📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 20 dokumen

TRANSFORMASI SPASIAL DAN SOSIAL DALAM REDESAIN KAWASAN HUNIAN DI KEBON BIBIT, TAMANSARI, BANDUNG

Perkembangan dari tahun ke tahun mengakibatkan kawasan hunian strategis di tengah kota mengalami pertumbuhan kependudukan dan tempat tinggal yang pesat. Fenomena tersebut terjadi di pemukiman Kebon Bibit, Tamansari, yang terletak di kawasan strategis Kota Bandung. Pertumbuhan populasi dan tingginya kebutuhan akan tempat tinggal memicu kepadatan penduduk serta pembangunan rumah tinggal yang seadanya, sehingga mengabaikan kualitas lingkungan sekitar. Akibatnya, kebutuhan ruang terbuka hijau semakin mendesak namun tidak memiliki lahan yang cukup, serta sirkulasi dan aksesibilitas kawasan menjadi sangat terbatas. Terlebih lagi, pemukiman ini tumbuh berbasis komunitas yang hidup dan berkegiatan sehari-hari di dalamnya, namun tidak tersedia ruang komunal yang mampu menampung kegiatan sosial bagi berbagai kelompok usia. Berkaitan dengan Sustainable Development Goal (SDG) Nomor 11 mengenai kota dan pemukiman yang berkelanjutan, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan sebuah solusi desain arsitektur berupa ruang komunal terpadu di hunian masyarakat bersama terhadap keterbatasan lahan. Pendekatan yang digunakan dalam Tugas Akhir ini adalah menganalisis pola aktivitas sosial masyarakat setempat. Hasil dari perancangan ini berupa hunian sosial yang memadukan kegiatan-kegiatan sosial di dalamnya untuk menjadikan kehidupan tempat tinggal sehari-hari lebih berkualitas yang mengintegrasikan fungsi sosial, sirkulasi lingkungan yang lebih sehat, dan area hijau. Melalui rancangan ini, pemukiman Kebon Bibit diharapkan mampu bertransformasi menjadi hunian yang aktif secara sosial, aman dan nyaman secara spasial, dan berkelanjutan tanpa menghilangkan identitas komunitas yang telah terbentuk.

2026
👤 Penulis: Maryam I H Kertasafari
🏷️ Desain Arsitektur 🏷️ Kawasan Hunian Strategis 🏷️ Sustainable Development Goal 11

REDESAIN PADEPOKAN SENI MAYANG SUNDA DENGAN PENDEKATAN ADAPTASI TRANSKULTURAL

Padepokan Seni Mayang Sunda merupakan salah satu pusat kegiatan seni dan budaya yang berlokasi di Kota Bandung. Tempat ini memiliki peran penting sebagai wadah pelestarian, pembelajaran, sekaligus pertunjukan berbagai bentuk kesenian, baik yang berakar dari tradisi Sunda seperti tari, karawitan, dan teater rakyat, maupun bentuk ekspresi seni lintas budaya yang lebih modern. Seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan gaya hidup masyarakat urban, fungsi serta karakter ruang di dalam padepokan ini belum sepenuhnya mampu mengakomodasi kebutuhan aktivitas seni yang semakin beragam, dinamis, dan inklusif. Kondisi eksisting yang belum adaptif terhadap kebutuhan masyarakat modern membatasi pengalaman pengguna, baik dari segi kenyamanan, fleksibilitas, hingga daya tarik visual. Situasi tersebut membuka peluang untuk menghadirkan kembali wajah baru padepokan melalui proses perancangan yang lebih responsif terhadap perkembangan budaya serta kebutuhan ruang pertunjukan di masa kini. Upaya redesain padepokan ini berangkat dari kebutuhan untuk menciptakan ruang budaya yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa melepaskan akar tradisionalnya. Pendekatan adaptasi transkultural diterapkan sebagai landasan konseptual untuk menjembatani antara tradisi dan modernitas yang menghadirkan komposisi antara nilai-nilai lokal dengan tuntutan estetika serta kebutuhan ruang masa kini. Melalui proses yang berfokus pada penciptaan keseimbangan antara nilai tradisi dan modernitas, nilai-nilai budaya tidak sekadar dihadirkan sebagai ornamen simbolik, melainkan diolah kembali menjadi bagian yang menyatu dalam pengalaman ruang yang hidup dan relevan dengan konteks masa kini. Untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam bentuk ruang, proses perancangan dilakukan melalui observasi langsung terhadap kondisi eksisting padepokan, analisis kebutuhan pengguna dan aktivitas ruang, studi literatur mengenai nilai-nilai budaya dan pendekatan adaptasi transkultural, hingga studi pembanding terhadap ruang pertunjukan sejenis. Hasil dari proses analisis tersebut kemudian menjadi dasar dalam merumuskan strategi desain yang menyeimbangkan antara fungsi, identitas, dan pengalaman ruang. Elemen visual dan material khas Sunda diinterpretasikan secara kontekstual dan dipadukan dengan penerapan teknologi modern seperti sistem pencahayaan adaptif, media proyeksi, serta tata akustik interaktif untuk menghadirkan pengalaman pertunjukan yang lebih imersif tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional. Penerapan layout modular dan pemilihan material alami menjadi pendekatan utama untuk menciptakan ruang yang fleksibel terhadap berbagai bentuk kegiatan seni sekaligus menegaskan karakter budaya sebagai identitas utama padepokan. Melalui perancangan ini, ruang tidak hanya diperbarui secara fungsional dan estetis, tetapi juga dihidupkan kembali sebagai wadah budaya yang relevan, inspiratif, dan mampu menjembatani tradisi dengan dinamika kehidupan modern.

