📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 43 dokumen

PERANCANGAN “JAGAT KERTHI” LIVING HERITAGECENTER SEBAGAI PUSAT EDUKASI WARISAN BUDAYA BALI DENGAN PENDEKATAN NARATIF-MULTISENSORI

Perkembangan masif pariwisata di Bali selama beberapa dekade terakhir telah memicu krisis sosial yang tidak hanya berdampak pada degradasi ekosistem, tetapi juga pada terputusnya relasi manusia dengan nilai budaya yang selama ini menjadi dasar keharmonisan kehidupan masyarakat Bali. Alih fungsi lahan, degradasi lingkungan, dan overturisme pada ruang pariwisata telah menggeser praktik budaya dari sistem pengetahuan hidup menjadi komoditas simbol yang terlepas dari konteksnya. Kondisi ini menunjukkan kelemahan ruang edukasi publik dalam mentransmisikan makna budaya secara utuh, baik kepada masyarakat urban maupun wisatawan. Untuk menjembatani permasalahan tersebut, diperlukan sebuah pusat warisan budaya yang tidak hanya berfungsi sebagai wadah pelestarian budaya, tetapi juga dirancang untuk menerjemahkan nilai-nilai kearifan lokal Bali menjadi sebuah narasi ruang yang relevan terhadap kondisi masa kini dan dapat diapresiasi oleh pengunjung. Penelitian ini mengusulkan perancangan sebuah pusat warisan budaya sebagai fasilitas edukasi publik di Uluwatu, Bali, dengan fokus pada penciptaan ruang edukasi yang interaktif. Metode penelitian kualitatif berupa pengumpulan data studi literatur, observasi lapangan, dan studi preseden diterjemahkan ke dalam strategi desain interior berbasis naratif dan desain multisensori untuk membangun pengalaman belajar yang lebih imersif dan meningkatkan keterlibatan emosional pengunjung. Berlandaskan pada teori persepsi spasial yang memandang pengalaman ruang sebagai hasil interaksi antara stimulus lingkungan dengan proses kognitif dan sensorik pengguna, hasil perancangan menghadirkan desain interior yang mendukung aktivitas pembelajaran budaya Bali melalui pendekatan desain naratif-multisensori yang diimplementasikan pada materialitas, tata ruang, pencahayaan, tata suara, aroma, tekstur, serta sekuens antar program ruang.

2026
👤 Penulis: I Made Primasandya
🏷️ Desain Interior 🏷️ Pendidikan Budaya 🏷️ Persepsi Spasial

PERANCANGAN DESAIN INTERIOR PUSAT REHABILITASI PASCA STROKE DENGAN PENDEKATAN HEALING ENVIRONMENT

Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas jangka panjang di Indonesia yang menimbulkan gangguan fisik, kognitif, dan emosional secara signifikan. Pada fase pasca-serangan, khususnya dalam tiga bulan pertama, pasien berada pada periode krusial pemulihan yang berkaitan dengan kemampuan adaptasi dan reorganisasi fungsi otak. Namun, sebagian besar fasilitas rehabilitasi masih berorientasi pada pendekatan klinis yang menitikberatkan pada aspek medis, sementara kualitas lingkungan ruang sebagai faktor pendukung psikologis dan motivasional belum dimaksimalkan. Kondisi ini menunjukkan perlunya perancangan pusat rehabilitasi yang tidak hanya mewadahi terapi fisik, tetapi juga mampu membangun suasana yang menenangkan, aman, dan mendorong keterlibatan aktif pasien dalam proses pemulihan. Tujuan perancangan ini adalah merancang interior Pusat Rehabilitasi Pasca-Stroke yang mendukung pemulihan fisik, kognitif, dan emosional pasien melalui pendekatan lingkungan terapeutik yang terintegrasi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan studi literatur medis dan desain, analisis kebutuhan pengguna, observasi tipologi fasilitas rehabilitasi, serta penyusunan program ruang berdasarkan aktivitas terapi. Identifikasi proyek mencakup fasilitas terapi fisik, terapi okupasi, terapi wicara, terapi komplementer, konsultasi multidisiplin, serta area pelatihan aktivitas sehari-hari yang dirancang sebagai simulasi lingkungan domestik dan publik. Konsep desain diterapkan melalui pengolahan tata ruang yang adaptif dan aksesibel, pengaturan sirkulasi yang aman bagi pengguna kursi roda, optimalisasi pencahayaan alami dan buatan yang lembut, penggunaan material bernuansa alami, serta integrasi elemen lanskap sebagai bagian dari pengalaman ruang. Implementasi desain diwujudkan dalam pembagian zona rehabilitasi aktif, zona konsultatif, zona relaksasi, dan zona transisi sosial yang saling terhubung dalam satu sistem pemulihan berkelanjutan. Area pelatihan aktivitas sehari-hari dirancang menyerupai kondisi nyata untuk melatih kembali kemandirian pasien, sementara ruang relaksasi dan taman terapeutik mendukung stabilitas emosional serta menurunkan tingkat stres selama proses rehabilitasi. Melalui pendekatan ini, ruang diposisikan sebagai elemen yang berperan aktif dalam membangun motivasi, rasa percaya diri, dan kualitas hidup pasien pasca-stroke. Perancangan diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan fasilitas rehabilitasi yang lebih humanis, komprehensif, dan responsif terhadap kebutuhan fisik maupun psikologis pengguna.

