📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 10 dokumenPUSAT REHABILITASI BERBASIS TERAPI UNTUK PASIEN PENDERITA GANGGUAN MENTAL DENGAN PENDEKATAN ‘ARSITEKTUR PENYEMBUHAN‘ DI KOTA BANDUNG
Isu kesehatan mental di Indonesia masih menghadapi tantangan dari segi keterbatasan fasilitas dan stigma sosial yang buruk. Persentase generasi Z pengidap gangguan mental di Indonesia ditemukan sebanyak 57% pengidap gangguan pascatrauma, 39% pengidap gangguan neurotik, dan 30,5% pengidap gangguan psikotik (Saputra, dkk, 2025). Di Provinsi Jawa Barat, jumlah penderita gangguan mental mengalami peningkatan dari 9,3% menjadi 12,1% pada tahun 2018 (Khairunnisa, A., dkk, 2021) dan kerap meningkat hingga saat ini. Maka Kota Bandung menjadi lokasi fokus untuk rancangan ini. Semua orang di dalam komunitas pengidap gangguan mental mengalami isu ketidaksetaraan hak yang sama. Fasilitas kesehatan mental yang ada masih terbatas pada layanan dasar rumah sakit jiwa dan puskesmas sehingga pasien yang membutuhkan pemulihan jangka menengah kesulitan untuk bertransisi dan reintegrasi ke dalam masyarakat. Kondisi ini melatarbelakangi gagasan tugas akhir ini yang mengangkat topik arsitektur bernarasi penyembuhan dalam perancangan tipologi pusat rehabilitasi pasien gangguan mental di Bandung. Rancangan pusat rehabilitasi ini merupakan bangunan non-institusional yang berfokus pada aspek psikososial, edukasi, dan inklusi. Topik ini relevan dengan panel SDG 3 (Good Health and Wellbeing), SDG 4 (Quality Education), dan SDG 10 (Reduced Inequalities) karena proyek ini bertujuan untuk menghadirkan pusat rehabilitasi yang mampu mendukung pemulihan mental dan mengurangi stigma sosial dengan menyediakan ruang publik inklusif beserta edukasi. Gagasan utama yang mendasari tugas ini adalah bagaimana arsitektur dapat berfungsi sebagai narasi penyembuhan sekaligus jembatan transisi sosial bagi pasien dengan gangguan mental. Framework yang digunakan adalah concept-based approach dengan integrasi healing architecture sebagai pendekatan utama, arsitektur yang berfokus mewadahi kebutuhan psikologi manusia sebagai pendukung landasan desain. Arsitektur diposisikan sebagai narasi pemulihan, dimana bentuk bangunan dan ruang dirancang untuk merepresentasikan perjalanan pasien dari fase rawan menuju reintegrasi sosial. Konsep healing architecture memiliki enam kriteria utama yang diterapkan dan semua merujuk kepada arsitektur penyembuhan, desain inklusif, psikologi lingkungan, dan narasi arsitektur sebagai instrumen penyembuhan. Metodologi perancangannya meliputi studi literatur mengenai teori dan preseden tipologi pusat rehabilitasi, observasi lapangan pada tapak dan institusi kejiwaan yang ada di Bandung, analisis kebutuhan pasien yang dibagi dalam tiga kategori (pascatrauma, gangguan neurotik, dan gangguan psikotik), dan kemudian mengeksplorasi desain iteratif berbasis konsep hingga tercapai skema yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Hasil perancangan berupa pusat rehabilitasi dengan tipologi paviliun dua lantai yang memungkinkan pemisahan zona sesuai kebutuhan pasien. Narasi arsitektur diwujudkan melalui perjalanan spasial, dimana pasien memulai dari area yang privat dan aman, kemudian bergerak ke area semi-privat, hingga akhirnya berinteraksi di ruang publik terbuka. Skema ini merefleksikan proses pemulihan psikologis yang bertahap. Proyek ini menawarkan model pusat rehabilitasi mental yang tidak berwajah institusional. Kontribusi yang dihasilkan mencakup penciptaan lingkungan yang mendukung pemulihan dan menyiapkan reintegrasi sosial bagi pasien, menciptakan ruang publik inklusif dan mendorong interaksi positif antara masyarakat dan penyintas gangguan mental, dan secara arsitektural menawarkan pusat rehabilitasi dengan penerapan concept-based approach yang dapat menjadi acuan untuk proyek serupa di kota lain.