2026
👤 Penulis: Diva Maulidia Areta
🏷️ Desain Arsitektur 🏷️ Pengelolaan Seni Budaya 🏷️ Adaptasi Transkultural

KETENANGAN DALAM ARUS: PERPUSTAKAAN UMUM TERINSPIRASI AIR SEBAGAI RUANG TEDUH SEMENTARA DI GEDEBAGE, BANDUNG

Sifat air yang mengalir dan dapat berubah-ubah, merepresentasikan dualitas kehidupan manusia, baik yang tenang maupun yang penuh hambatan. Dalam proyek ini, air tidak hanya berperan sebagai elemen fisik, tetapi juga sebagai konsep dasar yang membentuk atmosfer, perilaku pengguna, maupun pengalaman ruang. Karakter air yang adaptif diterjemahkan ke dalam bentuk arsitektur untuk menciptakan perpustakaan umum yang memberikan ketenangan dan kenyamanan di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan. Seperti air yang mengalir, perpustakaan ini didesain sebagai tempat perlindungan sementara dari tekanan kehidupan perkotaan dimana para pengguna dapat berhenti sejenak sebelum melanjutkan kehidupannya masing-masing. Sebagai salah satu pusat kota dan pendidikan yang terus berkembang di Indonesia, Bandung mengalami urbanisasi yang pesat, terutama di kawasan berkembang seperti Gedebage. Pertumbuhan ini membentuk lingkungan kota yang semakin padat dan berpotensi menimbulkan overstimulasi bagi penggunanya. Pada sisi lain, Indonesia juga sedang menghadapi penurunan tingkat literasi, serta fasilitas perpustakaan yang tidak memadai, terutama dalam segi distribusi layanan, dan tingkat kunjungan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya fasilitas pembelajaran umum yang tidak hanya berfungsi tetapi juga dapat membuat pengguna merasa lebih nyaman, tenang dan inklusif di lingkungannya. Untuk proyek ini, tipologi yang dipilih adalah perpustakaan umum karena perpustakaan dapat mengintegrasikan beberapa aktivitas, seperti membaca, belajar, dan berinteraksi antar pengguna. Namun, dalam proyek ini, perpustakaan dirancang bukan hanya sebagai fasilitas literasi, tetapi juga sebagai ruang publik yang merespons overstimulasi kota melalui pengaturan zona dan pengalaman ruang yang lebih tenang. Perpustakaan ini terletak di Gedebage, Bandung, di kawasan fasilitas publik yang kini sedang berkembang, sehingga memiliki posisi yang strategis untuk menjangkau lingkungan pendidikan, permukiman, serta masyarakat perkotaan di sekitarnya. Kondisi tapak yang berada di dataran rendah dan rawan banjir, menjadi peluang untuk menghadirkan air lebih dari sekedar elemen simbolis, tetapi juga sebagai bagian dari strategi desain yang merespons kondisi lingkungan secara langsung. Pendekatan desain dalam proyek ini mencakup pendekatan perilaku pengguna, zonasi sensorik, dan keberlanjutan. Ruang-ruang di dalam perpustakaan disusun berdasarkan tingkat stimulasi yang berbeda, sehingga pengguna dapat mengalami perpindahan secara bertahap dari suasana kota yang padat dan ramai menuju lingkungan yang lebih tenang, nyaman, dan fokus. Elemen air dihadirkan melalui kolam, courtyard, koneksi visual, bioswale, rain garden, serta evaporative cooling facade untuk membantu menurunkan suhu, mengelola air hujan, dan merespons kondisi pulau panas perkotaan. Dalam proses perancangannya, proyek ini menggunakan beberapa metode, seperti studi literatur mengenai arsitektur yang terinspirasi oleh air, analisis tapak, analisis aktivitas pengguna berdasarkan kelompok usia dan pola penggunaan, studi preseden perpustakaan publik, serta observasi terhadap perpustakaan eksisting di Bandung. Metode-metode ini menjadi dasar untuk merancang perpustakaan yang tidak hanya menjawab kebutuhan literasi, tetapi juga merespons isu sosial dan lingkungan di sekitarnya. Dalam proses perancangannya, proyek ini menggunakan beberapa metode, seperti studi literatur mengenai arsitektur yang terinspirasi oleh air, analisis tapak, analisis aktivitas pengguna berdasarkan kelompok usia dan pola penggunaan, studi preseden perpustakaan publik, serta observasi terhadap perpustakaan eksisting di Bandung. Metode-metode ini menjadi dasar untuk merancang perpustakaan yang tidak hanya menjawab kebutuhan literasi, tetapi juga merespons isu sosial dan lingkungan di sekitarnya.

