📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 13 dokumen

FASILITAS MULTI-OLAHRAGA REHABILITASI UNTUK MENDUKUNG TERWUJUDNYA KOTA SEHAT

Topik utama dari tugas akhir ini adalah perancangan fasilitas olahraga perkotaan terpadu BARA (Bandung Active Recreation Arena) yang mengintegrasikan fungsi olahraga, rehabilitasi, dan ruang publik untuk mendukung terwujudnya Healthy City. Topik ini berkaitan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), serta SDG 13 (Climate Action). Keterkaitan tersebut diwujudkan melalui penyediaan fasilitas yang mendorong gaya hidup sehat, menghadirkan ruang publik yang inklusif dan aktif, serta menerapkan strategi perancangan yang responsif terhadap kondisi perkotaan dan lingkungan. Saat ini, Kota Bandung menghadapi berbagai tantangan dalam penyediaan fasilitas olahraga publik, di antaranya kepadatan kawasan urban, keterbatasan lahan, rendahnya aktivasi kawasan olahraga, serta meningkatnya minat masyarakat untuk berolahraga. Di sisi lain, kawasan GOR Pajajaran memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan olahraga terpadu yang tidak hanya berfungsi sebagai lokasi penyelenggaraan pertandingan, tetapi juga sebagai destinasi olahraga, rekreasi, dan ruang interaksi masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya tipologi fasilitas olahraga yang mampu mengintegrasikan berbagai fungsi dalam satu kawasan secara lebih efisien, aktif, dan adaptif terhadap perkembangan kota. Menurut World Health Organization (WHO), Healthy City merupakan kota yang secara berkelanjutan menciptakan dan meningkatkan kondisi fisik maupun sosial untuk mendukung kesehatan, kesejahteraan, serta kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, perancangan BARA tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas olahraga dan rehabilitasi, tetapi juga sebagai ruang publik yang mampu meningkatkan aktivitas fisik, memperkuat interaksi sosial, serta menghidupkan kembali kawasan olahraga melalui integrasi berbagai fungsi dan aktivitas dalam satu lingkungan yang saling terhubung. Pendekatan arsitektur yang digunakan berorientasi pada pengalaman pengguna melalui penerapan fluid spatial integration, active vertical circulation, sensory-stimulating environments, serta ruang yang fleksibel dan multifungsi. Pendekatan ini didukung oleh konsep neuroplastisitas yang memandang bahwa lingkungan fisik dapat memengaruhi kemampuan manusia untuk beradaptasi, pulih, dan berkembang melalui pengalaman ruang yang positif. Metode perancangan meliputi studi literatur, observasi lapangan, analisis tapak, studi preseden, serta penyusunan program ruang berdasarkan karakter aktivitas, pola penggunaan, kapasitas, dan fleksibilitas ruang. Hasil analisis tersebut menjadi dasar dalam merumuskan konsep serta strategi perancangan kawasan olahraga yang terintegrasi. Tujuan utama dari perancangan ini yaitu menghadirkan fasilitas olahraga perkotaan yang mampu mengakomodasi berbagai cabang olahraga, fasilitas rehabilitasi, ruang publik aktif, serta fungsi pendukung dalam satu kawasan yang saling terhubung. Dengan demikian, luaran yang diharapkan bukan hanya berupa bangunan olahraga, melainkan sebuah kawasan yang mendorong gaya hidup aktif, meningkatkan kualitas interaksi sosial, mengoptimalkan pemanfaatan kawasan GOR Pajajaran, serta berkontribusi terhadap terwujudnya Healthy City di Kota Bandung.

2026
👤 Penulis: Kalyca Nathania Zahra
🏷️ Kesehatan Publik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Desain Urban

