📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenOPTIMASI EKSPRESI GEN PENGKODE ENDOGLUKANASE REKOMBINAN PADA SISTEM RAGI PICHIA PASTORIS
Endoglukanase merupakan enzim yang berperan dalam pemecahan selulosa, komponen utama dinding sel tumbuhan yang melimpah pada biomassa alam. Enzim ini memiliki peran krusial dalam industri kertas, tekstil, pengolahan limbah, dan bioenergi. Namun, produksi endoglukanase secara alami masih terbatas, sehingga pengembangan metode produksi efektif melalui pendekatan bioteknologi sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengekspresikan gen endoglukanase rekombinan menggunakan sistem ragi Pichia pastoris dan mengoptimasi kondisi produksi endoglukanase. Tahapan penelitian meliputi seleksi koloni transforman P. pastoris, induksi ekspresi gen menggunakan variasi konsentrasi metanol 1?3% (v/v) selama 5 hari inkubasi pada kepadatan awal sel OD1 dan OD5. Kuantifikasi protein selanjutnya ditentukan dengan metode Bradford. Aktivitas dilakukan dengan menentukan jumlah gula pereduksi hasil hidrolisis substrat carboxymethyl cellulose (CMC) 1% (b/v) menggunakan metode DNS. Analisis terhadap elektroforegram poliakrilamid SDS-PAGE mengonfirmasi keberhasilan sekresi protein rekombinan dalam sel P. pastoris dengan munculnya pita spesifik berukuran 38 kDa. Pada kelompok OD1, aktivitas spesifik tertinggi diperoleh dari perlakuan metanol 2,5% (v/v) sebesar 8,8 ± 1,2 U/mg, sedangkan pada kelompok OD5 aktivitas spesifik enzim optimal (9,2 ± 0,7 U/mg) diperoleh pada perlakuan metanol 2% (v/v). Oleh karena itu, pengujian fungsional menunjukkan bahwa puncak nilai aktivitas spesifik tertinggi dicapai pada hari ke-2 inkubasi untuk kedua variasi kerapatan sel walaupun pertumbuhan sel ragi paling optimal pada hari ke-4. Sejalan dengan hal tersebut, validasi statistik menggunakan Pareto Plot menegaskan bahwa faktor hari (waktu inkubasi) dan OD (kerapatan awal sel) merupakan dua parameter utama yang memberikan kontribusi paling dominan (Magnitude of Effect) dalam mengontrol fluktuasi aktivitas spesifik enzim endoglukanase rekombinan
BIOSTRATIGRAFI DAN PALEOEKOLOGI INTI SEDIMEN LAUT BS-22 PADA KALA HOLOSEN BERDASARKAN PROKSI NANOFOSIL DI PERAIRAN NIAS, SUMATRA UTARA
Endapan laut di wilayah tropis merupakan arsip penting untuk mengkaji dinamika sistem laut jangka panjang, khususnya di perairan Nias yang berada pada zona interaksi aktif sistem monsun dan variabilitas Indian Ocean Dipole (IOD). Interpretasi perubahan lingkungan laut memerlukan kendali umur relatif yang memadai agar variasi paleoekologi dan paleoseanografi dapat ditempatkan dalam kerangka waktu geologi yang tepat. Dalam konteks ini, biostratigrafi berperan sebagai dasar utama untuk mengaitkan perubahan ekologis dan oseanografi dengan tahapan waktu sejak Pleistosen Akhir hingga Holosen. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan biostratigrafi melalui biozona nanofosil serta mengkaji perubahan paleoekologi dan paleoseanografi berdasarkan asosiasi nanofosil pada inti sedimen laut BS-22 dari perairan Nias. Analisis dilakukan pada satu inti sedimen sepanjang 195 cm yang diambil dari kedalaman 653,2 m. Pengamatan nanofosil dilakukan pada interval 10 cm menggunakan mikroskop polarisasi perbesaran 1000×, sedangkan penentuan umur relatif didasarkan pada biodatum nanofosil. Hasil analisis biostratigrafi menunjukkan dua biozona, yaitu NN21 (Holosen) pada kedalaman 179–0 cm dan NN20 dan/atau lebih tua (Pleistosen Akhir dan/atau lebih tua) pada kedalaman 180–195 cm, yang dibatasi oleh kemunculan awal Emiliania huxleyi sebagai penanda batas umur Holosen. Hasil analisis menunjukkan komunitas nanofosil didominasi oleh taksa oportunistik dan kosmopolitan, terutama Gephyrocapsa kecil, dengan keanekaragaman relatif rendah. Perubahan komposisi spesies dan kelimpahan mencerminkan keterkaitan erat antara dinamika paleoekologi dan perubahan kondisi oseanografi, dari kondisi laut yang lebih dingin dan dinamis pada akhir Pleistosen menuju lingkungan Holosen yang lebih hangat, terstratifikasi, dan oligotrof. Perubahan litologi lempung–lanau karbonatan tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap variasi paleoekologi maupun paleoseanografi. Rekaman sedimen BS-22 mencerminkan lima periode utama perubahan paleoklimat, yaitu Akhir Younger Dryas, Early Holocene Warm Period, Holocene Climate Optimum, Mid-Holocene Aridification, dan Late Holocene Transition.
