📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 9 dokumenREDESAIN PLAZA STASIUN BANDUNG DAN PERANCANGAN ELEVATED PUBLIC SPACE YANG MENGHUBUNGKAN UTARA-SELATAN
Redesain Plaza Stasiun Bandung dan perancangan elevated public space yang inklusif dan terintegrasi, bukan hanya berfungsi sebagai simpul transportasi utama, namun juga sebagai infrastruktur ruang publik yang menghubungkan kawasan utara dan selatan stasiun untuk mendukung mobilitas dan interaksi sosial masyarakat kota. Sejalan dengan SDG's ke-11 "Sustainable Cities & Communities" dan ke-9 "Industry, Innovation and Infrastructure", rancangan ini diharapkan mampu menyediakan ruang publik yang aman, memfasilitasi integrasi antarmoda, serta menghidupkan kembali aktivitas ekonomi lokal di sekitar kawasan stasiun. Topik ini untuk menjawab tantangan keterisolasian antara kawasan utara dan selatan Stasiun Bandung akibat teroutusnya akses oleh jalur rel kereta api yang merupakan masalah tata ruang yang dihadapi di kawasan tersebut. Masalah ini sering menjadi penghambat pergerakan pejalan kaki dan sirkulasi kendaraan karena kurangnya konektivitas ruang yang memadai, di sisi lain, kondisi plaza stasiun saat ini belum optimal dalam menampung pergerakan penumpang yang terus meningkat serta minimnya kualitas ruang tunggu publik. Bahkan, tingginya volume kendaraan dan pejalan kaki yang tidak terfasilitasi dengan baik di area tapak sering kali menimbulkan kemacetan dan ketidaknyamanan bagi para pengguna stasiun maupun warga sekitar. Objek studi ini merupakan area plaza stasiun dan ruang layang penghubung yang berkonsep elevated public space yang berlokasi di Stasiun Bandung. Pemilihan lokasi ini mempertimbangkan Stasiun Bandung sebagai pusat pergerakan transportasi terbesar dan berkarakter kuat di Kota Bandung. Sedangkan untuk penentuan besaran ruang dan kapasitas sirkulasi didasarkan pada studi literatur dan observasi jumlah pergerakan penumpang pada jam sibuk di stasiun. Pendekatan akan fokus pada konektivitas dan efisiensi ruang melalui metode perancangan Transit-Oriented Development (TOD), struktur jembatan layang pejalan kaki yang ramah disabilitas, integrasi ruang terbuka hijau, dan sirkulasi penumpang yang efisien supaya mengurai kepadatan di titik masuk stasiun. Selain itu, desain elevated public space yang multi-aktivitas memungkinkan pemanfaatan ruang layang untuk kegiatan sosial dan komersial yang diharapkan membantu menambah vitalitas kawasan. Proses perancangan ini berbasis pada studi literatur dengan melihat best-practice ruang publik layang stasiun internasional, analisis komparatif simpul transportasi, observasi kebutuhan penumpang dan masyarakat lokal, serta simulasi sirkulasi pergerakan untuk konsep elevated public space. Tujuan perancangan ini adalah menghasilkan desain ruang publik dan plaza stasiun yang terintegrasi, aman, dan nyaman, yang dapat menjadi solusi atas masalah keterbelahan kawasan utara dan selatan. Dengan demikian, rancangan ini bukan hanya memberikan solusi arsitektural dan sirkulasi, namun juga menjadi percontohan infrastruktur transportasi yang humanis, konektif, dan dekat dengan komunitas lokal yang dapat diterapkan di berbagai simpul transportasi di Indonesia.
