📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6 dokumenSAPA LAMORA: LEMBAGA REHABILITASI NON-KUSTODIAL MELALUI ARSITEKTUR REHABILITATIF BAGI ANAK BERHADAPAN DENGAN HUKUM (ABH-PELAKU) DI KOTA BANDUNG
Penanganan Anak Berhadapan dengan Hukum berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) telah bergeser dari pendekatan “Retributive Justice” menjadi “Restorative Justice” yang berarti penegakan hukum sebagai media pemulihan hubungan antara pelaku dengan korban, bukan sekadar pemidanaan dengan tetap mempertimbangkan hak-hak pelaku maupun korban. Namun, perubahan tersebut tidak didukung dengan fasilitas sesuai standar “Restorative Justice”. Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH-Pelaku) saat ini ditempatkan di LPKA Bandung (Lembaga Pembinaan Khusus Anak) yang berlokasi di Jl. Pacuan Kuda No.3, Sukamiskin, Kec. Arcamanik, Kota Bandung. LPKA tersebut menampung seluruh anak yang terlibat tindak pidana di Jawa Barat. Mirisnya, provinsi besar seperti Jawa Barat dengan jumlah ABH-Pelaku yang terhitung cukup banyak hanya memiliki satu LPKA. Saat ini, LPKA Kota Bandung sudah melebihi kapasitas seharusnya yang dapat ditampung. Di sisi lain, LPKA tersebut masih bersifat kustodial yang menyerupai penjara konvensional dengan terdapat strap sel dan ornamen-ornamen jeruji besi di area lapas. Dalam hal ini, bidang arsitektur turut andil untuk membantu proses pemulihan ABH-Pelaku melalui bangunan SAPA LAMORA, yaitu Lembaga Rehabilitasi Non-Kustodial melalui Arsitektur Rehabilitatif. Bangunan ini mengusung topik design for inclusivity dengan berfokus pada proses rehabilitasi baik secara pasif maupun aktif untuk mempersiapkan anak kembali ke masyarakat dan menghilangkan dendam antara pelaku dengan korban. Di samping itu, proyek ini menjawab SDG nomor 10, yaitu Reduced Inequalities dan SDG nomor 16, yaitu Peace, Justice, and Strong Institutions. Metode yang digunakan untuk perancangan proyek ini ialah studi literatur, observasi lapangan, analisis komparatif, serta benchmarking. Pada akhirnya, yang ingin dicapai melalui proyek ini ialah peningkatan kualitas diri baik secara fisik, mental, jasmani, maupun rohani bagi ABH-Pelaku sehingga tidak muncul trauma kepada anak dan anak bisa bebas dalam kondisi siap menjalani kehidupan dengan dibekali keterampilan dan pengetahuan, serta diterima oleh masyarakat dengan baik. Melalui proyek ini, diharapkan hilangnya dendam antara pelaku, korban, maupun pihak-pihak lain yang terlibat sehingga potensi residivisme dapat diminimalisir. Hasil studi akan dituangkan dalam bentuk model desain dan konsep yang dapat memvisualisasikan solusi rehabilitasi yang inklusif dan suportif bagi ABH-Pelaku di Kota Bandung.
