📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 22 dokumen

STRATEGI MITIGASI RISIKO BANJIR TERHADAP KERENTANAN BANGUNAN BERBASIS GIS DAN KAPASITAS ADAPTIF STUDI KASUS: DESA CITEUREUP, DAYEUHKOLOT

Banjir masih menjadi salah satu ancaman bencana yang paling sering dihadapi masyarakat Indonesia, dan Desa Citeureup di Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, menjadi salah satu wilayah yang secara rutin mengalaminya. Diapit tiga aliran sungai dan berada di dataran rendah Cekungan Bandung, wilayah ini nyaris tidak pernah luput dari genangan setiap musim hujan tiba. Kajian kerentanan banjir yang ada selama ini kebanyakan masih dilakukan pada skala kawasan atau administratif, sehingga variasi kondisi antar bangunan yang sebenarnya cukup beragam justru tidak terlihat. Padahal, dua rumah yang bersebelahan bisa memiliki tingkat ketahanan yang jauh berbeda terhadap banjir, tergantung material, ketinggian lantai, riwayat perbaikan, maupun kesiapan penghuninya untuk beradaptasi. Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kerentanan fisik hunian terhadap banjir di Desa Citeureup berdasarkan karakteristik bangunan, kondisi lingkungan, dan analisis spasial menggunakan GIS, mengidentifikasi tingkat ketangguhan eksisting hunian terhadap banjir, yang mencakup kapasitas bertahan, tingkat kerusakan, kecepatan pemulihan, dan kesiapan adaptasi bangunan serta merumuskan rekomendasi strategi peningkatan resiliensi hunian terhadap banjir yang sesuai dengan tingkat kerentanan, tingkat resiliensi eksisting, dan hasil analisis spasial GIS di Desa Citeureup. Penelitian ini memadukan metode kuantitatif dan kualitatif dalam satu rangkaian desain sekuensial eksplanatori. Seluruh 45 unit bangunan di RT 01 dijadikan objek kajian dengan teknik total sampling, mengingat jumlah populasinya yang relatif kecil sehingga memungkinkan untuk diteliti secara menyeluruh. Untuk menjawab tujuan pertama, tingkat kerentanan bangunan dinilai melalui empat belas parameter yang terbagi dalam tiga dimensi, yaitu kondisi bangunan, kondisi lingkungan, dan kondisi banjir. Setiap parameter diklasifikasikan dan diberi skor, kemudian dibobot berdasarkan penilaian sejumlah pakar, lalu digabungkan melalui teknik weighted overlay hingga menghasilkan Indeks Kerentanan (VI). Untuk menjawab tujuan kedua, tingkat ketangguhan eksisting dinilai dari empat sisi, yaitu kapasitas bangunan bertahan, tingkat kerusakan, kecepatan pemulihan, dan kesiapan adaptasi, yang kemudian membentuk Indeks Resiliensi (RI). Hubungan antara VI dan RI diuji dengan korelasi Spearman untuk melihat sejauh mana kerentanan fisik berkaitan dengan resiliensi eksisting, sedangkan pola-pola dari hasil wawancara digali lebih dalam melalui hierarchical cluster analysis menggunakan JMP. Hasil dari kedua tahap tersebut kemudian menjadi dasar bagi tujuan ketiga, yaitu perumusan rekomendasi strategi peningkatan resiliensi, yang selanjutnya divalidasi bersama tujuh validator dari kalangan warga dan akademisi untuk memastikan kesesuaiannya dengan kondisi lapangan.Hasil pemetaan menunjukkan bahwa sebagian besar rumah di RT 01 secara fisik cukup rentan, terutama karena ketinggian lantai yang rendah dan mayoritas bangunan hanya satu lantai sehingga ruang evakuasi vertikal terbatas. Dari sisi material, dinding, lantai, dan struktur bangunan justru sudah relatif tahan air, sehingga kerentanan yang muncul lebih banyak dibentuk oleh faktor arsitektural ketimbang kualitas material itu sendiri. Kondisi lingkungan pun turut memperberat keadaan, karena topografi yang datar, tanah dengan daya serap rendah, serta permukiman padat tanpa ruang terbuka membuat air sulit surut dengan cepat. Secara keseluruhan, tingkat kerentanan wilayah ini berada pada kisaran sedang hingga tinggi, sedangkan tingkat ketangguhan eksistingnya bertahan pada level menengah, dengan kesiapan adaptasi sebagai dimensi paling lemah. Ketika VI dan RI diuji korelasinya, diperoleh nilai rho -0,4415 dengan p = 0,0030, yang berarti hubungan keduanya signifikan secara statistik meskipun tidak terlalu kuat, sehingga mengonfirmasi bahwa resiliensi rumah tangga tidak semata ditentukan oleh kondisi fisik bangunan, melainkan juga oleh faktor sosial dan kesiapan adaptif penghuninya. Berdasarkan temuan tersebut, rekomendasi strategi mitigasi disusun sesuai karakteristik masing-masing kelompok rumah, dengan strategi berbasis modal sosial, seperti gotong royong dan pembentukan tim siaga banjir RT, mendapat penilaian kelayakan paling tinggi dari para validator. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggabungan penilaian kerentanan dan resiliensi pada skala bangunan individual dengan proses perumusan rekomendasi strategi yang divalidasi langsung bersama masyarakat, dalam satu kerangka analisis GIS yang jarang ditemukan pada kajian sejenis di kawasan Cekungan Bandung. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa metode skoring manual dengan pembobotan pakar tetap mampu menghasilkan gambaran kerentanan dan resiliensi yang informatif, sekaligus menawarkan model rekomendasi strategi peningkatan resiliensi yang berpotensi diterapkan pada permukiman padat rawan banjir lain di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Rr Nafisa Alya Fathinnisa
🏷️ Banjir 🏷️ Geografi Desa 🏷️ Analisis Geografis

ANALISIS KONDISI PERKERASAN JALAN TERDAMPAK BANJIR MENGGUNAKAN MODEL MARKOV CHAIN DAN SIMULASI MONTE CARLO (STUDI KASUS : JALAN NASIONAL PROVINSI BANTEN)

