📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4 dokumenPERANCANGAN ULANG KAWASAN PASAR KEBAYORAN LAMA, KOTA JAKARTA SELATAN
Kawasan Pasar Kebayoran Lama memiliki beberapa permasalahan, seperti fasilitas yang kurang memadai, sirkulasi kawasan yang kurang baik, serta permasalahan pedagang informal yang berjualan di pinggir jalan hingga mengganggu aktivitas masyarakat sekitar. Padahal, kawasan pasar ini memiliki beragam potensi yang bisa dioptimalisasi agar bisa memenuhi fungsinya sebagai sumber pendapatan dan penggerak ekonomi daerah, serta menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi paling penting di masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, penelitian berupa konsep perancangan ulang kawasan Pasar Kebayoran Lama perlu dilakukan untuk mengatasi persoalan dan meningkatkan kualitas lingkungan sehingga tercipta kawasan yang dapat memenuhi kebutuhan kegiatan perdagangan dan jasa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan pendekatan perancangan yang dilakukan secara fragmental dengan teknik problem solving yang mengacu pada elemen perancangan perkotaan Shirvani (1985). Penelitian ini juga melakukan sintesis teori untuk merumuskan kriteria dan prinsip normatif yang diambil dari pedoman perancangan pasar rakyat. Sintesis teori menghasilkan enam kriteria utama perancangan pasar rakyat, yaitu comfortable, clean and healthy, connected, safe, secure, dan organized. Hasil analisis potensi dan persoalan kawasan menunjukkan bahwa fasilitas dan sarana yang tersedia di kawasan Pasar Kebayoran Lama masih belum cukup memadai. Untuk menanggapi hal tersebut, dihasilkan rumusan prinsip perancangan yang secara spesifik menyesuaikan kebutuhan serta potensi kawasan, sehingga terbentuk konsep dan ilustrasi desain perancangan ulang yang lebih baik. Perancangan ini menawarkan sebuah solusi yang memadukan tiga zona utama kawasan pasar yang bersifat aksesibel, tertata, dan hidup selama 24 jam. Konsep perancangan ini diharapkan dapat menjadi referensi komprehensif bagi penelitian selanjutnya, serta menjadi solusi relevan untuk mengupayakan pelestarian pasar tradisional serta keberlanjutan lingkungan kawasan Pasar Kebayoran Lama.
REGENERATING SPACES PERANCANGAN RUANG PUBLIK DAN FASILITAS WISATA EKOBUDAYA BERBASIS KOMUNITAS DI KAMPUNG SEWU MELALUI ECOPUNCTURE
Kampung kota riparian di Indonesia, seperti yang berada di sepanjang Kali Pepe di Surakarta, menghadapi penurunan sosial-ekologis yang signifikan. Upaya revitalisasi konvensional yang bersifat top-down sering kali gagal, memarjinalkan komunitas lokal serta mengabaikan potensi ekologi dan budaya yang ada. Tesis ini memperkenalkan model desain regeneratif alternatif untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut. Dengan mengintegrasikan pendekatan Ecopuncture dan model Community-Based Ecotourism (CBET), studi ini secara sistematis mengidentifikasi area kunci untuk intervensi. Melalui analisis penyaringan berlapis terhadap kawasan Kali Pepe, Kampung Sewu dipilih sebagai lokasi utama. Di dalam komunitas ini, lima titik strategis ditentukan untuk implementasi desain. Desain yang diusulkan mencakup lima intervensi, yaitu Lokakarya Pawon dan Taman, Lokakarya Atsiri, Visitor Center & Lokakarya Apem, Lokakarya Pamrih, dan Lokakarya Banyu. Setiap lokasi dirancang adaptif terhadap banjir, terintegrasi dengan alam, serta mendukung warisan lokal. Dengan kerangka berpikir yang berlandaskan pada konsep harmoni ekologis (Lestari), kesejahteraan komunal (Raharja), dan semangat budaya (Sukma), konsep inovatif ini bertujuan meningkatkan kualitas fisik dan ekologis kawasan. Tujuan akhirnya adalah memperkuat ketahanan, identitas, dan kesejahteraan ekonomi komunitas lokal, serta menjadikan Kampung Sewu sebagai model pengembangan kawasan riparian yang inklusif dan berkelanjutan. Tesis ini memberikan kontribusi berupa kerangka kerja intervensi yang dapat direplikasi di kawasan serupa, sekaligus menawarkan model desain yang kontekstual, inklusif, dan regeneratif.
