πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 11 dokumen

KARAKTERISASI PRODUKSI BIOGAS DARI GLYCERIN PITCH MELALUI EVALUASI PENGARUH INOCULUM-TO-SUBSTRATE RATIO TERHADAP PRODUKTIVITAS DAN STABILITAS PROSES

Pertumbuhan industri biodiesel global meningkatkan produksi glycerin pitch (GP), produk sampingan yang berpotensi mencemari lingkungan namun berpotensi sebagai substrat biogas melalui anaerobic digestion berkat tingginya kandungan gliserol. Penelitian ini bertujuan menginvestigasi potensi produksi biogas dari GP, dengan fokus pada pengaruh Inoculum-to-Substrate Ratio (ISR) terhadap produktivitas (mL/g VS) dan stabilitas proses. Penelitian berskala laboratorium ini menggunakan sistem batch tertutup pada suhu ruang, memanfaatkan kotoran sapi sebagai inokulum tanpa penambahan kosubstrat dan tanpa replikasi. Parameter utama yang dievaluasi meliputi produktivitas biogas substrat (mL/g VS), rasio C/N estimasi, dan pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas biogas sangat bergantung pada ISR. Hasil optimal dicapai pada ISR 16:1 dengan produktivitas 125,71 mL/g VS. Sebaliknya, proporsi inokulum rendah (ISR 1:4 hingga 4:1) terindikasi menyebabkan kegagalan sistem dan penurunan pH yang tajam. Kondisi ini mengindikasikan asidosis parah, yang dihipotesiskan terjadi akibat kelebihan beban karbon serta potensi toksisitas langsung dari pengotor bawaan GP, seperti Matter Organic Non-Glycerol (MONG) dan garam inorganik. Untuk memastikan stabilitas metabolisme, sistem terindikasi membutuhkan ISR operasional minimum 8:1 guna memberikan kapasitas penyangga yang memadai, mengencerkan potensi toksisitas, serta menjaga rentang ideal pH (6,6–7,6) dan mempertahankan rasio C/N estimasi pada nilai ideal (25–30). Kesimpulannya, meskipun GP layak menjadi substrat biogas, aplikasinya membutuhkan batasan operasional yang presisi dan pengendalian laju pembebanan organik untuk mencegah potensi inhibisi metanogenik.

2026
πŸ‘€ Penulis: Hylmi Farras Madjid
🏷️ Bioenergi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PEMANFAATAN LIMBAH TOMAT SEBAGAI PENYERAP ETILEN DALAM KEMASAN PANGAN UNTUK MENUNJANG EKONOMI SIRKULAR

Tanaman tomat adalah salah satu varietas tumbuhan yang buahnya memiliki tingkat produktivitas tinggi di Indonesia. Peningkatan angka produksi tomat dari tahun ke tahun sejalan dengan banyaknya limbah yang dihasilkan. Banyaknya limbah yang dihasilkan dan langsung dibuang tersebut dapat berpotensi menghasilkan penumpukan limbah makanan dan mampu mendatangkan berbagai dampak buruk. Padahal, limbah tanaman tomat mengandung lignoselulosa yang merupakan sumber karbon paling dasar di bumi. Salah satu cara untuk menindaklanjuti peningkatan limbah tanaman tomat pada adalah dengan mengolahnya menjadi biochar. Bagian dari limbah tanaman tomat yang berpotensi untuk diolah menjadi biochar adalah batangnya karena memiliki kandungan lignoselulosa yang tinggi. Biochar yang dihasilkan dapat dimaksimalkan manfaatnya dengan cara dimodifikasi ke dalam kemasan untuk memperpanjang umur simpan buah tomat yang cepat busuk. Hal ini terkait dengan fungsi biochar sebagai adsorben dalam menyerap etilen selaku hormon pengendali pematangan buah. Siklus ini dapat mendukung sirkular ekonomi. Proses pembuatan biochar terdiri dari persiapan bahan baku, karbonisasi, dan karaterisasi. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan pengaruh variasi temperature, ukuran bahan baku, dan perlakuan microwave terhadap performa biochar. Variasi temperature yakni pirolisis dengan temperature 350oC dan 700oC, variasi ukuran berupa 20-40 mesh dan 10-20 mesh, serta perlakuan tanpa microwave, microwave dengan daya 450 watt selama 10 menit, dan 20 menit. Adapun untuk menilai karakteristik serta kinerja karbon aktif dari setiap variasi dilakukan dengan uji kadar abu, SEM-EDS, BET, FTIR dan uji kadar penyerapan dengan ethylene gas detector. Didapatkan bahwa temperatur adalah aspek yang berpengaruh palng signifikan terhadap perolehan yield, karakteristik, dan performa biochar.

