📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 3 dokumen

PERANCANGAN SISTEM DAUR ULANG AIR PADA KERETA NEW GENERATION

Kereta merupakan moda transportasi darat yang unggul dalam perjalanan jauh. Perjalanan jauh menggunakan kereta membutuhkan fasilitas toilet yang menggunakan air dan menghasilkan limbah. Saat ini hanya limbah blackwater dari kereta yang ditampung. Interval pengurasan tangki septik yang lama menandakan bahwa ada limbah yang terbuang ke badan. Sistem daur ulang air dapat mengatasi masalah limbah yang terbuang ke badan rel serta pengisisan air selama perjalanan. Namun belum banyak karya tulis ilmiah yang membahas kebutuhan komponen, batasan sistem, interval perawatan, dan biaya perawatan untuk sistem daur ulang air pada kereta. Tugas sarjana ini menyelidiki tiga alternatif sistem daur ulang menggunakan membran ultrafiltrasi dan reverse osmosis dengan rangkaian berbeda. Kebutuhan komponen, batasan sistem, interval perawatan, dan biaya perawatan ditentukan berdasarkan studi literatur yang disesuaikan dengan kondisi implementasi sistem daur ulang air pada kereta dengan 50 penumpang dan durasi satu perjalanan sekitar 12 jam. Batasan durasi operasi desain alternatif sistem daur ulang air ultrafiltrasi, reverse osmosis, dan ultrafiltrasi dengan reverse osmosis yaitu dua hari, lima hari, dan lima hari. Jenis, interval, dan biaya perawatan yaitu penggantian pre-filter setiap satu hari, backwash membran ultrafiltrasi setiap satu hari, pengurasan dan pengisian tangki air setiap dua hari, serta penggantian membran ultrafiltrasi setiap 25 hari dengan biaya Rp 1.105.000 per bulan untuk alternatif ultrafiltrasi; penggantian pre-filter setiap satu hari, pengurasan dan pengisian tangki air setiap lima hari, serta penggantian membran reverse osmosis setiap bulan dengan biaya Rp 551.000 per bulan untuk alternatif reverse osmosis; penggantian pre-filter setiap satu hari, backwash membran ultrafiltrasi setiap satu hari, pengurasan dan pengisian tangki air setiap lima hari, penggantian membran ultrafiltrasi setiap 25 hari, serta penggantian membran reverse osmosis setiap tahun dengan biaya Rp 1.106.000 per bulan untuk alternatif ultrafiltrasi dengan reverse osmosis.

2026
👤 Penulis: Adri Fathudien
🏷️ Kereta 🏷️ Daur Ulang Air 🏷️ Desain Sistem Tekhnologi

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI SANITASI DENGAN PENDEKATAN WATER-SENSITIVE DESIGN (STUDI KASUS PERMUKIMAN KUMUH KOTA BIMA, KOTA PONTIANAK DAN KOTA MANADO)

