πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5 dokumen

ANALISIS EFISIENSI DAN DINAMIKA PRODUKTIVITAS BANK UMUM KONVENSIONAL DI INDONESIA MENGGUNAKAN DATA ENVELOPMENT ANALYSIS DAN MALMQUIST PRODUCTIVITY INDEX

Penelitian ini menganalisis efisiensi, dinamika produktivitas, dan stabilitas posisi relatif 25 bank umum konvensional di Indonesia selama periode 2017-2024. Data yang bersumber dari laporan keuangan tahunan audited dianalisis dengan value-added approach, menggunakan dua variabel input dan dua variabel output. Efisiensi diukur melalui DEA model CCR dan BCC secara input-oriented, beserta scale efficiency dan klasifikasi returns to scale. Produktivitas dianalisis melalui MPI dan dekomposisinya, sedangkan stabilitas posisi relatif diukur menggunakan ranking dan korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi efisiensi antarbank dan peran skala operasi dalam menjelaskan inefisiensi. Dari 200 observasi, 52% berada pada kondisi DRS, 30% IRS, dan 18% CRS. Geometric mean TFPCH tertinggi terjadi pada transisi 2020-2021, sedangkan nilai terendah terjadi pada 2022-2023. Pada 2024, produktivitas kumulatif sampel masih sekitar 10% di atas tahun dasar 2017. Dekomposisi MPI menunjukkan TECHCH lebih dominan pada sebagian besar transisi. Analisis Spearman menunjukkan bahwa ranking efisiensi statis lebih stabil dibandingkan ranking produktivitas kumulatif dinamis. Hasil ini menunjukkan bahwa efisiensi dan perubahan produktivitas perlu dibaca secara komplementer.

2026
πŸ‘€ Penulis: Anastasia Deandra Rustam
🏷️ Data Envelopment Analysis (Dea) 🏷️ Mpi (Maluski Malmquist Productivity Index) 🏷️ Efisiensi Operasional Bank

PENGEMBANGAN MODEL OPTIMISASI ALOKASI SUMBER DAYA UNIT KERJA AKADEMIK INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG DENGAN METODE DATA ENVELOPMENT ANALYSIS DAN MULTI-OBJECTIVE LINEAR PROGRAMMING

Institut Teknologi Bandung (ITB) adalah institusi pendidikan yang telah berdiri lebih dari 100 tahun di Indonesia. ITB bergerak melalui arah pengembangan yang dituang pada Rencana Induk Pengembangan (RENIP) untuk jangka waktu 25 tahun ke depan, yang kemudian dijabarkan ke dalam Rencana Strategis (Renstra) untuk periode 5 tahun, dan kemudian diterjemahkan ke dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT). Salah satu tantangan utama dalam penyusunan RKAT adalah menentukan alokasi anggaran yang diterima suatu unit kerja, yang digunakan oleh unit kerja tersebut untuk merealisasikan output kinerja. Keterbatasan anggaran yang ada menjadi isu yang mendorong problemowner (Direktorat Perencanaan ITB) untuk bisa membuat suatu sistem alokasi sumber daya yang bertujuan untuk memaksimalkan realisasi output secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model matematis yang dapat digunakan untuk menetapkan alokasi anggaran tahunan ITB guna memaksimalkan pencapaian output kinerja unit-unit kerja, khususnya Unit Kerja Akademik (UKA) yang menjalankan secara langsung kegiatan tridarma perguruan tinggi. Proses pengembangan model memanfaatkan model referensi untuk menyusun suatu metode yang mengintegrasikan realisasi output UKA dan batasan anggaran yang tersedia. Model dikembangkan dengan mengintegrasikan Data Envelopment Analysis (DEA) untuk memperoleh skor inefisiensi (dua model DEA) dan Multi-Objective Linear Programming (MOLP) untuk realokasi sumber daya (empat model MOLP) dengan mengacu pada model referensi Korhonen & SyrjΓ€nen (2004). Dengan menggunakan model yang dikembangkan, dapat diidentifikasi unit-unit kerja yang sudah efisien dan yang belum efisien dalam memanfaatkan sumber daya yang diberikan. Dengan model yang dikembangkan dapat dilakukan percobaan untuk menentukan besaran penambahan atau pengurangan anggaran yang mempertimbangkan kapabilitas dan skala unit. Pada uji coba realokasi, persentase DMU yang mengalami pengurangan anggaran tercatat sebesar 27,10% (Model 1), 25,87% (Model 2), 36,41% (Model 3), dan 37,13% (Model 4); sedangkan pada realokasi berbasis tridharma, persentase DMU yang mengalami pengurangan anggaran adalah 28,47% (pendidikan), 44,38% (penelitian), dan 28,36% (pengabdian masyarakat). Secara keseluruhan, model dan algoritma yang dikembangkan mampu membentuk sistem optimisasi alokasi sumber daya yang mempertimbangkan kondisi total anggaran, batas bawah dan batas atas perubahan anggaran tiap unit, serta asumsi kebijakan yang ditetapkan problem-owner, sehingga dapat menjadi dasar alokasi yang lebih berbasis kinerja dan transparan.

