📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4 dokumenDINAMIKA PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM PROSES PERANCANGAN BANGUNAN PUBLIK DI KOTA PADANG
Arsitektur di Kota Padang merupakan visualisasi sejarah dan kekuasaan yang tercermin melalui dominasi penggunaan elemen atap tradisional pada bangunan modern. Fenomena arsitektural ini didorong regulasi Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2015 yang mewajibkan simbol kearifan lokal, sehingga memicu penyeragaman visual yang repetitif di ruang publik. Penelitian ini menawarkan cara pandang baru, di mana arsitektur dilihat sebagai rekaman jejak perdebatan, kompromi, dan komunikasi antara idealisme arsitek dengan realita klien institusional. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif-analitis pada studi kasus Kantor DPRD Kota Padang dan Bagindo Aziz Chan Youth Center, penelitian ini mengungkap dinamika tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa wujud arsitektural seperti atap bagonjong atau adaptasi Kajang Padati tidak murni lahir dari visi desain yang holistik maupun respons terhadap konteks ruang, melainkan juga didikte oleh keputusan top-down. Proses perancangan sering kali terhambat oleh administrasi, intervensi selera pemimpin daerah, dan pemotongan anggaran secara tiba-tiba. Kondisi ini memaksa arsitek menurunkan kualitas eksplorasi desain menjadi sekadar pemenuhan regulasi yang cukup memuaskan demi mendapatkan persetujuan. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki signifikansi nyata dengan memberikan wawasan praktis bagi profesi arsitek dan konsultan perancang. Dengan memahami pengambilan keputusan desain, perancang dituntut untuk memiliki kemampuan negosiasi untuk menyampaikan gagasan desain juga memenuhi visi klien yang memiliki kepentingan berbeda.
ANTARA SENI DAN AGAMA : PERANCANGAN SADALI ART SPACE SEBAGAI RUANG REFLEKSI HUBUNGAN SENI, ISLAM, DAN ARSITEKTUR DENGAN PENDEKATAN CONCEPT BASED
Art space sebagai ruang representasi seni tidak hanya berfungsi sebagai wadah apresiasi dan aktivitas kreatif, tetapi juga dapat menjadi medium dialog antara nilai dan pengetahuan yang ingin disampaikan. Di tengah kehidupan masyarakat modern yang semakin menjauh dari ruang-ruang kontemplasi, seni kerap dipahami hanya sebagai objek visual sehingga kehilangan perannya sebagai media refleksi. Padahal dalam Islam, seni bisa menjadi salah satu jalan untuk membangun kesadaran spiritual. Seni dalam Agama Islam sering dianggap sebagai suatu hal yang tabu karena akan mengarah kepada kemusyrikan. Padahal jika ditelaah lebih jauh, seni bukan hanya tentang membuat sebuah karya fisik namun dapat membantu kita dalam mencintai Sang Maha Pencipta, dengan memiliki jiwa seni kita akan mendapatkan keindahaan, kesyahduan, dan ketenangan jiwa yang justru akan membantu kita dalam memahami lebih ajaran-ajaran Islam. Berangkat dari kondisi tersebut, tugas akhir ini bertujuan merancang Sadali Art Space sebagai ruang refleksi yang mengintegrasikan seni, Islam, dan arsitektur melalui penerjemahan nilai-nilai Islami dalam kehidupan sehari-hari serta nilai spiritual dalam karya Ahmad Sadali ke dalam pengalaman ruang dengan pendekatan Concept Based Design. Pendekatan Concept Based Design digunakan dengan menjadikan konsep sebagai dasar utama dalam proses perancangan. Konsep dirumuskan melalui kajian terhadap prinsip-prinsip lukisan Ahmad Sadali, nilai-nilai arsitektur Islam, studi preseden, analisis tapak, serta kebutuhan pengguna. Prinsip-prinsip tersebut kemudian ditransformasikan menjadi strategi perancangan yang diwujudkan melalui pembentukan massa bangunan, organisasi ruang, pemanfaatan cahaya alami, material, tekstur, elemen air, serta penyusunan alur sirkulasi sebagai sebuah perjalanan reflektif yang mengajak pengunjung mengalami proses pencarian, perenungan, hingga kembali kepada kesadaran