📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6 dokumenPARTISIPASI MASYARAKAT LOKAL BERBASIS PARIWISATA REGENERATIF: STUDI KASUS DESA WISATA BUGISAN, KLATEN, JAWA TENGAH
Perkembangan sektor pariwisata memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, namun di sisi lain berpotensi menimbulkan degradasi lingkungan, komodifikasi budaya, serta berkurangnya keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan destinasi. Paradigma pariwisata regeneratif hadir sebagai pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada keberlanjutan, tetapi juga pada pemulihan dan peningkatan kapasitas sosial, budaya, ekonomi, dan ekologi destinasi. Desa Wisata Bugisan di Kabupaten Klaten merupakan desa wisata berbasis masyarakat yang memiliki potensi menerapkan prinsip tersebut, sehingga penting mengkaji bagaimana partisipasi masyarakat lokal berkontribusi dalam proses tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk partisipasi masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata regeneratif serta mengidentifikasi penerapan konsepsi pariwisata regeneratif pada aktivitas kepariwisataan di Desa Wisata Bugisan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Informan dipilih secara purposive berdasarkan keterlibatan dan pengetahuan mereka terhadap pengelolaan desa wisata. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dokumentasi, dan studi literatur. Analisis data dilakukan secara tematik, mencakup tahapan pengenalan data, pengkodean, penyusunan tema, hingga interpretasi hubungan antartema. NVivo 15 digunakan sebagai instrumen pendukung dalam proses tersebut untuk mengelola volume data wawancara, menyusun struktur kode secara hierarkis, dan menelusuri keterkaitan antartema melalui Matrix Coding Query dan Crosstab Code by Case. Penggunaan perangkat lunak ini menjaga setiap kode dan tema tetap dapat ditelusuri kembali ke sumber data asalnya, sementara interpretasi makna atas pola yang ditemukan tetap dilakukan oleh peneliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat di Desa Wisata Bugisan telah berlangsung pada tahapan perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan hasil, dan evaluasi, dengan keterlibatan paling dominan pada aspek pelestarian dan revitalisasi sosial-budaya. Analisis NVivo mengidentifikasi tiga tema utama: Partisipasi dan Revitalisasi Sosial-Budaya, Pemulihan Lingkungan, dan Keadilan Ekonomi. Dimensi sosial-budaya masih mendominasi praktik pariwisata regeneratif, sedangkan upaya pemulihan lingkungan belum berkembang optimal. Analisis keterkaitan antartema memperlihatkan bahwa penguatan partisipasi masyarakat berkontribusi terhadap keberhasilan revitalisasi budaya dan distribusi manfaat ekonomi, namun hubungannya dengan pemulihan lingkungan masih relatif lemah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Desa Wisata Bugisan berada pada fase transisi menuju pariwisata regeneratif. Masyarakat telah menjadi aktor penting dalam penguatan identitas budaya dan pengembangan ekonomi lokal, namun program restorasi lingkungan aktif dan integrasi antardimensi regeneratif masih perlu diperkuat agar ketiga pilar sosial-budaya, lingkungan, dan ekonomi bergerak secara simultan.