2026
👤 Penulis: Sabrina Hessa Kalila
🏷️ Perpustakaan Umum 🏷️ Urbanisasi 🏷️ Desain Arsitektur

MENUA BERSAMA, BERKARYA BERSAMA: PERANCANGAN PUSAT PELAYANAN LANSIA DAN ANAK DENGAN FOKUS PADA RUANG KOMUNAL ANTARGENERASI

Lansia dan anak-anak usia dini di lingkungan urban padat sering kali menghadapi tantangan psikologis serta keterbatasan fasilitas interaksi. Bagi lansia, rasa kesepian menjadi persoalan utama akibat ketiadaan peran sosial. Kondisi ini mendesak di Kecamatan Kiaracondong, kawasan permukiman terpadat di Kota Bandung dengan populasi 17.210 anak (0-9 tahun) dan 14.802 lansia. Tingginya angka keluarga dengan pendapatan ganda menciptakan urgensi akan fasilitas sekolah dan penitipan anak dekat rumah yang aman. Namun, kebutuhan demografis masif ini berbanding terbalik dengan ketersediaan lembaga formal, sehingga memicu ketimpangan akses. Ketiadaan layanan seimbang diperparah oleh pemisahan tipologi secara kaku antara hunian lansia dan sekolah anak dalam sistem birokrasi, sehingga menciptakan isolasi sosial dan kesenjangan spasial yang bertentangan dengan Sustainable Development Goals (SDG) ke-10 mengenai penanganan ketidaksetaraan. Menjawab permasalahan tersebut, “Menua Bersama, Berkarya Bersama” hadir sebagai proyek perancangan Pusat Pelayanan Lansia dan Anak yang menyatukan tipologi hunian lansia dan sekolah anak melalui fokus pada ruang komunal antargenerasi. Makna “Menua Bersama” diartikan sebagai perputaran siklus kehidupan: lansia menjalani masa senja yang aktif dengan membagikan nilai kehidupan, sementara anak-anak bertumbuh dengan mendapatkan limpahan perhatian. Konsep “Berkarya Bersama” diwujudkan melalui arsitektur yang menjembatani kedua generasi untuk berbaur, bertukar pengetahuan, serta berkreasi bersama di dalam wadah sosial yang inklusif. Rancangan ini menerapkan lima strategi desain utama: Communal Area as a Meeting Point, Homey Housing Design, Therapeutic Productive & Recreative Landscape, Natural Surveillance, dan Intuitive Circulation as a Secure Base. Berlokasi di Jalan Papanggungan, Kiaracondong, Bandung, fasilitas ini menyatukan area sekolah dan hunian lansia melalui konfigurasi massa jamak berundak yang memusat. Pendekatan arsitektural ini secara proaktif memecah kesan kaku bangunan institusional melalui penyediaan ruang terbuka hijau di setiap lantai, serta memanfaatkan jembatan intergenerasional sebagai jalur sirkulasi intuitif yang aman sekaligus memperluas jangkauan pengawasan visual alami. Program ruang mengalokasikan 47,85% area untuk Pusat Komunitas Antargenerasi (ruang seni, ruang musik, perpustakaan, dan urban farm), yang diintegrasikan bersama hunian lansia berdesain universal di area tenang, serta sekolah anak yang adaptif. Tujuan utama dari perancangan ini adalah memecah pembatasan tipologi kaku di Indonesia dan menghadirkan jembatan spasial yang aman bagi lansia dan anak-anak untuk hidup berdampingan. Melalui pendekatan arsitektur antargenerasi, proyek ini diharapkan mampu menjadi sebuah "rumah" seutuhnya yang secara proaktif menyehatkan secara psikologis, memulihkan kebugaran fisik, meningkatkan kedekatan emosional, serta mengembalikan fungsi sosial yang bermakna di tengah dinamika kawasan urban Kota Bandung.

2026
👤 Penulis: Chiara Dewi Camilla
🏷️ Desain Arsitektur 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Lansia Dan Anak 🏷️ Sustainable Development Goals (Sdg)

DESIGNING THE STAGE, CULTIVATING CREATIVE COMMUNITIES: PERFORMING ARTS CENTER AS AN URBAN CATALYST FOR CULTURAL AND COMMUNITY REGENERATION IN JAKARTA