2025
πŸ‘€ Penulis: Aurelia Thedrica Keleopas
🏷️ Bioenergi 🏷️ Kemahan Makanan 🏷️ Sirkular Ekonomi

DELIGNIFIKASI BIOLOGIS UNTUK PENGEMBANGANKEMASAN PANGAN DARI LIMBAH AGROINDUSTRIDALAM RANGKA MENERAPKAN SIRKULAREKONOMI

Tanaman tomat adalah salah satu varietas tumbuhan yang buahnya memiliki tingkat produktivitas tinggi di Indonesia. Peningkatan angka produksi tomat dari tahun ke tahun sejalan dengan banyaknya limbah yang dihasilkan. Banyaknya limbah yang dihasilkan dan langsung dibuang tersebut dapat berpotensi menghasilkan penumpukan limbah makanan dan mampu mendatangkan berbagai dampak buruk. Padahal, limbah tanaman tomat mengandung lignoselulosa yang merupakan sumber karbon paling dasar di bumi. Salah satu cara untuk menindaklanjuti peningkatan limbah tanaman tomat pada adalah dengan mengolahnya menjadi biochar. Bagian dari limbah tanaman tomat yang berpotensi untuk diolah menjadi biochar adalah batangnya karena memiliki kandungan lignoselulosa yang tinggi. Biochar yang dihasilkan dapat dimaksimalkan manfaatnya dengan cara dimodifikasi ke dalam kemasan untuk memperpanjang umur simpan buah tomat yang cepat busuk. Hal ini terkait dengan fungsi biochar sebagai adsorben dalam menyerap etilen selaku hormon pengendali pematangan buah. Siklus ini dapat mendukung sirkular ekonomi. Proses pembuatan biochar terdiri dari persiapan bahan baku, karbonisasi, dan karaterisasi. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan pengaruh variasi temperature, ukuran bahan baku, dan perlakuan microwave terhadap performa biochar. Variasi temperature yakni pirolisis dengan temperature 350oC dan 700oC, variasi ukuran berupa 20-40 mesh dan 10-20 mesh, serta perlakuan tanpa microwave, microwave dengan daya 450 watt selama 10 menit, dan 20 menit. Adapun untuk menilai karakteristik serta kinerja karbon aktif dari setiap variasi dilakukan dengan uji kadar abu, SEM-EDS, BET, FTIR dan uji kadar penyerapan dengan ethylene gas detector. Didapatkan bahwa temperatur adalah aspek yang berpengaruh palng signifikan terhadap perolehan yield, karakteristik, dan performa biochar.

2025
πŸ‘€ Penulis: Richika Tiera Vega Rahmani
🏷️ Bioenergi 🏷️ Kemasan Pangan 🏷️ Sirkular Ekonomi

TRANSFORMASI PERUSAHAAN AGRIBISNIS MENJADI PERUSAHAAN BIOENERGI DENGAN MENGGUNAKAN KERANGKAN KAPABILITAS DINAMIS DAN TRANSFORMASI BISNIS