2026
👤 Penulis: Faza Muhammad Dinan Al- Fasya
🏷️ Desain Interior 🏷️ Pemulihan Pasca-Stroke 🏷️ Lingkungan Terapeutik

PERANCANGAN WELLNESS RESORT DENGAN PENDEKATAN SALUTOGENIC DESIGN SEBAGAI MEDIUM RESTORATIF BAGI MASYARAKAT URBAN DI BATAM, KEPULAUAN RIAU

Lingkungan perkotaan dengan kepadatan tinggi, kebisingan, dan ritme hidup yang cepat dapat memicu urban stress dan menurunkan kualitas hidup masyarakat urban. Kebutuhan akan medium ruang yang mendukung pemulihan semakin relevan seiring berkembangnya wisata kesehatan, yang menuntut pengalaman ruang tidak hanya rekreatif tetapi juga terarah. Tugas Akhir ini mengusulkan perancangan interior wellness resort di Kepulauan Seribu sebagai sarana restorasi psikologis bagi masyarakat urban Jakarta. Tujuan perancangan adalah membentuk pengalaman ruang yang memandu pengguna dari kondisi tegang menuju tenang dan pulih melalui rangkaian fasilitas wellness yang terintegrasi. Metode perancangan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi literatur, studi pembanding, analisis tapak dan karakter pengguna, serta sintesis program ruang dan kriteria perancangan. Konsep “Stillness Between Tides” menerjemahkan ritme pasang–surut sebagai urutan pengalaman ruang. Pendekatan salutogenic diterapkan dengan mengoperasionalkan Sense of Coherence melalui keterbacaan sirkulasi dan wayfinding, kontrol pengguna terhadap privasi serta tingkat stimulus, dan pengalaman bermakna melalui keterhubungan dengan elemen alam. Implementasi desain diwujudkan melalui strategi pencahayaan dan penghawaan alami, pemilihan material alami yang sesuai iklim pesisir, pengendalian akustik, serta pemisahan alur servis. Rancangan ini diharapkan menjadi model lingkungan interior yang berperan sebagai medium dalam mendukung pencapaian well-being, kebugaran, dan kebiasaan hidup sehat.

2026
👤 Penulis: Radina Dyandra Nabila
🏷️ Desain Interior 🏷️ Manajemen Kesehatan Lingkungan 🏷️ Salutogenic Design

HEALING RESORT DI DAERAH PENYANGGA PERKOTAAN UNTUK PENDERITA GANGGUAN DEPRESI RINGAN

Kesehatan mental merupakan isu yang semakin relevan dalam kehidupan masyarakat urban, seiring meningkatnya tekanan hidup, tuntutan pekerjaan, dan minimnya ruang pemulihan psikologis yang bersifat non-medis. Depresi ringan hingga sedang menjadi salah satu kondisi gangguan mental yang paling banyak dialami oleh masyarakat usia produktif, namun sering kali tidak tertangani secara optimal akibat keterbatasan fasilitas pemulihan yang aman, nyaman, dan bebas stigma. Oleh karena itu, diperlukan alternatif ruang pemulihan yang mampu mendukung kesejahteraan mental melalui pendekatan desain interior yang berorientasi pada pengalaman pengguna. Tugas Akhir ini bertujuan untuk merancang interior healing resort bagi penderita depresi ringan hingga sedang yang berlokasi di kawasan penyangga perkotaan. Healing resort dirancang sebagai fasilitas pemulihan non-klinis yang bersifat holistik, menenangkan, dan tidak menimbulkan kesan institusional. Metode perancangan yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan research by design, yang dilakukan melalui studi literatur, studi preseden, serta analisis kebutuhan pengguna dan konteks lokasi. Hasil analisis kemudian disintesis menjadi konsep desain interior yang menekankan integrasi ruang dalam dan luar, penggunaan material alami, pencahayaan alami, serta pengolahan suasana ruang yang mendukung proses pemulihan emosional. Perancangan ini diharapkan dapat menjadi alternatif fasilitas pemulihan kesehatan mental yang humanis dan kontekstual, sekaligus menunjukkan peran desain interior dalam mendukung kesejahteraan psikologis masyarakat urban melalui pendekatan biophilic.