PERANCANGAN ULANG KAWASAN RUANG TERBUKA PUBLIK TAMAN LANSIA BANDUNG DENGAN PENDEKATAN PLACEMAKING DAN RAMAH LANSIA
Indonesia dan Kota Bandung tengah menghadapi peningkatan persentase populasi lansia yang signifikan. Di sisi lain, ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bandung baru mencapai 12,88%, jauh di bawah ambang batas 30%. Meski telah berstatus Kota Ramah Lansia, Bandung belum memiliki panduan perancangan teknis. Taman Lansia Bandung, sebagai RTH situs cagar budaya, memiliki tingkat ketercapaian prinsip ramah lansia yang masih rendah, yakni 42,63%. Penelitian kualitatif ini bertujuan merancang ulang Taman Lansia melalui pendekatan placemaking dan desain ramah lansia. Menggunakan Fragmental Method dengan teknik optimizing, pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, kuesioner kepada 87 responden, wawancara mendalam dengan empat instansi, dan studi dokumen. Analisis tapak memadukan aspek White (1983) dan elemen Shirvani (1985), disertai analisis persepsi pengunjung serta potensi dan persoalan kawasan. Sintesis literatur merumuskan empat kriteria perancangan: keamanan dan kenyamanan, aksesibilitas dan keterbacaan, fungsi dan aktivitas, serta sosiabilitas. Analisis kawasan mengidentifikasi 8 potensi dan 14 persoalan yang didominasi oleh isu keamanan dan aksesibilitas. Rancangan ini mengusung visi "Evergreen and ALIVE" yang diwujudkan ke dalam empat zona aktivitas dan jalur sirkulasi universal. Hasil akhir perancangan mematuhi aturan RTH Sub Zona Rimba Kota dengan proporsi koefisien dasar hijau mencapai 80,18%. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi placemaking dan konsep ramah lansia ke dalam satu kerangka perancangan ulang taman publik cagar budaya. Hasil penelitian berkontribusi menyediakan kriteria ruang publik inklusif bagi lansia, serta menjadi model fisik penerapan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2021 yang dapat diadaptasi oleh kota lain.
STRATEGI INTEGRASI RUANG UNTUK MENINGKATKAN PERGERAKAN PEJALAN KAKI ANTAR STASIUN SOLO BALAPAN DAN TERMINAL TIRTONADI DENGAN PENDEKATAN URBAN NETWORK ANALYSIS (UNA)
Kawasan antara Stasiun Solo Balapan dan Terminal Tirtonadi di Surakarta mengalami diskoneksi spasial yang signifikan, menyebabkan pergerakan pejalan kaki antarmoda menjadi tidak efisien meskipun telah terhubung oleh skybridge. Isu utama adalah kegagalan integrasi fungsional yang menjadikan koridor penghubung sebagai ruang sisa yang terfragmentasi. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi perancangan ruang antar Stasiun Solo Balapan dan Terminal Tirtonadi dengan pendekatan Urban Network Analysis guna menciptakan pergerakan yang lebih efektif dan daya tarik kawasan bagi pengguna transportasi dalam berpindah moda. Pendekatan penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan: analisis kondisi eksisting, sintesis masalah, perumusan konsep dan strategi, hingga pengembangan alternatif rekayasa jaringan jalan dan bangunan yang dievaluasi secara kuantitatif menggunakan metode Urban Network Analysis (UNA). Perangkat analisis dengan metode UNA yang digunakan dalam riset ini adalah: Reach Index, Gravity Index, Betweenness Index, Straightness Index, dan Closeness Index. Konsep utama perancangan adalah merekayasa ulang jaringan sirkulasi untuk meningkatkan konektivitas dan efisiensi rute, serta mentransformasi guna lahan di sepanjang koridor menjadi kawasan mixed-use berdensitas tinggi untuk menciptakan daya tarik destinasi. Hasil analisis UNA menunjukkan bahwa keterisolasian simpul transit dan inefisiensi rute adalah masalah fundamental; sehingga dirumuskan prinsip dan kriteria desain yang berfokus pada (1) Keterpaduan Fungsi dan Tata Ruang, (2) Keteraturan Tata Massa Bangunan, (3) Konektivitas Sirkulasi, dan (4) Vitalitas Ruang Publik sebagai strategi utama untuk meningkatkan integrasi spasial dan vitalitas kawasan.