BOGOR CREATIVE COMMONS: RUANG BERSAMA SEBAGAI WADAH AKTIVITAS KOMUNITAS KREATIF DI KOTA BOGOR

Plaza Bogor merupakan salah satu bangunan komersial yang berada di pusat Kota Bogor, tepat di kawasan strategis yang dikelilingi destinasi penting seperti Kebun Raya Bogor, Istana Bogor, Museum Zoologi, serta kawasan pecinan Suryakencana yang dikenal sebagai pusat kuliner legendaris. Posisi yang demikian strategis semestinya menjadikan Plaza Bogor sebagai simpul kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya. Namun, sejak dikosongkan pada tahun 2024, bangunan ini terbengkalai dan tidak lagi berfungsi secara optimal. Kondisi tersebut menimbulkan degradasi kawasan, melemahkan potensi UMKM, serta mengurangi daya tarik kota. Oleh karena itu, revitalisasi Plaza Bogor dipandang penting sebagai solusi untuk mengembalikan fungsi bangunan melalui integrasi aktivitas komersial, komunitas, dan ekonomi kreatif yang selaras dengan karakter kawasan. Konsep revitalisasi diarahkan pada transformasi Plaza Bogor menjadi community and creative hub yang mengintegrasikan fungsi komersial, komunitas, rekreasi, dan ekonomi kreatif. Program ruang mencakup area retail, foodcourt, workshop, ruang meeting, ruang komunitas, serta area komunal yang tersebar di berbagai titik di dalam bangunan. Revitalisasi akan fokus terhadap dua fungsi, yaitu komunitas dan kreatif, serta didukung dengan fungsi komersial dan publik. Dengan tipologi mixed-use, bangunan dirancang untuk mendukung aktivitas ekonomi sekaligus menjadi wadah kolaborasi dan interaksi masyarakat. Pendekatan desain menitikberatkan pada pemahaman perilaku pengguna, konteks kawasan, sekaligus menerapkan prinsip arsitektur berkelanjutan. Studi preseden, observasi lapangan, serta analisis pergerakan pengguna menjadi dasar untuk merumuskan strategi desain yang responsif. Strategi desain diwujudkan melalui peningkatan konektivitas ruang, sirkulasi yang mengalir, penyediaan ruang komunal yang tersebar, serta fleksibilitas fungsi untuk mendukung berbagai aktivitas komunitas dan masyarakat. Tujuan utama dari perancangan ini adalah menghadirkan ruang yag mampu mendorong kolaborasi komunitas, memfasilitasi kreativitas masyarakat, memperkuat ekonomi lokal, serta menciptakan ruang publik yang inklusif dan adaptif terhadap perkembangan kawasan. Dengan revitalisasi ini, Plaza Bogor diharapkan bukan hanya memulihkan fungsi bangunan sebagai pusat komersial, tetapi juga mentransformasikannya menjadi community dan creative hub, sebuah ruang yang memfasilitasi interaksi sosial, memperkuat ekonomi kreatif, serta mempertegas identitas kota dalam kerangka Sustainable Development Goals nomor 11, yaitu Sustainable Cities and Communities.

2026
👤 Penulis: Nadia Wanda Shafina
🏷️ Desain Urban 🏷️ Komunitas Kreatif 🏷️ Sustainable Development Goals

REVITALISASI PASAR KOSAMBI DI KOTA BANDUNG DENGAN PENDEKATAN ADAPTIVE REUSE UNTUK MEWUJUDKAN BANGUNAN MULTIFUNGSI YANG MENDORONG VITALITAS URBAN

Sebagai makhluk sosial dengan beragam kebutuhan, manusia telah menjadikan pasar sebagai tempat pemenuhan kebutuhan sekaligus pusat kehidupan bersama sejak ribuan tahun lalu. Selain berfungsi sebagai ruang vital bagi aktivitas ekonomi, pasar juga memiliki peran penting dalam kehidupan sosial karena menjadi ruang interaksi yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat. Namun, dalam perkembangannya, pasar tradisional mengalami degradasi secara spasial dan fungsional. Citra negatif akibat kondisi pasar yang beraroma tidak sedap, kurang higienis, panas, dan kumuh, diperburuk oleh hadirnya disrupsi platform e-commerce yang semakin diminati masyarakat. Kondisi ini mengikis peran pasar secara signifikan sehingga vitalitas urban yang dahulu ditopang olehnya semakin menurun. Meskipun demikian, pasar tetap memiliki potensi besar sebagai instrumen ekonomi rakyat yang menawarkan harga terjangkau dan ragam komoditas yang luas. Oleh karena itu, revitalisasi pasar sangat diperlukan untuk menciptakan ruang komersial yang kontekstual. Pasar tidak hanya diposisikan sebagai tempat transaksi, tetapi juga sebagai ruang ketiga yang mampu mengintegrasikan aktivitas sosial dan ekonomi guna memperkuat resiliensi komunitas urban serta ekonomi lokal. Revitalisasi pasar diarahkan pada perancangan bangunan multifungsi yang merespons kebutuhan masyarakat urban. Konsep ini diwujudkan dengan menyediakan ruang yang tidak hanya mewadahi aktivitas jual beli, tetapi juga mengakomodasi kebutuhan akan hunian, ruang produksi, dan ruang publik yang inklusif, adaptif, serta berkelanjutan. Pasar Kosambi di Kota Bandung dipilih sebagai lokasi revitalisasi karena telah lama menghadapi permasalahan degradasi di atas, meskipun berada di pusat kota yang strategis. Dalam proses revitalisasi, pendekatan adaptive reuse dipilih sebagai strategi utama karena bangunan eksisting memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan kembali. Pendekatan ini memungkinkan optimalisasi struktur lama, pengurangan limbah konstruksi, serta pemanfaatan sumber daya secara lebih berkelanjutan. Melalui strategi tersebut, bangunan pasar dikembangkan menjadi wadah multifungsi yang mengintegrasikan area perdagangan, hunian, area kreatif, dan ruang publik. Integrasi ini bertujuan meningkatkan intensitas penggunaan bangunan sekaligus memperkuat vitalitas urban. Metode dalam proses perancangan meliputi studi literatur, observasi lapangan, dan iterasi desain untuk mendapatkan kualitas ruang yang optimal. Dengan demikian, diharapkan tercipta wajah baru Pasar Kosambi sebagai bangunan multifungsi yang sehat, nyaman, berdaya guna, serta inklusif, sehingga dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat urban secara berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Vinnie Feriana
🏷️ Revitalisasi Kota 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Desain Urban