PERANCANGAN MICRO-STADIUM TEMPORER UNTUK MENANGGAPI FENOMENA BANGUNAN TERBENGKALAI PASCA EVENT
Penyelenggaraan event berskala besar telah menjadi salah satu strategi pembangunan yang banyak diterapkan oleh berbagai kota untuk meningkatkan citra daerah, memperkuat identitas kawasan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pembangunan infrastruktur baru. Dalam konteks tersebut, fasilitas olahraga, ruang pertunjukan, maupun bangunan pendukung lainnya umumnya dirancang sebagai bangunan permanen yang mampu memenuhi kebutuhan penyelenggaraan selama event berlangsung. Namun, pendekatan tersebut sering kali mengabaikan perbedaan mendasar antara karakter event yang bersifat sementara dengan umur layanan bangunan yang dirancang untuk bertahan dalam jangka panjang. Akibatnya, setelah event selesai, berbagai fasilitas mengalami penurunan intensitas penggunaan karena fungsi, kapasitas, maupun konfigurasi ruang yang dimiliki tidak lagi sesuai dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Kondisi tersebut diperparah oleh tingginya biaya operasional dan pemeliharaan yang harus ditanggung meskipun tingkat pemanfaatan bangunan terus menurun. Dalam jangka panjang, bangunan-bangunan tersebut berpotensi kehilangan nilai ekonomi, sosial, maupun fungsional hingga akhirnya menjadi aset terbengkalai yang membebani pengelolaan kota. Fenomena ini bukan merupakan kasus yang bersifat insidental, melainkan pola yang terus berulang pada berbagai penyelenggaraan event olahraga maupun kegiatan berskala besar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan pembangunan yang berorientasi pada permanensi belum mampu menjawab kebutuhan ruang yang pada dasarnya bersifat temporal. Dengan kata lain, persoalan utama tidak hanya terletak pada pengelolaan bangunan setelah event berakhir, tetapi juga pada paradigma perancangan yang belum mempertimbangkan dimensi waktu sebagai bagian integral dari proses desain. Berangkat dari kondisi tersebut, proyek ini mengusulkan perancangan micro-stadium temporer sebagai alternatif pendekatan arsitektur yang menempatkan hubungan antara durasi penyelenggaraan kegiatan dan siklus hidup bangunan sebagai dasar utama dalam proses perancangan. Melalui penerapan konsep time-based architecture dan prinsip design for disassembly, bangunan dirancang agar dapat dibangun, digunakan, dibongkar, dipindahkan, maupun dirakit kembali sesuai kebutuhan penyelenggaraan event tanpa meninggalkan infrastruktur permanen yang berpotensi kehilangan fungsi di masa mendatang. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan fasilitas yang lebih adaptif terhadap perubahan kebutuhan ruang, meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya sepanjang siklus hidup bangunan, mengurangi potensi limbah konstruksi, serta meminimalkan risiko terbentuknya bangunan pasca-event yang tidak lagi produktif. Dengan demikian, proyek ini menawarkan paradigma alternatif dalam perancangan fasilitas event, yaitu pergeseran dari pendekatan yang berorientasi pada permanensi menuju arsitektur yang lebih fleksibel, berkelanjutan, dan mampu merespons hubungan antara waktu, penggunaan ruang, serta keberlanjutan infrastruktur secara lebih kontekstual.
