintegrasi dengan aplikasi seluler dapat meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam pencatatan hasil pengukuran Antropometri anak. Dengan demikian proses pencatatan dapat dilakukan secara otomatis, mengurangi risiko kesalahan manusia dan mempercepat pengiriman data. Data langsung terkirim dari alat ukur ke Mobile Application, kemudian ke database, sehingga memastikan keakuratan dan ketersediaan data secara real-time. Antropometri Kit sudah mengikuti standar yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/51/2022, yaitu untuk Timbangan memiliki ketelitian 10 g atau 0,01 kg dan kapasitas maksimal 20 kg, bukan merupakan timbangan pegas atau baby scale manual. Infantometer memiliki ketelitian 0,1 cm, dan panjang maksimal 200 cm. Pita Lila dengan ketelitian minimal 0,1 cm dan panjang minimal 55 cm. Antropometri Kit Digital ini, mudah dimobilisasi untuk kunjungan rumah. Hasil monitoring ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik sesuai dengan Kartu Menuju Sehat (KMS), analisis tumbuh kembang anak dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri. Indeks pengukuran yang digunakan yaitu, Berat Badan berdasarkan Umur (BB/U) dan Panjang Badan atau Tinggi Badan berdasarkan Umur (PB/U atau TB/U) untuk anak usia 0 - 60 bulan. Kategori analisis berat badan meliputi sangat kurang (severely underweight) jika standar deviasinya di bawah -3, kurang (underweight) jika antara -3 sampai -2, normal jika antara -2 sampai +1, dan risiko lebih jika di atas +1. Untuk tinggi badan, kategori meliputi sangat pendek (severely stunted) jika standar deviasinya di bawah -3, pendek (stunted) jika antara -3 sampai -2, normal jika antara -2 sampai +3, dan tinggi jika di atas +3. Implementasi Antropometri yang terintegrasi dengan sistem pencatatan dan analisis tumbuh kembang anak di Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang dan Kecamatan Cigalontang Kabupaten Tasik dimulai dengan koordinasi dengan pemangku kebijakan seperti Kepala Puskesmas dan Kepala Dinas Kesehatan. Langkah-langkah ini meliputi sosialisasi pencegahan Stunting kepada ibu di wilayah tersebut serta pengenalan penggunaan Antropometri Kit Digital. Pelaksanaannya melibatkan pengambilan data atau pengukuran oleh kader posyandu menggunakan Antropometri Digital.