Transformasi bisnis menuju keberlanjutan merupakan langkah strategis PT Agri Multi Lestari (AML), dari perusahaan agribisnis menjadi perusahaan bioenergi. Perubahan orientasi bisnis AML ini merupakan respon dari arahan strategis perusahaan induk dalam mencapai target Net Zero Emission (NZE) melalui program co-firing biomassa di PLTU-nya. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi kesiapan, kapabilitas internal, dan kesenjangan AML dalam mencapai tujuan transformasi bisnisnya. Pendekatan multi-perspektif digunakan untuk menjawab permasalahan ini, dengan mengintegrasikan metodologi manajemen transformasi bisnis (BTM2), kapabilitas dinamis, tipologi transformasi bisnis yang berkelanjutan, dan kerangka kerja penilaian dampak. Studi ini menggunakan pendekatan metode campuran yang kompleks dengan desain sekuensial multi-fase, di mana data diperoleh melalui wawancara, survei persepsi internal, studi dokumen, dan analisis dampak lingkungan dan keuangan. Hasil studi menunjukkan bahwa posisi AML saat ini dalam bisnis berkelanjutan berada pada tahap menuju kepentingan jangka panjang, dengan kekuatan utama pada komitmen kepemimpinan dan tujuan nilai-nilai perusahaan. Namun demikian, masih terdapat kelemahan yang signifikan dalam tata kelola, seperti indikator dan pelaporan ESG, pelibatan pemangku kepentingan, dan proses SDM khususnya terkait kegiatan training di bidang keberlanjutan. Evaluasi kapabilitas dinamis AML menunjukkan persepsi yang kuat terhadap penerapannya di ketiga dimensi kapabilitas dinamis. Analisis lebih lanjut terhadap arah transformasi menunjukkan adanya fondasi yang kuat, namun masih diperlukan perbaikan pada aspek tata kelola, terutama terkait prosedur kerja dan strategi inovasi. Sementara itu, kesiapan transformasi menunjukkan perbedaan yang mencolok antara kesiapan organisasi yang dinilai tinggi (Level 4 - Kesiapan Penuh) dengan kesiapan proses yang masih berada pada level moderat (Level 3 - Kesiapan Sedang). Perbedaan ini terutama terkait dengan persepsi yang belum pasti mengenai pelaksanaan proses standardisasi. Dari sisi manajemen risiko, terdapat 26 kejadian risiko utama yang teridentifikasi dalam proses transformasi bisnis AML, namun hanya lima kejadian risiko yang masuk dalam profil risiko AML saat ini. Hasil analisis terhadap sistem eksekusi transformasi bisnis AML menunjukkan bahwa sistem pemberdayaan belum sepenuhnya memadai. Masih banyak proses inti dan proses manajemen yang belum tersedia dan terintegrasi dari sisi proses bisnis. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa tata kelola, terutama ketersediaan dan implementasi prosedur kerja, merupakan salah satu kesenjangan yang paling signifikan dalam proses transformasi. Selain itu, 12 kompetensi utama yang harus dikembangkan dapat diidentifikasi dari sisi pengembangan sumber daya manusia. Namun, hasil analisis menunjukkan adanya kesenjangan kompetensi di semua level jabatan, terutama dalam hal pemahaman bioenergi dan keberlanjutan. Selain itu, studi ini juga melihat dampak finansial dan lingkungan dari transformasi tersebut. Berdasarkan analisis Discounted Cash Flow, proyek Biomassa yang dijalankan oleh AML layak secara finansial dengan nilai NPV sebesar US$40,2 juta, IRR sebesar 41%, dan indeks profitabilitas sebesar 1,3. Proyek ini juga layak dalam skenario optimis namun kurang menarik dalam skenario pesimis, terutama pada kondisi dimana harga jual dan volume penjualan turun 5% dan biaya operasional naik 10%. Transformasi bisnis AML juga secara signifikan mengurangi emisi karbon, dan secara operasional dapat menjadi perusahaan yang netral karbon, terutama dengan menanam perkebunan energi. Tujuh inisiatif strategis ditawarkan sebagai solusi dari hasil analisis transformasi bisnis AML. Inisiatif-inisiatif ini muncul dengan menggunakan pemetaan inisiatif strategis dengan melihat kesamaan tematik dalam beberapa analisis yang dilakukan. Beberapa contoh inisiatif strategis antara lain perbaikan tata kelola, peningkatan budaya inovasi, dan pemantauan kepatuhan. Skala prioritas kegiatan dalam setiap inisiatif disusun dengan menggunakan pendekatan matriks dampak dan upaya, di mana tujuh kegiatan merupakan quick wins, satu fill-in project, dua thankless task, dan sembilan kegiatan dikategorikan sebagai proyek besar. Studi ini menyimpulkan bahwa meskipun AML memiliki landasan strategis dan komitmen organisasi yang kuat, namun masih terdapat kesenjangan yang perlu diperbaiki dan diperkuat, terutama dalam hal tata kelola, inovasi, pengembangan bisnis, dan kompetensi, untuk memastikan transformasi menuju bioenergi dapat berjalan secara efektif, terukur, dan berkelanjutan.

