📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 1 dokumenMUSEUM INTERAKTIF ALAT MUSIK NUSANTARA BERBASIS PENGALAMAN SONIK DI WADUK JATILUHUR
Alat musik tradisional Nusantara menghadapi risiko kepunahan akibat pengaruh modernisasi, globalisasi, serta minimnya regenerasi pengrajin dan musisi muda. Padahal, alat musik tradisional memiliki peran penting sebagai warisan budaya yang menghubungkan masyarakat dengan akar sejarah dan identitas lokalnya. Di sisi lain, media edukasi informal seperti museum masih sering dipersepsikan kuno dan kurang menarik bagi generasi muda yang cenderung menyukai pengalaman belajar interaktif dan partisipatif, sehingga museum belum sepenuhnya efektif sebagai sarana pelestarian budaya. Perancangan Museum Interaktif Alat Musik Nusantara Berbasis Pendekatan Arsitektur Sonik di Waduk Jatiluhur ditujukan sebagai inovasi permuseuman yang menghadirkan pengalaman belajar partisipatif dan multisensori untuk menghidupkan kembali tradisi musik Nusantara. Perancangan ini berangkat dari dua permasalahan desain utama, yaitu kebutuhan akan interaksi partisipatif dalam menciptakan pengalaman museum yang aktif serta keterhubungan arsitektur dengan potensi lanskap Waduk Jatiluhur. Kedua permasalahan tersebut direspons melalui konsep Participatory Interaction dan Dialogue with Landscape dengan pendekatan arsitektur sonik. Pendekatan ini menjadikan bangunan tidak hanya sebagai ruang pamer pasif, tetapi juga sebagai medium interaksi antara pengunjung, bunyi, dan lingkungan. Konsep Participatory Interaction diterapkan melalui ruang dan elemen arsitektur yang mendorong keterlibatan tubuh dan indra pengunjung dalam mengalami budaya bunyi Nusantara. Morfologi dan material bangunan terinspirasi dari karakter alat musik tradisional Nusantara sehingga membentuk arsitektur sebagai instrumen yang dapat diaktivasi melalui interaksi pengunjung. Sementara itu, konsep Dialogue with Landscape diterapkan melalui integrasi bangunan dengan topografi serta pemanfaatan angin dan elemen alami Waduk Jatiluhur sebagai aktivator sonik. Dengan demikian, museum berperan sebagai ruang belajar yang mendorong pengunjung memahami musik tradisional melalui keterlibatan tubuh, indra, dan lingkungan. Konsep ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDG), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penyediaan sarana edukasi interaktif, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pemberdayaan pengrajin dan musisi lokal, serta SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) melalui pelestarian budaya. Metode yang digunakan meliputi studi literatur mengenai arsitektur sonik, alat musik Nusantara, dan teori permuseuman, observasi lapangan di Waduk Jatiluhur, serta analisis komparatif terhadap museum musik dan pusat budaya yang relevan. Museum ini diharapkan menjadi wadah edukasi berbasis pengalaman sonik yang terintegrasi dengan lanskap Waduk Jatiluhur, berperan dalam pemberdayaan komunitas lokal, serta menjadi ikon pariwisata budaya Purwakarta dan medium pelestarian alat musik tradisional Nusantara yang inovatif.