📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 9 dokumenNEUROARCHITECTURE FOR BIRTH AND BEYOND: DESIGNING SPACES FOR MATERNAL WELL-BEING AND POSITIVE BIRTH EXPERIENCE
Tingginya prevalensi kecemasan dan depresi pascapersalinan di Indonesia menunjukkan bahwa kesehatan mental ibu masih menjadi aspek yang kurang diperhatikan dalam sistem perawatan maternal, padahal kondisi ini berdampak langsung pada keberlanjutan kesehatan generasi berikutnya sebagaimana ditekankan dalam SDG 3 (Good Health and Well-Being). Fenomena fear tension pain syndrome memperlihatkan bagaimana rasa takut dan kecemasan ibu terhadap proses persalinan dapat memicu ketegangan tubuh yang justru memperbesar persepsi nyeri, sementara lingkungan binaan fasilitas kesehatan maternal konvensional yang cenderung klinis, bising, dan minim privasi belum dirancang untuk mendukung regulasi hormonal alami tubuh, khususnya keseimbangan oksitosin dan kortisol selama persalinan. Kondisi ini melatarbelakangi eksplorasi neuroarsitektur sebagai topik utama perancangan, yakni pendekatan arsitektural yang menempatkan respons neurologis dan psikofisiologis pengguna sebagai dasar pertimbangan desain ruang perawatan maternal. Tipologi bangunan yang dipilih adalah fasilitas perawatan maternitas yang berlokasi di kawasan Jalan Parahyangan Raya, Bandung, dengan pertimbangan kebutuhan fasilitas kesehatan ibu dan anak yang berorientasi pada kenyamanan psikologis, bukan sekadar fungsi medis semata. Pendekatan yang digunakan adalah neuroarsitektur yang diintegrasikan dengan prinsip biophilic design guna menciptakan lingkungan yang secara neurologis mendukung penurunan kadar kortisol dan peningkatan oksitosin melalui elemen spasial seperti pencahayaan alami, kualitas akustik, sirkulasi organik, dan area transisi privat-publik. Metode perancangan mencakup studi literatur terhadap teori neuroarsitektur, kajian preseden fasilitas maternitas, serta analisis tapak dan konteks lingkungan sekitar untuk merumuskan strategi massa dan zonasi ruang yang responsif terhadap kebutuhan psikofisiologis pengguna. Tujuan perancangan ini adalah menghasilkan rancangan arsitektur fasilitas maternitas yang menurunkan tingkat kecemasan dan nyeri persalinan melalui pendekatan neurosains lingkungan, sekaligus mendorong terciptanya pengalaman melahirkan yang positif. Luaran yang diharapkan berupa produk rancangan arsitektur yang aplikatif serta kontribusi teoretis bagi pengembangan wacana neuroarsitektur dalam konteks fasilitas kesehatan maternal di Indonesia.
HEALING RESORT DI DAERAH PENYANGGA PERKOTAAN UNTUK PENDERITA GANGGUAN DEPRESI RINGAN
Kesehatan mental merupakan isu yang semakin relevan dalam kehidupan masyarakat urban, seiring meningkatnya tekanan hidup, tuntutan pekerjaan, dan minimnya ruang pemulihan psikologis yang bersifat non-medis. Depresi ringan hingga sedang menjadi salah satu kondisi gangguan mental yang paling banyak dialami oleh masyarakat usia produktif, namun sering kali tidak tertangani secara optimal akibat keterbatasan fasilitas pemulihan yang aman, nyaman, dan bebas stigma. Oleh karena itu, diperlukan alternatif ruang pemulihan yang mampu mendukung kesejahteraan mental melalui pendekatan desain interior yang berorientasi pada pengalaman pengguna. Tugas Akhir ini bertujuan untuk merancang interior healing resort bagi penderita depresi ringan hingga sedang yang berlokasi di kawasan penyangga perkotaan. Healing resort dirancang sebagai fasilitas pemulihan non-klinis yang bersifat holistik, menenangkan, dan tidak menimbulkan kesan institusional. Metode perancangan yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan research by design, yang dilakukan melalui studi literatur, studi preseden, serta analisis kebutuhan pengguna dan konteks lokasi. Hasil analisis kemudian disintesis menjadi konsep desain interior yang menekankan integrasi ruang dalam dan luar, penggunaan material alami, pencahayaan alami, serta pengolahan suasana ruang yang mendukung proses pemulihan emosional. Perancangan ini diharapkan dapat menjadi alternatif fasilitas pemulihan kesehatan mental yang humanis dan kontekstual, sekaligus menunjukkan peran desain interior dalam mendukung kesejahteraan psikologis masyarakat urban melalui pendekatan biophilic.
