📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5 dokumen

ANALISIS POTENSI PENERAPAN BUILDING INFORMATION MODELLING (BIM) UNTUK MENDUKUNG INSPEKSI PADA MANAJEMEN ASET GEDUNG: STUDI KASUS GEDUNG X

Manajemen aset gedung memerlukan proses inspeksi yang efektif untuk mendukung pemeliharaan sepanjang siklus hidup bangunan. Namun, pengelolaan aset di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan sehingga pemeliharaan cenderung bersifat reaktif. Di sisi lain, Building Information Modelling (BIM) memiliki potensi sebagai platform pengelolaan informasi aset, tetapi implementasinya masih berfokus pada tahap desain dan konstruksi. Sebagai langkah dalam mengembangkan pemanfaatan BIM pada tahap operasi dan pemeliharaan gedung, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi tahapan inspeksi yang berpotensi didukung oleh BIM serta mengidentifikasi manfaat dan tantangan penerapan BIM dalam mendukung proses inspeksi. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods melalui studi kasus dengan mengevaluasi kesiapan BIM untuk operasi dan pemeliharaan, serta menganalisis potensi penerapan BIM menggunakan metode Fuzzy Synthetic Evaluation dan Simple Additive Weighting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh tahapan inspeksi memiliki potensi tinggi untuk didukung oleh BIM, dengan tahap pengolahan data dan analisis sebagai tahapan yang paling berpotensi. Evaluasi kesiapan BIM menunjukkan Pemanfaatan informasi BIM hingga tahap operasi dan pemeliharaan perlu direncanakan sejak awal proyek melalui penyusunan BIM Execution Plan (BEP). Penelitian ini juga menunjukkan bahwa penerapan BIM memberikan berbagai manfaat dan tantangan pada aspek model, organisasi, informasi, standar, dan integrasi.

2026
👤 Penulis: Dewi Aulia
🏷️ Building Information Modelling (Bim) 🏷️ Manajemen Aset Gedung 🏷️ Inspeksi Gedung

GEOREFERENSI OBJEK BUILDING INFORMATION MODELLING DENGAN GEOSPASIAL DAN PENGARUH TERHADAP KONSISTENSINYA

Integrasi Building Information Modelling (BIM) dengan data geospasial merupakan langkah penting untuk mendukung analisis spasial yang konsisten dan terintegrasi, namun perbedaan sistem koordinat dan referensi geometri sering menimbulkan ketidaksesuaian posisi objek. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsistensi geometri objek BIM setelah dilakukan integrasi dengan sistem geospasial melalui transformasi koordinat tiga dimensi. Metode yang digunakan meliputi penerapan transformasi koordinat 3D dengan menggunakan titik sekutu antara data GNSS dan model BIM lokal. Evaluasi ketelitian dilakukan melalui analisis menggunakan Fisher Exact untuk melihat asosiasi terhadap pengaruh integrasi antara BIM dan GIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kualitas hasil georeferensi dipengaruhi oleh kualitas adjustment data GNSS, perambatan kesalahan, ketelitian penentuan titik sekutu, serta stabilitas model matematik yang digunakan. Kemudian, hasil analisis konsistensi pada geometri, topologi, dan semantik antara BIM dan GEOBIM menunjukkan nilai fisher exact >0,05 yang berarti bahwa tidak ada perbedaan signifikan setelah dilakukan integrasi tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan transformasi koordinat yang tepat dan pemilihan konfigurasi titik sekutu yang optimal sangat berperan dalam meningkatkan konsistensi geometri integrasi BIM dan geospasial, sehingga dapat mendukung pemanfaatan data secara lebih akurat dalam analisis spasial dan perencanaan berbasis geoinformasi.

2026
👤 Penulis: Dinna Maulia
🏷️ Georeferensi 🏷️ Building Information Modelling (Bim) 🏷️ Data Geospasial

OPTIMALISASI EFISIENSI ENERGI DALAM ARSITEKTUR HIJAU MELALUI TOOLS BIM PADA PERANCANGAN FASILITAS ASRAMA MAHASISWA ITB CIREBON

