📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 9 dokumen

PERBANDINGAN HASIL METODE KLASIFIKASI LIDAR DENGAN FOTOGRAMETRI

Studi awal adalah studi yang dilakukan untuk mengevaluasi komponen-komponen dalam suatu objek, contohnya adalah infrastruktur. Studi ini dinilai penting karena hasil evaluasi dapat digunakan untuk melakukan manajemen aset dalam infrastruktur melalui Building Information Modeling (BIM). Lokasi penelitian ini adalah Bendung Manganti yang terletak di Kabupaten Ciamis. Aset-aset dalam bangunan bendung berguna untuk menunjang kegiatan operasionalnya. Pemantauan dan pemeliharaan infrastruktur perlu dilakukan secara berkala agar tetap dapat menjalankan fungsinya. Manajemen aset diperlukan agar data grafis dan atribut dari aset-aset bangunan bendung dapat tertata dengan rapi. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah melalui pemanfaatan Building Information Modeling (BIM). Penelitian ini memanfaatkan BIM untuk menghubungkan model tiga dimensi dengan informasi setiap aset seperti nama aset, kode unik (ID), kondisi, biaya pembuatan, dan lainnya. Informasi aset bangunan bendung dilekatkan ke model tersebut sehingga aset akan bersifat object-oriented. Kumpulan informasi tersebut disusun dalam suatu basis data yang berguna untuk memantau aset-aset di bangunan bendung. Informasi tersebut memiliki tingkat kedalaman grafis dan atribut yang dapat dianalisis melalui pengelompokan kategori Level of Detail (LOD) dan Level of Information (LOI). Basis data memiliki kedalaman yang dapat dianalisis melalui proses pembuatannya dan produk yang dihasilkan. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini berupa model tiga dimensi dan sistem basis data yang telah mengacu pada struktur Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy dan format Industry Foundation Classes (IFC). Basis data tersebut memuat informasi umum bangunan bendung serta informasi aset. LOD aset bangunan bendung termasuk dalam kategori LOD 3 dan 4. LOI aset bangunan bendung termasuk dalam kategori LOI 500. Kedalaman basis data yang dibentuk meliputi adanya pembuatan tabel, pendefinisian relasi, normalisasi, dan form basis data untuk memudahkan pemantauan aset bangunan bendung.

2026
👤 Penulis: Rofiatul Ainiyah
🏷️ Geoteknik 🏷️ Manajemen Aset Infrastruktur 🏷️ Building Information Modeling (Bim)

IMPLEMENTASI MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI JALAN TOL DENGAN BANTUAN BIM (STUDI KASUS: JALAN TOL TRANS SUMATRA BENGKULU – TABA PENANJUNG ZONA 1, KM 0-6.5)

Penelitian ini bertujuan untuk menyusun rencana penjadwalan dan estimasi biaya pembangunan Jalan Tol Trans-Sumatra Seksi Bengkulu – Taba Penanjung dengan memanfaatkan pendekatan Building Information Modeling (BIM) untuk mendukung efisiensi waktu dan biaya. Tahapan perencanaan dimulai dengan pengumpulan koefisien produktivitas alat melalui Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Bina Marga dan metode resource enumeration. Pekerjaan dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu pekerjaan jalan dan pekerjaan jembatan, yang masing-masing dijadwalkan secara paralel berdasarkan 15 segmen jalan yang dikelompokkan menjadi tiga sequence. Durasi awal dihitung dari total volume dan koefisien produktivitas, kemudian disesuaikan menggunakan rasio terhadap target penyelesaian proyek sehingga diperoleh durasi yang realistis per pekerjaan dan per sequence. Seluruh data kegiatan, durasi, dan hubungan ketergantungan kegiatan dimasukkan ke dalam Microsoft Project untuk menghasilkan jadwal akhir. Hasil penjadwalan menunjukkan total durasi proyek selama 295 hari dengan pembagian front kerja paralel yang mampu mengoptimalkan pemanfaatan alat dan meminimalkan waktu menganggur. Estimasi biaya pekerjaan yang dihitung melalui Analisis Harga Satuan dan dikalikan volume aktual menghasilkan total anggaran sebesar Rp 722.313.413.351,32.