2026
👤 Penulis: Stephanie Theodora Gracia
🏷️ Desain Interior 🏷️ Kesehatan Mental Urban 🏷️ Biophilic Design

PERANCANGAN PUSAT DESAIN OBJEK KEHIDUPAN SEHARI-HARI BANDUNG

Kota Bandung telah resmi dinobatkan sebagai bagian dari UNESCO Creative Cities Network (UCCN) dalam kategori City of Design sejak 11 Desember 2015. Predikat internasional ini mencerminkan potensi besar kota dalam mengintegrasikan elemen kreatif ke dalam pembangunan urban. Namun, pada realitasnya, pencapaian tersebut masih menyisakan kesenjangan literasi yang signifikan di ranah domestik. Desain seringkali dipandang secara eksklusif sebagai komoditas estetika atau praktis milik kalangan profesional dan akademisi, sementara masyarakat luas sebagai perancang alami dalam kehidupan mereka sendiri belum merasakan dampak langsung maupun ruang partisipasi yang inklusif untuk berkembang bersama. Sebagai strategi untuk meruntuhkan dinding pembatas tersebut, penelitian perancangan ini menggunakan objek kehidupan sehari-hari sebagai titik masuk interaksi utama. Objek keseharian dipilih karena sifatnya yang familiar, dekat, dan bebas dari intimidasi struktural, sehingga mampu menjadi stimulan yang efektif dalam membumikan konsep desain yang kompleks menjadi lebih fungsional dan mudah dipahami oleh masyarakat awam. Tujuan besar dari perancangan Pusat Desain Objek Kehidupan Sehari-hari ini adalah menyatukan expert dan diffuse design di Kota Bandung ke dalam satu ekosistem yang kolaboratif. Secara spasial, fasilitas ini dirancang menggunakan pendekatan infrastruktur sosial dan desain interior yang partisipatif untuk memfasilitasi terjadinya transfer pengetahuan, lokakarya, hingga kokreasi antara desainer profesional dan komunitas masyarakat.

2026
👤 Penulis: Ryuta Darma
🏷️ Desain Interior 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

PERANCANGAN PUSAT KOMUNITAS ANIMASI DENGAN PENDEKATAN PARTICIPATORY PLACEMAKING DI KOTA CIMAHI

Perkembangan komunitas animasi di Kota Cimahi menunjukkan adanya kebutuhan akan fasilitas yang mampu mewadahi berbagai aktivitas, mulai dari produksi karya, kolaborasi, hingga edukasi dan apresiasi. Namun, hingga saat ini, ruang yang secara khusus mendukung interaksi dan keterlibatan komunitas animasi secara berkelanjutan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan konsep desain interior serta program ruang dan aktivitas Pusat Komunitas Animasi di Kota Cimahi melalui pendekatan participatory placemaking. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui survei, wawancara, studi literatur, dan studi referensi desain. Data yang diperoleh dianalisis dan disintesis untuk memahami kebutuhan pengguna, karakter aktivitas, serta prinsip perancangan yang relevan. Hasil penelitian berupa konsep desain interior dengan tema Shared Imagery yang menempatkan ruang sebagai media berbagi gagasan, imajinasi, dan pengalaman melalui interaksi serta kolaborasi. Program ruang dan aktivitas yang dirumuskan diharapkan mampu menjawab permasalahan penelitian dengan menghadirkan lingkungan yang komunikatif, fleksibel, dan partisipatif sebagai pusat komunitas animasi sekaligus ruang apresiasi bagi masyarakat luas.

