📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 21 dokumen

PERANCANGAN KAWASAN HUNIAN ADAPTIF DENGAN PENDEKATAN COMMUNITY RESILIENCE DI BANTARAN SUNGAI TALLO MAKASSAR

Kawasan bantaran Sungai Tallo di Kota Makassar merupakan salah satu wilayah padat permukiman nelayan yang menghadapi kerentanan tinggi terhadap banjir akibat curah hujan, pasang air laut, serta penurunan kualitas lingkungan. Permasalahan yang muncul tidak hanya terkait aspek fisik, seperti hunian padat tanpa perencanaan, infrastruktur dasar yang terbatas, dan drainase buruk, tetapi juga menyangkut aspek sosial-ekonomi masyarakat nelayan yang rentan terhadap kemiskinan, ketergantungan pada tengkulak, serta terbatasnya akses layanan publik. Kondisi ini menjadikan Sungai Tallo sebagai kawasan dengan tingkat kerentanan kompleks yang membutuhkan pendekatan desain yang menyeluruh. Tesis ini bertujuan untuk merancang kawasan hunian adaptif yang mampu meningkatkan ketahanan komunitas (Community Resilience) terhadap risiko banjir dan degradasi lingkungan. Metode penelitian dilakukan melalui studi literatur, analisis kondisi eksisting, serta pendekatan teoritis mengenai Community Resilience yang menekankan kolaborasi sosial, fleksibilitas hunian, infrastruktur hijau, dan penguatan ruang komunal. Hasil penelitian ini menghasilkan konsep perancangan kawasan hunian adaptif berbasis Community Resilience, yang tidak hanya menekankan aspek fisik bangunan, tetapi juga membangun kapasitas sosial-ekonomi masyarakat dan meningkatkan kualitas lingkungan.

2026
👤 Penulis: Dirga Agustiansyah
🏷️ Desain Lingkungan 🏷️ Community Resilience 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

ARSITEKTUR SEBAGAI MEDIUM TRANSFORMASI PERILAKU: PERANCANGAN RUMAH SINGGAH BAGI ANAK BERKONFLIK DENGAN HUKUM (ABH-K) DI KOTA BANDUNG

Bandung dan wilayah sekitarnya merupakan kawasan dengan tingkat kenakalan remaja yang relatif tinggi. Ketika kenakalan remaja telah mencapai tahap yang meresahkan dan termasuk dalam tindak pidana, pelakunya dapat dikategorikan sebagai Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH), khususnya dalam klasifikasi Anak Berkonflik dengan Hukum (ABH-K). Berdasarkan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA) Tahun 2012, penyelesaian perkara ABH-K diutamakan melalui diversi atau penyelesaian di luar peradilan formal dengan prinsip keadilan restoratif. Setelah proses penangkapan, ABH-K dapat menjalani masa penahanan sementara dan dititipkan di Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (LPKS) atau lembaga sosial lainnya selama proses diversi. Apabila telah diperoleh putusan diversi, anak dapat menjalani proses pembinaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) atau lembaga sosial terkait. Namun demikian, peningkatan jumlah ABH-K di Jawa Barat setiap tahunnya menunjukkan kebutuhan fasilitas untuk mendukung proses pemulihan dan pembinaan. Tugas akhir ini merespons isu tersebut melalui perancangan sebuah rumah singgah bagi ABH-K yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang aman, memastikan keberlanjutan proses hukum, serta menjamin terpenuhinya hak-hak anak selama menjalani masa penanganan. Rumah singgah ini mengakomodasi ABH-K dalam masa penahanan, masa diversi, maupun pasca putusan diversi. Pendekatan desain mengusung tiga konsep utama, yaitu humanistic empowerment, spatial clarity, dan discouraging harmful behavior. Ketiga konsep ini diterapkan untuk menjawab permasalahan desain terkait uang sebagai ruang sebagai kontrol perilaku dan pengaruh ruang bagi kenyamanan psikologis. Secara programatik, rumah singgah ini mencakup fasilitas hunian dengan kapasitas hingga 216 ABH-K, ruang pendidikan berbasis vokasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, zona kunjungan dan konsultasi, layanan umum, kantor pengelola, serta area servis dan ibadah yang terintegrasi dengan ruang terbuka. Pengembangan ini berlokasi di Jl. K.H.P. Hasan Mustopa No. 38, Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat, dengan total luas pengembangan sekitar 8.225 m². Melalui pendekatan ini, diharapkan rumah singgah ini dapat berperan sebagai lingkungan rehabilitatif yang mendukung proses pembentukan perilaku, pemulihan psikologis, dan reintegrasi sosial anak.