PUSAT REHABILITASI SOSIAL GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU BERBASIS RUMAH SINGGAH DI PARONGPONG, JAWA BARAT
Proses pemulihan bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) memerlukan waktu yang cukup panjang. Dalam fase pasca-rawat di Rumah Sakit Jiwa, keluarga sering kali memiliki resiliensi yang rendah dalam menerima kembali anggota keluarganya. Kondisi ini dapat menyebabkan ODGJ kambuh akibat lingkungan yang tidak mendukung serta lemahnya pengawasan keluarga. Menanggapi hal tersebut, tugas akhir ini mengangkat topik perancangan rumah singgah bagi ODGJ sebagai fasilitas transisi yang berfungsi menjembatani proses pemulihan dari RSJ menuju kehidupan bermasyarakat. Keberadaan rumah singgah menjadi penting sebagai wadah antara yang mampu memberikan pengawasan, pendampingan, dan penguatan fungsi sosial sebelum ODGJ kembali hidup mandiri. Topik ini dipilih karena relevansinya dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya panel design for inclusivity, yang menekankan pentingnya peningkatan kualitas kesehatan mental masyarakat sekaligus mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap kelompok marjinal melalui penyediaan infrastruktur sosial yang inklusif. Hal tersebut berkaitan dengan pencapaian SDG 3 (Good Health and Well-Being), SDG 10 (Reduced Inequalities), dan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities). Permasalahan yang diidentifikasi mencakup ODGJ pasca-rawat yang memerlukan rehabilitasi sosial serta pengawasan konsumsi obat, ODGJ korban pasung yang membutuhkan penanganan manusiawi, serta ODGJ terlantar yang belum memperoleh fasilitas penampungan layak. Selain itu, isu terkait praktik pasung di beberapa panti ODGJ juga menjadi pertimbangan dalam perancangan. Dengan demikian, rumah singgah dipilih sebagai tipologi bangunan karena dapat mengakomodasi fungsi rehabilitasi, pengasuhan, dan reintegrasi sosial dalam satu kesatuan. Perancangan menggunakan pendekatan healing environment dan therapeutic architecture, dengan prinsip menciptakan ruang yang menenangkan, aman, dan mendukung pemulihan psikologis pengguna. Tapak yang dipilih berlokasi di Jl. Pasirsereh, Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, dengan pertimbangan kebutuhan pengguna, prinsip humanis, serta jaraknya yang relatif dekat dengan RSJ Cisarua. Kerangka desain yang digunakan adalah force-based framework, yang menekankan identifikasi isu sosial sebagai dasar perancangan. Metode yang diterapkan meliputi studi literatur, observasi lapangan untuk memahami konteks kasus di Jawa Barat, serta analisis studi kasus sejenis di dalam maupun luar negeri sebagai acuan standar perancangan. Hasil yang diharapkan dari tugas akhir ini adalah rancangan rumah singgah yang adaptif dan inklusif yang tidak hanya berfungsi sebagai wadah penampungan, tetapi juga sebagai sarana rehabilitasi sosial dan pemberdayaan.
PERANCANGAN WELLNESS CENTER SEBAGAI FASILITAS PENUNJANG KESEHATAN MENTAL DI BANDUNG DENGAN PENDEKATAN HEALING ARCHITECTURE
Permasalahan kesehatan mental seperti stres, kecemasan, hingga depresi ringan pada remaja dan dewasa muda di Kota Bandung semakin meningkat dan berdampak pada kualitas hidup, produktivitas, dan kemampuan komunikasi seseorang. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2018, 7,8% diantara masyarakat Jawa Barat merupakan masyarakat berusia diatas 15 tahun yang menderita depresi, Menginjak peringkat ke-9 prevelansi depresi tertinggi di Indonesia. Salah satu penyebab tingginya gangguan kesehatan mental ini, dikarenakan fase-fase transisi dan fase burnout yang dialami oleh masyarakat. Stigma masyarakata terhadap pengecekan ke psikolog saat ini cukup buruk, oleh karena itu, kebanyakan masyarakat saat ini memilih melakukan aktivitas pemulihanseperti jalan-jalan ataupun olahraga sebagai solusi atas kondisi stres ataupun depresi mereka. Oleh karena itu diperlukan sebuah wadah sebagai tempat pemulihan yang dapat sekaligus melibatkan proses penyembuhan psikologi didalamnya. Dalam dunia psikologi, terdapat sebuah terapi yang disebut mind body spirit. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang melibatkan interaksi antara otak, pikiran, tubuh, serta perilaku dan faktor emosional. Pusat Kebugaran ini menawarkan Solusi Kesehatan mental melalui keterlibatan antara tubuh dan pikiran. Kedua faktor itu diterapkan dengan terapi yang memperlambat ritme Gerak dan melibatkan alam dalam aktivitas-aktivitas pemulihan seperti meditasi, yoga, ataupun terapi pijat dan spa yangbersifat ramah, interaktif, dan inklusif. Dalam kondisi gangguan mental, seseorang akan takut dan ragu dalam mengekspresikan diri mereka. Namun, dengan keberadaan pusat kebugaran, seseorang akan diberikan kebebasan dalam bertindak dan mendapatkan pemulihan mental di lingkungan yang tidak terasa seperti klinik. Dengan begitu, Pusat Kebugaran ini akan menjadi solusi untuk design for inclusivity yang menekankan desain yang berkontribusi dalam mengatasi isu aksesibilitas layanan bagi Masyarakat untuk memiliki akses ke ruang aman untuk mengekspresikan diri. Desain ini juga sejalan dengan SDGs 3: Good Health and Well-being dan SDGs 4: Quality Education, Pusat Kebugaran ini berkontribusi dalam Kesehatan mental dan berperan sebagai ruang edukasi non-formal untuk mengajarkan keterampilan kesedaran diri, ketangguhan Masyarakat, dan coping. Perancangan Pusat kebugaran ini melibatkan beberapa metode, yaitu studi literatur dan observasi lapangan untuk mengumpulkan data, metode desain trendspotting yang menyesuaikan bangunan dengan tren terkini supaya relevan dengan target pengguna, dan sintesis desain untuk merumuskan konsep ruang yang mengintegrasikan berbagai fungsi dalam satu bangunan.
DESAIN UNTUK PENGEMBANGAN KOMUNITAS DI KOMUNITAS PENDIDIKAN DAN MULTIKULTURAL MELALUI PUSAT KAMPUS DI ITB CIREBON
Dalam sebuah tatanan masyarakat yang makin beragam dengan latar belakang yang multikultural, tantangan dalam berbaur dan berkembang sebagai masyarakat kolektif menjadi rumusan isu yang terjustifikasi. Isu ini merambat kepada seluruh aspek masyarakat terkhusus penyelenggaraan pendidikan tinggi di seluruh daerah Indonesia. Pendidikan yang dapat berkembang dalam dinamika masyarakat yang multikultural membutuhkan suatu bentuk perancangan spasial yang berkeadilan untuk mendorong pelaksanaan pendidikan sebagai katalis perkembangan tatanan masyarakat yang inklusif. Inklusivitas dan pewadahan perkembangan baik itu dalam konteks pendidikan maupun pelestarian kultural menjadi suatu permasalahan pada daerah-daerah padat penduduk, terlebih lagi area urban dan suburban, dengan kasus daerah Jawa Barat seperti Kota Bandung dan sekitarnya. Mendalami permasalahan inklusivitas dan keadilan dalam lingkungan akademik, bangunan student center dalam suatu kampus menjadi kasus studi yang optimal dalam memahami dinamika sosial dan interaksi yang terjadi antar sivitas akademika dalam situasi sosial yang beragam. Sebuah student center, dalam berbagai kasus, menjadi simpul kegiatan yang secara langsung menjadi katalis produktivitas sosial. Menanggapi topik dan isu yang dideskripsikan, metodologi perancangan arsitektur yang berkaitan dengan konteks budaya, inklusivitas komunitas, dan inkubasi ide, seperti pendekatan integrasi pengembangan akademik, konteks sosial-multikultural, dan inklusivitas desain digunakan sebagai bentuk pendekatan utama desain campus center ini. Secara umum, konsep pendekatan yang akan diambil berada dalam payung konsep desain inklusif dan partisipatif. Dalam memahami isu dan menjabarkan proses perancangan, studi literatur, observasi lapangan, analisis komparatif, user journey mapping, analisis persona pengguna, analisis kode budaya pengguna, analisis framework, iterasi dan reiterasi visual desain akan menjadi metode-metode utama dalam riset yang akan dilakukan. Perancangan student center ini bertujuan untuk merekayasa interaksi-interaksi sosial yang saling bertautan dalam membangun komunitas multikultural yang mengedepankan kemajuan riset dan pengetahuan melalui desain spasial inklusif yang menjadi wadah-wadah simpul kegiatan komunal.