akan hubungan manusia dengan Tuhan. Lokasi perancangan dipilih di kawasan Summarecon Gede Bage, Kota Bandung, berdasarkan pertimbangan strategis, kontekstual, dan konseptual. Kedekatannya dengan Masjid Raya Al Jabbar, kawasan Pendidikan Islam, serta lanskap danau buatan memberikan potensi untuk menghadirkan ruang publik yang mendukung pengalaman refleksi sekaligus memperkuat karakter kawasan sebagai destinasi budaya dan spiritual. Perancangan art space ini juga menerapkan prinsip desain pasif, optimalisasi pencahayaan dan penghawaan alami, serta pengelolaan air hujan sebagai bagian dari strategi arsitektur berkelanjutan yang mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 10 (Reduce Inequalities) melalui penyediaan ruang yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, maupun keyakinan, serta SDG 13 (Climate Action) melalui pendekatan desain yang responsif terhadap iklim. Hasil perancangan menunjukkan bahwa pendekatan konseptual mampu menghasilkan art space yang tidak hanya mewadahi kegiatan seni, tetapi juga menghadirkan ruang edukatif dan reflektif yang memperlihatkan keterkaitan antara seni, Islam, dan arsitektur. Melalui penerjemahan nilai-nilai spiritual ke dalam pembentukan massa bangunan, organisasi ruang, pemanfaatan cahaya alami, material, tekstur, elemen air, serta penyusunan alur sirkulasi tanpa bergantung pada simbol-simbol religius yang eksplisit, Sadali Art Space diharapkan menjadi ruang publik yang mampu memperkuat apresiasi seni, memperdalam kesadaran spiritual, serta memberikan kontribusi terhadap pengembangan arsitektur, pendidikan, dan budaya di Kota Bandung.
ADAPTASI VISUAL ORNAMEN BUNGA PADMA DI ISTANA KEPRESIDENAN REPUBLIK INDONESIA-JAKARTA
Istana Kepresidenan Republik Indonesia-Jakarta merupakan lambang dan perjalanan sejarah Bangsa Indonesia. Bangunan tersebut berada dalam lingkungan yang berlatar belakang tradisi masyarakat dengan keberagaman budaya. Terjalinnya hubungan dengan lingkungan sekitar menjadikan Istana Kepresidenan Republik Indonesia-Jakarta sebagai representasi yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah dan keberagaman. Keberagaman ini dapat menimbulkan sikap etnosentris sehingga menimbulkan konflik dan perpecahan, jika tidak bijak dalam menyikapi dan mengaturnya. Berdasarkan uraian di atas, maka bangunan ini penting dipertahankan dan dipahami sebagai simbol keberagaman dan kebersatuan. Adapun kehadiran simbol dalam bentuk visual ornamen merupakan unsur penting dalam mewakili identitas Bangsa Indonesia dan sebagai identitas nasional di Istana Kepresidenan Republik Indonesia-Jakarta. Secara identitas, keberagaman dan kebersatuan ini dirumuskan melalui tampilan visual ornamen pada bangunan yang berwibawa tersebut, sehingga dapat mewakili identitas Bangsa Indonesia. Pembahasan objek visual ornamen Padma sebagai artefak estetik-simbolik, secara kronologi kesejarahan telah diaplikasikan dalam artefak agama Hindu dan Buddha. Padma dalam bahasa Sansekerta adalah bunga Teratai Merah yang mempunyai filosofi hidup yang baik seperti yang tergambarkan dari cara hidupnya. Pengaruh visual ornamen Hindu dan Buddha Padma pun secara universal sudah diaplikasikan pada bangunan Istana Kepresidenan Republik Indonesia-Jakarta, Bogor dan Cipanas, serta pada bangunan rumah-rumah ibadah pada masa periode Hindu Buddha, Islam, Kolonial, Modern awal hingga masa Kemerdekaan, dan Era Kontemporer di pulau Jawa. Namun demikian, dalam Keputusan Presiden No. 4 Tahun 1993 bunga ini tidak dicantumkan. Ketidakhadirannya mencerminkan bagaimana simbol lokal yang sarat makna sering terpinggirkan dalam konstruksi identitas nasional yang bersifat administratif. Disamping itu, masyarakat kebanyakan belum mengetahui ornamen Padma yang dihadirkan dan tidak dapat mengenalinya secara terperinci. Sehingga terdapat gap atau permasalahan antara ornamen Padma yang