2025
πŸ‘€ Penulis: Nandasetya Kharisma Kurniawan
🏷️ Transformasi Bisnis 🏷️ Bioenergi 🏷️ Kecerdasan Buatan

PIROLISIS BONGGOL DAN BATANG SINGKONG DAN ANALISIS PRODUKNYA

Indonesia sebagai negara agrikultur dengan nilai produktivitas singkong yang tinggi menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penghasil singkong terbesar di dunia. Aktivitas produksi pertanian yang melimpah ini menghasilkan limbah pertanian seperti bonggol dan batang singkong yang biasanya dijadikan sebagai pakan hewan ternak saja oleh masyarakat. Padahal, potensi limbah tersebut dapat menjadi solusi alternatif sumber energi maupun produk kemurgi terbarukan lainnya. Penelitian ini ditujukan untuk memanfaatkan limbah biomassa tersebut menjadi produk kemurgi bernilai jual tinggi dengan metode pirolisis, yaitu konversi termal biomassa menjadi bahan bakar cair dan/atau produk kemurgi bernilai tambah lainnya. Sedikitnya penelitian pirolisis bonggol dan batang singkong dengan penggunaan katalis zeolit natural, variasi temperatur, dan ukuran umpan menjadikan studi ini unik dalam optimalisasi pemanfaatan limbah tersebut. Studi ini mengeksplorasi optimalisasi potensi limbah bonggol dan batang singkong menjadi produk kemurgi bernilai jual tinggi dengan metode pirolisis bervariabel operasi variatif dari variasi temperatur, ukuran umpan, dan penambahan katalis. Penelitian eksperimental ini menghasilkan kesimpulan berupa pengaruh dari meningkatnya temperatur reaktor adalah dapat meningkatkan perolehan produk bio-oil dan gas, tetapi dapat menurunkan perolehan biochar, didapat juga pengaruh variasi ukuran umpan biomassa menghasilkan kecenderungan berupa semakin besar ukuran partikel maka semakin besar juga perolehan biochar, penambahan katalis zeolit natural dalam penelitian ini memiliki pengaruh dari segi peningkatan kualitas bio-oil yang dilihat dari peningkatan nilai densitasnya pada bonggol singkong yang bernilai lebih tinggi daripada densitas bio-oil dari batang singkong tanpa katalis. Berdasarkan jumlah perolehan dari biochar dan bio-oil yang signifikan, pengembangan lanjutan dengan menurunkan kadar air bio-oil dan dengan diperolehnya kadar karbon tetap yang tinggi pada biochar berpotensi dikembangkan menjadi pembenah tanah maupun bahan bakar dengan meningkatan nilai kalor atasnya (HHV), temuan-temuan dalam penelitian ini dapat berpotensi untuk riset pengembangan dan aplikasi produk-produk dari pirolisis ini ke depannya.

2025
πŸ‘€ Penulis: Sabata Yepetri Sayyid Ayyaami
🏷️ Bioenergi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PIROLISIS BONGKOL DANBATANG SINGKONG DANANALISA PRODUKNYA