2026
👤 Penulis: Zalfa Ali Fathya
🏷️ Desain Interior 🏷️ Partisipatory Placemaking 🏷️ Komunitas Animasi

REDESAIN TERMINAL LEUWIPANJANG SEBAGAI PUSAT TRANSPORTASI TERINTEGRASI BERBASIS PERILAKU PENGGUNA

Terminal Leuwipanjang merupakan salah satu simpul transportasi utama di Kota Bandung yang memiliki peran penting dalam mendukung sistem mobilitas masyarakat. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan terhadap transportasi publik yang efisien, revitalisasi terminal telah dilakukan untuk memperbaiki citra, keamanan, serta kenyamanan pengguna. Meskipun revitalisasi tersebut berhasil menghadirkan fasilitas komersial dan area publik yang lebih tertata, fungsi terminal sebagai pusat transportasi yang terintegrasi masih belum optimal, terutama dalam mengakomodasi alur pergerakan yang intuitif dan sinkronisasi data antar-moda bagi masyarakat. Penelitian perancangan ini bertujuan untuk merancang ulang interior Terminal Leuwipanjang sebagai pusat transportasi terintegrasi berbasis perilaku pengguna yang mampu memfasilitasi kebutuhan mobilitas sekaligus memberikan kejelasan orientasi bagi masyarakat. Metode perancangan yang digunakan meliputi pendekatan kualitatif dengan studi lapangan, observasi perilaku kedatangan dan keberangkatan, serta analisis interaksi penumpang terhadap elemen fisik (artifact), layanan (service), dan lingkungan (environment). Melalui pendekatan perilaku, desain dikembangkan untuk meminimalisir beban kognitif pengguna dalam mencari informasi dan melakukan transpor antar-moda. Implementasi desain difokuskan pada pengoptimalan alur sirkulasi bebas hambatan yang didasarkan pada pemetaan persepsi waktu tunggu dan efisiensi ruang tunggu multifungsi. Dengan mengacu pada model konseptual kepuasan penumpang, redesain ini berupaya menjembatani kesenjangan antara ekspektasi pengguna dengan realitas fasilitas di lapangan. Konsep integrasi informasi diterapkan melalui tata ruang yang adaptif dan inklusif, memastikan ketersediaan data real-time yang mudah dijangkau di seluruh titik krusial terminal. Dengan pendekatan ini, Terminal Leuwipanjang diharapkan mampu mentransformasi fungsi terminal menjadi simpul transportasi modern yang fungsional, responsif terhadap pola perilaku pengguna, serta mampu menumbuhkan kesadaran terhadap pentingnya kota dan pemukiman berkelanjutan, sesuai dengan SDGs 11.

2026
👤 Penulis: Yasmine Khalida Putri
🏷️ Desain Interior 🏷️ Mobilitas Masyarakat 🏷️ Pengelolaan Terminal Transportasi

OPTIMALISASI PREPARED ENVIRONMENT MELALUI PENDEKATAN FLEXIBLE DESIGN PADA PERANCANGAN MONTESSORI PLAYSCHOOL & PRESCHOOL BANDUNG

Pendidikan anak usia dini merupakan fase krusial dalam pembentukan karakter dan kemampuan kognitif manusia. Fenomena meningkatnya kebutuhan akan fasilitas penitipan anak Playschool dan Preschool di area perkotaan menuntut adanya lingkungan belajar yang tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga mampu menstimulasi perkembangan anak secara optimal. Penelitian ini berfokus pada perancangan interior Playschool dan Preschool yang menerapkan metode pendidikan Montessori. Metode ini menekankan pada kemandirian, kebebasan dalam batasan, dan penghormatan terhadap perkembangan psikologis alami anak. Namun, tantangan utama dalam desain ruang pendidikan konvensional seringkali terletak pada sifat ruang yang kaku dan statis, yang justru menghambat eksplorasi mandiri atau auto-education pada anak. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk mengintegrasikan prinsip Prepared Environment Montessori dengan konsep Flexibility Design guna menciptakan ruang belajar yang responsif terhadap dinamika perkembangan anak. Masalah utama yang diangkat adalah bagaimana desain interior dapat mengakomodasi masa peka (sensitive periods) anak yang berubah-ubah serta mendukung struktur sosial multi-age grouping yang menjadi ciri khas filosofi Montessori. Untuk menjawab tantangan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan konsep Agile Learning Spaces yang diperkenalkan oleh Nair, Fielding, dan Lackney (2013). Metodologi yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah metode perancangan desain yang meliputi tahap pengumpulan data melalui studi literatur mengenai standar antropometri anak dan kurikulum Montessori, observasi lapangan, serta studi preseden pada fasilitas serupa. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk menghasilkan program ruang yang efektif dan sintesis desain yang aplikatif. Fokus utama pengembangan desain terletak pada tiga dimensi fleksibilitas: fluidity (aliran ruang), versatility (multi-fungsi), dan convertibility (kemudahan perubahan fungsi elemen interior). Hasil perancangan menunjukkan bahwa penerapan Flexibility Design melalui furnitur modular, elemen interior yang dapat dipindahkan (mobile), dan zona polivalen mampu menciptakan atmosfer belajar yang adaptif. Penggunaan material alami dengan palet warna netral diterapkan untuk meminimalkan distruksi visual, sesuai dengan prinsip Montessori yang mengutamakan fokus anak pada material kerja. Integrasi aspek keamanan (safety) dan aksesibilitas anak menjadi prioritas dalam pemilihan detail sambungan furnitur dan sirkulasi ruang. Kesimpulan dari perancangan ini menegaskan bahwa interior yang fleksibel dan "lincah" (agile) bertindak sebagai katalisator yang memastikan lingkungan tetap relevan dengan kebutuhan transisi aktivitas anak. Dengan demikian, desain ini diharapkan dapat menjadi model bagi fasilitas pendidikan anak usia dini yang lebih humanis dan mendukung potensi genetik anak secara maksimal.

