📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 4 dokumen

PEMODELAN MEKANISME DEFORMASI POST - SEISMIC DARI GEMPA BENGKULU 2007

Kepulauan Sumatra merupakan salah satu daerah dengan aktivitas tektonik paling aktif di dunia. Kepulauan Sumatra berada pada sekitar pertemuan dua buah lempeng, yaitu lempeng benua Eurasia dan lempeng samudra indoaustralia (zona subduksi), sehingga di Kepulauan tersebut sering terjadi gempa. Pada tahun tanggal 12 September 2007 telah terjadi gempa besar dengan Magnitude 8.4 yang disusul dengan gempa magnitude 7.8 dan 7.1 pada keesokan harinya. Gempa tersebut telah menelan ratusan korban jiwa, merusak infrastruktur yang ada. Untuk meminimalkan dampak dari bencana alam gempa bumi, baik itu pada saat gempa maupun setelah kejadian gempa, maka dirasa perlu untuk mempelajari mekanisme dari proses kejadian gempa tersebut. Gempa bumi selalu terjadi secara berulang, diawali dengan kejadian interseismik, coseismik dan kemudian postseismik. Pada setiap tahap kejadian gempa tersebut, biasanya selalu diikuti dengan perubahan posisi yang disebut dengan proses deformasi. Teknologi GPS dapat digunakan untuk mengamati setiap tahap kejadian gempa berdasarkan perubahan posisi yang disebabkan oleh gempa tersebut. Tahapan postseismik, sebagai tahap pelepasan energi gempa dapat terus dipantau berdasarkan perubahan posisinya untuk mempelajari gempa yang terjadi secara labih detail. Dengan data yang cukup tahapan deformasi postseismik dapat dimodelkan untuk selanjutnya dapat digunakan untuk memprediksi lama dari kejadian deformasi postseismik tersebut pada area yang terkena dampak gempa. Sehingga besarnya perkiraan pergeseran pada suatu waktu dan kapan perkiraan tahapan postseismik akan berakhir untuk selanjutnya gempa mengalami perulangan kembali dapat diketahui.

2026
👤 Penulis: Dede Gunawan
🏷️ Geofisika 🏷️ Deformasi Tanah 🏷️ Teknologi Gps

PENENTUAN LAJU GESER DAN KEDALAMAN KUNCIAN (LOCKING DEPTH) SESAR PALU-KORO BERDASARKAN DATA GPS

Pulau Sulawesi yang memiliki daerah patahan terbanyak di wilayah timur Indonesia sarat dengan aktivitas tektonik. Hal itu karena pulau Sulawesi merupakan bagian dari wilayah Indonesia Timur yang berada pada kawasan pusat pertemuan tiga (3) lempeng tektonik yaitu lempeng Hindia-Australia, lempeng Pasifik dan lempeng Eurasia. Hasil dari aktivitas tektonik yang terjadi yaitu terbentuknya sesar yang tersebar di wilayah pulau Sulawesi, salah satunya sesar yang cukup aktif yaitu sesar Palu – Koro yang berada di wilayah Sulawesi Tengah.Sesar Palu-Koro sebagai salah satu bagian dari studi geodinamika dapat diamati pergerakannya secara teliti dengan menggunakan GPS (Global Positoning System). Berdasarkan data pengamatan GPS pada tahun 2005, 2006, dan 2007, titik-titik pengamatan GPS yang tersebar di sekitar sesar mengalami pergerakan horizontal yang berkisar antara 10 – 30 mm/tahun. Hasil vektor pergerakan sesar juga memperlihatkan bahwa sesar Palu-Koro ini termasuk kedalam jenis sesar geser mengiri (Left-lateral-strike-slip fault).Analisis deformasi dalam Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengindikasi pola pergerakan deformasi sesar, serta menghitung laju geser (slip rate) maupun kedalaman bidang sesar yang terkunci (locking depth). Berdasarkan penghitungan, sesar Palu-Koro memiliki laju geser sebesar 32-36 mm/tahun yang terkunci pada kedalaman 5-6 km. Analisis deformasi ini bermanfaat untuk memprediksi kekuatan gempa bumi yang terjadi di sekitar sesar dalam jangka waktu yang panjang.

