π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4 dokumenPERANCANGAN PEMBARUAN IDENTITAS KOTA DEPOK MELALUI CITY REBRANDING DALAM UPAYA PENGUATAN CITRA KOTA
Konsep city branding merupakan instrumen penting dalam pengelolaan kota. Kota Depok, melalui peluncuran brand "Depok Friendly City" pada tahun 2016, berupaya membangun citra kota yang ramah dan inklusif. Namun, penelitian ini mengidentifikasi adanya kesenjangan merek (brand gap) yang signifikan antara narasi resmi kota dengan citra aktual yang berkembang di masyarakat, di mana Depok justru sering diasosiasikan dengan karakter yang tidak selaras dengan nilai keramahan, bahkan memunculkan label "kota paling absurd" di ruang publik. Kesenjangan ini diperburuk oleh ketiadaan sistem identitas visual yang kuat, konsisten, dan terintegrasi untuk mendukung slogan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kondisi aktual identitas dan citra Kota Depok melalui brand audit berbasis komunikasi visual, merumuskan strategi city rebranding dari hasil analisis kesenjangan, dan mengembangkan sistem identitas visual beserta pedoman implementasinya. Penelitian menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan kerangka Anholt City Brand Hexagon sebagai dasar analisis dan metodologi Double Diamond sebagai kerangka perancangan, didukung survei terhadap 236 responden serta wawancara dengan 9 narasumber. Hasil perancangan berupa sistem identitas visual "depOK", berakar pada etimologi padepokan dan warisan kota pendidikan, mencakup logotype, tipografi khusus (Depok Sans), serta palet warna yang merepresentasikan sebelas kecamatan, dituangkan dalam buku pedoman merek (brand guideline book). Sistem ini diharapkan menjadi kontribusi konseptual bagi pengelolaan komunikasi visual city branding Kota Depok yang lebih konsisten dan relevan, sekaligus memperkuat rasa kepemilikan (sense of belonging) warga.
PERANCANGAN BRAND IDENTITY SEBAGAI BAGIAN DARI CITY BRANDING KABUPATEN JEPARA
Kabupaten Jepara, yang dikenal sebagai "Kota Ukir," memiliki potensi besar dalam seni ukir yang telah diakui secara nasional dan internasional. Namun, potensi ini belum sepenuhnya dioptimalkan untuk membangun citra kota yang kuat melalui strategi city branding. Penelitian ini bertujuan untuk merancang brand identity sebagai bagian dari city branding Kabupaten Jepara. Perancangan ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi dan konsep brand identity sebagai bagian dari city branding Kabupaten Jepara. Selain itu untuk merancang brand identity sebagai elemen visual yang mendukung bagian dari city branding Kabupaten Jepara. Metode yang digunakan adalah pendekatan Double Diamond Design Process, yang mencakup empat tahap: Discover, Define, Develop, dan Deliver. Penelitian ini menggunakan pendekatan competitive identity untuk memahami karakteristik dan potensi lokal Kabupaten Jepara, termasuk budaya, ekonomi kreatif, dan keunikan seni ukir. Data dikumpulkan melalui studi literatur, observasi lapangan, dan wawancara dengan pemangku kepentingan lokal. Hasil perancangan menghasilkan sistem brand identity yang mencakup logo, warna, tipografi, dan elemen grafis lain yang mencerminkan city branding Kabupaten Jepara. Selain itu, pedoman identitas brand dirancang untuk memastikan konsistensi dalam penerapan brand identity pada berbagai media.