2025
👤 Penulis: Muhammad Soni Kesuma Anom
🏷️ Manajemen Proyek 🏷️ Building Information Modeling (Bim) 🏷️ Analisis Harga Satuan Pekerjaan (Ahsp)

KAJIAN PENGARUH IMPLEMENTASI BIM TERINTEGRASI PADA PROSES PENANGANAN VARIATION ORDER (VO)

Variation Order (VO) merupakan salah satu tantangan yang sering terjadi pada dinamika proyek konstruksi, khususnya pada proyek berskala besar yang melibatkan banyak disiplin dan pemangku kepentingan. VO umumnya muncul akibat perubahan desain, kondisi lapangan yang tidak terduga, atau kebutuhan penyesuaian teknis selama pelaksanaan proyek. Proses penanganan VO sering memerlukan waktu penyelesaian yang cukup lama, mulai dari tahap identifikasi, pengajuan proposal, evaluasi, hingga persetujuan akhir. Kondisi ini berpotensi menyebabkan keterlambatan penyelesaian proyek, pembengkakan biaya, dan terganggunya alur kerja yang telah direncanakan. Dalam konteks inilah, pemanfaatan teknologi digital seperti Building Information Modeling (BIM) menjadi relevan karena memiliki potensi besar dalam membantu proses penyelesaian VO melalui fitur kolaborasi berbasis model 3D multidisiplin, deteksi tabrakan (clash detection), serta ekosistem Common Data Environment (CDE) yang memungkinkan integrasi informasi secara terpusat. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam implementasi BIM Terintegrasi berbasis Common Data Environment (CDE) dalam mendukung proses penanganan VO pada proyek konstruksi di Indonesia. Studi kasus dilakukan pada sebuah proyek infrastruktur transportasi berskala besar, yaitu Proyek Transportasi X Tahap 2, yang telah menerapkan BIM-CDE sepanjang tahap pengembangan desain. Proyek ini menggunakan sistem pengadaan Design-Build (DB) dengan acuan dokumen kontrak FIDIC Yellow Book 1999. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran (mixed methods) yang menggabungkan telaah dokumen proyek, penyebaran kuesioner kepada pihak terkait, serta wawancara validasi untuk memperkuat hasil analisis. Responden meliputi pemangku kepentingan utama, yaitu Pemilik Proyek dan Kontraktor DB, sehingga hasil yang diperoleh merepresentasikan pandangan dari kedua belah pihak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi BIM telah menjadi bagian integral dari proses pengembangan desain, sebagaimana tertuang dalam dokumen Employer’s Information Requirements (EIR) yang mengatur kewajiban penggunaan BIM untuk pekerjaan permanen. Seluruh proses komunikasi dan koordinasi lintas pemangku kepentingan dilakukan melalui platform CDE terpusat yang ditetapkan sebagai media resmi untuk korespondensi formal. Walaupun penerapan BIM pada ii proses VO di proyek ini tidak secara eksplisit menjadi tujuan utama, teknologi tersebut terbukti memberikan kontribusi signifikan. Manfaat yang dirasakan meliputi percepatan penyelesaian VO, peningkatan kualitas komunikasi, serta peningkatan transparansi proses VO. BIM dimanfaatkan untuk memodelkan kondisi eksisting dan kondisi pasca-perubahan, melakukan clash detection, mengintegrasikan analisis penjadwalan 4D, serta menyajikan perbandingan visual dan kuantitatif jadwal sebagai dasar pengajuan proposal VO. CDE berfungsi sebagai platform utama korespondensi formal antar pihak, yang mempercepat proses komunikasi, dokumentasi, dan evaluasi. Implementasi BIM-CDE memungkinkan penyelesaian proses VO dalam waktu 8–25 hari kalender, lebih cepat dibandingkan tenggat waktu 28 hari menurut standar kontrak FIDIC Yellow Book 1999 yang digunakan di proyek. Faktor yang sudah mendukung implementasi BIM Terintegrasi pada penanganan VO di proyek ini adalah keberadaan dokumen Employer’s Information Requirement (EIR) serta BIM Execution Plan (BEP) dalam kategori Kebijakan dan Proses Kontrak. Sementara itu, faktor yang dirasa masih menjadi hambatan utama berasal dari kurangnya kapasitas modeller dan lemahnya pengawasan manajerial dalam kategori Organisasi dan Personal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pada Proyek Transportasi X Tahap 2, BIM Terintegrasi berpengaruh terhadap waktu penyelesaian VO tidak melebihi standar kontrak. Untuk mencapai keberhasilan implementasi BIM-CDE dalam proses penanganan VO dibutuhkan integrasi antara pendekatan top-down secara aspek Kebijakan dan Proses Kontrak melalui EIR dan BEP serta pendekatan bottom-up secara aspek Organisasi dan Personal melalui penguatan kapasitas tenaga ahli modeller, pemberian pelatihan, dukungan manajerial, dan peningkatan mindset kerja kolaboratif.