IMPLEMENTASI TRANSIT-ORIENTED DEVELOPMENT PADA INTERIOR: REVITALISASI MAL BLOK M SEBAGAI TRANSIT HUB
Kawasan Blok M sebagai salah satu simpul transportasi strategis di Jakarta menghadapi tantangan mobilitas perkotaan yang semakin kompleks. Posisi kawasan ini yang terintegrasi dengan berbagai moda transportasi menjadikannya memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD). Di tengah kawasan tersebut, Mal Blok M memiliki lokasi yang sangat strategis karena berada di antara dua moda transportasi utama, namun kondisi eksistingnya menunjukkan perlunya revitalisasi agar mampu mendukung fungsi kawasan secara optimal. Proyek perancangan ini bertujuan merevitalisasi Mal Blok M menjadi sebuah transit hub yang tidak hanya meningkatkan integrasi dan efisiensi perpindahan antarmoda, tetapi juga berperan sebagai gerbang utama yang memperkuat identitas kawasan. Pendekatan perancangan dilakukan melalui strategi adaptive reuse yang mempertahankan struktur bangunan eksisting, sekaligus mengadaptasi fungsi dan ruang untuk menjawab kebutuhan mobilitas serta aktivitas urban kontemporer. Metode perancangan mengintegrasikan analisis perilaku pengguna dengan prinsip desain inklusif untuk menghasilkan sistem sirkulasi vertikal dan horizontal yang lebih terhubung dan intuitif. Penataan ulang zonasi serta pengaturan program ruang dirancang untuk mendukung aktivitas yang berlangsung sepanjang hari sehingga meningkatkan vitalitas, keamanan, dan kualitas pengalaman ruang bagi pengguna kawasan. Melalui pendekatan ini, perancangan diharapkan mampu menciptakan transit hub yang efisien sekaligus menghadirkan pengalaman yang manusiawi dan memperkuat sense of place kawasan Blok M.
PUSAT REHABILITASI ODHA (ORANG DENGAN HIV/AIDS) DI BANDUNG DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR PEMULIHAN
Jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia semakin meningkat. Meningkatnya kasus ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya hubungan seksual dengan penderita, penggunaan jarum suntik tercemar, transfusi darah, dan penularan ibu ke bayi saat kehamilan, melahirkan, dan menyusui. Padahal, WHO sendiri menargetkan pada tahun 2030 untuk menuntaskan kasus HIV/AIDS. Kenaikan kasus juga disebabkan oleh minimnya edukasi dan pemahaman di masyarakat mengenai HIV/AIDS, mekanisme penularan, kelompok orang berisiko tertular, dan cara pencegahan penularan. Kurangnya edukasi berakibat pada stigma buruk yang dialami oleh ODHA. Stigma buruk yang dialami ODHA ini membuat ODHA rentan terkena masalah mental. Selain masalah mental, kualitas hidup dari ODHA sendiri semakin lama akan semakin memburuk. Hal ini juga menjadi penyebab mereka enggan melakukan pengobatan. Oleh karena itu, selain pengobatan secara medis, penanganan mental juga perlu dilakukan kepada penyandang HIV/AIDS. Kota Bandung menempati salah satu kota dengan penyumbang kasus terbanyak. Karena itu, proyek ini mengambil tempat di Bandung, Jawa Barat, dengan fungsi bangunan sebagai pusat rehabilitasi ODHA yang komprehensif. Selain rehabilitasi medis, juga dilakukan rehabilitasi psikologis. Proyek juga akan menjadi pusat edukasi yang akan melibatkan masyarakat sekitar untuk menerima ODHA dan meningkatkan reintegrasi sosial mereka. Pendekatan yang dilakukan yaitu dengan arsitektur penyembuhan untuk memulihkan fisik dan psikis penderita, serta desain yang inklusif, yang akan melibatkan komunitas dan masyarakat sekitar.