2026
πŸ‘€ Penulis: Billy Hadinata
🏷️ Data Envelopment Analysis (Dea) 🏷️ Multi-Objective Linear Programming (Molp) 🏷️ Kepemimpinan Akademik

PENGEMBANGAN MODEL EVALUASI SUBSIDI ANGKUTAN UDARA PERINTIS PENUMPANG

Program angkutan udara perintis penumpang merupakan instrumen strategis dalam membangun konektivitas wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Indonesia. Layanan ini membuka aksesibilitas transportasi udara bagi masyarakat di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur, jarak tempuh yang jauh, dan moda transportasi alternatif yang minim. Di tengah peran strategisnya, kebijakan subsidi untuk rute perintis memerlukan evaluasi yang tepat agar dana publik yang digunakan dapat memberikan manfaat maksimal. Namun, evaluasi kelayakan rute bersubsidi yang dilakukan selama ini umumnya masih menggunakan pendekatan deskriptif dan indikator tunggal seperti tingkat okupansi penumpang. Pendekatan tersebut kurang mempertimbangkan keterkaitan multidimensi antara besaran subsidi, cakupan populasi, dan kondisi aksesibilitas wilayah, sehingga berisiko menghasilkan penilaian yang kurang objektif dan tidak sepenuhnya mencerminkan kebutuhan konektivitas riil di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka evaluasi subsidi angkutan udara perintis yang lebih objektif, kuantitatif, dan kontekstual melalui penerapan Data Envelopment Analysis (DEA). DEA dipilih karena kemampuannya dalam mengukur efisiensi relatif antar unit layanan dengan mempertimbangkan hubungan simultan antara variabel input dan output. Dalam kerangka yang dikembangkan, variabel input mencakup nilai subsidi, cakupan populasi, dan indeks kesinambungan yang merupakan suatu indikator komposit yang merepresentasikan kebutuhan konektivitas wilayah. Indeks kesinambungan ini dibangun menggunakan metode Principal Component Analysis (PCA) dari tiga komponen utama: waktu tempuh, frekuensi penerbangan, dan biaya perjalanan. Pemilihan ketiga komponen ini didasarkan pada kemampuannya untuk menggambarkan tingkat keterpencilan dan keterbatasan akses transportasi secara langsung, sehingga indeks yang dihasilkan ringkas namun relevan secara kontekstual. Variabel output dalam model ini adalah tingkat okupansi penumpang. Integrasi indeks kesinambungan ke dalam kerangka DEA menjadi kebaruan utama penelitian ini, karena memungkinkan evaluasi yang tidak hanya berfokus pada efisiensi teknis, tetapi juga memasukkan dimensi urgensi layanan berdasarkan kondisi aksesibilitas aktual. Dengan demikian, model ini memberikan perspektif yang lebih adil terhadap rute yang melayani wilayah dengan keterbatasan akses tinggi. ii Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat rute ber okupansi rendah yang tetap dinilai efisien karena menggunakan subsidi yang relatif kecil dan melayani daerah dengan akses transportasi yang sangat terbatas. Sebaliknya, ada rute dengan okupansi tinggi yang tidak termasuk kategori efisien akibat konsumsi subsidi yang tidak sebanding dengan manfaat konektivitas yang diberikan. Temuan ini menegaskan bahwa penggunaan indikator tunggal seperti okupansi tidak cukup untuk menilai efisiensi subsidi rute perintis. Model yang dikembangkan juga terbukti sensitif terhadap variasi indeks kesinambungan, sehingga mampu mengakomodasi perbedaan karakteristik antarwilayah dan memberikan hasil evaluasi yang lebih kontekstual. Dari sisi metodologis, penelitian ini memberikan kontribusi berupa pengayaan DEA dengan dimensi aksesibilitas berbasis PCA yang dirancang sesuai karakteristik layanan udara perintis di wilayah 3T. Dari sisi praktis, kerangka evaluasi ini dapat menjadi alat bantu bagi pembuat kebijakan dalam menetapkan prioritas subsidi secara lebih tepat sasaran, efektif, dan berkelanjutan.