2025
👤 Penulis: Rahila Sabila Ma'wa
🏷️ Building Information Modeling (Bim) 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Teknologi Digital

POTENSI IMPLEMENTASI BUILDING INFORMATION MODELING (BIM) UNTUK MANAJEMEN ASET GEDUNG DI INDONESIA

Pertumbuhan sektor konstruksi gedung di Indonesia menuntut manajemen aset yang efektif, dengan Building Information Modeling (BIM) sebagai solusi potensial. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi sejauh mana implementasi BIM dalam konstruksi gedung di Indonesia serta potensi dan hambatan penerapannya sebagai instrumen pendukung manajemen aset gedung. Menggunakan pendekatan kualitatif, data diperoleh melalui kuesioner dari pemilik gedung dan konsultan perencana proyek gedung. Hasil penelitian menunjukkan implementasi BIM masih parsial dan terfragmentasi, dominan pada fase desain dan konstruksi awal (3D-5D, LOD 100-400), namun sangat minim untuk fase operasional (6D/7D, LOD 600) bagi kedua subjek. Potensi BIM untuk manajemen aset ditemukan signifikan, didorong kebutuhan strategis pemilik dan efisiensi teknis konsultan. Namun, potensi ini dihambat oleh faktor-faktor fundamental yang menciptakan diskontinuitas informasi. Hambatan utama meliputi kesenjangan pemahaman siklus hidup penuh BIM, keterbatasan aspek teknologi, kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM), dan kebijakan dari kedua belah pihak. Secara keseluruhan, implementasi BIM di Indonesia terkendala fragmentasi dan information handover gap, mencegah pemanfaatan nilai penuhnya sepanjang siklus hidup bangunan.

2025
👤 Penulis: Sanatha Maria Angela L. R.
🏷️ Building Information Modeling (Bim) 🏷️ Manajemen Aset Gedung 🏷️ Hidrologi Konstruksi

PENGEMBANGAN MODEL INTEGRATED PROJECT DELIVERY (IPD) SYSTEM BERBASIS BUILDING INFORMATION MODELING (BIM) DALAM MENINGKATKAN KINERJA PROYEK KONSTRUKSI GEDUNG