2026
👤 Penulis: Salsabila Aqila
🏷️ Desain Lingkungan 🏷️ Anak Berhadapan Dengan Hukum (Abh-K) 🏷️ Pembinaan Anak

MENDEFINISIKAN KEMBALI ARSITEKTUR UNTUK KOMUNITAS FESYEN LAMBAT: REVITALISASI PASAR SUNAN GIRI JAKARTA TIMUR

Tren fesyen cepat yang semakin berkembang sebagai pola konsumsi dominan di masyarakat perkotaan telah mengancam keberlangsungan pasar-pasar fesyen tradisional di Jakarta. Salah satu contohnya adalah Pasar Sunan Giri yang saat ini mengalami penurunan aktivitas ekonomi. Dalam lima tahun terakhir, pasar ini kehilangan pengunjung sekaligus vitalitas komersialnya di tengah pesatnya pertumbuhan ritel fesyen dengan sistem produksi massal. Di sisi lain, komunitas penjahit dan pengrajin pakaian lokal yang hidup di dalamnya memiliki potensi besar untuk menjadi sumber fesyen berkelanjutan di Jakarta. Ketika nilai-nilai utama dalam gerakan fesyen lambat dibandingkan dengan praktik yang mereka lakukan sehari-hari, terlihat bahwa komunitas tersebut sebenarnya telah menerapkan prinsip fesyen lambat dalam aktivitasnya. Kondisi ini mendorong arsitektur untuk mengambil peran dalam mendefinisikan kembali ruang pasar. Intervensi arsitektural pada proyek revitalisasi ini berfokus pada: (1) penerapan transprogramming pada ruang komersial perkotaan; (2) integrasi strategi desain pasif; dan (3) penciptaan ruang yang mendukung pengembangan komunitas. Melalui revitalisasi ini, pasar tidak lagi dipandang semata-mata sebagai ruang komersial, melainkan juga sebagai ruang produksi yang manusiawi serta ruang pertama bagi konsumen untuk memahami nilai di balik produk yang mereka konsumsi.

2026
👤 Penulis: Atikah Az-Zahro
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Desain Lingkungan

STUDI PERANCANGAN TERMINAL KAMPUNG MELAYU DAN WILAYAH SEKITARNYA DENGAN PENDEKATAN GENDER EQUALITY DAN DISABILITY INCLUSION

Kawasan Terminal Kampung Melayu merupakan salah satu simpul transportasi utama di Jakarta yang melayani mobilitas ribuan pengguna setiap hari. Meskipun telah melalui proses revitalisasi pada tahun 2023, tingkat inklusivitas kawasan ini bagi kelompok rentan seperti perempuan, penyandang disabilitas, dan lansia belum teruji sepenuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji desain kawasan Terminal Kampung Melayu dengan pendekatan Gender Equality dan Disability Inclusion guna merumuskan kebutuhan intervensi perancangan yang mampu meningkatkan inklusivitas kawasan secara holistik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran (mixed method) yang menggabungkan analisis kuantitatif skoring dengan analisis kualitatif melalui studi literatur, observasi lapangan, dan wawancara berjalan (walking interview) bersama delapan partisipan dari kelompok rentan untuk menangkap pengalaman ruang secara langsung. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kondisi eksisting kawasan masuk dalam kategori "Cenderung Tidak Terpenuhi" dengan nilai pemenuhan prinsip total sebesar 35,77%. Kriteria inklusivitas mencatat skor terendah (6,25%), mengindikasikan adanya fenomena "disabled-by-design" dimana infrastruktur fisik seperti Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) tanpa lift dan guiding block yang terputus justru menghambat kemandirian mobilitas pengguna. Dari perspektif gender, ketiadaan sistem pengawasan aktif dan pencahayaan yang buruk di beberapa titik menciptakan rasa tidak aman bagi perempuan, yang diperburuk oleh pengalaman pelecehan verbal (catcalling) di area terminal. Temuan ini menegaskan bahwa desain lingkungan saat ini masih didominasi oleh orientasi efisiensi kendaraan bermotor dibandingkan kenyamanan pejalan kaki. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merumuskan prinsip perancangan baru yang mengadaptasi kondisi aktual dan preferensi pengguna. Rekomendasi yang diberikan merupakan hasil sintesis dari kebutuhan intervensi desain yang mencakup komponen berupa penyeberangan, fasilitas eksternal terminal, fasilitas publik, tata massa bangunan, ruang terbuka hijau, penerangan, perabot perkotaan, penanda, infrastruktur hijau, jalur kendaraan bermotor, jalur sepeda, jalur pejalan kaki, hingga parkir kendaraan, dan ditujukan kepada pemangku kepentingan terkait. Implementasi strategi intervensi ini diharapkan dapat mentransformasi Terminal Kampung Melayu dari ruang yang membatasi menjadi ruang yang memberdayakan dan setara bagi semua pengguna.