PRINSIP DAN KRITERIA DESAIN RUANG TERBUKA PUBLIK SENSITIF GENDER BERDASARKAN PERSEPSI KEAMANAN PEREMPUAN DENGAN PENDEKATAN GENDER SENSITIVE URBAN DESIGN (GSUD) STUDI KASUS: ALUN-ALUN BANDUNG, JAWA BARAT
Implementasi pengarusutamaan gender dalam konteks perencanaan dan perancangan perkotaan pada dasarnya masih menitikberatkan kesenjangan hak dan akses kelompok perempuan untuk memanfaatkan ruang kota sebagai isu sensitivitas gender yang perlu diselesaikan secara holistik. Dari berbagai isu dan persoalan yang perlu diselesaikan, ketidakamanan di ruang publik menjadi salah satu dari banyaknya keresahan perempuan di wilayah perkotaan, termasuk di Indonesia. Berbagai ketakutan mempengaruhi persepsi keamanan perempuan di ruang terbuka publik, yakni ketakutan terhadap tindak kekerasan pada perempuan yang diantaranya meliputi pelecehan seksual, kejahatan fisik, dan ancaman lain yang disebabkan pertanda-pertanda buruk dari lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu, penyusunan prinsip dan kriteria desain ruang terbuka publik yang sensitif gender dalam penelitian ini dilandaskan pada persepsi keamanan perempuan dan kebutuhan mereka untuk merasa aman dalam menggunakan ruang terbuka publik perkotaan. Salah satu isu keamanan yang melibatkan viktimisasi berbasis gender diantaranya meliputi kasus kekerasan pada perempuan. Kota Bandung merupakan salah satu penyumbang tertinggi data kekerasan terhadap perempuan di Indonesia (berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bandung). Hasil survei terhadap perempuan pengguna ruang terbuka publik di Kota Bandung menunjukkan kawasan Alun-alun Bandung sebagai ruang terbuka publik yang dipersepsikan paling tidak aman. Karakteristik permasalahan yang paling signifikan mempengaruhi persepsi keamanan tersebut adalah yang terkait dengan sistem keamanan kawasan, ketiadaan fasilitas khusus perempuan, dan permasalahan aksesibilitas seperti jalur-jalur pedestrian yang masih tidak aman untuk dilewati. Secara keseluruhan, terdapat 7 (tujuh) kategori prinsip utama desain ruang terbuka publik sensitif gender yang dapat direkomendasikan untuk ruang terbuka publik perkotaan di Indonesia khususnya Kota Bandung, meliputi: visibilitas, proteksi spasial, aktivitas dan pemanfaatan ruang, kenyamanan dan citra, aksesibilitas, legibilitas, dan konektivitas, sosiabilitas, dan skalabilitas. Masing-masing prinsip didukung oleh kriteria teknis yang dapat digunakan sebagai panduan praktis bagi perancang, pemerintah kota, dan pengelola ruang publik. Prinsip-prinsip ini tidak hanya berbasis persepsi pengguna perempuan, tetapi juga diuji relevansinya melalui perbandingan dengan panduan GSUD yang telah ada di lingkup global serta standar teknis lain yang berlaku di Indonesia.
PERANCANGAN SAGARA COMMUNITY CENTRE SEBAGAI PUSAT WISATA GASTRONOMI BAHARI DI CIREBON
Laporan tugas akhir ini membahas perancangan SAGARA Community Centre sebagai pusat wisata gastronomi bahari di atas lahan seluas 7.135 m2 di Desa Gebang, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon. Permasalahan utama yang diangkat adalah ketimpangan antara potensi hasil laut lokal dengan rendahnya kesejahteraan nelayan, serta ketiadaan ruang publik terpadu yang mewadahi aktivitas wisata, edukasi, dan ekonomi komunitas pesisir secara berkelanjutan. Tujuan dari perancangan ini adalah menciptakan ruang interaktif berbasis konsep from sea to table yang mengintegrasikan fungsi produksi (pasar dan pelelangan ikan), edukasi (gastronomi lab dan workshop), serta konsumsi (restoran dan café corner) dalam satu ekosistem interior. Metode penelitian menggunakan pendekatan design-based research, yang menempatkan perancang sebagai subjek aktif dalam merumuskan masalah dan solusi melalui iterasi spasial. Landasan teori diambil dari pemikiran Bryan Lawson (2005), Eating Architecture (Horwitz & Singley, 2004), serta referensi kontekstual seperti Precedents in Architecture dan data empiris lapangan. Dengan demikian, SAGARA Community Centre dapat menjadi model perancangan ruang publik yang merepresentasikan identitas komunitas pesisir sekaligus mendukung pemberdayaan ekonomi dan pelestarian tradisi kuliner lokal secara berkelanjutan.
