π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 12 dokumenCHILDREN AUTISM CENTER: PUSAT LAYANAN DAN KOMUNITAS ASD DI KABUPATEN BANDUNG UNTUK MEWUJUDKAN LINGKUNGAN RAMAH AUTISME DENGAN PENDEKATAN SENSORY ARCHITECTURE
Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan kondisi neurodevelopmental yang memengaruhi kemampuan komunikasi, interaksi sosial, perilaku, dan pemrosesan sensorik. Menurut data dari KemenKes RI, terdapat 2,4 juta penyandang ASD di Indonesia dengan laju pertumbuhan 500 orang per tahun. Seiring meningkatnya jumlah penyandang ASD di Indonesia, kebutuhan terhadap layanan yang komprehensif juga terus bertambah, termasuk di Kabupaten Bandung sebagai salah satu kawasan dengan jumlah penyandang ASD tertinggi di Jawa Barat. Namun, peningkatan kebutuhan tersebut belum diimbangi dengan tersedianya fasilitas yang mampu mengintegrasikan layanan terapi, pendidikan, dan komunitas dalam satu lingkungan yang sesuai dengan karakteristik sensorik anak. Di sisi lain, rendahnya pemahaman masyarakat masih memunculkan stigma terhadap anak dengan ASD sehingga membatasi partisipasi sosial mereka serta menambah beban psikologis bagi keluarga. Kondisi ini menunjukkan perlunya lingkungan binaan yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat layanan, tetapi juga mampu mendukung proses terapi sekaligus membangun interaksi sosial yang lebih inklusif. Berdasarkan isu tersebut, Children Autism Center di Kabupaten Bandung hadir sebagai pusat layanan dan komunitas bagi anak dengan ASD melalui pendekatan Sensory Architecture. Topik ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 10 (Reduced Inequalities), dan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), yang menekankan pentingnya penyediaan lingkungan binaan yang sehat, inklusif, dan mudah diakses. Perancangan ini menyediakan fasilitas terapi, edukasi, dan membangun interaksi melalui fasilitas community yang diintegrasikan dengan sensory design. Hasil perancangan menerapkan zonasi berdasarkan tingkat stimulasi sensorik, transition space sebagai ruang adaptasi antarzona, integrasi sensory garden dengan ruang terapi, pemanfaatan elemen alam, penggunaan material yang ramah sensorik, serta sistem sirkulasi yang jelas dan mudah dipahami. Rancangan ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang mendukung proses terapi, pembelajaran, dan interaksi sosial secara terpadu sehingga meningkatkan kemandirian, kenyamanan, dan kualitas hidup anak dengan ASD beserta keluarganya, sekaligus menjadi referensi pengembangan fasilitas layanan autisme yang lebih inklusif di Indonesia.
PERANCANGAN INTERIOR PUSAT TERAPI ANAK DANREMAJA AUTIS DI KOTA BANDUNG DENGANPENDEKATAN SENSORY DESIGN
Peningkatan jumlah individu dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) disertai keragaman karakteristik sensorik dan perilaku menuntut perancangan lingkungan terapi yang tidak hanya aman dan terkontrol, tetapi juga mendukung perkembangan kemandirian dan kesiapan adaptasi terhadap kehidupan sehari-hari. Namun, banyak fasilitas terapi yang belum menerapkan pendekatan interior dengan pertimbangan pengalaman sensorik individu autis. Tugas Akhir ini mengusulkan perancangan interior pusat terapi autis usia anak dan remaja di Kota Bandung dengan pendekatan sensory design dengan skema desain ASPECTSS 2.0 dan desain neurotipikal. Tujuan perancangan adalah menciptakan lingkungan terapi yang responsif terhadap kebutuhan sensorik individu ASD sekaligus mendukung proses generalisasi kemampuan melalui pengalaman ruang yang menyerupai lingkungan umum secara bertahap dan terkontrol. Metode yang digunakan adalah problem-based design dengan tahapan studi literatur, studi preseden, analisis pengguna dan aktivitas, serta perumusan program ruang dan fasilitas berdasarkan usia, tingkat fungsi, dan sensitivitas sensorik pengguna. Konsep desain mengacu pada prinsip ASPECTSS 2.0 dan pendekatan neurotipikal yang diterapkan melalui pengendalian stimulus sensorik, pengaturan urutan dan zonasi ruang, penyediaan ruang transisi dan escape space, serta perancangan sirkulasi yang terprediksi. Implementasi desain diterapkan untuk mendukung regulasi sensorik, meningkatkan kemandirian, dan memfasilitasi kesiapan sosial individu autis.