2026
👤 Penulis: Gaizka Azrananda
🏷️ Desain Lingkungan 🏷️ Inklusivitas Gender 🏷️ Disabilitas Inklusi

PERANCANGAN KAWASAN MARANATHA SECURE UNIVERSITY TOWN DENGAN PENDEKATAN CRIME PREVENTION THROUGH ENVIRONMENTAL DESIGN (CPTED)

Kota yang aman dan nyaman menjadi salah satu kriteria utama dalam menentukan kualitas sebuah kota. Salah satu tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) adalah sustainable cities and communities . Dalam konteks keberlanjutan kota, isu keamanan menjadi sangat relevan, terutama ketika dikaitkan dengan tingkat kriminalitas di suatu kawasan perkotaan. Perancangan ini mencoba mengkaji ulang desain kawasan di sekitar Kampus Universitas Maranatha, Sukajadi, Kota Bandung, yang menghadapi tantangan tingkat kriminalitas tinggi dan fenomena fear of crime yang menghambat aktivitas masyarakat, terutama mahasiswa yang tinggal di sekitar kawasan tersebut. Kawasan ini menunjukkan adanya persoalan desain seperti minimnya penerangan, ruang negatif yang rentan, rendahnya konektivitas, serta kurangnya fasilitas ruang publik yang menunjang interaksi sosial. Di sisi non-desain, tingginya angka kejahatan, keterbatasan jam operasional, serta kerentanan sosial. Pendekatan Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED) diusulkan sebagai solusi inovatif untuk merancang ulang kawasan ini. Perancangan ini mengidentifikasi kriteria, prinsip normatif, dan indikator perancangan guna merumuskan visi, misi, konsep, serta skenario pengembangan kawasan yang aman, nyaman, dan inklusif. Melalui simulasi implementasi CPTED, hasil perancangan diharapkan dapat meningkatkan persepsi keamanan, mengurangi peluang kejahatan, serta mendukung keberhasilan akademis mahasiswa dan kesejahteraan masyarakat. Perancangan ini memberikan kontribusi signifikan dalam mewujudkan kota berkelanjutan sesuai SDGs nomor 5, 11, dan 16. Perancangan ini juga berfungsi sebagai panduan strategis bagi pengambil kebijakan dan perancang kota dalam mengoptimalkan potensi lingkungan fisik untuk menciptakan ruang hidup ideal dan terjamin keamanannya. Perancangan ini menggunakan metode fragmental untuk melakukan perancangan yang komperhensif dan sistematis.

2026
👤 Penulis: Abyan Fakhri
🏷️ Desain Lingkungan 🏷️ Kebijakan Publik 🏷️ Hidrologi Kota

PERANCANGAN SARANA PERMAINAN PUBLIK UNTUK ANAK-ANAK DI PERKAMPUNGAN PADAT PENDUDUK (STUDI KASUS LEBAK SILIWANGI, BANDUNG)

Bandung merupakan kota dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi. Pemukiman padat penduduk tersebar di seluruh wilayah Kota Bandung. Dengan padatnya perkampungan, ketersediaan lahan juga makin terbatas, termasuk lahan untuk anak-anak bermain. Padahal bermain bukan hanya kegiatan untuk mengisi waktu luang, melainkan juga berperan penting bagi perkembangan kognitif, motorik,serta kemampuan sosial anak. Dengan tidak adanya lahan bermain, hasrat bermain anak jadi kurang tersalurkan. Anak jadi jarang keluar rumah, lebih banyak bermain gadget, atau bermain di tempat yang berbahaya seperti jalan raya. Hal inilah yang terjadi di Kelurahan Lebak Siliwangi, Coblong, Kota Bandung. Padatnya penduduk, terutama anak-anak, diperparah dengan sempitnya lahan kosong dan topografi lembah yang naik turun. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data melalui studi literatur, observasi lapangan, dan wawancara pihak terkait. Hasil penelitian ini adalah pengembangan sarana bermain publik atau playground yang sesuai dengan karakter wilayah dan anak-anak di perkampungan padat penduduk. Diharapkan dari penelitian ini, anak-anak di perkampungan padat penduduk tetap bisa mendapatkan hak bermainnya dan berkembang secara optimal.