2025
πŸ‘€ Penulis: Aditya Sentanu Murti A
🏷️ Data Envelopment Analysis (Dea) 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

EVALUASI LAYANAN ANGKUTAN SEKOLAH BERDASARKAN TINGKAT PEMENUHAN KEBUTUHAN PERGERAKAN PENGGUNA (STUDI KASUS BUS SEKOLAH DI KOTA JAKARTA TIMUR)

Keberadaan angkutan sekolah memberikan kemudahan transportasi dan menjadi alternatif moda bepergian/pulang sekolah bagi pelajar, utamanya bagi pelajar yang telah memiliki kemandirian dalam bermobilitas. Angkutan sekolah membutuhkan perencanaan secara komprehensif dengan memerhatikan kompleksitas perjalanan yang antara lain terdiri dari jam masuk/pulang sekolah yang berbeda-beda, ketidakpastian jumlah penumpang, tingkat keamanan dan keselamatan yang perlu disediakan bagi pelajar, dan lokasi pemukiman pelajar untuk dilayani. Mengingat kompleksitas tersebut, perlu dilakukan evaluasi yang bersifat komprehensif terhadap layanan eksisting suatu angkutan sekolah untuk menentukan strategi yang tepat dalam upaya mengoptimalkan layanan bagi pengguna. Layanan angkutan sekolah telah umum diterapkan di perkotaan di dunia, tak terlepas di perkotaan Indonesia, salah satunya di Provinsi DKI Jakarta yang mulai beroperasi sejak tahun 2007. Penyelenggaraan bus sekolah di Jakarta didasari kebutuhan penyediaan fasilitas transportasi yang selamat, aman, dan layak dengan biaya yang terjangkau atau gratis bagi pelajar. Sebagai kota administrasi terbesar dengan jumlah penduduk dan sekolah terbanyak di DKI Jakarta, Kota Jakarta Timur menjadi wilayah strategis untuk dijadikan fokus penelitian. Mengacu pada visi pemerintah agar angkutan sekolah mampu melayani seluruh pelajar, dilakukan evaluasi layanan bus sekolah di Kota Jakarta Timur yang untuk mengetahui sejauh mana layanan bus sekolah telah memenuhi kebutuhan pelajar di Wilayah Kota Jakarta Timur dalam melakukan pergerakan bersekolah. Evaluasi dilakukan terhadap cakupan layanan dengan analisis berbasis spasial, terhadap gap antara tingkat ketersediaan (supply) dan permintaan (demand), serta terhadap kinerja rute angkutan dengan analisis operasional rute (waktu antara), dan Data Envelopment Analysis (DEA) untuk mengetahui tingkat efektivitas rute. Hasil evaluasi tersebut kemudian dijadikan dasar menentukan strategi pengoptimalan layanan dengan mengacu pada tingkat kepentingan kriteria layanan yang diperoleh dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) terhadap tujuh ahli/pelaku transportasi sebagai responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria ketersediaan layanan (availability) merupakan prioritas utama dalam pengoptimalan layanan bus sekolah, diikuti oleh ketepatan waktu (punctuality), konektivitas, dan kemudahan pergerakan (connectivity dan convenience). Rekomendasi yang muncul kemudian disusun ke dalam level prioritas mengikuti pembobotan tingkat kepentingan yang berdasar pada hasil evaluasi, secara berturut-turut yaitu perluasan cakupan layanan pada zona yang tidak maupun kurang terlayani, penambahan jumlah armada, dan integrasi moda yang disertai dengan peningkatan infrastaruktur pejalan kaki.