BANDUNG TENNIS ACADEMY: TENNIS FACILITY INTEGRATING PROFESSIONAL AND WHEELCHAIR ATHLETE TRAINING
Prestasi olahraga tenis lapangan di Indonesia saat ini masih menghadapi kesenjangan yang signifikan, di mana data menunjukkan hanya sekitar 1% atlet nasional yang mampu menembus peringkat 1000 besar dunia, sementara 99% sisanya masih terbatas pada sirkuit kompetisi domestik. Kondisi ini diperparah oleh absennya atlet tenis adaptif (kursi roda) di peringkat global akibat ketiadaan infrastruktur pelatihan yang berjenjang, minimnya pemenuhan regulasi internasional International Tennis Federation (ITF), serta rendahnya aksesibilitas lingkungan terbangun yang ramah disabilitas. Penelitian rancangan ini bertujuan untuk menghasilkan desain Bandung Tennis Academy di kawasan Gedebage, Kota Bandung, sebagai sebuah tiered training hub yang inklusif dan integratif bagi atlet profesional reguler maupun atlet kursi roda. Metode perancangan dilakukan melalui pendekatan analisis spasial berbasis data untuk menyelaraskan regulasi teknis makro dan kebutuhan fungsional kawasan olahraga. Gubahan massa dikembangkan melalui pendekatan Clustered Form guna mengompresi jarak tempuh sirkulasi horizontal antar-fungsi utama. Respon terhadap iklim tropis diwujudkan secara pasif melalui penerapan operasi bentuk subtraktif berupa void melingkar (O-Shape) pada massa asrama dan lapangan tanding untuk mengoptimalkan ventilasi silang (cross-ventilation) serta pencahayaan alami. Hasil perancangan mengintegrasikan tiga massa bangunan utama (Massa Utama, Lapangan Tanding, dan Asrama Atlet) berskala total 22.200 m² di atas lahan seluas 35.500 m². Proyek ini mengalokasikan total 13 lapangan tenis, dengan pembagian 2 lapangan latihan indoor khusus pengguna kursi roda, 10 lapangan latihan reguler, dan 1 lapangan tanding, sebuah keputusan spasial yang didasarkan secara presisi pada rasio populasi atlet tenis dunia sebesar 1:6. Solusi inklusivitas vertikal dan horizontal diwujudkan melalui sistem Elevated Pedestrian Deck bebas hambatan (barrier-free) yang menghubungkan lantai dua seluruh kluster bangunan, menjamin kemandirian mobilitas penuh bagi atlet disabilitas. Kompleks ini disempurnakan dengan artikulasi fasad menggunakan static undulating fins yang menciptakan efek visual kinetik dinamis. Melalui integrasi struktur bentang lebar rangka baja (steel truss), kepatuhan standar teknis ITF, dan penerapan desain universal, Bandung Tennis Academy hadir sebagai solusi arsitektural konkret dalam memfasilitasi kemajuan prestasi tenis Indonesia di kancah internasional.
MENYEMAI ASA: PUSAT PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN POTENSI PENYANDANG DISABILITAS INTELEKTUAL DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR PERILAKU
Penyandang disabilitas intelektual merupakan individu yang mengalami keterbatasan fungsi intelektual dan adaptif yang berimplikasi pada kemampuan berpikir, bersosialisasi, berbahasa, serta melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Meskipun begitu, mereka tetap memiliki potensi untuk berkembang secara optimal apabila memperoleh dukungan dan pelatihan yang tepat. Di Indonesia, khususnya di Kota Bandung, masih terdapat keterbatasan fasilitas yang mewadahi pendidikan lanjutan dan pengembangan potensi penyandang disabilitas intelektual setelah lulus dari Sekolah Luar Biasa (SLB), sehingga kemampuan yang telah dibentuk berisiko mengalami penurunan akibat tidak tersedianya wadah pengembangan berkelanjutan. Oleh karena itu, proyek ini bertujuan menyediakan fasilitas edukasi dan pengembangan potensi yang mendukung kemandirian serta peningkatan kualitas hidup penggunanya. Pendekatan perancangan yang diterapkan adalah arsitektur perilaku, yang menitikberatkan pada pemahaman karakteristik, kebiasaan, serta sensitivitas pengguna terhadap lingkungan binaan, dengan perumusan enam prinsip perancangan, yaitu legibility and wayfinding, territoriality and control, design for senses, prospect and refuge, privacy and choice, serta design for routine. Untuk mewujudkan lingkungan yang inklusif dan mudah diakses, perancangan juga mengadopsi pendekatan barrier-free design sebagai bagian dari desain universal. Selain itu, konsep arsitektur biofilik diterapkan sebagai respons terhadap konteks tapak perkotaan yang padat dan berpotensi menimbulkan stres, dengan mengacu pada tiga aspek desain biofilik yang dirumuskan oleh Terrapin Bright Green, yaitu nature in space, nature analogues, dan nature of the space, sehingga diharapkan tercipta lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif bagi pengembangan potensi penyandang disabilitas intelektual.