STRESS BALL DENGAN SENSOR UNTUK KLASIFIKASI DAN MONITORING KEKUATAN GENGGAMAN PADA ANAK DENGAN AUTISM SPECTRUM DISORDER (ASD)
Anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) seringkali menghadapi tantangan dalam perkembangan keterampilan motorik halus, salah satu indikatornya adalah rendahnya kekuatan genggaman tangan (Hand Grip Strength/HGS). Terapi okupasi, khususnya yang berbasis permainan menggunakan media seperti stress ball, merupakan intervensi yang efektif untuk meningkatkan kemampuan ini. Namun, alat terapi konvensional yang ada saat ini memiliki keterbatasan signifikan, yaitu tidak adanya kemampuan untuk menyediakan data kuantitatif yang objektif mengenai perkembangan kekuatan genggaman anak selama sesi terapi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk merancang, mengimplementasikan, dan menguji sebuah stress ball yang terintegrasi dengan sistem sensor untuk melakukan klasifikasi dan pemantauan kekuatan genggaman tangan pada anak dengan ASD. Sistem perangkat keras dirancang menggunakan sensor Force Sensing Resistor (FSR) tipe Interlink 406 sebagai transduser utama, mikrokontroler Seeed Studio XIAO ESP32S3 sebagai unit pemrosesan data dan komunikasi nirkabel Wi-Fi, serta 5 buah LED Strip WS2812B sebagai umpan balik visual yang intensitas kecerahannya termodulasi secara linear sesuai kekuatan genggaman. Untuk memastikan validitas data, dilakukan proses kalibrasi sensor menggunakan Universal Testing Machine (UTM) A&D Tensilon RTF-1310. Data hasil kalibrasi kemudian dianalisis untuk menemukan model matematis konversi terbaik. Di sisi perangkat lunak, dikembangkan sebuah antarmuka pengguna (UI) di laptop yang mampu menerima data secara real-time melalui protokol UDP, melakukan analisis statistik, dan mengklasifikasikan kekuatan genggaman. Pengujian fungsionalitas prototipe dilakukan secara menyeluruh, mencakup uji akurasi dengan membandingkannya terhadap alat standar Biopac Hand Dynamometer SS25LA, uji presisi, uji responsivitas dinamis, dan uji klasifikasi. Hasil penelitian menunjukkan prototipe stress ball berhasil diimplementasikan dengan baik. Proses kalibrasi sensor menetapkan model interpolasi linear dengan lookup table sebagai metode konversi paling akurat, dengan nilai Root Mean Square Error (RMSE) sebesar 0.128 kg dan koefisien determinasi (R2) 0.9986. Pada uji akurasi, prototipe menunjukkan korelasi linear positif yang sangat kuat (r = 0.986) dengan alat standar, didukung oleh analisis Bland-Altman yang menunjukkan bias sistematis yang dapat diabaikan. Uji presisi membuktikan konsistensi dan presisi alat yang sangat tinggi, dengan nilai Koefisien Variansi ii (CV) di bawah 3% pada pengujian beban berulang. Sistem juga terbukti responsif dalam melacak perubahan kekuatan genggaman secara dinamis tanpa jeda waktu (lag) yang signifikan. Lebih lanjut, fungsi klasifikasi berhasil divalidasi dan mampu mengkategorikan kekuatan genggaman pengguna ke dalam tiga kelas (Lemah, Normal, Kuat) secara akurat untuk kelompok usia 7 dan 8 tahun. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada pengembangan alat terapi yang tidak hanya fungsional sebagai media latihan, tetapi juga sebagai instrumen pemantauan kuantitatif.