ARAHAN PENGEMBANGAN PARIWISATA BERBASIS MASYARAKAT DI DESA TEJA, KECAMATAN RAJAGALUH, KABUPATEN MAJALENGKA
Pariwisata berbasis masyarakat dipandang sebagai pendekatan yang efektif dalam mendukung pengembangan desa wisata yang berkelanjutan. Desa Teja, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka, merupakan desa wisata yang memiliki potensi wisata alam, pertanian, dan budaya. Potensi tersebut perlu didukung oleh pengelolaan yang baik serta keterlibatan masyarakat agar pengembangan pariwisata dapat berlangsung secara berkelanjutan sesuai dengan prinsip Community Based Tourism (CBT). Penelitian ini bertujuan menganalisis keterlibatan masyarakat dalam pengembangan pariwisata Desa Teja berdasarkan pendekatan Community Based Tourism (CBT) serta merumuskan arahan pengembangannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui wawancara, observasi, dan analisis berdasarkan prinsip Community Based Tourism (CBT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Teja memiliki potensi yang mendukung pengembangan desa wisata berbasis masyarakat, ditandai oleh keberadaan Agrowisata Anggur Brazil Gentar sebagai daya tarik utama, keterlibatan masyarakat dalam perencanaan wisata, berkembangnya UMKM, serta pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan. Analisis juga menunjukkan beberapa aspek yang masih perlu diperkuat, meliputi identitas desa wisata, amenitas wisata, tata kelola kelembagaan, serta kemitraan dan promosi wisata. Berdasarkan hasil analisis tersebut, arahan pengembangan difokuskan pada penguatan produk dan identitas wisata, peningkatan kapasitas kelembagaan dan tata kelola BUMDes, serta pengembangan promosi dan kemitraan guna mendukung pengembangan pariwisata yang partisipatif dan berkelanjutan.
ANALISIS POTENSI PELAKSANAAN KONSEP ASTROWISATA STARFISHING DI DESA WISATA JASRI, KARANGASEM, BALI.
Astrowisata merupakan bentuk pariwisata minat khusus yang sedang berkembang, tetapi perkembangannya yang mengintegrasikan kearifan lokal maritim masih terbatas. Studi ini bertujuan untuk mengkaji kelayakan astrowisata melalui konsep Starfishing di Desa Wisata Jasri, Bali, yang menggabungkan pengamatan langit malam dengan pengalaman melaut menggunakan jukung tradisional. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini memetakan tingkat kesiapan destinasi serta mengidentifikasi parameter risiko yang mungkin terjadi dan strategi untuk mengatasinya. Hasil studi menunjukkan bahwa Desa Wisata Jasri memiliki potensi unggul sebagai destinasi astrowisata dengan kualitas langit malam pada Skala Bortle 3, yang memungkinkan pengamatan benda langit dan navigasi bintang secara visual dengan baik. Kesiapan infrastruktur dan antusiasme sumber daya manusia lokal menjadi modal kuat dalam pengembangan nilai ekonomi baru bagi masyarakat pesisir. Namun, penelitian ini mengidentifikasi tantangan kritis berupa risiko keselamatan, potensi polusi cahaya terhadap ekosistem pesisir, serta keterbatasan literasi digital dan standarisasi perangkat keselamatan pada armada jukung. Studi ini menyimpulkan bahwa pengembangan Starfishing di Desa Wisata Jasri sangat layak untuk dilaksanakan dengan strategi optimalisasi yang tepat. Rekomendasi utama meliputi pembangunan infrastruktur aksesibilitas seperti dermaga ponton, penerapan manajemen operasional berbasis data meteorologi yang presisi, serta penguatan kapasitas pemandu melalui sinkronisasi navigasi tradisional dan astronomi modern. Melalui kolaborasi strategis antar pemangku kepentingan, Starfishing diharapkan dapat menjadi model astrowisata berkelanjutan yang memperkuat lanskap ekonomi lokal berbasis konservasi langit malam.
