📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4 dokumenIMPLEMENTASI KONSEP TRAUMA-INFORMED DESIGN (TID) DALAM PERANCANGAN RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK DI YOGYAKARTA
Penelitian ini berfokus pada perancangan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) di Yogyakarta yang responsif terhadap isu psikososial di lingkungan medis. Melalui penerapan prinsip Trauma-Informed Design (TiD), rancangan ini hadir sebagai solusi atas risiko retraumatisasi pada kelompok ibu dan anak yang sering kali dipicu oleh pengaturan spasial yang tidak memadai. Metodologi yang digunakan merupakan kerangka kerja integratif; menyinergikan data kualitatif TiD dengan prinsip User-Centered Design (UCD), yang kemudian divalidasi secara teknis melalui pendekatan Evidence-Based Design (EBD). Implementasi desain dilakukan pada tapak di kawasan Sleman, Yogyakarta dengan mengoptimalkan karakteristik iklim mikro setempat sebagai elemen restoratif alami. Strategi perancangan ini menyelaraskan standar regulasi kesehatan dengan inovasi arsitektural guna menjaga kualitas desain yang komprehensif. Pada akhirnya, studi ini diproyeksikan untuk mentransformasi standar fisik fasilitas kesehatan menjadi lingkungan yang lebih humanis, yang mampu mereduksi hambatan psikologis sekaligus mengakselerasi proses pemulihan pasien secara berkelanjutan.
SIRKL* KINA: SIMPUL KREASI KOLABORATIF MELALUI ADAPTIVE REUSE DI KAWASAN PABRIK KINA
Kota Bandung memiliki sejarah panjang sebagai episentrum medis global, salah satunya ditandai oleh berdirinya Pabrik Kina pada tahun 1896. Saat ini, seiring dengan transisi Bandung menjadi Kota Kreatif UNESCO yang menaungi puluhan ribu pelaku ekonomi kreatif, terjadi peningkatan kebutuhan ruang kolaboratif di tengah masyarakat. Namun, berhentinya operasional Pabrik Kina menyisakan struktur raksasa yang terbengkalai. Proyek ini merespons tiga isu utama yang muncul akibat kondisi tersebut: stagnasi aset cagar budaya yang memicu degradasi ruang, memudarnya memori kolektif masyarakat terhadap identitas historis kawasan, serta karakter tipologi industri peninggalan yang tertutup dan terisolasi. Sebagai jawaban arsitektural atas tantangan tersebut, diajukan perancangan "Sirkl' Kina", sebuah Collaborative and Circular Creative Hub dengan pendekatan Adaptive Reuse. Pendekatan pelestarian ini bekerja dengan strategi mempertahankan cangkang fisik (shell) berupa dinding fasad dan struktur atap bentang lebar yang memiliki signifikansi historis, sembari menyuntikkan program ruang baru yang relevan di dalamnya. Tipologi pabrik industri yang sebelumnya kaku dan tertutup direkontekstualisasi menjadi fasilitas mixed-use yang permeabel, mencakup area komersial, ruang kerja kolaboratif, serta ruang pameran kultural. Design framework yang digunakan adalah force-based approach, di mana desain akhir merupakan hasil negosiasi dinamis antara kekuatan lingkungan (mempertahankan cangkang fisik bangunan), sosial (merawat memori kolektif), dan ekonomi (mewadahi ekosistem kreatif). Metodologi ini diimplementasikan melalui studi literatur, observasi lapangan, analisis komparatif, dan pemetaan sistem untuk mensintesis data menjadi konsep spasial yang efektif. Luaran yang diharapkan adalah sebuah rancangan arsitektural yang komprehensif dan inovatif, serta dapat berkontribusi sebagai fasilitas yang menyelamatkan artefak peninggalan industri dari kerusakan sekaligus mendukung transisi Bandung menuju kota kreatif
BRIDGING INFORMALITY HUNIAN TRANSISIONAL PRODUKTIF UNTUK PEMULUNG DI KOTA BANDUNG
Bandung merupakan salah satu kota dengan populasi terpadat di Indonesia yang sangat bergantung pada sektor formal pemerintah untuk pengelolaan sampahnya. Sektor ini beroperasi dalam sistem ekonomi linier (take-make-dispose) tradisional. Saat ini, Kota Bandung menghasilkan sekitar 430 ton sampah yang membutuhkan sekitar 154 ritase pengangkutan harian untuk dibuang. Namun, TPA Sarimukti sebagai tempat pemrosesan akhir utama yang melayani Kawasan Bandung Raya, hanya memiliki kapasitas sekitar 140 ritase harian, menyisakan 14 hingga 15 ritase sampah yang tidak terbuang setiap harinya. Hal ini memicu permasalahan besar berupa penumpukan limbah perkotaan. Berbagai solusi telah diupayakan oleh pemerintah, termasuk daur ulang limbah mandiri. Namun, kurangnya jangkauan komunitas dan edukasi publik membuat solusi ini kurang efektif. Solusi potensial lainnya, selain perbaikan sistem secara menyeluruh, adalah keterlibatan sektor informal yang didominasi oleh para pemulung. Berbeda dengan sektor formal, sektor informal ini beroperasi berdasarkan sistem ekonomi