IMPLEMENTASI NEURO-ARSITEKTUR DALAM PERANCANGAN PUSAT REHABILITASI DAN RUMAH SUSUN TERHADAP ANAK AUTISME DI KECAMATAN BEKASI TIMUR
Autisme, atau Autism Spectrum Disorder (ASD), merupakan gangguan perkembangan neurologis yang memengaruhi kemampuan berkomunikasi, berinteraksi sosial, serta berperilaku adaptif. Anak dengan spektrum autisme sering mengalami tantangan signifikan, seperti sensitivitas tinggi terhadap rangsangan sensorik hingga kesulitan dalam mengatur emosi dan berinteraksi sosial. Pendekatan terhadap autisme, khususnya dalam gerakan neurodiversitas, memandang autisme bukan sebagai gangguan yang perlu "disembuhkan," melainkan sebagai suatu kondisi yang membutuhkan dukungan untuk membantu anak dalam mencapai potensi terbaiknya. Dalam mendukung perkembangan anak dengan spektrum autisme, pada umumnya orang tua membawa anak tersebut ke sekolah luar biasa sebagai sarana edukasi yang lebih formal. Akan tetapi, pendidikan formal saja sering kali belum cukup untuk memenuhi kebutuhan perkembangan holistik anak dengan spektrum autisme. Anak-anak dengan kondisi autisme membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif, yang melibatkan terapi multidisiplin guna memaksimalkan perkembangan mereka di berbagai aspek, seperti komunikasi, perilaku, keterampilan sosial, dan kemandirian sehari-hari. Selain itu, kondisi lingkungan tempat tinggal anak juga menjadi aspek yang penting. Hal ini disebabkan oleh lingkungan tempat tinggal anak berperan dalam membantu anak autisme menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya seiring bertambahnya usia dalam jangka waktu yang panjang. Ketersediaan tempat tinggal seperti rumah juga menjadi semakin penting mengingat tantangan yang dihadapi oleh keluarga yang memiliki anak-anak dengan spektrum autisme. Banyak keluarga merasa kesulitan dalam menyediakan lingkungan rumah yang inklusif atau ramah bagi anak-anak autisme. Di Indonesia, angka prevalensi anak autisme tercatat mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahunnya. Hal ini tidak sebanding dengan angka ketersediaan fasilitas layanan dukungan inklusif, seperti rumah atau tempat rehabilitasi anak autisme. Di Kota Bekasi, tepatnya di Kecamatan Bekasi Timur, tercatat bahwa jumlah anak yang terdaftar di sekolah luar biasa adalah sebanyak 393 peserta. Jumlah ini merupakan yang tertinggi di antara kecamatan-kecamatan lain di Kota Bekasi. Namun, di Kota Bekasi hanya terdapat dua sekolah luar biasa, yaitu SLB Negeri Bekasi Jaya dan SLB ABC Citra Mandala. Dengan demikian, proyek ini hadir untuk menjawab isu tingginya jumlah anak autisme yang terus meningkat di Kecamatan Bekasi Timur, ditambah dengan ketiadaan rumah khusus anak autisme serta minimnya pusat layanan anak autisme yang tersedia. Proyek ini menggunakan pendekatan lahan campuran yang mengintegrasikan rumah susun dengan pusat rehabilitasi secara inklusif untuk anak autisme. Kedua sarana residensial dan kesehatan tersebut menjadi fungsi utama dari perancangan massa bangunan. Pendekatan mixed-use development ini menjadi satu-satunya proyek yang mengimplementasikan konsep penggabungan hunian dengan fasilitas rehabilitasi khusus anak autisme di Kota Bekasi. Untuk merespons lokasi tapak yang berada di dekat permukiman dengan kepadatan tinggi, serta potensi tapak yang berada di sekitar lahan perkebunan, proyek ini juga merancang pembangunan Sensory Garden Spaces dan program urban farming yang terintegrasi dengan hunian sebagai fungsi sekundernya. Fungsi primer maupun sekunder bangunan ini didasari oleh pendekatan konseptual dalam ranah arsitektur, yaitu dengan mengimplementasikan konsep neuro-arsitektur ke dalam rancangan bangunan. Adapun pendekatan mixed-use building ini mendukung prinsip Sustainable Development Goals (SDGs) terutama pada SDG 3, yaitu good health and well-being dan SDG 11, yaitu Sustainable Cities and Communities.