PERANCANGAN INTERIOR EDUTOURISM CENTER SEBAGAI PUSAT EDUKASI-REKREASI TANAMAN HIAS DESA CIHIDEUNG, KABUPATEN BANDUNG BARAT DENGAN PENDEKATAN SENSORY DESIGN
Desa Cihideung, Kabupaten Bandung Barat, dikenal sebagai pusat hortikultura terbesar di Jawa Barat dengan kekayaan tanaman hias yang potensial. Namun, model pariwisata yang berkembang saat ini masih bersifat konvensional dan pasif sehingga durasi kunjungan wisatawan cenderung rendah dan potensi edukasi hortikultura tidak tergarap maksimal. Di sisi lain, masyarakat urban, khususnya dewasa muda di Kota Bandung, menghadapi peningkatan tekanan psikologis akibat kepadatan lingkungan perkotaan yang minim akses terhadap alam. Perancangan Interior Edutourism Center ini bertujuan untuk mengintegrasikan fungsi pusat edukasi hortikultura yang partisipatif dan fasilitas pemulihan yang didasari oleh hubungan kedekatan dengan alam. Metode perancangan yang digunakan adalah Problem-Based Design dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara, studi preseden, serta studi literatur. Pendekatan utama yang diterapkan adalah prinsip Sensory Design untuk menghadirkan alur pengalaman ruang yang imersif yang merangsang berbagai indra manusia yang sejalan dengan prinsip Biophilic Design berbasis tanaman hias lokal untuk menciptakan suasana restoratif yang menenangkan. Perancangan ini tidak hanya menjadi upaya konservasi tanaman hias, tetapi juga menjadi ruang restoratif bagi masyarakat urban untuk melepaskan penat dan katalisator pemberdayaan ekonomi komunitas petani lokal melalui ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.
URBAN OASIS DENGAN FASILITAS RESTORATIF DAN REKREASI SEBAGAI RESPONS TERHADAP STRES DAN KELELAHAN URBAN DI JAKARTA SELATAN
Fenomena stres dan kelelahan urban (urban stress dan burnout) menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi masyarakat perkotaan Indonesia. Tingginya intensitas pekerjaan, mobilitas yang padat, kemacetan lalu lintas, polusi udara, kebisingan, serta keterbatasan ruang terbuka hijau berkontribusi terhadap meningkatnya tekanan psikologis dan menurunnya kualitas hidup masyarakat. Kondisi ini terutama dialami oleh pekerja urban, mahasiswa, dan generasi produktif yang menghadapi tuntutan aktivitas tinggi, namun memiliki akses yang terbatas terhadap ruang publik yang mampu mendukung proses pemulihan fisik maupun mental. Di sisi lain, ruang-ruang kota yang tersedia umumnya lebih berorientasi pada fungsi komersial dibandingkan sebagai tempat untuk beristirahat, berekreasi, dan memulihkan diri. Oleh karena itu, diperlukan sebuah ruang publik yang mampu mengakomodasi kebutuhan restoratif masyarakat secara inklusif, mudah diakses, serta terintegrasi dengan lingkungan perkotaan. Jakarta Selatan dipilih sebagai lokasi perancangan karena merupakan salah satu kawasan dengan aktivitas perkotaan yang sangat tinggi, ditandai oleh konsentrasi kawasan bisnis, perkantoran, pendidikan, serta pusat komersial yang menghasilkan mobilitas dan intensitas aktivitas yang tinggi. Jakarta juga beberapa kali menempati peringkat kota dengan tingkat stres tertinggi di dunia berdasarkan berbagai indikator, seperti kemacetan, polusi udara, polusi suara, dan kepadatan penduduk. Selain itu, kualitas udara Jakarta yang sering berada pada kategori tidak sehat akibat tingginya konsentrasi PM2.5 semakin meningkatkan risiko gangguan kesehatan fisik dan mental masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penyediaan ruang publik yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga mampu mendukung proses pemulihan dari tekanan kehidupan urban melalui pengalaman ruang yang lebih sehat, nyaman, dan dekat dengan alam. Tipologi yang diangkat dalam tugas akhir ini adalah urban oasis, yaitu ruang publik yang dirancang sebagai tempat beristirahat, berekreasi, dan melakukan aktivitas restoratif di tengah kepadatan kota. Urban oasis menghadirkan berbagai fasilitas yang mendukung kesejahteraan pengguna, seperti area relaksasi, ruang meditasi dan yoga, jalur pejalan kaki yang teduh, taman interaktif, area bermain, ruang komunitas, fasilitas olahraga ringan, area kuliner, serta elemen air dan ruang hijau yang mendorong interaksi sosial maupun pemulihan psikologis. Konsep ini bertujuan menciptakan lingkungan yang mampu mengurangi tekanan kehidupan perkotaan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Perancangan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, serta SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui penyediaan ruang publik yang inklusif, berkelanjutan, dan layak huni. Pendekatan arsitektur yang digunakan adalah biophilic design, yang berfokus pada penguatan hubungan antara manusia dan alam melalui integrasi elemen-elemen alami ke dalam lingkungan binaan. Prinsip-prinsip yang diterapkan meliputi optimalisasi pencahayaan alami, penghawaan silang, penggunaan vegetasi sebagai elemen utama ruang, pemanfaatan material alami, keberadaan elemen air, serta penciptaan ruang terbuka hijau yang mudah diakses. Pendekatan ini diharapkan mampu menghadirkan pengalaman ruang yang restoratif, meningkatkan kenyamanan termal dan psikologis pengguna, serta mendukung proses pemulihan dari stres dan kelelahan akibat kehidupan urban. Metode yang digunakan dalam perancangan meliputi studi literatur mengenai teori urban stress, burnout, biophilic design, dan ruang restoratif, observasi lapangan terhadap karakteristik kawasan Jakarta Selatan dan perilaku masyarakat urban, analisis komparatif terhadap proyek-proyek ruang publik restoratif sebagai studi preseden, serta eksplorasi desain berdasarkan kebutuhan aktivitas pengguna. Hasil yang diharapkan adalah sebuah rancangan urban oasis yang mampu menyediakan fasilitas restoratif dan rekreasi secara terpadu, menghadirkan pengalaman ruang yang nyaman dan menyegarkan, memperkuat hubungan manusia dengan alam di tengah lingkungan perkotaan, serta berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat Jakarta Selatan.
PENGEMBANGAN ROSTER PLANTER DAN COMPOSTER TERINTEGRASI BERBASIS BIOPHILIC DESIGN UNTUK HUNIAN DENGAN LAHAN TERBATAS
Meskipun kesadaran masyarakat terhadap kesehatan lingkungan serta minat terhadap aktivitas berkebun, pengelolaan sampah organik, dan interaksi dengan alam semakin meningkat, keterbatasan ruang hijau di kawasan urban padat—terutama pada hunian dengan lahan terbatas—masih menjadi tantangan. Padahal, fenomena Urban Heat Island semakin nyata di kota-kota panas Indonesia, dan penghijauan dalam skala sekecil apapun dapat memberikan dampak positif. Berdasarkan prinsip dan penerapan Biophilic Design, serta pemetaan kebutuhan penghuni urban, studi produk preseden, observasi lapangan di berbagai lokasi hunian, dan beberapa eksperimen pendukung, dikembangkanlah desain bata roster yang tetap menjalankan fungsi ventilasi dan pencahayaan, namun kini juga terintegrasi dengan tempat planter dan composter yang mendukung penghijauan, serta pengelolaan dan daur ulang sampah organik secara berkelanjutan.