2025
👤 Penulis: Salsabilla Husna Haniffah
🏷️ Desain Lingkungan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kesejahteraan Sosial

SAGARAMAYA: PERANCANGAN ECOTOURISM RESORT DI KAWASAN PANTAI KARANG PAPAK KABUPATEN GARUT

Sektor pariwisata di Garut, khususnya kawasan Pantai memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Namun pada kenyataannya, cukup banyak permasalahan yang dihadapi seperti permasalahan kebersihan lingkungan, infrastruktur yang belum memadai, dan kurangnya partisipasi serta kesadaran dari masyarakat itu sendiri. Salah satu Pantai yang berpotensi untuk dikembangkan di Garut adalah Pantai Karang Papak yang menawarkan panorama Samudera Hindia yang indah dengan hamparan pasir beserta gugusan karang. Kondisi eksisting menunjukkan belum banyak penawaran paket wisata yang menarik bagi wisatawan maupun masyarakat. Sarana akomodasi yang menjadi aspek penting dalam pariwisata memiliki kualitas dan kelayakan yang tidak sebanding dengan harganya. Masalah lainnya adalah Pantai di Garut Selatan berpotensi terkena dampak dari kemungkinan bencana gempa bumi dan tsunami yang tinggi. Tesis ini bertujuan untuk menghasilkan konsep perancangan, strategi perancangan, dan program fasilitas untuk sebuah ecotourism resort di Pantai Karang Papak yang dapat meningkatkan pariwisata dan kesadaran serta partisipasi masyarakat lokal. Manfaat dari tesis ini adalah menghasilkan sebuah model alternatif sebuah resort yang menggunakan pendekatan ecotourism di Kawasan Pantai Karang Papak. Tesis ini disusun dengan metode perancangan yang dimulai dengan kajian literatur, kajian preseden, kemudian melakukan analisis berdasarkan dua jenis data yaitu data primer berupa hasil observasi dan wawancara serta data sekunder menggunakan rujukan seperti jurnal, data, dan artikel yang menunjang kebutuhan perancangan. Beberapa poin penting prinsip ecotourism mengenai kriteria perancangan yang digunakan meliputi pendidikan/edukasi tentang lingkungan, meningkatkan dan menghasilkan pendapatan ekonomi lokal, serta meningkatkan keterlibatan masyarakat lokal. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, terdapat beberapa fungsi bangunan yang dirancang yaitu bangunan lobi, restoran & pertemuan, bangunan akomodasi berupa hotel dan cottage, rekreasi berupa spa & gym, serta workshop. Konsep yang ingin dihadirkan melalui tesis ini yakni berorientasi pada kelestarian alam, memaksimalkan potensi lokal, All-in-One Tourism, dan Laut sebagai Vista dan Axis. Konsep-konsep tersebut menghasilkan nama Sagaramaya yang berasal dari dua kata dalam Bahasa Sunda yaitu Sagara dan Maya, jika dipadukan bisa berarti menjadi sebuah “keindahan laut”. Nama ini merefleksikan pengalaman pengunjung yang diharapkan dapat merasa menyatu dengan keindahan alam serta lautan. Konsep ini diwujudkan melalui tata letak bangunan yang tidak menghalangi pandangan, penggunaan material lokal yang ramah lingkungan seperti kayu dan batu, serta desain ruang semi-terbuka yang memungkinkan sirkulasi udara dan pencahayaan alami maksimal. Akomodasi terbagi menjadi bangunan hotel bertingkat untuk efisiensi dan pemandangan panorama, serta cottage untuk privasi dan pengalaman yang lebih dekat dengan alam. Konsep ecotourism memungkinkan penerapan sistem-sistem yang menggunakan prinsip berkelanjutan. Sistem-sistem yang digunakan pada proyek ini adalah rainwater harvesting yang digunakan untuk konservasi air serta mengurangi limpasan air. Kemudian adapula pengelolaan limbah melalui kegiatan pada ruang-ruang workshop. Selanjutnya penerapan panel surya pada bangunan-bangunan untuk meminimalkan ketergantungan dan mengefisiensikan biaya energi listrik. Dalam skala bangunan, terdapat planter box serta tanaman gantung yang terletak pada railing memungkinkan pengunjung untuk ikut serta berpartisipasi di dalamnya. Sistem-sistem tersebut menjadi sebuah narasi edukasi yang menjadi nilai plus yang ditawarkan oleh ecotourism resort ini. Kesimpulannya, perancangan ini menunjukkan bahwa dalam merancang sebuah resor, banyak hal yang perlu dipikirkan, terutama lokasi yang tentunya menjadi aspek yang memengaruhi rancangan. Dengan menggunakan pendekatan ecotourism, sebuah resort tidak hanya berfokus pada aspek komersial, namun juga bagaimana kehadirannya dapat berpengaruh dan berkontribusi secara positif bagi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat setempat di daerah tersebut.