Indonesia sebagai negara agrikultur dengan nilai produktivitas singkong yang tinggi menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penghasil singkong terbesar di dunia. Aktivitas produksi pertanian yang melimpah ini menghasilkan limbah pertanian seperti bonggol dan batang singkong yang biasanya dijadikan sebagai pakan hewan ternak saja oleh masyarakat. Padahal, potensi limbah tersebut dapat menjadi solusi alternatif sumber energi maupun produk kemurgi terbarukan lainnya. Penelitian ini ditujukan untuk memanfaatkan limbah biomassa tersebut menjadi produk kemurgi bernilai jual tinggi dengan metode pirolisis, yaitu konversi termal biomassa menjadi bahan bakar cair dan/atau produk kemurgi bernilai tambah lainnya. Sedikitnya penelitian pirolisis bonggol dan batang singkong dengan penggunaan katalis zeolit natural, variasi temperatur, dan ukuran umpan menjadikan studi ini unik dalam optimalisasi pemanfaatan limbah tersebut. Studi ini mengeksplorasi optimalisasi potensi limbah bonggol dan batang singkong menjadi produk kemurgi bernilai jual tinggi dengan metode pirolisis bervariabel operasi variatif dari variasi temperatur, ukuran umpan, dan penambahan katalis. Penelitian eksperimental ini menghasilkan kesimpulan berupa pengaruh dari meningkatnya temperatur reaktor adalah dapat meningkatkan perolehan produk bio-oil dan gas, tetapi dapat menurunkan perolehan biochar, didapat juga pengaruh variasi ukuran umpan biomassa menghasilkan kecenderungan berupa semakin besar ukuran partikel maka semakin besar juga perolehan biochar, penambahan katalis zeolit natural dalam penelitian ini memiliki pengaruh dari segi peningkatan kualitas bio-oil yang dilihat dari peningkatan nilai densitasnya pada bonggol singkong yang bernilai lebih tinggi daripada densitas bio-oil dari batang singkong tanpa katalis. Berdasarkan jumlah perolehan dari biochar dan bio-oil yang signifikan, pengembangan lanjutan dengan menurunkan kadar air bio-oil dan dengan diperolehnya kadar karbon tetap yang tinggi pada biochar berpotensi dikembangkan menjadi pembenah tanah maupun bahan bakar dengan meningkatan nilai kalor atasnya (HHV), temuan-temuan dalam penelitian ini dapat berpotensi untuk riset pengembangan dan aplikasi produk-produk dari pirolisis ini ke depannya.

2025
πŸ‘€ Penulis: Gusti Ramala
🏷️ Bioenergi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PELEPASAN BIOHIDROGEN YANG TERBENTUK PADA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR ARTIFISIAL KONSENTRASI TINGGI SECARA ANAEROBIK DENGAN FLUSHING GAS NITROGEN

Pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi terbarukan saat ini menjadi fokus utama dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan mengatasi masalah lingkungan. Dengan kandungan organiknya yang tinggi, palm oil mill effluent (POME) memiliki potensi yang besar sebagai bahan baku untuk produksi energi terbarukan, sekaligus dapat menggantikan posisi tanaman pangan sebagai bahan baku bioenergi. Produksi energi terbarukan dari POME dapat dilakukan dengan biokonversi anaerobik melalui fermentasi. Selama fase asidogenesis, produk bioenergi berupa bioetanol, biohidrogen, dan asam lemak volatil dapat dihasilkan. Beberapa penelitian sebelumnya telah mengkaji konversi limbah POME menjadi hidrogen, namun konsentrasi biohidrogen yang dihasilkan masih cenderung rendah. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh sebagian besar hidrogen yang terlarut dalam fase cair, sehingga tidak dapat terukur secara langsung. Penambahan flushing nitrogen ke dalam reaktor dimaksudkan untuk mendorong pelepasan biohidrogen terlarut ke fase gas. Efisiensi pelepasan gas hidrogen diukur melalui koefisien perpindahan massa (kLa dan kL) dengan memvariasikan kecepatan superfisial gas. Analisis karakteristik hidrodinamika gelembung gas berupa kecepatan gelembung, bentuk dan ukuran gelembung, rezim aliran, dan gas hold up yang terbentuk dilakukan untuk memahami proses transfer gas yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan laju alir volumetrik dan kecepatan superfisial gas yang diinjeksikan berpengaruh positif terhadap proses transfer gas. Koefisien transfer massa optimum diperoleh pada kecepatan superfisial 0,0079 m/s dengan koefisien transfer massa (kLa) dan koefisien transfer gas (kL) sebesar 0,00032 detik-1 dan 2,69Γ—10-5 m/detik. Pengaplikasian flushing gas nitrogen dengan kecepata superfisial gas sebesar 0,0079 m/s dalam pengolahan limbah artifisial organik tinggi dapat meningkatkan konsentrasi gas hidrogen, dengan peningkatan konsentrasi maksimum sebesar 41,7% dan konsentrasi biohidrogen maksimum yang dihasilkan sebesar 17,3% dicapai pada waktu reaksi 72 jam

2025
πŸ‘€ Penulis: Raihannisa Rizqi Meutia
🏷️ Bioenergi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