PERANCANGAN INTERIOR PUBLIC STUDENT CENTER UNTUK MAHASISWA DI KOTA BANDUNG DENGAN PENDEKATAN BIOPHILIC
Mahasiswa di Kota Bandung menghadapi tantangan tekanan akademik, finansial, dan sosial yang mempengaruhi kesehatan mental mereka, sehingga membutuhkan intervensi yang tepat. Sayangnya, lingkungan kampus seringkali tidak menyediakan fasilitas sosial yang kondusif untuk mendukung interaksi mereka. Pendekatan biophilic menjadi solusi desain yang efektif, membantu menciptakan ruang yang mendukung interaksi sosial sekaligus mengurangi stres. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang interior Public Student Center yang mendukung sosialisasi mahasiswa di Kota Bandung dengan mengintegrasikan unsur biophilic untuk mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan mental. Data yang dijadikan analisis adalah berdasarkan studi literatur, survei pembanding, dan survei kuesioner dengan mahasiswa di Kota Bandung. Metode penelitian menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif . Teori yang dijadikan landasan penelitian adalah teori desain biophilic dan teori public space. Fasilitas Public Student Center ini akan menyediakan sarana untuk memfasilitasi interaksi sosial antar mahasiswa dengan harapan dapat mengurangi tingkat stres dan mendukung kesehatan mental mereka.
PERANCANGAN MIXED-USE LIFESTYLE CENTER DI KAWASAN TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT DUKUH ATAS JAKARTA
Saat ini, Jakarta sebagai kota besar yang telah bertransformasi menjadi Daerah Khusus Jakarta, setelah tidak lagi menyandang status sebagai ibu kota negara, terus mengalami pertumbuhan yang pesat, baik dari segi jumlah penduduk, aktivitas ekonomi, maupun pembangunan infrastruktur. Pertumbuhan ini di satu sisi mencerminkan dinamika perkembangan kota, namun di sisi lain juga memunculkan tantangan besar dalam penyediaan sarana transportasi yang memadai, pengendalian tata ruang, serta penciptaan lingkungan perkotaan yang layak huni. Kompleksitas permasalahan tersebut menuntut adanya pendekatan perencanaan kota yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Pemerintah pun mulai menyadari pentingnya penguatan konektivitas transportasi publik sebagai salah satu kunci utama dalam mendukung arah pembangunan kota di masa depan. Salah satu strategi yang dikembangkan adalah penerapan konsep Transit Oriented Development (TOD), yang difokuskan pada sejumlah kawasan strategis di Jakarta, termasuk kawasan Dukuh Atas sebagai kawasan pengembangan TOD pertama di kota ini. Kawasan TOD Dukuh Atas merupakan salah satu simpul penting dalam pengembangan perkotaan Jakarta karena posisinya yang strategis. Sebagai titik temu antar moda transportasi utama seperti LRT, MRT, dan KRL, kawasan ini menjadi lokasi pengembangan TOD pertama di Jakarta dan memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai pusat pertumbuhan masyarakat perkotaan. TOD Dukuh Atas dirancang dengan prinsip pengembangan kawasan perkotaan berkelanjutan dalam radius 400 meter dari simpul transit, yang mendorong penggunaan transportasi umum serta menciptakan lingkungan yang ramah bagi pejalan kaki dan pengguna sepeda. Namun, dalam implementasinya, kawasan ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah perubahan tata letak Stasiun LRT yang kini berada di luar radius 400 meter, yaitu radius 800 meter dari pusat kawasan. Hal ini berdampak pada menurunnya efektivitas perencanaan spasial dan menyebabkan pengelolaan lahan menjadi kurang optimal. Kawasan yang seharusnya terintegrasi untuk memusatkan aktivitas masyarakat justru masih terfragmentasi dan belum menunjukkan orientasi yang kuat terhadap simpul transit. Akibatnya, pola aktivitas masyarakat belum sepenuhnya terfokus pada titik-titik transit, sehingga menciptakan ketidakefisienan penggunaan ruang dan meningkatkan tekanan terhadap infrastruktur eksisting, termasuk munculnya kemacetan di sekitar kawasan tersebut. Terfokus