Model deteriorasi perkerasan berperan penting dalam sistem manajemen aset jalan karena digunakan untuk memperkirakan perubahan kondisi jalan dan menentukan kebutuhan penanganan di masa mendatang. Proses deteriorasi perkerasan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti lalu lintas, kondisi lingkungan dan banjir, sehingga diperlukan pendekatan yang mampu mengakomodasi ketidakpastian tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh banjir dan lalu lintas terhadap perubahan kondisi perkerasan jalan berdasarkan nilai International Roughness Index (IRI) dan Pavement Condition Index (PCI), serta memprediksi kondisi perkerasan di masa mendatang menggunakan pendekatan Markov Chain Monte Carlo (MCMC). Data yang digunakan meliputi nilai IRI dan PCI tahun 2020–2024, data lalu lintas, curah hujan, riwayat penanganan, dan kejadian banjir pada ruas jalan nasional di Provinsi Banten. Prediksi dilakukan menggunakan Matriks Probabilitas Transisi (MPT) yang dikombinasikan dengan simulasi Monte Carlo menggunakan beberapa distribusi probabilitas, yaitu uniform, beta simetris, beta right-skewed, dan beta left-skewed. Pemilihan distribusi terbaik dilakukan melalui validasi terhadap data historis menggunakan metode Mean Absolute Percentage Error (MAPE). Hasil proyeksi kemudian dibandingkan dengan model HDM-III Paterson dan IRMS V.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruas jalan yang terdampak banjir mengalami penurunan kondisi yang lebih cepat dibandingkan ruas yang tidak terdampak banjir. Selain mampu menggambarkan ketidakpastian kondisi perkerasan melalui distribusi probabilitas, model MCMC menghasilkan proyeksi penurunan kondisi yang lebih mendekati data observasi dibandingkan model HDM-III Paterson dan IRMS V.3.

2026
👤 Penulis: Fiqri Rahadi Muhammad
🏷️ Banjir 🏷️ Kondisi Perkerasan Jalan 🏷️ Simulasi Monte Carlo

ANALISIS RISIKO BANJIR SKALA BANGUNAN DAN ARAHAN PRIORITAS PENERAPAN SMALL-SCALE NATURE-BASED SOLUTIONS DI KECAMATAN LEMBANG, KABUPATEN BANDUNG BARAT

Kecamatan Lembang merupakan bagian dari Kawasan Bandung Utara dan hulu sistem drainase Cekungan Bandung yang memiliki fungsi ekologis penting sebagai kawasan resapan air, tetapi mengalami tekanan pembangunan akibat pertumbuhan kawasan terbangun, aktivitas pariwisata, permukiman, dan perubahan penggunaan lahan. Dalam beberapa tahun terakhir, banjir berulang terjadi pada kawasan perkotaan, permukiman padat, koridor ekonomi, serta area yang dipengaruhi sistem sungai dan drainase. Namun, pemetaan risiko banjir yang tersedia umumnya masih berskala makro sehingga belum mampu menjelaskan variasi risiko pada tingkat bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko banjir skala bangunan dan merumuskan arahan prioritas implementasi small-scale Nature-Based Solutions untuk pengurangan risiko banjir di Kecamatan Lembang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif-spasial dengan dukungan analisis kualitatif melalui studi literatur, telaah dokumen, wawancara, dan observasi lapangan. Analisis dilakukan melalui empat tahap, yaitu pemetaan kerawanan banjir berbasis machine learning dengan membandingkan Random Forest dan Gradient Boosting; identifikasi karakteristik bangunan dan penduduk melalui konflasi building footprint, klasifikasi fungsi bangunan, pemetaan populasi dasimetrik, serta estimasi sebaran MBR berbasis proksi spasial; analisis kerentanan dan risiko banjir skala bangunan berdasarkan komponen sosial, fisik, ekonomi, dan lingkungan; serta analisis potensi dan prioritas small-scale Nature-Based Solutions menggunakan kesesuaian spasial berbasis boolean overlay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Random Forest menjadi model terbaik dengan nilai AUC-ROC sebesar 0,9658, lebih tinggi dibandingkan Gradient Boosting sebesar 0,9478. Hasil konflasi menghasilkan 88.630 unit bangunan, dengan 13.348 bangunan permukiman atau 20,68% dari total bangunan permukiman teridentifikasi memiliki indikasi informalitas morfologi tinggi. Analisis risiko menunjukkan 11.998 bangunan berada pada kelas risiko tinggi dan sangat tinggi, dengan konsentrasi terbesar di Desa Lembang. Pada analisis small-scale Nature-Based Solutions, green roof dan rain barrel berpotensi diterapkan pada 73.987 bangunan dengan luas atap potensial 5.336.613,83 m² atau 79,75% dari total luas atap yang dianalisis. Untuk tipologi skala lingkungan, potensi terbesar terdapat pada rain garden seluas 195,55 ha danviii infiltration trench seluas 168,47 ha. Hasil prioritas menunjukkan 118,48 ha area prioritas NbS skala lingkungan dari 180,06 ha area potensial, dengan konsentrasi terbesar di Desa Lembang dan Kayuambon. Kawasan Perkotaan Lembang, khususnya Pasar Panorama, Jl. Grand Hotel, sekitar Situ PPI, serta koridor Kayuambon–Maribaya–Pangragajian–Pusdikajen, menjadi lokasi awal yang relevan untuk kombinasi detention basin, rain garden, infiltration trench, dan permeable pavement. Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi machine learning, data bangunan, populasi dasimetrik, informalitas morfologi, dan analisis kesesuaian NbS dapat menghasilkan informasi risiko banjir yang lebih rinci untuk mendukung perencanaan pengurangan risiko banjir berbasis skala bangunan.