Pengembangan fasilitas asrama mahasiswa di ITB Kampus Cirebon merupakan dampak dari strategi multikampus yang ditempuh Institut Teknologi Bandung untuk mengatasi keterbatasan lahan di Kampus Ganesha. Dengan mayoritas mahasiswa berasal dari luar daerah, kebutuhan hunian yang mendukung aktivitas akademik menjadi sangat penting. Asrama tidak hanya berfungsi sebagai akomodasi, tetapi juga sebagai sarana pembinaan karakter, interaksi sosial, dan peningkatan kualitas hidup mahasiswa. Tantangan muncul karena pembangunan berpotensi menambah beban emisi karbon, mengingat sektor bangunan menyumbang ±39% emisi CO? global. Pendekatan green architecture yang mengutamakan efisiensi energi, penggunaan material ramah lingkungan, dan keselarasan dengan lingkungan alam menjadi relevan. Integrasi teknologi Building Information Modelling (BIM) pada tahap desain, yang dikenal sebagai green BIM, memungkinkan analisis performa bangunan sejak awal, seperti simulasi energi, analisis radiasi matahari, pengujian window-to-wall ratio (WWR), serta perhitungan material. Tujuan proyek ini adalah merancang fasilitas hunian kampus berbasis prinsip arsitektur hijau dengan dukungan analisis BIM guna mencapai performa efisiensi energi yang optimal. Metode yang digunakan adalah performance-based design, memanfaatkan tools dari perangkat lunaak BIM untuk menguji parameter desain seperti orientasi bangunan, sistem sunshading, jenis material, pencahayaan alami. Studi preseden, analisis tapak makro dan mikro, serta simulasi energi dilakukan untuk memvalidasi rancangan. Adapun hasil dari proyek perancangan ini adalah konsep asrama mid-rise dengan sistem koridor double-loaded yang tetap mempertahankan pencahayaan dan penghawaan alami di area koridor. Orientasi bangunan yang dipilih menempatkan sisi panjang bangunan pada arah yang meminimalkan paparan sinar matahari langsung dari jalur timur–barat, sehingga mengurangi beban panas yang tidak diinginkan. Strategi sunshading, khususnya penggunaan desain dinding miring (slanted wall), terbukti melalui analisis insolasi mampu mengurangi paparan matahari sebesar 24,9% dibandingkan orientasi awal. Selain itu, rancangan mengakomodasi penggunaan material lokal sebesar ±21% dari total volume material bangunan, mendukung keberlanjutan sekaligus perekonomian lokal. Proporsi WWR optimal ditetapkan pada kisaran ±30%, yang memberikan keseimbangan antara pemanfaatan pencahayaan alami dan pengendalian beban pendinginan. Seluruh simulasi dan analisis kinerja dilakukan secara terintegrasi di dalam lingkungan model 3D BIM, sehingga setiap keputusan desain dapat dievaluasi secara langsung terhadap konsumsi energi. Pendekatan holistik berbasis data ini menunjukkan bahwa kombinasi prinsip arsitektur hijau dan teknologi BIM dapat menghasilkan fasilitas hunian mahasiswa yang tidak hanya fungsional dan nyaman, tetapi juga hemat energi dan ramah lingkungan.

2025
👤 Penulis: Gina Rei Agnes
🏷️ Arsitektur Hijau 🏷️ Building Information Modelling (Bim) 🏷️ Efisiensi Energi

POTENSI IMPLEMENTASI BUILDING INFORMATION MODELLING (BIM) 7D TERHADAP MANAJEMEN ASET PADA PROYEK INFRASTRUKTUR

Kurangnya integrasi data dari tahap perencanaan hingga operasional dan perawatan menyebabkan rendahnya efektivitas respons terhadap permasalahan pemeliharaan serta meningkatkan risiko kesalahan dalam pengelolaan aset infrastruktur. Di sisi lain, tingkat eksplorasi dan penerapan Building Information Modelling (BIM) di Indonesia masih tergolong rendah. Padahal, BIM berpotensi menjadi solusi strategis dalam meningkatkan efisiensi, menekan biaya operasional, serta memperpanjang umur layan infrastruktur, khususnya dalam konteks manajemen aset. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tingkat adopsi, pemanfaatan, dan integrasi BIM dalam proyek, serta mengidentifikasi potensi implementasinya sebagai instrumen pendukung manajemen aset. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran, yaitu metode kualitatif melalui kajian literatur untuk mengidentifikasi variabel-variabel BIM yang berpotensi mendukung manajemen aset, dan metode kuantitatif melalui penyebaran kuesioner. Tingkat pengaruh masing-masing variabel dianalisis menggunakan metode Relative Importance Index (RII). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan BIM telah diinisiasi baik oleh pihak owner maupun konsultan, namun masih memerlukan pengembangan dan optimalisasi lebih lanjut untuk mencapai implementasi yang efektif dan terintegrasi dalam manajemen aset. Dari sepuluh variabel yang dikaji, delapan di antaranya dinilai berpotensi besar untuk diimplementasikan menurut sudut pandang owner, sementara lima variabel dinilai potensial oleh konsultan perencana.