2026
👤 Penulis: Nur Meysha Maulina
🏷️ Desain Interior 🏷️ Pendidikan Anak Usia Dini 🏷️ Metode Montessori

DESAIN RUANG ISTIRAHAT MENTAL DENGAN TEKNOLOGI IMERSIF-INTERAKTIF UNTUK ANAK ADHD TIPE HIPERAKTIF USIA 7-9 TAHUN DI SEKOLAH

Fenomena neurodiversitas mendorong perlunya pendekatan desain interior yang mampu mengakomodasi keragaman kebutuhan kognitif dan sensorik pengguna, termasuk anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) tipe hiperaktif. Anak ADHD tipe hiperaktif cenderung mengalami kesulitan dalam mengatur perhatian, impulsivitas, dan aktivitas motorik sehingga memerlukan kesempatan untuk melakukan regulasi diri sebelum kembali mengikuti kegiatan belajar. Namun, ruang kelas konvensional umumnya dirancang untuk mempertahankan fokus belajar dan belum secara optimal memfasilitasi kebutuhan istirahat mental yang memungkinkan anak melakukan regulasi melalui aktivitas yang terarah. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pengembangan ruang istirahat mental yang mampu mendukung proses regulasi anak secara lebih adaptif di lingkungan sekolah. Perkembangan teknologi imersif-interaktif menawarkan peluang untuk menciptakan lingkungan yang lebih responsif terhadap kebutuhan pengguna melalui integrasi elemen visual, sensorik, dan aktivitas interaktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prinsip konfigurasi ruang dan elemen visual imersif-interaktif yang mendukung kebutuhan istirahat mental anak ADHD tipe hiperaktif usia 7–9 tahun di sekolah, menganalisis relevansi konsep ruang istirahat mental berbasis teknologi imersif-interaktif berdasarkan perspektif ahli, serta merumuskan rancangan desain ruang istirahat mental yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Penelitian menggunakan metode perancangan desain interior yang didukung oleh studi literatur, studi pendahuluan, pengembangan konsep desain, serta validasi ahli melalui kuesioner skala Likert dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip perancangan ruang istirahat mental bagi anak ADHD tipe hiperaktif meliputi penyediaan lingkungan yang aman, fleksibel, adaptif, dan mendukung regulasi sensori melalui pengaturan stimulus secara bertahap. Rancangan yang dihasilkan mengintegrasikan teknologi imersif interaktif, stimulus sensori yang beragam, aktivitas regulasi yang terstruktur, serta konfigurasi ruang yang disesuaikan dengan tahapan regulasi. Hasil validasi ahli menunjukkan tingkat persetujuan sebesar 85,42% dengan kategori sangat setuju, yang mengindikasikan bahwa desain dinilai sesuai dengan kebutuhan pengguna pada aspek tata ruang dan keamanan, stimulus visual, tahapan penggunaan ruang, serta interaksi dan aktivitas. Selain relevan bagi anak ADHD tipe hiperaktif, para ahli juga menilai bahwa prinsip-prinsip yang diterapkan dalam rancangan berpotensi memiliki relevansi yang lebih luas bagi pengguna neurodivergen lain yang memiliki kebutuhan regulasi serupa. Kebaruan penelitian terletak pada pengembangan konsep ruang istirahat mental berbasis teknologi imersif-interaktif yang secara khusus dirancang untuk mendukung proses regulasi anak ADHD di lingkungan sekolah melalui integrasi antara konfigurasi ruang, stimulus sensori, aktivitas regulasi, dan teknologi interaktif. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan desain interior inklusif dengan menawarkan model ruang yang dapat mendukung kesiapan belajar anak melalui pendekatan regulasi yang lebih adaptif dan terstruktur.

