📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 1 dokumenUNBOUND HARMONIES: PERANCANGAN PUSAT MUSIK BAGI ANAK DENGAN SPEKTRUM AUTISME SEBAGAI RUANG EKSPRESI DAN INKLUSI MELALUI PENDEKATAN ARSITEKTUR MULTISENSORI
Anak-anak dengan Gangguan Spektrum Autisme (ASD) memiliki keterbatasan dalam komunikasi, interaksi sosial, dan pemrosesan sensorik yang memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan lingkungan binaan. Meskipun manfaat intervensi dini telah diakui luas, ketersediaan fasilitas inklusif di Indonesia sangat terbatas, sehingga banyak anak berhadapan dengan lingkungan yang gagal mengakomodasi kebutuhan sensorik dan perkembangan mereka. Layanan yang ada sebagian besar bersifat klinis dan terfragmentasi, memaksa keluarga mengakses berbagai penyedia layanan secara terpisah dan membatasi peluang anak autisme untuk mengekspresikan diri dan berkembang di dalam masyarakat. Sebagai bahasa universal yang melampaui batasan komunikasi verbal, musik menjadi medium efektif untuk memfasilitasi ekspresi emosional, perkembangan kognitif, regulasi sensorik, dan interaksi antarpribadi. Berangkat dari potensi tersebut, proyek ini mengusulkan perancangan pusat musik multisensorik di Jalan Dr. Setiabudi, Bandung. Proyek ini mereinterpretasikan pusat musik konvensional menjadi suaka holistik yang mengintegrasikan pendidikan, terapi, pertunjukan, penelitian, dan keterlibatan komunitas. Dirancang khusus bagi anak-anak ASD berusia 5 hingga 15 tahun, fasilitas ini bertujuan mendorong interaksi sosial alami dan memperkuat inklusi komunitas melalui pengalaman bermusik bersama dengan anak neurotipikal. Lokasi strategisnya menawarkan kemudahan akses serta kedekatan dengan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan ruang publik sekitarnya. Hal ini memastikan pusat musik tersebut berfungsi sebagai destinasi komunitas inklusif, bukan institusi khusus yang terisolasi. Desain ini mengadopsi pendekatan arsitektur multisensorik, mengatur elemen akustik, pencahayaan, materialitas, warna, tekstur, skala ruang, dan transisi lingkungan untuk menciptakan ruang tanggap-sensorik. Pendekatan ini bertujuan meminimalkan stimulasi berlebih seraya mendorong eksplorasi, kreativitas, dan interaksi sosial. Proses perancangan menerapkan tinjauan literatur, studi preseden, analisis tapak, wawancara pendidik, dan penilaian kebutuhan pengguna guna menerjemahkan pemahaman teoretis menjadi strategi spasial. Hasilnya berupa desain yang mengorganisasikan ruang melalui gradasi sensorik bertahap, mulai dari lingkungan berstimulasi rendah hingga ruang sosial aktif, yang mencakup studio musik, ruang terapi, ruang kelas, area pertunjukan, serta ruang komunitas. Dengan demikian, proyek ini diharapkan dapat menggunakan arsitektur dan musik untuk mendukung ekspresi, perkembangan, dan inklusi sosial anak spektrum autis, sekaligus berkontribusi pada arsitektur inklusif dan memajukan Sustainable Development Goals 4 (Pendidikan Berkualitas), 10 (Berkurangnya Kesenjangan), dan 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan).