📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 2 dokumenPUSAT REHABILITASI BAGI PENYANDANG GANGGUAN PERKEMBANGAN SARAF DI KOTA BANDUNG
Gangguan perkembangan saraf—meliputi Gangguan Spektrum Autisme (GSA), ADHD, Disabilitas Intelektual, dan Cerebral Palsy—merupakan kondisi persisten yang memengaruhi fungsi personal, sosial, akademik, dan okupasional anak sejak masa awal perkembangan. Melalui tugas akhir ini, perancang berupaya menghadirkan sebuah pusat rehabilitasi yang layak dan terintegrasi bagi penyandang gangguan perkembangan saraf di Kota Bandung, sejalan dengan SDGs 3 Good Health and Well-Being, SDGs 10 Reduced Inequalities, dan SDGs 11 Sustainable Cities and Communities. Isu yang diangkat dalam Tugas Akhir ini adalah fragmentasi layanan rehabilitasi, dimana fasilitas medis, terapi, dan dukungan sosial beroperasi secara terpisah dan tidak terintegrasi, diperparah dengan ketidakmerataan distribusi layanan ditengah tingginya prevalensi kasus di Jawa Barat. Kondisi ini menimbulkan isolasi sosial, perundungan, hambatan kemandirian bagi penyandang, serta parenting stress bagi keluarga akibat beban ekonomi dan kesulitan mengelola kebutuhan terapi anak secara berkelanjutan. Tipologi arsitektur yang dipilih adalah pusat rehabilitasi medik terpadu yang mengintegrasikan layanan fisioterapi, terapi wicara, terapi okupasi, hingga pelatihan vokasional dalam satu ekosistem terapeutik. Pemilihan tipologi ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan ruang yang tidak hanya berfungsi sebagai wadah medis, tetapi juga sebagai lingkungan binaan yang aktif mendukung proses penyembuhan. Perancangan ini menggunakan pendekatan salutogenik (Aaron Antonovsky) yang diterjemahkan melalui indeks ASPECTSS™—comprehensibility, manageability, dan meaningfulness—dipadukan dengan pendekatan multisensori dan biofilik untuk menghadirkan konsep Healing Saturacy. Metode yang ditempuh meliputi analisis pengguna dan tapak, studi preseden terhadap bangunan kesehatan dan pendidikan inklusif, pemrograman ruang berdasarkan zonasi publik-privat-aktif-tenang, serta transformasi gubahan massa yang responsif terhadap iklim, kebisingan, dan potensi lingkungan sekitar tapak. Perancangan ini bertujuan menyediakan akses rehabilitasi bagi anak dengan gangguan perkembangan saraf melalui lingkungan binaan yang bebas hambatan, terapeutik, dan memenuhi standar aksesibilitas universal sesuai Permen PU No. 30/2006. Luaran yang dihasilkan berupa rancangan bangunan tiga lantai dan basement dengan struktur kayu fabrikasi (glulam) berjejak karbon rendah, dilengkapi taman multisensori dan roof garden yang saling terhubung, sehingga tidak hanya melindungi dan memulihkan penyandang, tetapi juga menjadi ruang edukasi bagi keluarga dan masyarakat guna mengurangi stigma terhadap gangguan perkembangan saraf.
FASILITAS TERAPI DOWN SYNDROME: PENDEKATAN PADA LINGKUNGAN PENYEMBUHAN TERAPEUTIK
Down syndrome merupakan kelainan genetik yang memengaruhi aspek fisik, kognitif, serta perilaku individu. Prelevansi Down syndrome di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya, tetapi fasilitas terapi komprehensif yang disediakan pemerintah masih sangat terbatas. Akibatnya, para penyandang Down syndrome sering mengalami keterbatasan dalam mengakses layanan yang mendukung perkembangan dan kemandirian mereka. Selain itu, masih ditemukan stigma negatif mengenai Down syndrome di kalangan masyarakat yang memperburuk kesejahteraan mental dan sosial para penyandang Down syndrome. Dengan demikian, dibutuhkan sebuah fasilitas terapi Down syndrome yang terintegrasi dengan pelatihan keterampilan serta edukasi bagi keluarga dan kalangan masyarakat umum. Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup para penyandang Down syndrome di Indonesia serta mengurangi stigma negatif di kalangan masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan lingkungan penyembuhan terapeutik, fasilitas ini mengutamakan kenyamanan fisik, emosional, serta psikologis pengguna, terutama para penyandang Down syndrome. Pendekatan ini melibatkan elemen desain biofilik, pencahayaan alami, ventilasi silang, integrasi dengan elemen alam seperti taman dan air, serta perancangan arsitektur yang holistik. Selain itu, fasilitas ini juga harus memenuhi prinsip inklusivitas serta kemudahan akses untuk semua pengguna, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik, sehingga meningkatkan kenyamanan pengguna, serta menghadirkan ruang publik yang mendorong inklusi sosial.