pada Stasiun LRT Dukuh Atas yang menjadi titik simpul transportasi penting bagi masyarakat dari berbagai wilayah Jakarta dan sekitarnya, stasiun ini dirancang untuk mendukung integrasi antar moda transportasi serta fasilitas di kawasan sekitarnya. Namun, area di sekitar Stasiun LRT Dukuh Atas tidak ada fasilitas akibat terpusatnya pembangunan hanya pada radius 400 meter dari titik transit utama, sehingga fasilitas yang berada di sisi stasiun LRT menjadi kurang optimal. Ketidakseimbangan ini menyulitkan upaya pengelolaan kawasan secara efisien dan berkelanjutan, karena aktivitas masyarakat tidak merata dan cenderung tersebar. Menyadari pentingnya integrasi fungsi lahan yang terhubung langsung dengan simpul transportasi, diperlukan perencanaan spasial yang mampu mengakomodasi konektivitas antar moda dan mendukung aktivitas masyarakat di seluruh area TOD, termasuk pada radius yang lebih luas hingga 800 meter. Hal ini menjadi isu penting untuk memastikan bahwa kawasan TOD Dukuh Atas mendukung prinsip keterpaduan, aksesibilitas, dan keberlanjutan dalam pengembangan perkotaan Jakarta. Mixed use Lifestyle Center merupakan konsep perancangan bangunan yang diterapkan pada kawasan TOD Dukuh Atas sebagai solusi untuk menyediakan fasilitas multifungsi, yaitu dengan fungsi komersial, hunian, dan ruang publik yang terintegrasi langsung dengan Stasiun LRT Dukuh Atas Perancangan ini ditujukan untuk memfasilitasi keragaman aktivitas transit dalam radius 800 meter, sehingga mendukung terciptanya lingkungan perkotaan yang inklusif, efisien, dan berorientasi pada transportasi publik. Konsep ini diperkuat dengan penerapan pendekatan Biophilic Design yang menekankan pentingnya hubungan manusia dengan alam dalam konteks perkotaan, melalui penyediaan ruang terbuka hijau yang berkualitas. Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan dan kualitas lingkungan kawasan TOD Dukuh Atas secara keseluruhan. Pengumpulan data dan studi preseden sejenis sebagai bagian dari metode dalam merancang yang bertujuan untuk menjadi referensi dalam menganalisa strategi desain perancangan yang tepat dalam mewujudkan pengoptimalisasi kawasan TOD Dukuh Atas khususnya pada area yang terintegrasi langsung dengan Stasiun LRT Dukuh Atas. Solusi perancangan yang diusulkan melalui konsep perancangan Mixed-use Lifestyle Center dengan pendekatan Biophilic Design bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan, meningkatkan kualitas lingkungan, serta menciptakan pusat aktivitas masyarakat yang efisien, inklusif, dan ramah lingkungan. Dengan solusi desain perancangan ini, kawasan TOD Dukuh Atas diharapkan dapat berfungsi secara optimal sebagai simpul transportasi sekaligus ruang hidup perkotaan yang mendukung mobilitas berkelanjutan dan kualitas hidup masyarakat dalam perkembangan kota Jakarta.
ASRAMA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA: DESAIN BERBASIS CONTINUOUS LIVING SPACE
Kota Depok adalah salah satu kota yang menjadi bagian dari kawasan metropolitan Jabodetabek dan secara konstan menimbulkan kebutuhan hunian yang terus menerus meningkat, terlebih sejak tahun 1988 menerima kepindahan sebagian besar kampus Universitas Indonesia (UI) dari Jakarta. Sebagai salah satu kampus ternama di Indonesia, setiap tahunnya UI menerima hingga sebanyak 10.000 mahasiswa baru yang berasal dari 207 kota/kabupaten dari 38 provinsi di Indonesia. UI memiliki asrama bernama Asrama Wisma Makara yang merupakan sebuah fasilitas hunian untuk mahasiswa baru, terkhusus anak perantauan, mahasiswa dengan status ekonomi kurang mampu, dan mahasiswa pertukaran pelajar baik dari dalam maupun luar negeri. Dengan harga sewa yang cukup terjangkau, asrama merupakan pilihan yang tepat bagi beberapa kalangan. Selain itu, lokasi dan letak asrama yang cukup strategis dan di dalam kawasan kampus, memberikan penghematan atas biaya transportasi dan waktu tempuh menuju kampus. Namun, berdasarkan penuturan