2025
👤 Penulis: Femus Mahathir
🏷️ Manajemen Aset 🏷️ Building Information Modelling (Bim) 🏷️ Hidrologi

ANALISIS PENJADWALAN-BIAYA DAN PEMANFAATAN BIM PADA KONSTRUKSI MODULAR (STUDI KASUS PT WIJAYA KARYA BANGUNAN GEDUNG TBK)

Sektor konstruksi merupakan salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan kontribusi signifikan terhadap PDB. Akan tetapi, PDB sektor konstruksi mengalami perlambatan setelah memuncak pada tahun 2022. Sektor konstruksi juga sedang mengalami transformasi digital akibat dukungan revolusi industri keempat secara global. Transformasi digital pada sektor konstruksi mengalami ketertinggalan dibandingkan industri lainnya tetapi pada tahun 2019, sektor konstruksi di Indonesia mendapat dorongan dalam pengembangan teknologi dan inovasi akibat pandemi Covid-19, yakni berkembangnya teknologi modular dan Building Information Modelling (BIM). Konstruksi modular sudah diterapkan pada sebagian proyek di Indonesia tetapi masih memiliki ruang untuk peningkatan supaya semakin cepat proses adopsi teknologi ini di Indonesia, terutama pada manfaat yang dirasakan untuk meningkatkan daya tarik masyarakat terhadap teknologi ini. Dalam pelaksanaan konstruksi, pemerintah sudah mewajibkan untuk menerapkan BIM dengan dimensi minimal pada dimensi keempat dan BIM membawakan dampak positif terhadap proses pelaksanaan konstruksi. Manfaat yang paling dirasakan pada konstruksi modular adalah penjadwalan konstruksi tetapi untuk menerapkan teknologi ini perlu ditinjau pula dampak teknologi modular terhadap biaya konstruksi. Proses konstruksi modular umumnya dilakukan dengan adanya integrasi BIM karena dimensi keempat dan kelima pada BIM membawa manfaat yang positif terhadap penjadwalan dan biaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor yang paling mempengaruhi penjadwalan dan biaya konstruksi modular sehingga mengevaluasi proses penjadwalan dan biaya metode tersebut untuk menjadi lebih optimal serta melihat dampak dari implementasi BIM pada proyek konstruksi modular. Data diperoleh melalui data sekunder, studi literatur, kuesioner, dan wawancara. Faktor pengaruh diidentifikasi sebanyak 39 faktor penjadwalan dan 39 faktor biaya melalui studi literatur yang dikelompokkan menjadi 7 (tujuh) kategori dan diolah dengan metode Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) dan dianalisis secara statistik deskriptif untuk menentukan faktor yang paling berpengaruh. Evaluasi penjadwalan dan biaya dapat dilakukan melalui analisis data sekunder proyek modular dan konvensional berupa kurva S dan RAB untuk setiap proyek modular dan konvensional serta data pendukung yang diperoleh dari data wawancara dan studi literatur. Untuk mengetahui dampak dari implementasi BIM dilakukan wawancara pada pelaksana konstruksi dan dukungan studi literatur. Analisis yang dilakukan menghasilkan bahwa faktor yang paling berpengaruh pada penjadwalan konstruksi modular adalah faktor PPH4 (pelaksanaan dan hubungan kerja), faktor yang paling berpengaruh terhadap biaya konstruksi modular adalah faktor BPH1 (pelaksanaan dan hubungan kerja, penjadwalan pada konstruksi modular berdasarkan studi kasus yang dilakukan lebih baik dibandingkan dengan konstruksi konvensional dengan produktivitas 271,6% lebih tinggi akibat pekerjaan pada konstruksi modular yang dapat dilakukan secara paralel dan urutan pekerjaan yang lebih independen dibandingkan konstruksi konvesional, biaya konstruksi modular pada studi kasus lebih tinggi sekitar 1,62 kali dibandingkan konstruksi konvensional akibat kontribusi biaya material pada konstruksi modular yang secara signifikan lebih mahal dibandingkan material konstruksi konvensional, dan saat ini BIM belum diterapkan secara optimal pada konstruksi modular, yakni penerapan BIM saat ini berada pada tahap clash detection dan quantity take-off tetapi memiliki potensi yang sangat besar pada setiap tahapan konstruksi apabila diintegrasikan dan diimplementasikan dengan benar untuk meningkatkan tingkat kepuasan, risiko, biaya, kualitas, dan waktu dari proses konstruksi. Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh, penelitian ini berkontribusi terhadap wawasan terhadap implementasi konstruksi modular di Indonesia

2024
👤 Penulis: Hintama Nathaniel Sunarjo
🏷️ Konstruksi Modular 🏷️ Building Information Modelling (Bim) 🏷️ Analisis Penjadwalan-Biaya
💬