2026
👤 Penulis: SILVYA RAHAYU RIZKY (NIM 15105049); Pembimbing: Ir. Dina A Sarsito, MT., dan Dr. Ir. Irwan Meilano,
🏷️ Tektonika 🏷️ Geodinamika 🏷️ Deformasi Tanah

PEMODELAN DEFORMASI AKIBAT PENGARUH SUBDUKSI DI JAWA BARAT BERDASARKAN PENGAMATAN GPS TAHUN 2006-2009

Bagian barat Indonesia merupakan wilayah dari batas lempeng antara lempeng Australia dan lempeng Sunda (Eurasia) dengan aktivitas seismik yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh adanya subduksi dari lempeng tektonik yang terus berlangsung sampai ke selatan dan tenggara sepanjang Palung Jawa. Daerah Jawa bagian barat sendiri sebenarnya memiliki karakteristik seismik yang unik. Tidak seperti daerah-daerah di Pulau Sumatra yang merupakan daerah rawan gempa karena sering terjadi gempa dengan magnitude yang besar, daerah Jawa bagian Barat ini jarang terjadi gempa. Gempa yang terjadi pun biasanya dalam magnitude yang lebih kecil dibandingkan dengan gempabumi di Sumatra. Tetapi, di Jawa bagian Barat juga pernah terjadi gempa dengan skala kerusakan yang besar, seperti gempa Pangandaran (17 Juli 2006) dan yang terbaru gempa Tasikmalaya (2 September 2009). Untuk itu masih perlu diselidiki lebih lanjut pola deformasi pada zona subduksi di Jawa Barat. Untuk menyelidiki pola deformasi tersebut, maka dilakukan pengukuran GPS dengan teknik differensial menggunakan metode jaring. Titik-titik tersebut diukur secara kontinyu dan episodik, kemudian data titik hasil pengamatan GPS di bagian barat Pulau Jawa kemudian diolah dengan software ilmiah Bernese. Selanjutnya dilakukan perhitungan vektor pergeseran dan nilai parameter regangan sehingga tingkat rekatan pada zona subduksinya dapat dimodelkan. Berdasarkan nilai pergeseran dari titik-titik pengamatan, bagian barat Pulau Jawa berkisar 1-6 cm/tahun dominan ke arah Tenggara. Berdasarkan hasil pola regangannya, bagian Barat Jawa dominan mengalami regangan dan tingkat rekatan yang terjadi adalah sebesar 0 %. Deformasi bagian Barat Pulau Jawa dipengaruhi oleh tiga factor yaitu pergerakan lempeng sunda, pengaruh subduksi dan pengaruh lokal dalam kasus ini dimungkinkan karena adanya aktivitas Sesar Cimandiri.

2026
👤 Penulis: AGUNG BUDIAWAN (NIM 15104058); Pembimbing: Dr. Ir. Irwan Meilano, M.Sc., dan Heri Andreas, ST.,MT.
🏷️ Geofisika 🏷️ Subduksi Tektonik 🏷️ Deformasi Tanah

ANALISIS POLA DEFORMASI DI SELATAN JAWA PASCA GEMPA PANGANDARAN TAHUN 2006 BERDASARKAN DATA GPS TAHUN 2010-2020

Indonesia secara geografis terletak di pertemuan beberapa lempeng besar yang aktif bergerak sehingga rawan akan bencana gempa bumi di mana sebagian besar wilayahnya memiliki seismisitas tinggi. Salah satu peristiwa gempa merusak yaitu gempa Pangandaran tahun 2006 dengan magnitudo M7,7 yang terjadi di pesisir selatan Jawa. Penelitian ini menganalisis pola deformasi yang terjadi pasca gempa bumi Pangandaran tersebut. Data yang digunakan pada penelitian ini berasal dari tiga stasiun pengamatan GPS (Global Positioning System) yang direkam oleh BIG (Badan Informasi Geospasial) dan terletak di selatan Jawa. Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi persiapan data, pre-processing data, dan dilanjutkan dengan main processing data. Hasil pengolahan data yang diperoleh berupa vektor pergerakan (displacement) untuk periode tertentu. Penelitian ini menganalisis model displacement dari mekanisme relaksasi viskoelastik di selatan Jawa sebagai dampak gempa Pangandaran 2006 untuk 9 periode waktu dari data tahun 2010 hingga 2020. Selanjutnya, penelitian ini membandingkan besaran deformasi yang terjadi karena proses relaksasi pasca gempa 2006 dengan gabungan efek afterslip pasca gempa dan efek kuncian pada zona subduksi (megathrust coupling). Hasil penelitian ini membuktikan bahwa pola deformasi wilayah selatan Jawa didominasi oleh pengaruh gabungan afterslip dan megathrust coupling dari zona subduksi Palung Jawa (Java Trench).

2024
👤 Penulis: Fadhila Nafishanaya
🏷️ Deformasi Tanah 🏷️ Geofisika Sipil 🏷️ Hidrologi Geologi
💬