REKONSEPSI STASIUN BANDUNG: PINTU GERBANG TRANSIT MENUJU SENTRAL URBAN NODE LINTAS MODA BERKELANJUTAN

Transformasi mobilitas di Kota Bandung yang dipicu oleh rencana elektrifikasi jalur komuter Padalarang-Cicalengka dan integrasi layanan Kereta Feeder Whoosh membawa tantangan baru bagi infrastruktur transportasi kota. Volume penumpang harian diproyeksikan melonjak drastis, sementara kondisi eksisting Stasiun Bandung menunjukkan disfungsi spasial yang signifikan. Evaluasi mandiri berdasarkan standar TOD menempatkan kawasan stasiun ini pada kualifikasi di bawah standar minimum, serta persepsi warga lokal yang menganggap stasiun hanya sebagai fasilitas transit. Merespons krisis kapasitas dan fungsi tersebut, proyek ini mengusulkan rekonsepsi Stasiun Bandung menjadi sebuah Sentral Urban Node lintas moda yang inklusif dan berkelanjutan. Pendekatan perancangan didasari oleh konsep placemaking, di mana desain yang mengedepankan dan ditujukan untuk manusia secara universal, spasial berakar pada konsep Arsitektur Osmosis, di mana arsitektur digunakan sebagai fasilitas pergerakan pengguna agar mengalir secara organik dan terdistribusi logis antara fungsi keberangkatan, kedatangan, serta zona komersial. Rancangan ini juga dioptimalkan dengan merespons aspek Green Building untuk efisiensi energi, konservasi air, serta meningkatkan kualitas ruangan. Secara arsitektural, perancangan ini berhadapan langsung dengan eksistensi Bangunan Cagar Budaya Golongan A di area selatan stasiun. Untuk menghormati nilai historis tersebut, proyek ini menerapkan strategi desain Kontras. Massa bangunan baru mengusung ekspresi modern dengan struktur atap parametrik dinamis bergaya biomimikri, yang secara visual mempertegas batas antara warisan kolonial dan visi infrastruktur masa depan. Secara keseluruhan, rekonsepsi ini mendefinisikan ulang peran stasiun dari sekadar titik henti transit mekanis menjadi noda urban kota yang inklusif, berkelanjutan, menggerakan ekonomi, maju, dan menarik perhatian.

2026
👤 Penulis: Andrico Luis Marcello
🏷️ Transportasi Kota 🏷️ Desain Urban 🏷️ Kebudayaan Modern