2025
👤 Penulis: Talitha Nur Adilah Zahrah
🏷️ Pariwisata Ekologis 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Desain Lingkungan

PERUMUSAN MODEL HIPOTESIS LINGKUNGAN PEMICU DAN REDUKSI KESEPIAN BERDASARKAN PENGALAMAN MAHASISWA PERANTAU STUDI KASUS: KAMPUS GANESHA, INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

Loneliness atau kesepian adalah fenomena universal yang kompleks dan memiliki dampak serius pada kesehatan fisik, mental, dan kesejahteraan individu. Di era urbanisasi yang pesat, kesepian di deklarasikan sebagai ancaman kesehatan global yang perlu diperhatikan melalui desain lingkungan yang mempromosikan koneksi sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah menyusun model hipotesis lingkungan yang dapat memicu maupun mengurangi perasaan kesepian dengan mengadopsi pendekatan kualitatif fenomenologi melalui salah satu kelompok rentan yaitu mahasiswa perantau dengan Kampus Ganesha, ITB sebagai batasan spasial. Temuan ini merumuskan dua model hipotesis yaitu (1) Loneliness Triggering Environments (LTE) dengan tiga pilar utama (Ketiadaan Stimulasi, Ketidaknyamanan, dan Hambatan Sosial) dan (2) Loneliness Reduction Environments (LRE) dengan empat pilar utama (Daya Tarik & Distraksi Positif, Kenyamanan dalam Kebersamaan, Pergerakan Aktif, dan Mendorong Sosialisasi). Model hipotesis LRE utamanya ditemukan berhubungan erat dengan pendekatan desain yang berorientasi pada skala manusia dan pejalan kaki, serta memperhatikan pengalaman individu pada tempat. Wawasan tambahan yang ditemukan adalah bahwa responden cenderung lebih menghargai ruang pasif untuk tujuan kesendirian daripada ruang sosial aktif ketika merasakan kesepian. Temuan kualitatif dan mendalam pada penelitian ini membuka kesempatan untuk verifikasi hipotesis yang disusun melalui penelitian kuantitatif lanjutan serta berpotensi membantu perancang kota, arsitek, dan desainer lanskap menciptakan ruang yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan mental, khususnya dalam mengurangi perasaan kesepian.

2025
👤 Penulis: Arifatul Hasanah
🏷️ Kesepian 🏷️ Desain Lingkungan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

REDESAIN BANDARA SISINGAMANGARAJA XII SEBAGAI GERBANG PARIWISATA DI KAWASAN DANAU TOBA

Bandara Sisingamangaraja XII memiliki peran penting sebagai gerbang menuju kawasan wisata Danau Toba. Namun, infrastrukturnya belum sepenuhnya mendukung proyeksi Sumatera Utara sebagai destinasi pariwisata internasional. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan program perancangan dan konsep desain sebagai rekomendasi pembaruan bandara guna memenuhi ekspektasi industri pariwisata. Desain ini mengadopsi prinsip Customer Journey Mapping (CJM) dengan Airport Experience untuk menganalisis dan meningkatkan pengalaman wisatawan dari kedatangan hingga keberangkatan. Pendekatan ini memastikan bahwa bandara tidak hanya memenuhi kebutuhan fungsional tetapi juga menciptakan pengalaman yang lebih mendalam dan berkesan. Proyek ini menerapkan elemen budaya Batak Toba dalam desain interior bandara, memperkuat identitas lokal sekaligus menghadirkan nuansa khas yang mencerminkan kekayaan budaya setempat. Penerapan ini dilakukan melalui eksplorasi artefak adat Batak, seperti arsitektur ruma bolon, kain ulos, dan ukiran gorga. Hasil perancangan ini diharapkan menjadi landasan bagi pengembangan fasilitas dan layanan Bandara Sisingamangaraja XII yang lebih baik, guna mendukung pertumbuhan pariwisata di kawasan Danau Toba.

2025
👤 Penulis: Mikhael Laurensius Halomoan
🏷️ Desain Lingkungan 🏷️ Pariwisata 🏷️ Customer Journey Mapping