2026
👤 Penulis: Muhammad Farid Rizqi
🏷️ Banjir 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS SPASIAL DAERAH RAWAN BANJIR KOTA BANDUNG MELALUI PENGGUNAAN MODEL BINARY LOGISTIC REGRESSION

Banjir merupakan salah satu bencana hidrometeorologi yang paling sering terjadi di wilayah perkotaan dan menimbulkan dampak sosial, ekonomi, serta lingkungan yang signifikan. Kota Bandung merupakan salah satu wilayah perkotaan di Indonesia yang memiliki kerentanan tinggi terhadap kejadian banjir akibat kombinasi faktor topografi cekungan, kepadatan pembangunan, serta meningkatnya limpasan permukaan akibat urbanisasi. Kondisi tersebut menuntut adanya pendekatan analisis spasial yang mampu mengidentifikasi wilayah dengan probabilitas bahaya banjir secara lebih objektif dan kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor pengkondisi terhadap kejadian banjir serta memetakan klasifikasi probabilitas bahaya banjir di Kota Bandung menggunakan pendekatan statistik berbasis model Binary Logistic Regression (BLR) dalam lingkungan Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan utama yang meliputi pengumpulan dan pra-pemrosesan data, normalisasi variabel, pemodelan statistik, serta validasi model. Variabel dependen berupa inventarisasi kejadian banjir historis yang diperoleh dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan portal berita pada tahun 2020 dan 2024. Variabel independen terdiri dari tujuh faktor pengkondisi, yaitu Topographic Wetness Index (TWI), elevasi, kemiringan lereng, curah hujan, NDVI, jarak dari sungai, dan jarak dari jalan. Seluruh variabel dianalisis dalam format raster dan dinormalisasi menggunakan metode min–max untuk menyamakan skala data. Model BLR kemudian digunakan untuk mengestimasi hubungan antara faktor-faktor tersebut dengan probabilitas kejadian banjir pada setiap piksel wilayah studi. Sebelum pemodelan dilakukan uji multikolinearitas untuk memastikan independensi variabel. Hasil model selanjutnya divalidasi menggunakan Receiver Operating Characteristic (ROC) dan Area Under the Curve (AUC) serta matriks akurasi untuk menilai kemampuan prediktif model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor topografi dan hidrologi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap distribusi bahaya banjir di Kota Bandung. Variabel seperti TWI, elevasi rendah, kemiringan lereng landai, serta kedekatan dengan sungai menunjukkan kontribusi yang kuat terhadap peningkatan probabilitas kejadian banjir. Sementara itu, faktor lingkungan seperti NDVI dan jarak dari jalan juga berperan dalam memodifikasi pola limpasan permukaan akibat perubahan penggunaan lahan perkotaan. Model BLR berhasil menghasilkan peta probabilitas bahaya banjir yang menunjukkan variasi tingkat kerentanan secara spasial di seluruh wilayah Kota Bandung. Hasil validasi model melalui analisis ROC menunjukkan bahwa model memiliki kemampuan diskriminatif yang baik hingga sangat baik dalam memprediksi lokasi kejadian banjir yang dibuktikan dengan selisih nilai AUC pada model tahun 2020 dan 2024 sebesar 0.068 dan selisih akurasi sebesar 0.057, sehingga hasil selisih tersebut dapat dianggap memiliki kinerja prediktif yang andal untuk analisis bahaya banjir serta mampu memprediksi bahaya banjir. Berdasarkan hasil analisis, penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan BLR berbasis SIG mampu memberikan pemetaan bahaya banjir yang lebih objektif dan berbasis probabilitas dibandingkan pendekatan skoring atau overlay konvensional. Model yang dihasilkan tidak hanya mengidentifikasi lokasi rawan banjir, tetapi juga memberikan informasi mengenai tingkat kemungkinan terjadinya banjir pada setiap unit spasial. Peta probabilitas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai dasar ilmiah dalam perencanaan tata ruang, mitigasi bencana, serta pengambilan keputusan kebijakan pengelolaan lingkungan di Kota Bandung. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi metodologis dalam penerapan model statistik multivariat untuk analisis bahaya banjir di lingkungan perkotaan.

2026
👤 Penulis: Riki Purnama Putra
🏷️ Banjir 🏷️ Analisis Spasial 🏷️ Model Binary Logistic Regression

KAJIAN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI VETERAN KOTA BANJARMASIN

Banjir pada sistem sungai pasang surut perkotaan dikendalikan oleh interaksi kompleks antara debit aliran dari hulu, pengaruh pasang surut di hilir, serta kontribusi limpasan lateral dari sistem drainase perkotaan. Kota Banjarmasin yang berada dalam sistem Sungai Martapura–Barito mengalami banjir ekstrem pada Januari 2021 dengan kedalaman genangan mencapai 1,2 m. Kawasan Sungai Veteran, sebagai kanal perkotaan yang terhubung secara hidraulik dengan Sungai Martapura, menjadi salah satu wilayah terdampak signifikan. Penelitian ini menganalisis karakteristik banjir Sungai Veteran melalui integrasi analisis hidrologi dan pemodelan hidraulik aliran tidak tunak. Analisis hidrologi menggunakan data curah hujan satelit Global Precipitation Measurement (GPM) yang telah dikoreksi bias dan divalidasi terhadap data BMKG Syamsuddin Noor. Transformasi hujan–aliran dilakukan menggunakan beberapa metode Hidrograf Satuan Sintetik (HSS), dan berdasarkan hasil kalibrasi terhadap karakteristik DAS, metode HSS Nakayasu dipilih sebagai metode yang paling representatif. Debit rencana yang diperoleh adalah Q25 sebesar 1219,433 m³/s pada Sungai Martapura, Q25 sebesar 3570,35 m³/s pada Sungai Barito, serta Q10 sebesar 22,06 m³/s sebagai total debit puncak lateral inflow Sungai Veteran. Analisis pasang surut menggunakan program PasutUGM dengan metode Least Square pada muara Sungai Barito dengan menggunakan data dari Pusat Hidro-Oseanografi TNI AL Tahun 2025 menghasilkan elevasi +1,421 m (HHWL), +0,000 m (MSL), dan -1,554 m (LLWL). Evaluasi kinerja sistem dilakukan melalui sembilan skenario pemodelan yang mengombinasikan tiga konfigurasi geometri, yaitu: (1) kondisi eksisting Sungai Veteran, (2) desain peningkatan kapasitas Sungai Veteran, dan (3) alternatif berupa penambahan tanggul sepanjang 6,8 km pada Sungai Martapura dalam wilayah WPG Veteran serta normalisasi subdrain Pengambangan, Banua Anyar, dan Aes Nasution; serta tiga kondisi pembebanan hidrologi–pasang surut, yaitu debit puncak Q25 Sungai Martapura yang bertepatan dengan kondisi HHWL, MSL, dan LLWL Sungai Barito. Pada kondisi eksisting dengan skenario kritis Q25–HHWL, luas genangan mencapai 312,228 ha. Penerapan desain peningkatan kapasitas Sungai Veteran mampu mengakomodasi aliran lateral Q10 secara penuh dari lima Sub DTA (Ahmad Yani 1, Ahmad Yani 2, Keramat, Kuripan, dan Sungai Gardu) dan menurunkan luas genangan menjadi 251,943 ha pada kondisi HHWL (reduksi 19,308%), 85,144 ha pada kondisi MSL (reduksi 44,084%), dan 30,962 ha pada kondisi LLWL (reduksi 74,015%). Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas Sungai Veteran efektif terhadap limpasan lokal, namun masih terbatas dalam mereduksi pengaruh debit regional dan backwater pasang surut. Alternatif pembangunan tanggul dan normalisasi subdrain menunjukkan peningkatan kinerja yang signifikan, dengan luas genangan berkurang menjadi 44,923 ha pada kondisi HHWL (reduksi 85,612%), 4,788 ha pada kondisi MSL (reduksi 96,856%), dan 0,116 ha pada kondisi LLWL (reduksi 99,903%). Genangan residual yang masih terjadi pada Sub DTA Sungai Gardu pada kondisi HHWL Alternatif mengindikasikan bahwa kontribusi aliran dari wilayah hulu di luar batas perencanaan tetap berpengaruh, sehingga efektivitas sistem pengendalian bersifat lokal sesuai lingkup studi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas pengendalian banjir di Sungai Veteran sangat dipengaruhi oleh kontrol debit regional Sungai Martapura dan dinamika pasang surut Sungai Barito, sehingga intervensi peningkatan kapasitas lokal saja tidak memadai tanpa pengendalian hidraulik pada sistem utama. Pendekatan pemodelan hidrodinamika terintegrasi berbasis skenario dalam penelitian ini memberikan dasar kuantitatif untuk perencanaan pengendalian banjir yang adaptif pada sistem sungai pasang surut perkotaan.