2026
👤 Penulis: Athifah Zahrah
🏷️ Desain Interior 🏷️ Anak Adhd Tipe Hiperaktif 🏷️ Teknologi Imersif-Interaktif

PERANCANGAN INTERIOR PUSAT TERAPI ANAK DANREMAJA AUTIS DI KOTA BANDUNG DENGANPENDEKATAN SENSORY DESIGN

Peningkatan jumlah individu dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) disertai keragaman karakteristik sensorik dan perilaku menuntut perancangan lingkungan terapi yang tidak hanya aman dan terkontrol, tetapi juga mendukung perkembangan kemandirian dan kesiapan adaptasi terhadap kehidupan sehari-hari. Namun, banyak fasilitas terapi yang belum menerapkan pendekatan interior dengan pertimbangan pengalaman sensorik individu autis. Tugas Akhir ini mengusulkan perancangan interior pusat terapi autis usia anak dan remaja di Kota Bandung dengan pendekatan sensory design dengan skema desain ASPECTSS 2.0 dan desain neurotipikal. Tujuan perancangan adalah menciptakan lingkungan terapi yang responsif terhadap kebutuhan sensorik individu ASD sekaligus mendukung proses generalisasi kemampuan melalui pengalaman ruang yang menyerupai lingkungan umum secara bertahap dan terkontrol. Metode yang digunakan adalah problem-based design dengan tahapan studi literatur, studi preseden, analisis pengguna dan aktivitas, serta perumusan program ruang dan fasilitas berdasarkan usia, tingkat fungsi, dan sensitivitas sensorik pengguna. Konsep desain mengacu pada prinsip ASPECTSS 2.0 dan pendekatan neurotipikal yang diterapkan melalui pengendalian stimulus sensorik, pengaturan urutan dan zonasi ruang, penyediaan ruang transisi dan escape space, serta perancangan sirkulasi yang terprediksi. Implementasi desain diterapkan untuk mendukung regulasi sensorik, meningkatkan kemandirian, dan memfasilitasi kesiapan sosial individu autis.

2026
👤 Penulis: Kania Jatiningsih Putri A
🏷️ Desain Interior 🏷️ Autisme 🏷️ Sensory Design

PERANCANGAN DESAIN INTERIOR GEDUNG RAWAT JALAN RUMAH SAKIT MATA DI BANDUNG JAWA BARAT

Indonesia memiliki prevalensi kebutaan dan gangguan penglihatan nomor 2 tertinggi di dunia setelah Ethiopia. Gangguan penglihatan mata dan kebutaan dapat mengganggu aktifitas bahkan hingga hampir tidak memungkinkan untuk melakukan beberapa aktifitas tertentu. Kebutaan dan gangguan penglihatan terdiri dari beberapa jenis dengan tahapan masing-masing, seperti gangguan penglihatan ringan seperti rabun yang dapat memburuk seiring waktu, hingga berat seperti kebutaan yang disebabkan oleh penyakit katarak sebagian maupun sepenuhnya. Kualitas kesehatan mata masyarakat di Indonesia masih belum dapat memadai dengan baik, terbatasnya pelayanan setiap hari atau kurangnya kenyamanan mengakibatkan kesulitan dalam melakukan perawatan maupun pengobatan gangguan penglihatan yang baik. Perancangan ini bertujuan untuk melakukan peningkatan kualitas rumah sakit mata melalui metode perancangan desain interior dapat mengembangkan dari sisi kenyamanan dan efisiensi. Hasil dari perancangan ini yaitu untuk mengoptimalkan kualitas pelayanan dalam rumah sakit mata untuk masyarakat Indonesia, agar dapat menurunkan angka kasus gangguan penglihatan atau kebutaan yang ada di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Diva Safira Bale
🏷️ Desain Interior 🏷️ Kesehatan Mata 🏷️ Manajemen Rumah Sakit

PERANCANGAN INTERIOR STEM CLUB SEBAGAI SARANA EDUKASI ANAK SEKOLAH TINGKAT DASAR BERBASIS PSIKOMOTORIK DENGAN PENDEKATAN MONTESSORI-STEM.