TRANSFORMASI KAMPUNG NELAYAN: PERANCANGAN PERMUKIMAN PESISIR DI KELURAHAN KANGKUNG, BANDAR LAMPUNG
Indonesia memiliki garis pantai kurang lebih 99.093km, termasuk Provinsi Lampung dengan panjang pesisir kurang lebih 1.105 km, yang menampung banyak pemukiman kumuh pesisir. Kelurahan Kangkung di Bandar Lampung, seluas 0,89 km persegi dengan kepadatan kurang lebih 398 jiwa/km persegi, terdiri dari 23 RT kumuh dan mayoritas warganya berprofesi sebagai nelayan (kurang lebih 1.023 orang). Terpapar risiko abrasi dan banjir rob, wilayah ini memerlukan solusi penataan permukiman terpadu. Tugas akhir ini menghadirkan proyek Kampung Nelayan Berkelanjutan seluas 30.000?m persegi didukung Perda Bandar Lampung No.5 Tahun 2024. Dengan pendekatan ekologis–komunitas, desain ini dirancang melalui tiga strategi: (1) Restorasi ekosistem dengan penanaman mangrove, penataan batu di bibir pantai, dan ruang terbuka hijau komunal sebagai penyerap air; (2) Ruang publik sosial-ekonomi dengan penataan pasar ikan higienis dengan cold storage, sistem pencahayaan dan sirkulasi baik, serta promenade yang terhubung restoran seafood dan area edukasi/interaksi masyarakat; dan (3) Hunian compact dan tanggap bencana dengan unit mikro modular panggung dengan ventilasi dan pencahayaan optimal, dilengkapi skema evakuasi dan perlindungan terhadap kebakaran, responsif terhadap dinamika kepadatan dan bencana pesisir. Desain ini membantu perencanaan infrastruktur dan tata ruang secara efisien, meningkatkan sistem sanitasi serta pengelolaan air, dan menciptakan ruang publik yang mendorong solidaritas serta interaksi komunitas. Proyek ini diharapkan menjadi model pengembangan komunitas pesisir yang inklusif dan berkelanjutan, memperkuat peran kampung nelayan di Bandar Lampung sebagai permukiman produktif, tahan iklim, dan memiliki nilai budaya serta ekonomi lokal.
LINK RESIDENCE: APARTEMEN KELAS MENENGAH URBAN DI KAWASAN TOD FATMAWATI
Penerapan konsep TOD (Transit Oriented Development) yang mengintegrasikan bangunan mixed-use dengan transportasi umum pada satu kawasan tidak hanya memberikan manfaat berupa peningkatan aksesibilitas dan pengurangan biaya transportasi harian, namun memunculkan permasalahan berupa kenaikan harga tanah dan hunian di kawasan TOD. Hal ini dapat mengakibatkan tidak terakomodasinya penduduk berpenghasilan lebih rendah yang semestinya paling diuntungkan dari manfaat aksesibilitas TOD, seperti diungkapkan oleh Kaniewska (2018). Berdasarkan data dari Departemen Perhubungan, kelas menengah ke bawah adalah kelompok mayoritas pengguna transportasi umum sehingga hunian berbasis TOD seharusnya mengakomodasi kelompok tersebut. Selain itu, penyediaan hunian terjangkau juga tercantum dalam ketentuan yang harus dipenuhi pada TOD Standard maupun peraturan pemerintah. Sebagai kawasan TOD yang telah direncanakan pembangunannya oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan dengan adanya aksesibilitas serta fasilitas yang cukup memadai, kawasan Fatmawati dapat dikembangkan dengan dibangunnya hunian mixed-use terjangkau sesuai dengan ketentuan pada peraturan pemerintah mengenai TOD. Berangkat dari hal-hal di atas, proyek ini bertujuan untuk membangun hunian yang dilengkapi dengan fungsi pendukung pengembangan kawasan TOD dengan menyediakan unit yang terjangkau bagi kelas menengah ke bawah yang terintegrasi dengan simpul transit pada kawasan TOD Fatmawati. Perancangan hunian terjangkau menggunakan strategi cross-subsidy dan commercial revenue, dengan menyatukan hunian komersial dan subsidi serta mengintegrasikannya dengan fungsi komersial dan ruang publik untuk menarik aktivitas. Kenyamanan pada unit yang terbatas, fleksibilitas, permeabilitas, desain yang berorientasi pada pejalan kaki, dan keterbukaan menjadi poin-poin penting yang diperhatikan dalam perancangan.