PERANCANGAN RUMAH SAKIT KELAS B DENGAN OTOMATISASI BERBASIS SYARAT KONEKSI SPASIAL DEPARTEMEN RUMAH SAKIT SERTA OPTIMASI CAHAYA
Penelitian ini berangkat dari kebutuhan akan pendekatan desain rumah sakit yang lebih efisien dan adaptif terhadap tantangan spasial, iklim, dan kinerja pencahayaan alami. Rumah Sakit Salman, yang dirancang sebagai rumah sakit kelas B di kawasan Soreang, menjadi studi kasus utama untuk mengeksplorasi integrasi metode parametrik dalam tahapan desain arsitektural. Keterbatasan lahan, akses yang terbatas dari satu sisi, serta kebutuhan akan tata kelola sirkulasi vertikal yang efektif, menjadi latar belakang utama bagi pengembangan sistem rancangan berbasis performa. Studi ini mengkombinasikan preferensi massa perancang dengan metode generatif berbasis algoritma evolusioner guna menghasilkan konfigurasi spasial yang optimal. Metodologi penelitian ini terdiri atas empat tahap: pemetaan preferensi bentuk massa sesuai konteks tapak, pemetaan spasial departemen berdasarkan kedekatan fungsional, simulasi otomatisasi zonasi menggunakan Wallacei, serta penyesuaian desain berdasarkan hasil zonasi dengan pendekatan semi-manual. Dalam proses ini, setiap departemen rumah sakit direpresentasikan sebagai node spasial yang dihubungkan berdasarkan kebutuhan akses, hierarki pelayanan, serta kebutuhan pencahayaan alami. Grid permukaan fasad dievaluasi berdasarkan parameter performatif seperti total incident radiation dan direct sun hours untuk menentukan posisi bukaan optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan parametrik memungkinkan desain rumah sakit menjadi lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan teknis, lingkungan, dan fungsi pelayanan kesehatan. Evaluasi terhadap alternatif iterasi desain menghasilkan konfigurasi spasial yang lebih efisien, dengan pencapaian performa pencahayaan alami yang cukup representatif meskipun tanpa simulasi daylight autonomy secara penuh. Metode ini membuktikan potensi pemanfaatan algoritma evolusioner dalam proses perancangan arsitektur rumah sakit di Indonesia, khususnya dalam mengintegrasikan kinerja ruang dengan fleksibilitas bentuk massa bangunan.
PERANCANGAN KOMPLEKS MULTI-FUNGSI KREATIF SEBAGAI PENERAPAN GAGASAN EKONOMI SIRKULAR KASUS: BCB PANTI KARYA BANDUNG
Tesis perancangan ini membahas pemanfaatan kembali bangunan bersejarah, termasuk Panti Karya di Kota Bandung. Di tengah keterbatasan lahan perkotaan, meningkatnya emisi karbon, serta minimnya ruang kolaboratif di area strategis kota, keberadaan bangunan yang kurang termanfaatkan semacam ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Merespons kondisi tersebut, pendekatan ekonomi sirkular ditawarkan sebagai landasan dalam memanfaatkan kembali bangunan cagar budaya, dengan fokus pada rancangan guna ulang yang mempertahankan karakter arsitekturalnya sekaligus menjawab kebutuhan dan isu kontemporer secara berkelanjutan. Perancangan dilakukan dengan pendekatan adaptive reuse pada bangunan cagar budaya dan penambahan massa baru berbahan kayu CLT yang dirancang responsif terhadap konteks spasial dan iklim. Desain fasad diarahkan untuk menekan nilai Overall Thermal Transfer Value (OTTV) melalui integrasi secondary building skin dan vegetasi vertikal, yang secara langsung menurunkan beban energi untuk pendinginan. Di tingkat tapak, ruang terbuka seperti plaza hijau dan taman atap tidak hanya berfungsi sebagai area publik, tetapi juga memperluas kontribusi ekologis dan memperbaiki mikroklimat sekitar. Secara programatik, konsep Creative Compound menjadi fondasi penyusunan fungsi ruang, dengan menggabungkan area publik, komersial, dan kreatif dalam satu sistem yang saling terhubung. Simulasi performa bangunan menggunakan EDGE App menunjukkan efisiensi energi yang signifikan, khususnya dalam aspek pencahayaan dan pendinginan, tanpa mengurangi fleksibilitas fungsi maupun pendekatan pelestarian. Temuan ini memperlihatkan bahwa gagasan ekonomi sirkular dapat diimplementasikan secara nyata melalui desain yang menyatukan konservasi, efisiensi energi, dan peningkatan kualitas lingkungan tapak. Hasil simulasi desain menunjukkan bahwa pendekatan ekonomi sirkular dalam konteks perancangan ulang bangunan cagar budaya bukan sekadar gagasan ideal, tetapi dapat diterjemahkan menjadi strategi desain yang konkret. Dengan menyatukan pelestarian, efisiensi energi, dan penguatan tapak secara ekologis, perancangan ini memberi contoh bahwa arsitektur dapat tetap relevan, adaptif, dan berdampak positif dalam dinamika kota kontemporer.