PERANCANGAN PUSAT TERAPI UNTUK ANAK DENGAN GANGGUAN SPEKTRUM AUTISME DENGAN PENDEKATAN SENSORY DESIGN DAN NEURO-TYPICAL
Gangguan Spektrum Autisme (ASD) atau yang biasa disebut autisme, adalah kondisi perkembangan saraf yang memengaruhi cara seseorang berinteraksi, berkomunikasi, dan memproses informasi. Individu dengan autisme seringkali menunjukan kesulitan dalam memahami dan menanggapi isyarat sosial, bahasa, serta menunjukan perilaku yang berulang atau memiliki minat yang terbatas. Prevalensi autisme di negara-negara Amerika Serikat dan non-Amerika Serikat dilaporkan mendekati 1% dari populasi, dengan perkiraan serupa pada sampel anak-anak dan dewasa. Pada awal Maret 2023, dalam kajian yang ditulis oleh Jinan Zeidan dari McGill University Montreal dan tim Autism Research menemukan bahwa prevalensi global autisme telah meningkat menjadi 1 dari 100 anak. Di Indonesia, pada tahun 2021, jumlah penderita anak autisme mengalami peningkatan hingga mencapai 2,4 juta individu. Angka ini kemungkinan bisa lebih tinggi karena di Indonesia sendiri masih banyak kasus yang tidak terdiagnosis atau terlambat dideteksi. Faktor-faktor seperti kurangnya akses ke fasilitas diagnostik, stigma sosial, dan pengetahuan yang terbatas tentang autisme di kalangan masyarakat dan tenaga medis turut berperan dalam rendahnya angka deteksi. Peningkatan prevalensi anak dengan autisme di Indonesia memunculkan kebutuhan akan fasilitas terapi yang dirancang secara khusus untuk mendukung perkembangan mereka. Sayangnya, banyak fasilitas terapi saat ini belum sepenuhnya mengakomodasi kebutuhan tersebut. Oleh karena itu dibutuhkan pendekatan desain yang holistik untuk menciptakan pusat terapi yang efektif dan ramah bagi anak dengan autisme. Penelitian ini menggunakan pendekatan Sensory Design dan Neuro-Typical. Pendekatan sensory design memiliki fokus untuk mengurangi stres dengan meminimalisir kecemasan yang disebabkan oleh masukan sensorik yang berlebihan untuk menciptakan suasana tenang yang mendukung pembelajaran dan relaksasi, sementara pendekatan Neuro-Typical bertujuan untuk mempersiapkan individu untuk berinteraksi sosial dan melakukan aktivitas sehari-hari dalam lingkungan umum.
PERANCANGAN PUSAT TERAPI KREATIF UNTUK ANAK PENGIDAP AUTISME DAN ADHD USIA 2-11 TAHUN.
Autism Spectrum Disorder (ASD) dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah kondisi yang tergabung sebagai bagian dari neurodevelopmental disorders. Indikator utama pada anak pengidap ASD dan/atau ADHD adalah masalah dalam bersosialisasi, kesulitan meregulasi emosi, serta gangguan fungsi eksekutif yang berpengaruh terhadap kemampuan belajar dan bekerja. Gejala kondisi ini biasanya mulai tampak saat anak menginjak usia 2 tahun atau ketika mulai bersekolah. Berbagai kesulitan yang dialami anak-anak pengidap ASD dan/atau ADHD membuat mereka lebih sering mengalami perundungan karena dianggap aneh atau berbahaya. Keberadaan stigma buruk masyarakat terhadap anak-anak pengidap ASD dan/atau ADHD beserta orang tuanya pun turut memperburuk situasi; di mana hal tersebut kerap kali membuat mereka merasa bahwa kondisi ini adalah hal yang tabu dan perlu disembunyikan, sehingga menjadi hambatan bagi mereka untuk mencari pertolongan profesional. Di tengah peliknya situasi ini, terapi kreatif mampu menjadi alternatif penanganan yang aman dan bebas penghakiman bagi anak-anak pengidap ASD dan/atau ADHD untuk mengekspresikan dirinya, sehingga kondisi mental mereka secara keseluruhan dapat meningkat. Perancangan ini bertujuan untuk membangun ruang inklusif bagi anak-anak dengan ASD dan/atau ADHD beserta orang tuanya. Konsep desain dilandaskan pada kebutuhan penggunanya akan ketenangan, kenyamanan, dan rasa aman. Ide ini utamanya diwujudkan dengan menggunakan warna yang menenangkan untuk meredakan kekacauan pikiran pengguna, bersamaan dengan penggunaan material dengan tekstur yang beragam sebagai sarana stimulasi untuk mencegah kejenuhan. Keseimbangan sensori ini pada akhirnya akan melahirkan ekuilibrium di dalam tubuh dan pikiran pengguna, membawa mereka semakin dekat menuju hidup sehat dengan kualitas yang memuaskan. Harapannya, keberadaan fasilitas ini mampu membuat anak-anak pengidap ASD dan/atau ADHD beserta orang tua mereka merasa tidak sendirian dan mendapat sepercik harapan bahwa kondisi ini bisa ditingkatkan menjadi lebih baik, serta menyadarkan mereka bahwa kondisi ini bukanlah suatu aib yang harus disembunyikan.