PERANCANGAN VERTIKAL MIXED-USE BUILDING SEBAGAI SOLUSI GENERASI Z PERKOTAAN DENGAN PENDEKATAN KEBERLANJUTAN

Perkembangan kawasan perkotaan di Indonesia menunjukkan peningkatan kepadatan yang signifikan, sehingga mendorong kebutuhan akan hunian vertikal dan bangunan multifungsi (mixed-use building) sebagai solusi keterbatasan lahan. Generasi muda, khususnya Generasi Z, menjadi pengguna potensial yang membutuhkan hunian dengan karakter fleksibel, produktif, dan terintegrasi dengan gaya hidup modern perkotaan. Namun, tantangan yang muncul adalah bagaimana menciptakan lingkungan hunian yang tidak hanya efisien secara ruang, tetapi juga berkelanjutan, sehat, serta mampu mendorong interaksi sosial dan kesejahteraan penggunanya. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk merancang bangunan vertikal mixed-use yang inklusif dan berkelanjutan sebagai solusi terhadap kebutuhan generasi muda perkotaan. Pendekatan keberlanjutan digunakan sebagai dasar dalam merancang agar bangunan tidak hanya memenuhi kebutuhan fungsional, tetapi juga mempertimbangkan aspek ekologis, sosial, dan ekonomi. Metode perancangan dilakukan melalui studi literatur, observasi lapangan, analisis kebutuhan pengguna, serta analisis tapak dan konteks lingkungan sekitar. Studi kasus yang dijadikan acuan adalah Dago Suites Bandung & HQuarters Bandung, sebagai contoh bangunan vertikal yang menggabungkan fungsi hunian, komersial, dan fasilitas umum di kawasan perkotaan padat. Melalui metode tersebut, diperoleh pemahaman terhadap pola aktivitas pengguna, sirkulasi, serta integrasi antar fungsi ruang yang mendukung kehidupan urban yang dinamis. Konsep desain yang diterapkan menekankan pada keterhubungan antar-zona melalui sirkulasi vertikal dan horizontal yang efisien serta ruang komunal yang mendorong interaksi sosial. Desain interior difokuskan pada efisiensi ruang, fleksibilitas fungsi, serta penciptaan suasana yang nyaman dan mendukung produktivitas generasi muda. Prinsip keberlanjutan diwujudkan melalui pemanfaatan pencahayaan alami, ventilasi silang, dan pengolahan ruang hijau vertikal yang meningkatkan kualitas udara dan kenyamanan Implementasi desain ini diharapkan dapat memberikan alternatif solusi bagi pengembangan hunian vertikal di kawasan perkotaan, yang tidak hanya fungsional dan estetis, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan dan kesejahteraan penggunanya, sejalan dengan tujuan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

2026
👤 Penulis: Raffi Muhammad Mahadian
🏷️ Desain Urban 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

RUMENTANG ANNEX: SARANA SENI PERTUNJUKAN PERMEABEL DI KOSAMBI, BANDUNG

Sektor seni pertunjukan Kota Bandung menghadapi krisis infrastruktur yang sistemik: Gedung Kesenian Rumentang Siang, gedung teater warisan budaya utama kota sekaligus rumah kreatif Studiklub Teater Bandung (sejak 1958), beroperasi dalam kondisi defisit kapasitas yang terus-menerus, dengan rata-rata 620 penonton per pertunjukan terhadap kapasitas tetap 340 kursi, serta melayani sekitar 78.000 total penonton antara tahun 2023 hingga 2025. Di sisi lain, anatomi bangunan yang berakar pada tipologi bioskop—kedalaman panggung yang dangkal, ketiadaan fly tower, dan kondisi akustik yang menurun—menjadikannya secara teknis tidak mampu menampung produksi proscenium kompleks yang mendefinisikan warisan artistiknya sendiri. Tugas Akhir ini mengusulkan Rumentang Annex: sebuah sarana seni pertunjukan berkapasitas 535 kursi di lahan yang bersebelahan di Jl. Baranang Siang No. 1, Kosambi, Bandung, yang dirancang untuk mengisi kesenjangan venue tingkat menengah yang tidak tersedia di pusat kota Bandung. Desain mengadopsi konsep Distributed Performance Urbanism, yaitu strategi stratifikasi vertikal yang terorganisasi dalam tiga lapisan program: plaza publik permeabel di lantai dasar, zona komunal peralihan yang memuat food court, blackbox theater, ruang ko-kerja, dan perpustakaan, serta inti pertunjukan berupa auditorium proscenium utama dan fasilitas backstage lengkap di lantai atas. Secara filosofis berpijak pada Realisme Tropis—mengacu pada jembatan yang dibangun Suyatna Anirun antara tradisi teater Barat dan identitas budaya Indonesia—bangunan ini dikonsepsikan sebagai Lentera Melayang: massa yang dikantilever dan diangkat di atas pilotis berbentuk-V di atas lantai publik, membebaskan ruang kaki langit dan mempertahankan akses visual terhadap fasad bangunan warisan. Sistem struktur menggunakan grid 7,8 meter dengan kolom 700×700mm yang menopang volume auditorium yang direkayasa untuk mencapai kriteria akustik NC-25 di tengah kebisingan eksternal 85 dB. Kepatuhan regulasi dijaga sesuai Perwali No. 29/2024 (Sub-Zona K-1), dengan KDB 60,2%, KLB 3,57, dan total luas lantai bruto 8.168 m² di atas tanah pada lahan seluas 2.290 m². Proyek ini menunjukkan bahwa infrastruktur seni pertunjukan yang teknis-ketat dapat sekaligus berfungsi sebagai katalis urban yang inklusif, mengintegrasikan ekonomi kreatif, ruang publik, dan warisan budaya dalam jaringan kota Kosambi yang padat dan informal.