Indonesia menghadapi tantangan dalam meningkatkan minat dan pemahaman anak-anak terhadap dunia STEM pada tingkat pendidikan dasar. Meskipun perkembangan era teknologi menuntut generasi muda yang inovatif dan adaptif, banyak fasilitas pembelajaran sains, khususnya di daerah perkotaan yang memiliki potensi besar, masih belum optimal dalam menyediakan lingkungan belajar anak yang eksploratif, interaktif, serta mendukung pengembangan keterampilan psikomotorik mereka secara mandiri. Dalam upaya untuk menjembatani kesenjangan tersebut, perancangan ini dibuat untuk menciptakan ruang interior pembelajaran STEM yang menarik, inklusif, dan memotivasi anak untuk mendalami sains secara aktif. Hal ini dicapai dengan menerapkan pendekatan Montessori dan STEM sebagai inti dari konsep desain dan kurikulum kegiatan di STEM Club. Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif, meliputi identifikasi pengguna, analisis kebutuhan ruang, studi literatur terkait aspek tumbuh kembang anak, observasi fasilitas edukasi lokal sebagai studi kontekstual, serta penerapan pendekatan desain berbasis pengguna (human-centered design) dengan penekanan pada stimulasi aspek psikomotorik anak. Desain dibuat khusus untuk menciptakan suasana ramah anak dengan layout dan visual design yang menyenangkan, serta ruang dan fasilitas yang mendukung aktivitas di STEM Club. Dengan konsep tersebut, STEM Club diharapkan dapat menjadi sebuah solusi inovatif untuk mendukung pembelajaran sains yang efektif dalam membangun rasa ingin tahu anak-anak, sekaligus dapat meningkatkan keterampilan kognitif, psikomotorik, dan sosial mereka.

2026
👤 Penulis: Diva Meliana Dilla
🏷️ Desain Interior 🏷️ Pendidikan Dasar 🏷️ Montessori

PENYELARASAN STRATEGIS MELALUI INOVASI MODEL BISNIS UNTUK MENGOPTIMALKAN INTEGRASI DESAIN-BANGUN BAGI PEMILIK RUMAH PERTAMA: STUDI KASUS INTRISA STUDIO

Intrisa Studio, sebuah perusahaan desain interior dan konstruksi yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat, menghadapi hambatan strategis kritis berupa volatilitas pendapatan yang tinggi serta tingkat keterlambatan proyek yang mencapai 66-80%. Permasalahan ini bersumber dari inefisiensi operasional pada model layanan fully customized yang bersifat sangat padat sumber daya. Kondisi tersebut menyebabkan ketidakselarasan dengan kebutuhan segmen pasar utama, yaitu Pemilik Rumah Pertama (First-Home Buyers/FHB), yang lebih memprioritaskan keterjangkauan harga, transparansi biaya, dan kesederhanaan proses. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam kebutuhan pasar serta mengevaluasi kendala internal perusahaan guna merumuskan strategi peningkatan kinerja organisasi yang lebih efektif melalui penerapan kerangka Value Chain Analysis (VCA), Resource-Based View (RBV), serta Value Proposition Canvas (VPC). Temuan penelitian menunjukkan bahwa alur kerja yang bersifat sekuensial dan rendahnya standarisasi desain merupakan penghambat utama dalam mencapai skalabilitas bisnis. Sebagai solusi strategis, penelitian ini mengusulkan inovasi model bisnis menggunakan kerangka Magic Triangle yang mencakup empat dimensi terintegrasi: Who (fokus pada target segmen FHB), What (penawaran lini produk baru berupa paket Semi Custom yang terstandarisasi), How (implementasi alur kerja paralel dengan optimalisasi workshop produksi internal), serta Why (penerapan mekanisme harga tetap/fixed-price untuk menjamin stabilitas arus kas). Strategi ini didukung lebih lanjut oleh redesain proses melalui integrasi desain-bangun yang lebih efisien guna mengeliminasi berbagai bottleneck operasional. Penelitian ini diimplementasi selama 12 bulan.

2026
👤 Penulis: Durriyatu Rifda
🏷️ Desain Interior 🏷️ Pemilik Rumah Pertama 🏷️ Inovasi Model Bisnis

MEMAHAMI WAKTU PERSETUJUAN KLIEN MELALUI ANALISIS CUSTOMER JOURNEY PADA ALUR KERJA DESAIN INTERIOR BERBASIS VR DAN NON-VR