PERANCANGAN HYBRID HOSPITALITY HOTEL DI CANGGU
Tesis ini membahas perancangan bangunan campuran di Canggu, Bali, yang mengintegrasikan fungsi hunian, kerja, dan pariwisata melalui pendekatan arsitektur kontekstual dan konsep hybrid hospitality. Sebagai destinasi pariwisata utama Indonesia, Bali—terutama kawasan Canggu—mengalami perkembangan pesat akibat meningkatnya jumlah wisatawan dan digital nomad pasca-pandemi COVID-19. Canggu menawarkan gaya hidup fleksibel yang ditunjang oleh fasilitas modern dan infrastruktur kerja jarak jauh, namun di saat yang sama menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan pendatang dan pelestarian budaya lokal. Penelitian ini bertujuan merancang tipologi Hybrid Hospitality Hotel yang adaptif terhadap dinamika pariwisata dan gaya hidup digital nomad dengan mengedepankan pendekatan kolaboratif dan berbasis komunitas. Metode yang digunakan mencakup studi literatur, analisis preseden, observasi lapangan, wawancara, serta analisis tapak. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggabungan fungsi hunian, ruang kerja, dan aktivitas wisata harian dalam satu entitas arsitektur mampu menciptakan lingkungan dinamis yang mendorong interaksi sosial dan pelestarian budaya. Desain bangunan dikembangkan melalui tiga strategi utama. Pertama, menciptakan ruang interaksi inklusif seperti coworking space, community hall, dan ruang terbuka publik yang memperkuat hubungan antara wisatawan, digital nomad, dan komunitas lokal. Kedua, menerapkan konsep hybrid hospitality melalui penyediaan ruang-ruang fleksibel yang mendukung aktivitas living, working, dan daily tourism secara simultan. Ketiga, mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dan kearifan lokal Bali seperti Tri Hita Karana, penggunaan material lokal, serta lanskap tropis dalam desain. Dengan demikian, desain Hybrid Hospitality Hotel ini tidak hanya menjawab kebutuhan ruang kontemporer secara fungsional, tetapi juga berkontribusi pada pemberdayaan komunitas lokal dan pelestarian identitas kultural kawasan. Pendekatan yang fleksibel, adaptif, dan kontekstual menjadi kunci dalam menciptakan ruang arsitektur yang inklusif dan berkelanjutan di tengah dinamika globalisasi di Bali.