KEWIRAUSAHAAN PARIWISATA DESA UNTUK DESA WISATA BERKELANJUTAN
Saat ini, banyak desa di Indonesia menghadapi permasalahan depopulasi, seiring dengan meningkatnya keinginan masyarakat untuk berpindah dari desa ke wilayah perkotaan demi memperoleh peluang yang lebih baik. Menanggapi hal tersebut, pemerintah menetapkan kebijakan pengembangan desa wisata yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja, serta menjaga kelestarian lingkungan. Namun demikian, dari 7.275 desa wisata yang ada, hanya 36 desa yang dinilai telah mencapai keberlanjutan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan desa wisata yang berkelanjutan, serta membangun model kewirausahaan pariwisata pedesaan guna mendukung keberlanjutan desa wisata tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam mencapai desa wisata berkelanjutan dan membangun kerangka kewirausahaan pariwisata pedesaan untuk desa wisata berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed-methods), yang menggabungkan kerangka studi kasus dengan komponen survei. Tahap pertama dilakukan dengan pendekatan kualitatif, kemudian dilanjutkan dengan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dan survei yang ditujukan kepada individu-individu yang memiliki peran signifikan dalam keberhasilan desa wisata. Content analysis digunakan untuk menginterpretasikan data kualitatif dan memperoleh wawasan yang lebih mendalam dari setiap kasus, sementara Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM) digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel, mengukur konstruk laten, dan menangani kesalahan pengukuran. Penelitian ini berfokus pada enam desa wisata peraih penghargaan di Indonesia yang dipilih berdasarkan pencapaian mereka dalam praktik pariwisata berkelanjutan. Untuk mengeksplorasi hubungan antar berbagai faktor kewirausahaan pariwisata pedesaan, tanggapan dari 237 partisipan dianalisis. Temuan penelitian mengidentifikasi tiga komponen utama yang penting dalam pengembangan desa wisata berkelanjutan: sumber daya kewirausahaan pariwisata pedesaan, kapabilitas desa, dan pendekatan strategis. Secara khusus, sumber daya kewirausahaan mencakup delapan jenis—sosial, budaya, politik, finansial, organisasi, manusia, alam, dan fisik. Studi ini pada akhirnya menyajikan model baru kewirausahaan pariwisata pedesaan serta menawarkan wawasan berharga untuk mendukung perencanaan strategis.
ANALISIS POTENSI DAN PEMANGKU KEPENTINGAN MENUJU DESA WISATA BERKELANJUTAN(KASUS KAMPUNG GAMTA DAN MAGEY, DISTRIK MISOOL BARAT, KABUPATEN RAJA AMPAT, PAPUA BARAT DAYA)
Sebagai wilayah yang terletak dalam segitiga terumbu karang, Raja Ampat telah menarik perhatian global yang signifikan karena keanekaragaman hayatinya yang kaya dan pemandangan yang menakjubkan. Pulau Misool, yang merupakan salah satu dari empat pulau terbesar di Raja Ampat, terletak di selatan ibu kota kabupaten dengan akses yang cukup terbatas. Potensi luar biasa Raja Ampat, terutama Misool, adalah keindahan alam bahari dan mangrovenya, yang apabila dikelola dengan bijaksana maka dapat berkontribusi pada kesejahteraan penduduk setempat dengan tetap terjaga kelestariannya. Salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat adalah dengan mengelola tujuan pariwisata berbasis desa/kampung. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menganalisis klasifikasi dan potensi pariwisata di sekitar Kampung Gamta dan Magey, Misool, Raja Ampat, (2) Menganalisis peran pemangku kepentingan dalam pengelolaan pariwisata di sekitar kampung, (3) Menentukan dan menganalisis kekuatan dan kelemahan faktor internal dan eksternal dalam pengembangan desa wisata, dan (4) Merumuskan strategi pengembangan untuk desa wisata Gamta dan Magey, Misool, Raja Ampat. Klasifikasi dan potensi pariwisata diperoleh dari diskusi kelompok fokus dengan Kelompok Sadar wisata (Pokdarwis) di Kampung Gamta dan Magey, Misool, serta wawancara dengan masyarakat setempat. Peran pemangku kepentingan dipetakan berdasarkan tingkat minat dan pengaruh, serta menganalisis keterlibatan warga desa dalam pariwisata. Selain itu, matriks faktor internal dan eksternal (IFAS dan EFAS) dirumuskan berdasarkan potensi biofisik pariwisata dan pemangku kepentingan menggunakan hasil observasi dan analisis data pada penelitian ini. Selanjutnya, strategi dirumuskan menggunakan metode SWOT-QSPM. Hasil identifikasi potensi wisata di Kampung Gamta dan Magey antara lain wisata memancing, Air Terjun Malol, kuliner tradisional, kerajinan tangan, menyelam, hutan mangrove, tradisi dan budaya kampung, dan pengamatan burung. Berdasarkan observasi dan penilaian, pengembangan desa wisata bersifat menuju desa wisata rintisan dengan nilai 2,75 dari nilai total 4. Dari hasil wawancara, sebanyak 72,95% dari 24 masyarakat memiliki keterlibatan aktif ditinjau dari pengetahuan tentang wisata Raja Ampat yang mendunia dan pengalaman keterlibatan dalam kegiatan pariwisata. Teridentifikasi lima aktor kunci (key player) yaitu Disparda Raja Ampat, Bappeda Raja Ampat, Pokdarwis Kampung Gamta, Pokdarwis Kampung Magey, dan perguruan tinggi (ITB), serta satu subyek (subject) yaitu mitra swasta (Lalelkai Nature Lodge) dalam pengembangan desa wisata di Kampung Gamta dan Magey. Faktor internal yang diidentifikasi bernilai 2.95 (rata-rata) dan faktor eksternal bernilai 3.59 (tinggi), yang berarti berdasarkan penilaian tersebut strategi yang dibangun adalah strategi tumbuh dan bina, sesuai dengan kondisi desa wisata di Kampung Gamta dan Magey masih dalam tahap awal atau inisiasi. Adapun strategi pengembangan desa wisata berkelanjutan di Kampung Gamta dan Magey mencakup 1) Memperkenalkan desa wisata Kampung Gamta dan Magey melalui media sosial, 2) Pelatihan dan pendampingan Pokdarwis Kampung Gamta dan Magey terkait perlindungan ekosistem dan daya tarik wisata alam, 3) Kolaborasi antar aktor dalam mengembangkan desa wisata, 4) Pelatihan pengembangan produk wisata untuk masyarakat setempat, 5) Pendampingan Pokdarwis Gamta dan Magey hingga mandiri dalam pengelolaan desa wisata, 6) Melibatkan seluruh masyarakat kampung dalam pembangunan pariwisata, 7) Mengembangkan wisata berlandaskan kearifan lokal, dan 8) Membuat diversifikasi paket wisata sesuai dengan musim setempat.
PERANCANGAN FASILITAS WISATA BERBASIS ECOTOURISM UNTUK MENINGKATKAN RESILIENSI DI DESA WISATA BEDONO, KABUPATEN DEMAK
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki garis pantai sepanjang 95.181 km dengan luas area ±9 juta km2 meliputi ±2 juta km2 wilayah daratan dan sisanya ±7 juta km2 berupa lautan. Banyaknya area pesisir menyebabkan wilayah di Indonesia rentan terhadap berbagai macam bencana pesisir baik berupa abrasi, badai, banjir maupun rob bahkan kenaikan muka air laut karena pemanasan global. Kabupaten Demak yang terletak di pesisir Pantai Utara Pulau Jawa adalah salah satu daerah yang mengalami bencana pesisir berupa abrasi maupun banjir rob. Jumlah desa di pesisir yang terdampak abrasi maupun banjir rob di Kabupaten Demak adalah 17 desa yang tersebar di tiga kecamatan yakni Kecamatan Sayung, Kecamatan Bonang dan Kecamatan Karangtengah. Desa Bedono yang merupakan bagian pesisir dari Kecamatan Sayung mengalami dampak yang signifikan akibat abrasi maupun banjir rob, setidaknya saat ini terdapat lebih dari 300 ha lahan sudah tergenang ketika laut pasang. Bahkan keberadaan 3 dusun di Desa Bedono terdampak genangan tersebut secara permanen karena elevasinya yang sudah berada di bawah permukaan air