Seni pertunjukan memiliki peran yang penting dalam membentuk identitas budaya dan menghidupkan komunitas kreatif di kota. Meningkatnya kehadiran pertunjukan seni tari, musik, dan teater di Jakarta dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan bahwa komunitas seni pertunjukan sedang berkembang pesat. Menurut Badan Ekonomi Kreatif (2018), subsektor seni pertunjukan tumbuh sekitar 9,54% per tahun. Namun, di Jakarta, perkembangan komunitas seni pertunjukan belum didukung sepenuhnya oleh infrastruktur arsitektural yang mampu memfasilitasi proses kreatif sekaligus keberlanjutan ekonomi komunitasnya. Proyek ini adalah performing arts center sebagai katalis urban yang dapat mengintegrasikan proses berkarya, ruang apresiasi, dan sistem ekonomi kreatif dalam satu kesatuan arsitektural. Pendekatan desain menekankan pada fleksibilitas ruang, keterbukaan sebagai ruang publik, dan mekanisme ekonomi kreatif agar bangunan tetap dapat aktif di luar agenda pertunjukan. Dengan adanya performing arts center ini, keberadaan fasilitas ini tidak hanya menyediakan ruang bagi ekspresi seni, tetapi juga untuk membuka peluang bagi berkembangnya sektor ekonomi kreatif dan menghadirkan infrastruktur kota yang berkelanjutan. Melalui integrasi aspek art, people, dan economy, proyek ini diharapkan mampu mendorong regenerasi budaya dan memperkuat ekosistem komunitas seni pertunjukan di Jakarta.

2026
👤 Penulis: Salma Ameera
🏷️ Desain Arsitektur 🏷️ Komunitas Seni Pertunjukan 🏷️ Regenerasi Budaya

PENDEKATAN CUSTOMER DISCOVERY UNTUK MEMAHAMI PREFERENSI PERUMAHAN GENERASI Z DI PERKOTAAN JAKARTA UNTUK FAIZ WORKS SEBAGAI STARTUP ARSITEKTUR

perubahan gaya hidup menyebabkan Generasi Z memiliki kebutuhan hunian yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, layanan arsitektur konvensional di Indonesia belum sepenuhnya menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan Customer Discovery berdasarkan kerangka Steve Blank dengan desain metode campuran berurutan. Analisis PESTEL digunakan untuk mengkaji faktor lingkungan makro, sementara data primer dikumpulkan melalui survei terhadap 50 responden Generasi Z di Jakarta dan dilanjutkan dengan wawancara mendalam kepada lima calon pengguna untuk menguji dan menyempurnakan konsep layanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z memprioritaskan privasi, fleksibilitas, transparansi proses desain, serta interaksi sosial yang bersifat opsional. Asumsi mengenai kesepian emosional sebagai pendorong utama preferensi hunian serta layanan arsitektur yang sepenuhnya digital tidak terbukti secara empiris. Penelitian ini menghasilkan Business Model Canvas tervalidasi yang memosisikan layanan arsitektur sebagai layanan modular, transparan, dan hybrid. Studi ini memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan kewirausahaan arsitektur berbasis kebutuhan generasi muda perkotaan.

2026
👤 Penulis: M. Faiz Amali
🏷️ Customer Discovery 🏷️ Desain Arsitektur 🏷️ Generasi Z

TRADISI UNDAGI DALAM METODOLOGI PERANCANGAN BANGUNAN MASA KINI DI BALI

Metodologi perancangan pada arus utama global cenderung berbasis tradisi barat yang rasionalistik dan teknokratik sehingga meminggirkan sistem pengetahuan lokal. Di Bali, undagi sebagai master builder mewarisi sistem pengetahuan rancang-bangun arsitektural yang menyatukan fungsi, estetika, kosmologi, dan spiritualitas, yang telah berlangsung sejak abad ke-9. Tradisi undagi mewariskan sistem desain arsitektural yang tidak hanya bersifat fungsional dan estetis, tetapi juga spiritual dan kosmologis. Orientasi ruang pada Gunung Agung (konsep Padma Bhuwana), penggunaan ukuran modulasi, pelibatan ritus dalam tahapan pembangunan, serta aktivasi energi taksu, merupakan bagian integral dari sistem epistemologi rancang bangun yang berakar kuat pada nilai lokal. Sistem ini terbukti menciptakan lingkungan binaan yang harmonis secara sakala–niskala, serta menyatu dengan struktur sosial dan spiritual masyarakat Bali. Namun, dalam dinamika pembangunan kontemporer, posisi undagi semakin tersubordinasi sistematis. Proyek-proyek arsitektur di Bali saat ini lebih banyak dikerjakan oleh arsitek dan desainer lulusan pendidikan formal berbasis metodologi modern. Peraturan Daerah No. 5 Tahun 2005 tentang Arsitektur Bangunan Gedung memang mengatur pentingnya filosofi dan identitas lokal, tetapi belum mengarusutamakan peran undagi sebagai pewaris otoritatif tradisi perancangan. Hal ini berdampak pada melemahnya kontinuitas nilai-nilai spasial dan spiritual yang mendasari tata ruang Bali. Penelitian ini bertujuan (1) merumuskan secara sistematis sistem pengetahuan undagi dan (2) memetakan unsur-unsur yang tetap relevan untuk membentuk metodologi perancangan bangunan masa kini. Riset menggunakan pendekatan kualitatif-interpretatif dengan strategi etnografis-historis (penelusuran dari abad ke 9 hingga kini) dan studi kasus kualitatif pada bangunan kontemporer di Bali. Analisis berpijak pada hermeneutika filosofis (Gadamer–Ricoeur) untuk menjembatani horizon emic (tradisi undagi) dan etic (akademik modern), semiotika untuk mengode tanda arsitektur (ikon–indeks–simbol; denotasi–konotasi–mitos), serta analisis spasial Lefebvre (conceived–perceived–lived space). Data primer mencakup observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan undagi, arsitek, dan pemangku adat; data sekunder meliputi lontar (Ashta Kosala-Kosali, Ashta Bh?mi), arsip, dan dokumentasi proyek. Kredibilitas dijaga melalui triangulasi sumber–metode dan audit trail. Temuan utama: (a) tersusun Construct 1—rumusan sistem pengetahuan undagi (tala/proporsi tubuh, orientasi kaja–kelod, hirarki tri mandala/tri angga, ritus siklus ruang, dan taksu sebagai daya ruang); (b) terpetakan pola kesinambungan transformasi pada studi kasus kontemporer (adopsi prinsip kosmologis dengan adaptasi tipologi, material, dan manajemen proyek modern); (c) terformulasi Construct 2—peta metodologi perancangan berbasis budaya yang operasional untuk kolaborasi undagi–arsitek, mengikat makna kosmologis sekaligus memenuhi kinerja teknis dan regulatif. Kontribusinya memperkaya teori metodologi desain (di luar hegemoni rasionalisme Barat) dan menawarkan pedoman implementatif bagi pendidikan, kebijakan, serta praktik metodologi perancangan (design-build approach) berkelanjutan di Bali.

