📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 1 dokumen

PERANCANGAN KAMPUNG SUSUN NELAYAN PRODUKTIF DI PANTAI KALIBARU, JAKARTA UTARA

Kelurahan Kalibaru di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, memiliki potensi dan kontribusi pada sektor perikanan yang cukup besar. Jumlah nelayan di Jakarta Utara menurut laporan BPS tahun 2019 mencapai sekitar 25.235 orang dengan sebaran besar nelayan di titik pendaratan ikan, seperti Marunda, Cilincing, Kalibaru, Muara Angke, dan Kamal Muara. Kecamatan Cilincing adalah salah satu wilayah penghasil perikanan tangkap utama di Jakarta Utara dengan produksi ikan yang mencapai hampir 5,9 juta kg pada tahun 2017. Kalibaru terletak di inti kawasan industri dan pusat logistik, dikelilingi oleh Pelabuhan Tanjung Priok, Pelindo II, dan Kawasan Industri Marunda. Oleh karena itu, perekonomian masyarakat lokal Kalibaru sangat berkaitan dengan simpul-simpul ekonomi di sekitarnya, yang berpusat pada ekonomi perikanan, industri, dan sektor informal. Namun, Kelurahan Kalibaru menduduki peringkat ketujuh di DKI Jakarta sebagai kelurahan dengan jumlah RW kumuh tertinggi (Pendataan RW kumuh 2017 Provinsi DKI Jakarta). Kepadatan penduduk Kalibaru mencapai lebih dari 60.000 jiwa/km². Angka ini sangat tinggi dibandingkan kepadatan rata-rata DKI Jakarta, yakni sekitar 16.704 jiwa/km² sehingga mengakibatkan kualitas kehidupan yang buruk di lingkungan tersebut. Fenomena ini sejalan dengan tema Design for Resilient Communities dan berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta SDG 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan. Tugas akhir ini mengusulkan penataan kawasan permukiman kumuh Kalibaru melalui tipologi kampung susun produktif nelayan yang mengintegrasikan hunian vertikal dengan ruang usaha komersial. Pendekatan force-based approach digunakan untuk merespons dinamika isu dan konteks lingkungan, keterbatasan lahan, serta kebutuhan sosial-ekonomi nelayan. Metode perancangan meliputi analisis konteks dan isu lingkungan, serta observasi lapangan untuk memahami kondisi fisik area kumuh, kepadatan penduduk ekstrem, dan potensi lingkungan pesisir. Selanjutnya, dilakukan pemetaan kebutuhan penghuni, khususnya para nelayan, melalui wawancara dan studi literatur. Langkah ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan spesifik nelayan, mulai dari ruang untuk menyimpan dan memperbaiki alat tangkap hingga area untuk mengolah hasil laut dan berdagang. Data ini kemudian menjadi dasar dalam tahap pengembangan konsep dan perancangan. Dengan memindahkan hunian dari horizontal ke vertikal, lahan dapat dimanfaatkan secara lebih efisien, menciptakan ruang terbuka dan menyediakan area komunal. Desain ini secara langsung mendukung pertumbuhan ekonomi nelayan melalui zona pada lantai dasar kampung susun yang dirancang untuk menampung fasilitas produktif, seperti tempat penyimpanan dan perbaikan alat tangkap, ruang pengolahan hasil laut, serta bangunan komersial terintegrasi untuk menjual hasil bahari. Integrasi hunian dan ruang usaha ini menciptakan ekosistem yang mandiri, di mana nelayan dapat bekerja dan tinggal di satu lokasi, meningkatkan efisiensi dan pendapatan nelayan. Hasil rancangan diharapkan mampu mewujudkan hunian layak yang berkelanjutan, sanitasi yang baik, ruang sosial yang terencana, serta berkontribusi pada ketahanan ekonomi komunitas pesisir.

2026
👤 Penulis: Sandra Lintang Pandan Ayu
🏷️ Desain Untuk Komunitas Berkelanjutan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi
💬