2026
👤 Penulis: Ardy Satriya
🏷️ Banjir 🏷️ Analisis Hidrologi Dan Pasang Surut 🏷️ Pemodelan Hidraulik

KAJIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI CISANGGARUNG HULU DI KABUPATEN KUNINGAN

Curah hujan yang tinggi, penurunan kapasitas sungai, kondisi topografi, serta perubahan tata guna lahan merupakan faktor utama penyebab banjir. Banjir yang terjadi pada periode 2019–2024 di Sungai Cisanggarung Hulu, Kabupaten Kuningan, telah mengakibatkan gangguan aktivitas masyarakat serta berdampak pada aspek sosial, ekonomi, dan pembangunan wilayah. Pengukuran debit observasi dilakukan untuk menentukan nilai awal koefisien kekasaran Manning sebagai masukan dalam proses kalibrasi debit banjir, dengan menggunakan debit bankfull Sungai Cisanggarung pada kala ulang 2 tahun (Q?). Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat ancaman banjir pada seluruh dusun di Desa Andamui pada kondisi eksisting berada pada kelas sedang. Tingkat kerentanan yang ditinjau dari aspek sosial, ekonomi, fisik, dan lingkungan juga berada pada klasifikasi sedang, demikian pula dengan tingkat kapasitas masyarakat. Berdasarkan kombinasi parameter tersebut, tingkat risiko banjir di Desa Andamui termasuk dalam kategori risiko sedang. Sebagai upaya pengendalian banjir, dilakukan penanganan struktural berupa pengerukan dasar sungai dan pembangunan tanggul di Sungai Cisanggarung untuk meningkatkan kapasitas alur sungai. Penanganan ini mampu mereduksi banjir sebesar 43,39%, dengan penurunan luas genangan dari 0,51 km² menjadi 0,293 km². Namun demikian, kelas risiko banjir masih berada pada kategori sedang. Penanganan lanjutan dilakukan dengan pembangunan kolam retensi di Sungai Cijurey dengan kapasitas tampung sebesar 76.000 m³, yang mampu mereduksi banjir hingga 59,8%. Untuk memperoleh hasil pengendalian yang lebih optimal, dilakukan tambahan pengerukan sedimen di Sungai Cijurey. Kombinasi penanganan tersebut menghasilkan kondisi tanpa genangan banjir di Desa Andamui, sehingga kelas risiko banjir menurun menjadi kategori rendah.

2026
👤 Penulis: Tri Wahyudin Ahmad
🏷️ Banjir 🏷️ Analisis Risiko Banjir 🏷️ Pengendalian Banjir