2025
👤 Penulis: I Kadek Dwi Noorwatha
🏷️ Desain Arsitektur 🏷️ Tradisi Budaya Bali 🏷️ Metodologi Desain

PERANCANGAN BANGUNAN VERTICAL MIXED USE DI TOD DUKUH ATAS JAKARTA DENGAN PENDEKATAN URBAN REGENERATION

Urbanisasi yang pesat telah membawa dampak signifikan terhadap pertumbuhan kota, termasuk Jakarta. Dukuh Atas sebagai kawasan Transit Oriented Development (TOD) memiliki potensi besar, namun pemanfaatan lahan di kawasan ini belum optimal. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah pendekatan Urban Regeneration, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas ekonomi, sosial, dan lingkungan di kawasan perkotaan. Pembangunan bangunan Mixed Use dengan konsep Vertical Mixed Use diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan lahan sekaligus menyediakan hunian yang terjangkau bagi kelompok usia produktif yang membutuhkan aksesibilitas yang baik terhadap transportasi umum. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan desain arsitektur yang memaksimalkan pemanfaatan lahan di kawasan TOD Dukuh Atas dengan pendekatan Urban Regeneration, khususnya untuk memenuhi kebutuhan hunian yang sesuai dengan karakteristik dan gaya hidup masyarakat produktif. Melalui analisis kebutuhan pasar, program ruang, dan kriteria perancangan yang berbasis pada prinsip TOD, hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam merancang kawasan perkotaan yang lebih berkelanjutan dan inklusif. Diharapkan desain ini dapat menjadi acuan bagi pengembangan kawasan urban lainnya yang menghadapi tantangan serupa.

2025
👤 Penulis: Tiara Amanda Salsabila
🏷️ Desain Arsitektur 🏷️ Urbanisasi 🏷️ Pemanfaatan Lahan

PERENCANAAN MITIGASI BENCANA TSUNAMI AKIBAT GEMPA BUMI DI KEK MANDALIKA

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, sebagai destinasi pariwisata super prioritas, memiliki potensi bahaya gempa bumi dan tsunami yang signifikan akibat lokasinya yang berhadapan langsung dengan zona subduksi aktif dan berdekatan dengan segmen megathrust Jawa 3 serta Sumba. Analisis skenario terburuk melalui pemodelan menunjukkan potensi gempa bumi dapat mencapai magnitudo 9.08 Mw. Pemodelan tsunami dengan perangkat lunak Delft3D memprediksi tinggi gelombang maksimum dapat mencapai 24,4 meter di laut dan tinggi genangan di daratan hingga 19,8 meter, dengan waktu tiba gelombang di area Sirkuit Mandalika sekitar 25-28 menit pasca-gempa. Meskipun terdapat perbukitan yang dapat berfungsi sebagai Tempat Evakuasi Sementara (TES), analisis peta genangan dan aksesibilitas menunjukkan bahwa beberapa area tribun penonton sirkuit memiliki jarak dan akses yang terbatas untuk evakuasi horizontal secara efektif. Oleh karena itu, penelitian ini merancang sebuah Bangunan Evakuasi Vertikal (BEV) sebagai solusi mitigasi alternatif. BEV ini direncanakan sebagai bangunan multifungsi 4 lantai dengan dimensi 40x100 meter yang mampu menampung 4.000 orang dari tribun yang paling rentan. Struktur bangunan dirancang menggunakan material beton bertulang dan diperhitungkan agar tahan terhadap pembebanan gempa dan berbagai gaya akibat tsunami, seperti gaya hidrodinamis dan impak puing, sesuai standar FEMA P-646 dan SNI yang berlaku.