Pertumbuhan penduduk di perkotaan, dapat menimbulkan pertumbuhan pemukiman kumuh. Salah satu penyebab dari kondisi ini adalah infrastruktur sanitasi yang tidak memadai. Pemenuhan sanitasi yang memadai dan berkelanjutan dilakukan salah satunya dengan penyediaan teknologi. Pendekatan Water-Sensitive Design (WSD) menawarkan kerangka kerja yang menjanjikan untuk memenuhi tantangan ini. Menekankan keberlanjutan, integrasi siklus air alami, dan meminimalkan dampak lingkungan. Pendekatan ini melibatkan evaluasi menyeluruh terhadap tantangan pengelolaan air yang ada dan kelangsungan jangka panjang sistem air dan sanitasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengembangan teknologi sanitasi yang berkelanjutan pada suatu pemukiman kumuh dengan memperhatikan aspek WSD, karakteristik kawasan dan dukungan pemangku kepentingan. Melalui penelitian ini diharapkan teknologi sanitasi yang dikembangkan dengan pendekatan WSD dapat diaplikasikan oleh pengguna secara berkelanjutan, sehingga dapat memenuhi kebutuhan sarana sanitasi dan mengurangi pencemaran pada lingkungan. Tiga lokasi kota studi dipilih sebagai studi kasus, berdasarkan kajian Bank Dunia tahun 2018 mengenai lokasi-lokasi kota yang memiliki pemukiman kumuh dan memiliki masalah sensitivitas air. Kota studi tersebut adalah Kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat; Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara, dan Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Penelitian pengembangan teknologi dilakukan dalam tiga tahapan utama. Tahapan pertama melalui identifikasi dan observasi terhadap karakteristik kawasan dan masalah sanitasi dari setiap lokasi studi pemukiman kumuh. Identifikasi menggunakan kuesioner tertutup berbasis Environmental Health and Risk Asessment (EHRA). Identifikasi juga dilakukan terhadap peran serta pemangku kepentingan dalam mendukung pengelolaan sanitasi di pemukiman kumuh dengan menggunakan metode analisis pemangku kepentingan, power interest matrix dan social network analysis (SNA). Hasil identifikasi mendapatkan semua pemukiman kumuh berada pada lokasi yang spesifik dan memiliki masalah sensitivitas air. Lokasi pemukiman kumuh kerap terjadi banjir, dengan keterbatasan pengolahan air limbah domestik dapat menyebabkan masalah pencemaran pada sumber air dan lingkungan. Sementara itu, identifikasi pemangku kepentingan mendapatkan instansi pemerintah menjadi aktor kunci kelompok pemangku kepentingan dalam menangani permasalahan sanitasi di pemukiman kumuh. Tahapan kedua adalah pengujian yang diawali dengan pemilihan lokasi fokus dan teknologi sanitasi yang sesuai kondisi lokasi. Tambelan Sampit, Kota Pontianak terpilih sebagai lokasi fokus uji coba pengembangan teknologi, dengan memperhatikan risiko sanitasi dan dukungan pemangku kepentingan. Teknologi sanitasi terpilih yakni Tripikon-S, dipilih sebagai solusi yang sesuai untuk kondisi sanitasi di Tambelan Sampit, Pontianak, sebuah wilayah dengan tipologi pemukiman di tepi sungai. Tripikon-S memiliki kemampuan untuk mengurangi pencemaran dengan pembangunan yang mudah, sesuai kondisi lokasi, biaya yang lebih murah, dan pemeliharaan yang memadai. Modifikasi Tripikon-S dengan pendekatan WSD melalui penambahan filter ijuk dan media terlekat, menggunakan media alami seperti batu apung dan media buatan bioball. Pada pengujian batch anaerob untuk sampel blackwater artifisial, penyisihan organik COD rata-rata 84%-98%. Pada pengujian dengan aliran kontinu, dengan sampel limbah blackwater dan mixed wastewater artifisial penyisihan organik COD berkisar antara 30%-60%. Tripikon-S diuji coba di pemukiman kumuh Tambelan Sampit, Pontianak, pada skala lapangan dengan penambahan bioball dan ijuk pada sistem Tripikon-S. Hasil pengujian lapangan menunjukkan penyisihan COD mencapai 80% dan total coli mencapai 100%, menunjukkan potensi Tripikon-S untuk daur ulang air dan peningkatan kualitas air buangan dibandingkan praktik yang umum dilakukan warga di lokasi studi. Tahap terakhir adalah evaluasi potensi keberlanjutan, mencakup evaluasi penerimaan dan optimalisasi pemberdayaan masyarakat untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan sanitasi dalam jangka panjang. Penggunaan model UTAUT dengan pendekatan SEM-PLS mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang memengaruhi penerimaan masyarakat terhadap teknologi ini. Hasil penelitian, faktor social influence dan facilitating condition menjadi faktor kunci dalam mendorong perubahan perilaku dan adopsi teknologi sanitasi. Sementara, faktor pendukung partisipasi pemberdayaan masyarakat untuk keberlanjutan pengelolaan air limbah domestik menggunakan teknologi sanitasi adalah opportunity structure atau keberadaan kesempatan oleh pemangku kepentingan, dengan demikian dukungan dari pihak lain selain rumah tangga pemilik rumah akan mendukung pengembangan teknologi sanitasi di pemukiman kumuh, terutama di lokasi studi di Kota Pontianak. Pengembangan teknologi sanitasi dengan pendekatan WSD di pemukiman kumuh telah dibuktikan di lokasi studi terpilih dapat digunakan dan diterima masyakat ketika teknologi dipilih berdasarkan hasil identifikasi lokasi, melalui tahapan ujicoba dan pembangunan telah dikomunikasikan dengan pemangku kepentingan serta masyarakat.

2025
👤 Penulis: Nico Halomoan
🏷️ Pendidikan Sanitasi 🏷️ Analisis Pemangku Kepentingan 🏷️ Daur Ulang Air

PERANCANGAN SISTEM PLAMBING AIR BERSIH, AIR BUANGAN, VENT, AIR HUJAN, DAN SISTEM PEMADAM KEBAKARAN PADA GEDUNG PERPUSTAKAAN UMUM DI ALAM SUTERA

Gedung Perpustakaan Umum Alam Sutera merupakan gedung perpustakaan yang diperuntukan untuk menciptakan ruang publik sehingga tercipta lingkungan sosial yang interaktif. Bangunan dengan luas tapak sekitar 14.000 m2 terdiri dari lantai basement, lantai dasar, lantai mezzanine, lantai 1, dan lantai 2. Sistem plambing yang digunakan untuk penyediaan air bersih adalah dengan menggunakan tangki atap dengan dua sumber air yaitu air bersih dari PDAM Tirta Kerta Raharja serta air hasil daur ulang. Kebutuhan air untuk Gedung perpustakaan adalah sebesar 33,49 m3 . Volume tangki bawah air bersih yang dibutuhkan adalah 20 m3 dan untuk tangki atas air bersih sebesar 5 m3 , sedangkan untuk tangki bawah air daur ulang adalah 19 m3 dan untuk tangki atas air daur ulang adalah 3 m3 . Untuk air buangan digunakan sistem plambing terpisah antara air kotor dan air bekas. Timbulan air buangan dari sumber air PDAM sebesar 26,79 m3 /hari dengan timbulan air bekas sebesar 21,43 m3 /hari. Vent digunakan sistem loop. Air hujan akan masuk ke dalam roofdrain dan dialirkan oleh pipa tegak air hujan yang kemudian akan masuk ke dalam tangki bawah daur ulang. Adapun jumlah sprinkler yang dibutuhkan yaitu 702 sprinkler. Rencana anggaran biaya yang diperlukan sebesar Rp. 3.063.579.102

2024
👤 Penulis: Nadhifa Azka Aulia
🏷️ Bangunan 🏷️ Sistem Plambing Air Bersih Dan Buangan 🏷️ Daur Ulang Air
💬