📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 1 dokumenPENGEMBANGAN ALAT BANTU JALAN ANAK CEREBRAL PALSY SPASTIK DIPLEGIA GMFCS II USIA 6-12 TAHUN
Keterbatasan fungsi ekstremitas bawah pada anak dengan cerebral palsy tipe spastik diplegia merupakan tantangan rehabilitasi yang kompleks. Kondisi ini ditandai oleh kerusakan white matter periventricular yang menyebabkan spastisitas, kelemahan otot, gangguan keseimbangan, dan pola berjalan yang tidak efisien pada kedua tungkai bawah. Di Indonesia, prevalensi cerebral palsy tercatat sekitar 9 per 1.000 anak usia 24-59 bulan, dengan tipe spastik diplegia sebagai subtipe yang paling sering ditemui. Anak dengan klasifikasi kemampuan motorik kasar GMFCS II memiliki potensi berjalan secara mandiri, namun menghadapi keterbatasan pada kondisi tertentu seperti berjalan jauh, menaiki tangga, atau bergerak di permukaan tidak rata. Upaya rehabilitasi di Indonesia masih terkendala oleh keterbatasan akses fasilitas, biaya terapi yang tinggi, cakupan jaminan kesehatan yang belum memadai, serta minimnya produk pendukung latihan yang ramah pengguna muda dan dapat digunakan secara mandiri di luar fasilitas formal. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hambatan fisik, psikologis, dan lingkungan yang dialami anak cerebral palsy tipe spastik diplegia GMFCS II usia 6-12 tahun dalam menjalani program rehabilitasi medik, mengkaji kesesuaian produk pendukung latihan berjalan yang tersedia dengan kebutuhan nyata pengguna, serta mengembangkan konsep alat bantu jalan yang adaptif, inklusif, dan kontekstual. Pendekatan kualitatif eksploratif digunakan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam multi-pihak, dan studi literatur. Pengumpulan data dilakukan di Yayasan Anak Bunda Istimewa (YABI) dengan melibatkan fisioterapis, dokter spesialis rehabilitasi medik, serta orang tua atau pendamping anak sebagai sumber informasi. Proses perancangan menggunakan metode desain yang berpusat pada pengguna (user-centered design), mencakup analisis kebutuhan pengguna, studi ergonomi dan biomekanik, pengembangan konsep, pembuatan studi model, hingga purwa rupa (prototipe) berbasis 3D printing. Temuan penelitian menunjukkan adanya kesenjangan desain yang signifikan antara produk yang tersedia dengan kebutuhan nyata pengguna, khususnya dalam aspek keterjangkauan ekonomi, adaptabilitas terhadap lingkungan sehari-hari, dan daya tarik visual yang mendukung konsistensi latihan anak. Berbeda dari penelitian sejenis yang umumnya berfokus pada pengukuran efektivitas klinis intervensi, penelitian ini mengintegrasikan perspektif klinis, data lapangan multi sumber, dan pendekatan pengembangan produk dalam satu kerangka analisis yang komprehensif. Hasil penelitian ini berupa konsep alat bantu jalan ortosis pinggul-paha bilateral yang dirancang secara kustom sesuai antropometri pengguna. Produk terdiri dari rangka utama berbahan ABS (Acrylonitrile Butadiene Styrene) yang dicetak menggunakan 3D printing, compliant mechanism berbahan TPU 90A yang menghubungkan komponen pinggul dan paha untuk mengakomodasi gerak fleksibel secara berjalan, serta pengikat yang bisa diatur berbahan kain nylon webbing dengan sistem velcro. Desain produk mengutamakan tiga aspek utama: adaptive dalam mengikuti gerak fisiologis pengguna, targeted support pada area gluteus medius, rectus femoris, dan hamstring, serta child-friendly melalui pendekatan visual yang lembut dan tidak mengesankan alat medis. Produk ini diharapkan dapat mendukung latihan berjalan secara mandiri di luar fasilitas formal, meningkatkan motivasi anak, serta berkontribusi pada pengembangan solusi rehabilitasi yang kontekstual terhadap kontribusi pengguna di Indonesia.