2025
👤 Penulis: Lalu Sahril Rahmadji
🏷️ Geologi 🏷️ Manajemen Risiko Geologi 🏷️ Desain Arsitektur

ANMYORI: A RESORT ROOTED IN THE SOUL OF BALINESE ARCHITECTURE, SITUATED IN KLUNGKUNG CULTURAL CENTRE

Bali, pulau dengan julukan “The Island of Gods”, menghadapi tantangan kelestarian budaya akibat pengembangan pesat yang didorong oleh industri pariwisata. Globalisasi, modernisasi, serta overtourism telah mengancam warisan budaya Bali. Untuk mengatasi tantangan tersebut, Pemerintah Provinsi Bali melalui Gubernur I Wayan Koster mencanangkan Pusat Kebudayaan Bali (PKB) Klungkung, yang akan menggantikan Art Centre Denpasar yang dianggap sudah tidak memadai. Kapasitas yang besar dan visi menciptakan PKB Klungkung sebagai resort budaya membuat urgensi yang tinggi untuk dibangunnya hotel-hotel penunjang. Pembangunan yang kurang mengedepankan Arsitektur Bali seringkali melukai wajah kota-kota di Bali. Pertimbangan akan keberlanjutan juga menjadi keharusan untuk mengurangi dampak buruk pada lingkungan. Perancangan fasilitas seperti hotel marina di kawasan PKB Klungkung juga harus mempertimbangkan keberagaman pengguna serta lokasi yang terletak di tepi laut yang harus menjembatani akses darat laut. Selain itu, kawasan ini juga rentan terhadap bencana alam, seperti potensi tsunami dan letusan gunung. Oleh karena itu, desain fasilitas ini harus mengintegrasikan empat pertimbangan utama: Arsitektur Bali untuk mempertahankan kekhasan dan kelestarian budaya, user-centered design untuk menciptakan ruang yang mendukung interaksi sosial dan kenyamanan pengguna, arsitektur hijau yang mengutamakan keberlanjutan dan ramah lingkungan, serta arsitektur tanggap bencana untuk memastikan ketahanan bangunan terhadap potensi bencana alam. Laporan ini bertujuan untuk mengidentifikasi seperangkat kriteria perancangan yang diperlukan dalam merancang hotel resort marina di PKB Klungkung. hotel resort marina ini dibangun di atas lahan seluas 20.176 m2 dengan luas tapak bangunan 6.809 m2 (35,17% dari lahan) dan total luas lantai terbangun sejumlah 9.600 m2. Resort ini dirancang untuk mengakomodasi massa utama (untuk fungsi utama), private cottages, private 2 bedrooms, dan massa waterfront (mayoritas untuk fungsi publik). Resort ini memiliki fasilitas 29 kamar privat premium, galeri eksibisi, restoran, bar, wedding chapel, amfiteater, hingga area yoga spa dan sauna.

2025
👤 Penulis: Ida Bagus Dwijendra
🏷️ Desain Arsitektur 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Wisata 🏷️ Kebudayaan Digital

PLASTIKARYA BOGOR: PUSAT KOLABORASI SEBAGAI SARANA EDUKASI PENGELOLAAN SAMPAH PLASTIK DI KOTA BOGOR

Pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi di Indonesia mendorong peningkatan konsumsi plastik, terutama di wilayah perkotaan. Data menunjukkan bahwa Indonesia menghasilkan 31,9 juta ton sampah pada tahun 2023–2024, dengan 35,7% di antaranya tidak terkelola dengan baik. Sampah plastik menjadi salah satu ancaman utama terhadap lingkungan akibat rendahnya literasi, kesadaran masyarakat, serta kurangnya infrastruktur pengelolaan. Oleh karena itu, edukasi menjadi langkah krusial dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat. Proyek ini merancang sebuah pusat kolaborasi di Kota Bogor yang berfungsi sebagai sarana edukasi dan pengelolaan sampah plastik berbasis pengalaman (experiential learning). Melalui pendekatan desain arsitektur yang mendorong interaksi, partisipasi aktif, dan kegiatan kolaboratif seperti workshop dan pameran, ruang ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya daur ulang plastik. Dengan terlibat langsung dalam prosesnya, masyarakat diajak untuk mengadopsi pola pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Della Akhiradelistia
🏷️ Desain Arsitektur 🏷️ Pengelolaan Sampah Plastik 🏷️ Edukasi Masyarakat