2026
👤 Penulis: Mikha Easterino Felix
🏷️ Desain Urban 🏷️ Kepatuhan Regulasi 🏷️ Realisme Tropis

PERANCANGAN KAWASAN PUSAT KOTA ALUN-ALUN BANDUNG DENGAN KONSEP ACTIVE MOBILITY DESIGN

Pertumbuhan penduduk dan urbanisasi yang pesat di Kota Bandung telah memicu peningkatan dominasi kendaraan pribadi yang berdampak pada kemacetan dan penurunan kualitas lingkungan. Kondisi ini secara tidak langsung mendegradasi fungsi moda transportasi non-motor (non-motorized transport), seperti berjalan kaki dan bersepeda yang seharusnya menjadi fondasi bagi kota yang berkelanjutan. Studi ini berfokus pada perancangan kawasan Pusat Kota Alun-Alun Bandung dengan pendekatan Active Mobility Design. Persoalan utama yang diidentifikasi dalam studi ini adalah kondisi fisik fasilitas pendukung pejalan kaki dan pesepeda yang belum memadai, mencakup jalur yang terputus, penyalahgunaan fungsi trotoar, serta minimnya amenitas seperti peneduh dan tempat duduk. Selain itu, kawasan ini menghadapi masalah kurangnya magnet aktivitas yang kuat pada jalur-jalur penghubung, sehingga tercipta ruang-ruang pasif (blank spots) yang belum dapat menstimulasi pengguna untuk melakukan perjalanan kaki secara menerus (continuous walking). Prosedur perancangan yang digunakan metode desain terfragmen (fragmental method) dengan metode analisis deskriptif kualitatif untuk memetakan kesenjangan antara kondisi saat ini dengan prinsip normatif. Sebagai respons terhadap persoalan tersebut, perancangan ini mengusulkan konsep "ACCESS" (Active Connectivity, Comfort, & Equity for Safe and Social Spaces). Strategi desain difokuskan pada perbaikan fisik koridor untuk menciptakan jaringan pejalan kaki yang aman dan nyaman, serta intervensi program aktivitas (facility programming) untuk menghidupkan kembali ruang-ruang mati menjadi destinasi yang lebih aktif. Hasil perancangan disimulasikan pada koridor prioritas seperti Jalan Dalem Kaum, Pasar Kota Kembang, dan Jalan Alkateri dengan tujuan mengubah kawasan menjadi lingkungan yang aman, nyaman, inklusif, terintegrasi, dan mampu menstimulasi gaya hidup aktif masyarakat kota.

2026
👤 Penulis: Alfi Amalia Ahmad
🏷️ Desain Urban 🏷️ Transportasi Non-Motor 🏷️ Kecerdasan Buatan

RIPARIAN LIVING: TRANSFORMASI HUNIAN BERBASIS EKOLOGI DI BANTARAN SUNGAI CILIWUNG

Tingginya laju pertumbuhan penduduk di Jakarta tidak diiringi dengan penyediaan hunian layak yang memadai. Sebagian besar masyarakat berpenghasilan rendah terpaksa menempati kawasan sempadan sungai yang tidak sesuai peruntukannya, termasuk di bantaran Sungai Ciliwung wilayah Manggarai. Kawasan ini mengalami berbagai permasalahan, seperti kepadatan permukiman informal, pencemaran lingkungan, serta risiko banjir yang tinggi. Di sisi lain, lokasinya yang berdekatan dengan Stasiun Manggarai sebagai simpul transportasi utama menghadirkan potensi pengembangan kawasan berbasis transit yang terintegrasi dan berkelanjutan. Proyek ini merespons kondisi tersebut dengan merancang kawasan hunian terjangkau berbasis ekologi melalui pendekatan arsitektur yang resilien dan inklusif. Program ruang yang diusulkan meliputi hunian vertikal untuk masyarakat berpenghasilan rendah, pasar rakyat sebagai pusat kegiatan ekonomi, serta apartemen transit bagi komuter. Ruang publik dan ruang hijau dirancang untuk memulihkan hubungan masyarakat dengan sungai melalui taman riparian, jalur pedestrian, dan ruang interaksi sosial yang adaptif. Desain juga mengutamakan penggunaan material lokal, ventilasi alami, serta sistem struktur dan utilitas yang sesuai dengan kondisi tapak bantaran sungai. Dengan menggabungkan prinsip ekologis, sosial, dan spasial, proyek ini bertujuan mentransformasi kawasan kumuh menjadi lingkungan hidup yang inklusif, sehat, dan produktif, sekaligus menjadi model pengembangan kawasan urban di kota-kota besar dengan tantangan serupa.