dimunculkan secara estetik-simbolik dengan pemahaman pengetahuan masyarakat. Tujuan penelitian ini antara lain: (1) Merumuskan proses adaptasi visual ornamen Padma pada bangunan di Istana Kepresidenan Republik Indonesia-Jakarta sejak masa periode Kolonial sampai masa kepemimpinan Joko Widodo, yang didasari pada penggunaan ornamen Padma yang secara universal sudah diaplikasikan di bangunan rumah-rumah ibadah pada masa periode Hindu-Buddha, Islam, Kolonial, Modern awal hingga masa Kemerdekaan, dan Era Kontemporer di pulau Jawa; dan (2) Merumusan elemen bentuk, fungsi, dan makna ornamen Padma yang diterapkan pada bangunan Istana Kepresidenan Republik Indonesia-Jakarta sejak masa periode Kolonial sampai abad ke-21 masa kepemimpinan Joko Widodo sehubungan dengan budaya dan nasionalisme sebagai identitas. Penelitian bersifat kualitatif dengan pendekatan interpretivisme dan menggunakan studi kasus pada lingkungan Istana Kepresidenan Republik Indonesia, Jakarta. Analisis dilakukan melalui strategi cross-sectional dan bersifat induktif, memadukan observasi visual, dokumentasi arsitektural, serta penafsiran simbolik dan adaptasi visual. Proses analisis diperkuat oleh teori morfologi estetik Thomas Munro untuk membaca keterpaduan bentuk dan fungsi, serta konsep simbolik Jakob Sumardjo untuk menafsir nilai budaya dalam ornamen Padma. Temuan penelitian menegaskan Padma sebagai medium rekonstruksi identitas visual kenegaraan melalui adaptasi estetis dan simbolik. Penelitian menghasilkan metode pembacaan simbolik-morfologis sebagai kontribusi metodologis untuk membaca ornamen dalam konteks kekuasaan. Selain mengungkap negosiasi simbolik antara budaya lokal dan representasi nasional, penelitian menunjukkan bahwa ornamen Padma berfungsi sebagai wacana politik budaya yang membentuk narasi visual negara.
PERANCANGAN MASJID DI KOTA BANDUNG DENGAN PENDEKATAN PENCAHAYAAN
Cahaya merupakan suatu komponen dari alam yang memiliki banyak manfaat untuk kehidupan, termasuk manfaat dalam ranah arsitektur. Tak hanya berperan untuk memberikan penerangan, cahaya dapat memiliki peran sebagai pembentuk persepsi visual pengguna terhadap suatu ruang. Adanya persepsi visual dapat membantu seseorang dalam memahami dan menilai ruang. Salah satu tipologi bangunan yang berkaitan erat dengan kebutuhan akan persepsi visual adalah rumah peribadatan, contohnya masjid. Masjid, selaku sebuah sacred place, perlu untuk dapat menciptakan persepsi visual tertentu untuk menunjang keberjalanan kegiatan para pengguna yang sedang berlangsung di dalamnya. Untuk itu diperlukan data terkait gambaran pandangan dan keinginan pengguna terhadap suatu masjid, serta perlu untuk mengetahui tipe pencahayaan seperti apakah yang mampu memenuhi kebutuhan persepsi tertentu pada suatu ruang. Oleh karena itu, untuk mendapatkan data-data tersebut, akan dilakukan penelitian sebanyak dua kali. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan campuran yang mengombinasikan pendekatan kualitatif pada penelitian tahap 1 untuk mendapatkan data terkait ekspektasi pengguna terhadap masjid dan pendekatan kuantitatif pada penelitian tahap 2 untuk mendapatkan data terkait persepsi visual yang muncul pada tiap tipe pencahayaan yang disuguhkan. Pada penelitian tahap 1 ini akan disajikan beberapa pertanyaan untuk mengorek lebih jauh terkait ekspektasi pengguna terhadap persepsi visual suatu masjid dan pada penelitian tahap 2 akan disajikan beberapa simulasi pencahayaan yang telah dilakukan yang kemudian akan didapatkan suatu persepsi tertentu yang ditimbulkan dari masing-masing simulasi pencahayaan yang disajikan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa ekspektasi mengenai persepsi visual, yang mampu diwujudkan melalui permainan pencahayaan, yang sebaiknya dipenuhi oleh suatu masjid agar keberjalanan kegiatan pada masjid dapat berjalan dengan optimal.