WAJAH BARU PASAR SEDERHANA: PUSAT AKTIVITAS MASYARAKAT

Pasar merupakan tempat bertemunya pembeli dan penjual untuk melakukan transaksi jual-beli barang dan jasa. Pasar menjadi salah satu sumber penopang hidup bagi masyarakat Indonesia. Pasar sudah menjadi tempat memenuhi salah satu kebutuhan utama manusia yaitu kebutuhan pangan. Dewasa ini, pasar sudah dicap memiliki tempat yang kotor/kumuh, berbau tidak sedap, dan tidak higenis. Banyak juga pedagang yang berjalan secara informal yang dimana artinya mereka tidak resmi dan tidak memiliki kepastian hukum. Akan tetapi, ada beberapa hal yang menjadi kelebihan khas pasar, seperti harga jualnya yang terjangkau dengan komoditas yang sangat bervariasi. Kemudian, pasar juga menjadi salah satu alternatif usaha yang mudah untuk dilakukan dengan untung yang cukup banyak. Hal itu membuat pasar menjadi instrumen ekonomi yang berpotensi besar yang mampu bertahan dan beradaptasi pada berbagai kondisi. Dengan ini, pasar di Indonesia patut dirancang lebih baik lagi. Namun, di Indonesia masih banyak pasar yang dirancang dengan tidak maksimal. Hal ini menyebabkan turunnya minat pedagang untuk berjualan di pasar serta minat pembeli untuk membeli ke pasar. Akibatnya, banyak pedagang yang memutuskan untuk berjualan di pinggir jalan atau di tempat yang tidak seharusnya dan menganggu kenyaman orang di sekitarnya. Hal ini didukung dengan meningkatnya harga tanah di Indonesia yang disebabkan oleh pengelolaan tanah negara yang cenderung dinvestasikan terhadap kelompok swasta sehingga semakin sedikit lahan yang tersisa. Hal tersebut tentunya menyebabkan kenaikan harga sewa bangunan di Indonesia. Dengan ini, Upaya dalam merespon permasalahan-permasalahan tersebut, kontribusi arsitek adalah dengan memberikan proyek dengan visi menciptakan ruang untuk aktifitas jual-beli yang lebih nyaman, bersih, memadai, dan sekaligus mampu menunjang aktivitas keseharian penggunanya. Ditambah dengan hunian untuk bertempat tinggal dan menjadikan tempat ini pusat aktivitas. Pasar sederhana adalah salah satu contoh pasar utama di Kota Bandung. Pemilihan Pasar Sederhana didasari dengan lokasi nya yang strategis di dalam kota, ukuran serta jumlah pedagang, dan adanya pengembangan dari pemerintah sebelumnya. Proyek ini berfokus dalam memaksimalkan penggunaan lahan, penyediaan multifungsi untuk mewadahi berbagai aktivitas, peningkatan konektivitas, serta kenyamanan penghawaan dalam bangunan. Selain itu, akan disediakan juga ruang-ruang untuk bersantai, restoran, serta fasilitas penunjang lainnya. Dengan menggunakan konsep desain modern dan digabungkan dengan budaya pasar tradisional Indonesia, bangunan ini hadir dengan membawa wajah baru sebuah pasar.

2025
👤 Penulis: Jeremy Putra Pratama S.
🏷️ Pasar Sederhana 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Desain Arsitektur

MANULA (RUMAH MANDIRI UNTUK LANSIA): RUANG PENGEMBANGAN KEMANDIRIAN KOMUNITAS LANSIA DI KABUPATEN NGANJUK

Lansia merupakan kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus akibat penurunan fisik dan kognitif yang mengurangi kemandirian mereka. Ketergantungan lansia terhadap generasi produktif, ditambah meningkatnya populasi lansia di Indonesia, memunculkan stigma lansia sebagai beban sosial yang berdampak pada penurunan kesejahteraan. Salah satu daerah dengan permasalahan ini adalah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, yang mengalami keterbatasan fasilitas hunian bagi lansia terlantar. Untuk menjawab isu tersebut, arsitektur berperan menghadirkan proyek hunian lansia yang mendorong kemandirian komunitas lansia, baik secara fisik maupun finansial, guna meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas mereka. Berlokasi di pusat Kabupaten Nganjuk, proyek ini memadukan elderly housing, commercial space, community space, dan restorative space, dengan dukungan Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaan Masyarakat, dan LLI (Lembaga Lanjut Usia Indonesia). Isu utama dalam perancangan mencakup aspek keamanan, kenyamanan, kemandirian, produktivitas, dan interaksi, dengan landasan teori Supportive Environment, Biophilic Design, Responsive Architecture, serta Cohesion and Integration.