PERANCANGAN LANSKAP KAWASAN KANTOR KEMENTERIAN PUPR WING 1 IBU KOTA NUSANTARA MELALUI PENDEKATAN SOLUSI BERBASIS ALAM

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk sebesar 281 juta jiwa pada tahun 2023, dengan 57% di antaranya terkonsentrasi di Pulau Jawa. Gagasan pemindahan ibu kota negara telah direncanakan sejak tahun 1957 oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang mengusulkan pemindahan ibu kota ke Kalimantan Tengah. Keputusan resmi untuk memindahkan ibu kota negara ke Kalimantan Timur diambil oleh Presiden Republik Indonesia ke-7 pada tahun 2019. Relokasi ini bertujuan untuk mencapai pemerataan ekonomi dan keadilan sosial, serta mengurangi beban Jakarta yang menghadapi laju urbanisasi tinggi dan penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan. Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) merupakan salah satu zona yang direncanakan dalam pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN), yang diperuntukkan bagi fungsi-fungsi pemerintahan nasional. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2022 Bab V, perancangan ibu kota baru ini mengusung model kota masa depan yang berbasis pada konsep hutan dan kepulauan, sebagai simbol transformasi Indonesia dengan tema Forest City, Sponge City, dan Smart City. Salah satu bangunan pemerintah yang berada di KIPP adalah Gedung Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Wing 1, yang berdiri di atas lahan seluas 3,17 hektar yang sebelumnya merupakan kawasan hutan monokultur. Lahan ini tidak hanya diperuntukkan bagi bangunan kantor, tetapi juga untuk ruang terbuka hijau publik. Lokasinya yang strategis dan bersebelahan dengan Kompleks Istana Presiden, menjadikan gedung ini berpotensi menjadi model percontohan bagi bangunan kementerian lainnya di IKN. Pembangunan kota baru menimbulkan berbagai tantangan, terutama terkait dengan dampaknya terhadap kualitas lingkungan dan keanekaragaman hayati di wilayah tersebut. Kondisi tanah eksisting pada tapak memerlukan pendekatan perancangan lanskap yang berbasis ekologi guna meningkatkan kualitas lingkungan. Di sisi lain, kawasan yang direncanakan sebagai ruang terbuka hijau publik memiliki potensi besar untuk menunjang kesejahteraan masyarakat serta mendukung keanekaragaman hayati guna mewujudkan kota global yang berkelanjutan. Nature-Based Solutions (NbS) dipandang sebagai salah satu strategi yang efektif dalam perancangan lanskap untuk memberikan manfaat bagi manusia dan lingkungan. Manfaat-manfaat ini dapat dianalisis menggunakan kerangka kerja Millennium Ecosystem Assessment, yang mengklasifikasikan jasa ekosistem sebagai manfaat yang diberikan oleh ekosistem bagi manusia, meliputi jasa penyediaan, pengaturan, dan jasa budaya. Melalui pendekatan ini, peran desain lanskap dalam mendukung penyediaan jasa ekosistem yang bermanfaat bagi manusia dapat dievaluasi. Tesis ini bertujuan untuk mengembangkan desain lanskap kawasan kantor di Ibu Kota Nusantara yang mendukung penyediaan jasa ekosistem, dengan fokus pada penyediaan air bersih, pengaturan iklim dan pengendalian erosi, serta jasa budaya. Studi ini mengadopsi kerangka metodologi desain dari James A. LaGro, yang terdiri dari empat tahapan: pra-desain, analisis, sintesis, dan perancangan. Analisis tapak dilakukan untuk menilai faktor iklim, pola angin, dan topografi, yang kemudian digunakan sebagai dasar dalam penyusunan tahapan implementasi desain yang mempertimbangkan proses-proses ekologis. Adapun hasil analisis tapak menunjukan bahwa terdapat beberapa jenis konsep nature-based solutions yang ditawarkan sebagai gagasan untuk menjadi solusi dari isu dan permasalahan yang dijumpai di tapak antara lain: Ecosystem based mitigation, Ecological Restoration, Ecosytem based disaster risk management dan Green Infrastructure. Hasil rancangan lanskap yang dinilai melalui Millenium Ecosystem Assesment menunjukan bahwa hasil rancangan terbukti dapat menghadirkan jasa layanan ekosistem berupa layanan penyediaan pada aspek food dan fresh water, pengaturan pada aspek climater regulation, water regulation, hazard control, pollination dan budaya pada aspek estetika, rekreasi dan pengetahuan serta dapat memenuhi poin-poin pada KPI KIPP IKN yang berkaitan dengan aspek ekologis dan preservasi lingkungan serta dapat berkontribusi pada peningkatan kenyamanan termal pada skala tapak yang dirancang.

2025
👤 Penulis: Rizky Rahadian Ramdhany
🏷️ Lanskap Alam 🏷️ Nature-Based Solutions (Nbs) 🏷️ Desain Lingkungan

PENGEMBANGAN FASILITAS PUBLIK AREA MEROKOK BERBASIS CIRCULAR DESIGN UNTUK PEMANFAATAN LIMBAH PUNTUNG ROKOK

Permasalahan limbah puntung rokok merupakan isu lingkungan yang kerap terabaikan namun berdampak signifikan. Filter rokok yang mengandung selulosa asetat tergolong sebagai limbah mikroplastik yang sulit terurai dan mengandung zat berbahaya seperti nikotin dan logam berat. Di Indonesia, jumlah perokok yang tinggi serta minimnya kesadaran dan fasilitas pembuangan puntung rokok memperparah pencemaran lingkungan di ruang publik. Tugas akhir ini mengembangkan sistem fasilitas publik area merokok berbasis circular design yang bertujuan untuk memanfaatkan limbah puntung rokok sebagai material utama dalam desain produk. Pendekatan circular design digunakan untuk membangun alur tertutup yang melibatkan pengguna (perokok), mitra pengelola limbah, dan dukungan kebijakan pemerintah. Produk utama dalam sistem ini meliputi cartridge penampung limbah, leaning stool, shelter merokok, serta box mobilisasi untuk distribusi storage cartridge. Seluruh komponen dirancang agar terintegrasi secara fungsional dan material, menggunakan biopolimer selulosa asetat hasil olahan limbah puntung rokok minimal 70% pada bagian visual atau struktural. Proyek ini tidak hanya menjawab persoalan lingkungan, tetapi juga membentuk perilaku merokok yang lebih tertib dan bertanggung jawab di ruang publik.