PERANCANGAN ULANG KAWASAN DI BAWAH JEMBATAN PASUPATI SEBAGAI RUANG TERBUKA PUBLIK DENGAN PENDEKATAN PLACEMAKING
Ruang terbuka publik memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan. Keberadaan ruang publik dapat menjadi wadah interaksi sosial, aktivitas komunitas, serta sarana rekreasi bagi masyarakat. Kawasan di bawah Jembatan Pasupati di Kota Bandung merupakan ruang kota dengan lokasi yang strategis dan potensi pemanfaatan tinggi, namun belum dioptimalkan sebagai ruang terbuka publik yang berkualitas. Meskipun telah dilakukan berbagai inisiatif penataan sejak tahun 2013, kawasan ini masih menghadapi berbagai persoalan, seperti keterputusan konektivitas antar segmen, pemanfaatan ruang yang tidak teratur, serta minimnya fasilitas pendukung yang terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang ulang kawasan tersebut dengan pendekatan placemaking untuk menciptakan ruang terbuka publik yang memiliki makna dan identitas kuat serta dicintai oleh penggunanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian memiliki sasaran mengidentifikasi prinsip perancangan normatif placemaking, mengidentifikasi potensi dan permasalahan kawasan, serta merancang ulang kawasan studi sebagai ruang terbuka publik dengan pendekatan placemaking. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan sifat deskriptif dan pendekatan normatif, dengan metode pengumpulan data melalui observasi lapangan dan studi literatur. Temuan utama menunjukkan bahwa kawasan memiliki potensi berupa keberadaan fasilitas yang beragam, lokasi yang strategis dan mudah diakses, serta kondisi alami yang teduh. Namun, terdapat pula permasalahan seperti dominasi elemen non-hijau, jalur pedestrian yang tidak konsisten, fasilitas umum yang tidak terpelihara, serta aktivitas informal yang tidak tertata. Berdasarkan temuan tersebut, dirumuskan konsep perancangan yang mengembangkan zonasi fungsional, meningkatkan konektivitas, menyediakan ruang sosial, merelokasi fasilitas yang mengganggu kenyamanan, serta menerapkan desain visual yang ramah. Hasil rancangan diharapkan dapat mewujudkan ruang terbuka publik yang bersahabat, aktif, dan berkesinambungan.
IDENTIFIKASI PERAN ALUN-ALUN KOTA BANDUNG DALAM MENGATASI URBAN LONELINESS DAN MEMFASILITASI INTERAKSI SOSIAL PENGUNJUNG
Penelitian ini berfokus pada fenomena urban loneliness di Alun-Alun Kota Bandung, dengan tujuan untuk mengidentifikasi tingkat kesepian, karakteristik demografis dan gaya hidup, serta pola interaksi sosial pengunjung yang berkaitan dengan faktor lingkungan. Urban loneliness menjadi isu penting dalam konteks urbanisasi yang semakin pesat, di mana ruang publik, meskipun menjadi tempat berkumpul, justru dapat memperburuk perasaan kesepian. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods, yang terdiri dari pengukuran kuantitatif menggunakan UCLA Loneliness Scale, observasi perilaku, serta wawancara semiterstruktur untuk menggali faktor-faktor yang mempengaruhi perasaan kesepian dan interaksi sosial di ruang publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengunjung Alun-Alun Kota Bandung cenderung mengalami tingkat kesepian sedang hingga tinggi, dengan karakteristik tertentu seperti usia muda dan status sosial-ekonomi rendah yang lebih rentan terhadap urban loneliness. Analisis juga menunjukkan bahwa kualitas lingkungan, seperti kebersihan, kenyamanan fasilitas, dan desain ruang publik, berperan dalam membentuk pengalaman sosial dan tingkat kesepian pengunjung. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa ruang terbuka publik, meskipun berfungsi sebagai tempat berkumpul, sering kali tidak cukup efektif dalam mengurangi rasa kesepian, dan pada individu dengan karakteristik tertentu, seperti usia muda, justru dapat memperburuk perasaan tersebut. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan yang mengintegrasikan faktor fisik dan psikososial dalam memahami urban loneliness di ruang publik. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori urban loneliness serta memberikan rekomendasi untuk perbaikan desain ruang publik di Indonesia, khususnya Kota Bandung, agar mendukung interaksi sosial yang lebih bermakna.