sirkular. Ekonomi sirkular mendefinisikan ulang konsep 'limbah' dengan memastikan bahwa material tidak pernah benar-benar dibuang dan justru didaur ulang kembali ke dalam rantai pasok menjadi material baru, menciptakan sistem rantai pasok tertutup (closed-loop system). Pemulung merupakan tulang punggung utama dari sistem ini. Namun, dalam posisinya di pengelolaan limbah skala makro ini, mereka mengalami kerentanan sosial-ekonomi dan konflik spasial antara kehidupan bertempat tinggal dan bekerja mereka. Hal ini tidak hanya memicu gesekan antar-kebutuhan individu, tetapi juga mengoyak tatanan sosial (social fabric) pemulung itu sendiri. Sebuah intervensi arsitektural diajukan untuk memecahkan permasalahan ini dengan mewadahi kebutuhan kerja sekaligus hunian para pemulung, sembari mendorong pemberdayaan sosial maupun finansial dari sektor informal tersebut. Rancangan ini melibatkan pusat pengolahan limbah yang didesain secara spesifik untuk alur kerja pemulung dalam memilah dan mengelola sampah. Unit-unit hunian juga dirancang untuk mewadahi kehidupan pribadi dan tempat tinggal para penghuni secara layak, sekaligus mendorong interaksi warga melalui ruang-ruang komunal. Arsitektur ini juga mengintegrasikan pemulung ke dalam tatanan perkotaan (urban fabric) dengan menciptakan ruang-ruang publik yang memperlihatkan realitas pengolahan limbah tersebut. Konsep desain yang diajukan meliputi transition from contamination, empowerment from stagnation, community & flexibility. Persyaratan desain kemudian dirumuskan untuk memenuhi konsep-konsep tersebut, contohnya melalui penerapan zonasi vertikal, pemeliharaan filter higienis (hygienic filters), dan penciptaan lanskap yang produktif serta fleksibel. Solusi arsitektural ini secara langsung menjawab SDG 10 (Reduce Inequalities / Mengurangi Ketimpangan) dan SDG 1 (No Poverty / Tanpa Kemiskinan).
REVITALISASI DESAIN PASAR RAKYAT KOTAGEDE SEBAGAI RUMAH EKONOMI YANG PROGRESIF DAN BERBUDAYA
Pasar rakyat, yang merupakan elemen ekonomi penting di Indonesia, tidak hanya menjadi tempat untuk bertransaksi jual-beli, tetapi juga merupakan ruang publik yang mendukung berbagai profesi dan menciptakan nilai ekonomi bagi berbagai lapisan masyarakat. Terdapat sekitar 15.657 pasar rakyat di seluruh Indonesia, yang berperan sebagai pilar ekonomi kerakyatan dengan peluang usaha yang tidak memerlukan modal besar dan memberikan peluang yang setara bagi pedagang kecil dan menengah. Selain sebagai tempat berdagang, pasar rakyat juga mendukung berbagai profesi terkait, seperti buruh angkut, tukang ojek, tukang potong, dan pedagang kaki lima. Jumlah ini mencerminkan pentingnya pasar rakyat dalam ekonomi Indonesia dan stabilitas kehidupan penduduk. Oleh karena itu, menjaga dan meningkatkan daya saing pasar rakyat sangat krusial dalam menghadapi perubahan ekonomi yang terus berlangsung. Selain nilai ekonomi, respons arsitektural terhadap revitalisasi pasar rakyat juga memiliki peran penting. Desain pasar rakyat harus mempertimbangkan nilai budaya, memenuhi standar nasional, dan menciptakan ruang yang mendukung kegiatan jual-beli serta pengembangan komunitas. Desain harus mencerminkan keselarasan antara pedagang dan pembeli serta keterikatan di antara keduanya. Proyek revitalisasi Pasar Rakyat Kotagede bertujuan menghidupkan kembali pasar rakyat sebagai rumah ekonomi yang progresif dan berbudaya. Fokus proyek ini adalah pada pengembangan desain pasar rakyat yang menjunjung tinggi kualitas progresif, keterjaminan, dan keberpihakan terhadap budaya lokal. Pasar Legi Kotagede di Yogyakarta menjadi subjek utama proyek ini. Lingkup proyek mencakup pengembangan ruang untuk kegiatan jual-beli yang mematuhi standar SNI, serta perhatian khusus terhadap ruang pelatihan pedagang, ruang interaksi sosial, dan ruang acara/pameran. Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta dan Pemerintah Kota Yogyakarta menjadi pihak yang menginisiasi proyek ini dengan tujuan utama meningkatkan peran pasar rakyat dalam mendukung ekonomi kerakyatan dan budaya lokal. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan yang mendalam tentang pasar rakyat, nilai-nilai pentingnya, tantangan yang dihadapinya, serta langkah-langkah arsitektural yang dapat diambil untuk memajukan pasar rakyat dalam konteks revitalisasi. Pasar rakyat tetap menjadi elemen penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan memiliki potensi besar untuk mendukung ekonomi kerakyatan serta mempertahankan nilai budaya yang berharga. Revitalisasi pasar rakyat adalah langkah penting dalam menjaga relevansi dan keberlanjutan pasar ini di masa depan.