KAJIAN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI SADIA DI KOTA BIMA, NUSA TENGGARA BARAT

Kota Bima merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki tingkat kerawanan banjir relatif tinggi dan secara konsisten mengalami kejadian banjir hampir setiap tahun. Salah satu peristiwa banjir terbesar terjadi pada tahun 2016 dan dikategorikan sebagai bencana hidrometeorologi yang signifikan karena menimbulkan dampak luas, antara lain kerusakan infrastruktur, genangan pada kawasan permukiman, serta gangguan terhadap aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sistem pengendalian banjir yang ada belum sepenuhnya mampu mereduksi risiko banjir secara optimal. Salah satu faktor utama penyebab terjadinya banjir di wilayah ini adalah keterbatasan kapasitas Sungai Sadia dalam menampung debit aliran yang berasal dari hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Sadia, sehingga limpasan air meluap dan menggenangi wilayah sekitarnya, terutama pada saat terjadi hujan dengan intensitas dan durasi tinggi. Sebagai upaya penanggulangan banjir, Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara I (BBWS NT I) melaksanakan penanganan struktural berupa normalisasi Sungai Sadia sepanjang ±4,57 km serta pembangunan revetment pada beberapa segmen sungai yang dinilai rawan terhadap erosi dan limpasan. Namun demikian, efektivitas dari upaya penanganan tersebut dalam mengurangi potensi banjir dan dampaknya terhadap perubahan morfologi dasar sungai masih perlu dievaluasi secara komprehensif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menilai kinerja penanganan struktural yang telah dilakukan dalam mereduksi luas dan kedalaman genangan banjir, serta menganalisis pengaruhnya terhadap proses transpor sedimen dan perubahan morfologi dasar Sungai Sadia. Kajian dilakukan pada segmen Sungai Sadia sepanjang 4,5 km. Analisis hidrologi diawali dengan kajian karakteristik daerah aliran sungai (DAS) untuk menentukan debit masukan menggunakan perangkat lunak HEC-HMS. Data curah hujan yang digunakan bersumber dari satelit Global Precipitation Measurement (GPM) selama periode 24 tahun (2001–2024), yang selanjutnya dikalibrasi dan diuji korelasinya terhadap data curah hujan dari pos pencatatan hujan (PCH) guna meningkatkan keandalan hasil analisis. Penentuan debit banjir rencana dilakukan untuk kala ulang 25 tahun (Q25) melalui pemodelan HEC-HMS, yang dikalibrasi terhadap debit bankfull sungai sehingga metode Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) Nakayasu dipilih sebagai metode yang paling merepresentasikan kondisi hidrologi Sungai Sadia. Analisis hidraulika dilakukan dengan memanfaatkan perangkat lunak HEC-RAS satu dimensi (1D) untuk memperoleh profil muka air sepanjang alur sungai serta HEC-RAS dua dimensi (2D) untuk memetakan sebaran genangan banjir secara spasial. Pemodelan hidraulika disimulasikan dalam tiga skenario, yaitu kondisi eksisting tanpa penanganan, kondisi pasca-penanganan berupa normalisasi sungai dan pembangunan revetment, serta skenario alternatif dengan penambahan struktur pengendali berupa tanggul dan parapet. Selain itu, dilakukan analisis transpor sedimen untuk mengevaluasi perubahan pola sedimentasi dan erosi dasar sungai sebagai dampak dari normalisasi serta alternatif penanganan tambahan berupa pembangunan check dam. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting, Sungai Sadia belum mampu menampung debit banjir rencana Q25 sebesar 167 m³/det. Kondisi ini ditandai dengan terjadinya limpasan di beberapa segmen tinjauan dengan kedalaman genangan berkisar antara 0,1 hingga 4,0 m dan luas genangan mencapai 89,87 ha. Penanganan berupa normalisasi sungai mampu mengurangi luas genangan banjir, namun tingkat efektivitasnya masih terbatas dengan persentase reduksi sebesar 40,74%. Sementara itu, skenario alternatif dengan penambahan tanggul dan parapet menunjukkan kinerja yang jauh lebih efektif, dengan kemampuan mereduksi luas genangan hingga 96,27%. Hasil analisis transpor sedimen menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting terjadi kecenderungan agradasi, dengan volume sedimen terdeposisi sebesar 3.283,06 m³/tahun dan volume erosi dasar sungai sebesar 2.782,89 m³/tahun. Setelah dilakukan normalisasi sungai, laju sedimentasi meningkat menjadi 3.345,97 m³/tahun, atau mengalami kenaikan sebesar 1,91%, sementara volume erosi dasar sungai menurun menjadi 2.491,84 m³/tahun, atau berkurang sebesar 10,45%. Selanjutnya, penerapan skenario alternatif berupa penambahan bangunan check dam mampu menurunkan laju sedimentasi menjadi 3.285,64 m³/tahun dibandingkan kondisi pascanormalisasi, serta mengurangi volume erosi dasar sungai menjadi 2.454,13 m³/tahun. Penurunan laju sedimentasi yang relatif kecil tersebut diduga dipengaruhi oleh lokasi check dam yang berada sekitar 1,6 km dari bagian hulu sungai, sehingga efektivitasnya dalam menahan suplai sedimen dari daerah hulu belum optimal. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa penanganan struktural di Sungai Sadia efektif dalam menurunkan risiko banjir, terutama melalui penerapan skenario alternatif tambahan. Namun demikian, permasalahan sedimentasi belum sepenuhnya teratasi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pengelolaan DAS yang terintegrasi melalui kombinasi penanganan struktural dan non-struktural, seperti konservasi tanah dan air, reboisasi, serta rehabilitasi vegetasi di wilayah hulu. Sinergi antarinstansi di tingkat pusat dan daerah menjadi faktor penting dalam upaya pengendalian banjir dan pengelolaan sedimentasi secara berkelanjutan

2025
👤 Penulis: I Putu Hartawan
🏷️ Banjir 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Hidrologi

ESTIMASI NILAI KERUGIAN SEKTOR PERTANIAN AKIBAT BANJIR PADA SKENARIO KEGAGALAN BENDUNGAN SERMO DI KABUPATEN KULON PROGO

Kegagalan bendungan berpotensi menimbulkan banjir besar yang berdampak jauh lebih destruktif terhadap wilayah hilir dibanding kejadian banjir luapan maupun banjir genangan. Kerusakan yang ditimbulkan berimplikasi pada kerugian secara ekonomi, terutama terhadap sektor ekonomi produktif seperti pertanian yang berkaitan erat dengan penghidupan masyarakat. Kabupaten Kulon Progo dengan sektor pertanian sebagai salah satu motor penggerak perekonomian menghadapi ancaman potensi kegagalan Bendungan Sermo yang mengakibatkan banjir di wilayah hilir. Penelitian ini mengkaji potensi kerugian ekonomi sektor pertanian akibat banjir pada skenario kegagalan Bendungan Sermo yang disebabkan oleh overtopping melalui identifikasi wilayah genangan, penilaian risiko banjir, serta penaksiran potensi kerugian ekonomi dengan pendekatan valuasi ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi besaran kerugian sektor pertanian sekaligus memberikan gambaran implikasinya terhadap kondisi keuangan daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 9 dari 12 kecamatan berpotensi terdampak genangan banjir, dengan distribusi kedalaman genangan sebagian besar melebihi 1,5 meter sehingga dikategorikan ke dalam kelas bahaya tinggi. Analisis risiko juga mengindikasikan seluruh wilayah kecamatan termasuk dalam kategori risiko sedang, sebagai hasil interaksi antara bahaya dengan kerentanan sosial dan kerentanan ekonomi. Estimasi kerugian yang diperoleh memberikan kesimpulan bahwa sektor pertanian berpotensi mengalami kerugian yang signifikan, yang berdampak terhadap fiskal daerah. Hal ini diperburuk oleh fakta bahwa sebagian besar masyarakat dengan aset produktif kegiatan pertanian dan perikanan belum mengakses asuransi bencana sebagai instrumen proteksi risiko. Hasil temuan studi menegaskan pentingnya penguatan instrumen fiskal adaptif melalui pengembangan strategi pembiayaan alternatif dan peningkatan literasi keuangan bagi masyarakat.