dari para mantan penghuni asrama, ternyata asrama mahasiswa UI perlu dilakukan perbaikan atas beberapa kekurangan yang ada. Oleh karena itu, perlu ada bangunan hunian dengan tipologi Asrama Mahasiswa UI berbasis desain Continuous Living Space yang dirancang sebagai ruang hidup yang terintegrasi, dinamis, dan mendukung keseimbangan antara kebutuhan individual dan komunal. Ide konsep ini datang dari suatu pemahaman bahwa mahasiswa membutuhkan hunian yang tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ruang untuk belajar, berinteraksi, dan berkembang dalam komunitas yang inklusif. Tujuan dari proyek ini adalah merancang hunian asrama mahasiswa di Kampus UI yang efisien ruang, produktif, dan responsif terhadap isu yang ada. Lokasi pembangunan terletak di Asrama Wisma Makara, Asrama Mahasiswa UI, Kota Depok, Jawa Barat. Lahan proyek dibatasi oleh kawasan hutan UI di sisi timur, selatan, dan barat tapak, dan permukiman warga Srengseng Sawah di sisi utara yang dibatasi juga dengan pepohonan dan tembok pembatas. Pengguna utama Asrama Mahasiswa UI adalah mahasiswa baru Tingkat I, sementara pengguna sekunder adalah orang tua atau wali mahasiswa serta pengelola asrama dan fasilitas. Fasilitas yang disediakan berupa fungsi utama hunian, fungsi produktivitas seperti ruang belajar komunal dan area co-working restoratif, fungsi rekreasional seperti jogging track dan taman, serta fungsi penunjang, seperti kantin, kafe, dan toserba. Perancangan proyek ini didasari oleh beberapa pendekatan arsitektur untuk menjawab tujuannya dengan mewujudkan beberapa strategi, yakni redesain asrama yang inovatif dan efisien, kawasan hunian yang restoratif, mendukung interaksi sosial, dan produktivitas, serta menerapkan desain yang permeabel dan adaptif dengan pendekatan teori Biophilic Design oleh Kellert dkk (2005), teori Flexibility in Architecture oleh Geoff (2007), teori Attention Restoration Theory oleh Kaplan (2008), dan teori Co-Living.
PERANCANGAN INTERIOR EKOWISATA HOTEL RESORT DENGAN PENDEKATAN BIOPHILIC DESIGN DI PANTAI MANDALIKA LOMBOK
Perancangan Interior Ekowisata Hotel Resort dengan Pendekatan Biophilic Design di Pantai Mandalika Lombok merupakan sebuah rancangan hotel resort dengan klasifikasi bintang empat yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika. Pemilihan Mandalika sebagai lokasi berdasar pada letaknya yang strategis, dekat dari Bandara Internasional Lombok, infrastruktur memadai, memiliki potensi wisata alam yang bagus dan masih alami, serta dekat dari Kampung Wisata Desa Sade Suku Sasak yang cenderung masih tradisional. Seluruh potensi ini dituangkan ke dalam rancangan melalui konsep ekowisata dan pendekatan biophilic design. Salah satu potensi utama dari Mandalika adalah adanya Sirkuit Mandalika yang dicanangkan sebagai generator penggerak ekonomi kawasan Mandalika. Pemanfaatan wilayah yang diintegrasikan terhadap interiornya sendiri bertujuan untuk memberikan kesan nyaman, rileks, alami, dan ‘menyatu dengan alam’ bagi tamu yang datang. Kesan ini didapatkan dengan penerapan elemen biophilic melalui konsep material, pencahayaan, akustik, penghawaan, dan bentuk bangunan. Konsep daur ulang air pun diterapkan agar semakin mengoptimalkan tujuan minimalisasi intervensi lahan pada rancangan. Tidak hanya kondisi alamnya, perancangan ini juga melibatkan warga lokal untuk turut berpartisipasi dalam program aktivitas di dalam hotel resort sebagai bentuk penerapan konsep ekowisata. Fasilitas ini akan menyediakan area khusus bagi warga lokal untuk berinteraksi dengan tamu dan wisatawan yang datang melalui transaksi jual beli hasil produk lokal atau dengan penawaran pelayanan spa. Penelitian ini dapat selesai dengan menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, kuesioner, serta analisis lahan bangunan melalui internet. Data digunakan sebagai pondasi acuan rancangan agar dapat mencapai tujuan sebagaimana yang telah direncanakan.