Desain interior merupakan hasil dari serangkaian interaksi berulang antara klien dan desainer, yang sering menimbulkan keterlambatan persetujuan dan mengganggu alur kerja serta menurunkan efisiensi proyek. Studi ini menelusuri bagaimana keterlambatan tersebut muncul pada tahap schematic design di Visial Studio dengan menggunakan Customer Journey Analysis (CJA) untuk membandingkan metode presentasi VR dan non-VR. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor penyebab lamanya waktu persetujuan klien yang dapat memicu pergeseran timeline, inefisiensi, dan penurunan kepuasan klien. Penelitian ini memperkenalkan penerapan CJA sebagai pendekatan baru dalam konteks desain interior, khususnya pada tahap schematic design. Meski penggunaan VR banyak dibahas dalam praktik desain, belum ada studi empiris yang mengkaji bagaimana alat visualisasi mempengaruhi urutan interaksi klien–desainer dalam proses yang sebenarnya. Dengan merekonstruksi customer journey melalui triangulasi metodologis antara rekaman komunikasi, dokumen persetujuan, dan berkas revisi, analisis ini membandingkan alur kerja yang direncanakan dengan perjalanan aktual untuk mengungkap deviasi serta akar penyebabnya. Temuan penelitian memberikan wawasan empiris mengenai perjalanan setiap klien dan mengidentifikasi dua jenis deviasi tambahan, yaitu timing dan iteration, yang memperluas empat jenis deviasi yang sebelumnya didefinisikan oleh Halvorsrud et al. (2016). Analisis menunjukkan bahwa keterlambatan terutama dipicu oleh masalah waktu, sementara iteration lebih merefleksikan proses penyempurnaan ketimbang kegagalan dalam layanan desain interior. Presentasi berbasis VR meningkatkan pemahaman klien dan kejelasan pengambilan keputusan, sehingga tidak ditemukan failing touchpoint pada seluruh kasus VR. Namun demikian, penggunaan VR tidak secara otomatis mempercepat keseluruhan durasi schematic design. Kecepatan persetujuan tetap sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti jenis klien, jenis proyek, ukuran proyek, dan kesiapan kondisi site. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bagaimana CJA dapat mengungkap mekanisme terjadinya keterlambatan persetujuan dalam layanan desain interior, serta menyoroti kondisi ketika VR mampu meningkatkan—meski tidak selalu mempercepat—alur kerja schematic design.

2026
👤 Penulis: Satria Putra Pamungkas
🏷️ Desain Interior 🏷️ Customer Journey Analysis (Cja) 🏷️ Analisis Sistem Interaksi Klien-Desainer

PERANCANGAN RESORT AGROWISATA MELALUI PENDEKATAN NEO-VERNAKULAR HINDU-JAWA DI DATARAN TINGGI DIENG

Dataran Tinggi Dieng memiliki kekayaan alam dan budaya yang melimpah, dengan potensi wisata seperti kawah, telaga, dan perkebunan. Dikenal sebagai Lumbung Kentang Jawa, Dieng juga memiliki komoditas unggulan lainnya. Festival budaya tahunan terbesar, Dieng Culture Festival (DCF), menampilkan berbagai tradisi, termasuk Ritual Ruwatan Rambut Gimbal. Sejak 2023, Dieng ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), yang mendorong pembangunan infrastruktur pariwisata, termasuk akomodasi. Namun, peningkatan jumlah wisatawan memicu pembangunan penginapan secara masif, yang lebih berorientasi pada kuantitas daripada kualitas. Akibatnya, lahan-lahan di sekitar mengalami degradasi, berdampak pada sektor pertanian yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat. Selain itu, arsitektur tradisional Dieng kurang terepresentasi, padahal keautentikan budaya dapat meningkatkan daya tarik wisata dan melestarikan warisan lokal. Sebagai solusi, dirancanglah resort agrowisata yang mengintegrasikan akomodasi nyaman dengan perkebunan sebagai objek wisata edukatif. Desain interiornya mengadopsi pendekatan neo vernakular Hindu Jawa, yang menggabungkan unsur modern dengan tradisional melalui bentuk elemen dari joglo dan candi, material alami, dan palet warna netral, menciptakan interior dengan suasana hangat khas Jawa dengan sentuhan Hindu. Resort ini tidak hanya memberikan pengalaman relaksasi bagi wisatawan tetapi juga menawarkan aktivitas bertani dan berkebun sebagai bagian dari konsep agrowisata. Dengan demikian, perancangan resort ini mampu menjawab tantangan pembangunan di Dieng dengan menghadirkan kenyamanan tanpa mengorbankan lahan pertanian, sekaligus menjadi ikon wisata yang tetap menjaga identitas budaya lokal melalui desain interior.

2025
👤 Penulis: Alyssa Shalina
🏷️ Desain Interior 🏷️ Pariwisata Agrowisata 🏷️ Manajemen Rantai Pasok
Halaman 1 dari 3
💬