2024
πŸ‘€ Penulis: Nadia Qamilla
🏷️ Angkutan Sekolah 🏷️ Analisis Operasional Rute 🏷️ Data Envelopment Analysis (Dea)

PENENTUAN EFISIENSI KINERJA TIM SALES PADA BANK SWASTA DI INDONESIA MENGGUNAKAN MODEL DATA ENVELOPMENT ANALYSIS (DEA)

Kemampuan bank untuk mencatatkan keuntungan perusahaan (profit) ditentukan oleh seberapa baik tim sales menghasilkan pendapatan (revenue). Bank Privat, sebuah bank swasta di Indonesia, mendapati adanya perbedaan signifikan dalam performa dari tim sales. Meskipun metode distribusi target yang sama telah diaplikasikan ke seluruh cabang di Indonesia, kesenjangan dari hasil performa antara cabang masih terlihat. Situasi ini menandakan adanya perbedaan dari efisiensi performa dari tim sales atau Relationship Manager pada cabang tersebut. Analisa ini berfokus pada enam belas (16) cabang Bank Privat di Jakarta. Menggunakan dua tahapan perhitungan model Data Envelopment Analysis (DEA), kalkulasi ini menggunakan input, perantara, dan output yang diambil dari data masing-masing cabang. Dikarenakan hasil dari performa cabang sangat bergantung pada anggota tim sales, jumlah dari Relationship Manager pada masing-masing cabang akan digunakan sebagai variabel input. Aktivitas penjualan yang dilakukan oleh tim sales untuk meningkatkan saldo simpanan, pinjaman, dan investasi, serta jumlah nasabah baru di masing-masing cabang digunakan sebagai variabel perantara, karena aktivitas ini yang akan meningkatkan output (revenue). Menggunakan hasil perhitungan dari model DEA, beberapa cabang menunjukkan nilai efisiensi yang sempurna dalam proses perubahan input menjadi variabel perantara, dan variabel perantara menjadi output. Cabang dengan nilai efisiensi sempurna ini dibandingkan dengan cabang lainnya dari beberapa perspektif: demografi, kompetensi, dan kepribadian dari tim sales. Hasil menunjukkan bahwa cabang dengan nilai efisiensi sempurna memiliki jumlah Relationship Manager yang memiliki masa kerja lebih pendek dan pengalaman bekerja di Bank Nasional sebelum memulai karir di Bank Privat. Penelitian ini juga membahas kemungkinan adanya perbedaan dari kepribadian tim sales yang memiliki nilai efisiensi sempurna. Hasil dari hasil perhitungan model DEA dapat digunakan untuk implementasi lebih lanjut dalam meningkatkan kualitas talenta tim sales.

2024
πŸ‘€ Penulis: Salsabila Raihana Radian
🏷️ Data Envelopment Analysis (Dea) 🏷️ Efisiensi Kinerja Tim Sales 🏷️ Analisis Manajemen Rantai Pasok
πŸ’¬