2025
👤 Penulis: Dio Vitto Namora
🏷️ Desain Lingkungan 🏷️ Manajemen Limbah 🏷️ Kecerdasan Buatan

PRINSIP PERANCANGAN LOW EMISSION ZONE MELALUI PENDEKATAN GREEN INFRASTRUCTURE DI KOTA BANDUNG (STUDI KASUS : KAWASAN BALAI KOTA BANDUNG DAN SEKITARNYA)

Kota Bandung mengalami penurunan kualitas udara, terutama disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor. Berbagai kebijakan telah diterapkan, seperti Car Free Day dan pembatasan kendaraan, namun belum memberikan dampak signifikan secara spasial maupun ekologis. Pendekatan Low Emission Zone berpotensi menjadi solusi, terutama jika digabungkan dengan konsep Green Infrastructure untuk memperkuat aspek ekologis dalam desain kawasan. Penelitian ini bertujuan merumuskan prinsip perancangan Low Emission Zone berbasis Green Infrastructure di sekitar Balai Kota Bandung. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif-kualitatif, melalui observasi lapangan, wawancara, serta penyebaran kuesioner kepada pengguna kawasan. Analisis dilakukan berdasarkan empat kriteria utama yakni keberlanjutan lingkungan, kenyamanan kawasan, aksesibilitas dan mobilitas, serta pengelolaan lalu lintas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan studi belum mendukung penerapan Low Emission Zone secara optimal. Jalur pejalan kaki dan sepeda masih terbatas, keberadaan vegetasi belum merata, dan belum ada integrasi moda transportasi aktif. Berdasarkan temuan tersebut, dirumuskan prinsip perancangan yang menekankan penguatan jalur hijau, integrasi moda ramah lingkungan, serta pengelolaan fasilitas ruang publik yang nyaman dan dapat meningkatkan kualitas udara. Prinsip ini diilustrasikan pada tiga titik strategis sebagai contoh penerapan prinsip. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan pendekatan Low Emission Zone berbasis Green Infrastructure yang kontekstual dan aplikatif di Indonesia

2025
👤 Penulis: Jessica
🏷️ Desain Lingkungan 🏷️ Green Infrastructure 🏷️ Manajemen Lalu Lintas

PERANCANGAN INTERIOR WELLNESS BOUTIQUE RESORT DENGAN KONSEP ECO-LUXURY DI LABUAN BAJO

Labuan Bajo, sebagai salah satu destinasi pariwisata unggulan di Indonesia, memiliki potensi besar untuk pengembangan fasilitas yang mendukung kesejahteraan dan pelestarian lingkungan. Penelitian ini bertujuan merancang interior wellness resort dengan konsep eco-luxury yang mengintegrasikan kenyamanan, kemewahan, dan ramah lingkungan. Konsep eco-luxury diterapkan melalui penggunaan material ramah lingkungan, desain yang meminimalkan dampak negatif terhadap ekologis, dan integrasi elemen alam lokal dalam rancangan interior. Resort ini dirancang untuk memberikan pengalaman holistik yang mencakup relaksasi, kesehatan, dan pengenalan budaya lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur, analisis kebutuhan pengguna, dan observasi lapangan di Labuan Bajo. Hasil rancangan mencakup area spa dan massage, akomodasi penginapan, dan ruang komunal yang dirancang dengan prinsip keberlanjutan serta estetika mewah. Material seperti kayu daur ulang, rotan, bambu, dan tiles ramah lingkungan digunakan untuk menciptakan suasana alami sekaligus modern. Ruang terbuka dengan pemandangan alam turut dihadirkan untuk meningkatkan koneksi pengguna dengan lingkungan sekitar. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa desain interior wellness resort dengan konsep eco-luxury di Labuan Bajo mampu memenuhi kebutuhan wisatawan akan kenyamanan dan kesehatan, sekaligus mendukung upaya pelestarian lingkungan dan budaya lokal. Implementasi konsep ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pengembangan pariwisata berkelanjutan di kawasan tersebut.

