📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 3 dokumen

PERANCANGAN KAWASAN RIVERFRONT TOURISM VILLAGE DI DESA CIJAMBU, KECAMATAN CIPONGKOR, KABUPATEN BANDUNG BARAT

Desa Cijambu di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, dikategorikan sebagai wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi akibat keterbatasan infrastruktur dan minimnya lapangan pekerjaan. Padahal, desa ini memiliki potensi sumber daya alam strategis berupa aliran Sungai Cijambu yang belum teroptimalisasi secara fungsional maupun ekonomi. Sejalan dengan program prioritas nasional mengenai pengembangan desa wisata, penelitian ini bertujuan untuk merancang kawasan Riverfront Tourism Village di RW 07 Desa Cijambu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi eksploratif dan preskriptif. Pendekatan perancangan dilakukan secara fragmental dengan teknik division by aspect yang merujuk pada elemen perancangan perkotaan Shirvani (1985). Penelitian ini melakukan sintesis teori untuk merumuskan kriteria dan prinsip normatif yang diambil dari pedoman perancangan perkotaan, perancangan pedesaan, perancangan waterfront, dan perancangan kawasan pariwisata. Hasil sintesis menetapkan tujuh kriteria utama perancangan Riverfront Tourism Village, yaitu: connected, ecologically sustainable, heritage-based, accessible, socially inclusive, economically empowering, dan disaster-resilient. Hasil analisis kesenjangan (gap analysis) menunjukkan bahwa kondisi eksisting kawasan belum memenuhi kriteria Riverfront Tourism Village secara optimal. Sebagai respons, dirumuskan prinsip perancangan spesifik yang kontekstual terhadap potensi dan persoalan yang ada di kawasan, yang kemudian ditransformasikan ke dalam program ruang dan konsep desain. Hasil akhir perancangan ini menyajikan sebuah solusi yang mengintegrasikan penataan hunian, penyediaan infrastruktur pendukung, dan ruang-ruang aktivitas ekonomi. Desain ini diharapkan dapat menjadi landasan fisik dalam mengupayakan pelestarian budaya serta keberlanjutan lingkungan di Desa Cijambu.

2026
👤 Penulis: Bunga Maheswari Adara Duce
🏷️ Desain Perkotaan 🏷️ Pengembangan Desa Wisata 🏷️ Hidrologi

STRATEGI INTERVENSI ELEMEN RANCANG KOTA DALAM MENGATUR IKLIM MIKRO KORIDOR PERKOTAAN DI KEBONBARU CIREBON DENGAN BIOPHILIC URBANISM

Peningkatan aktivitas di perkotaan berasal dari urbanisasi yang terjadi dan membuat suatu kawasan menjadi padat. Kebutuhan akan ruang untuk beraktivitas juga selaras dengan pembangunan yang akhirnya mengurangi ruang hijau. Sementara ruang hijau menjadi penting dalam mengatasi pemanasan perkotaan yang sering disebut Urban Heat Island (UHI). Salah satu kota yang tengah mengalami fenomena UHI adalah Kota Cirebon. Dimana wilayahnya memiliki indeks kerapatan vegetasi yang sangat jarang dan juga suhu yang tinggi. Solusi yang befokus dengan iklim lingkungan dan perkotaannya adalah climate sensitive urban design (CSUD). Sementara untuk menghadirkan kembali ruang hijau diperlukan konsep yang sejalan yaitu biophilic urbanism. Sebagai konsep yang ingin menghadirkan kembali alam ke dalam kegiatan sehari-hari pengguna ruang kota, biophilic ini juga mampu dalam beradaptasi dengan perubahan iklim. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi intervensi elemen rancang kota yang mengatur iklim mikro koridor perkotaan di kawasan Kota Cirebon dengan konsep biophilic urbanism. Pendekatan penelitian ini menggunakan studi desain yang menggunakan simulasi perangkat ENVI-met untuk mengevaluasi alternatif-alternatif skenario dengan menggunakan elemen-elemen biophilic urbanism yaitu vegetasi, material perkerasan dan elemen air. Secara umum hasil dapat dikatakan bahwa skenario 2 yang mengombinasikan elemen vegetasi tajuk kolumnar, material dengan nilai albedo 0,7, atap hijau dan fitur air mancur mampu menurunkan suhu maksimumnya sebanyak 1,8oC. Kemudian jika dilihat secara spesifik, setiap segmen koridor di Kebonbaru yang diujikan memiliki kecocokan dengan skenario yang berbeda karena karakteristik yang bervariasi. Akan tetapi, skenario-skenario yang merupakan intervensi memiliki hasil kenyamanan termal yang termasuk kategori tidak nyaman. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konsep biophilic urbanism yang diterapkan pada Kebonbaru, Cirebon masih belum bisa secara optimal mengatur iklim mikronya. Sehingga diperlukan intervensi yang skalanya lebih dari mikro, atau dapat mengintervensi lebih banyak dari segi ketinggian bangunan, ruas jalan dan luas lahan bangunannya.

2025
👤 Penulis: Imas Nurrahmah Priandani
🏷️ Biophilic Urbanism 🏷️ Urban Heat Island (Uhi) 🏷️ Desain Perkotaan

PERANCANGAN KORIDOR JALAN AKSES STASIUN PADALARANG DAN KERETA CEPAT PADALARANG DENGAN KONSEP GENDER SENSITIVE URBAN DESIGN

Keamanan dan kenyamanan masyarakat dalam beraktivitas di ruang perkotaan merupakan hal fundamental yang harus diperhatikan terutama bagi masyarakat golongan rentan. Kedua hal ini dapat mempengaruhi aktivitas dan pandangan masyarakat terhadap ruang publik di perkotaan, salah satunya adalah koridor jalan. Koridor jalan terdiri atas jalur kendaraan, jalur pejalan kaki, dan bangunan yang ada di sekitarnya. Koridor jalan ini menghubungkan berbagai jenis kegiatan termasuk di dalamnya adalah transportasi publik. Koridor jalan memiliki peran penting dalam membantu masyarakat untuk mencapai transportasi publik seperti stasiun. Akan tetapi, terdapat berbagai permasalahan yang muncul yang dapat merugikan berbagai pihak karena adanya perancangan perkotaan yang tidak inklusif. Maka dari itu, perancangan koridor jalan akses Stasiun Padalarang dan Kereta Cepat Padalarang dengan konsep Gender Sensitive Urban Design merupakan upaya untuk menciptakan ruang perkotaan yang inklusif, aman, dan nyaman bagi semua pengguna, termasuk perempuan dan kelompok rentan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk merancang koridor jalan sesuai dengan kebutuhan berbagai kelompok gender dalam penggunaan ruang publik dan menerapkan prinsip-prinsip desain perkotaan yang responsif terhadap gender dalam perancangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang berfokus pada koridor jalan akses Stasiun Padalarang dan Kereta Cepat Padalarang. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara dengan pengguna jalan, serta kajian literatur terkait konsep Gender Sensitive Urban Design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa potensi dan persoalan fisik yang mengacu pada beberapa kriteria dalam perancangan koridor jalan dengan pendekatan sensitif gender, diantaranya keamanan, kenyamanan, aksesibilitas dan terintegrasi, kebersihan, inklusivitas, dan keberlanjutan.

2024
👤 Penulis: Aditya Priyo Wicaksono
🏷️ Desain Perkotaan 🏷️ Koridor Jalan 🏷️ Gender Sensitif
💬