2025
👤 Penulis: Mutia Raudatul Jannah
🏷️ Banjir 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Pertanian 🏷️ Hidrologi

KAJIAN EFEKTIVITAS PEMBANGUNAN TANGGUL KALI BEKASI DAN KERUGIAN EKONOMI PADA BANJIR DI KECAMATAN BABELAN, KABUPATEN BEKASI

Kecamatan Babelan merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Bekasi yang sedang berkembang dalam sektor industri dan properti. Namun, terdapat berbagai macam permasalahan yang salah satunya adalah banjir yang diakibatkan oleh meluapnya Kali Bekasi. Tinggi banjir yang terjadi berkisar antara 20-100 cm. Banjir tersebut sering kali menghambat aktivitas masyarakat setempat dan dapat menyebabkan kerugian fisik dan ekonomi. Salah satu cara yang dapat mengatasi permasalahan tersebut adalah pembangunan tanggul pada Kali Bekasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas pembangunan tanggul dalam menampung debit banjir yang terjadi. Metode penelitian yang digunakan meliputi analisis spasial, analisis hidrologi, dan analisis hidraulika untuk menilai kapasitas tanggul dalam menahan debit banjir. Selain itu dilakukan juga analisis ekonomi dengan Metode ECLAC untuk mengestimasi kerugian ekonomi yang timbul akibat bencana banjir. Data yang digunakan diperoleh dari instansi terkait, observasi lapangan, serta wawancara dengan masyarakat terdampak. Hasil analisis hidrologi menunjukkan bahwa debit banjir puncak pada bulan Maret 2025 sebesar 261 m³/s. Sementara itu, hasil perhitungan debit periode ulang berada pada rentang 174 m3/s untuk Q1.1 dan terus meningkat hingga 657 m³/detik untuk Q50. Di Kecamatan Babelan, banjir yang terjadi didominasi pada wilayah pertanian dengan luas banjir pada bulan Maret 2025 adalah 970 ha. Sedangkan luasan banjir yang terjadi akibat debit banjir Q1.1 adalah 513 ha dan terus meningkat hingga 3.013 ha akibat debit banjir Q50. Estimasi kerugian ekonomi yang timbul akibat banjir pada bulan Maret 2025 adalah sebesar 224 miliar rupiah. Sedangkan kerugian akibat debit banjir Q1.1 adalah 110 miliar rupiah dan terus meningkat hingga 620 miliar rupiah akibat debit banjir Q50. Desain normalisasi dan pembangunan tanggul Kali Bekasi yang telah dibuat efektif 100% menampung debit banjir bulan Maret 2025 serta mampu menampung debit banjir hingga 700 m³/s yang merupakan periode ulang 70 tahunan. Hasil analisis Benefit Cost Ratio (BCR) menunjukkan bahwa semakin awal proyek dilaksanakan, semakin cepat rata-rata nilai BCR > 1 tercapai, sehingga manfaat ekonomi dapat segera dirasakan dan kerugian akibat banjir dapat diminimalkan.

2025
👤 Penulis: Nur Laili Yasinta
🏷️ Banjir 🏷️ Analisis Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

KAJIAN RISIKO DAN UPAYA PENANGGULANGAN BANJIR KALI BEKASI DI KECAMATAN RAWALUMBU, KOTA BEKASI

Curah hujan yang tinggi, tingginya kepadatan penduduk atau kapasitas sungai, topografi, perubahan tata guna lahan, dan kurangnya daerah resapan air merupakan faktor penyebab banjir. Banjir yang terjadi dari Tahun 2019 sampai dengan Tahun 2023 di Kali Bekasi mengakibatkan masyarakat kesulitan beraktivitas, berdampak pada sosial-ekonomi dan pembangunan dari bencana ini cukup signifikan. Kota Bekasi, melalui kajian risiko dengan analisis hidrologi dan permodelan banjir menunjukkan bahwa tingkat ancaman banjir di Kelurahan Bojong Menteng, Kelurahan Bojong Rawalumbu, Kelurahan Sepanjang Jaya termasuk sedang. Untuk Kelurahan Pengasinan memiliki ancaman rendah. Tingkat kerentanan yang bervariasi baik sosial, ekonomi, fisik dan lingkungan di Kecamatan Rawalumbu memiliki klasifikasi sedang begitupun tingkat kapasitas. Risiko banjir yang diidentifikasi pada kategori risiko sedang. Sebagai solusi penanggulangan banjir, menggunakan metode Early Warning System diterapkan melalui kemajuan teknologi yang bertujuan untuk mengurangi risiko akibat banjir luapan Kali Bekasi .Pendekatan ini dilakukan sebagai upaya non struktural bahwa pengelolaan berbasis kemajuan teknologi diharapkan dapat mengurangi risiko akibat banjir sekaligus menjadi solusi yang efektif dalam mencegah dampak negatif lingkungan di sepanjang Kali Bekasi.