ARCHITECTURE OF HOPE: SAFE HOUSE AND OPPORTUNITY CENTER FOR WOMEN AND CHILDREN SURVIVORS OF DOMESTIC VIOLENCE AND SEXUAL ABUSE IN ACEH
Domestic violence dan sexual abuse merupakan bentuk tindak kekerasan yang biasanya memiliki korban perempuan dan anak-anak. Meskipun terdapat juga kasus dimana laki-laki menjadi korban, namun jumlahnya masih sangat kecil dibandingkan dengan kasus dimana perempuan menjadi korban. Arsitektur sendiri memiliki hubungan dengan fenomena ini sebagai ruang tempat terjadinya tindakan kekerasan. Namun, sebenarnya keterlibatan arsitektur dalam fenomena ini jauh lebih besar. Elemen arsitektur sering kali dijadikan media pelaku untuk melakukan tindak kekerasan. Hal ini berakibat pada munculnya trauma pada korban saat memasuki ruangan dengan elemen arsitektur tertentu. Selain itu, arsitektur juga berperan dalam penanganan kasus domestic violence dan sexual abuse. Arsitek dapat berperan dalam perancangan infrastruktur sebagai sarana pemulihan bagi perempuan dan anak korban kekerasan. Berdasarkan data jumlah kasus kekerasan di Indonesia, jumlah kasus kekerasan terus menunjukkan peningkatan tiap tahunnya, fenomena ini juga terjadi di Aceh. Data ini belum menimbang kemungkinan adanya kasus yang belum terdata. Dari kasus yang sudah didata dan ditangani sekalipun, banyak dari kasus tersebut yang tidak terselesaikan dengan baik. Hal ini merupakan kondisi yang sangat ironis karena yang akan dirugikan pada kondisi ini tentu saja adalah para korban. Isu-isu inilah yang mendorong gagasan diperlukannya pendekatan baru dalam penanganan kasus kekerasan pada perempuan dan anak. Arsitektur yang memiliki hubungan erat dengan fenomena ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan dan penanganan kasus kekerasan pada perempuan dan anak. Salah satu alasan mengapa masih banyak kasus kekerasan tidak terdata dan tidak tertangani dengan baik adalah karena kondisi para korban yang masih bergantung kepada pelaku secara emosional dan finansial. Hal ini membuat korban takut untuk melaporkan kejadian yang dialaminya, pada beberapa kasus banyak juga korban yang memutuskan untuk mencabut laporannya. Para korban dapat kehilangan tempat tinggal dan pemasukan, dan akan sangat kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, apalagi korban yang sudah memiliki anak. Mereka merasa lebih takut akan mengakibatkan dampak yang lebih buruk pada kehidupan anaknya. Hal inilah yang membuat para korban akhirnya memutuskan untuk menahan penderitaan yang mereka alami. Dari uraian ini, dapat disimpulkan bahwa kebutuhan yang paling diperlukan oleh korban dalam proses penanganan kasus kekerasan adalah akomodasi tempat tinggal dan pembinaan untuk menjadi mandiri secara finansial dan emosional tanpa bantuan pelaku. Hal ini lah yang melatarbelakangi gagasan proyek ‘Safe House and Opportunity Center for Women and Children Survivors of Domestic Violence and Sexual Abuse in Aceh’. Proyek ini bertujuan untuk memberikan fasilitas akomodasi sementara serta fasilitas pemberdayaan dan pembinaan para korban. Diharapkan, dengan keberadaan infrastruktur ini, kasus kekerasan pada perempuan dan anak dapat ditangani dengan baik sehingga dapat membantu para korban untuk pulih dan kembali ke masyarakat dengan kualitas kehidupan lebih baik. Selain harus dibuat dengan baik secara fungsional, rancangan juga harus memperhatikan kualitas ruang dan elemen arsitektural lainnya. Korban kekerasan memiliki trauma yang besar, sehingga akan sangat mudah untuk muncul trigger baru yang bisa menimbulkan stres dan menghambat proses penyembuhan korban. Oleh karena itu, harus digunakan pendekatan desain yang baik dan dapat membantu proses terapi korban. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat rancangan dengan konsep therapeutic serta memperhatikan secara detail elemen dan rancangan arsitektur seperti apa yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan pada perempuan dan anak korban kekerasan.