Sektor konstruksi memainkan peran strategis dalam perekonomian Indonesia, memberikan kontribusi signifikan terhadap produk domestik bruto nasional. Namun, masih rendahnya kinerja proyek konstruksi, khususnya pada proyek bangunan gedung, menjadi perhatian utama yang menuntut peningkatan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan proyek. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi Project Delivery System (PDS) di Indonesia serta mengkaji pengembangan model Integrated Project Delivery (IPD) System berbasis Building Information Modeling (BIM), sebagai upaya meningkatkan kinerja proyek konstruksi. Studi ini dilakukan dalam dua tahap: pertama, mengidentifikasi sembilan aspek utama PDS yang selama ini belum pernah dikaji secara komprehensif di Indonesia, serta mengaitkannya dengan kontrak konstruksi dan indikator-indikator kinerja proyek yang relevan. Kedua, membandingkan kinerja antara sistem PDS konvensional dengan IPD berbasis BIM berdasarkan sudut pandang berbagai pemangku kepentingan (stakeholder), seperti pemilik proyek, kontraktor, dan konsultan. Tujuan akhirnya adalah merumuskan model IPD berbasis BIM yang sesuai dengan karakteristik proyek konstruksi di Indonesia untuk mengurangi risiko rendahnya kinerja proyek. Data primer dikumpulkan melalui survei daring ke 320 sampel responden yang menyasar para pelaku industri konstruksi, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur akademik dan profesional. Pendekatan metode campuran diterapkan, mencakup analisis kualitatif (pengkodean dan interpretasi naratif) serta analisis kuantitatif menggunakan ANOVA, MANOVA, regresi multivariat, skor rata-rata, dan Analytic Network Process (ANP). Penelitian ini juga menekankan pentingnya fase pra-konstruksi dalam regulasi nasional sebagai landasan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten dan siap berkolaborasi dalam manajemen proyek yang terintegrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IPD berbasis BIM memiliki kontribusi positif terhadap peningkatan efisiensi dan kinerja proyek secara keseluruhan. Namun, beberapa tantangan tetap ditemukan, seperti belum optimalnya pemanfaatan Common Data Environment (CDE), terutama dari sudut pandang pemilik proyek (? = -0,74), serta pentingnya aspek penghargaan dalam sistem PDS konvensional yang sangat berpengaruh terhadap kualitas proyek menurut perspektif kontraktor (? = -0,96). Selain itu, kualitas people & knowledge dan kekuatan kolaboratif antar pemangku kepentingan yang dikunci oleh aspek legalitas juga terbukti sebagai kunci sukses penerapan IPD dan BIM. Penelitian ini menghasilkan model pengembangan PDS dan IPD yang disesuaikan dengan konteks, permasalahan, dan kebutuhan stakeholder di Indonesia. Kebaruan penelitian ini terletak pada perumusan sembilan aspek PDS dan sembilan dimensi kinerja proyek serta pemetaan hubungan kausal antar keduanya berdasarkan sudut pandang pemangku kepentingan. Temuan ini menawarkan kerangka kerja baru dalam meningkatkan sistem pengadaan proyek konstruksi di Indonesia dan mendorong adopsi IPD berbasis BIM sebagai tolok ukur manajemen konstruksi masa depan. Ke depan, penelitian lanjutan diperlukan untuk mengungkap faktor- faktor lain yang memengaruhi hubungan kausalitas antara aspek PDS dan indikator kinerja proyek secara lebih mendalam.

2025
👤 Penulis: Fernando Septony Siregar
🏷️ Integrated Project Delivery (Ipd) System 🏷️ Building Information Modeling (Bim) 🏷️ Manajemen Proyek Konstruksi

STRATEGI UTILISASI BIM UNTUK PENINGKATAN IMPLEMENTASI BANGUNAN GEDUNG HIJAU (BGH) DALAM PROJECT DELIVERY SYSTEM (PDS)