PERANCANGAN KAMPANYE SOSIAL EDUKASI POLA ASUH GUNA MELATIH KEMANDIRIAN BAGI ANAK AUTISME
Melatih kemandirian merupakan salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh orang tua anak dengan autisme. Penelitian ini bertujuan untuk merancang kampanye sosial yang dapat mempermudah orang tua dalam memperoleh informasi yang akurat dan aplikatif terkait strategi pelatihan kemandirian bagi anak dengan autisme. Penelitian ini dilakukan melalui metode kualitatif yang digunakan untuk mencari referensi dari penelitian terdahulu, jurnal, buku dan artikel yang relevan, mengamati media penyampaian pesan yang sudah ada terutama di media sosial, dan mengetahui sudut pandang ahli serta khalayak sasaran. Hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa penggunaan rutinitas merupakan pendekatan yang efektif dalam membangun kemandirian anak dengan autisme. Selain itu, media sosial diidentifikasi sebagai sumber informasi yang paling sering diakses oleh orang tua generasi milenial. Temuan ini menjadi dasar dalam perancangan kampanye sosial dengan pendekatan design thinking dan model AISAS (Attention, Interest, Search, Action, Share). Hasil dari penelitian dan perancangan ini adalah kampanye βSatu Langkahβ yang diharapkan menjadi solusi yang relevan dengan kebutuhan orang tua masa kini, serta bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam mendidik anak dengan autisme menuju kemandirian.
FASILITAS SEKOLAH VOKASIONAL UNTUK AUTISM SPECTRUM DISORDER USIA PRODUKTIF DI JAKARTA
Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi perilaku sehari-hari individu, termasuk kemampuan berinteraksi sosial, berkomunikasi, dan belajar. Gejalanya meliputi kesulitan dalam interaksi sosial, perilaku repetitif atau stimming, dan ketertarikan pada sesuatu secara terus menerus, dan disertai dengan penyakit komorbid. Permasalahan sensorik menyebabkan individu ASD kesulitan mengendalikan respons terhadap stimulus lingkungan, sehingga mereka melakukan stimming sebagai upaya menenangkan diri. Namun, perilaku ini sering disalahartikan dan menimbulkan stigma negatif di masyarakat. Individu ASD pada usia produktif dihadapkan pada tantangan yang semakin besar, terutama setelah menyelesaikan pendidikan wajib, di mana tuntutan kemandirian meningkat. Tingkat penerimaan kerja individu ASD tercatat paling rendah dibandingkan kelompok disabilitas lainnya. Proyek ini hadir untuk memfasilitasi tersebut dengan membuat fasilitas pelatihan vokasional yang memiliki pendekatan sensorik guna membuat pembelajaran vokasional yang lebih fokus dan lebih tenang. Fasilitas ini juga dilengkapi dengan area penunjang lainnya seperti area publik dan area magang guna meningkatkan interaksi sosial antara ASD dan juga neurotipikal. Dengan menyediakan sarana interaksi yang inklusif, diharapkan stigma terhadap individu ASD dapat berkurang secara bertahap. Tujuan utama proyek ini adalah menciptakan lingkungan inklusif yang ramah sensorik dan mendukung pemberdayaan individu ASD usia produktif melalui pelatihan vokasional, dengan fokus pada pengendalian rangsangan sensorik, peningkatan interaksi sosial, serta penyediaan ruang-ruang pemberdayaan
FASILITAS EDUKASI DAN REHABILITASI PENYANDANG AUTISME DI LEMBANG DENGAN PENDEKATAN DESAIN RESPONSIF TERHADAP SENSORI DAN PERILAKU