POTENSI BIOSURFAKTAN DARI ISOLAT BAKTERI HIDROKARBONOKLASTIK SEBAGAI AGEN ANTIBAKTERI DAN ANTIBIOFILM STREPTOCOCCUS MUTANS
Streptococcus mutans adalah bakteri yang berperan penting dalam pembentukan biofilm gigi atau plak gigi yang menjadi salah satu penyebab karies. Biofilm gigi adalah agregat mikroorganisme yang melekat satu sama lain pada permukaan gigi dan tertanam dalam suatu matriks EPS (Extraceluller Polymeric Substances) yang diproduksi oleh mikroorganisme itu sendiri. Salah satu senyawa yang diketahui memiliki aktivitas antibiofilm dan antibakteri adalah biosurfaktan, berkat molekulnya yang amfifilik. Dibandingkan jenis surfaktan lain, biosurfaktan unggul dari sisi lingkungan dan biokompatibilitas. Salah satu mikroba yang dilaporkan memiliki kemampuan produksi biosurfaktan adalah bakteri hidrokarbonoklastik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan produsen biosurfaktan terbaik di antara isolat bakteri hidrokarbonoklastik, mengkarakterisasi biosurfaktan yang dihasilkan, dan menentukan potensinya sebagai agen antibakteri dan antibiofilm terhadap Streptococcus mutans. Isolat campuran bakteri hidrokarbonoklastik dari penelitian sebelumnya dipurifikasi sehingga diperoleh isolat murni. Terhadap isolat murni dilakukan penapisan bakteri penghasil biosurfaktan menggunakan metode oil spread assay. Isolat terpilih diproduksi biosurfaktannya untuk dikarakterisasi melalui analisis muatan ionik dan FTIR-KBr serta diujikan aktivitas antibakteri dan antibiofilmnya terhadap S. mutans. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat sebanyak tujuh isolat murni yang berhasil dipurifikasi. Seluruhnya adalah penghasil biosurfaktan. Di antara isolat lainnya, isolat T0(7) adalah isolat terbaik karena menghasilkan zona bening dengan diameter terbesar yaitu 3,43 ± 0,12 cm. Berdasarkan analisis secara molekuler menggunakan marka 16S rRNA, isolat T0(7) diidentifikasi sebagai Brevibacillus limnophilus. Isolat T0(7) menghasilkan biosurfaktan dengan yield sebesar 67 mg/L. Biosurfaktan isolat T0(7) berjenis glikolipid dan tidak bermuatan (non-ionik) serta memiliki aktivitas antibakteri dan antibiofilm terhadap S. mutans dengan nilai MIC, MBIC, dan MBEC berturut-turut sebesar 2000 ppm, 1000 ppm, dan 4000 ppm. Nilai persentase inhibisi pertumbuhan, inhibisi biofilm, dan eradikasi biofilm S. mutans pada konsentrasi MIC, MBIC, dan MBEC, berturut turut sebesar 41,89% ± 9,30 %, 48,81 ± 5,12 %, dan 48,86 ± 5,82 %. Dengan demikian biosurfaktan isolat T0(7) berpotensi sebagai agen antibakteri dan antibiofilm S. mutans.