MEMELIHARA AKAR, MENUMBUHKAN PERTUMBUHAN: PEMBERDAYAAN MASYARAKAT LOKAL MELALUI EDU-WISATA BAMBU DI DESA CANDIREJO
Kemiskinan di Indonesia merupakan masalah serius yang mempengaruhi jutaan penduduk, terutama mereka yang tinggal di pedesaan. Ketimpangan pendapatan dan pendidikan menjadi faktor utama yang memperparah masalah ini. Data pendidikan menunjukkan bahwa masih banyak penduduk yang belum mencapai tingkat pendidikan yang memadai. Untuk mengatasi masalah kemiskinan ini, diperlukan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang komprehensif, bertujuan meningkatkan kemandirian dan memberikan pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan, sejalan dengan tujuan pembangunan nasional untuk menciptakan masyarakat yang mandiri, maju, dan adil. Indonesia memiliki kekayaan alam melimpah, termasuk sumber daya bambu yang sangat beragam dan serbaguna. Namun, belum semua potensi sumber daya bambu dimanfaatkan secara optimal. Di Desa Candirejo, Jawa Tengah, yang kaya akan bambu, penduduknya masih menghadapi kemiskinan tinggi, disebabkan oleh ketidakmampuan mereka dalam mengoptimalkan potensi sumber daya bambu. Oleh karena itu, pendekatan pendidikan nonformal dan pemberdayaan masyarakat di desa ini menjadi sangat penting. Solusi yang diusulkan adalah pendirian pusat edukasi bambu yang berfokus pada pendidikan nonformal. Fasilitas ini akan membantu meningkatkan pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan bambu sebagai sumber daya. Selain itu, fasilitas pengolahan bambu juga harus disediakan untuk mendukung keberlanjutan dan kualitas produk bambu. Ini akan memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat sambil melestarikan sumber daya alam yang penting. Arsitektur berperan dalam menciptakan fasilitas yang mendukung pemberdayaan masyarakat di Desa Candirejo. Fasilitas ini harus mencerminkan kekayaan budaya dan sumber daya alam setempat, memungkinkan masyarakat untuk belajar, berlatih, dan mengembangkan produk yang berkelanjutan. Dengan desain yang tepat, masyarakat Candirejo dapat meningkatkan kualitas hidup mereka melalui pendidikan, pelestarian budaya, dan pemanfaatan sumber daya bambu secara berkelanjutan.
BEYOND MEMORY’S CONTINUUM: PERANCANGAN FASILITAS PERAWATAN KESEHATAN RAMAH DEMENSIA MELALUI PENDEKATAN SENSORY RESPONSIVE ARCHITECTURE
Demensia merupakan sebuah tantangan global dalam bidang kesehatan yang memengaruhi kualitas hidup individu dan keluarganya. Penyakit neurodegeneratif ini menyebabkan penurunan fungsi kognitif yang signifikan pada penderitanya, memengaruhi interaksi sehari-hari dan memunculkan Behavioral and Psychological Symptoms of Dementia (BPSD). Berbagai jenis demensia seperti Alzheimer's Disease, Vascular Dementia, Dementia with Lewy Body, dan Frontotemporal Dementia menimbulkan gejala yang beragam, memerlukan penanganan yang khusus dan responsif. Kualitas hidup ODD, caregiver, dan keluarganya terancam oleh permasalahan seperti stigma, terbatasnya sumber daya, dan kurangnya akses terhadap layanan kesehatan. Selain itu, peningkatan jumlah ODD membutuhkan perhatian lebih terhadap kurangnya jumlah caregiver yang terampil dan fasilitas medis yang memadai. Laporan World Alzheimer Report 2022 menunjukkan bahwa sebagian besar ODD tidak terdiagnosis secara global, dan diperkirakan jumlah penderitanya akan meningkat secara signifikan di masa mendatang. Respons terhadap permasalahan demensia dapat dilakukan melalui implementasi desain arsitektural yang responsif terhadap kebutuhan sensorik penderita. Pendekatan User-Centered Design menjadi krusial dalam merancang fasilitas yang mengakomodasi beragam gejala BPSD dan tahap-tahap demensia. Konsep Neuro-architecture menjadi relevan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan penderita, menyesuaikan aspek sensorik seperti pencahayaan, warna, dan organisasi ruang. Fasilitas perawatan kesehatan khusus bagi ODD diperlukan untuk menanggapi Sustainable Development Goal (SDG) 3, yaitu memastikan kesehatan yang baik dan kesejahteraan bagi semua individu. Fasilitas ini harus mengurangi stigma, menyediakan akses layanan kesehatan yang merata, dan mengurangi gejala penurunan kognitif dengan menciptakan lingkungan yang memperhatikan respons sensorik penderita. Dengan merumuskan dan merancang fasilitas yang mempertimbangkan kebutuhan sensorik dan keberagaman gejala demensia, diharapkan kualitas hidup penderita meningkat, beban terhadap caregiver berkurang, dan adanya dukungan yang lebih baik bagi penderita dan keluarganya. Langkah ini mendukung upaya untuk meningkatkan layanan kesehatan, memerangi stigma, dan mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh ODD serta komunitasnya. Respons terhadap permasalahan demensia membutuhkan upaya lintas sektor, melibatkan desain arsitektural yang responsif dan berfokus pada penderita sebagai pusat perhatian dalam pembangunan fasilitas perawatan kesehatan.