Autism Spectrum Disorder (ASD) atau autisme merupakan kelompok kondisi yang terkait dengan gangguan perkembangan otak, yang menyebabkan kesulitan dalam komunikasi, interaksi sosial, motorik, sensorik, dan emosi. Penyandang autisme sering menghadapi tantang dalam memperoleh dan mengolah informasi sehingga perlu adanya metode dan fasilitas khusus untuk dapat memenuhi haknya dalam memperoleh pendidikan yang sesuai. Di Indonesia, ketersediaan fasilitas edukasi dan rehabilitasi untuk penyandang autisme di Indonesia masih terbatas, baik dalam jumlah maupun jangkauan. Menurut data UNICEF yang diolah dari data SUSENAS, 73,7% anak penyandang disabilitas, termasuk autisme, tidak bersekolah. Hal ini menjadi alasan utama perancangan pusat autisme yang mengintegrasikan fasilitas edukasi dan rehabilitasi dengan pendekatan yang responsif terhadap kebutuhan sensori dan perilaku penyandang autisme. Tantangan utama dalam proyek ini adalah merancang lingkungan yang adaptif untuk kebutuhan sensori penyandang autisme yang beragam sekaligus memastikan keberlanjutan desain, serta mendorong perilaku positif secara alami tanpa kesan memaksa. Desain juga harus mendukung rutinitas yang terstruktur untuk mempermudah aktivitas dan kemandirian dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan dan pedoman yang digunakan dalam proyek ini meliputi ASPECTSS, ASPECTSS 2.0, Designing for The Senses, serta Designing Realistic Environment. Pendekatan dan pedoman tersebut menjadi landasan dalam perancangan proyek untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung perkembangan individu. Fasilitas utama pada proyek ini mencakup sekolah khusus autisme dengan kurikulum dan metode pembelajaran yang disesuaikan, ruang terapi individual, ruang tenang, ruang stimulasi sensori, ruang pengembangan minat dan bakat, serta ruang-ruang interaksi indoor dan outdoor. Proyek ini juga dilengkapi dengan fasilitas pelatihan untuk tenaga didik dan keluarga. Ruang-ruang diatur berdasarkan urutan kegiatan yang logis serta hierarki privasi dan sensori agar memudahkan penyandang autisme dalam menjalani aktivitas dan rutinitas. Selain itu, ruang-ruang juga dirancang dengan elemen arsitektural yang responsif, seperti pencahayaan terkontrol, warna netral, material bertekstur, dan furnitur fleksibel untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman. Proyek ini diharapkan dapat menjadi solusi atas keterbatasan fasilitas edukasi dan rehabilitasi penyandang autisme di Indonesia. Selain itu, proyek ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi dalam pengembangan fasilitas serupa yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup penyandang autisme melalui pendekatan desain yang responsif.
PEMBANGUNAN SISTEM DIAGNOSIS AUTISME MENGGUNAKAN EXPERT SYSTEM DAN SVM CLASSIFIER DENGAN FITUR SPARSE REPRESENTATION
Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi interaksi sosial dan komunikasi, serta ditandai dengan pola perilaku yang terbatas dan berulang. Diagnosis dini ASD sangat penting untuk membering intervensi yang tepat waktu, namun terdapat tantangan pada diagnosis diantaranya adalah variabilitas gejala dan keterbatasan akses ke tenaga medis yang terlatih. Penelitian ini mengembangkan sebuah sistem pakar berbasis aturan yang mengintegrasikan representasi sparse untuk membantu diagnosis ASD. Sistem ini memodelkan hubungan antara gejala β gejala ASD menggunakan struktur aturan, serta memanfaatkan sistem klasifikasi menggunakan citra wajah untuk menghasilkan diagnosis. Sistem pakar yang dibangun divalidasi oleh ahli untuk memastikan basis pengetahuannya. Dari sesi wawancara yang dilakukan, didapat bahwa penggunaan gejala dan bobot pada sistem pakar sudah cukup akurat. Selain itu, pengujian akurasi klasifikasi dilakukan dengan berbagai parameter pada algoritma klasifikasi dan sparse untuk menemukan parameter terbaik dan menguji akurasi sistem. Pengujian yang dilakukan memberikan akurasi sebesar 73% untuk parameter, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa performa sistem klasifikasi masih dapat ditingkatkan lagi.