2025
👤 Penulis: Bertilia Luvena Irawan
🏷️ Kepemilikan Properti 🏷️ Komunitas Lansia 🏷️ Desain Arsitektur

PERANCANGAN TERMINAL PENUMPANG BANDARA DENGAN PENDEKATAN LOKALITAS (Kasus Perancangan: Bandara Mali, Kabupaten Alor NTT)

Di era modern seperti sekarang, perlakuan terhadap identitas sebuah tempat perlahan telah berkurang secara gradasi sehingga menutupi keaslian tersebut. Kondisi tersebut oleh Edwards Relph disebut sebagai placelessness. Sudah menjadi hal yang biasa di Indonesia menghilangkan keaslian tersebut untuk menerima standar umum yang terlalu dikendalikan oleh hal-hal efisiensi seperti yang telah dinyatakan oleh pihak Dirjen Perhubungan Udara. Permasalahannya adalah ketika setiap daerah memiliki ciri khas yang berpotensi sebagai destinasi wisata, interpretasi perancang masa kini selalu menampilkan sebuah terminal penumpang bandara yang meleburkan bentuk-bentuk modern dengan vernakular. Pencapaian dari rancangan bandara yang akan distudi ini adalah penumpang yang datang akan menerima kesan awal dari tempat wisata yang akan dikunjungi serta akan mengingat pesan yang tersampaikan dari budaya setempat bagi penumpang yang akan berangkat. Oleh karena itu, ekspresi bangunan melalui elemen arsitektur lokal akan memberikan persepsi tersendiri bagi manusia yang melihat dan merasakannya. Gagasan dasarnya adalah memberikan karakter Indonesia dengan rasa lokal Alor. Metode yang akan digunakan untuk menghasilkan perancangan Terminal Penumpang Bandara Alor adalah dengan pendekatan lokalitas. Metode ini dipilih sebagai jalan untuk mendapatkan karakter lokal yang sesuai dengan prinsip eco-airport serta berkaitan dengan kearifan lokal setempat. Gabungan Arsitektur Neo-Vernacularism dengan Arsitektur Kontemporer menjadi dasar dari pengembangan konsep perancangan Bandara Mali Alor dengan menyatukan bangunan beserta manusianya kepada alam serta memanfaatkan unsur lokalitas tanpa melepas citra modern. Pada prinsipnya, hasil rancangan akan mengikuti proporsi rumah tradisional Alor dan secara keseluruhan bangunan akan mengikuti suasana desa tradisional Alor. Pemakaian material dengan citra lokal setempat akan membantu mengangkat unsur lokalitas pada bangunan bandara seperti alang-alang sintetis pada atap, secondary skin dengan material alam seperti anyaman bambu atau papan kayu komposit, material batu asli dari bukit tersebut untuk pemanfaatan lansekap baik estetika maupun fungsional.

2025
👤 Penulis: Aris Adhi Nugraha
🏷️ Desain Arsitektur 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Lokal 🏷️ Eco-Airport

PERANCANGAN SISTEM PLAMBING AIR BERSIH, AIR BUANGAN, VENT, AIR HUJAN, DAN SISTEM PEMADAM KEBAKARAN DI MUSEUM MEMORIAL SOEKARNO, KOTA BANDUNG.

Museum Memorial Soekarno dirancang untuk mempelajari sejarah secara lebih atraktif dan menarik , sehingga bermanfaat bagi perkembangan masa depan di Kota Bandung. Museum Memorial Soekarno memiliki struktur yang terdiri dari 5 lantai dan dua basement. Fungsi peralatan plambing adalah menyediakan air bersih dengan tekanan cukup ke tempat yang diinginkan dan membuang air kotor tanpa mencemari area lain. Sistem plambing yang direncanakan adalah sistem air bersih, air daur ulang, air buangan, vent, dan air hujan yang dirancang berdasarkan dari SNI 8153:2015 tentang Sistem Plambing pada Bangunan Gedung. Sistem air bersih dan air daur ulang menggunakan tangki atas yang akan dipompakan dari tangki bawah. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, museum ini membutuhkan kebutuhan air bersih sebesar 76,33 m3. Sistem penyediaan air bersih didukung oleh reservoir bawah dengan volume 55,98 m3 dan reservoir atas sebesar 8,53 m3. Air buangan pada perancangan ini direncanakan untuk menggunakan sistem pengaliran yang terpisah antara Greywater dan Blackwater. Greywater yang dihasilkan dari floor drain, sink, dan lavatory dialirkan menuju STP untuk diolah kembali menjadi air daur ulang. dengan volume reservoir bawah daur ulang sebesar 30,84 m3 dan reservoir atas daur ulang sebesar 10,36 m3. Blackwater dihasilkan dari alat plambing urinal dan kloset, akan dialirkan langsung menuju riol kota. Sistem vent direncanakan untuk menggunakan sistem vent loop dengan tujuan untuk melayani 8 alat plambing yang menghasilkan air buangan. Air hujan yang terkumpul dari atap dialirkan ke fasilitas pengolahan untuk digunakan kembali (reuse), dan bila tangki pengolahan melebihi kapasitas akan dialirkan menuju sump pit yang kemudian akan dialirkan menuju riol kota. Sistem Pemadam Kebakaran akan menggunakan sprinkler, hidran, dan hidran halaman yang bersumber dari air bersih.

2024
👤 Penulis: Mohammad Ilham Prayudi
🏷️ Desain Arsitektur 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air 🏷️ Sistem Pemadam Kebakaran
Halaman 1 dari 2
💬