2025
👤 Penulis: Audi Fatra Muhammad
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Desain Urban

TRANSFORMASI ADAPTIF KAWASAN PASAR BERINGIN-TURI DI PUSAT KOTA SINGKAWANG UNTUK PRESERVASI BUDAYA DAN SEJARAH

Seiring berjalannya waktu dan perubahan peradaban, ancaman terhadap budaya suatu peradaban kian meningkat. Identitas suatu peradaban setara dengan budaya dari peradaban tersebut. Sehingga jika budaya suatu komunitas hilang, maka peradaban tersebut itu sendiri hilang. Bangsa Indonesia yang memiliki identitas berdasarkan keberagaman budaya berada dalam ancaman dari proses kehilnagan identitas tersebut, mengancam kedaulatan bangsa. Oleh sebab itu, upaya dalam preservasi budaya suatu peradaban menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam menghadapi perubahan. Proyek ini bertujuan untuk menghadapi isu tersebut melalui pendekatan arsitektural tipologi pasar budaya. Pasar budaya merubah konteks pasar konvensional dan menyatukan fungsinya yang bersifat murni sebagai tempat pertukaran dengan nilai kemanusiaan, menyatukan aspek sosial, budaya dan adat, placemaking dan ekonomi menjadi satu. Tipologi ini menjadi jawaban yang tepat untuk site pilihan, Kota Singkawnag, Kota yang memiliki sejarah yang unik, diversitas yang beragam, toleransi yang tinggi terhadap diversitas tesebut, serta keberadaan budaya yang unik menjadikan Kota Singkawang sebagi objek preservasi yang baik. Dengan pertumbuhan ekonomi dan turisme dalam kota yang memanggil, tipologi pasar budaya mambawakan potensi untuk preservasi melalui pengembangan cultural tourism dalam kota. Salah satu upaya transformasi yang preservatif adalah berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan, yang mengartikan preservasi melalui persoalan pada strategi preservasi sejarah dan budaya, strategi preservasi keberlanjutan lingkungan, strategi preservasi keberlanjutan ekonomi, dan strategi preservasi keberlanjutan komunitas. Berdasarkan pemahaman ini untuk menjawab isu yang menekan terkait preservasi budaya Kota Singkawang, pengembangan kawasan pasar budaya akan dilaksanakan pada kawasan Pasar Beringin Kurau-Turi, mengambil konteks antara 2 pasar eksisting yang bermasalah dari segi kelayakan dan keberlanjutan, yang terpotong oleh konteks sungai untuk mengaplikasikan seluruh persoalan yang dibawa. Melalui pemugaran pada kawasan & bangunan yang memiliki nilai baik untuk disimpan, pemugaran bangunan yang masih dapat dimanfaatkan, serta pemindahan bangunan yang melanggar aturan dan mengancam keberlanjutan lingkungan untuk membentuk kawasan pasar budaya bernuansa terbuka dan open space sebagai hasil transformasi tipologi yang beradaptasi terhadap konteks kota dan kebutuhan pengguna untuk mengembangkan desain yang terbagi menjadi 5 area pada tapak. Area pertama berfokus pada fungsi preservasi yang aktif dan menampung kebutuhan untuk penyelenggara aktivitas kebudayaan dan sebagai sarana hiburan bagi pendatan. Mencakup fungsi seperti teater, workshop, dan ruang ekshibisi. Area kedua untuk menampung kebutuhan retail dan usaha yang tidak mencakup kebutuhan dari pasar eksisting, sebagai diversifikasi dari sumber penghasilan dan penambahan fungsi, seperti kawasan retail, foodcourt, dan fungsi residensial. Area ketiga yang mencakup area utama pasar yang ditata secara tersebar di kawasan tapak, memanfaatkan bangunan eksisting untuk menciptakan titik-titik utama dalam kawasan dan menjadi tolak utama untuk sirkulasi, mencakup ruang pasar, kios, dan penjualan makanan pada kawasan eksterior. Area keempat, yang merupakan area publik dan komunitas, menghubungkan antar kawasan dan menjadi sarana sirkulasi dalam tapak, tersebar di keseluruhan kawasan dan berfungsi mendukung aktivitas dnegan fungsi seperti coworking space, ruang istirahat, skywalk penghubung, dan viewing deck. Dan area terakhir, ditujukan sebagai kawasan penanggulangan isu lingkungan pada tapak, sehingga berada di kawasan lindung sungai untuk merespon secara langsung melalui fungsi pengolahan air sungai, penyaringan dan pengolahan limbah, serta retention pond. Keseluruhan fungsi menyatu untuk membentuk kawasan pasar budaya yang dapat mempreservasi segala budaya, tangible maupun intangible dari Kota Singkawang yang unik dan bersejarah.

