📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenDWELLING BEYOND FORGETTING : PERANCANGAN HUNIAN RAMAH DEMENSIA BERBASIS PENDEKATAN MULTISENSORI
Proyek ini berfokus pada arsitektur multisensori dengan perhatian khusus pada isu demensia. Fokus utama adalah penerapan pendekatan multisensori sebagai strategi desain untuk mendukung stimulasi kognitif, memori, serta keseharian penderita. Pendekatan ini dipadukan dengan reinterpretasi kultur urban Jakarta yang ditandai dengan gaya hidup, interaksi sosial, serta aktivitas komunitas. Tema ini sejalan dengan SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 10 (Reduced Inequalities), serta SDG 11 (Sustainable Cities and Communities). Berdasarkan laporan Alzheimer’s Disease International (ADI), tercatat lebih dari 1,2 juta orang hidup dengan demensia pada tahun 2022, dan akan melonjak hingga 3,8 juta pada tahun 2050. Namun, kondisi di Jakarta menunjukkan fasilitas ramah demensia masih sangat terbatas. Mayoritas penderita dirawat di rumah, yang menimbulkan isolasi sosial, beban fisik dan mental bagi caregiver, serta berkurangnya kualitas hidup karena minimnya ruang stimulasi kognitif. Sementara itu, Jakarta dikenal sebagai episentrum gaya hidup urban. Kehidupan perkotaan yang cepat, dinamis, dan cenderung eksklusif justru memperlebar kesenjangan antara lansia penderita demensia dengan masyarakat urban. Akibatnya, mereka terpinggirkan dari dinamika kota, padahal kebutuhan interaksi sosial dan keterhubungan dengan komunitas merupakan elemen penting dalam menjaga kualitas hidup lansia. Tipologi yang dipilih adalah hunian ramah demensia dengan pendekatan skala rumah sesuai regulasi site. Program ruang meliputi: hunian lansia dengan unit-unit sederhana dan familiar; daycare dan ruang komunitas sebagai wadah interaksi intergenerasi antara penghuni, keluarga, caregiver, dan komunitas sekitar; therapeutic & sensory garden sebagai ruang terbuka hijau yang mendukung stimulasi multisensori; serta fasilitas kesehatan ringan untuk kebutuhan harian yang tetap sesuai dengan tipologi hunian. Pendekatan utama adalah multisensory design, yaitu strategi arsitektur yang mengoptimalkan pancaindra untuk mendukung fungsi kognitif penderita demensia. Pendekatan ini dilapisi dengan reinterpretasi kultur urban Jakarta berupa aktivitas sosial, kebersamaan, dan komunitas, sehingga tercipta hunian yang tidak terisolasi. Selain itu, digunakan force-based approach untuk menganalisis faktor pendorong isu (demensia, urban culture, regulasi site), serta pattern-based approach dalam pengembangan ruang sehari-hari (sirkulasi melingkar, jalur multisensori, transisi privat–publik). Metode yang digunakan meliputi: studi literatur mengenai dementia-friendly design, arsitektur multisensori; studi preseden dan analisis komparatif; observasi lapangan di sekitar site Jl. Taman Bibit Jeruk; serta analisis site (SWOT, regulasi KDB–KLB–KDH, akses, RTH). Proyek ini bertujuan menghasilkan konsep hunian ramah demensia yang memadukan prinsip multisensory design dengan kultur urban Jakarta. Luaran yang diharapkan adalah konsep hunian yang aman, suportif, dan familiar bagi penderita demensia, lingkungan yang mendorong interaksi sosial ruang kota, serta model percontohan bagi integrasi dementia-friendly living di kawasan urban. Dengan demikian, proyek ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup penderita demensia sekaligus stakeholder lain yang berhubungan dengan penderita demensia.