Penerapan bangunan hijau kini menjadi kewajiban dalam sektor konstruksi untuk mengurangi dampak lingkungan, termasuk di Indonesia. Kewajiban penerapan bangunan hijau ini diatur melalui PermenPUPR No.21 Tahun 2021 di Indonesia. Namun, implementasinya masih menghadapi berbagai kendala teknis dan manajerial. Untuk menjawab tantangan ini, pemerintah mendorong penggunaan Building Information Modeling (BIM) yang mendukung efisiensi dan kolaborasi pada proses konstruksi. Dalam penelitian-penelitian sebelumnya, GreenBIM dikembangkan untuk mengintegrasikan prinsip bangunan hijau dengan BIM guna meningkatkan kinerja energi bangunan, tetapi penerapannya masih terbatas karena kurangnya kerangka kerja dan pemahaman proses. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun strategi utilisasi BIM dalam implementasi BGH melalui pendekatan Project Delivery System (PDS), dengan mengidentifikasi konsep dasar hubungan antara BIM, BGH, dan PDS; juga dengan mengevaluasi kondisi eksisting implementasi BIM dan BGH pada proyek-proyek di Indonesia, yang kemudian hasil sintesisnya disusun dalam sebuah strategi yang sesuai. Dalam penelitian ini, metode penelitian yang digunakan ialah metode mix-methods yang menggabungkan metode kualitatif dan kuantitatif. Penelitian menggunakan Summative Content Analysis (SCA) untuk menemukan bahwa dalam hubungan BIM, BGH dan PDS, BIM bersifat mengoptimalkan kinerja BGH melalui peningkatan prinsip PDS. Selain itu, aspek proses menjadi aspek yang sangat penting pada implementasi keduanya dalam proyek, meski dalam penelitian sebelumnya, BIM lebih cenderung dibahas dari segi teknologi. Ini artinya, ketika BIM dihubungkan dengan BGH dan PDS, BIM lebih cenderung dilihat pengaruhnya dalam proses kerja, tidak hanya teknologi belaka. Sementara itu, melalui wawancara, diketahui implementasi BGH dalam proyek-proyek di Indonesia masih memiliki berbagai masalah. Selain adanya perbedaan implementasi BGH per proyek dikarenakan perbedaan keterlibatan TA dan proses kerja, permasalahan utama yang paling mendasar bagi para responden adalah kurangnya peran dan pengalaman tim; disusul permasalahan kurangnya adopsi teknologi dan masih lemahnya regulasi yang mendasari. Selain itu, integrasi antara BGH dan BIM di Indonesia juga belum dilakukan. Jika diintegrasikan, bidang BIM Maturity pada BGH bidang yang paling siap adalah bidang teknologi, sementara bidang paling lemah adalah bidang kebijakan. Ini menunjukkan bahwa aspek kebijakan justru dirasa paling diperlukan untuk dibenahi jika ingin mengimplementasikan GreenBIM. Selain itu, dengan menilik presentase 5 kategori permasalahan utama BGH dan potensi-potensi BIM pada BGH, integrasi BIM pada BGH dapat membantu hingga 65% permasalahan BGH di Indonesia, dengan catatan perlu ada pengoptimalan BIM dalam 3 bidang; teknologi, proses dan kebijakan. Dengan memperhatikan sintesis hasil temuan sebelumnya, strategi utilisasi BIM untuk peningkatan implementasi BGH dalam PDS kemudian disusun. Dalam penyusunan strategi, validasi ahli menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) menggarisbawahi prioritas potensi BIM dalam meningkatkan PDS ialah Layanan Koordinasi dan Integrasi, sementara prinsip Integrated PDS (IPDS) yang paling perlu ditingkatkan untuk mengoptimalkan BGH adalah Kontrak dan Regulasi. Ini mengindikasikan bahwa kedua hal tersebut adalah hal utama yang perlu dicapai dalam penyusunan strategi berikutnya. Dengan menimbang bahwa strategi perlu menyentuh dari aspek kebijakan hingga teknis, maka strategi kemudian disusun secara hierarkis, dari skala makro, meso dan mikro. Strategi makro lebih berfokus pada penguatan regulasi, seperti hasil dari validasi ahli sebelumnya. Strategi meso berfokus pada penguatan koordinasi dalam organisasi/proyek, sedangkan strategi mikro berfokus pada pengembangan individu terhadap kemampuan penggunaan BIM pada BGH. Semua strategi tersebut didasarkan pada hasil temuan baik pada konsep dasar hubungan BIM, BGH dan PDS, maupun pada kondisi eksisting implementasinya di Indonesia. Strategi lebih detail kemudian dijelaskan dengan process mapping menurut hasil sintesis temuan-temuan sebelumnya. Process mapping juga memperhatikan beberapa saran strategi BIM pada BGH, seperti penggunaan PDS terintegrasi, pengutamaan desain hijau pasif, penyusunan alur implementasi BGH yang menyesuaikan pengembangan LOD BIM, dsb. Dengan demikian, strategi diharapkan dapat bersifat menyeluruh karena berangkat dari konsep dasar hubungan BIM, PDS dan BGH serta kondisi eksistingnya di Indonesia.