PERANCANGAN MEDIA TERAPI MULTISENSORI ANAK DENGAN ASD (AUTISM SPECTRUM DISORDER) USIA 5-12 TAHUN DI RUMAH
Prevalensi Autism Spectrum Disorder (ASD) di Indonesia terus meningkat, dengan delapan dari setiap 1.000 penduduk didiagnosis dengan ASD. Anak-anak dengan ASD sering menghadapi tantangan dalam mengembangkan keterampilan sensori dan kemandirian mereka, sehingga membutuhkan terapi berkelanjutan yang umumnya dilakukan di klinik. Namun, keterbatasan waktu dan frekuensi terapi di klinik membuat pentingnya menyediakan solusi terapi tambahan yang dapat dilakukan di rumah. Penelitian ini bertujuan untuk merancang media terapi multisensori yang dapat digunakan di rumah untuk anak-anak dengan ASD usia 5- 12 tahun. Metodologi penelitian ini melibatkan studi literatur, wawancara dengan orang tua anak dengan ASD, analisis kebutuhan sensori, dan evaluasi kondisi rumah. Proses desain menggunakan metode Double Diamond yang terdiri dari empat fase: Discover, Define, Develop, dan Deliver. Pada tahap Discover, diidentifikasi masalah dan kebutuhan pengguna. Tahap Define menghasilkan pernyataan masalah dan tujuan desain. Pada fase Develop, konsep media terapi dikembangkan, diuji coba, dan disempurnakan berdasarkan umpan balik. Akhirnya, pada tahap Deliver, media terapi diproduksi dan diimplementasikan di rumah-rumah pengguna, dengan evaluasi berkelanjutan untuk perbaikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media terapi multisensori yang dirancang dapat meningkatkan respons sensori dan kemandirian anak dengan ASD. Media ini juga memberikan solusi praktis yang dapat diterapkan oleh orang tua di rumah, mendukung terapi berkelanjutan untuk anak dengan ASD. Rekomendasi desain mencakup pembuatan media terapi yang mudah digunakan, fleksibel, dan dapat diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari keluarga.
PERANCANGAN DOKUMENTER ANIMASI SEBAGAI MEDIA PENGENALAN NILAI-NILAI INKLUSIF PADA PENYANDANG ASD (AUTISM SPECTRUM DISORDER) UNTUK REMAJA USIA 15-18 TAHUN
Kemandirian merupakan aspek penting dalam hidup penyandang ASD (Autism Spectrum Disorder). Melalui kemandirian, penyandang ASD dapat berdaya dan menjalani hidup tanpa perlu bergantung pada orang lain. Untuk mencapai hidup yang mandiri, penyandang perlu memiliki lingkungan yang inklusif. Namun nyatanya, masyarakat umum di Indonesia masih kurang inklusif. Remaja merupakan masa perkembangan yang ditandai dengan peningkatan toleransi, penerimaan, dan keterbukaan terhadap keragaman. Mereka dikenal sebagai agen perubahan dalam masyarakat. Dengan demikian, pengenalan nilai-nilai inklusif penyandang ASD pada remaja dinilai efektif dan berkelanjutan untuk membentuk lingkungan masyarakat yang inklusif pada penyandang ASD. Pengenalan ini dilakukan melalui animasi dokumenter. Media ini dinilai dekat dengan remaja serta memiliki nilai informatif dan aktual. Dokumenter animasi dinilai mampu mengemas keterbatasan dan pengalaman penyandang ASD yang abstrak melalui aspek animasi tanpa menghilangkan aktualitas informasi di dalamnya. Dokumenter animasi mampu menjembatani kesenjangan antara remaja dengan penyandang ASD secara emosional dan faktual. Setelah melalui rangkaian proses perancangan, ditemukan bahwa dokumenter animasi merupakan media yang unggul dalam memvisualisasikan konsep berbasis fakta yang tidak berwujud (intangible concepts). Konsep ini merupakan karakter yang signifikan dibanding film dokumenter live-action convensional, di mana mengandalkan wawancara dan rekaman saja terkadang dapat membatasi kedalaman hubungan emosional dan pemahaman audiens pada topik film.