POTENSI SERAT TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT (TKKS) SEBAGAI SUMBER KARBON PADA PRODUKSI LIPID OLEH RHODOTORULA TORULOIDES

Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) merupakan limbah padat terbesar yang dihasilkan dari pengolahan industri kelapa sawit. Dalam pengolahan satu ton tandan kelapa sawit segar, dihasilkan sekitar 230 kg TKKS. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa limbah TKKS dapat dimanfaatkan dalam proses produksi bioetanol, pupuk, biofuel, asam organik, dan lipid mikroba. TKKS mengandung komponen organik berupa selulosa (38-51%), hemiselulosa (23-28%), dan lignin (15-21%) (b/b) yang dapat digunakan sebagai substrat (sumber karbon) bagi mikroba. Pada penelitian ini, TKKS digunakan sebagai sumber karbon dalam produksi lipid oleh ragi Rhodotorula toruloides. R. toruloides merupakan mikroba oleaginous yang telah terbukti dapat menghasilkan lipid dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber karbon dari limbah padat industri yang berupa biomassa lignoselulosa. Akan tetapi, karena sifat dari biomassa lignoselulosa yang sulit diolah, diperlukan pretreatment untuk merusak atau mendegradasi struktur hemiselulosa-lignin yang kompleks sehingga selulosa dapat diakses melalui hidrolisis enzimatik untuk dipecah menjadi gula-gula sederhana yang dapat dimanfaatkan oleh mikroba. Gula sederhana yang dihasilkan dari proses pretreatment TKKS sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai substrat alternatif untuk produksi lipid. Dalam penelitian ini, TKKS terlebih dahulu diberi pretreatment secara fisik dan biologis dengan jamur Marasmiellus sp.. Marasmiellus sp. adalah jamur lignoselulolitik yang mampu menguraikan TKKS menjadi sumber karbon yang lebih sederhana (glukosa). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) menentukan waktu optimum dari proses pretreatment serat TKKS dengan menggunakan jamur Marasmiellus sp. dan (2) menentukan potensi serat TKKS hasil pretreatment sebagai medium produksi lipid. Pretreatment serat TKKS dilakukan dengan metode Solid State Fermentation. Sebanyak 10% (v/w) jamur Marasmiellus sp. diinokulasikan ke dalam 25 gram serat TKKS yang kemudian diinkubasi selama 14 hari pada suhu Β±27?. Analisis yang dilakukan meliputi uji aktivitas enzim lakase menggunakan reagen ABTS (2,2’-azino-bis(3-ethylbenzothiazoline-6 sulfonic acid)) dan pengukuran konsentrasi gula pereduksi menggunakan reagen DNS (dinitrosalicylic acid) setiap dua hari sekali. Produksi lipid oleh R. toruloides menggunakan medium TKKS hasil pretreatment dilakukan dengan tiga variasi, yaitu (1) tanpa penambahan (feeding) medium TKKS selama inkubasi; (2) penambahan medium TKKS (40 g/L) pada hari ke-2, 4 dan 6; dan (3) penambahan medium TKKS (40 g/L) dan amonium sulfat (0,03 g/L) pada hari ke-2, 4 dan 6. Medium TKKS yang digunakan dalam proses feeding juga merupakan medium TKKS hasil pretreatment. Inkubasi dilakukan pada suhu Β±27?, agitasi 150 rpm selama 10 hari dengan jumlah inokulum awal 108 sel/mL (10% v/v). Analisis yang dilakukan yaitu perhitungan jumlah sel ragi dengan hemositometer, jumlah biomassa kering dengan metode gravimetri, total lipid dengan metode Folch, dan analisis profil asam lemak dengan menggunakan GC-FID. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas enzim lakase selama proses pretreatment mulai meningkat setelah hari ke-8 dan mencapai jumlah tertinggi pada hari ke-12 (37,42 U/mL) saat kadar pH 5,59. Aktivitas enzim selulase teramati dengan dihasilkannya gula pereduksi sejak awal proses pretreatment (hari ke-0) dan mencapai konsentrasi tertinggi pada hari ke-8 (1.887,40 ppm) saat kadar pH 5,88. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa waktu optimum dari proses pretreatment TKKS dengan jamur Marasmiellus sp., yaitu selama 8 hari karena pada hari ke-8 gula pereduksi sebagai sumber karbon mencapai konsentrasi yang paling tinggi. Hasil uji pendahuluan produksi lipid oleh R. toruloides menggunakan medium TKKS hasil pretreatment yang diinkubasi pada suhu Β±27?, agitasi 150 rpm selama 10 hari menunjukkan bahwa perolehan total lipid paling tinggi yaitu pada hari ke-10 (0,2 g/L). Hasil produksi lipid dengan variasi tanpa penambahan medium TKKS selama inkubasi menunjukkan bahwa perolehan total lipid tertinggi yaitu pada hari ke-10 (0,2 g/L) dengan jumlah sel ragi 2,36 x 108 sel/mL dan biomassa kering 2,57 g/L. Pada variasi dengan penambahan medium TKKS pada hari ke-2, 4, dan 6, perolehan total lipid tertinggi yaitu pada hari ke-10 (0,33 g/L) saat jumlah sel 8,75 x 108 sel/mL dan jumlah biomassa kering 7,74 g/L. Variasi dengan penambahan medium TKKS dan amonium sulfat menunjukkan perolehan total lipid tertinggi pada hari ke-4 (0,28 g/L) dengan jumlah sel 3,2 x 108 sel/mL dan biomassa kering 7,92 g/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi lipid tertinggi oleh R. toruloides yaitu 0,33 g/L pada variasi produksi lipid dengan feeding medium TKKS selama masa inkubasi. Hasil analisis profil asam lemak dengan GC-FID (Gas Chromatography-Flame Ionization Detector) menunjukkan bahwa jumlah asam lemak yang dihasilkan, yaitu 6,37% asam lemak jenuh, 7,94% asam lemak tak jenuh tunggal dan 4,78% asam lemak tak jenuh ganda dari total 19,08% kadar lemak yang diperoleh.