2025
👤 Penulis: Rosalinda Mourantes Saragih
🏷️ Interior Wisata 🏷️ Eco-Luxury 🏷️ Desain Lingkungan

CREATING A FAMILY-LIKE SPACE: AN APPROACH TO DESIGNING A COMMUNITY-EMBRACED ORPHANAGE

Perkembangan anak membentuk karakteristik mereka saat dewasa. Dengan keberadaan sosok orang tua, interaksi positif, serta pemenuhan kebutuhan mendasar, anak dapat tumbuh dengan kemampuan intra-personal dan inter-personal yang baik. Kemampuan ini berperan penting dalam membangun kepercayaan diri, kemandirian, serta hubungan sosial yang sehat, yang akan memengaruhi kehidupan mereka di masa depan. Bagi anak-anak yang tinggal di panti asuhan, tidak adanya sosok orang tua sebagai figur interaksi sosial menjadi tantangan besar. Lingkungan yang tidak mendukung perkembangan anak secara holistik dapat menyebabkan kurangnya rasa aman, keterbatasan dalam berinteraksi, hingga munculnya sifat negatif seperti kecemasan, depresi, dan rasa tidak percaya diri. Dengan demikian, diperlukan perancangan panti asuhan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar anak, tetapi juga menciptakan ruang yang mendukung interaksi sosial dan pengembangan diri. Sebagai pewujudan interaksi sosial, komunitas dan masyarakat menjadi pendukung serta bagian integral dari panti asuhan ini. Lingkungan yang terintegrasi dengan komunitas diharapkan mampu memberikan anak-anak kesempatan untuk belajar, berinteraksi, dan berkembang secara menyeluruh, layaknya kehidupan dalam keluarga. Proyek ini berlokasi di Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, dan dirancang dengan fungsi utama berupa interaction, development, dan housing. Proyek bertujuan merancang panti asuhan berbasis komunitas dengan pendekatan yang mendukung perkembangan holistik anak. Desain mencakup ruang-ruang yang menyerupai suasana keluarga, seperti ruang tidur yang nyaman, area belajar, ruang bermain, hingga ruang komunal yang memfasilitasi hubungan positif antara anak-anak, pengasuh, dan komunitas sekitar. Dalam perancangan ini, dua persoalan utama akan dibahas, yaitu: interaksi anak dan komunitas, serta desain yang mendorong kehidupan keluarga.

2025
👤 Penulis: Nadirah Rianty Suseno
🏷️ Desain Lingkungan 🏷️ Komunitas Eksis Dalam Panti Asuhan 🏷️ Perkembangan Anak

PERANCANGAN BIRD SANCTUARY: PUSAT EDUKASI DAN PELESTARIAN BURUNG BLEKOK (ARDEOLA SPECIOSA) DI KAWASAN BANDUNG TIMUR

Proyek berjudul “Perancangan Bird Sanctuary: Pusat Edukasi dan Pelestarian Burung Blekok (Ardeola speciosa) di Kawasan Bandung Timur” ini merupakan proyek perancangan fasilitas wisata dan edukasi yang bertujuan untuk melestarikan keanekaragaman hayati, berupa burung blekok sawah (Ardeola speciosa) di Kawasan Bandung Timur, tepatnya di Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. Perancangan ini mencakup lahan seluas 12.300 m² yang terletak di Jalan Lantana, Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. Untuk memaksimalkan tujuan dari perancangan ini, delineasi tapak yang dipilih sebagian besar mencakup rumpun bambu yang menjadi habitat eksisting burung blekok sawah (Ardeola speciosa). Selain itu, lokasi tapak yang dipilih juga tepat bersebelahan dengan habitat alami burung blekok yang tersisa, yaitu Kampung Rancabayawak sehingga dapat menjadi potensi yang baik untuk diintegrasikan di kemudian hari. Konsep utama dari perancangan ini adalah dengan melakukan sedikit mungkin intervensi pada lingkungan dan justru mengembalikan kondisi alami tapak. Sehingga untuk mewujudkan hal tersebut diterapkan beberapa prinsip dasar dari perancangan, yaitu penggunaan hanya 20-30% lahan yang dirancang untuk bangunan serta menghadirkan habitat alami burung blekok sawah pada tapak. Prinsip tersebut didukung dengan strategi desain berupa strategi zoning yang membagi 3 tapak berdasarkan fungsi dan aktivitas di dalamnya, berupa zona preservasi, zona penelitian, dan zona rekreasi. Selain itu, juga untuk mendukung keserasian dengan tapak bangunan dirancang dengan menggunakan konsep arsitektur kamuflase. Beberapa hal yang dilakukan adalah dengan merancang aviary dengan desain organik sehingga bangunan tidak terkesan masif, pola atap bangunan mengikuti pola lengkungan yang dibuat oleh aviary sehingga lebih terkesan seirama, penggunaan material utama bambu sebagai selubung bangunan, serta pemanfaatan permukaan bangunan untuk penghijauan.

2025
👤 Penulis: Alia Fadilah Rashida
🏷️ Kebudayaan Dan Ekologi 🏷️ Desain Lingkungan 🏷️ Pengelolaan Kawasan Wisata
Halaman 1 dari 2
💬