2025
👤 Penulis: Irene Roselynda Prabarani
🏷️ Project Delivery System (Pds) 🏷️ Bangunan Hijau (Bhg) 🏷️ Building Information Modeling (Bim)

PEMODELAN BIM BERBASIS WEB DARI RAGAM LASER SCANNING UNTUK BANGUNAN BENDUNG GUNA MENDUKUNG MANAJEMEN ASET IRIGASI

Ketahanan pangan menjadi permasalahan di sektor pertanian yang dipengaruhi oleh efisiensi pengelolaan saluran irigasi. Bendung Pataruman di Kota Banjar merupakan infrastruktur yang belum memiliki sistem manajemen aset terstruktur, sehingga berpotensi menurunkan efisiensi distribusi air. Proyek ini bertujuan membangun sistem manajemen aset berbasis Building Information Modeling (BIM) dalam bentuk WebBIM. Metode yang digunakan mencakup survei lapangan dan akuisisi data spasial berupa titik kontrol dari pengukuran GNSS, pemindaian area dengan UAV LiDAR untuk memperoleh Digital Terrain Model (DTM), serta pemindaian bangunan menggunakan TLS, GeoSLAM, dan iPad LiDAR. Dari alat tersebut akan menghasilkan data point cloud yang kemudian dilakukan registrasi, filtering, dan integrasi sehingga menjadi model 3D bangunan. Model ini dilengkapi dengan atribut teknis dan diekspor dalam format IFC (Industry Foundation Classes). Selanjutnya, model diunggah ke platform WebBIM berbasis CesiumJS dengan sistem koordinat global. Hasil implementasi menunjukkan bahwa WebBIM dapat menampilkan informasi spasial dan non-spasial dari bangunan utama, pembagi, dan siphon dalam bentuk 3D BIM. Analisis Geometrik menunjukkan nilai RMSE (Root Mean Square Error) dimensi sebesar 0,032 meter, yang masih berada dalam batas toleransi akurasi geometrik. Sementara itu, pengujian ketelitian koordinat menghasilkan nilai Root Mean Square Error gabungan horizontal (RMSEr) sebesar 0,128 meter. Pengujian fungsionalitas website menggunakan metode black-box menunjukkan seluruh fitur utama berjalan sesuai harapan dan mudah diakses oleh pengguna. Sistem ini berhasil memenuhi tujuannya sebagai alat bantu manajemen aset irigasi yang efisien, informatif, dan berbasis data.

2025
👤 Penulis: Hasyir Saffanah
🏷️ Bendung Irigasi 🏷️ Building Information Modeling (Bim) 🏷️ Analisis Geometri

ANALISIS PENGARUH IMPLEMENTASI TEKNOLOGI BUILDING INFORMATION MODELLING (BIM) TERHADAP KESALAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) UNTUK MEMINIMALISASI TINGKAT KECELAKAAN KERJA PADA TAHAP PELAKSANAAN PROYEK STUDI KASUS: PROYEK KONSTRUKSI GEDUNG ITB INNOVATION PARK