2025
👤 Penulis: Brian Maputra Kurniawan
🏷️ Kepolisian Rantai Pasok 🏷️ Desain Urban 🏷️ Preservasi Budaya

PERANCANGAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) PUBLIK BERUPA TAMAN KOTA DAN RIMBA KOTA DI GEDEBAGE, KOTA BANDUNG

Kota Bandung menghadapi tantangan besar dalam memenuhi standar minimal proporsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar 30% dari total luas wilayah, sebagaimana diamanatkan dalam Permen ATR/BPN No.14 Tahun 2022. Saat ini, proporsi RTH Kota Bandung hanya mencapai 12,47%, yang dapat berdampak negatif pada kondisi lingkungan, seperti peningkatan suhu udara, penurunan kualitas udara, dan risiko banjir. Kecamatan Gedebage, yang menjadi kawasan prioritas pengembangan berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung 2022–2042, memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan terpadu dengan fasilitas sosial dan ekologis berskala kota. Namun, kawasan ini masih kekurangan RTH publik yang dapat menunjang aktivitas sosial masyarakat serta menghadapi permasalahan banjir akibat posisinya sebagai dataran terendah di Cekungan Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk merancang kawasan RTH publik berupa taman kota dan hutan kota di Gedebage dengan mempertimbangkan prinsip perancangan normatif. Penelitian menggunakan metode pengumpulan data primer (observasi dan wawancara), serta data sekunder (dokumen perencanaan, jurnal, dan literatur terkait). Analisis dilakukan melalui deskriptif kualitatif, deskriptif kuantitatif, analisis tapak internal dan eksternal, perancangan fragmental dan pembagian berdasarkan aspek (division by aspect). Rancangan didasarkan pada prinsip perancangan normatif, identifikasi potensi dan persoalan kawasan, serta gagasan desain yang mempertimbangkan kriteria ruang publik, yaitu keberlanjutan, interaksi sosial, edukatif, estetika, dan konektivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rancangan RTH publik Gedebage mengalokasikan 80% kawasan untuk elemen ekologis, seperti lahan hijau dengan vegetasi beragam, embung, dan area resapan air untuk pengendalian banjir. Sisanya, 20% kawasan dirancang untuk sirkulasi dan fasilitas sosial seperti lapangan olahraga, taman bermain, ampiteater, plaza, dan tempat jajanan (foodcourt). Konsep keberlanjutan diterapkan melalui penggunaan material ramah lingkungan, bangunan dengan vertikal garden, dan desain tutupan berpori untuk meningkatkan daya serap air. Selain itu, kawasan ini dirancang untuk mendukung berbagai aktivitas sosial, mulai dari olahraga, rekreasi, hingga edukasi, yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat Kota Bandung.

2025
👤 Penulis: Muhammad Fatanillah Alfitra
🏷️ Desain Ruang Terbuka Hijau Publik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Lingkungan 🏷️ Desain Urban

PERANCANGAN LANSKAP KAWASAN SPORT JABAR ARCAMANIK DENGAN PENDEKATAN PLACEMAKING

SPORT Jabar Arcamanik merupakan kawasan sportipolis di Kota Bandung yang memiliki peran vital sebagai pusat pembinaan atlet Jawa Barat sekaligus ruang rekreasi masyarakat. Awalnya, kawasan ini adalah lapangan pacuan kuda yang menjadi pusat hiburan dengan suasana meriah bagi warga Bandung. Namun, pembangunan kawasan olahraga ini sejak 2010 untuk mendukung penyelenggaraan PON XIX 2016 menyebabkan hilangnya aktivitas pacuan kuda yang sebelumnya menjadi bagian penting dalam sejarah dan identitas kawasan tersebut. Saat ini, SPORT Jabar Arcamanik menjadi tempat yang ramai dikunjungi untuk berbagai aktivitas olahraga, meskipun masih menyisakan permasalahan negative space di beberapa area yang belum terbangun, seperti wisma atlet, hall of fame, SMA olahraga, dan masjid. Ruang-ruang kosong ini kurang dimanfaatkan dan memiliki kualitas visual yang rendah, sehingga mengurangi daya tarik kawasan secara keseluruhan. Oleh karena itu, diperlukan solusi desain yang mampu menghidupkan kembali area ini dengan memperhatikan nilai historis dan kebutuhan pengguna. Pendekatan placemaking diusulkan dalam perancangan lanskap kawasan SPORT Jabar Arcamanik dengan visi "SPORT Jabar Arcamanik as a great sport edu-tourism place". Pendekatan ini bertujuan untuk mengubah negative space menjadi area multifungsi yang menarik, menghadirkan kembali aktivitas olahraga berkuda dengan arena berkuda yang sesuai standar, serta meningkatkan kualitas desain ruang publik. Dengan menciptakan sense of place yang positif, diharapkan kawasan ini mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, melestarikan nilai historis, dan memperkuat daya saing ekonomi lokal.