2025
👤 Penulis: Aisah Aulia Salsabila
🏷️ Banjir 🏷️ Analisis Hidrologi 🏷️ Manajemen Risiko Bencana

ANALISIS RISIKO BANJIR AKIBAT KERUNTUHAN BENDUNGAN (DAM BREAK) PADA BENDUNGAN BUDONG-BUDONG KAB. MAMUJU TENGAH

Bendungan memiliki banyak manfaat bagi masyarakat yaitu sebagai penyimpan air, pencegah banjir, penyediaan air irigasi, objek wisata, penyediaan energi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan lainnya. Bendungan Budong-Budong merupakan bendungan urugan yang memiliki tampungan sebesar 79,83 juta m3 yang dibangun di Desa Salulekbo, Kabupaten Mamuju Tengah. Disamping banyaknya manfaat dari bendungan, terdapat potensi bahaya yang dapat membahayakan jiwa manusia dan merusak infrastruktur di bagian hilirnya. Salah satu potensi bahaya yang dapat diakibatkan adalah keruntuhan bendungan. Dengan mempertimbangkan potensi bahaya yang diakibatkan oleh keruntuhan bendungan, diperlukan pengkajian risiko bencana banjir akibat keruntuhan bendungan. Analisis keruntuhan bendungan dilakukan dengan menggunakan software HEC-RAS dengan skenario kondisi muka air waduk setinggi muka air normal. Kondisi dalam analisis keruntuhan bendungan Budong-Budong ditinjau dalam kondisi akibat piping bawah pada elevasi ± 49 meter. Kondisi ini diasumsikan merupakan kondisi awal sebagai acuan untuk melakukan tindak rencana mitigasi bencana dalam upaya meminimalkan kerugian baik materil maupun imateril. Dari hasil pemodelan dengan skenario piping bawah, didapatkan Qpeak dengan total 13.691,3 m3/s dengan luas area tergenang sebesar 102.771 Km2 dengan total volume yang ada di waduk sebesar 57 juta m3. Desa yang terdampak akibat banjir oleh keruntuhan bendungan sebesar 20 desa di 5 Kecamatan sepanjang sungai Budong-Budong. Tingkat ancaman banjir di 5 Kecamatan sepanjang sungai terbagi menjadi 3 kategori, yaitu rendah, sedang dan tinggi. Parameter banjir yang dianalisis meliputi kedalaman, kecepatan, dan kecepatan rambat gelombang banjir (celerity). Selain itu, penelitian ini juga mengkaji tingkat kerentanan sosial, ekonomi, fisik, dan lingkungan, serta kapasitas penanggulangan wilayah berdasarkan pedoman BNPB. Strategi mitigasi dilakukan melalui pendekatan SWOT dan peningkatan kapasitas masyarakat, yang menunjukkan efektivitas dalam menurunkan tingkat risiko secara spasial. Penelitian ini menjadi dasar penting dalam penyusunan dokumen rencana tindak darurat dan kebijakan pengurangan risiko bencana di sekitar wilayah bendungan.

2025
👤 Penulis: Muhammad Reysha S Kasim
🏷️ Bendungan 🏷️ Banjir 🏷️ Analisis Risiko

ESTIMASI FRAGILITY CURVE DAN KERUGIAN EKONOMI UNTUK KERUSAKAN BANGUNAN AKIBAT BANJIR

Banjir merupakan bencana dengan frekuensi tertinggi di Indonesia, mencakup 43,1% dari total kejadian bencana nasional pada 2022. Mitigasi yang selama ini dilakukan lebih berfokus pada perlindungan struktural, seperti pembangunan tanggul, yang bertujuan untuk mengurangi probabilitas bahaya banjir. Namun, pendekatan ini memiliki keterbatasan karena tidak mempertimbangkan aspek paparan, kerentanan, serta risiko kegagalan infrastruktur. Salah satu metode yang digunakan untuk menilai risiko kerusakan bangunan akibat banjir adalah fragility curve, yaitu pendekatan berbasis probabilistik yang menggambarkan hubungan antara intensitas banjir dan probabilitas kerusakan bangunan. Meskipun fragility curve telah banyak diterapkan secara global, penelitian terkait penerapannya dalam konteks banjir di Indonesia masih sangat terbatas akibat keterbatasan data empiris menyebabkan kesulitan dalam membangun fungsi yang terlokalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan fragility curve yang sesuai dengan karakteristik bangunan di Indonesia, dengan fokus pada studi kasus kejadian banjir akibat runtuhnya tanggul Sungai Cikapundung di Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung pada 11 Januari 2024. Dengan pendekatan probabilistik, penelitian ini menganalisis tingkat ketahanan bangunan terhadap banjir berdasarkan data empiris. Analisis peta bahaya menunjukkan bahwa Kampung Lamajang Peuntas memiliki tingkat ancaman banjir tertinggi. Kerusakan ringan (DS 1) paling dominan, menyebabkan akumulasi kerugian lebih tinggi dibandingkan kerusakan sedang (DS 2) atau berat (DS 3). Probabilitas kegagalan mencapai 50% pada kedalaman genangan >1,2 m untuk DS 1, >1,4 m untuk DS 2, dan >1,5 m untuk DS 3. Jika tanggul gagal, gaya hidrodinamis dan material bawaan mempercepat kerusakan, meningkatkan risiko runtuhnya bangunan, terutama pada genangan ?2 m. Mitigasi difokuskan pada pengurangan kerusakan ringan, yang memiliki dampak finansial jangka panjang paling signifikan. Pemeliharaan rutin menjadi strategi utama untuk mengurangi risiko kerusakan akumulatif. Penelitian ini mengisi kesenjangan dalam literatur mengenai fragility curve untuk banjir di Indonesia dan menjadi langkah awal dalam pengembangannya sesuai tipologi bangunan lokal. Hasilnya diharapkan menjadi dasar bagi penelitian lanjutan, analisis risiko kerusakan bangunan, serta strategi mitigasi yang lebih efektif untuk mengurangi dampak banjir di masa depan.