<p align="justify">Konstruksi masih menjadi industri dengan risiko tinggi terhadap kecelakaan yang menimbulkan korban manusia, kerusakan harta benda dan lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian ILO (International Labour Organication) terdapat 60.000 kecelakaan kerja fatal di lokasi proyek konstruksi. Pada tahun 2017, berdasarkan data dari Kementerian PUPR, menyebutkan bahwa di Indonesia sebesar 32% setiap tahun terjadi kasus kecelakaan kerja ini, mengakibatkan sektor konstruksi menjadi sektor penyumbang kasus kecelakaan kerja terbesar. Akan tetapi, perencanaan keselamatan konvensional nampaknya tidak dapat menjamin tingkat kesehatan dan keselamatan yang memadai selama proses konstruksi. Dengan demikian, metode identifikasi yang baru diperlukan sebagai upaya untuk meningkatkan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). BIM membuka peluang untuk mengidentifikasi dan mengatasi potensi bahaya keselamatan yang sulit dicapai dengan metode perencanaan tradisional, seperti pemeriksaan aturan keselamatan dan validasi desain, pendidikan, pelatihan, dan komunikasi. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh dari implementasi teknologi Building Information Modelling (BIM) terhadap Kesalamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sehingga dapat meminimalisasi tingkat kecelakaan kerja pada proyek konstruksi pada tahap pelaksanaan proyek. Untuk menjawab tujuan penelitian ini, digunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif berupa kajian literatur digunakan untuk mengidentifikasi variabel-variabel BIM yang dapat memberikan pengaruh terhadap K3 untuk meminimalisasi tingkat kecelakaan kerja. Metode kuantitatif berupa kuesioner digunakan untuk mengidentifikasi tingkatan pengaruh 8 variabel yang diperoleh dengan metode Relative Importance Index (RII). Selain itu, metode kualitatif juga digunakan dalam bentuk wawancara dan diolah menggunakan software NVIVO 12 Pro untuk memvalidasi hasil kuesioner kepada 8 responden divisi engineering dan 6 responden divisi safety, health, and environment (SHE) pada PT Wika Gedung di Proyek Pembangunan Gedung ITB Innovation Park. Melalui 8 variabel penelitian pengaruh BIM terhadap K3 untuk meminimalisasi tingkat kecelakaan kerja pada tahap pelaksanaan proyek, diperoleh 7 dari 8 variabel terbukti berpengaruh dari hasil kuesioner dan wawancara pada ahli BIM dan K3 di proyek tinjauan. Variabel dengan kode V-5 menjadi variabel dengan tingkatan pengaruh tertinggi yaitu 0,982 berdasarkan analisis RII. Sementara variabel yang sudah diimplementasikan pada proyek tinjauan adalah variabel dengan kode V-4 Komunikasi Keselamatan dan V-5 Pengamatan Keselamatan dan Validasi Desain. Selain itu, berdasarkan hasil wawancara ahli, implementasi BIM akan lebih maksimal memberikan pengaruh kepada K3 apabila diintegrasikan dengan teknologi lain seperti Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR), dan Unmanned Aerial Vehicle (UAV).<p align="justify">

2025
👤 Penulis: Fahry Ranandya Purwandi
🏷️ Kesehatan Dan Keselamatan Kerja 🏷️ Building Information Modeling (Bim) 🏷️ Analisis Reliabilitas Indeks

STUDI POTENSI BUILDING INFORMATION MODELING (BIM) SEBAGAI INSTRUMEN PEMASARAN DALAM PERSPEKTIF PERUSAHAAN KONTRAKTOR BUMN KARYA

Kesulitan mendefinisikan objek transaksi diduga menjadi isu dalam meraih kontrak baru untuk meyakinkan pengguna jasa. Wujud yang samar-samar sulit diproyeksikan karena melibatkan metode konvensional. Keunikan karakteristik pemasaran kon-traktor dibandingkan dengan industri lainnya menuntut pemahaman yang kompre-hensif dalam mengatasi permasalahan pemasaran jasa tersebut. Kesadaran situasional atas BIM sebagai objek visual dan pangkalan informasi berpeluang dilihat untuk mendisrupsi kondisi pasar terkini. Data secara terbatas dihimpun dari 3 (tiga) perus-ahaan yang notabene BUMN Karya melalui pendekatan kualitatif dengan wawancara semiterstruktrur. Potensi dihimpun dari evaluasi kondisi internal perusahaan dari per-spektif Bidang BIM dan Bidang Pemasaran. Potensi pemasaran dianggap berhasil ketika terjadi transaksi antara kontraktor dan klien. Temuan studi menjumpai bahwa ketiga kontraktor cenderung mengadopsi konsep pemasaran demand-pull. Bahkan, mayoritas kontraktor menggunakan BIM atas dasar respons kebijakan pasar publik. Perusahaan lebih tertarik untuk memenuhi permintaan yang telah hadir di pasar dibandingkan dengan menciptakan eksposur yang baru. Walaupun begitu, penelitian ini menemukan celah perbedaan perspektif kedua bidang dalam memproyeksikan peluang BIM sebagai instrumen pemasaran. Sebagai simpulan, BIM dipandang ber-potensi sebagai alat pemasaran untuk merespons pasar berdasarkan kacamata internal perusahaan kontraktor.

2024
👤 Penulis: Fauzi Septama Sis
🏷️ Building Information Modeling (Bim) 🏷️ Pemasaran Jasa 🏷️ Perusahaan Kontraktor Bumn
💬