📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 3 dokumen

PERANCANGAN KAWASAN SUNGAI DESA CIJAMBU, KECAMATAN CIPONGKOR, KABUPATEN BANDUNG BARAT DENGAN KONSEP WATERFRONT DEVELOPMENT BERBASIS NATURE-BASED TOURISM

Desa Cijambu, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat teridentifikasi masuk dalam klaster kemiskinan tinggi dengan mayoritas penduduk bergantung pada sektor pertanian sebagai buruh tani berpendapatan rendah akibat keterbatasan diversifikasi ekonomi. Di tengah keterbatasan tersebut, desa ini sesungguhnya menyimpan potensi alam strategis berupa aliran Sungai Cijambu dan kedekatan dengan perairan Waduk Saguling, namun belum teroptimalisasi secara fungsional maupun ekonomi sehingga belum berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat. Sejalan dengan pengembangan kawasan wisata ramah lingkungan yang diarahkan pada koridor wisata jalur barat Kabupaten Bandung Barat, penelitian ini bertujuan merancang kawasan tepian Sungai Cijambu dengan konsep waterfront development berbasis nature-based tourism. Penelitian ini menggunakan pendekatan eksploratif-kualitatif dengan teknik perancangan fragmental berdasarkan delapan elemen rancang kota Shirvani (1985), melalui studi literatur, studi preseden, observasi lapangan, dan analisis tapak. Sintesis teori terhadap perancangan kota, waterfront, dan nature-based tourism menetapkan delapan kriteria perancangan, yaitu konektivitas spasial, vitalitas ruang publik, integrasi ekologis, kontinuitas kontekstual, ketahanan hidrologis, pemberdayaan komunitas, manajemen pengunjung, dan interpretasi. Analisis kesenjangan menunjukan kondisi eksisting kawasan belum memenuhi kriteria tersebut secara optimal, sehingga dirumuskan prinsip perancangan spesifik yang kontekstual dan ditransformasikan ke dalam program ruang dan konsep desain. Melalui perancangan ini, diharapkan kawasan tepian Sungai Cijambu dapat berkembang menjadi ruang yang fungsional, ekologis, dan produktif secara ekonomi, sekaligus menjadi landasan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan di Desa Cijambu.

2026
👤 Penulis: Anggita Nisrina Srihartanti P
🏷️ Desain Kawasan 🏷️ Pengembangan Wisata Ramah Lingkungan 🏷️ Manajemen Komunitas

INTERVENSI INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI DALAM RANGKA PENERAPAN KONSEP 15-MINUTE NEIGHBORHOOD PADA KAMPUNG KOTA DI SEKITAR KAWASAN TOD MRT JAKARTA

Pembangunan TOD MRT Jakarta membawa level baru pada mobilitas DKI Jakarta. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa MRT Jakarta menjadi moda transportasi paling modern andalan masyarakat. Akan tetapi, di balik itu pelayanan first and last mile (FLM) travel masih sering kurang dipertimbangkan sehingga kualitas FLM pada layanan MRT Jakarta belum sepenuhnya memuaskan bagi pengguna. Di sisi lain, masih terdapat area pinggiran berupa kampung kota di sekitar kawasan TOD MRT Jakarta yang masih terhambat aksesibilitasnya terhadap infrastruktur perkotaan, salah satunya infrastruktur perkotaan. Konsep 15-minute neighborhood berpotensi untuk menjembatani kedua permasalahan aksesibilitas yang terjadi dengan menerapkan prinsip perancangan kawasan yang dapat mengakses fungsi - fungsi sosial perkotaan hanya dengan 15 menit durasi perjalanan melalui moda berjalan kaki atau bersepeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bentuk intervensi infrastruktur transportasi yang dapat diterapkan pada kampung kota di sekitar kawasan TOD MRT Jakarta dalam rangka menerapkan konsep 15-minute neighborhood. Tujuan ini dicapai melalui tiga tahap, identifikasi kecamatan potensial, identifikasi bentuk dan kuantitas kebutuhan infrastruktur transportasi, serta estimasi biaya dan metode pembiayaan yang dibutuhkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kecamatan Tanah Abang dan Kecamatan Setiabudi memiliki tingkat aksesibilitas kawasan permukiman terhadap layanan dasar fungsi sosial perkotaan paling tinggi sehingga berpotensial untuk menerapkan konsep 15-minute neighborhood. Meskipun begitu, didapatkan bahwa masih terdapat kebutuhan untuk menyediakan jalur khusus pejalan kaki dan pesepeda serta penerapan traffic calming pada jalan lingkungan dan gang-gang permukiman untuk memprioritaskan mobilitas pejalan kaki dan pesepeda. Penyediaan infrastruktur transportasi ini dinilai masih dapat dipenuhi melalui APBD DKI Jakarta dengan tetap terbuka pada peluang kontribusi dari pihak swasta.

2026
👤 Penulis: Pangripta Rahma Nabila Osa
🏷️ Mobilitas Penduduk 🏷️ Konsep 15-Minute Neighborhood 🏷️ Desain Kawasan

STUDI KONFIGURASI RUANG SEBAGAI DASAR PERUMUSAN KEBIJAKAN DESIGN KAWASAN BANTEN LAMA

Kawasan Banten Lama memiliki nilai budaya dan sejarah yang tinggi juga merupakan kawasan strategis dari sudut kepentingan sosial dan budaya serta memiliki potensi pariwisata. Namun aktivitas Kawasan Banten Lama belum tumbuh dan berkembang. Kawasan Banten Lama juga mengalami penurunan dalam segi kualitas fisik dan fungsi kawasan yang menyebabkan turunnya vitalitas kawasan. Upaya revitalisasi Kawasan Banten Lama sudah pernah dilakukan hanya saja tidak cukup menarik wisatawan untuk berkunjung. Persoalan keterbatasan fasilitas penunjang kawasan dan persoalan terkait sistem pergerakan antarkegiatan atau daya tarik menjadi penyebabnya. Hingga saat ini belum ada kajian terkait dengan profil dan persoalan konektivitas dan aksesibilitas. Dimana konektivitas dan aksesibilitas sendiri merupakan kriteria vitalitas yang dipengaruhi oleh konfigurasi ruang. Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan konfigurasi ruang pada Kawasan Banten Lama sebagai dasar perancang dalam pengoptimalan rencana penataan kawasan banten lama khususnya dalam perumusan kebijakan design kawasan. Penelitian ini menggunakan metode analisis data yang digunakan ialah metode analisis kualitatif serta metode analisis space syntax. Hasil studi mengemukakan beberapa persoalan seperti kurangnya jaringan jalan yang saling terhubung, kurangnya kemudahan dalam mencapai tujuan, tingkat kejelasan spasial yang belum bisa dikatakan baik, beberapa ruas jalan memiliki aksesibilitas yang cenderung tinggi tetapi tidak ada fasilitas yang tersedia juga perlunya RTH sebagai pendukung konektivitas dan aksesibilitas (mengintegrasikan antarjalan) serta pada ruas jalan belum memiliki fasilitas pejalan kaki. Persoalan yang ada ini kemudian memerlukan solusi berupa kebutuhan perancangan. Untuk itu tedapat beberapa usulan kebijakan design seperti penambahan jalan, potensi ruang terbuka hijau dan pedestrian oriented guna meningkatkan konektivitas dan aksesibilitas serta vitalitas kawasan.

2025
👤 Penulis: Rafanisa Intan Azzahra
🏷️ Kawasan Banten Lama 🏷️ Analisis Ruang 🏷️ Desain Kawasan
💬