2025
👤 Penulis: Nadira Tsamara Dewi
🏷️ Banjir 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Risiko

KAJIAN PENINGKATAN BAHAYA BANJIR DI WILAYAH ANTARA KANAL BANJIR BARAT (KBB) DAN KANAL BANJIR TIMUR (KBT) DKI JAKARTA AKIBAT PENURUNAN MUKA TANAH TAHUN 2010 – 2023

Jakarta sering mengalami banjir yang disebabkan oleh curah hujan tinggi, limpasan dari hulu, dan air pasang laut. Penurunan muka tanah yang terus terjadi semakin memperburuk kondisi ini karena mengurangi efektivitas sistem drainase. Studi ini menganalisis pengaruh penurunan muka tanah dari tahun 2010 hingga 2023 terhadap tingkat bahaya banjir di wilayah antara Kanal Banjir Barat dan Kanal Banjir Timur. Selain itu, penelitian ini juga mengevaluasi efektivitas pembangunan infrastruktur pompa pada outlet kali utama sebagai upaya mitigasi dalam mengurangi genangan akibat penurunan muka tanah. Analisis dilakukan menggunakan simulasi model genangan banjir 2D dengan perangkat lunak Sobek 2.16. Setup pemodelan dalam Sobek tidak menginkorporasikan infrastruktur pompa yang berada pada polder-polder dan mengansumsikan elevasi level tanggul pada kali sama dengan level permukaan topografi. Terdapat empat skenario pemodelan yang dilakukan yang akan menjadi bahan pembahasan dalam studi ini, yaitu pemodelan dengan dua kondisi topografi tahun 2010 dan 2023, dengan dan tanpa pompa tambahan. Seluruh skenario pemodelan dibebankan dengan tinggi hujan yang sama yaitu sebesar 110,77 mm. Hasil penelitian menunjukkan luas genangan secara keseluruhan meningkat sebesar 29% dari tahun 2010 ke 2023, dengan kenaikan signifikan pada kategori genangan dalam (>150 cm), yang bertambah hingga 121%. Sementara itu, mitigasi berupa pembangunan pompa pada outlet kali utama tidak memberikan dampak signifikan. Pembangunan pompa berkapasitas besar pada outlet kali utama hanya memberikan pengurangan genangan yang sangat kecil. Jika pompa telah dibangun sejak 2010, pengurangan luas genangan hanya sekitar 1,7%, dan dampaknya semakin berkurang menjadi hanya 0,4% pada tahun 2023. Perlu dicatat bahwa penurunan muka tanah juga berkontribusi terhadap terjadinya banjir rob saat gelombang tinggi dan pasang, namun aspek ini tidak dipertimbangkan dalam studi ini.

2024
👤 Penulis: Peggy Elva Nirmala
🏷️ Banjir 🏷️ Analisis Simulasi Model Banjir 2D 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air

KAJIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI PEMALUAN DI KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA

Curah hujan yang tinggi, berkurangnya drainase atau kapasitas sungai, topografi, perubahan tata guna lahan, dan pengaruh pasang surut air laut merupakan faktor penyebab banjir. Banjir yang terjadi dari Tahun 2019 sampai dengan Tahun 2023 di Sungai Pemaluan Kabupaten Penajam Paser Utara mengakibatkan masyarakat kesulitan beraktivitas, berdampak pada sosial-ekonomi dan pembangunan dari bencana ini cukup signifikan. Kabupaten Penajam Paser Utara, melalui pengukuran debit observasi guna menentukan nilai awal koefisien kekasaran manning dan diperoleh rating curve. Analisis menunjukkan bahwa tingkat ancaman banjir di RT 1 dan 4 termasuk tinggi, RT 2, 3, dan 5 tergolong sedang, sedangkan RT 6 memiliki ancaman rendah. Tingkat kerentanan yang bervariasi baik sosial, ekonomi, fisik dan lingkungan di Kelurahan Pemaluan memiliki klasifikasi sedang begitupun tingkat kapasitas. Risiko banjir yang diidentifikasi pada kategori risiko sedang. Sebagai solusi pengendalian banjir, pendekatan berbasis alam (nature-based solution) diterapkan melalui restorasi hutan dan lahan basah, yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas retensi air dan mengurangi limpasan. Implementasi ini berdampak pada perubahan nilai CN Komposit serta perbaikan sempadan sungai. Hasilnya, luas genangan banjir menurun dari 5,24 km² menjadi 3,83 km², dengan pengurangan volume banjir sebesar 42,25%. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengelolaan berbasis ekosistem efektif dalam mengurangi dampak banjir sekaligus memperbaiki kondisi lingkungan di sepanjang Sungai Pemaluan.

2024
👤 Penulis: Bagus Handyastono
🏷️ Banjir 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko

PERANCANGAN KOLAM RETENSI CISIRUNG DALAM MENGATASI BANJIR DI KECAMATAN DAYEUHKOLOT KABUPATEN BANDUNG

Kabupaten Bandung merupakan salah satu daerah dengan jumlah penduduk terbanyak dan terpadat di Indonesia dengan beragam problematika. Banjir merupakan salah masalah terbesar yang sering terjadi pada bidang sumber daya air yang dapat dengan salah satu daerah yang sering mengalami banjir adalah Kecamatan Daeyuhkolot. Banjir tersebut menggenangi perkampungan yang berada di dekat beberapa sungai seperti Sungai Citarum dan Sungai Cipalasari sehingga diperlukan penyelesaian masalah banjir untuk mengurangi potensi dan dampak banjir di masa depan. Pada tugas akhir ini digunakan kolam retensi sebagai solusi penanganan banjir di Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung terutama di Jalan Cisirung. Perancangan kolam retensi dilakukan dengan menganalisis data curah hujan dan tanah di daerah lokasi, dengan tinjauan berupa Sungai Cipalasari. Setelah itu, dilakukan analisis hidrograf sintesis satuan untuk mengetahui debit banjir di Sungai Cipalasari dan dilakukan pemodelan banjir menggunakan aplikasi HEC-RAS. Dengan pemodelan 2D diperoleh penanganan banjir berupa kolam retensi dengan saluran box culvert dan pompa serta normalisasi Sungai Cipalasari berupa pendalaman sungai sehingga tidak didapatkan kembali genangan. Luas genangan tereduksi diperoleh bertahap yaitu 97,78% dan 100%. Dilakukan pula analisis stabilitas tanah berupa analisis lereng kolam retensi dan daya dukung fondasi rumah pompa untuk memastikan bahwa struktur bangunan air di sekitar kolam retensi kokoh. Perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan pemberian operasi dan pemeliharaan juga dilakukan agar dapat memastikan bahwa kolam retensi dapat berjalan dengan baik.

2024
👤 Penulis: Muhammad Zaky
🏷️ Banjir 🏷️ Kolam Retensi 🏷️ Analisis Hidrologi
Halaman 1 dari 2
💬