2024
πŸ‘€ Penulis: Siti Sarah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Bioenergi

POTENSI BIOKONVERSI LUMPUR SEDIMEN KOLAM TANDO HARIAN DAGO PAKAR MENGGUNAKAN LARVA BLACK SOLDIER FLY

Larva Black Soldier Fly (BSF) dikenal memiliki kemampuan menguraikan berbagai jenis limbah organik. Lumpur sedimen Kolam Tando Harian (KTH) Dago Pakar sendiri yang berasal dari campuran tanah, limbah domestik, dan kotoran hewan dapat dikategorikan sebagai limbah organik, sehingga berpotensi diuraikan oleh larva BSF, yang dapat mereduksi limbah dan menghasilkan produk samping pakan ayam dan pupuk organik yang bernilai ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas larva BSF dalam mengonversi lumpur sedimen serta mengukur parameter pertumbuhan dan reduksi limbah. Metode penelitian dengan pengukuran massa larva, nilai Waste Reduction Index (WRI), Efficiency of Conversion of Digested Food (ECD), Survival Rate (SR), serta pengujian kandungan pada larva BSF dan residu di akhir biokonversi. Pada penelitian ini, digunakan perlakuan yang terdiri dari lumpur sedimen beserta tiga substrat lainnya yang dicampur dengan sampah kol yang memiliki perbandingan 1:1, 3:2, dan 4:1. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pertumbuhan larva terbaik terjadi pada pemberian pakan lumpur sedimen dicampur sampah kol dengan perbandingan 1:1 yang memiliki pertambahan massa rata-rata 0,534 g/10 larva, nilai WRI sebesar 5,739%, ECD sebesar 0,403% dan SR 83,8%. Berdasarkan hasil pengujian laboratorium, baik larva BSF maupun residu hasil biokonversi belum dapat menghasilkan biomassa dan residu yang aman digunakan sebagai pakan ayam dan pupuk organik sesuai standar, sehingga diperlukan pemrosesan lebih lanjut.