laut. Adapun ketiga dusun tersebut yaitu: Dusun Senik/Rejosari, Dusun Pandansari dan Dusun Tambaksari. Perubahan fisik lingkungan yang terjadi akibat dampak abrasi dan banjir rob juga mengubah keadaan masyarakat secara sosial dan ekonomi dengan mengubah profesi mereka sesuai dengan keadaan. Masyarakat mulai melakukan adaptasi sejak tahun 1990 dari bekerja pada sektor pertanian, beralih menjadi nelayan kemudian karena lingkungan yang semakin rusak, masyarakat bertumpu pada sektor pariwisata. Potensi pariwisata yang berkembang saat ini di Desa Bedono setidaknya dapat dikategorikan menjadi 3 jenis yaitu: disaster tourism, religious tourism dan conservation tourism. Adapun secara spesifik, pengembangan potensi pariwisata di Desa Bedono diarahkan pada pengembangan ecotourism dan mangrove and fisheries park. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Demak juga mendorong Desa Bedono agar menjadi desa wisata. Oleh karena itu, maka pendekatan ecotourism sangat penting digunakan untuk menjawab persoalan sosial ekonomi dan lingkungan yang telah terjadi di Desa Bedono. Pendekatan ecotourism digunakan sebagai alat untuk merumuskan konsep perancangan dengan beberapa intervensi yang melengkapi proses perancangan melalui analisis kontekstual dan analisis fungsional agar menghasilkan rancangan yang sesuai kebutuhan pengembangan pariwisata di Desa Bedono. Setelah melalui proses elaborasi dari berbagai rujukan tentang pedoman perancangan desa wisata dan indikator resilience, serta melalui perbandingan beberapa preseden, maka didapat beberapa keyword yang juga menjawab persoalan yang ada di Desa Bedono. Ada empat kriteria penting yang dapat mewakili kebutuhan diantaranya adalah: eco-adaptability, attractive, connectivity dan collaborative. Pengembangan kawasan rancangan menghasilkan usulan rancangan yang mempertimbangkan keterhubungan dan pembagian fungsi antar daya tarik wisata yang ada di sekitar Pantai Morosari, Desa Bedono. Melalui proses analisis alur sirkulasi peziarah, maka ditetapkan ada empat zona kawasan yaitu zona sakral, zona wisata bahari, zona hospitality, zona ekonomi kreatif dan zona mangrove center. Pengembangan kawasan direncanakan secara bertahap untuk meningkatkan kualitas wisata di Pantai Morosari dan sekitarnya. Pentahapan tersebut meningkat seiring dengan intervensi penambahan atraksi yang diusulkan pada setiap fasenya. Pada fase pertama sampai dengan fase ketiga diharapkan status desa wisata dapat meningkat dari desa wisata berkembang, desa wisata maju dan desa wisata mandiri. Adapun pengembangan tapak setelah melalui proses perancangan tapak yang mempertimbangkan delineasi, axis, vista, tema, golden view, organisasi massa, zonasi, titik transit dan alur sirkulasi maka diperoleh hasil rancangan tapak yang sedemikian rupa dengan tiga tema utama yaitu: kedatangan dan edukasi, rekreasi serta pra/pasca ziarah. Terdapat enam bangunan penting di dalam tapak diantaranya adalah: masjid, restoran seafood dan cafe, activity center, education center, area pengelola serta retail suvenir. Adapun secara ecotourism pengembangan Pantai Morosari memenuhi kriteria “eco-adaptability” dengan tiga strategi yang diterapkan yaitu : green infrastructure, grey infrastructure dan building and systems. Kriteria attractive dicapai dengan strategi memunculkan program kegiatan yang harus diwadahi pada tapak di antaranya adalah aspek “what to learn?”, “what to see?”, “what to do?” dan “what to buy?”. Kriteria connectivity dicapai dengan menyediakan fasilitas transportasi yang menghubungkan destinasi baik melalui darat maupun laut. Sedangkan kriteria “collaborative” dicapai dengan memberikan fasilitas wisata yang memberi manfaat dan memantik partisipasi masyarakat.