PERANCANGAN PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA KHUSUS DEMENSIA DENGAN PENDEKATAN NEURO-ARSITEKTUR
Prevalensi Demensia di Indonesia meningkat pesat, dengan perkiraan jumlah penderita mencapai 7,5 juta pada tahun 2050. Kondisi ini menuntut solusi perawatan jangka panjang yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan lokal. Keterbatasan fasilitas perawatan khusus Demensia di Indonesia, ditambah dengan akses layanan kesehatan yang terbatas dan fokus perawatan yang lebih banyak pada aspek fisik daripada kognitif, menjadi tantangan utama. Selain itu, budaya merawat lansia di rumah dan ikatan keluarga yang erat menunjukkan perlunya desain panti sosial tresna werdha khusus Demensia yang mendukung kedekatan emosional dalam pelayanan dan fasilitasnya. Penelitian dan perancangan ini bertujuan untuk merancang Panti Sosial Tresna Werdha khusus Demensia berbasis Neuro-arsitektur di pusat kota, guna memudahkan akses keluarga dan memfasilitasi interaksi lebih intensif dengan lansia dengan demensia. Lokasi pusat kota akan memungkinkan fasilitas ini menjadi bagian dari komunitas, mempermudah kunjungan keluarga, dan melibatkan mereka dalam perawatan. Desain ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pemulihan fisik, kognitif, dan emosional, serta mengurangi beban keluarga dalam perawatan. Secara global, tantangan penanganan Demensia meliputi peningkatan jumlah penderita dan kesenjangan akses perawatan berkualitas, terutama di negara berkembang. Dengan proyeksi mencapai 152,8 juta penderita pada tahun 2050, dibutuhkan pendekatan inovatif dan berkelanjutan, seperti penerapan neuro-arsitektur, untuk mendukung aspek kognitif dan emosional pasien. Pendekatan desain ini harus menyesuaikan dengan kebutuhan lokal dan tantangan global. Penelitian ini menggunakan data kualitatif, panduan internasional, dan referensi jurnal untuk mengembangkan konsep dan program ruang yang relevan.
BEYOND MEMORY’S CONTINUUM: PERANCANGAN FASILITAS PERAWATAN KESEHATAN RAMAH DEMENSIA MELALUI PENDEKATAN SENSORY RESPONSIVE ARCHITECTURE
Demensia merupakan sebuah tantangan global dalam bidang kesehatan yang memengaruhi kualitas hidup individu dan keluarganya. Penyakit neurodegeneratif ini menyebabkan penurunan fungsi kognitif yang signifikan pada penderitanya, memengaruhi interaksi sehari-hari dan memunculkan Behavioral and Psychological Symptoms of Dementia (BPSD). Berbagai jenis demensia seperti Alzheimer's Disease, Vascular Dementia, Dementia with Lewy Body, dan Frontotemporal Dementia menimbulkan gejala yang beragam, memerlukan penanganan yang khusus dan responsif. Kualitas hidup ODD, caregiver, dan keluarganya terancam oleh permasalahan seperti stigma, terbatasnya sumber daya, dan kurangnya akses terhadap layanan kesehatan. Selain itu, peningkatan jumlah ODD membutuhkan perhatian lebih terhadap kurangnya jumlah caregiver yang terampil dan fasilitas medis yang memadai. Laporan World Alzheimer Report 2022 menunjukkan bahwa sebagian besar ODD tidak terdiagnosis secara global, dan diperkirakan jumlah penderitanya akan meningkat secara signifikan di masa mendatang. Respons terhadap permasalahan demensia dapat dilakukan melalui implementasi desain arsitektural yang responsif terhadap kebutuhan sensorik penderita. Pendekatan User-Centered Design menjadi krusial dalam merancang fasilitas yang mengakomodasi beragam gejala BPSD dan tahap-tahap demensia. Konsep Neuro-architecture menjadi relevan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan penderita, menyesuaikan aspek sensorik seperti pencahayaan, warna, dan organisasi ruang. Fasilitas perawatan kesehatan khusus bagi ODD diperlukan untuk menanggapi Sustainable Development Goal (SDG) 3, yaitu memastikan kesehatan yang baik dan kesejahteraan bagi semua individu. Fasilitas ini harus mengurangi stigma, menyediakan akses layanan kesehatan yang merata, dan mengurangi gejala penurunan kognitif dengan menciptakan lingkungan yang memperhatikan respons sensorik penderita. Dengan merumuskan dan merancang fasilitas yang mempertimbangkan kebutuhan sensorik dan keberagaman gejala demensia, diharapkan kualitas hidup penderita meningkat, beban terhadap caregiver berkurang, dan adanya dukungan yang lebih baik bagi penderita dan keluarganya. Langkah ini mendukung upaya untuk meningkatkan layanan kesehatan, memerangi stigma, dan mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh ODD serta komunitasnya. Respons terhadap permasalahan demensia membutuhkan upaya lintas sektor, melibatkan desain arsitektural yang responsif dan berfokus pada penderita sebagai pusat perhatian dalam pembangunan fasilitas perawatan kesehatan.