PERAN CITY BRANDING TERHADAP MINAT KUNJUNGAN WISATAWAN STUDI PADA KABUPATEN TULANG BAWANG BARAT
City branding merupakan salah satu bentuk pemasaran kota yang berkembang pesat di era modern. Penerapannya bertujuan untuk meningkatkan atau mengubah citra kota, mempromosikan identitas secara unik dan positif, serta meningkatkan daya tarik kota bagi wisatawan, investor, maupun penduduk lokal. Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), yang terletak di Provinsi Lampung, merupakan salah satu daerah yang telah menerapkan kebijakan city branding dengan cukup berhasil. Dengan konsep branding kontemporer yang tetap berakar pada kebudayaan lokal, Tubaba berhasil mengubah citra daerahnya sehingga menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan. Secara khusus daya tarik kota yang dikembangkan melalui city branding menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi minat kunjungan wisatawan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran city branding terhadap minat kunjungan wisatawan dengan menggunakan pendekatan City Brand Hexagon (presence, place, people, potential, pulse, prequesites) dan AIDA Model (attention, interest, desire, action). Metode yang digunakan adalah pendekatan campuran dengan dengan desain sequential exploratory, yang menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atribut dalam City Brand Hexagon, seperti Prensence, Place, dan Pulse, memiliki pengaruh signifikan terhadap minat kunjungan wisatawan. Dengan atribut Pulse yang memiliki pengaruh paling besar, sebanyak 79%. Di sisi lain atribut Potential, People, dan Prerequisites memerlukan pengelolaan yang lebih strategis untuk mengoptimalkan kontribusinya terhadap minat kunjungan wisatawan.
PENERAPAN CITY BRANDING SEBAGAI STRATEGI PENGEMBANGAN PARIWISATA DI KOTA TOMOHON
City branding merupakan upaya menonjolkan potensi dan identitas kota untuk meningkatkan daya saing, membentuk citra, dan menarik wisatawan. Oleh karena itu city branding menjadi strategi yang banyak digunakan kota untuk mengembangkan dan memasarkan pariwisata kotanya. Penelitian ini mengambil studi kasus pada Kota Tomohon yang melakukan branding sebagai Kota Bunga. Pembentukan city branding akan mengacu pada komponennya yang meliputi identity, objctivity, communication, dan coherence. Sehingga pada penelitian ini, akan diidentifikasi penerapan branding Kota Bunga di Kota Tomohon berdasarkan komponen tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan hasil analisis yang dijelaskan secara deskriptif. Selanjutnya, pada penelitian ini akan dirumuskan strategi terkait city branding untuk pengembangan pariwisata di Kota Tomohon berdasarkan hasil identifikasi penerapan city branding yang kemudian dianalisa menggunakan analisis SWOT dan model Unique Selling Proposition (USP). Adapun data untuk mendukung penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara dan kuesioner untuk data primer, serta melalui studi dokumen dan publikasi online untuk data sekunder. Hasil penelitian menunjukan branding Kota Bunga Tomohon selaras dengan identitas kota. Bunga dan pariwisata menjadi keunggulan yang ingin ditonjolkan pemerintah melalui branding tersebut, yang dikomunikasikan secara primer melalui penyelenggaraan event Tomohon International Flower Festival (TIFF) dan secara sekunder melalui keberadaan berbagai taman bunga, tanaman hias pada koridor jalan raya, taman vertikal dan kios-kios bunga, serta kebiasaan masyarakat dalam menggunakan dan menanam bunga hidup. Branding Kota Bunga dibuat untuk memasarkan dan memperkenalkan potensi florikultura dan bunga khas kota Tomohon secara global, didukung dengan slogan βWe Greet The World With Flowersβ. Namun, penerapannya saat ini cenderung terpusat pada pelaksanaan event tahunan TIFF. Selanjutnya hasil analisa model USP atas branding kota bunga Tomohon menunjukan posisi brand dalam kategori risky yang berarti dibutuhkan strategi untuk semakin menonjolkan keunggulan brand dan strategi untuk dapat bersaing dengan kompetitornya. Dirumuskanlah 9 (sembilan) strategi untuk pengembangan pariwisata di Kota Tomohon dengan branding sebagai kota bunga, yang meliputi; 1) Menekankan identitas bunga melalui logo, slogan, dan kampanye; 2) Meningkatkan citra kota bunga melalui ruang dan gerbang kota; 3) Meningkatkan kualitas promosi dan pemasaran Kota Bunga Tomohon; 4) Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pariwisata dan branding kota; 5) Meningkatkan aktivitas wisata yang merefleksikan kota bunga; 6) Mengembangkan segementasi wisatawan untuk menciptakan paket wisata yang seusai kebutuhan; 7) Menciptakan branding kota yang berkelanjutan melalui program monitoring dan evaluasi; 8) Meningkatkan kerja sama untuk mendorong investasi; dan 9) Mengembangkan teknologi pintar basis digital untuk edukasi dan penyebaran branding kota bunga.