PERANCANGAN KAWASAN STASIUN KOTA LUBUKLINGGAU MENJADI RUANG PUBLIK KOTA
Kota-kota di seluruh dunia telah kehilangan jati dirinya, tidak terkecuali Kota Lubuklinggau. Masyarakat menjadi malas melakukan rutinitas suntuk membosankan setiap hari tanpa jeda, mereka hanya berputar-putar pada tempat tinggal dan tempat bekerja hingga harus memikirkan kemana harus pergi membawa beban pikiran setelah menjalani keseharian di kota tempat mereka hidup, tidak ada pilihan ketiga. Kawasan cantik berpotensial tidak dimanfaatkan, lahan kosong dibangun ruko, tempat berkumpul yang sedikit menyegarkan pikiran tidak diatur untuk menguntungkan masyarakat dengan bayaran di depan, di akhir, dan dimana-mana, penataan tidak diatur hingga ke-semrawut-an bertebaran pada tiap sudut. Di perkotaan negara maju, manusia disediakan ruang untuk meningkatkan kualitas hidup, tidak berbayar, tidak bersekat, tidak bertembok, menjadi tempat yang nyaman hingga mampu meningkatkan gairah mereka untuk menjalani rutinitas keseharian. Masyarakat bisa berkumpul tanpa harus memikirkan latar belakang, -semua orang setara-, pada ruang tersebut mereka bisa melepaskan semua ‘kebohongan kepribadian’, membicarakan pandangan politik dan percintaan, berbicara mengenai apapun yang mereka mau di dalam norma masyarakat, semua dilakukan karena mereka berhak dan layak mendapatkan ruang yang mereka butuhkan, itulah yang disebut dengan ruang publik, ruang ketiga. Kota Lubuklinggau memiliki sebuah stasiun kereta api yang juga memiliki sejarah besar dalam menyambungkan peradaban perkotaan di Indonesia, namun kini keberadaan stasiun tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik, mungkin karena pemerintah hingga masyarakat yang tidak menyadari seberapa berharganya 'Batu Pualam’ yang mereka punya, yang terkubur jauh di dalamnya. Pendekatan Placemaking dengan atribut Accessible and Linkages, Comfort and Image, Uses and Activities, dan Sociability dinilai cocok untuk diadaptasi dalam upaya menyusun rencana ruang publik yang bersejarah di Kota Lubuklinggau. Penelitian ini akan membahas secara general salah satu upaya bagaimana mengembalikan citra kawasan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat dalam produk berbentuk rencana perancangan kawasan stasiun Kota Lubuklinggau menjadi ruang publik kota yang sesuai.
PERANCANGAN ULANG SARANA OLAHRAGA CARINGIN SEBAGAI KAWASAN YANG INKLUSIF, TERINTEGRASI, DAN NYAMAN DI KOTA BANDUNG
Sarana olahraga merupakan fasilitas yang dapat digunakan dan dimanfaatkan dalam pelaksanaan kegiatan olahraga maupun pendidikan jasmani yang kemudian dapat dikembangkan menjadi kawasan olahraga sebagai ruang publik untuk melakukan berbagai aktivitas olahraga dengan menyediakan fasilitas olahraga dan fasilitas penunjang. Sarana olahraga Caringin merupakan salah satu fasilitas olahraga yang disediakan oleh Pemerintah Kota Bandung. Namun, pemanfaatan fasilitas olahraga tersebut belum optimal karena hanya terdapat lapangan tenis dan futsal. Selain itu, terdapat persoalan keterbatasan lahan untuk menyediakan fasilitas olahraga di kawasan yang baru. Adanya dorongan dari masyarakat yang mulai menggemari olahraga dan sadar akan pentingnya berolahraga untuk mengoptimalkan fasilitas olahraga di lahan yang telah tersedia. Oleh karena itu, dilakukan perancangan ulang sarana olahraga Caringin, Kota Bandung untuk mengatasi persoalan tersebut. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif dan metode perancangan fragmental dengan tahapan pengumpulan data melalui observasi dengan meninjau kawasan berdasarkan penggunaan lahan, bentuk dan massa bangunan, sirkulasi, jalur pedestrian, aktivitas pendukung, ruang terbuka, dan rambu penanda yang ada. Selain itu, juga dilakukan studi literatur dan wawancara, kemudian analisis, dan perumusan rencana perancangan. Perancangan ulang ini dilakukan dengan mempertimbangkan kriteria, komponen, dan prinsip normatif, hasil dari analisis tapak dan analisis potensi persoalan yang kemudian diwujudkan dalam kebijakan perancangan mencakup visi, misi, tujuan, sasaran, prinsip, dan konsep perancangan dan diwujudkan dalam bentuk program ruang dan tiga dimensi perancangan kawasan olahraga Caringin, Kota Bandung. Perancangan kawasan olahraga dilakukan untuk menciptakan kawasan olahraga yang inklusif untuk dapat diakses dan digunakan oleh semua orang, aksesibel atau mudah diakses baik secara fisik maupun non-fisik, dan dapat memberikan kenyamanan dengan fasilitas dan suasana yang teduh, sehingga dapat menjadi solusi dari persoalan penyediaan fasilitas olahraga di Kota Bandung.