2024
πŸ‘€ Penulis: Rafi Rayhan Novaldo
🏷️ Bioenergi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Limbah

IMPLEMENTASI MATERIAL BIOPLASTIK DARI SELULOSA ASETAT EKSKRESI SAPI DALAM PERANCANGAN KURSI TUNGGU

Plastik konvensional yang terbuat dari bahan berbasis petroleum menjadi permasalahan lingkungan yang kian mendesak. Diperkirakan konsumsi plastik global mencapai 1.000 Mtpa pada tahun 2050, memperparah emisi gas rumah kaca. Kotoran sapi, sebagai sumber limbah peternakan, mengandung selulosa yang dapat diolah menjadi selulosa asetat, bahan baku alternatif plastik ramah lingkungan Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bioplastik selulosa asetat dari kotoran sapi, membuka peluang produk komersil baru berupa, dan menganalisis perilaku masyarakat dalam kegiatan tunggu menunggu di fasilitas publik sebagai data pendukung pembuatan produk fasilitas kursi tunggu umum. Diharapkan penelitian ini dapat berkontribusi dalam pengembangan material bioplastik, meningkatkan kesadaran lingkungan, dan mengurangi dampak emisi gas rumah kaca dari pemanfaatan kotoran sapi.

2024
πŸ‘€ Penulis: Raden Ajeng Aldiva Andyeni K.
🏷️ Bioenergi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STUDI PERUBAHAN KARAKTERISTIK REFUSE DERIVED FUEL SELAMA PROSES BIOLOGICAL TREATMENT DENGAN METODE β€œPEUYEUMISASI”

Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), termasuk dari sektor energi. Teknologi co-firing batubara dengan biomassa dapat menjadi opsi untuk mengurangi emisi GRK sektor pembangkit listrik. Namun, pembakaran biomassa, termasuk sampah padat perkotaan (municipal solid waste, MSW), relatif kurang efisien karena kandungan moisture yang tinggi dan nilai kalori yang rendah. Metode peuyeumisasi, yang dapat meningkatkan kualitas MSW sebagai bahan bakar (refuse derived fuel, RDF) co-firing, sudah banyak diterapkan dalam 10 tahun terakhir. Namun, belum ada penelitian ilmiah yang sistematis mempelajari perubahan yang terjadi selama biological treatment dengan metode peuyeumisasi ini. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus mempelajari perubahan karakteristik RDF selama peuyeumisasi termasuk perilaku pirolisis dan pembakaran RDF. Percobaan peuyeumisasi dilakukan selama 12 hari pada MSW yang telah diseleksi, dan menggunakan keramba bambu sebagai wadah. MSW yang digunakan yaitu ampas tahu, ampas kopi, ampas kelapa, dan kulit bawang. Penelitian dimulai dengan persiapan MSW dan keramba bambu, serta pembuatan larutan bioaktivator yang diperkaya dengan molase. Setelah MSW tercampur dengan bioaktivator dan ditempatkan di keramba bambu, proses peuyeumisasi dimulai. Pengukuran temperatur dan sampling dilakukan secara berkala, diikuti dengan analisis proksimat untuk menilai perubahan komposisi. Lalu, beberapa sampel dengan perubahan proksimat yang signifikan dianalisis ultimat, gross calorific value (GCV), fourier-transform infrared (FTIR) spectroscopy, simultaneous thermal analysis (STA), dan quadrupole mass spectrometer (QMS) untuk mengetahui perubahan komposisi dan karakteristik RDF tersebut. Proses peuyeumisasi efektif untuk menurunkan moisture, dari 68% menjadi 27% (vs control 42%) dalam air dried basis (ADB), dan meningkatkan nilai kalori RDF, dari 1.578 ke 4.459 kkal/kg, ADB (vs control 2.888 kkal/kg). Peningkatan nilai kalori ini disebabkan oleh kombinasi penurunan moisture dan volatile matter (VM) karena sebagian VM terkonsumsi oleh mikroorganisme. Selama peuyeumisasi, kandungan nitrogen meningkat karena nitrifikasi, sedangkan kandungan karbon dan oksigen menyesuaikan dengan hasil aktivitas mikroorganisme. Berdasarkan hasil STA-QMS, pirolisis RDF menghasilkan lebih banyak biochar yang relatif kurang reaktif ketika dibakar karena telah kehilangan sebagian VM. Sedangkan MSW awal lebih banyak menghasilkan gas hidrokarbon ringan.

2024
πŸ‘€ Penulis: Satria Lazuardy Hasan
🏷️ Bioenergi 🏷️ Biokimia Sampah 🏷️ Proses Biologis
πŸ’¬