2025
👤 Penulis: Ahmad Sinan
🏷️ Desain Urban 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan 🏷️ Kecerdasan Buatan

MENGGIATKAN PASAR MERDEKA DENGAN PENAMBAHAN FASILITAS URBAN FARM SEBAGAI SARANA EDUKASI HORTIKULTURA

Fenomena peningkatan populasi penduduk membuahkan isu-isu lanjutan yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap kehidupan manusia. Meningkatnya kebutuhan pangan seiring bertambahnya jumlah manusia serta kepadatan penduduk di suatu wilayah mengakibatkan berkurangnya ketersediaan lahan untuk memenuhi kebutuhan pangan, sehingga memerlukan inovasi alternatif dalam upaya memenuhi kebutuhan tersebut. Pada konteks perkotaan, isu kurangnya ketersediaan lahan menjadi kontradiktif dengan banyaknya bangunan yang tidak digunakan secara optimal, khususnya pada bangunan-bangunan dengan fungsi komersial. Di Kota Bogor, Pasar Merdeka merupakan pasar yang mengalami keredupan dalam penggunaan bangunannya, dengan kondisi pasar yang kumuh dan tidak sepenuhnya terisi, membuang potensi besar pasar yang berada pada lokasi strategis. Proyek ini bertujuan merevitalisasi Pasar Merdeka Bogor dengan pendekatan redevelopment yang bertujuan untuk mengubah pasar menjadi tempat transaksi yang nyaman dan multifungsi dengan penambahan Urban Farm. Pendekatan transprogramming arsitektur dan urban acupuncture akan digunakan untuk menyatukan berbagai fungsi bangunan dan memaksimalkan penggunaan lahan hijau. Kawasan ini dirancang sebagai pusat komersial dan komunitas yang mendukung kehidupan sosial dan kesehatan mental masyarakat dengan desain berkelanjutan.

2024
👤 Penulis: Khaira Syabina
🏷️ Desain Urban 🏷️ Komunitas Sosial 🏷️ Kesehatan Mental

STRATEGI PENATAAN RUANG PUBLIK BERDASARKAN TINGKAT DAN KONDISI PLACEMAKING DI KAMPUNG JOGOKARIYAN, KOTA YOGYAKARTA

Ruang publik merupakan elemen penting dalam dinamika sosial masyarakat serta memegang peran kunci dalam membentuk estetika kota, serta memberikan dampak yang saling mempengaruhi terhadap lingkungan sekitarnya. Beberapa tahun terakhir, usaha dalam pengembangan ruang publik kota secara global telah sangat dipengaruhi oleh konsep placemaking. Hal inilah yang terjadi di Kampung Jogokariyan dengan Masjid Jogokariyan sebagai focal point-nya, banyak perubahan-perubahan yang terjadi yang menjadi bentuk adaptasi dan respon terhadap perkembangan kawasan Kampung Jogokariyan, perubahan tersebut tidak hanya ditemukan secara visual saja, tetapi banyak fungsi-fungsi ruang luar kawasan yang dominan menjadi ruang publik. Namun, placemaking yang terjadi secara organik tanpa adanya strategi penataan juga akan menghadirkan sejumlah tantangan tersendiri seperti potensi kehilangan karakteristik utama Kampung Jogokariyan yang unik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi penataan ruang publik di Kampung Jogokariyan berdasarkan tingkat dan kondisi placemaking yang telah terjadi. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode mixed methods yang menggabungkan dua bentuk penelitian yaitu penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan ketiga objek amatan di Kampung Jogokariyan yaitu Masjid Jogokariyan, ruang jalan dan pedestrian, serta lapangan dan halaman-halaman telah menunjukkan tingkat placemaking yang sangat tinggi. Namun, memang terdapat kondisi beberapa variabel yang masih memerlukan peningkatan, seperti pada Masjid Jogokariyan memerlukan penataan pada variabel safe, convenient, neighborly, dan accessible. Sementara itu untuk ruang jalan dan pedestrian memerlukan peningkatan pada variabel active, fun, safe, dan convenient. Objek amatan terakhir yaitu lapangan dan halaman-halaman memerlukan peningkatan pada variabel safe, active, fun, special, neighborly, dan convenient. Berdasarkan tingkat dan kondisi tersebut, dirumuskan menjadi strategi-strategi penataan ruang publik di Kampung Jogokariyan yang diharapkan strategi tersebut tidak hanya memperkuat karakteristik khas kampung tersebut, tetapi juga mempromosikan keberlanjutan dan memenuhi kebutuhan serta aspirasi penggunanya.

2024
👤 Penulis: Yogma Noor Dinara Gimnastiar
🏷️ Kepemilikan Ruang Publik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Desain Urban
💬